Suara Kita Menentukan Masa Depan Bangsa

Sabtu, 14 April 2018 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

2018 merupakan pesta demokrasi rakyat indonesia di tingkat daerah. Dimana setiap warga negara menyalurkan suara simboliknya untuk Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak di seluruh daerah.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam sebuah bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

Peran pemimpin merupakan hal yang ditunggu-tunggu oleh rakyat untuk kemakmuran daerahnya. Sehingga peran pemimpin akan menentukan masa depan bangsa.

Jika suatu daerah dipimpin oleh pemimpin yang baik, maka masa depan bangsa ini insya Allah juga akan baik. Jika suatu daerah dipimpin oleh pemimpin yang tidak baik, maka sangat besar peluangnya masa depan bangsa ini untuk tidak baik.

Karenanya dalam memilih pemimpin hendaklah benar-benar faham sifat, karakter, serta kemampuan dari figur calon pemimpin yang ada.

Karena pada hakikatnya memilih seorang pemimpin adalah memberi amanah kepada orang yang kita pilih. Sehingga sudah sepantasnya sebuah amanah kita berikan kepada orang yang baik.

Disinilah peran dan tanggung jawab kita sebagai pemilih, yang mana tanggung jawab itu tentunya akan kita pertanggung jawabkan, tidak hanya di hadapan manusia, namun terlebih di hadapan Tuhan yang maha esa, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala.

Masa depan bangsa bergantung pada kita dan pemimpinnya. Sekecil apapun peran kita dalam pilkada akan menentukan segalanya.[] Wallahu A'lam...

Subliyanto.id On Play Store

Jumat, 13 April 2018 0 komentar

Alhamdulillah, dengan menu dan tampilan sederhana, kini subliyanto.id bisa dinikmati di Play Store. Silahkan sahabat download

subliyanto.id merupakan sebuah media pribadi milik Subliyanto yang hadir sebagai media belajar dan informasi. 

Media yang hadir sebagai catatan kenangan untuk anak cucu. Semoga kehadirannya dapat bermanfaat untuk sahabat semuanya. Amin


*Subliyanto

Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud Keimanan

0 komentar


Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira dengan akan datangnya bulan Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.

Maka hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena  ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah. Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991)]
Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan, “Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah hanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.“ [Ahaditsus Shiyam hal. 13]
Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu.  Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). [Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148]

*Diolah dari berbagai sumber

Galeri Islami : Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkat Kecamatan Komodo

0 komentar


Nama Kegiatan : Musabaqah Tilawatil Qur'an

Tema Kegiatan : Dengan MTQ Kita Tingkatkan Pengamalan Nilai-nilai al-Qur'an Untuk Menciptakan Perdamaian dan Kerukunan Menuju Manggarai Barat yang Ramah, Maju, dan Sejahtera

Tempat Kegiatan : Kantor Kecamatan Komodo, Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Waktu Kegiatan : Kamis-Senin ( 12-16, April 2018)

Peserta : Qori' dan Qori'ah tingkat anak-anak, tartil tingkat anak-anak, dan Hafizh-hafizhah 5 juz tingkat anak-anak
========
*Foto kiriman Nur Aini, Penyuluh Agama Islam

Kue Lapis dan Potret Kehidupan

Kamis, 15 Maret 2018 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Ketika kita berkunjung ke pasar, mungkin kita tidak asing dengan yang namanya kue lapis. Salah satu jajanan pasar yang cukup laris.

Tampilannya yang cukup menarik, berlapis dan berwarna-warni bak pelangi membuat banyak orang melirik dan tertarik untuk mengkonsumsinya. 
Namun dibalik tampilannya yang menarik, kue ini terdapat kekurangan yang membuat penikmatnya kurang berminat. Yaitu kue ini tidak bisa bertahan lama. Kue lapis mudah basi, sehingga cocok untuk dikonsumsi ketika kue ini baru mateng.

Nah inilah sebetulnya potret kehidupan di dunia. Dunia dan isinya hanyalah bersifat sementara. 

Dunia penuh dengan corak dan warna yang semuanya indah dipandang oleh mata. Namun semuanya akan hancur dan menjadi tidak berguna. Ibarat kue lapis isi dunia ini akan basi, tidak peduli ia berada di lapisan yang mana dan berwarna apa.
Maka sangat disayangkan jika keberadaan manusia di dunia ini bersifat sombong. Entah karena posisinya di lapisan masyarakat, maupun karena warnanya, karena semuanya akan binasa.

Cukuplah menjadi renungan pesan edukasi Luqman kepada anaknya yang Allah abadikan dalam firmanNya sebagai bekal untuk manusia dan para generasinya. Luqman berpesan :

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Makna ayat di atas menurut Al-Qurthubi, “Janganlah kamu palingkan mukamu dari orang-orang karena sombong terhadap mereka, merasa besar diri, dan meremehkan mereka.” Maka yang dimaksud adalah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda diantara mereka berbicara dengannya, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan pembicaraannya. Demikian yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Luqman juga berpesan : "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).
Al-Qurthubi mengatakan, setelah Luqman memperingatkan anaknya agar waspada terhadap akhlak tercela, ia lalu menggambarkan kepadanya akhlak mulia yang harus dikenakannya. Yakni bersikap pertengahanlah kamu dalam berjalan. Cara jalan pertengahan yaitu antara langkah cepat dan lambat. Hanya Allah yang lebih mengetahui makna yang dimaksud. Akan tetapi, Allah sendiri memuji orang yang bersikap demikian sebagaimana yang telah disebutkan keterangannya dalam surat Al-Furqan :
"Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (QS. Al-Furqan: 63).
“Lunakkanlah suaramu.” maksudnya kurangilah suaramu dari suara yang keras. Dengan kata lain, janganlah kamu memaksakan diri mengeluarkan suara yang sangat keras, tetapi dalam batasan seperlunya. Makna secara keseluruhan dari surat Lukman ayat 19 di atas ialah bersikaplah tawadhu’ atau rendah hati.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam kebaikan. Wallahu a'lam []

Muchlas Samani : Sekolah Itu Bukan Pabrik Roti

Minggu, 11 Maret 2018 0 komentar

SEKOLAH ITU BUKAN PABRIK ROTI


Ketika diskusi tentang pendidikan, kita menganalogkan proses pendidikan itu dengan proses produksi di sebuah industri.  Dengan menggunakan diagram input (raw input dan instrumenatal input), proses dan output, lantas kita mengatakan agar outputnya memenuhi standar begini, maka inputnya harus begini dan prosesnya harus begini.  Mirip dengan pabrik roti, berdasarkan berkali-kali percobaan untuk menghasilkan roti Boy yang enak, maka komposisi campuran bahannya harus begini, mengaduknya harus begini, memanggangnya dengan alat begini, dengan suhu segini, lamanya sekian dan seterusnya. Pokoknya semua harus sesuai dengan standar.  Konon prinsip itulah yang dipegang ketika pembuatan roti Boy dilakukan di berbagai tempat dan oleh banyak orang, tetapi rasanya sama.  Konon prinsip yang sama juga diterapkan oleh makanan cepat saji yang banyak diwaralabakan di Indonesia.

Nah, apakah proses pendidikan dapat disamakan dengan membuat roti Boy atau menggoreng ayam McDonal?  Rasanya tidak. Ok-lah jika kita ingin mendapatkan output yang terstandar, yang biasanya disebut dengan standar kualitas lulusan (SKL) atau capaian pembelajaran (CP) lulusan.  Namun yang pasti, raw input pendidikan tidak dapat kita standarkan seperti pembuatan roti.  Setiap siswa atau bahkan mahasiswa itu unik.  Mungkin kita dapat berasumsi mereka memiliki bekal awal minimal tertentu, tetapi bukankah mereka memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, motivasi belajar yang berbeda-beda.


Nah, jika proses pembelajaran dikonsepkan agar siswa dapat belajar maksimal sehingga mencapai kompetensi yang diinginkan, maka setiap anak memerlukan proses pembelajaran yang berbeda-beda.  Itu tidak berarti guru harus mengajar anak secara individual, tetapi paling tidak pola pembelajaran yang sukses diterapkan di kelas A belum tentu cocok diterapka di kelas B.  Jadi tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk semua kelas.  Di situlah pentingnya kita guru untuk melakukan improvisasi agar pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi kelasnya.  Itu yang mungkin menjadi dasar Aboedohuo menyebutkan peningkatan hasil belajar siswa banyak ditentukan oleh inovasi guru dalam mengajar.

Kalau proses pembelajarannya memerlukan improvisasi (bahasa canggihnya disebut inovasi), maka instrumental input (sarana dan sebagainya) yang diperlukan sangat  mungkin berbeda. Siswa yang cerdas sangat mungkin tidak memerlukan hands on terlalu banyak, jika hanya untuk memahami sebuah konsep karena mampu berpikir abstrak.  Namun siswa yang kurang cerdas memerlukan itu untuk memudahkan memahami konsep yang abstrak.  Itulah sebabnya (konon) hanya anak-anak yang cerdas yang mampu belajar stereometri dengan baik, karena konsep-konsep di dalamnya sangat sulit dipraktekkan atau dibuatkan alat peraga.

Jika proses pembelajarannya tidak mungkin dibakukan secara kaku, keperluan instrumental input juga tidak mudah dibakukan secara kaku, lantas bagaimana membuat standar sekolah yang baik?  Katakanlah bagaimana kita membuat instrumen akreditasi sekolah?  Disitulah ketidakmudahannya.  Memang sulit, tetapi bukan tidak dapat dikerjakan.  Ibarat membuat instrumen sikap, memang sulit tetapi bukan berarti tidak dapat dibuat.

Jika ingin disederhanakan, dapat digunakan pola pikir bahwa mutu pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek utama saja, yaitu lulusan, iklim pembelajaran di kelas/lab/workshop dan budaya sekolah.  Dengan melihat tiga aspek itu sudah dapat tergambar seperti apa proses pendidikan dan hasilnya.  Tinggal bagaimana menyusun instrumen untuk mengukur iklim pembelajaran di kelas (classroom climate), budaya sekolah (school culture) dan mutu lulusan.  Semoga. 

MENDIDIK DENGAN HATI

0 komentar


J.B Watson adalah psikolog yang pongah. Dengan begitu percaya diri dia berkata, “Berikan padaku selusin anak-anak sehat, tegap dan berikan dunia yang aku atur sendiri untuk memelihara mereka.” Lihat yang dia katakan selanjutnya, “…Aku jamin aku sanggup mengambil sembarang saja dan mendidiknya untuk jadi spesialis yang aku pilih—seniman, dokter, pengacara, pengemis, pencuri tanpa memerhatikan bakat, tendensi, kecenderungan, kemampuan, dan ras orangtua.”

J.B Watson bersama koleganya, Rosalie Rayner lalu membuat kelinci percobaan di Johns Hopkins University. Sang kelinci percobaan itu adalah Albert, sang anak malang putra salah seorang perawat di rumah cacat. Albert kala itu masih belia. Usianya masih sebelas bulan. Sedang lucu-lucunya. Wajahnya begitu menggemaskan. Albert hobi bermain tikus kecil putih dengan bulunya yang halus. Namun, tiba-tiba J. B Watson datang membawa petaka dengan teorinya.


Kala Albert asik bermain dengan tikus. Jari-jemari lentiknya sedang mengelus-elus bulu halus tikus. J.B Watson memukulkan lempangan baja tepat di belakang kepalanya. Keras bukan main. Albert kaget. Bocah mungil dan lucu itu jatuh tersungkur ke lantai dengan isak tangis yang pecah. Hal itu dilakukan berkali-kali beberapa pekan lamannya. Setiap kali diperlakukan seperti itu, Albert tersungkur dan menangis. Albert lalu takut tikus. Dia tidak berani mendekati tikus kesayangannya apalagi sekedar mengelus bulu putih halusnya.

Dia takut, lempengan baja yang memekakkan telinga akan berbunyi di belakang kepalanya. Akhirnya, Albert pun trauma. Bukan hanya tikus, tapi juga pada hewan lainnya, seperti kelinci, anjing, dan hewan lainnya. Albert lalu tumbuh jadi sosok anak yang sakit jiwa. Penulis buku parenting, Muhammad Faudzil Adhim dalam bukunya, “Segenggam Iman Anak Kita” mengatakan, contoh buruk tak bertanggung jawab Watson patut diambil pelajaran. Jangan sampai orang tua atau pun pendidik memperlakukan anak seperti Watson pada Albert. Atau, jangan-jangan, kita lebih kejam dari Watson?

Anak bukan benda mati. Dia tidak bisa diperlakukan kasar dan kaku. Dia memiliki hati dan otak yang dapat merasa dan berfikir. Karena itu, memperlakukan anak ada ilmunya. Tidak sembarang seperti Watson pada Albert. Salah mendidik anak bisa berakibat fatal. Didikan itu akan melekat hingga besar. Karena itu, mendidik harus dengan hati. Hati harus hadir penuh dalam mendidik. Kehadiran hati yang tulus dan ikhlas bisa menyamakan frekuensi relasi baik piskologi maupun ilmu dengan anak didik. Anak merasa nyambung, nyaman, dan aman.

Lihat bagaimana Rasulullah mendidik anak. Penuh kelembutan dan kasih sayang. Hati Rasulullah benar-benar hadir. Nabi acapkali bermain-main dengan anak-anak. Beliau pernah menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan yang lainnya dari putra-putra pamannya, Al Abbas ra untuk berbaris seraya berkata, “ Siapa yang terlebih dulu sampai padaku akan aku beri hadiah.” Mendengar demikian, mereka berlomba menuju Nabi kemudian duduk di pangkuannya. Lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.

Rasulullah sangat peduli terhadap anak, lebih-lebih anak yatim-piatu. Ketika Ja’far bin Abu Tholib ra terbunuh dalam peperangan mut’ah, beliau sangat sedih. Beliau bergegas datang ke rumah Ja’far dan menjumpai istrinya, Asma bin Umais yang sedang membuat roti, memandikan anak-anak dan memakaikan baju. Rasulullah lalu berkata: “Suruh kemarilah anak-anaknya Ja’far.” Ketika meraka datang, beliau langsung menciuminya sambil meneteskan air mata.

*Kiriman Syaiful Anshor, Penulis buku “Sakinah Menuju Jannah” dan “Journey to Success” 

Belanja Online

Jumat, 09 Maret 2018 0 komentar

Online Store HPAI adalah toko online yang menyediakan beragam produk halal dan thoyyib. Semua produk telah memiliki ijin edar dan label halal dari MUI. 

Produk yang tersedia saat ini terdiri dari produk makanan, minuman, obat herbal kesehatan, alat kecantikan, kosmetika, peralatan kebutuhan rumah tangga dan pertanian. 

Pembelian produk bisa dilakukan melalui form order di website maupun hanya melalui SMS/WA melalui agen resmi HPAI.

Informasi detail produk, manfaat, dan harganya Klik disini
















































 
SUBLIYANTO.ID © 2018 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum