Gaji Dokter Versus Gaji Tukang Parkir

Selasa, 15 Januari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Terasa geli di telinga membaca kutipan pidato kebangsaan calon presiden 02 Bapak Prabowo Subianto yang dikutip oleh kumparan.com pada 14/1/2019. Dan rasanya juga tidak salah kalau penulis sebagai warga negara Indonesia bertanya sebagai bentuk konfirmasi melalui tulisan ini "Apakah Benar Gaji Dokter Lebih Kecil dari Tukang Parkir Mobil ?". Tidak lain dan tidak bukan semata-mata hanya untuk mengedukasi publik dengan tujuan agar publik ini tidak dicekoki dengan pernyataan yang tidak berdasar.

Prabowo dalam pidato kebangsaannya di JCC Senayan, Jakarta, Senin (14/1)sebagaimana dikutip laman kumparan.com menyatakan bahwa "Dokter-dokter kita harus dapat penghasilan yang layak. Sekarang banyak dokter kita gajinya lebih kecil dari tukang jaga parkir mobil". Dan setelah penulis konfirmasi dengan mendengarkan ulang pidato tersebut ternyata Prabowo memang menyatakan demikian kira-kira pada titik 25% menjelang pidato berakhir.

Penulis sendiri sangat memaklumi dan menyadari serta bersifat wajar menjelang pesta politik 2019 mendatang jika para paslon harus meyakinkan pada rakyat dengan janji-janji politiknya. Namun demikian karena yang dihadapi adalah jutaan rakyat Indonesia yang notabeni kondisinya dalam berbagai aspek tidak sama, maka sudah seharusnya kita berpijak pada data dan fakta.

Membaca Fakta Teranyar

Hanya dalam hitungan hari sebelum Bapak Prabowo berpidato tepatnya pada tanggal 12 Januari 2019 media-media di madura khususnya mengabarkan bahwa sejumlah Tenaga Harian Lepas (THL) di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Pamekasan, Madura, Jawa Timur dikumpulkan oleh Dishub setempat dan disampaikan bahwa mereka akan dikontrak dengan honor Rp 75.000 perbulan. Berikut penulis sajikan kutipan portalmadura.com :

"Tenaga Harian Lepas (THL) di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Pamekasan, Madura, Jawa Timur harus gigit jari. Pasalnya, mereka yang rata-rata sudah bekerja 9 tahun tidak pernah mendapat gaji sepeserpun dari instansinya. Ironisnya, pada tanggal 10 Januari 2019 para THL dikumpulkan di aula Dishub yang berlokasi di Jalan Bonorogo tersebut, dalam pertemuan itu disampaikan bahwa mereka akan dikontrak dengan honor Rp 75.000 perbulan. Praktis dengan adanya kebijakan baru itu, para THL berkeluh kesah lantaran honornya sangat tidak layak, tetapi mereka enggan menyampaikan keberatan tersebut".(portalmadura.com 12/1/2019)

Ulasan-ulasan di atas merupakan data update tentang sebagian nasib juru parkir di daerah yang menghiasi media pemberitaan pada 12 januari 2019 kemarin.

Membandingkan Secara Proporsional

Tidak adil kiranya kalau penulis hanya menyajikan data dan fakta tentang Tenaga Harian Lepas (THL) yaitu juru parkir saja. Maka disini penulis mencoba menelusuri data dan fakta gaji dokter melalui media informasi yang setidaknya berdasarkan rangking google berada di tiga besar.

www.aturduit.com dengan judul artikelnya "Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia ( Update September 2018)" menjelaskan bahwa "sebagai seorang dokter spesialis di Indonesia memang tidak memiliki standar yang sama apalagi jika membandingkan dokter spesialis yang praktek di rumah sakit pemerintah dengan rumah sakit swasta. Seorang dokter spesialis di Rumah Sakit pemerintah rata-rata hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 10 juta per bulan dan ini sudah termasuk gaji pokok, insentif, dan jasa kunjungan pasien. Sedangkan, gaji dokter umum per bulan hanya Rp 4,8 juta. Berbeda dengan dokter spesialis di Rumah Sakit swasta yang gajinya bisa mencapai minimal Rp 50 juta per bulannya".

Nah dengan demikian setidaknya dari dua data di atas kita dapat menemukan jawaban yang rasional. Sehingga kita juga bisa meposisikannya secara proporsional. Dan adalah sangat tidak wajar dan tidak rasional jika memang gaji dokter lebih kecil dari gaji ataupun honor tukang parkir. Lantas dimana apresiasi negara ini pada nilai keilmuannya yang ia miliki ? Bukankah semua itu sudah menjadi SOP dalam tiap-tiap instansi pemerintah ?

Lagi-lagi demi mengedukasi penduduk negeri agar masyarakat kita di indonesia ini terbiasa dengan sesuatu yang berbasis data dan fakta. Sehingga apa yang kita sampaikan ke masyarakat bisa dipertanggung jawabkan. Maka dalam hal ini, penulis tidak memandang siapa sosok yang menyatakan. Akan tetapi lebih pada nilai-nilai edukasi dari konten-konten yang disampaikan. Semoga dengan tulisan ini dapat mengantarkan kita pada kebaikan-kebaikan sebagai upaya bentuk kepedulian pada Indonesia. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan, putra Daerah Pamekasan Madura. Twitter @Subliyanto

Menghitung Standart Income Sederhana Tapi Manusiawi

Senin, 14 Januari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto,S.Pd.I*
Mengejutkan ketika membaca berita tentang Tenaga Harian Lepas (THL) di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Pamekasan, Madura, Jawa Timur yang bertugas sebagai tukang tarik retribusi parkir pasar mengaku tidak digaji sejak tahun 2009. Lebih mengejutkan lagi ketika mendengar bahwa sekitar 160 THL dikumpulkan di Aula Dishub yang berlokasi di Jalan Bonorogo oleh Dishub, dan mereka akan dikontrak dengan honor Rp 75 ribu per bulan. (mediamadura.com edisi 12 Januari 2019).

Melihat nominal rupiah yang akan diberikan pada THL Pamekasan di atas, tentu setiap kepala kita akan geleng-geleng dan mungkin alis kita juga akan mengkerut. Setidaknya kita akan berfikir rasional bahwa nominal tersebut kira-kira untuk konsumtif saja cukup tidak untuk kurun waktu satu bulan ?

Menakar Standart Income

Untuk mengetahui standart income manusia dalam kehidupan sekitar kita cukuplah mudah. Semua income manusia bisa diprediksi kecuali pedagang. Karena masing-masing sudah punya standart berdasarkan SOP yang ada, mulai dari buruh tani hingga pegawai negeri berdasarkan claster-claster masing-masing.

Katakanlah kita ambil sampel buruh tani sebagai basic standart. Kalau kita blusukan langsung ke lapangan maka akan ditemukan bahwa upah buruh tani rata-rata 60.000 sampai dengan 75.000 perhari . Hal itu sepadan dengan standart kuli bangunan untuk kelas "kongsikong" atau pembantu tukang. Perbedaannya hanyalah rezeki yang bersifat insidentil dari masing-masing mereka berupa jatah makan dan lain-lain.

Sehingga kalau diakumulasi income para buruh kelas bawah dalam satu bulan adalah 1.800.000 sampai dengan 2.250.000, setara dengan para pegawai yang punya ikatan dinas. Tentu nominal tersebut mungkin memberatkan bagi dinas terkait yang menaungi THL. Apalagi tanggung jawabnya sepenuhnya diberikan pada dinas yang menaunginya.

Sebagaimana dikutip dari laman mediamadura.com bahwa "Penjabat Sekretatis Daerah (Pj Sekda) Kabupaten Pamekasan, Mohammad Alwi menyampaikan, selain honorer K2, honor tidak ditanggung anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Karena K3 atau THL sudah menjadi tanggungjawab instansi yang menaunginya".

Maka hal ini menjadi penting untuk menjadi perhatian Pemerintah Daerah Pamekasan. Setidaknya jika yang demikian memang belum tercantum dalam APBD maka sudah seharusnya menjadi evaluasi agar mendapatkan porsi anggaran walaupun nominalnya tidak sebesar akumulasi standart buruh dalam kurun waktu satu bulan. Dan tentu menyesuaikan dengan pendapatan daerah yang ada. Serta syukur bisa memperjuangakan menuju standarisasi.

Peran "tanggung jawab" para THL inilah yang seharusnya menjadi bahan acuan. Bukan kelas mereka dalam bekerja. Karena nilai dan harga sifat tanggung jawab lebih besar daripada nominal yang bersifat sesaat. Dan hal tersebut hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang memiliki karakter yang baik.

Semoga kedepan Pamekasan menjadi lebih baik dalam segala sistem dan aspek yang menjadi tanggung jawabnya. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis soaial dan pendidikan. Putra daerah Pamekasan. Twitter @Subliyanto

Afi Nihaya Faradisa dan Masa Depan Generasi Bangsa

Jumat, 11 Januari 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Afi, bernama lengkap Afi Nihaya Faradisa, putri cantik asal Banyuwangi ini yang beberapa waktu lalu sempat membuat gempar dunia maya dan dunia nyata karena goresan penanya berjudul “Warisan” yang dianggap membawa pesan perdamaian hingga aromanya menembus meja istana, kini ia kembali beraksi dengan menanggapi kasus prostitusi.

Sudah manusiawi bahwa terkadang manusia untuk mendongkrak eksistensinya dengan membuat sesuatu yang unik, dan menarik serta bahkan bisa membuat sesuatu yang dapat menuai kontroversi. Sepertinya demikian juga dengan putri satu ini.

Afi melalui penanya menulis tanggapan tentang kasus prostitusi yang baru-baru ini sangat viral. Berikut tanggapan yang Afi tulis di facebooknya pada 6 Januari pukul 16.34, mari kita cermati :

====

Tanggapan saya mengenai kasus prostitusi artis VA yang viral:


1. Ada permintaan, ada penawaran. Hukum pasar dalam bidang ekonomi pasti seperti itu. Dan VA berhasil melampaui hukum pasar tersebut, dia menciptakan pasarnya sendiri. Dia yang memegang kontrol dan otoritas atas harga, bukan konsumennya. Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Seperti produk Apple Inc. atau tas Hermes-- kita bisa belajar dari sana. Padahal, seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dll. Lalu, yang sebenarnya murahan itu siapa? eh  (Makanya, kalau tidak mau dihakimi jangan menghakimi). 

2. Masyarakat kita mempunyai mentalitas "holier-than-thou" atau merasa diri lebih suci, lebih superior daripada manusia lain yang kebetulan terbuka aibnya. Karena itulah yang semacam ini bisa viral. Selanjutnya "flawed society" ini akan bergosip, menghujat di akun medsos artis yang bersangkutan, dan membully karena secara tidak sadar itu memberi kepuasan psikologis berupa perasaan "aku lebih baik, lebih bermartabat". Membuat orang lain menjadi bahan bercandaan itu enak. 

3. Media seperti Kumparan dan Jawa Pos memanfaatkan momen ini untuk berburu klik, view, dan pembaca dengan cara menyebutkan SECARA LENGKAP nama artis, tapi SAMA SEKALI TIDAK ADA nama laki-lakinya. Padahal, dalam transaksi ada penjual ada pembeli. Saya turut kecewa dengan kualitas jurnalistik yang sangat memihak dan mendiskreditkan perempuan (misoginis), hanya karena cara buruk seperti itu lebih efektif untuk menjaring minat pembaca. Shame on you! Please reveal both sides, it takes two to tango! 

4. Dalam masyarakat kita, memang apa-apa salah perempuan. Pemerkosaan salah perempuan. KDRT salah perempuan. Poligami salah perempuan. Suami selingkuh salah perempuan. Hamil di luar nikah salah perempuan. Prostitusi salah perempuan. Mengapa? Sederhana, karena masyarakat kita masih jahat terhadap perempuan. Tidak ada kesetaraan gender, literasi sangat rendah, kaum terdidik masih sedikit. Ya begitulah karakteristik negara berkembang yang sakit kronis, penuh pejabat korup, banyak masalah SARA/HAM, kesejahteraan kurang.
Halo, sobat missqueen 

- Afi Nihaya Faradisa
#AfiPsikologi

====


Kira-kira apa yang terbayang di kepala pembaca setelah membaca tanggapan Afi di atas? Tentu jawabannya beragam sesuai kapasitas keilmuan para pembaca masing-masing. Namun demikian, goresan Afi di atas perlu diseriusi untuk dikaji dan ditanggapi guna memberikan pemahaman yang benar kepada para generasi penerus bangsa. Karena tulisan Afi bukanlah amunisi akan tetapi merupakan racun bagi pembacanya khususnya generasi yang masih minim keilmuannya.

Bagi penulis, tanggapan Afi di atas tidak mencerminkan sebagai sosok yang lulus dalam pendidikan agama, terlebih agama yang melekat pada dirinya. Penganut agama yang radikal, dalam hal ini agama apapun yang diakui di Indonesia tidaklah ada yang membenarkan perilaku-perilaku yang tidak bermoral, apalagi sampai kelas prostitusi. Tidak tebang pilih siapapun pelakunya, karena perilaku tersebut memang penyakit sosial dan penyakit moral yang harus dibereskan.

Maka sangat wajar jika hal tersebut diekspos pemberantasannya agar dapat mengedukasi khlayak sehingga terus mewaspadai dan menjaga diri serta mencegah  jamur penyakit sosial tersebut. Disinilah peran kebersamaan semua pihak sesungguhnya termasuk media guna memberikan pendidikan yang benar kepada para generasi bangsa yang akan menjadi penerus perjuangan negeri ini.

Penulis menilai Afi menulis dengan rasa sehingga tak heran jika tanggapannya juga mewakili perasaan dirinya sebagai perempuan. Dan teori yang dipakai adalah teori ekonomi yang notabeni berbicara untung dan rugi. Namun Afi lupa bercermin sehingga ia tidak bisa melihat dan bertanya, bagaiamana seandainya pelakunya adalah dirinya ? Bagaimana rasa sakit kedua orang tuanya yang telah membesarkannya ? Bagaimana rasa sakit para gurunya yang telah mendidiknya ? Dan bagaimana rasa sakit orang-orang sekitarnya yang telah mengaguminya ?.

Maka karena Afi masih pelajar yang sedang mengenyam pendidikan, dan Afi anak psikologi, maka penulis yakin Afi akan menemukan jawabannya dengan teori psikologi yang ia pelajarinya. Pesan penulis kepada Afi khususnya hanyalah “pelajarilah agama secara radikal agar dengan agama kita bisa mencerna dengan lebih rasional”.

Semoga Afi bisa lebih serius lagi dalam belajar psikologi di kursi pendidikannya saat ini, sehingga goresan penanya lebih bisa memberi manfaat kepada para generasi negeri ini. Bukan hanya sebatas prinsip dan kepentingan ekonomi akan tetapi untuk prinsip dan kepentingan kehidupan yang hakiki. []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. Putra Daerah Pamekasan. Website www.subliyanto.id

Nanti, Jari Kitapun Akan Bicara

Rabu, 09 Januari 2019 0 komentar

Foto : By. Google
Oleh : Subliyanto*
Bismillah walhamdulillah, was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, la haula wa la quwwata illa billah.

Sebagai prolog, penulis mengajak kepada kita semuanya untuk menyadari bahwa setiap gerakan kita  dimonitor oleh Allah SWT. Dan ketika kelak dimintai pertanggung jawaban di sisi-Nya maka kita tidak bisa mengelaknya, karena pada hari itu bukan mulut kita lagi yang bicara, akan tetapi semua anggota tubuh kita akan menjadi saksi atas apa yang kita lakukan. Allah berfirman :

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan". (QS Yasin : 65)

Tentu telah kita ketahui bersama melalui siaran-siaran berita bahwa akhir-akhir ini icon jari semakin viral. Bahkan saking viralnya jari kita bisa menjadi celah terjeratnya kita pada pasal perundang-undangan yang berlaku di negeri kita ini.  Sebut saja contoh yang paling anyar adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Gubernur DKI Jakarta itu dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) oleh Presidium Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) Agung Wibowo Hadi terkait kehadirannya di Konferensi Nasional Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12). Anies dianggap telah melanggar Pasal 281 Undang-undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. (cnnindonesia.com)

Tentu bukan kapasitas penulis untuk ikut mengomentari hal itu. Bagi penulis kejadian tersebut hanyalah merupakan satu contoh akan makna dari sebuah peristiwa yang mengandung ibrah bahwa ternyata dengan sekecil jari saja kita bisa dihadapkan dengan persoalan yang harus dipertanggung jawabkan, apalagi lebih besar dari jari, sudah tentu pertanggung jawabannya juga lebih besar.

Allah anugrahkan kepada kita berupa tangan yang dilengkapi dengan jari-jarinya. Maka dalam konsep islam kita diajarkan yang namanya bersyukur, yaitu berterimakasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah Allah berikan dan memanfaatkannya untuk kebaikan sesuai garis-garis yang sudah ditentukan.

Mengkaji firman Allah yang penulis jadikan prolog di atas, setidaknya membuat kita akan lebih berhati-hati atas apa yang kita sedang dan akan kita kerjakan dalam hidup dan kehidupan ini. Apalagi seiring berkembangnya informasi dan teknologi, nampaknya peran dan eksistensi jari-jari kita semakin membawa pengaruh yang besar sepadan dengan mulut kita. Nuansa suara pada zaman yang dikenal dengan "zaman now" berjalan berdampingan dengan nuansa potensi gerakan jari dalam menulis dan menterjemahkan rasa dalam bentuk kata-kata dan terpublish di media-media.

Maka sistem filterasi pada diri kita juga harus terus dibenahi agar semua yang kita kerjakan terus terkendali. Dan kualitas hati kitalah sesungguhnya yang menjadi sumber energi semua gerakan jasad kita.

Rasulullah SAW. bersabda : "Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila dia baik, maka menjadi baik pula semua anggota tubuhnya. Dan apabila rusak, maka menjadi rusak pula semua anggota tubuhnya. Ketahuilah dia itu adalah hati.'” (Muttafaq ‘alaihi)

Berikut penulis sajikan kisah hikmah yang menceritakan tentang pentingnya menjaga hati :

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba beliau berkata, ‘Akan lewat di hadapan kalian saat ini seorang calon penghuni surga.’ Lalu lewatlah seorang pemuda Anshar dalam keadaan dari jenggotnya menetes sisa-sisa air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Pada keesokan harinya, Rasulullah bersabda lagi persis sebagaimana sabdanya kemarin, lalu lewatlah pemuda tersebut dengan keadaan persis dengan keadaannya yang kemarin. Dan pada hari yang ketiga Rasulullah mengulang lagi sabdanya seperti sabdanya yang pertama dan pemuda itu pun muncul lagi dengan keadaan seperti keadaannya yang pertama. Maka, ketika Rasulullah beranjak pergi, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash segera mengikuti pemuda tersebut (ke rumahnya), lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya antara aku dan bapakku telah terjadi perselisihan, maka aku bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama 3 hari. Jika engkau tidak keberatan, aku ingin menumpang padamu selama 3 hari tersebut.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Ya, tidak apa-apa.'”

Selanjutnya Anas berkata, “Maka Abdullah menceritakan bahwa selama 3 hari bersama pemuda tersebut, dia tidak melihatnya melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikitpun. Yang dia lakukan hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh. Selain itu, Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah 3 hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak 3 kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?’ Orang tersebut berkata, ‘Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat.’ Maka ketika aku telah berpaling (pergi), dia memanggilku dan berkata, ‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.’ Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.'” (HR. Ahmad)

Semoga dengan kisah di atas dapat memperkokoh keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, dan senantiasa dapat mensucikan hati kita sehingga dengannya dapat melahirkan perkataan-perkataan yang kita terjemahkan dalam bentuk tulisan-tulisan, serta kita gerakkan melalui gestur raga kita, yang semuanya dalam nuansa dan bingkai kebaikan. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan asal Pamekasan. www.subliyanto.id

Mobdin Batik dan Nasib Nenek

Senin, 07 Januari 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Saya mulai tulisan ini dengan ucapan  "Bismillah wal hadulillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa la haula wa la quwwata illa billah", sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah serta kesadaran diri bahwa kita semua bukanlah makhluk yang sempurna. Semoga dengan demikian dapat memperkokoh keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, Tuhan semesta alam. Amin.

Selanjutnya kita semua adalah pemimpin sesuai dengan kapasitas dan tupoksinya masing-masing. Maka di hadapan Tuhan tidak ada yang luput dari pertanggung jawaban sebagaimana telah Allah tegaskan dalam firmanNya :

"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?" Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zalzalah : 1-8)

Untuk itu tulisan ini hanyalah bersifat pengingat pada diri penulis dan  saling mengingatkan serta saling menguatkan antar sesama sebagai bentuk implementasi dari esensi persaudaraan seiman dan seperjuangan. Allah berfirman :

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-Ashr : 1-3)
***

Berita menarik tersiar dari kota Gerbang Salam Pamekasan, Madura, Jawa Timur pada Senin 7 Januari 2019. Media lokal memberitakan tentang salah satu kegiatan Bupati Pamekasan, Badrut Taman, yaitu "Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, melaunching Mobil Dinas (Mobdin) yang dibranding batik."

"Demi Promosikan Batik, Mobil Dinas Pemkab Pamekasan Dibranding Batik" demikian judul berita yang tertera di mediamadura.com edisi 7 Januari 2019. Sungguh sangat terasa, ketika membaca kontennya ternyata terdapat 90-an Mobil Dinas Pemkab Pamekasan yang disulap dan diseragamkan dengan branding batik. Dan juga tentunya sangat terasa nominal rupiah yang dikeluarkan untuk 90-an unit Mobdin tersebut.

Tidak ada salahnya kiranya kalau kita mengambil kalkulator untuk sekedar mengetahui kisaran rupiahnya pensulapan Mobdin itu dengan berpedoman pada standart harga pasar pemasangan stiker mobil dengan dimensi sepeti gambar Mobdin Pamekasan yang viral. Tentu akan ditemukan jawaban perkiraannya. Dan jika hal tersebut dijadikan sebagai bahan survie dampak positif atau tidaknya juga akan didapatkan respon yang variatif dari responden. Pro kontra sudah pasti karena kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Pamekasan cukup beragam.

Mengukur Skala Prioritas

Adanya "terobosan" marketing ekonomi melalui pintu birokrasi bagi pengusaha batik di Pamekasan tentu sangat berdampak positif. Namun bagi masyarakat yang berada di bawah rata-rata dalam strata ekonominya tentu berbeda karena bagi mereka rupiah sangatlah berharga sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Rasanya kita semua termasuk para pemimpin Pamekasan perlu lebih sering blusukan tingkat desa dan mengurangi kunjungan berskala nasional agar lebih bisa porposional dalam menyelenggarakan gerakan perubahan. Sehingga nilai positif dari gerakan kita lebih bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat kita.

Ada pemandangan yang cukup menyentuh dan menjadi sampel untuk diprioritaskan oleh gerakan "Pamekasan Hebat". Yaitu berita sang nenek bernama Maria, asal Dusun Billaan, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, yang dipublish oleh media faktualnews.co pada 7 Desember 2018. Tentu belum tergolong berita lawas kalau melihat tanggal publishnya (Read More).

Dan tentu masih banyak pemandangan-pemandangan miris lainnya. Apalagi angka kemiskinan di Pamekasan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masyarakat miskin (maskin) di Pamekasan menyentuh angka 60 persen atau 486.798 jiwa dari total populasi penduduk 811.330 jiwa. (faktualnews.co)

Sangat diyakini bahwa Bupati Pamekasan tidak akan diam dengan kondisi angka-angka di atas. Apalagi sebagaimana dijadikan prolog oleh faktualnews.co dalam berita "Nenek" bahwa "Pemkab Pamekasan, Madura, Jawa Timur, pada 2018 mengucurkan anggaran sebesar Rp 10 miliar untuk program pengentasan kemiskinan".

Dari data-data di atas tentu kita bisa mengukur sendiri mana skala prioritas diantara keduanya. Bagi pribadi penulis tentu "Nenek" menjadi skala prioritas dan memerlukan aksi cepat.

Namun demikian rupanya pandangan konseptor yaitu Bupati Pamekasan, Badrut Tamam berbeda dengan penulis artikel ini yang hanya sebagai evaluator dan komentator. Dan itu sah-sah saja karena mungkin kacamata yang dipakai keduanya berbeda.

Aksi Cepat dan Aksi Strategis

Pada tujuan ekonomi berskala Nasional Pamekasan rupanya menggunakan konsep aksi cepat. Hal itu nampak pada kegiatan pamekasan berupa Launching Mobil Dinas (Mobdin) dengan branding batik yang digelar pada Senin 7 Januari 2019, harapannya dengan adanya mobdin yang dibranding batik, akan lahir promosi-promosi baru untuk semakin mengenalkan batik Pamekasan di kancah nasional (Read More : mediamadura.com). Hebatnya lagi diwajibkan pada semua Mobdin yang jumlahnya sekitar 90-an.

Sementara pada perhatian kemiskinan yang berskala lokal, Bupati Pamekasan menggunakan aksi strategis. Langkah strategis yang dimaksudnya berupa beberapa tahapan yang harus dijadikan pertimbangan secara menyeluruh, mulai dari tahapan pemetaan, perencanaan, pembuatan program serta realisasi program. ( Read More : beritajatim.com edisi 6/1/2019)

Lagi-lagi pro kontra adalah hal yang biasa. Namun setidaknya penulis mengajak pada semuanya terlebih pada para pemangku kebijakan untuk lebih realistis dalam menangani permasalan-permasalahan Pamekasan. Tidak lain dan tidak bukan guna menuju pamekasan yang lebih hebat. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. Putra Daerah Pamekasan. Website : www.subliyanto.id

Debat Capres Versi Ujian Nasional

Minggu, 06 Januari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Dalam dunia pendidikan, setiap murid, guru, dan wali murid tentu berharap putra dan putri kesayangannya ketika berada di sekolah berharap agar putra puterinya berprestasi dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Hal tersebut sudah manusiawi jadi tidak bisa dipungkiri. Karena prestasi merupakan amunisi penambah eksistensi.

Dan yang paling menguras tenaga dan pikiran dalam skala pendidikan dasar dan menengah adalah Ujian Nasional, dimana ujian tersebut merupakan penentu kelulusan siswa. Bahkan terdapat sebuah tradisi belajar yang dianggap sangat “mujarab” untuk keberhasilan peserta didik, khususnya dalam Ujian Nasional. Tradisi tersebut merupakan tradisi belajar untuk mengasah kemampuan peserta didik, yang dikemas dengan Latihan Ujian Nasional, atau yang lebih dikenal dengan Tray Out Ujian Nasional yang dilaksanakan secara berulang-ulang. Bahkan terkadang sampai siswa "bosan".

Demikian juga halnya dalam kancah politik 2019. Diantara bagian dari metode untuk mengetahui kemampuan sosok calon pemimpin dibutuhkan uji publik sehingga publik bisa menilai sosok yang pantas memegang tampuk kepemimpinan. Dan uji publik yang disodorkan sangatlah beragam salah satunya dengan debat antar paslon yang tidak lama lagi akan diselenggarakan.

Namun demikian ada yang unik dalam rencana debat menjelang pesta demokrasi saat ini. Republika.co.id (5/1/2019) memberitakan : "Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, mengatakan, pertanyaan yang dirumuskan para panelis debat calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) akan diberikan kepada masing-masing pasangan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan diberikan sepekan sebelum debat pertama dilaksanakan."

Laman tersebut juga menguatkan tulisannya dengan kutipan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman : "Pertanyaan itu sudah diserahkan duluan tapi mereka kan tidak tahu apa yang akan ditanyakan karena kan itu seperti bank soal gitu loh".

Berdasar pada kacamata pola sukses menuju Ujian Nasional di tingkat sekolah dasar dan menengah yang menjadi rutinitas tahunan pendidikan, dan mengikuti update informasi politik 2019 ini, salah satunya yang diterbitkan laman republika.co.id di atas, penulis hanya memandang bahwa pesta rakyat kali ini unik karena ada kisi-kisi soal debat capres dan cawapres yang tentu dengan kisi-kisi tersebut dapat membantu para paslon untuk terus melakukan Tray Out menuju kesusksesan debat.

Dan akan lebih unik lagi jika ternyata pertanyaan yang disodorkan oleh para panel debat adalah soal yang belum dipejari oleh para peserta debat. Bisa kita bayangkan saja masa lalu kita saat menjalani yang namanya Ujian Nasional, betapa lamanya kita mikir untuk mendapatkan jawaban dari satu pertanyaan yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, belum lagi dengan waktu yang diberikan sangat terbatas.

Maka melihat realita di atas, kalau dianalogikan dalam dunia tulis menulis, tanpa disadari kita telah berada di kelas "imlak" dalam menulis yang salah satu indikator kefasihannya adalah manakala kita bisa menulis dengan baik dan benar dengan metode dekte. Demikian juga dengan kondisi politik kita saat ini. Tentu semua ini patut menjadi renungan dan kajian serta evaluasi bersama untuk indonesia lebih  baik. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. Website : www.subliyanto.id

Kajian Sejarah : Al-Qur'an dan Pemimpin

Sabtu, 05 Januari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Masih santer di telinga kita tentang pro kontra tes alQur'an untuk calon pemimpin Indonesia 2019 mendatang. Wacana yang menarik itu nampaknya membuat situasi politik semakin hangat.

Namun demikian tentu wacana tersebut perlu diapresiasi sebagai bagian dari pola demokrasi mengingat mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim. Sehingga masih dapat dikatagorikan sangat layak jika salah satu kriteria pemimpin Indonesia adalah yang ahli dalam bidang alQur'an, guna melahirkan pemimpin yang arif dan bijaksana.

Membaca korelasi antara sosok pemimpin dan alQur'an, terdapat kisah menarik yang kiranya patut menjadi renungan bagi kita. Yaitu dialog antara Nafi’ bin Abdul Harits dengan 'Umar di 'Usfan. Berikut kisahnya :

Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan. Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”(HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817])

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa alQur'an sangatlah erat kaitannya dengan pemimpin dan sistem kepemimpinan. Karena dengan paham dan memahami alQur'an maka semua permasalahan hidup dan kehidupan akan mudah terselesaikan, karena alQur'an merupakan petunjuk bagi manusia. Allah berfirman :

"Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS. alBaqarah : 1-7)

Rasulullah SAW. juga mewasiatkan, agar seorang pemimpin hafal alQur'an. Dalam salah satu hadist, beliau berkata, “Yang lebih layak menjadi imam suatu kaum, adalah yang paling banyak hafalannya,” pesan beliau dalam memilih imam shalat berjamaah (HR Muslim).

Abu Hurairah RA. menutur­kan, suatu ketika Rasulullah bermaksud mengutus satu delegasi dalam jumlah banyak. Untuk menentukan pemimpin rombongan, Nabi mengetes hafalan para kandidat. Satu per satu mereka diminta setor­an hafalan (muraja’ah). Salah satunya adalah seorang sa­habat termuda.

“Surat apa yang kau ha­fal?” tanya Rasul pada seorang pemuda. “Aku hafal surat ini, surat ini… dan surat Al Baqarah,” jawabnya dengan takzim. “Benar kamu hafal AlBaqarah?” Nabi menegaskan. “Benar,” jawab kandidat mantap sambil menyetor ha­falan. “Baik, kalau begitu kamu­lah pemimpin delegasi, be­rangkatlah” titah Rasulullah saw kemudian (HR At-Tir­midzi dan An-Nasa’i).

Memegang amanah sebagai pemimpin bukanlah hal yang mudah. Seorang pemimpin harus memiliki ilmu dan kemampuan yang mumpuni dalam memimpin. Selain itu, akan lebih baik lagi jika seorang pemimpin tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja tapi juga moral dan spiritual. Memiliki ketataan yang luar biasa kepada Tuhan-Nya dan bekerja keras lillahi ta'ala agar rakyatnya sejahtera, bukan hanya untuk meraih popularitas semata. Karena pertanggung jawaban terberat bagi seorang pemimpin adalah ketika kelak di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.

Dari Ibnu Umar RA berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Semoga dengan catatan kajian sejarah di atas dapat menjadi renungan dan motivasi bagi kita dalam memilah dan memilih serta menentukan sosok seorang pemimpin dalam kehidupan kita. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. Website : www.subliyanto.id

Dialog Nafi’ bin Abdul Harits dengan ‘Umar Seputar Pemimpin

Selasa, 01 Januari 2019 0 komentar


Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.” (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817])

Tahun Baru dan Masa Depan Baru

Senin, 31 Desember 2018 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Senin, 31 Desember 2018 merupakan hari, tanggal dan bulan serta tahun penutup untuk tahun 2018 dalam catatan kalender Masehi. Kalender yang notabeni dipakai sebagai patokan catatan dan jadwal kegiatan baik oleh perorangan maupun instansi.

Berlepas diri dari pembahasan yang bersifat kontroversial bagi sebagian kalangan, penulis hanya ingin fokus pembahasan tulisan ini pada motivasi menuju masa depan yang lebih bermakna dari berbagai sisi.

"Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah realita, dan masa depan adalah cita-cita"

Ungkapan di atas cukup kiranya menjadi renungan bagi kita untuk terus bergerak dan berkarya menuju kehidupan yang lebih baik dalam segala aspek yang menyertainya.

Diakui atau tidak, kalender Masehi digunakan oleh setiap kita yang keberadaannya sebagai warga negara yang sah berdasarkan catatan sipil. Setidaknya sebagai patokan usia dan status kita di negeri ini.

Membahas usia tentu semua manusia akan berproses untuk menjadi manusia yang semakin dewasa dalam berpikir, berbicara, dan bergerak guna menghasilkan hal yang bersifat positif baik untuk dirinya maupun untuk orang lain di sekitarnya.

Maka tentu semua itu perlu kita upayakan agar kita tergolong orang yang sukses, baik di dunia dan terlebih di akhirat kelak. Dan kunci dari semuanya adalah ilmu. Maka benarlah petuah Rasulullah SAW. akan urgensi ilmu dalam kehidupan kita. Karena dengan ilmu seluruh gerak kehidupan kita akan terarah. Tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang benar.

Terlebih pada 2019 di Indonesia merupakan pesta rakyat, pesta demokrasi guna menentukan sosok pemimpin dan para wakilnya baik di pusat maupun di daerah-daerah. Maka sudah tentu momen ini tidak ada lain yang bisa dilakukan kecuali dengan prinsip berfastabiqul khairat dalam menjalankan demokrasi agar situasi dan kondisi tetap terkendali.

Karena jika tidak maka mustahil persatuan dan kesatuan kita yang kita dengungkan dan kita bangga-bangakan dalam pancasila yang juga menjadi tujuan bersama akan terwujud.

Bagi pribadi yang berilmu tentu ia akan mengedepankan etika dan moral dalam segala hal. Karena itulah esensi dari hakikat makhluk sosial. Maka momen di ujung 2018 dan awal 2019 ini sudah selayaknya untuk muhasabah periodik dengan merenungi catatan-catatan klasik guna menuju masa  depan yang lebih cantik dalam segala tatanan kehidupan yang bersifat imajinatif.

Adalah sebuah kerugian yang nyata jika segudang kebaikan yang kita lakukan selama ini lenyap begitu saja hanya karena disebabkan oleh tenggelamnya kita pada hal yang bersifat sementara hingga membuat kita lepas dari nilai-nilai etika dan estetika.

Cukup indah analogi yang disampaikan oleh Rasulullah kepada ummatnya tentang urgensi kehidupan bersaudara dan kehidupan bersama antar sesama. Dan semua itu sudah banyak bertaburan catatan fatwanya dalam hadits-haditsnya. Sebut saja salah satunya misalnya tentang persaudaraan sesama muslim yang dijelaskan bahwa sesama muslim ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.

Dalam kehidupan bersama antar sesamapun juga sudah sangat jelas prinsip-prinsip toleransinya sehingga kita sebagai ummatnya bisa membedakan dan bersikap pada hal-hal yang bersifat "asas" dan hal-hal yang bersifat "furuk". Semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah cermin dari konsep islam sebagai "Rahmatan lil 'alamin".

Semoga catatan kecil ini bermanfaat khususnya kepada pribadi penulis dan kepada khalayak umum pada skala yang lebih luas. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. www.subliyanto.id

DEBAT POLIGAMI MENJELANG KEMERDEKAAN RI

Kamis, 20 Desember 2018 0 komentar


Oleh: Dr. Adian Husaini

Pada tahun 1937, seorang cendekiawan Muslim Indonesia bernama Mr. Yusuf Wibisono, menulis sebuah buku berjudul "Monogami atau Poligami: Masalah Sepanjang Masa". Aslinya, buku ini ditulis dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Soemantri Mertodipuro pada tahun 1954. Karena tidak memiliki biaya, baru pada tahun 1980, buku Mr. Yusuf Wibisono ini diterbitkan.

Yusuf Wibisono sendiri tidak berpoligami. Ia adalah seorang tokoh Masyumi, tokoh ekonomi, keuangan dan perbankan. Dia pernah menjadi menteri keuangan pada 1951-1952 dan direktur sejumlah bank di Jakarta dan Yogya. Sebagai tokoh pers, dia adalah pemimpin redaksi Mimbar Indonesia. Jabatan penting lain yang pernah dipegangnya adalah rektor Universitas Muhammadiyah dan Universitas Tjokroaminoto. Tapi, hidupnya sangat bersahaja. Hingga istrinya meninggal, dia tidak memiliki rumah pribadi.

Meskipun buku ini ditulis Yusuf Wibisono saat menjadi mahasiswa di zaman penjajahan, buku ini tampak memiliki kualitas ilmiah yang tinggi, dan memberikan penjelasan yang komprehensif tentang masalah poligami, bukan hanya dari sudut pandang hukum Islam, tetapi juga memuat pandangan banyak ilmuwan Barat tentang poligami. Yusuf juga memberikan kritik-kritik terhadap sebagian ilmuwan dari kalangan Muslim, seperti Ameer Ali, yang menolak hukum poligami. Selain buku-buku berbahasa Belanda, Yusuf juga merujuk buku-buku berbahasa Inggris, Perancis, dan Jerman.

Beberapa tahun sebelumnya, pada 1932, seorang wanita bernama Soewarni Pringgodigdo, menulis satu artikel tentang poligami di Koran 'Suluh Indonesia Muda' yang memberikan kritikan keras terhadap poligami. Menurut Soewarni, poligami adalah hal yang nista bagi wanita, dan bahwasanya Indonesia merdeka tak akan bisa sempurna, selama rakyatnya masih menyukai lembaga poligami.

Mr. Yusuf Wibisono memberikan bukti-bukti ilmiah tentang keunggulan pandangan Islam yang membuka pintu poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sistem ini merupakan 'jalan tengah' dari sistem perkawinan kuno yang tidak memberi batasan poligami atau sistem Barat yang menutup pintu poligami sama sekali. Dalam pengantarnya untuk edisi Indonesia, tahun 1980, Yusuf Wibisono menulis bahwa, "Saya rasa umat manusia akhirnya akan dihadapkan kepada dua pilihan yang tidak bisa dihindari yakni poligami legal atau poligami tidak legal (gelap). Islam memilih poligami legal, dengan pembatasan-pembatasan yang mencegah penyalahgunaan kekuasaan kaum pria, sehingga lembaga poligami ini betul-betul merupakan kebahagiaan bagi masyarakat manusia, di mana dia sungguh-sungguh diperlukan."

Salah seorang ilmuwan yang dikutip pendapatnya tentang poligami oleh Yusuf Wibisono adalah Georges Anquetil, pakar sosiologi Perancis, yang menulis buku setebal 460 halaman, berjudul "La maitresse legimitime".

Anquetil menulis dalam bukunya : "Suatu pertimbangan yang sudah cukup terlukis harus diingat-ingat dan diperkembangkan, yakni, mengapa semua orang-orang besar adalah penyokong poligami, seperti yang dinyatakan secara kritis oleh seorang pengarang dari buku Inggris : "History and philosophy of marriege." Bahkan, mereka yang hidup di bawah kekuasaan kemunafikan monogami, tidak mau tunduk kepadanya, tak pula mau taat kepada undang-undang yang bersifat melawan kodrat; baik mereka itu filsuf, seperti Plato, Aristoteles, Bacon, Auguste Comte, atau perajurit seperti Alexander, Cesar, Napoleon, atau Nelson, atau penyair-penyair seperti Goethe, Burns, Byron, Hugo, Verlaine, Chateaubriand atau Catulie Mendes, maupun negarawan-negarawan seperti Pericles, Augustus, Buckingham, Mirabeau atau Gambetta. Apakah hasil daripada sistem yang munafik ini bagi orang-orang besar ini ? Mereka dipaksa untuk selama-lamanya menyembunyikan perasaan-perasaannya, selalu berdusta, baik terhadap istrinya sendiri maupun terhadap dunia yang mewajibkan mereka itu menyembunyikan anak-anaknya dan kurang menghormati mereka yang hanya merupakan maitressenya. 

Sebenarnya ialah, bahwasanya poligami yang semata-mata sesuai dengan hukum alam telah dilakukan pada setiap zaman karena hukum alam itu tetap saja, tetapi pikiran manusia dibuat demikian rupa, dan sangat suka kepada serba berbelit-belit, sehingga bukannya ia memilih sistem yang semata-mata menguntungkan, akan tetapi justru memilih sistem yang penuh dengan dusta dan penipuan, yang membuat berputus asanya berjuta-juta wanita dan yang memaksanya hidup dalam kesedihan, kekacauan, atau dosa-dosa sebagai akibat dari hidup sengsara, terjerumus hidupnya dalam kemunafikan hewani, dan bahwa semua drama percintaan melahirkan turunan-turunan yang diliputi oleh perasaan iri hati yang pandir dan penuh kebencian, yang jumlahnya setiap harinya bertambah-tambah saja."

Salah satu keuntungan poligami yang dijelaskan oleh Anquetil adalah: "Poligami akan memungkinkan berjuta-juta wanita melaksanakan haknya akan kecintaan dan keibuan, yang kalau tidak, akan terpaksa hidup tak bersuami karena sistem monogami."

Yusuf Wibisono juga mengutip tulisan seorang ilmuwan bernama Leonard yang menulis: "In a great measure polygamy is much more a theoretical than a practical institution. Not one on twenty Moslems has even two wives. In any case it is not the proper and legitimate practice of polygamy, but in the abuse of it that the evil lies." (Pada umumnya poligami lebih merupakan lembaga teoritis daripada praktis. Tidak ada satu dari duapuluh orang Islam beristri bahkan lebih dari seorang. Setidak-tidaknya keburukannya tak terletak dalam berpoligami menurut hukum, akan tetapi dalam penyelahgunaan poligami).

Mr. Yusuf Wibisono kemudian menunjukkan bukti-bukti statistik perkawinan di berbagai negara Islam pada tahun-tahun itu. Di India, misalnya, 95 persen kaum Muslim tetap bermonogami. Di Iran, 98 persennya tetap memilih bermonogami. Di Aljazair tahun 1869, dari 18.282 perkawinan Islam, 17.319 adalah monogami, 888 bigami, dan hanya 75 orang Muslim yang mempunyai lebih dari dua orang istri. Di Indonesia -- menurut data statistik Indische Verlag tahun 1935 -- dalam tahun 1930 ada 11.418.297 orang bermonogami dan hanya 75 orang Muslim mempunyai lebih dari dua orang istri.

Buku Mr. Yusuf Wibisono ini menjadi lebih menarik karena pada tahun 1937 sudah diberi kata pengantar oleh H. Agus Salim, seorang cendekiawan dan diplomat genius yang sangat dikagumi di dunia internasional.

Kiranya ada baiknya kita mengutip agak panjang pengantar H. Agus Salim tersebut : "Tidak bisa disangkal, pokok karangan ini aktuil. Tidak saja karena tindakan-tindakan luas di lapangan ini, yang dipertimbangkan oleh Pemerintah dan sebagian bahkan sudah dilaksanakan, akan tetapi terutama sekali juga karena adanya propaganda - baik yang terpengaruh oleh sikap anti-Islam, maupun yang tidak - yang dilancarkan oleh beberapa fihak. Mereka ini menganjurkan agar kepada perundang-undangan perkawinan bagi bangsa Indonesia dan kepada anggapan-anggapan tentang perkawinan pada umumnya diberi corak Barat.

Namun, bukannya tak diperlukan keberanian untuk memasuki lapangan ini dalam suasana yang penuh dengan anggapan-anggapan tersebut. Anggapan-anggapan Barat ini terutama sekali merajalela di kalangan kaum intelektuil yang nasionalistis. Dan di lapangan ini tradisi dan sentimen Barat, yang "dus beradab" masih selalu berhasil mencekik kesaksian fakta-fakta serta suara hati nurani dan nalar yang wajar (logika).

Bahkan oleh karena inilah penulis patut mendapat penghargaan dan sokongan, sebab berdasarkan fakta-fakta yang telah ditetapkan oleh ilmu pengatahuan serta teori-teori yang kuat, ia berusaha menunjukkan kepalsuan moral seksuil dan etika perkawinan yang munafik, seperti yang dianut oleh masyarakat Barat, dan membela anggapan-anggapan tentang perkawinan maupun perundang-undangan perkawinan menurut agama Islam, tanpa memperindahkannya melebihi kenyataannya.

Terutama sekali yang tersebut terakhir inilah yang patut dihargai. Akhir-akhir ini terlalu banyak dilancarka propaganda agama Islam yang bersifat menonjolkan "persetujuan" pihak Islam terhadap moral dan etika Barat, malahan moral dan etika yang terang-terangan bernada "Kristen", seperti yang lazim dianut di kalangan masyarakat Barat. Terlalu sering pula orang berusaha menyembunyikan ajaran-ajaran Islam yang tak cocok dengan anggapan Barat dengan jalan "Umdeutung", dengan menggunakan tafsiran yang dicari-cari. Ya, bahkan menghukum ajaran-ajaran itu sebagai bid'ah dan kufur. Itulah caranya mereka mencoba supaya Islam bisa diterima kaum muda yang meskipun berasal dari keluarga Islam, tapi karena pendidikan Barat dan simpati-simpati serta kecenderungannya yang ke-Barat-baratan menjadi terasing dari agama Islam. Selain dari pada itu, propaganda itu ditujukan pula kepada orang-orang yang tidak beragama Islam.

Akan tetapi agama Islam sangat menyangsikan keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara semacam itu. Sebab dengan jalan "menyesuaikan" agama Islam dengan anggapan-anggapan yang lazim dan berlaku dalam dunia Barat yang umumnya bersifat prinsipil anti Islam, yaitu dunia Barat yang mendasarkan "keunggulannya" kepada hal-hal yang berbeda dengan Islam - antara lain perundang-undangan perkawinan berdasarkan monogami - maka hilanglah pula tujuan tertinggi agama Islam. Padahal, untuk inilah Nabi terakhir diutus oleh TUHAN, untuk membimbing umat manusia dari kegelapan ke arah cahaya pengetahuan dan kebenaran. Dengan demikian, bukanlah anggapan-anggapan yang ada yang diuji dan disesuaikan dengan Islam, akan tetapi sebaliknya : Anggapan-anggapan itulah yang dipandangnya benar dan agama Islam diperiksa dari sudut anggapan-anggapan itu."

Kata-kata Haji Agus Salim tersebut sangat mendasar untuk direnungkan. Apalagi, saat ini, begitu banyak kalangan yang berani menentang dan melecehkan Islam, juga dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran. Padahal, yang terpenting dalam memahami Al-Quran adalah soal 'anggapan-anggapan' atau cara pandang serta metodologi penafsiran yang digunakan. Jika Al-Quran dipahami dari perspektif Marxisme dan gender equality yang bersemangat 'dendam' terhadap laki-laki, maka yang muncul adalah pemikiran-pemikiran yang bersemangat pemberontakan terhadap laki-laki, dalam segala hal. Orang-orang seperti ini akan mencari-cari ayat dan menafsirkannya sesuai dengan 'anggapan' nya sendiri.

Seorang sarjana satu perguruan tinggi Islam di Jakarta menceritakan pengalaman menariknya dimaki-maki wanita teman kuliahnya, hanya karena ia mempersilakan si wanita menempati tempat duduknya dalam bus kota. Si wanita mengaku terhina karena dianggap sebagai makhluk yang lemah. Bagi seorang wanita yang menolak hak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, maka dia bisa menganggap tindakan menyuguhkan minuman bagi suaminya adalah satu bentuk pelecehan dan penghinaan.

Amina Wadud misalnya menganggap penempatan shaf wanita di belakang laki-laki saat shalat adalah satu bentuk pelecehan terhadap wanita. Tentu cara pandang ini sangat berbeda dengan Muslimah yang mengakui konsep pengabdian dan ketaatan kepada suami.

Dalam soal poligami sama saja. Seorang wanita Muslimah yang memahami posisinya dalam konsep Islam, akan melihat poligami dengan pandangan yang sangat berbeda dengan kaum feminis sekular. Sebagai wanita mandiri, si Muslimah akan melihat suaminya sebagai partner dalam menggapai ridho Allah; bukan sebagai milik pribadinya.

Dia secara pribadi bisa keberatan dengan poligami terhadap dirinya, tanpa menolak hukum poligami. Dia bisa mengingatkan suaminya, bahwa poligami memerlukan kemampuan dan tanggung jawab yang tidak ringan, dunia akhirat.

Sebaliknya, bagi laki-laki, poligami bukanlah hanya semata-mata hak, tetapi juga melekat tanggung jawab dunia dan akhirat. Selain dituntut kemampuan berlaku adil secara materi, juga dituntut kemampuan menjaga seluruh keluarganya dari api neraka. Tentu saja menjaga 4 istri lebih berat daripada menjaga 1 istri; menjaga 20 anak tentu lebih berat ketimbang 2 anak.

Karena itu, bagi seorang yang memiliki pandangan berdimensi akhirat, poligami adalah sesuatu yang berat, yang perlu berpikir serius sebelum mempraktikkannya. Islam mengizinkan dan mengatur soal poligami. Islam membuka jalan, dan tidak menutup jalan itu. Islam adalah agama wasathiyah, yang tidak bersifat ekstrim. Tidak melarang poligami sama sekali, dan tidak membebaskannya sama sekali.

Jika pintu poligami ditutup sama sekali, maka tidak sedikit wanita yang menjadi korban. Sepanjang zaman, banyak wanita yang ikhlas dan siap menjadi istri ke-2, ke-3 atau ke-4. Tidak percaya? Andaikan suatu ketika, pihak istana negara BBM mengumumkan, Sang Presiden yang gagah perkasa membuka lowongan bagi istri ke-2, ke-3, dan ke-4, bisa diduga, dalam beberapa jam saja, ribuan wanita dengan ikhlas akan antri mendaftar.

Maka, bagi seorang wanita Muslimah sejati, yang menyadari kemampuan suaminya untuk berpoligami, tentu tidak sulit mengizinkan suaminya menikah lagi. Yang banyak terjadi saat ini, ternyata banyak suami yang tidak berpoligami, karena takut terhadap istri. Wallahu a'lam. (Depok, 15 Desember 2006).

 
SUBLIYANTO.ID © 2019