MENGHIDUPKAN BUDAYA MELEK LITERASI DALAM KELUARGA

Kamis, 28 Desember 2017 0 komentar

Oleh: Iffatus Sholehah*

Keluarga merupakan suatu miniatur pendidikan utama dalam merangsang pola perkembangan anak baik dari aspek intelektual, emosional, maupun spiritual. Salah satu di antaranya yang berkenaan dengan kecanggihan teknologi dan informasi yang kian melaju cepat seiring dinamika zaman.

Karena bagaimana pun, kekhawatiran akan tetap timbul pada setiap orang tua yang menginginkan anaknya berguna bagi nusa dan bangsa. Tidak bisa dinafikan, bahwa di tengah kemudahan akses yang serba instan, maka perlunya kontrol dan bimbingan orang tua kepada anak-anaknya agar fokus kepada proses belajarnya.

Sebagaimana kita mafhum, generasi masa depan akan selalu menjadi tumpuan dan harapan untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara melalui kelebihannya di bidang-bidang tertentu, sehingga anggapan negatif bahwa generasi masa depan adalah generasi sampah, amatlah tidak berdasar.
Maka patut digarisbawahi, bahwa tumbuh kembang anak dalam menjalani masa-masa proses belajar amatlah penting apalagi menyangkut dunia literasi.

Keluarga dan Literasi

Literasi merupakan sebuah kemampuan guna untuk memahami, menganalisis, mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan tersebut dimaksudkan agar pembaca sebagai konsumen media (termasuk juga anak-anak) menjadi melek mengenai bagaimana media dibuat dan kemudian diakses. 

Berdasarkan prinsip yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara bahwa di dalam tripusat pendidikan terdapat tiga pihak yang sangat berpengaruh, yaitu, keluarga, sekolah dan masyarakat. Maka dari itu, keluarga adalah bagian dari masyarakat yang memiliki peranan penting sekaligus menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program tersebut. 

Keluarga sebagai salah satu unit terkecil yang ada di dalam masyarakat dapat menjadi kunci utama untuk menghidupkan budaya literasi. Hal ini dapat meminimalisir anak agar tidak hanya fokus dengan game yang ada di dalam gadget, yang hampir setiap detik atau menit selalu diakses. 

Dengan dihidupkannya budaya literasi dalam keluarga merupakan sebuah upaya guna menumbuhkembangkan karakter anak dalam menghadapi kehidupan sesuai dengan masanya. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan pemahaman terhadap beragam teks. Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi memunculkan berbagai macam teks berbasis IT (informasi dan teknologi) atau teks inovatif yang dengan keberadaannya melengkapi teks konvensional.

Menyadari arti penting dalam pembentukan budaya literasi, seharusnya kesadaran budaya literasi merambah ke dalam setiap keluarga sebagai unsur masyarakat dan bangsa. Dengan kata lain, kedua unsur tersebut mestinya juga mendapatkan pembinaan agar mampu melaksanakan sesuai perannya. Karena dalam satu hari, anak 6-8 jam berada di sekolah. Sisa waktunya adalah ketika mereka berinteraksi dalam keluarga dan masyarakat.

Aktivitas literasi dalam keluarga beraneka ragam. Hal tersebut dapat diawali dari keteladanan orang tua menyisihkan waktunya untuk membaca, memberi fasilitas kepada anak-anak sejak usia dini agar gemar membaca. Selain itu, tidak lupa pula untuk memberi motivasi akan pentingnya membaca. Secara praktis, orang tua memberikan ruang kepada anak, baik moril atau materil agar anak menyisihkan waktu untuk membaca seperti mengajak ke toko buku, perpustakaan, museum atau membeli salah satu produk media cetak. 

Implikasi dari keluarga yang literat akan menghasilkan orang tua yang open minded terhadap perkembangan anaknya. Tidak ada pengekangan, akan tetapi secara langsung memantau serta selalu membimbing sesuai keunikan masing-masing anak. Karena bagaimana pun, setiap anak memiliki potensi dan keunikan masing-masing. Dari sini dapat diketahui peran penting budaya literasi di dalam sebuah keluarga.

Oleh karena itu, sebagai warga yang baik, spirit budaya literasi akan dibangun sesuai kemampuan dan kreatifitas masing-masing.
Apabila ditinjau dari sisi Islam, budaya literasi ternyata yang pertama kali dianjurkan oleh Allah SWT. Melalui firmanNya yang berbunyi iqra’. Sungguh besar makna iqra’ tersebut. Karena tidak hanya menyangkut membaca saja, namun berkaitan juga dengan menulis.

Maka dari itu, salah satu penentu kebahagiaan yang amat penting yaitu orang tua bisa memberikan manfaat besar bagi anak-anaknya dalam dunia literasi, agar hidupnya dipenuhi dengan bekal yang teramat berarti dalam kebelangsungan hidupnya. Di samping itu, keluarga sebagai pembentuk anak yang bisa membanggakan keluarga, nusa, dan bangsa.

Pada akhirnya, jika budaya literasi ini dapat diaplikasikan dalam keluarga, maka akan membangun peradaban suatu bangsa karena kemampuan literasi merupakan sebuah kunci dari ilmu pengetahuan yang tak berhingga luasnya serta memberikan dampak yang besar bagi kemajuan sebuah bangsa dan negara. Salam literasi. 

*Alumni Pascasarjana Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Lindungi Saudaramu, Ariflah Bermedia

Rabu, 22 November 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

"Arif bermedia". Kalimat ini saya temukan di tulisan sahabat saya, dan membuat saya ingin menulis sebagai nasehat untuk pribadi saya dan untuk pembaca. Kalimat yang menarik dan cukup menjadi renungan jika dikaitkan dengan konsep bersaudara. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa media menjadi corong informasi bangsa, dimana dengan media semua masyarakat bisa mengetahui fenomena negeri, mulai dari pelosok desa hingga istana negara.

Dengan media, baik cetak maupun elektronik sejarah bangsa ini akan terdokumentasikan dan menjadi referensi sebagai rujukan bagi generasi bangsa.

Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah realita, dan masa depan adalah cita-cita. 

Maka jangan pernah lupakan sejarah. Karena sejarah akan kembali diputar pada masanya ketika generasi bangsa ini menyusun sebuah rencana untuk masa depannya. Dan salah satunya bisa mereka dapatkan melalui media.

Media bak pisau bermata dua, bergantung pada yang memainkannya. Jika media dimainkan dengan baik, maka kebaikan yang didapatkannya. Begitu juga sebaliknya. Mungkin ini salah satu bagian dari tugas kita "arif bermedia".

Maraknya pemberitaan di media tentang isi negeri ini terkadang membuat manusia lupa bahwa ada hak saudara kita di tangan kita. Sehingga manusia terjebak dan larut didalamnya.

Maka menjadi hal yang wajar jika perkumpulan ulama di jawa tengah dalam bahtsul masail mengharamkan monopoli frekuensi publik, sebagaimana diberitakan nujateng.com (21/11/2017). 


Kalau dikaitkan dengan konsep persaudaraan media bisa menjadi pemersatu bangsa, dan bisa juga sebaliknya. Karena dengan media manusia bisa membaca dan mendengar, mengikuti informasi perkembangan publik terkini.

Maka bergantung pada kecerdasan dari pengguna media itu sendiri dalam mensikapinya. Tentu tingkat intelektual setiap manusia juga menjadi penentu dalam "arif bermedia".  

Dalam islam, sebagai seorang muslim kita mempunyai kewajiban untuk melindungi saudara kita. Melindungi dalam hal ini bukan melindungi dalam bab hukum, hukum tetaplah hukum yang harus ditaati sesuai undang-undang yang sudah ditetapkan. Namun melindungi yang dimaksud adalah melindungi harkat dan martabatnya yang salah satunya dengan menyembunyikan aibnya.

Maka dalam bermedia kita harus arif dan bijaksana. Jangan sampai menjadikannya sebagai sumber perpecahan yang dapat merusak tali persaudaraan yang bermula dari untaian kebencian dan yang lainnya.

Bukankah Rasulullah shallahu alaihi wassallam sudah menjelaskan bahwa : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Saat ini media sudah di genggaman kita. Tinggal sejauh mana kita bisa mengendalikannya. Semuanya kembali kepada kita. Obor apa yang ingin kita nyalakan melalui media ? Tentu obor kebaikan yang harus kita nyalakan guna menjadi penerang kegelapan. Wallahu A'lam.[] 
*Penulis aktivis sosial, twitter @Subliyanto, website www.subliyanto.id

Menentukan Titik Koordinat

Sabtu, 18 November 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Jum'at malam (17/11/2017) saya sempat berdiskusi via WhatsApp dengan sahabat senior yang sekaligus sebagai guru saya, Imam Nawawi. Diskusi tentang gerakan pemuda muslim dan perannya sebagai generasi penerus perjuangan islam.

Dalam diskusinya sahabat saya menyebut tentang titik koordinat . Sebuah istilah untuk mengetahui posisi suatu benda. Tentu istilah tersebut menarik dan tidak asing dalam ilmu matematika.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) titik koordinat adalah bilangan yang dipakai untuk menunjukkan lokasi suatu titik dalam garis, permukaan, atau ruang. Dan untuk mengetahui titik koordinat diperlukan dua garis berarah yang tegak lurus satu sama lain (sumbu x dan sumbu y), dan panjang unit, yang dibuat tanda-tanda pada kedua sumbu tersebut.

Berbincang titik koordinat hakikatnya membahas tentang posisi. Dan kaitannya dengan pemuda hal ini termasuk hal yang penting dalam perannya sebagai generasi pejuang dalam melakukan perjuangan.

Mudah dan simpel menentukannya, dimana posisi anda ? Dan untuk siapa anda berjuang dan berkarya ? Pertanyaan tersebut penting untuk ditentukan sebagai acuan dalam bergerak dan melebarkan sayap perjuangan. 

Tentu sebagai generasi muslim hal yang diperjuangkan adalah islam. Karena islam luas maka harus diperjuangkan dan disebar luaskan agar islam sebagai rahmatan lil'alamin dapat dirasakan oleh semua kalangan.

Adapun medan dan medianya sangat beragam sesuai dengan kapasitas keilmuan yang digenggam. Karena kita khususnya generasi penerus perjuangan harus berbagi peran agar pembenahan pada aspek-aspek lini kehidupan terselesaikan secara bersamaan.

Sudah saatnya generasi mengembangkan pola perjuangan agar bisa diterima di semua kalangan. Hal itu dapat dilakukan dengan sikap netralitas dalam kehidupan sosial tanpa melepas baju yang bersifat fundamental.

Karena disadari atau tidak, perpecahan umat islam saat ini karena faktor internal lebih dominan. Sehingga faktor eksternal mudah menyusup menangkap peluang seolah-olah dia sebagai kawan, padahal hakikatnya adalah lawan.

Kita boleh mengibarkan bendera sebagai simbol miniatur perjuangan. Tapi jangan sampai bendera yang kita kibarkan menjadi sumber perpecahan. Karena visi utama kita adalah bagaimana bendera islam berkibar.

Sebagai penutup tulisan ini saya kutip sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Wallahu A'lam []

*Penulis aktivis sosial dan pendidikan, website www.subliyanto.id

Gadget bagi Anak, Puji Hariyanti : Orang Tua Harus Membatasi

Sabtu, 11 November 2017 0 komentar


"Kalau dilarang sama sekali gadget kepada anak-anak maka itu hal yang mustahil, karena anak-anak kita sekarang hidup di jaman yang serba digital. Lalu yang bisa dilakukan oleh orangtua apa? Yaitu membatasi." 

Demikian disampaikan Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) pada kegiatan Seminar Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak. (Sabtu, 11 November 2017).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta diikuti oleh ratusan peserta dari wali murid sekolah tersebut.


Dalam paparannya, Puji Harianti menyampaikan bahwa harus ada dialog antara orang tua dan anak dalam penggunaan Gadget.


"Harus ada dialog antara orangtua dengan anak. Kapan waktu mereka boleh memegang gadget dan kapan mereka tidak boleh memegangnya. Misalnya sehari dibatasi 30 menit, maka selebihnya orangtua harus istikomah tidak memberikan gadget setelah anak memakai waktu 30 menit itu."  Jelas Puji.


Selain itu, Puji juga menyampaikan beberapa bahaya gadget yang harus diwaspadai oleh orang tua, di antaranya susah tidur, gangguan kesehatan mata, konsentrasi pendek atau pelupa, kurang sosialisasi, kecanduan, terkena radiasi sehingga kekebalan tubuh berkurang, pornografi, menurunnya prestasi belajar, perkembangan fisik, sosial, otak

"Jika hal-hal di atas sudah dirasa membahayakan bagi anak-anak, maka kewajiban bagi orangtua adalah memutus ketergantungan gadget ini." Himbau Puji kepada para orang tua.

Editor : Subliyanto

Membaca Pesan Edukasi Deddy Mizwar

Jumat, 10 November 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Adalah Deddy Mizwar, Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018 yang dengan kicauannya di akun twitternya seakan memberi motivasi tersendiri, khususnya bagi para generasi penduduk negeri.

Pada 9 November 2017, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas selesainya pendidikan S2 yang ia tempuh. Ungkapan tersebut ia sampaikan di akun twitternya dengan nama @Deddy_Mizwar_.

"Alhamdulillah, kemarin saya diwisuda S2 Magister Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung. Terima kasih kpd semua pihak yang sudah mensupport saya sehingga dapat selesainya studi S2 saya ini." Tulis Wagub Jabar tersebut di twitternya.

Tentu hal itu bukan sebatas untaian kalimat saja. Akan tetapi di dalamnya tersirat makna yang memberi pesan edukasi kepada para generasi bangsa ini bahwa betapa pentingnya pendidikan. 

Ilmu merupakan modal utama dalam hidup dan kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu sebagaimana telah Rasulullah sabdakan :

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jangan pernah berhenti untuk belajar.Karena belajar merupakan kewajiban setiap manusia sejak ia lahir sampai nafasnya berakhir.

*Penulis adalah pelajar, tinggal di www.subliyanto.id. twitter @Subliyanto 



 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum