Pesan Aagym Untuk Rakyat Indonesia

Kamis, 23 Mei 2019 0 komentar

Berikut pesan Aagym untuk Rakyat Indonesia. Pesan ini beliau sampaikan melalui postingan twitternya. Semoga bermanfaat...

Takziyah : Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un, Ust. Arifin Ilham Wafat

Rabu, 22 Mei 2019 0 komentar

Kabar duka tersiar dari republika.co.id, (22/05/2019). Adalah Ust. Arifin Ilham, pendiri Majelis Adz Zikra dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit di Penang, Malaysia. 
Beliau meninggal pada pukul 23:20 waktu Penang. 

Atas nama media subliyanto.id kami turut berduka. Semoga segala amal baiknya diterima oleh Allah, dan segala dosa dan khilafnya diampuni oleh Allah, sehingga beliau mendapatkan hadiah surga dari-Nya. Amin

Meluruskan Niat dalam Belajar

0 komentar

Oleh : Subliyanto

Artikel menarik berjudul "Pelajar Indonesia", dipublish mediamadura.com edisi 19 Mei 2019. Artikel yang ditulis oleh adik mahasiswa bernama Mamluatur Rohmah tersebut perlu diapresiasi. Apresiasi tersebut berpoin pada makna tersirat dari artikel yang ditulisnya, yaitu mempunyai nilai edukatif, motivatif, dan kreatif khusunya bagi para adik-adik pelajar. Namun demikian, secara konsep pemikiran islam, ada hal yang perlu diluruskan dari paparannya, yaitu tentang orientasi dalam belajar dan menuntaskan pendidikan, agar pola pikir generasi pelajar Indonesia tetap on the right track.

Pertama, belajar merupakan sebuah kewajiban setiap manusia, sehingga pondasi dari belajar adalah semata-mata melaksakan sebuah kewajiban fardu 'ain dari setiap kita agar menjadi insan yang shalih dan mushlih dalam memainkan perannya sebagai 'abdullah dan khalifatullah di muka bumi. Maka belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Bahkan pesan Rasulullah SAW, sampai ke liang lahat (mati).

Kedua, orientasi belajar berada pada dua sisi kehidupan manusia, yaitu dunia dan akhirat. Dari keduanya yang menjadi nominasi instruksi adalah akhirat, sebagai basic penguatan keimanan manusia. Maka yang harus dipelajari adalah tentang konsep-konsep dan teori-teori suksesi final kehidupan manusia "ba'dal maut". Namun demikian tanpa melupakan konsep-konsep yang bersifat duniawi, karena keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, hanya saja dari keduanya ada skala yang harus diprioritaskan.

Ketiga, nilai sukses dari seseorang tidaklah sepenuhnya terukur dari strata pendidikan yang ditempuhnya dan profesi kesehariannya. Namun barometer kesuksesan seseorang adalah bagaimana ia bisa mengantarkan dirinya dengan mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk menjadi insan yang shalih dan mushlih. Karena segala sesuatu yang bersifat duniawi hanyalah bagian dari hadiah yang Allah tampakkan kepada hamba-Nya yang shalih. Maka jangan sampai hal itu menjadi orientasi primer.

Dari tiga konsep dasar dalam belajar di atas, setidaknya pola pikir manusia, khusunya generasi muslim akan menjadi semakin kuat dan terarah. Terasa berat mungkin iya, apalagi kita saat ini hidup di situasi yang penuh dengan arus hidonisme-materialisme, yang semua itu dalam kacamata manusia sangat menjadi sorotan sebagai indikator kesuksesan, padahal dalam kacamata agama tidak demikian. Maka terus belajar dan menambah wawasan merupakan solusi bagi para generasi pelajar Indonesia saat ini, dengan catatan tanpa melupakan visi yang hakiki.

Semoga dengan catatan singkat ini dapat memperkuat catatan karya "Pelajar Indonesia", Mamluatur Rohmah. Apresiasi literasi penulis sampaikan, tetap semangat, dan teruslah belajar dan berkarya. (*)

Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

Menang dan Kalah adalah Ujian

Minggu, 19 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Dalam hitungan hari, tepatnya tanggal 22 Mei 2019 mendatang kita akan menyaksikan pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang hasil pilpres 2019. Momen resmi yang ditunggu-tunggu rakyat Indonesia untuk mengetahui siapa presidennya yang akan memegang kendali tampuk kepemimpinan Indonesia lima tahun kedepan. Tentu sebagai rakyat berharap, siapapun yang memimpinnya semoga Indonesia lebih baik dalam segala aspeknya.

Menang dan kalah adalah ujian. Bagi yang menang maka harus bersyukur, yaitu dengan memanfaatkan kemenangan yang telah Allah berikan dengan penuh amanah dan penuh tanggung jawab. Dan bagi yang kalah tentu juga harus bersyukur, yaitu dengan terus berkarya untuk bangsa dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang sama untuk kebaikan bangsa dan negara. Karena jalur politik hanyalah salah satu dari ribuan cara dalam berfastabiqul khairat.

Yang tak kalah pentingnya dalam sebuah perjuangan adalah mengembalikan orientasi dan visi perjuangan yang kita lakukan, karena menang dan kalah adalah ujian untuk mengukur kualitas seseorang. Dan sebagai penguat tidak ada salahnya kita kembali mengkaji fakta sejarah yang penuh dengan hikmah dan ibrah yang bisa kita ambil untuk terus melakukan kebaikan dan perbaikan dalam setiap lini kehidupan.

Fakta Sejarah Penuh Hikmah

Jika dunia politik dianggap dan diibaratkan sebagai "perang", maka dalam sejarah perangpun menang dan kalah Allah berikan untuk menguji kualitas keimanan. Karena Allah Maha tau pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

Dalam sejarah, pada perang Badar, kaum muslimin gagah berani bertempur, karena mereka sangat khawatir pada diri Nabi Muhammad SAW. dan Islam. Mereka berjuang dengan totalitas, tidak ada visi lain kecuali Allah SWT. Mereka satu kata di bawah komando Nabi, dan mereka taat dan tunduk kepada beliau. 

Mereka taat kepada Allah dengan dengan penuh sempurna. Karena hal itulah maka Allah menangkan mereka. Padahal jumlah mereka sedikit dan lemah di hadapan kafir Quraisy yang jumlah pasukannya lebih banyak. Pada waktu itu, kaum muslimin pun menyadari bahwa dalam hitungan matematika manusia akan kalah. Tapi merekapun yakin bahwa Allah akan membantu perjuangannya dalam membela agama-Nya.

Maka dengan jumlah pasukan yang sedikit mereka harus berperang habis-habisan dengan memaksimalkan segala kemampuan yang mereka miliki, diiringi niat ikhlas karena Allah di dalam hatinya. Maka Allah kirimkan malaikatnya sehingga standart kekuatan berbalik dan berada di pasukan kaum muslimin. Hal itu membuat orang-orang kafir merasa mustahil dan tidak dapat memahaminya dan menafsirkannya. Maka Allah menangkan perjuangan kaum muslimin pada peperangan itu.

Suasana berbeda terjadi pada perang Uhud. Dimana pada peperangan itu menjadi hari ujian dan musibah bagi kaum muslimin. Allah kembali melakuakan seleksi kualitas keimanan hamba-Nya, dan menganugrahkan gelar syuhada' bagi pasukan beriman yang wafat dalam pertempuran. Tidak hanya itu, Allah juga memperlihatkan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya.

Pada perang Uhud, pasukan muslimin menganggap remeh pada pertempuran yang akan dihadapinya. Mereka menyangka bahwa mereka sudah pasti menang, sehingga berpuas diri dengan kondisi mereka. Mereka terlalu percaya diri, seolah-olah kemenangan telah di tangan mereka.

Alhasil, kamum muslimin masuk pada pertempuran dengan hati bercerai-berai. Pasukanpun pecah, sepertiga dari pasukan memisahkan diri sebelum perang dimulai. Dua kelompok Bani Sulaiman dan Bani Haritsah juga mematahkan kesatuan jamaah. Kalau bukan karena pertolongan Allah mereka betul-betul mundur. Maka berarti sepertiga pasukan yang akhirnya bertempur di Uhud tidaklah sepenuhnya menyatu di bawah komando Rasulullah SAW.

Kondisi kaum muslimin pada perang Uhud tidak jauh beda dengan perselisihan pendapat yang melanda kaum kafir Quraisy waktu perang Badar, antara yang mau melanjutkan perang atau kembali ke Makkah. Sebagaimana dikatakan Abu Sufyan, "Jumlah kita lebih banyak dari jumlah mereka, senjata kita lebih banyak dari senjata mereka, dan kita memiliki kuda perang sedang mereka tidak. Kita memerangi mereka sebab punya semangat membalas dendam sedang mereka tidak."

Alhasil, kaum muslimin menyalahi perintah Rasulullah SAW. Pasukan pemanah meninggalkan bukit dan melanggar perintah Rasulullah SAW. Mereka menyaksikan rampasan perang sebagai sasaran yang harus dikumpulkan. Mereka berlari meninggalkan bukit bersaing mengumpulkan harta dengan kawan lainnya, padahal Rasulullah SAW. sudah mengingatkan agar tidak meninggalkan tempat mereka. Orientasi perang sudah berubah. Jiwa mereka telah dimasuki nafsu duniawi, yaitu mengejar harta rampasan perang. Dan faktor inilah yang membuat kekalahan pasukan kaum muslimin pada perang Uhud.

Fakta sejarah ini telah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. dan menjadi catatan dokumentasi dinamika sebuah perjuangan. Sehingga patut menjadi renungan bagi kita. Menang dan kalah adalah ujian sebagai barometer sebuah keimanan, ketakwaan, dan ketaatan. 

Semoga ulasan ini menjadi pelajaran, dan bermanfaat buat kita. Dan sebagai penutup dari tulisan ini, penulis kutipkan pesan Umar Bin Khathab saat menjadi Amirul Mukminin, Umar berkata kepada pasukan kaum muslimin, "Sungguh kalian hanya ditolong Allah jika kalian taat. Jika kalian sama saja dalam kemaksiatan mereka, maka musuh akan mengalahkan kalian karena kekuatan mereka". Wallahu a'lam []

Mati adalah Misteri Ilahi, Membaca Pesan Yoyoh Yusroh

0 komentar

Oleh : Subliyanto* 

Setiap manusia akan menghadapi mati, hanya saja menunggu giliran jadwal yang sudah ditentukan sejak zaman azali. Namun pada tahun 2019 ini, pasca pesta demokrasi, kematian seakan menjadi momok yang sangat menakutkan dan mengerikan. 

Betapa tidak, nominasi kematian yang dialami oleh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sangat mendominasi. Dikutip dari detik.com edisi 10 Mei 2019, jumlah kematian petugas KPPS pasca pesta demokrasi mencapai 469 orang.

Berlepas dari penyebab kematian yang hingga kini masih menjadi pembahasan kontroversi, disini penulis hanya ingin mengulas bahwa kematian adalah misteri bagi semua manusia. Sehingga harus bersiap diri menyambutnya.

Berbincang hal ini, tak ada salahnya kalau kita membaca pesan-pesan Yoyoh Yusroh, seorang mujahidah, penghafal alQur'an yang siap menghadapi kematian. Ia wafat pada 21 Mei 2011 di usia 49 tahun pasca kecelakaan lalu-lintas saat bersama keluarganya pulang usai menghadiri wisuda salah seorang putranya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogayakarta. 

Dan menariknya, sebulan sebelum ia meninggal, tepatnya pada 23 April 2011 ia menulis sebuah artikel yang seakan tersirat makna salam perpisahan. Artikel itu dimuat di situs dakwatuna.com 24 April 2011.

Buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, karya putra Pamekasan, M. Anwar Djaelani mengutip artikel yang berjudul "Kematian adalah Sebuah Misteri" tersebut dalam bab ke-38 tentang tokoh yang bernama Yoyoh Yusroh. Ia berpesan melalui penanya sebagai berikut :

"Manusia siapapun, apapun statusnya, tidak akan tahu kapan kematiannya. Karena kematian merupakan hak periogratif Allah. Untuk hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain.

Kematian adalah misteri. Ia akan merengut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Kematian tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat.

Sebagai seorang Muslim, kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela Allah, mempertahankan hak seperti yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina. Namun, karena kematian sebuah misteri, tidak semua mereka yang berjuang mendapatkan karunia syahadah seperti yang diharapkan. Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah, yang tidak bisa diduga oleh siapapun."

Dari pesan pena Yoyoh Yusoh di atas dapat disimpulkan bahwa kematian itu pasti, dan mempersiapkan diri dengan nilai-nilai kebaikan menyambutnya adalah sebuah solusi, karena kematian akan datang kapan saja, dimana saja, dan sedang apa saja, serta dengan cara apa saja, yang semua itu tidak kita ketahui, karena kematian adalah misteri Ilahi. Wallahu a'lam []

QS. An-Nazi'at : Naya Fatihurrahman Ramadahani

Jumat, 10 Mei 2019 0 komentar



Arif dalam Memandang dan Jadilah Pembelajar

Sabtu, 09 Maret 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Nahdhatul Ulama' (NU) belakangan ini seakan menjadi gorengan, baik dari internal maupun dari eksternal itu sendiri. Terlebih dinamika keorganisasian yang berkembang terjadi pada momen politik, yang sudah tentu akan menjadi penyempurna dalam situasi dan kondisi.

Beragam respon dari publik begitu mencuat meyoroti NU, baik di media maupun sosial media. Namun sepertinya ada yang terlupakan bahwa NU adalah sebuah organisasi.

Lantas bagi kalangan awam apa yang harus dilakukan ? 

Nahdhatul Ulama' (NU) adalah organisasi, bukan mazhab yang setara dg empat mazhab. Maka dinamika organisasi akan selalu ada dan selalu berkembang sesuai keadaan zaman dan praktisi sistem kepemimpinannya.

Maka untuk berpegang teguh pada konsep-konsep dan tata nilai Islam yg hakiki adalah dengan menjadi "pembelajar", dimana sikap pembelajar adalah berprinsip pada esensi "nilai-nilai kebaikan".

Jika itu sebuah kebaikan maka ambillah tanpa melihat siapa dan golongan apa. Jika itu sebuah keburukan maka juga buanglah tanpa melihat siapa dan golongan apa. Dan inilah yang disebut dengan hikmah.

Tentu namanya kebaikan yang menjadi barometer adalah yang sesuai dengan arahan agama. Karena manusia dan "bajunya" tidak benar selamanya, pun juga tidak salah seluruhnya. Maka ambillah yang baik, dan buanglah yang tidak baik. 

Jika ada ketidak baikan dalam sebuah organisasi, sudah pasti akan diselesaikan di internal meja para penggerak keorganisasian sesuai AD-ART yang ada di tubuh organisasi itu sendiri.

Maka merupakan sebuah ketidak arifan jika sebuah titik hitam yang menetes dari pena seseorang pada lembaran putih, kemudian manusia memandang dan menjustifikasi bahwa kertas itu adalah hitam seluruhnya. 

Dan disinilah diperlukan kearifan dalam memandang, dan sikap sebagai pembelajar. Sehingga rasa fanatisme golongan tidak menjadikan garis perpecahan dalam persaudaraan. Wallahu a'lam [] 

*Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

Hindari Narkoba, Selamatkan Generasi Bangsa

0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan publik figur berinisial AA yang terciduk dan dinyatakan positif mengkonsumsi narkoba. Narkoba, sebuah zat yang memabukkan, yang dengannya manusia akan kehilangan akal sehatnya, sehingga semuanya akan terabaikan. Tentu ini menjadi warning buat kita terlebih di lingkungan keluarga bahwa betapa bahayanya narkoba.

Jika narkoba sudah masuk dalam lingkungan rumah tangga, maka yang terjadi adalah malapetaka. Apabila kejahatan narkoba sudah menguasai diri manusia, maka ia akan buta atas segalanya, ia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, karena ia sudah kehilangan kesdarannya.

Pesan-pesan kepada para generasi untuk menjauhi narkoba sangatlah penting untuk terus kita sampaikan. Mulai dari lingkungan internal keluarga, pendidikan, dan masyarakat sekitar sebagai bentuk ikhtiyar penyelamatan aset bangsa berupa generasi.

Fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran bagi kita, sehingga kita bisa mengambil ibrah darinya, dan menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia adalah tempat salah, lupa, dan berbuat khilaf. Maka faktor kesadaran dan menyadari atas sifat manusiawinya itu menjadi kunci agar kita mampu membelokkannya pada nilai-nilai kebaikan.

Kebaikan yang kita raih hari ini adalah sebuah prestasi yang harus kita syukuri. Sementara keburukan yang kita kerjakan hari ini menjadi sebuah evaluasi yang harus kita istighfari. []

*Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

Simbiosis Mutualisme Media dan Pena

Senin, 04 Maret 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Peran dan pengaruh media sangat penting dan sangat besar kontribusinya dalam memberi perubahan suatu bangsa menuju arah yang lebih baik. Dengan media kita dapat menyampaikan informasi dan aspirasi tentang situasi dan kondisi yang kita temui. Sehingga mudah diketahui dan ditindak lanjuti.

Dalam dunia demokrasi, kebebasan menyuarakan aspirasi tidaklah mudah untuk di dengar, apalagi ditindaklanjuti. Dan kehadiran media merupakan bagian dari solusi untuk menfasilitasi temuan-temuan yang harus dipublikasi guna mendapatkan perhatian. 

Namun demikian, tidak semua media dapat menampung temuan-temuan itu. Dan tidak semua orang bisa menembus meja redaksi. Karena sudah mejadi pemahaman umum bahwa media itu tidak terbatas namun dapat bersuara melalui media sangatlah terbatas. Maka kehadiran media dalam skala kecil juga sangat dibutuhkan, sebagai wadah untuk menampung informasi dan aspirasi yang tidak terpotret dan tidak memiliki fasilitas publish.

Jika media bak sebuah rumah, maka membaca dan menulis atau literasi adalah isinya. Rumah tanpa penghuni bak sebuah kegelapan yang sunyi. Demikian juga halnya dengan media. Maka disinilah pentingnya tetesan tinta dari ujung pena. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara media dan pena.

Membaca dan menulis merupakan dua hal yang menjadi sumber ilmu pengetahuan manusia. Dengan membaca manusia akan mengetahui segala hal yang belum diketahui, dan dengan menulis manusia akan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki. Dua hal tersebut merupakan ajaran pertama dalam dunia pendidikan Islam sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an Surat al-'Alaq dan Surat al-Qalam. 

Mungkin semua manusia bisa membaca namun tidak semua manusia bisa menulis, karena menulis membutuhkan kecakapan literasi dalam mengolah dan menganalisis serta menuangkan gagasan kreatif, inovatif, dan solutif yang dituangkan dalam goresan pena sebagai bentuk kontribusi pemikiran dan konsep untuk masa depan yang lebih baik. Maka membudayakan dunia literasi merupakan hal yang sangat penting guna melahirkan generasi yang berbasis ilmu dan riset. 

*www.subliyanto.id

Aku Telah Memaafkanmu

Senin, 25 Februari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Akhir-akhir ini masih cukup santer perbincangan di media seputar persoalan meminta maaf. Entah karena memang sedang musim orang berbuat salah, atau dianggap bersalah, atau mungkin karena kesadaran diri atas kesalahan yang telah dilakukan, sehingga tuntutan untuk meminta maaf menjadi tontonan yang terus "tergoreng".

Tidak salah kiranya kalau kita buka-buka lagi koleksi buku kita untuk sekedar mengetahui seputar maaf dan memaafkan, guna mejadi renungan untuk diri kita, sehingga kita mempunyai akhlak yang baik nan mulia.

Islam selalu menganjurkan agar setiap muslim berusaha untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah. Maka sebagai landasan berpikir, penulis sajikan perintah tersebut yang tersurat dalam firman-Nya. Allah berfirman : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurat: 10). 

Kemudian Rasulullah SAW. juga bersabda  tentang pentingnya persaudaraan : “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim).

Dan termasuk bagian dari akhlak yang baik adalah meminta maaf dan saling memaafkan. Karena dengan hal tersebut nuansa persaudaraan akan kembali terkuatkan. Kita kaji misalnya pesan Allah yang termaktub dalam al-Qur'an surat al-Imran : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Imran :133)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia agar bersegera dalam memohon ampunan atau meminta maaf jika melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Baik yang bersifat "Rabbani" atau berhubungan langsung dengan Allah, maupun bersifat "Manusiawi" atau yang berhubungan dengan manusia. Karena yang demikian akan segera menghapus dosa kekhilafan yang telah ia lakukan. 

Demikian juga dengan memaafkan. Allah memerintahkan agar kita menjadi sosok pemaaf. Hal itu sebagaimana Allah firmankan : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf :199)

Ada contoh menarik seputar kehebatan saling memaafkan yang tercatat dalam sejarah yang diabadikan dalam kitab "Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lith Thifl", yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul "Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak". Dimana dalam kitab itu disajikan kisah yang dikutip dari kitab "Tarbiyatul Aulad Fil Islam" karya as-Syaikh Abdullah Nashih 'Ulwan. Dikisahkan bahwa seorang budak milik Zainal Abidin mengucurkan air dari sebuah kendi yang terbuat dari tembikar untuk berwudhu'. Kemudian kendi itu jatuh menimpa kaki Zainal Abidin sampai pecah, dan kaki Zainal Abidin berdarah. Maka terjadilah dialog antara budak dengan Zainal Abidin dengan dialog al-Qur'an Surat al-Imran ayat 134.

Sang budak berkata : "Ya tuanku, Allah SWT. berfirman : "Dan orang-orang yang menahan amarahnya".(QS. al-Imran : 134)"

Lalu Zainal Abidin menjawab : "Aku telah menahan amarahku". Kemudian budak itu berkata lagi : "Dan memaafkan (kesalahan) orang". (QS. al-Imran : 134)"

Zainal Abidin pun menjawab : "Aku telah memaafkanmu". Budak pun melanjutkan : "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS. al-Imran : 134)"

Maka Zainal Abidin menjawabnya : "Sekarang Aku merdekakan engkau karena Allah". 

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa betapa indahnya saling memaafkan. Karena dari saling memaafkan akan melahirkan kasih dan sayang. Semoga catatan singkat ini dapat menjadikan kita lebih memperkuat ukhuwah islamiyah. Sehingga nuansa keindahan dalam persaudaraan akan tampak dan menjadi cermin hakikat keindahan Islam. Wallahu a'lam []

 
SUBLIYANTO.ID © 2019