TUHAN ATAU MANUSIA YANG KITA PERIORITASKAN ?

Rabu, 25 Januari 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Dalam hidup dan kehidupan, manusia akan dihadapkan dengan berbagai macam pilihan dalam menggerakkan roda kehidupannya.
Ibarat membeli pakaian manusia bebas memilih corak dan warna serta model yang cocok dengan postur tubuhnya, sehingga terlihat indah dipandang.

Disinilah selera manusia berperan, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai macam model kehidupan manusia dapat dilihat oleh mata sesuai dengan selera mereka.

Namun bagi manusia yang beriman, tentunya ia akan memainkan peran seleranya berlandaskan iman, sehingga pilihannya disesuaikan dengan yang dikehendaki Tuhannya, Allah Rabbul 'alamin. Bukan hanya kehendak manusia semata.

Berbicara pilihan, saya jadi teringat sebuah perbincangan singkat dengan seorang ibu rumah tangga yang sekaligus berperan sebagai kepala keluarga di Pulau Dewata Bali ketika kunjungan kerja beberapa waktu lalu.
Dalam perbincangannya ibu tersebut bercerita tentang hiruk pikuk hidup dan kehidupannya, dengan mengangkat tema "Move on to right track".
Tema yang sangat menarik dalam kehidupan sosial manusia, yang dalam bahasa agama disebut dengan istilah "Hijrah".
Hijrah memang menjadi bagian dari peran manusia untuk memperbaiki kualitas dirinya. Dan hal inipun juga telah dicontohkan oleh Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam.
Singkat cerita ibu tadi bercerita dari A-Z tentang kehidupannya. Dan sesekali menahan nafasnya seakan menahan air matanya.
Melihat hal itu saya menjadi penasaran, apa sebetulnya yang ibu itu rasakan ? Dan dengan bermodal sedikit ilmu jurnalistik saya memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan.
"Apa tantangan terberat yang ibu hadapi saat memilih hijrah sebagai jalan menuju kebahagiaan yang hakiki ?"
Mendengar pertanyaan tersebut, ibu itu kembali menarik nafas, seakan menyusun kalimat untuk menjawabnya.
Kemudian ibu itu menjawab dengan pelan, bak mengingatkan dirinya pada masa lalu yang ia hadapi. Dan jawabannya tantangan terberat bagi dirinya adalah keluarganya.
Ia harus "berperang" dengan suaminya demi visi kebaikan yang ia pertahankan, yang hingga akhirnya iapun harus meninggalkan suaminya demi tetap melekatnya busana muslim sebagai hijabnya.
Allahu Akbar, cerita di atas patut kiranya menjadi renungan bagi kita, bagaimana seharusnya kita menentukan sebuah pilihan.
Tuhan, atau manusia yang kita prioritaskan ?
Maka tentunya bagi orang beriman, pasti memperioritaskan apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan, Allah Rabbul 'Alamin.
Hal demikian juga sudah dicontohkan oleh Nabi Nuh 'Alaihis salam ketika ia harus meninggalkan keluarganya yang membangkang, dan memilih melaksanakan yang telah Allah perintahkan.
Semoga kita tetap istiqamah di jalan Allah, seberat apapun tantangan dan rintangan yang kita hadapi. Wallahu a'lam...[]

*Twitter @Subliyanto

KETIKA KITA SAKIT

Selasa, 24 Januari 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Sakit merupakan sebuah anugrah yang harus kita syukuri, karena dengan sakit kita bisa muhasabah diri. Dan tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, karena Allah menciptakannya beserta obatnya.
Bentuk syukur ketika kita sakit adalah dengan nendekatkan diri kepada Allah, Tuhan pemberi segala macam nikmat, termasuk sakit. Maka istighfar dan alQur'an merupakan jalan dekat kepadaNya.
Kalau kita diagnosa sebetulnya sakit yang kita alami bermula dari mana ?
Sesungguhnya sakit yang kita alami bermula dari jiwa, dalam hal ini hati, akal dan pikiran yang kemudian merambat pada raga kita.
Raga hanyalah kerangka jiwa kita. Dan jiwalah yang menggerakkannya. Maka benarlah sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam :
"Idza soluhat soluhat jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadat jasadu kulluh, ala wahiyal qalbu"
Hati atau jiwa merupakan hal utama dalam tubuh kita, maka perlu kita jaga kesuciannya dari hal-hal yang dapat mengotorinya.
Prof. Dr. Mohammad Shaleh telah melakukan penelitian akan hal tersebut sehingga melahirkan terapi medisnya yang dikenal dengan terapi shalat tahajjud.
Maka sadarilah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada raga kita hakikatnya adalah faktor jiwa kita.
Dan terapinya adalah dengan memelihara jiwa kita agar tetap stabil dan steril. Sehingga raga kitapun dalam kondisi yang sehat.
Hal itu tentunya juga dengan dorongan asupan makanan yang halal dan menyehatkan . Jiwa yang dimaksud adalah hati sebagai penggerak semuanya.
Bagi orang beriman sakit adalah nikmat, maka ia menikmatinya dan tetap istiqamah di jalanNya.
Banyak manusia yang sehat, namun tertipu dengan kesehatannya. Ia tidak gunakan kesehatannya untuk taat, namun untuk maksiat.
Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin melakukan ketaatan, namun tak mampu melakukannya dikarenakan sakit yang di derita.
Padahal badan yang sehat akan ditanyakan, digunakan untuk apa. Apakah digunakan tuk mendatangi majelis ilmu ataukah mendatangi tempat-tempat maksiat.
Barulah ia tersadar ketika terbaring lemah tak berdaya karena sakit, sehingga sesal pun tak terelakkan. Rasulullah bersabda :
"Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
Semoga kita senantiasa selalu dalam kondisi sehat sehingga tetap bisa berkarya sebagai wujud syukur kita kepada Allah, Tuhan yang maha Esa.
Wallahu a'lam... []

*Twitter @Subliyanto 

TAK LUPUT DARI TEMBAKAN

0 komentar


(Cerita singkat sebuah perjalanan)

Dalam sebuah kesempatan saya berkunjung ke lereng Gunung Kukusan. Tempat dimana saya pernah belajar 10 tahun lalu.

Kedatangan saya disambut oleh guru saya Ust. Damanhuri yang juga membimbing saya belajar di tempat itu 10 tahun lalu.
Kebetulan para mahasiswa sedang berkumpul di masjid. Nampaknya sedang menyimak persentasi laporan kegiatan.
Sebagai tamu sayapun tak luput dari "tembakan" untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai memotivasi bagi santri yang berstatus sebagai mahasiswa.
Saya tidak menolaknya karena saya sudah paham tradisi pondok itu, walaupun hati kecil saya berkata "pesan apa yang harus saya sampaikan kepada adik2 mahasiswa ?"
Singkat cerita saya mulai taujih dengan salam dilanjutkan prolog singkat layaknya kultum, kemudian saya pesankan kepada mereka tentang dua hal, yaitu "jadilah orang shalih dan muslih". Karena keduanya adalah implementasi tugas pokok manusia sebagai 'abdullah dan khalifatullah.
Semoga sedikit perbincangan tadi menjadi motivasi bagi para mahasiswa untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menyebarkannya dimanapun dan kapanpun serta bersama siapun ia berinteraksi.
Terimakasih atas sambutan hangatnya. Barakallahu lakum...

* Twitter @Subliyanto 

KETIKA AKAD SUDAH TERUCAP

0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Suatu hari dalam sebuah kesempatan saya ikut serta mensukseskan acara pernikahan. Sebuah momentum sakral yang tidak akan pernah terlupakan bagi setiap manusia dalam hidupnya.
Kegiatan yang bernama pernikahan tentunya tidak hanya sebatas ritual biasa. Akan tetapi penuh dengan makna, karenanya niat perlu menjadi perioritas utama.

Ketika lafadz ijab qabul akad nikah sudah terucap maka beberapa konsekuensi juga sudah ada di pundak kedua belah pihak. Masing-masing sudah punya hak dan tanggung jawab.
Dan dari masing-masing hak dan tanggung jawab tersebut yang terbesar berada pada suami, karena ia sebagai pemimpin dalam menggerakkan roda kehidupan rumah tangganya.
Adapun tugas utama seorang istri adalah taat kepada suaminya, karena ridha suaminya sebagai kunci surga baginya, selama suaminya tidak mengajak dan mengajarkannya pada kemaksiatan.
Hal demikian memang sakral, karena berbicara surga hanya orang-orang yang beriman yang dapat memahaminya sehingga ia tidak membantahnya sedikitpun dengan teori logika. Akan tetapi konsep iman yang di break down dalam bentuk sam'an wa tha'atan menjadi yang utama.
Setiap orang tua mengharapkan kebahagian dan keberkahan pada setiap langkah putra-putrinya. Sehingga harus bersikap arif dan bijaksana, terlebih kepada anaknya yang sudah menikah.
Namun terkadang hukum adat dapat merubah tatanan hukum yang sesungguhnya, dan disinilah pentingnya orang tua paham akan hal itu agar tidak salah dalam membimbing putra-putrinya.
Bagi orang tua ketika anak putrinya sudah menikah, maka sudah beralih tanggung jawabnya sepenuhnya kepada suaminya. Hal ini tentunya selama dalam garis kebenaran.
Maka penting kiranya bagi orang tua untuk mendukung langkah ketaatan anak putrinya kepada suaminya sebagai implementasi iman yang ada di hatinya.
Semoga Allah selalu membimbing kita dalam kebenaran.
"Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair".[]
Wallahu a'lam...

*Twitter @Subliyanto 

PRINSIP EKONOMI DALAM KACAMATA SURAT AL-LAIL

Rabu, 18 Januari 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Istilah ekonomi sangatlah tidak asing di telinga kita. Dan mendengar istilah tersebut setiap manusia sudah bisa membayangkan bahwa yang diperbincangkan adalah tentang uang, sehingga mereka bisa mendefinisikan istilah itu dengan persepsinya masing-masing.
Sederhananya, ekonomi adalah kegiatan yang dapat menghasilkan uang, yang mana dari kegiatan tersebut membuahkan manfaat bagi pelaku ekonomi itu sendiri dan tentunya juga bagi orang lain.
Ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, sehingga setiap manusia melakukan aktivitas tersebut sesuai dengan skill ekonomi yang mereka miliki. Hal demikian juga dilakukan oleh Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam.
Dalam sejarah, dikutip dari kitab "Rakhitul Makhtum" Rasulullah pada awal masa remajanya tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa mengembala kambing di kalangan bani Sa'd dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar.
Kemudian pada usia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke Syam menjalankan barang dagangan milik Khadijah binti khuwailid. Seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya.
Singkat cerita, keberangkatan Rasulullah yang ditemani Maisarah pembantu Khadijah aktivitas ekonomipun beliau lakukan. Dan dengan modal kejujuran beliau, keuntungan daganganpun melimpah, hingga akhirnya Khadijah tertarik kepada Rasulullah dan menikah dengan beliau.
Tentu sejarah ini patut menjadi rujukan bagi ekonom muslim agar aktivitas ekonomi yang dilakukan membuahkan hasil yang melimpah dan barokah.
Membahas masalah ekonomi tidaklah lepas dari prinsip ekonomi. Kalau kita buka lagi buku pelajaran ekonomi kita akan temukan prinsip ekonomi kapitalis yang mengajarkan kepada kita dengan prinsip ekonomi "mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya".
Sebagai ekonom muslim, tentunya harus punya prinsip lain, karena orientasinya tidak hanya dunia semata, akan tetapi akhirat prioritas utama karena disanalah kehidupan yang sesungguhnya.
Maka selain menapaktilasi perjalanan Rasulullah dalam bidang ekonomi, perlu juga kiranya kita mengkaji alQur'an yang mengajarkan prinsip-prinsip ekonomi. Dan salah satunya adalah surat al-Lail.
Dalam surat Al-Lail dijelaskan bahwa prinsip ekonomi yang dapat mengantarkan manusia kepada kesuksesan, kemudahan, dan kebahagiaan adalah dengan berinfak, atau memberikan hartanya di jalan Allah dengan landasan takwa.
Maka barangsiapa melakukan hal tersebut dijamin oleh Allah kemudahan yang tentunya akan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Hal tersebut sebagaimana telah Allah firmankan :
"Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan". (QS. al-Lail : 5-7)
Namun sebaliknya, barangsiapa yang enggan melakukan hal tersebut (berinfak di jalan Allah), ia kikir dan merasa dirinya cukup sehingga ia merasa tidak butuh terhadap pertolongan Allah, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Allah janjikan baginya kesukaran yang akan mengantarkan dirinya pada kesengsaraan.
Masih dalam surat al-Lail Allah berfirman :
"Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa". (QS. al-Lail : 8-11)
Pada surat ini pula Allah memberikan peringatan kepada kita tentang neraka yang akan menjadi tempat bagi orang-orang yang celaka, para pendusta kebenaran dan orang-orang yang berpaling dari iman.
Semoga Allah, menjauhkan kita dari siksaNya. Dan menjadikan kita orang-orang yang sukses di dunia dan akhirat, sehingga kesenangan yang sempurna kita dapatkan. "Wa lasaufa yardha". []
Wallahu a'lam...

*Twitter @Subliyanto

BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Ada dua tugas utama manusia di muka bumi. Yaitu sebagai abdullah dan khalifatullah. Sebagai abdullah adalah bagaimana kita menjadi orang yang shaleh. Namun hal itu juga belum cukup, karenanya kita juga harus berupaya menjadi orang yang "muslih" yaitu orang yang senantiasa menebar kebaikan. Maka lahirlah tugas selanjutnya yaitu sebagai khalifatullah.
Setiap manusia mempunyai tugas menyampaikan kebenaran dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun, serta melalui jalan apapun. Tentunya semua item itu selama tidak bertentangan dengan koredor agama yang sudah ditentukan. Tugas inilah yang disebut dengan istilah dakwah.
Tugas ini merupakan tugas pokok manusia sebagai khalifatullah. Dan hal ini tidaklah mudah, karena harus dimulai dari diri, keluarga, kerabat, sahabat, hingga masyarakat umum. Hal itu sebagaimana telah Rasulullah contohkan.
Kita dihadapkan dengan masyarakat yang majemuk. Maka beragam cara untuk menyampaikan kebenaran selama cara itu tidak keluar dari rule yang telah ditentukan oleh Tuhan, Allah Rabbul 'alamin.
Mungkin sedikit analogi ini menjadi sebuah renungan. Ibarat kita mau bepergian maka kita harus tau lokasi, arah dan tujuan sehingga kendaraan yang kita bawa sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.
Kendaraan yang mewah dan serba canggih belum tentu bisa kita jadikan alat atau media untuk kita bawa dan kita tumpangi menuju tujuan kita. Karenanya harus ada opsi lain yang dapat mendukung langkah dan gerakan kita dalam mengemban amanah kekhalifaan.
Memilih kendaraan lain bukan berarti menunjukkan ketidak setiaan selama yang kita lakukan adalah kebenaran, akan tetapi harus kita sadari bahwa mungkin kendaraan yang kita miliki belum pas untuk lokasi tujuan kita dalam melaksanakan tugas menyampaikan kebenaran.
Tugas utama kita adalah menyampaikan kebenaran. Maka manfaatkan segala media yang kita miliki untuk menjawab tantangan problema ummat yang kian mencekam.
Perintah Allah pun juga sudah jelas dan terang benderang bahwa kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
"Fastabiqul khairat". Demikian Allah firmankan.
Maka sangat disayangkan jika fanatisme golongan masih diagung-agungkan yang justru akhirnya menjadi pemicu terpecah belahnya persatuan. Cukuplah kita mengambil ibrah dari sejarah akan hal itu.
Dan peristiwa 212 kemarin sudah menjadi bukti nyata konsep persatuan. Tidak lain dan tidak bukan, konsep iman yang menjadi landasan, bukan golongan.
Bagi orang beriman tidak ada istilah "kacang lupa kulitnya" karena ia sadar bahwa semakin banyak orang yang melakukan kebaikan yang ia tunjukkan maka baginya pahala yang tidak terhingga. Hal ini sebagaimana Rasulullah sabdakan :
"Barang siapa menunjukkan pada kebaikan, maka baginya pahala sebagaimana orang yang mengerjakannya"
Inilah rumus bagi kita sebagai da'i, guru ataupun yang lainnya. Dan jika ini menjadi prinsipnya maka pantaslah kita disebut dengan "pahlawan tanpa jasa". Yaitu pahlawan yang mencetak kader sebanyak-banyaknya guna tersampaikannya kebaikan seluas-luasnya tanpa mengharap balasan apapun, karena ia sadar bahwa hadiah dari Allah lebih berharga dari segalanya.
Semoga kita tetap istiqamah di jalan Allah dimanapun kita berada. Wallahu a'lam ... []

*Sebuah jawaban untuk sahabat saya yang telah mengirim artikel curhatannya terkait konsep persatuan.

MENJADI MANUSIA PEMBELAJAR

0 komentar


Oleh : Subliyanto
Kemarin saya berkesempatan untuk belajar dari pengalaman seorang sahabat. Mungkin kalau dilihat dari kacamata pendidikan beliau lebih rendah dari saya.
Pria yang hanya lulusan SMP, namun punya pengalaman khusus pada bidang tertentu. Tentunya itu merupakan sebuah prestasi yang harus diapresiasi.
Tidak semua ilmu kita dapatkan dari meja belajar atau yang dikenal dengan kelas dalam sebuah lembaga pendidikan.
Adakalanya ilmu itu bisa kita dapatkan dalam sebuah kesempatan yang berbeda. Bisa di lapangan, di meja makan, dan dimanapun selama kita masih bisa berinteraksi dengan banyak orang.
Dan yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi manusia pembelajar. Yaitu manusia yang haus akan ilmu sehingga ia terus ingin belajar dimanapun dan kapanpun serta kepada siapapun. Karena haus akan ilmu memang menjadi salah satu syarat dalam belajar atau menuntut ilmu.
Berbincang hal ini jadi teringat penjelasan yang tersurat dalam kitab taklimul Muta'allim waktu sekolah madrasah diniyah dulu.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa ada enam syarat bagi penuntut ilmu, yaitu cerdas, haus akan ilmu, sabar, biaya, bimbingan guru, dan kontinyu.
"Dzakaun wahirsun wastibarun wabulghatun dari irsyadu ustadzin Presiden Lu zzamani"
Demikian kutipan syair yang tertera dalam kitab tersebut.
Dalam syair tersebut haus akan ilmu atau yang disebut dengan "hirs" menjadi bagian yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu.
Maka tidak pantas kiranya bagi manusia berhenti untuk belajar, karena belajar merupakan sebuah kewajiban bagi setiap insan, dimulai sejak ia dalam buaian ibu hingga ia mati.
Namun demikian sebagai seorang pembelajar harus mempunyai filter yang kuat, karena tidak semua yang dilihat dan didengar bermanfaat. Maka kebaikan harus menjadi prioritas.
Kalau meminjam istilah ekonomi seorang pembelajar harus menjadi konsumen yang cerdas, yaitu yang baik diambil dan yang buruk dibuang.
Tentunya filter yang kuat bagi seorang pembelajar tidak lain adalah iman. Karena iman merupakan penentu arah dan tujuan manusia.
Tidak salah kiranya kalau saya meminjam istilah judul bukunya sahabat saya Syaiful Anshor yang berjudul "Jaddid Imanak". Karena memang iman seseorang fluktuatif, atau dikenal juga dengan istilah "yazidu wa yankus".
Nah bagaimana dan kapan keduanya itu terjadi ?
Dalam sebuah referensi dijelaskan bahwa keimanan seseorang sedang naik sementara ia semakin taat kepada Allah. Dan iman seseorang sedang turun sementara ia sedang bermaksiat.
"Al imanu yazidu wa yankus. Yazidu sedikit thaati. Wa yankusu bil maksiyati."
Semoga kita semua menjadi insan pembelajar yang senantiasa dilandasi dengan iman.
Wallahu a'lam ...

NIKMAT MANAKAH YANG ENGKAU LUPAKAN ?

Kamis, 12 Januari 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Kopi rasanya pahit. Tapi jika ditambah gula secukupnya maka rasanya akan menjadi nikmat. Mungkin ini juga menjadi analogi kehidupan manusia sehingga bersyukur tetap menjadi kunci sukses hidupnya.
Allah Maha Rahman dan Rahim. Sehingga manusia tidak perlu khawatir akan hidup dan kehidupannya. Karena setiap manusia yang lahir adalah pilihanNya. Maka syukuri segala karunia yang telah Allah berikan, karena itu tanda bahwa kita manusia pilihan.
Bersyukur memang mudah diucapkan tapi tidak semua manusia bisa melakukan, karena ia belum sadar bahwa dirinya dan segala sesuatu yang melekat padanya adalah pemberian Tuhan, Allah Rabbul 'Alamin.
Sederhananya bersyukur adalah berterimakasih kepada Allah. Praktiknya, dalam beberapa referensi adalah dengan lisan dan juga dengan perbuatan, dan keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Bersyukur dengan lisan yaitu dengan membaca tahmid, "Alhamdulillah". Sementara dengan perbuatan yaitu dengan memanfaatkan segala yang Allah berikan kepada kita untuk kebaikan.
Salah satu contoh sederhananya adalah, ketika manusia lahir, dan Allah memberikan kesempurnaan pada anggota tubuhnya serta dilengkapi sel-sel penyempurna lainnya sehingga anggota tubuhnya berfungsi dengan baik dan sempurna.
Yang demikian itu merupakan nikmat luar biasa yang Allah berikan, sehingga harus disyukuri dengan memanfaatkannya pada kebaikan, bukan sebaliknya.
Itu baru anggota tubuh secara umum, apalagi jika diperinci satu persatu dari masing-masing anggota tubuh yang ada. Tidak cukup kiranya pena ini menguraikannya dalam tulisan, karena sangat banyaknya nikmat yang Allah berikan. Hal itu sebagaimana telah Allah firmankan :
"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18).
Untuk memperkuat iman kita, bisa kita renungkan sejenak tentang salah satu organ tubuh kita. Allah memberikan kita mata, sehingga dengan mata kita bisa melihat segala sesuatu yang ada di sekitar kita.
Dan bisa kita bayangkan seandainya Allah mencabut fungsi mata kita, maka tentunya kita tidak bisa melihat apapun yang ada di sekitar kita, bahkan dunia seakan gelap gulita. Maka bersyukur merupakan kuncinya, dengan memanfaatkannya untuk kebaikan.
Allah sudah berjanji dalam firmannya :
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, Kami pasti akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih’.” (QS. Ibrahim : 7)
Semoga ayat di atas menjadi motivasi bagi kita, sehingga kita menjadi hamba Allah yang senantiasa mensyukuri nikmatNya.
Wallahu A'lam...

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum