Ketupat adalah Simbol Ukhuwah

Rabu, 12 Juni 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Hari ketujuh lebaran 'Idul Fitri merupakan sebuah momen lanjutan dari nuansa kegembiraan. Sebagai wujud syukur atas kemenangan di Hari Raya'Idul Fitri, pada hari ketujuh ini bagi sebagian kalangan dirayakan sebagai lebaran ketupat. Yaitu momen ukhuwah dalam menjalin solidaritas dan soliditas antar sesama, sesuai dengan simbolnya yaitu ketupat.

Secara nilai filosofis, ketupat merupakan simbol ukhuwah, dimana dua lembar janur atau lebih dianyam dengan rapi dan indah hingga akhirnya tampak indah dan penuh dengan makna dan kaya akan manfaat. Maka memaknai ketupat tentu tidak lepas dari simbol yang dimilikinya. Sehingga implentasi dari perayaan tersebut harus mencerminkan makna yang tersirat di dalamnya, yaitu ukhuwah atau persaudaraan.

Ukhuwah merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dan terus diamalkan dan dikampanyekan, sebagai wujud implementatif dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Karena dengan mempererat ukhuwah akan terwujud nuansa kehidupan yang indah. Hal ini sebagaimana telah Allah instrukasikan dalam firman-Nya :

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-Imrân :103)

Dari ayat di atas, dapat kita renungkan, betapa pentingnya jalinan ukhuwah antar sesama dalam kehidupan kita. Dan pada momen yang Fitri ini merupakan bagian dari peluang momental dalam mengamalkannya. Tentu tidak hanya terbatas pada momen ini, bisa dilanjutkan dan dirawat serta dijaga pada momen-momen selanjutnya.

Kekuatan ukhuwah diibaratkan oleh Rasulullah SAW. dengan sebuah bangunan, sebagaimana dalam sabdanya : "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi).

Dan diantara sikap ukhuwah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. adalah sebagaimana pesan yang beliau sampaikan dalam haditsnya :

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini (Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Muslim).

Maka terus menjalin ukhuwah, menjaga solidaritas dan soliditas di dalamnya merupakan tugas setiap manusia dalam menjalani roda hidup dan kehidupannya.

Semoga pada momen yang Fitri ini kita dapat mempekokoh jalinan ukhuwah diantara kita. Dengan harapan semoga nuansa kedamaian dalam kehidupan kita tercipta.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal 'aidin wal fa izin. Kullu 'amin wa antum bikhair. Amin. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah penggiat literasi asal Kadur Pamekasan.

Silsilah Keluarga Besar Bani Muksin

Sabtu, 08 Juni 2019 0 komentar

Silaturahim merupakan sarana untuk memperoleh ridho dan pahala dari sisi Allah, sakaligus sebagai media untuk mendapatkan kelapangan rizki di dunia. 

Dari Anas bin Malik ra berkata: bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Bagi siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturrahim.” (HR. Muttafaq Alaih)

Hadits Rasulullah SAW. di atas,menasehati kita, bahwa siapa yang ingin dilapangkan rizkinya oleh Allah dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia mempererat jalinan silaturahim dengan saudara-saudaranya dengan cara berbuat baik, menyayangi dan tidak memutuskan persaudaraan dengan mereka. 

lni semua adalah dinilai sebagai shadaqah oleh Allah swt.

Optimalisasi Menjelang Kepergian Ramadhan

Rabu, 29 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto

Tanpa terasa, sebentar lagi Ramadhan kali ini akan pergi. Tentu kepergian bulan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah ini, yang hadirnya hanya sekali dalam setahun membuat kita akan merindukannya kembali di tahun berikutnya. Berharap semoga Allah senantiasa memberkahi umur kita sehingga dapat berjumpa di Ramadhan berikutnya.

Sebelum terlambat, patut kiranya kita optimalkan detik-detik kepergian Ramadhan kali ini dengan hiasan amal shaleh sebagaimana telah banyak disampaikan dan dicontohkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW. Terlebih pada sepuluh terakhir Ramadhan.

Salah satu dari sekian keistimewaan bulan Ramadhan adalah malam "Lailatur Qadar". Yaitu suatu malam dimana keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Hal itu sebagaimana telah Allah firmankan :

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Qadar). Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhanya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar". (QS. al-Qadar : 1-5)

Dari ayat ini kita dapat melihat betapa mulianya malam satu ini. Dan tentu semua manusia beriman mendambakan untuk mendapatkannya. Tentu hal itu dengan upaya optimalisasi amalan 'ubudiyah pada bulan Ramadahan, seperti tilawah al-Qur'an, berdzikir, berdo'a, bershadaqah, serta beri'tikaf di malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Kendatipun waktu malam "Lailatur Qadar" berbeda pendapat di kalangan para ulama'. Namun perbedaan tersebut mayoritas bersandar pada sabda Nabiyullah Muhammad SAW. Beliau bersabda :

"Aku melihat "Lailatur Qadar", lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada sepuluh hari terakhir". (HR. Bukhari).

Untuk itu kisi-kisi peluang yang telah Rasulullah SAW. sampaikan ini hendaknya kita optimalkan dengan memperbanyak amal shaleh, dengan harapan semoga kita mendapatkannya. Sehingga gelar muttaqin kita dapatkan, dan tropi sebagi pemenang layak disematkan pada diri kita pada hari yang fitri.

Semoga catatan singkat ini dapat memotivasi kita dalam mengoptimalkan detik-detik kepergian bulan Ramadahan kali ini. Amin. Wallahu a'lam []


Pakaian Batik dan Kebijakan Publik

Minggu, 26 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, mengeluarkan surat edaran berisi himbauan kepada seluruh warga Pamekasan agar pada Hari Raya menggunakan busana batik. Surat edaran tertanggal 22 Mei 2019 itu cukup menjadi topik diskusi di sosial media WhatsApp. Dan berbagai komentar pro dan kontrapun bermunculan.

Antisipasi informasi hoaks, maka penulis mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut kepada salah satu sahabat yang merupakan ASN di lingkungan Pamekasan, dan ternyata informasi tersebut benar.

Surat edaran tentang busana batik di Hari Raya 'Idul Fitri itu perlu diapresiasi sebagai wujud terimakasih atas inisiasi Pamekasan Hebat demi terdorongnya perekonomian batik yang menjadi ciri khas Pamekasan. Namun demikian hal itu juga perlu kiranya memperhatikan siklus pergerakan ekonomi lainnya.

Dari kacamata agama, himbauan tersebut tidaklah salah, karena diantara sunnah pada Hari Raya 'Idul Fitri adalah menggunakan pakaian terbaik. Dalam keseharian Rasulullah SAW, pakaian yang paling sering beliau pakai adalah warna putih. Namun warna ini hanya merupakan klasifikasi berdasarkan mahabbah, atau kesukaan beliau, bukan berarti melarang dengan corak dan warna selain putih. Karenanya, redaksi dari anjuran sunnah pada Hari Raya 'Idul Fitri secara garis besar adalah "yang terbaik".

Al-Haifz Ibnu Jarir rahimahullah berkata, "Diriwayatkan dari Ibnu Abu Dunya dan Baihaqi dengan sanad shahih sampai ke Umar, bahwa beliau memakai baju yang terbaik pada dua hari raya (idul fitri dan idul adha)." (Fatawa Syekh Ibnu Jibrin, 59/44)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Disunnahkan bagi laki-laki pada hari raya untuk berhias dan memakai pakaian yang terbaik." (Majmu Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin, 13/2461)

Lalu, bagaimana dengan Rasulullah sendiri ? 

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : "Rasulullah SAW. menggunakan kain ganggang Yaman (Burdatan Hamra') pada Hari Raya" (Sanadnya Jayyid as-Shahihah No. 1279 dan al-Haitsamu dalam Majma'uz Zawa 'id II:201 berkata, "diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Ausath dengan perawi-perawi yang tsiqah".)

Sehingga soal pakaian di Hari Raya'Idul Fitri bukan menjadi hal yang bersifat kursial, sebagaimana dikuatkan dengan deretan dalil akan hal tersebut di atas.

Dari sisi ekonomi, himbauan ini juga tidak terlalu membuahkan dampak negatif yang signifikan, pasalnya himbauan tersebut hanya bersifat ajakan guna mendongkrak perekonomian batik yang menjadi ciri khas Pamekasan. Terkecuali mungkin bagi ASN di lingkungan Pamekasan hal itu bersifat wajib namun itupun sebatas wajib dalam tatanan teknis sistem birokrasi dan manajerial. Dan hal itu sah-sah saja.

Namun yang menjadi kekhawatiran dalam hal ini adalah munculnya kecemburuan sosial diantara para pelaku ekonomi yang juga sama-sama ingin mendapatkan porsi  perhatian yang sama dari mata pemerintah. Karena ekonomi Pamekasan tidak hanya batik.

Apalagi pada momen menjelang Hari Raya 'idul Fitri, yang notabeni menjadi arus meningkatnya grafik perekonomian masyarakat, khusunya di pasar-pasar tradisional. Maka diperlukan juga porsi perhatian pada pelaku ekonomi selain batik. Sehingga dengan demikian tidak ada kesan dianaktirikan ataupun kesan ketidak adilan dari pemerintah di masyarakat.

Maka catatan penulis, setiap kebijakan memang alangkah baiknya tidak hanya memperhatikan satu sisi aspek dalam kehidupan, karena setiap segmen kehidupan, sekecil apapun hal itu, saling terkait dengan sisi yang lainnya.

Maka sebagai penutup, penulis kutipkan perkataan khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, akan tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan”. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah warga Desa Kadur Pamekasan, aktif di dunia sosial dan pendidikan serta literasi

https://limadetik.com/artikel-pakaian-batik-dan-kebijakan-publik/

Pesan Aagym Untuk Rakyat Indonesia

Kamis, 23 Mei 2019 0 komentar

Berikut pesan Aagym untuk Rakyat Indonesia. Pesan ini beliau sampaikan melalui postingan twitternya. Semoga bermanfaat...

Takziyah : Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un, Ust. Arifin Ilham Wafat

Rabu, 22 Mei 2019 0 komentar

Kabar duka tersiar dari republika.co.id, (22/05/2019). Adalah Ust. Arifin Ilham, pendiri Majelis Adz Zikra dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit di Penang, Malaysia. 
Beliau meninggal pada pukul 23:20 waktu Penang. 

Atas nama media subliyanto.id kami turut berduka. Semoga segala amal baiknya diterima oleh Allah, dan segala dosa dan khilafnya diampuni oleh Allah, sehingga beliau mendapatkan hadiah surga dari-Nya. Amin

Meluruskan Niat dalam Belajar

0 komentar

Oleh : Subliyanto

Artikel menarik berjudul "Pelajar Indonesia", dipublish mediamadura.com edisi 19 Mei 2019. Artikel yang ditulis oleh adik mahasiswa bernama Mamluatur Rohmah tersebut perlu diapresiasi. Apresiasi tersebut berpoin pada makna tersirat dari artikel yang ditulisnya, yaitu mempunyai nilai edukatif, motivatif, dan kreatif khusunya bagi para adik-adik pelajar. Namun demikian, secara konsep pemikiran islam, ada hal yang perlu diluruskan dari paparannya, yaitu tentang orientasi dalam belajar dan menuntaskan pendidikan, agar pola pikir generasi pelajar Indonesia tetap on the right track.

Pertama, belajar merupakan sebuah kewajiban setiap manusia, sehingga pondasi dari belajar adalah semata-mata melaksakan sebuah kewajiban fardu 'ain dari setiap kita agar menjadi insan yang shalih dan mushlih dalam memainkan perannya sebagai 'abdullah dan khalifatullah di muka bumi. Maka belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Bahkan pesan Rasulullah SAW, sampai ke liang lahat (mati).

Kedua, orientasi belajar berada pada dua sisi kehidupan manusia, yaitu dunia dan akhirat. Dari keduanya yang menjadi nominasi instruksi adalah akhirat, sebagai basic penguatan keimanan manusia. Maka yang harus dipelajari adalah tentang konsep-konsep dan teori-teori suksesi final kehidupan manusia "ba'dal maut". Namun demikian tanpa melupakan konsep-konsep yang bersifat duniawi, karena keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, hanya saja dari keduanya ada skala yang harus diprioritaskan.

Ketiga, nilai sukses dari seseorang tidaklah sepenuhnya terukur dari strata pendidikan yang ditempuhnya dan profesi kesehariannya. Namun barometer kesuksesan seseorang adalah bagaimana ia bisa mengantarkan dirinya dengan mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk menjadi insan yang shalih dan mushlih. Karena segala sesuatu yang bersifat duniawi hanyalah bagian dari hadiah yang Allah tampakkan kepada hamba-Nya yang shalih. Maka jangan sampai hal itu menjadi orientasi primer.

Dari tiga konsep dasar dalam belajar di atas, setidaknya pola pikir manusia, khusunya generasi muslim akan menjadi semakin kuat dan terarah. Terasa berat mungkin iya, apalagi kita saat ini hidup di situasi yang penuh dengan arus hidonisme-materialisme, yang semua itu dalam kacamata manusia sangat menjadi sorotan sebagai indikator kesuksesan, padahal dalam kacamata agama tidak demikian. Maka terus belajar dan menambah wawasan merupakan solusi bagi para generasi pelajar Indonesia saat ini, dengan catatan tanpa melupakan visi yang hakiki.

Semoga dengan catatan singkat ini dapat memperkuat catatan karya "Pelajar Indonesia", Mamluatur Rohmah. Apresiasi literasi penulis sampaikan, tetap semangat, dan teruslah belajar dan berkarya. (*)

Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

Menang dan Kalah adalah Ujian

Minggu, 19 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Dalam hitungan hari, tepatnya tanggal 22 Mei 2019 mendatang kita akan menyaksikan pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang hasil pilpres 2019. Momen resmi yang ditunggu-tunggu rakyat Indonesia untuk mengetahui siapa presidennya yang akan memegang kendali tampuk kepemimpinan Indonesia lima tahun kedepan. Tentu sebagai rakyat berharap, siapapun yang memimpinnya semoga Indonesia lebih baik dalam segala aspeknya.

Menang dan kalah adalah ujian. Bagi yang menang maka harus bersyukur, yaitu dengan memanfaatkan kemenangan yang telah Allah berikan dengan penuh amanah dan penuh tanggung jawab. Dan bagi yang kalah tentu juga harus bersyukur, yaitu dengan terus berkarya untuk bangsa dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang sama untuk kebaikan bangsa dan negara. Karena jalur politik hanyalah salah satu dari ribuan cara dalam berfastabiqul khairat.

Yang tak kalah pentingnya dalam sebuah perjuangan adalah mengembalikan orientasi dan visi perjuangan yang kita lakukan, karena menang dan kalah adalah ujian untuk mengukur kualitas seseorang. Dan sebagai penguat tidak ada salahnya kita kembali mengkaji fakta sejarah yang penuh dengan hikmah dan ibrah yang bisa kita ambil untuk terus melakukan kebaikan dan perbaikan dalam setiap lini kehidupan.

Fakta Sejarah Penuh Hikmah

Jika dunia politik dianggap dan diibaratkan sebagai "perang", maka dalam sejarah perangpun menang dan kalah Allah berikan untuk menguji kualitas keimanan. Karena Allah Maha tau pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

Dalam sejarah, pada perang Badar, kaum muslimin gagah berani bertempur, karena mereka sangat khawatir pada diri Nabi Muhammad SAW. dan Islam. Mereka berjuang dengan totalitas, tidak ada visi lain kecuali Allah SWT. Mereka satu kata di bawah komando Nabi, dan mereka taat dan tunduk kepada beliau. 

Mereka taat kepada Allah dengan dengan penuh sempurna. Karena hal itulah maka Allah menangkan mereka. Padahal jumlah mereka sedikit dan lemah di hadapan kafir Quraisy yang jumlah pasukannya lebih banyak. Pada waktu itu, kaum muslimin pun menyadari bahwa dalam hitungan matematika manusia akan kalah. Tapi merekapun yakin bahwa Allah akan membantu perjuangannya dalam membela agama-Nya.

Maka dengan jumlah pasukan yang sedikit mereka harus berperang habis-habisan dengan memaksimalkan segala kemampuan yang mereka miliki, diiringi niat ikhlas karena Allah di dalam hatinya. Maka Allah kirimkan malaikatnya sehingga standart kekuatan berbalik dan berada di pasukan kaum muslimin. Hal itu membuat orang-orang kafir merasa mustahil dan tidak dapat memahaminya dan menafsirkannya. Maka Allah menangkan perjuangan kaum muslimin pada peperangan itu.

Suasana berbeda terjadi pada perang Uhud. Dimana pada peperangan itu menjadi hari ujian dan musibah bagi kaum muslimin. Allah kembali melakuakan seleksi kualitas keimanan hamba-Nya, dan menganugrahkan gelar syuhada' bagi pasukan beriman yang wafat dalam pertempuran. Tidak hanya itu, Allah juga memperlihatkan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya.

Pada perang Uhud, pasukan muslimin menganggap remeh pada pertempuran yang akan dihadapinya. Mereka menyangka bahwa mereka sudah pasti menang, sehingga berpuas diri dengan kondisi mereka. Mereka terlalu percaya diri, seolah-olah kemenangan telah di tangan mereka.

Alhasil, kamum muslimin masuk pada pertempuran dengan hati bercerai-berai. Pasukanpun pecah, sepertiga dari pasukan memisahkan diri sebelum perang dimulai. Dua kelompok Bani Sulaiman dan Bani Haritsah juga mematahkan kesatuan jamaah. Kalau bukan karena pertolongan Allah mereka betul-betul mundur. Maka berarti sepertiga pasukan yang akhirnya bertempur di Uhud tidaklah sepenuhnya menyatu di bawah komando Rasulullah SAW.

Kondisi kaum muslimin pada perang Uhud tidak jauh beda dengan perselisihan pendapat yang melanda kaum kafir Quraisy waktu perang Badar, antara yang mau melanjutkan perang atau kembali ke Makkah. Sebagaimana dikatakan Abu Sufyan, "Jumlah kita lebih banyak dari jumlah mereka, senjata kita lebih banyak dari senjata mereka, dan kita memiliki kuda perang sedang mereka tidak. Kita memerangi mereka sebab punya semangat membalas dendam sedang mereka tidak."

Alhasil, kaum muslimin menyalahi perintah Rasulullah SAW. Pasukan pemanah meninggalkan bukit dan melanggar perintah Rasulullah SAW. Mereka menyaksikan rampasan perang sebagai sasaran yang harus dikumpulkan. Mereka berlari meninggalkan bukit bersaing mengumpulkan harta dengan kawan lainnya, padahal Rasulullah SAW. sudah mengingatkan agar tidak meninggalkan tempat mereka. Orientasi perang sudah berubah. Jiwa mereka telah dimasuki nafsu duniawi, yaitu mengejar harta rampasan perang. Dan faktor inilah yang membuat kekalahan pasukan kaum muslimin pada perang Uhud.

Fakta sejarah ini telah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. dan menjadi catatan dokumentasi dinamika sebuah perjuangan. Sehingga patut menjadi renungan bagi kita. Menang dan kalah adalah ujian sebagai barometer sebuah keimanan, ketakwaan, dan ketaatan. 

Semoga ulasan ini menjadi pelajaran, dan bermanfaat buat kita. Dan sebagai penutup dari tulisan ini, penulis kutipkan pesan Umar Bin Khathab saat menjadi Amirul Mukminin, Umar berkata kepada pasukan kaum muslimin, "Sungguh kalian hanya ditolong Allah jika kalian taat. Jika kalian sama saja dalam kemaksiatan mereka, maka musuh akan mengalahkan kalian karena kekuatan mereka". Wallahu a'lam []

Mati adalah Misteri Ilahi, Membaca Pesan Yoyoh Yusroh

0 komentar

Oleh : Subliyanto* 

Setiap manusia akan menghadapi mati, hanya saja menunggu giliran jadwal yang sudah ditentukan sejak zaman azali. Namun pada tahun 2019 ini, pasca pesta demokrasi, kematian seakan menjadi momok yang sangat menakutkan dan mengerikan. 

Betapa tidak, nominasi kematian yang dialami oleh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sangat mendominasi. Dikutip dari detik.com edisi 10 Mei 2019, jumlah kematian petugas KPPS pasca pesta demokrasi mencapai 469 orang.

Berlepas dari penyebab kematian yang hingga kini masih menjadi pembahasan kontroversi, disini penulis hanya ingin mengulas bahwa kematian adalah misteri bagi semua manusia. Sehingga harus bersiap diri menyambutnya.

Berbincang hal ini, tak ada salahnya kalau kita membaca pesan-pesan Yoyoh Yusroh, seorang mujahidah, penghafal alQur'an yang siap menghadapi kematian. Ia wafat pada 21 Mei 2011 di usia 49 tahun pasca kecelakaan lalu-lintas saat bersama keluarganya pulang usai menghadiri wisuda salah seorang putranya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogayakarta. 

Dan menariknya, sebulan sebelum ia meninggal, tepatnya pada 23 April 2011 ia menulis sebuah artikel yang seakan tersirat makna salam perpisahan. Artikel itu dimuat di situs dakwatuna.com 24 April 2011.

Buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, karya putra Pamekasan, M. Anwar Djaelani mengutip artikel yang berjudul "Kematian adalah Sebuah Misteri" tersebut dalam bab ke-38 tentang tokoh yang bernama Yoyoh Yusroh. Ia berpesan melalui penanya sebagai berikut :

"Manusia siapapun, apapun statusnya, tidak akan tahu kapan kematiannya. Karena kematian merupakan hak periogratif Allah. Untuk hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain.

Kematian adalah misteri. Ia akan merengut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Kematian tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat.

Sebagai seorang Muslim, kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela Allah, mempertahankan hak seperti yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina. Namun, karena kematian sebuah misteri, tidak semua mereka yang berjuang mendapatkan karunia syahadah seperti yang diharapkan. Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah, yang tidak bisa diduga oleh siapapun."

Dari pesan pena Yoyoh Yusoh di atas dapat disimpulkan bahwa kematian itu pasti, dan mempersiapkan diri dengan nilai-nilai kebaikan menyambutnya adalah sebuah solusi, karena kematian akan datang kapan saja, dimana saja, dan sedang apa saja, serta dengan cara apa saja, yang semua itu tidak kita ketahui, karena kematian adalah misteri Ilahi. Wallahu a'lam []

 
SUBLIYANTO.ID © 2019