Menigkatkan kualitass guru

Rabu, 24 Februari 2010 0 komentar

Setiap kali kita berada pada masa akhir tahun ajaran sekolah, perhatian masyarakat akan tertuju kepada betapa rendahnya kualitas pendidikan sekolah, hal itu dibuktikan dengan rendahnya nilai yang diperoleh oleh peserta didik, serta rendahnya nilai moral peserta didik.

Rendahnya penilaian tersebut akan senantiasa selalu di kaitkan dengan rendahnya mutu guru dan kualitas pendidikan guru. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sasaran utama yang perlu dibenahi adalah kualitas guru dan kualitas pendidikan guru.

Ada tiga kegiatan penting yang diperlukan oleh guru untuk bisa meningkatkan kualitasnya sehingga bisa terus mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya.


Pertama para guru harus memperbanyak tukar pikiran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman mengembangkan materi pelajaran dan berinteraksi dengan peserta didik. Tukar pikiran tersebut dapat dilaksanakan dalam pertemuan antar guru ataupun dalam seminar-seminar yang berkaitan dengan hal itu.

Kegiatan ini hendaknya selalu mengangkat topik pembicaraan yang bersifat aplikatif, artinya hasil dari pertemuan tersebut bisa dugunakan secara langsung untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa dalam kegiatan tersebuat hendaknya faktor-faktor yang bersifat struktural perlu dibuang jauh-jauh. Misalnya tidak perlu yang memimpin harus kepala sekolah dan lain sebagainya.

Kedua dalam pertemuan yang dihadiri oleh para guru hendaknya dibicarakan mengenai hasil penelitian yang dilakukan oleh para guru itu sendiri, karena dengan demikian guru harus melakukan penelitian sehingga dengan ini dapat diyakini bahwa semua hasil penelitian tentang apa yang terjadi di kelas dan di sekolah adalah sangat penting untuk dibahas dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Karena para gurulah yang yang secara detail mengetahui dan memahami apa yang terjadi disekolah khususnya dikelas. Misalnya, apa yang harus dilakukan guru untuk menghadapi murid yang malas atau pemalu dalam kelas ? dan bagaimana cara menanggulangi peserta didik yang sering mengganggu temannya ?

Masalah-masalah diatas jarang diteliti, kalaupun pernah pendekatan yang dilakukan cenderung teoritis akademis sehingga sulit di terapkan dalam praktek proses belajar mengajar.

Ketiga guru harus membiasakan diri untuk mengkomonikasikan hasil penelitian yang dilakukan khususnya melalui media cetak. Untuk itu tidak ada alternatif lain bagi guru untuk meningkatkan kemampuannya kecuali dengan menulis laporan penelitiannya.

Sebagai kesimpulan seorang pendidik atau guru harus mempunyai konsep Asah, Asuh, dan Asih. Asah artinya antara guru yang satu dengan guru yang lain saling membantu untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. Asuh adalah saling membimbing dengan tulus dan ikhlas antara guru yang satu dengan guru yang lain. Sedang kan Asih artinya adalah menjalin hubungan kekeluargaan yang akrab antara yang satu dengan yang lainnya sehingga tampak familiar.





Psikologi Dalam Islam*

Jumat, 05 Februari 2010 0 komentar

Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur.



Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).

Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).
Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).
Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).
Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.

*Penulis: Syamsuddin Arif



Nasehat Al-Ghazali Untuk Pelajar*

0 komentar

"Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiyat,” demikian petuah masyhur guru Imam Syafii, Waqi’. Ibnu Mas'ud r.a., salah satu Sahabat Nabi saw pernah berwasiat, bahwa hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam hati. Kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Rasulullah saw., bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan". (HR. Tirmidzi).

Mengingat kedudukannya yang penting itu, maka menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.


Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pelajar membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz min al-dhalal)
Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akherat. Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka, Rasulullah saw., bersabda: "Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)

Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan. "Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah", demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: "Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah".

Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa 'kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah', berarti bahwa "Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya". (Ihya' 'Ulumiddin)

Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar. Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta'dib.

Ta'dib berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik. Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.

Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta. Disorientasi pendidikan diawali dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta'dib dalam pendidikan (sekularisasi).

Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan dengan dua hal: (a) menempatkan ilmu-ilmu fardhu 'ain yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi dalam skala prioritas terakhir, atau dihapus sama sekali. Sehingga mahasiswa kedokteran misalnya, tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama. (b) mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas akademik. Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yang menjadi ukuran pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Rusaknya dunia pendidikan terjadi ketika ilmu diletakkan secara salah sebagai sarana untuk mengejar syahwat duniawi. Padahal Ali bin Abi Talib r.a., telah mengingatkan: "Barang siapa yang kecenderungannya hanya pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya".

*Penulis: Henri Shalahuddin


Ilmu dan Kebahagiaan*

0 komentar

Dalam bukunya, Tasauf Modern, Prof. Hamka pernah menyalin sebuah artikel karya Al-Anisah Mai berjudul ”Kun Sa’idan”. Artikel itu diindonesiakan dengan judul: ”Senangkanlah hatimu!”
Dalam kondisi apa pun, pesan artikel tersebut, maka ”senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih. Dalam kondisi apa pun.
”Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit....”
”Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu...”
”Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!
Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu...”
”Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.”


Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun, inilah, yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Tapi, apakah yang dimaksud bahagia? Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Maka, setelah dia dapat, dia menjadi pecinta harta. Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung menyinggahinya. Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah. Hidupnya penuh porblema. Masalah demi masalah membelitnya. Tak jarang, harta justru membawa bencana. Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara.

Sebagian orang mengejar kebahagiaan pada diri wanita cantik. Dia menyangka setelah mengawini seorang wanita cantik, maka dia akan bahagia. Tapi, tak lama kemudian, bahtera rumah tangganya kandas. Di depan sorot kamera, tampak mempelai begitu bahagia, bersanding wanita cantik. Namun, kecantikan sering menjadi fitnah dan kemudian membawa bencana. Pujian yang bertabur dari umat manusia tak membuatnya bahagia.

Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab, kekuasaan memang sebuah kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak. Tapi, betapa banyak manusia yang justru hidup merana dalam kegemilangan kekuasaan. Dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan, setelah kuasa di tangan. Sebelum memegang kuasa, senyuman sering menghiasai bibirnya. Namun, setelah kuasa di dalam genggaman, kesulitan dan keresahan justru menerpanya, tanpa henti.
Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan!
Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan!
Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan!
Orang biasa menyangka bahagia terletak pada kepopuleran!
Dan sangkaan-sangkaan lain...

Tapi, sesungguhnya, kebahagiaan bukanlah terletak pada itu semua. Semua kenikmatan duniawi bisa menjadi tangga yang mengantar kepada kebahagiaan. Semuanya adalah sarana. Bukan bahagia itu sendiri. Lihatlah, betapa banyak pejabat yang hidupnya dibelit dengan penderitaan. Lihat pula, betapa banyak artis terkenal yang hidupnya jauh dari kebahagiaan dan berujung kepada narkoba dan obat penenang!
Jika demikian, apakah yang disebut”bahagia” (sa’adah/happiness).

Selama ribuan tahun, para ahli pikir, telah sibuk membincang tentang kebahagiaan. Kamus The Oxford English Dictionary (1963) mendefinisikan ”happiness” sebagai: ”Good fortune or luck in life or in particular affair; success, prosperity.” Jadi, dalam pandangan ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersifat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka, menurut pandangan ini, tidak ada kebahagiaan yang abadi, yang tetap dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia.

Prof. Naquib al-Attas menggambarkan kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.” Tokoh panutan mereka adalah Sisyphus, yang selalu berusaha mendorong batu ke atas bukit. Tapi, ketika batu sudah sampai di atas bukit, digelindingkannya kembali batu itu ke bawah. Kemudian, dia dorong lagi, batu itu ke atas. Begitu seterusnya. Tiada pernah berhenti.

Itulah perumpamaan tentang kondisi batin masyarakat Barat yang menganut paham relativisme dan tidak mengenal kebenaran pada satu titik tertentu. Ketika sampai pada satu tahap tertentu, dia kembali menghancurkan dan mencari lagi. Mereka selalu dalam pencarian. Tidak akan pernah puas. Laksana meminum air laut. Jika sudah mendapatkan satu gunung emas, mereka akan mencari lagi gunung emas yang kedua.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Prof. Naquib Al-Attas mendefinisikan kebahagiaan (sa’adah/happiness) sebagai berikut:
”Kesejahteraan” dan ”kebahagiaan” itu bukan dianya merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan akal-fikri insan yang hanya dapat dinikmati dalam alam fikiran dan nazar-akali belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan Hakikat Terakhir yang Mutlak yang dicari-cari itu – yakni: keadaan diri yang yakin akan Hak Ta’ala – dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri itu berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.” (SMN al-Attas, Ma’na Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC:2002), pengantar Prof. Zainy Uthman, hal. xxxv).

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati, yang dipenuhi dengan keyakinan (iman), dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya, meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampong halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Imam al-Ghazali, seperti dikutip Hamka dalam Tasaud Modern, mengungkapkan: ”Bahagia dan kelezatan yang sejati, ialah bilamana dapat mengingat Allah.” Hutai’ah, seorang ahli syair, menggubah sebuah syair:
(Menurut pendapatku, bukanlah kebahagiaan itu pada pengumpul harta benda;
Tetapi, taqwa akan Allah itulah bahagia).

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ”ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:
”Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu ialah bila kita rasai nikmat kesenangan dan kelezatannya, dan kelezatan itu ialah menurut tabiat kejadian masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dari tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah teguh ma’rifat kepada Allah, karena hati itu dijadikan ialah buat mengingat Tuhan.... Seorang hamba rakyat akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan wazir; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan pula dengan raja. Tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan, lebih dari apa yang dapat dikira-kirakan oleh manusia, sebab tidak ada yang maujud ini yang lebih dari kemuliaan Allah... Oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.”

Ma’rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan, bahwa ”Tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ”ayat-ayat-Nya”, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri. Alam semesta ini adalah ”ayat”, tanda-tanda, untuk mengenal Sang Khaliq. Maka, celakalah orang yang tidak mau berpikir tentang alam semesta.

Disamping ayat-ayat kauniyah, Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa ”Tiada tuhan selain Allah”, dan bersaksi bahwa ”Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.” Risalah kenabian Muhammad saw telah menyempurnakan risalah para nabi sebelumnya.

Inilah yang disebut sebagai ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam, harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati, yang terkait antara dunia dan akhirat. Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang bayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri, dan sebagainya. Tetapi, apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal dan bahagia beribadah kepada Sang Pencipta.

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan; yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh setiap keadaan. Dalam kondisi apa pun, hidupnya bahagia, karena dia sudah mengenal Allah, ridha dengan keputusan Allah, dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya.

Dalam kondisi apa pun, dalam posisi apa pun, manusia semacam ini akan hidup dalam kebahagiaan. Fa laa khaufun ’alaihim wa laa hum yahzanuun. Hidupnya hanya mengacu kepada Allah, dan tidak terlalu peduli dengan reaksi manusia terhadapnya. Alangkah indah dan bahagianya hidup semacam itu; bahagia dunia dan akhirat.
Karena itu, kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Iqbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Karena itu, kata penyair besar Pakistan ini, hilangnya keyakinan dalam diri seseorang, lebih buruk dari suatu perbudakan.

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacam itu; hidup dalam keyakinan; mulai dengan mengenal Allah dan ridha menerima keputusan-keputusan-Nya, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita ingin, bahwa kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

*Penulis: Adian Husaini



Pemimpin*

0 komentar

Suatu ketika Zia ul Haq (alm.) Presiden Pakistan tahun 1977-1989, me ngumpulkan para wartawan untuk berdialog dan makan siang. Disela dialog itu Zia ul Haq bertanya kepada Nizami, pimpinan redaksi koran the Nation. “Nizami menurut anda siapa yang mendirikan dan membangun negara” , tanya Zia. Nizami agak lama berfikir memahami logika Zia, dan lalu men jawab “Politisi”. Zia tersenyum mendengar jawaban itu lalu berka ta, ”Ternyata wartawan sekelas anda masih berfikir sependek itu”. Orang mengira dia akan membanggakan dirinya. Tapi akhirnya ia membuka persepsinya, ”Sebenarnya, yang mendirikan dan membangun negara itu adalah para intelektual”. Demikian seterusnya dan Zia pun terus berwacana di seputar isu itu.


Zia ul Haq berfikir induktif. Di negerinya inspirator kemerdekaan bukan politisi. Pakistan merdeka dari India berkat terutama inspirasi Mohammad Iqbal. Selain itu terdapat nama-nama seperti Abul Ala al-Maududi, Amir Ali, Sir Syed Ahmad Khan dsb. Semua itu adalah intelektual. India merdeka dari jajahan Inggris karena kekuatan inspiratif Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Jawaherul Nehru dan lain-lain. Nampaknya, dari kasus dikedua negeri itulah kesimpulan Zia tercetus.


Tapi kesimpulan Zia boleh jadi universal. Kita pasti setuju bahwa Indonesia dibangun diantaranya oleh HOS Cokroaminoto adalah guru inspiratif Soekarno dan pemimpin gerakan kebangsaan berdasarkan Islam. Dr.Wahidin Sudiro Husodo, Pencetus Gerakan Budi Utomo berwatak Jawa. Agus Salim digelari Soekarno ulamaintelek, aktor intelektual dari gerakan kemerdekaan Indonesia. KH. Ahmad Dahlan, KH.Hasyim Asy’ari, Ki Hajar Dewantoro, M. Natsir serta sejumlah Ulama dan intelektual lainnya. Mereka itu adalah intelektual yang politisi dan politisi yang intelek. Soekarno dan Hatta sendiri sebenarnya adalah intelektual. Mereka itulah the founding fathers negeri ini. Jika ini disepakati, maka Zia ul Haq adalah benar. Negeri kita juga tidak didirikan oleh para politisi, tapi para intelektual yang bervisi politik.

Gordon S Wood dalam buku The Pu blic Intellectual menganggap the founding fathers sebagai men of ideas and thought, leading intellelctual sekaligus political leaders. Tapi sejatinya mereka itu secara revolusioner bukan politisi an sich atau intelektual murni seperti dalam pengertian modern yang parsial. Mereka itu adalah intelektual yang tidak teralienasi dan pemimpin politik yang tidak terobsesi oleh pemilu. Mereka hidup dalam dunia ide dan realitas dunia politik tapi tidak utopis dan juga tidak pragmatis.

Bagi Leonard Peikoff, dalam The Ominous Parallels, The Founding Fa thers tidak hanya memiliki ide-ide revolusioner, tapi juga mampu menerjemah kannya ke dalam realitas sosio-politik. Ayn Rand dalam bukunya For the New Intellectual menjuluki mereka sebagai thinkers who were also men of action. Me nurut John Lock merekalah yang men dirikan negara sebagai institusi yang khas. Inilah yang dimaksud Zia ul Haq.

Begitu idealkah mereka? Benar, karena al-fadhlu lil mubtadi walau ahsana al-muqtadi. Pujian diberikan kepada pembuka jalan, meski sang penerus bisa lebih baik. Buktinya generasi sekarang melihat mereka bagaikan mitos, tapi historis. Mereka memuji tapi tidak bisa mengikuti. Petuah mereka digugu tapi in tegritas mereka tidak dapat ditiru. Gor don juga mengkiritik, kita terlalu ba nyak memuji tapi tidak banyak memahami. Memahami mengapa generasi za man revolusi bisa begitu, sedang generasi sekarang tidak. Mengapa idealisme dan politik tidak bisa bersatu. Mengapa politik hanya dianggap amal yang lepas dari ilmu, retorika yang tanpa logika. Mengapa politik berarti membangun kekuasaan, bukan peradaban. Padahal kekuasaan hanyalah tahta yang tak berarti tanpa ilmu, moralitas dan tujuan.

Samuel Eliot Morrison and Harold Laski, keduanya sejarawan Amerika, percaya bahwa dalam sejarah modern, tidak ada periode yang kaya dengan ideide politik yang memberi banyak kontribusi kepada teori politik Barat. Ini menurut Gordon S Wood disebabkan oleh kualitas intelektual dalam kehidupan politik masa kini yang turun drastis. Ide telah dipisahkan dari kekuasaan. Dan itu semua adalah harga yang harus dibayar oleh sistem demokrasi, tulisnya.

Kalau Gordon beragama, mungkin ia akan berkata itulah harga yang harus dibayar oleh sekularisme. Agama “tidak mesti bisa” menjadi bekal berpolitik. Prinsip “Jangan bawa agama ke ranah politik” seperti sudah menjadi konvensi. “Berpolitik tidak bisa hitam putih” berarti berpolitik tidak harus ilmiah. Benar salah dalam dunia akademik tidak menjadi ukuran. Rumusannya bisa begini, ”Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah, ilmuwan tidak boleh bohong tapi boleh salah”. Inilah sebabnya mengapa seorang profesor dan ulama tidak “mudah” mengikuti logika politik.

Singkatnya, tidak berarti penerus tidak bisa berfikir revolusioner. Dalam sejarah Islam para khalifah umumnya memiliki ghirah ilmiyyah. Umar ibn Abdul Aziz adalah khalifah penerus yang sangat revolusioner. Adh-Dhahabi menyebutnya ulama yang amilin, artinya juga alim yang amir. Ia mampu mengembangkan ekonomi dan ilmu pengetahuan sekaligus. Ia membangun politik dan juga peradaban. Rakyatnya tidak layak menerima zakat karena sejahtera lahir dan batin. Intelektualitasnya adalah dasar dari keadilannya. Ilmunya menjadi bekal amalnya. Itulah umara-ulama yang dapat menjadi cahaya (misykat) bagi umat manusia. Wallahu a’lam.


*Penulis: Hamid Fahmy Zarkasyi


Cinta ditolak Otot bertindak

Rabu, 03 Februari 2010 0 komentar

“Aku adalah insan kesepian yang hanya ditemani oleh kesunyian malam, Petang tanpa terang…hembusan angin malam yang begitu kencang seakan mengusik jiwaku yang sedang terpuruk dalam kesendirian…adakah insane yang mengerti hati ini…? Kutanya pada rembulan kutanya pada bintang, namun mereka hanya diam tanpa secuil jawaban….”

Inilah suara hati dari seorang laki-laki yang sedang kesepian dalam kesunyian malam…Untuk mengobati rasa kesepian dan kegelisahannya, laki-laki itu mengotak atik hp-nya, melacak dan mengecek nomor telepon satu persatu….akhirnya dia menemukan nomor telepon teman lamanya…sebut saja Fitri namanya…

Dengan rasa iseng dan kangen laki-laki itu mencoba memiskolnya dengan nomor baru…karena sudah lama tidak kontak…ternyata nomornya masih aktif…tanpa piker panjang laki-laki tiu langsung menulis sms “ nice dream for you…” kemudian dikirim melalui nomor yang baru tadi….

Detik demi detik, menit demni menit laki-laki itu menunuggu balasan…namun tak septah katapun ada balasan…dia tetap menunggu sampai akhirnya dia terlelap dan tertidur…dipagi harinya..tiba-tiba hp berdering namun ia abaikan karena ia lagi sibuk beres-beres kamar….selang setengah jam kemudian setelah beres-beres kamar…ia mengecek hp-nya …ternyata ada sms masuk dari teman lamanya sebagai balasan dari sms yang tadi malam…kemudian laki-laki itu melanjutkan dengan sms-an dengannya…

-assalamualaikum…,maaf kalo boleh tau ni cpa ya….?makasih atas ucapan met bo2knya tadi malam…
+ni dengan Anton ( sebut saja begitu namanya ),gmn kabarnya……?
-baik mas,tapi juga pusing….aku di teror ma orang lewat sms dan privat number….
+diteror gmn…?di ancam…di kerjain..atau di yang lain…..?
-aku diancam mas…karena aku nolak dia tuk jadi pacar aku…dan aku bilang kalu aku dah punya suami…aku takut mas…aku gak mau kenangan pahit masa sekolahku terulang kembali……
+emangnya punya kenangan apa waktu di sekolah….?
-aku pernah pas pulang sekolah dipukulin ama cowok…kemudian aku dibawa …gak tau aku kemana….tapi Alhamdulillah Allah masih sdayang ma aku…ketika sampai di tengah jalan…ada dua mobil yang mau lewat dengan berlawanan arah…ya dia terpaksa berhenti…saat itu aku kabur dan bersembunyi….dan aku selamat…
+teman atau orang lain yang neror….?
-aku gak tau mas…Karen aprivat number…tapi aku yakin…dia salah satu dari orang yang sku tolak cintanya…bahkan ada yang pernah hampir………………..ah pokoknya kurang ajar banget….aku takut mas……
+hampir apa dulu…….?ceritain donk……
-ah masak mas….aku harus jelasin…..malu aku…..
+dijelasin lebih baik…gak di jelasin gak apa-apa…tapi diharapkan….
-ya udah….aku hampir di tidurin ma dia…..
+terus gimana…..?
-karena aku punya sedikit gerakan silat….aku bisa melarikan diri dan aku terselamatikan oleh orang….
+ooooooooooogitu tah……?
-yo’i……………….
+sekarang gimana……………..?
-sekarang dia tetap menerorku…dan dia mengancam…selama janur kuning belum melungkung….dan cincin melingkar di jari dia tetap menerorku…..
+cowoknya gmn………………..?
-dia bukan orang baik-baik…dia suka judi…miras…dan narkoba….
+kalo begitu kamu harus jaga diri dan berdo’a agar kejadian yang telah kamu alami tidak terulang lagi…lebih-lebih yang itu…………eman lho……………..kalu perlu pindah aja dari tempatmu ke tempata yang lebih aman…………
-kalau masalah jaga diri so pasti….tapi kalau pindah tempat……aku mikir seribu kali karena dirumah aku sendirian….dan harus kemana aku pindah………?sebenarnya apa sih yang dia sukai dari aku….?aku jadi bingung…..
+yang jelas pasti ada yang menarik dari dirimu di mata dia…karena yang namanya cewek pasti menarik buat cowok….itu sudah hokum alam……
-iya saya tau mas…tapi kenapa harus sampai begini……….?
+yaaa….yang sabar…dan selalu minta pertolongan pada Allah swt……
-yaaa….semoga apa yang aku takutkan tidak akan terjadi lagi…..amin….makasih yam as….udah meluangkan waktunya tuh curhat…..
+sama-sama….semoga kita jumpa kembali………………….!assalamualaikum…..
-waalikum salam…………..


Kepemimpinan Abu Bakar

Selasa, 02 Februari 2010 2 komentar

PENDAHULUAN

Pemimpin memilik kedudukan yang sangat penting, kelompok, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Suatu komunitas masyarakat, bangsa dan Negara tidak akan maju,aman dan terarah jika tdak adanya pemimpin. Maka pemimpin menjadi kunci keberhasilkan dalam suatu komunitas masyarakat. Pemimpin yang mampu member rasa aman, temtram, mampu mewujudkan keinginan rakyatnya. Maka dianggap sebagai pemimpin yang sukses. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang dicintai oleh yang dipimpinnya, sehingga pikirannya selalu didukung, perintahnya selalu di ikuti dan rakyat membelanya tanpa diminta terlebih dahulu.
Figur kepemimnan yang mendekati penjelasan tersebut adalah Rasulullah beserta para sahabatnya (khulafaur Rasyidin). Abu Bakar dan Umar ibn Khattab terpili untuk menjadi kalifah setela Rasulullah merupakan anugrah terendiri, atau semacam keistimewa yang diberikan Allah kepada mereka. Karena pada dasarnya sabat rosul merupakan orang akan mewarisi dakwah islamiyah/ risalah bagi seluruh umat manusia segalisus menjadi pemimpin bagi mereka dengan keteladanan yang mereka unggulkan dan keistikomahan di dalam menjalankan syari’at-syari’at yang telah diajarkan oleh Allah dan Rosul-Nya, baik melalui kitabullah maupun sunnah rosulullah swa.
Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana kipra atau kepemimpinan pada masa kholifahan abu baker dan umar bin khottob selama mereka menjadi pemimpin serta problematika-problematika yang mereka hadapi sekaligus kemajuan yamg telah mereka capai di dalam meraka memperjuangkan memperluas daerah kekuasaan Islam, sehingga Islam bisa jaya ketika itu.




A. Problematika dan Realitas Kepemimpinan Abu Bakar
1. Asal Usul dan Nasab Abu Bakar
Abu bakar dari kabilah taim bin Murrah bin ka’ab. Nasabnya bertemu dengan Nabi Adnan. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi quhafah, ibinya bernama Ummul Khair. Disebutkan juga, bahwa sebelum masuk Islam ia bernama Abdul ka’ab. Setelah masuk Islam oleh Rasulullah di panggil Abdullah. Dan mengenai julukan Abu Bakar, ada yang menyimpulkan bahwa dijuluki bgitu karena ia orang yang paling dini (bakar) masuk Islam dibandingkan dengan yang lain
2. Peristiwa Tsaqifah Bani Sa’idah
Sejarah mengatakan bahwa, Rasulullah ketika wafat pada tahun 11 H, tidak meninggalkan wasiat orang yang akan menggatikannya. Oleh karena itu para sahib segerah bermusyawarah di suatu tempat yaitu tsaqifah bani saidah guna memili pengganti Rosulullah untuk memimpin umat islam. Dalam pertemuan itu mereka mengalami kesulitan bahkan hampir terja perpecahan di antara golongan, karena masing-masing golongan mengajukan colon pemimpimn dari golongannya sendiri-sendiri. Pihak dari ansor mencalonkan sa’ad bin Ubaidah, sedangkan pihak lain menghendaki Ali bin Abi Tholib sebagai penganti beliau. Peristiwa itu diketahui umar, kemudian ia pergi ke kediaman Nabi dan mengutus seorang untuk menemani Abu Bakar. Kemudian ia berangkat dan dalam perjalanan ia bertemu dengan Ubaidah bin Jarrah. Setibannya dibalai Bani Sa’ad, ia mendapat dua golongan besar kaum Anshar dan Muhajirin sedang bersitegang
3. Sistem Politik Islam Masa Khalifah Abu Bakar
Pergantian Abu Bakar sebagai kholifah sebagaimana dijelaskan pada peristiwa tsaqifah bani sayyidah, merupakan bukti bahwa kholifah menjadi kholifah bukan masa kehendaknya sendiri, tetapi hasil musyawarah mufakat ummat Islam. Maka mulailah beliau menjalankan kekholifahannya, baik sebagai pemimpin ummat maupun sebagai pemimipin pemerintahan
Adapun sistem politik islam pada masa Abu Bakar bersifat “sentral” jadi kekuasaan legeslatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah, meskipun sedemikian dalam memutuskan suatu masalah, Abu Bakar selalu mengajak para sahabat untuk bermusyawarah. Karena sistem musyawarah yang dijalankan Abu Bakar dalam pemerintahannya, itu makin memperkuat persatuan itu . Karena rasa tangung jawab yang begitu tinggi dalam diri Abu Bakar juga, maka setipap tindakan yang akan dilakukanya ia musyawarahkan terlebih dulu dan beristikhoroh kapada Allah. Jika Allah telah memberikan pilihannya maka barulah Ia bertindak.
Sedangkan kebijaksanaan politik yang dilakukan Abu bakar dalam mengembang kekekhlifahannya yaitu:
1. Mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah bin Zaid, untuk memerangi kaum Romawi sebagai realisasi dari rencana Rasulullah, ketika Beliu masih hidup. Sebenarny dikalangan para sahabat termasuk Umar bin Khottob banyak yang tidak setuju dengan kebijaksanaan kholifah ini. Alasan mereka, karena dalam negeri sendiri paada saat itu timbul gejala kemunafikaqn dan kemurtadan yang merambah untuk menghancurkan islam dari dalam. Tapi Abu bakar tetap mengirim pasukaqn usamah un tuk menyerbu Romawi, sebab menurutnya hal itu merupakan perintah Nabi SAW.
2. Timbulnya kemunafikan dan kemurtadan hal ini disebabkan adanya an-ggapan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW. Wafat, maka segala perjanjian Nabi menjadi terputus. Adapun orang murtad pada waktu itu ada dua: yatiu
a. Mereka yang menganggap Nabi dan pengikutnya, termasuk didalamnya orang yang meninggalakan sholat, zakat dan kembali mmelakukan kebiasaqan jahliah.
b. Mereka membedakan antara sholat dan zakat, tidak mau mengakui kewajiban zakat dan mengeluarkannya.
3. Mengembangkan wilayah islam keluar Arab. Ini ditujukan ke Siria dan Persia. Untuk keluasan islam keseria yang dikuasai Romawi ( Kaisar heraklius). Abu Bakar menugaskan empat pangliama yatiu Ziaid Bin Abu Sufyan . ditmpatkan didamaskus, Abu ubaida di hams, Amir bin Ash di palistina, dan Surambil bn hasanah di yordan
Adapun kebijakan bidang pemerintahan yang di lakukan oleh Abu Bakar adalah:
a. Pemerintahan Berdasarkan Musyawarah
Apabila terjadi suatu perkara, Abu bakar selalu mencari hukunnya dalam kitab Allah, jika beliau tidak memperolohnya maka beliau mempelajari bagaimana rosul bertindak dalam suatu perkara. Dan jika tidak ditemukanya apa dicari, beliaupun mengumpulkan toko-tokoh terbaik dan mengajak mereka bermusyawarah. Apapun yang diputuskan mereka setelah pembahasan, diskusi dam penelitian, beliaupun menjadikan sebagai suatu keputusan dan suatu peraturan.
b. Amanat Baitul Mal
Para sahabat Nabi, beranggap bahwa Baitul Mal adalah amanat Allah dan masyarakat kaum muslimin. Karena itu mereka tidak mengijingkan pemasukan sesuatu kedalamnya dan pengeluaran pada sesuatu darinya. Yang berlawanan dengan apa yamg telah ditetapkan oleh syari;at. Mereka mengharamkan tindakan penguasa yang menggunakan baitul mal untuk mencapai tujuan pribadi.
c. Konsep Pemerintahan
Politik dalam pemerntaha Abu Bakar telah beliau jeleskan sendiri kepada rakyat banyak dalam sebua pidatonya : “wahai manusia! Aku telah di angkat untk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukan orang yang terbak di antara kalian. Maka jikalau aku dapat berbuat dan menunaikan tugasku dengan baik, maka bantuluh aku dan ikutlah aku. Tetapi jika aku berbuat salah maka luruskanlah! Orang yang s aku pandang kuat sampai aku bisa mengambil hak kepadanya. Maka hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat keada Allah dan Rasul Nya, maka jangan ikuti aku.
d. Kekuasaan Undang-Undang
Abu Bakar tdak pernah menempatkan diri beliau di atas undang-undang. Beliau juga tidak pernah memberi sanak kerabatnya suatu kekuasaan yang lebih tinggi dari undang-undang. Dan mereka itu dihadapkan undang-undang adalah sama seperti rakyat yang lain, baik kaum Muslimn maupun non Muslim.
4. Penyelesaian Kaum Riddat dan Nabi Palsu
Khalifah Abu bakar yang begitu singkat sangat disibukan dengan peperangan. Dalam pertepuran itu tidak hanya melawan musuh-musuh Islam dari luar, tetapi dari dalam. Hal n terjadi karena ada sekelompok orang yang memancangkan panji pemberontakan terhadap Negara islam di madinah dan meninggalkan islam setelah Rosulullah wafat.
Gerakan riddah bermula menjelan Nabi Muhammad jatuh sakit. Ketika tersiar berita beliau, maka gerakan berbelok agama itu meluas di wilayah bagian tengah, timur, selatan sampai Madinah dan Makkah, tempat itu sudah di kepung ketika Abu Bakar menjadi sebagi khalifah.
Gerakan riddat itu bermula dengan kemunculan tiga tokoh yang mengaku dirinya Nabi,guna menyayangi Nabi Muhammad SAW, yaitu MusailamahThuia,Aswad Al-Insah. Para Nabi palsu tersebut pada umumnya menarik hati para orang islam dengan membebaskan prinsip-prinsip moralis dan upacara keagamaan seperti membolehkan minuman-minuman keras, berjudi. Mengurangi Sholat lima waktu menjadi tiga, puasa Rhamadan di hapus, mengubah pembayaran zakat yang wajib menjadi sukarela dan meniadakan batasan dalam perkawinan.
Gerakan Nabi palsu itu berusaha mengusai dan mempengaruhi masyarakat islam dengan menggerakkan pasukan untuk masuk ke daerah-daerah dan mereka semakin gencar melaksanakan misinya. Akan tetapi, Kholifah Abu Bakar tidak tinggal diam, beliau berusaha untuk memadamkan gerakan kaum riddah. Dengan sikap Kholifah Abu Bakar membentuk sebelas pasukan dan menyerahkan Al-liwa,(panji pasukan) kepada masing-masing pasukan. Untuk menumpas hal tersebut Ia membentuk sebelas pasukan masing-masing dipimpin oleh panglima perang yang tangguh seperti Khalid bin Walid,Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Surabil bin Basanah. Dalam waktu singkat. Seluruh kekacauan dan pemberontakan. yang terjadi dalam Negeri dapat ditumpas dengan sukses.
5. Usaha Abu Bakar dalam Mengembangkan Dakwah
Kemajuan yang telah di capai pada masa pemerintahan Abu Bakar selama kurang lebih dua tahun di dalam pengembangan Islam antara lain:
1. Perbaikan social (masyarakat)
2. Perluasan dan pengembangan wilayah islam
3. Mengumpulkan ayat-ayat Al-qur’an
4. Sebagai Kepala Negara dan pemimpin umat Islam
5. Meningkatkan kesejahteraan ummat
Perbaikan sosuial yang dilakukan Abu Bakar ialah usaha untuk menciptakan stabilitas wilayah slam dengan berasilnya mengamankan Tanah Arab dari para penyelewengan (orang-orang murtad, Nabi-nabi palsu dan orang-orang yng enggan membayar zakat).
Adapun usaha yang ditempuh untuk perluasan dan pengembangan wilayah Islam Abu Bakar melakukan perluasan wilayah luar jazirah Arab. Daera yang dituju adalah iraq dan Syria yamg berbatasan langsung dengan wilayah kekuasan islam.
Sedangkan usaha yang ditempuh untuk pengumpulan ayat-ayat Al-qur’an adalah atas usulan dari sahabat Umar bin Khattab yang merasa kekawatiran kehilangan Al-qur’an setelah sahabat yang hafal Al-qur’an banyak gugur dalam peperangan, terutama waktu memerangai para Nabi palsu.
Alasan lain karena ayat-ayat Al Qur’an banyak berserakan yang tulis pada daun kurma, kulit kayu, dan lain sebagainya. Hal ini di khawatirkan mudah rusak dan hilang.
Kemamapuan yang di embank sebagai kepala Negara dan pemimpin
Umat slam, Abu Bakar sensantiasa meneladani perilaku Rasulullah SAW bahkan perinsip musyawarah dalam pengambilan keputusanseperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Selalu dalam perakteknya. Ia sangat memeperhatkan kepentingan keadaan rakyatnya dan tdak segan-segan membantu mereka yang kesulitan. Sahabat yang telah menduduki jabatan pada masa Nabi Muhammad SAW, tetap di biarkajn pada jabatanya, sedangkan sahabat lainya yang belum mendapatkan jabatan dalam pemerintahan juga di angkat berdasarkan kemampuan dan keteramfilan yang dimiliki.
Sedangkan kemajuan yang dicapai untuk meningkatkan kesejateraan ummat, Abu Bakar membantu lembaga “Baitul Mal” semacam kas Negara atau lembaga keuangan. Pengolahannya diserahkan ada Abu Ubaidah dan sahabat Nabi SAW yang di gelari “Amin Al- Ummah” (Kepercayaan Ummat).Selan itu didirikan lembaga peradilan yang diketuai oleh Umar bin Khattab.
Kebijaksanaan lain yang ditempuh Abu Bakar membagi sama rata hasil tampasan perang (ghanimah). Dalam hal ini ia berbeda pendapat dengan Umar yang menginginkan pembagian dilakukan atas dasar jasa tiap-tiap sahabat. Alasan yang dikemukkan Abu Bakar adalah semua perjuangan yang dilakukan atas nama Islam adalah akan mendapat balasa pahala dari Allah SWT diakirat.
Persoalan besar yang sempat di selesakan Abu Bakar sebelum wafat adalah menetapkan calon Khalifah yang akan mengantikannya. Dengan demikian Ia telah mempersempit peluang bagi timbulnya pertikaian di antara ummat Islam mengena jabatan Khalifah. Dalam menetapkan calon penggantinya, Abu Bakar tidak memilh anak atau kerabat yang terdekat, melankan m,emiolih oramngt lain yang secara obyektif di nilai mampu mengemban amanah dan tugas sebagai Khalifah. Yaitu sahabat Umar bin Khattab. Pilihan tersebut tidak d putuskan sendiri, tetapi di musyawarahkanya terlebih dahuklu dengan para sahabat besar. Setelah di sepakati barulah Ia mengumumkan calon Khalifah itu.
Abu Bakar dengan masa pemerintahannya yang amat singkat kira-kira dua tahun, telah berhasil mengatasi tantangan dalam negeri Madinah yang baru tumbuh, dan juga menyiapkan jalan bagi perkembangan dan perluasan Islam di Semenanjung Arab.
6. Sistem Hukum dan Khazanah Keagamaan Pada Masa Abu Bakar
Pada masa Abu Bakar, sistem hukum dalam masyarakat ketika itu berlaku untuk setiap individu, baik ia kaya maupun miskin, laki-laki maupun wanita, kecil maupun besar. Karena keadilan itulah yang harus di wujudkan dalam masyarakat ideal. Dan hokum Islam atau syariat Islam di posisikan atas kekuasaan masyarakat islam ideal.
Pengembangan sistem hukum pada masa itu di lakukan dengan bentuk ijtihad para sahabat apabila menjumpai permasalahan yang berkembang dan tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Karena para sahabat memilki otoritas untuk melakukan ijtihad, baik itu dilakukan secara personal maupubn kesepakatan bersama (Ijma’us sahabat) yang dijadikan hukum nomot tiga setelah Al-qur’an dan sunnah Rasullah SAW.


SDM Perpustakaan

0 komentar

Sumber daya manusia perpustakaan terdiri dari pustakawan, tanaga fungsional lain dan tenaga administrasi berfungsi untuk menggerakkan aktivitas perpustakaan. Kualitas mereka perlu ditingkatkan terus menerus agar mampu mengoptimalkan kinerja dan menggerakkan sumber daya lainnya.
Perlunya peningkatan kualitas karena adanya realitas di lapangan bahwa mereka itu kurang motivasi, rendah kinerja, kurang berani tampil, mandul pemikiran dan bekerja statis. Hal-hal seperti inilah yang kurang mampu mendorong perkembangan perpustakaan dan profesi pustakawan di negeri ini.
Peningkatan sumber daya manusia tidak harus dengan biaya mahal. Maka upaya peningkatan ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan formal, informal dan nonformal.


A.Keriteria Petugas
Pada umumnya, karyawan – karyawan yang beretos kerja terbaik itu akan berperilaku atau pun berciri-ciri seperti.
1. Mereka akan bekerja untuk membangun reputasi dan kredibilitas dirinya, agar dirinya dihargai perusahaan. Mereka sadar bahwa prestasi dan karir kerja mereka hanya akan berjalan baik, bila mereka mampu berdedikasi total kepada pekerjaan mereka.
2. Mereka sangat loyal kepada pimpinan dan perpustakaan. Mereka juga tidak pernah hitung-hitungan jam kerja. Apa pun kejadiannya, mereka akan mengutamakan tanggung jawab pekerjaannya secara maksimal.
3. Mereka bergabung ke perpustakaan dengan membawa misi dan visi pribadi mereka. Yang pasti, mereka akan menggunakan perpustakaan sebagai kendaraan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka, baik itu dari sisi finansial, maupun dari sisi status sosial mereka.
4. Mereka selalu fokus dan memiliki Komitmen tinggi untuk menjalankan semua rencana kerja perpustakaan secara total dan berkualitas. Mereka akan mendedikasikan dirinya untuk bekerja keras mengejar target-target yang diberikan perpustakaan
5. Demi untuk keberhasilan perpustakaan, mereka selalu bekerja dengan cara melakukan kolaborasi, koordinasi, komunikasi dengan atasan dan bawahan mereka.

B. Promosi Perpustakaan
Promosi perpustakaan adalah aktivitas memperkenalkan perpustakaan dari segi fasilitas, koleksi jenis layanan, dan manfaat yang dapat diperoleh oleh setiap pemakai perpustakaan secara lebih terperinci, tujuan promosi perpustakaan adalah :
1. memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat pemakai mendorong minat baca dan mendorong masyarakat agar menggunakan koleksi perpustakaan semaksimalnya dan menambah jumlah orang yang membaca
2. memperkenalkan pelayanan dan jasa perpustakaan kepada masyarakat.
Metode memamerkan jasa perpustakaan dapat berupa nama dan logo, poster dan panflet, pameran, media dan video, ceramah, dan iklan
Sarana promosi bentuk tercetak yang dapat dilakukan untuk sarana promosi perpustakaan, antara lain adalah sebagai berikut : brosur , poster, map khusus perpustakaan, pembatas buku
Hal lain yang harus diketahu untuk mempromosikan perpustakaan adalah unsur-unsur promosi seperti di bawah ini :
- attention/perhatian - action/tindakan
- interest/ketertariakan - satisfy/kepusan
- desire/keinginan

C. Kiat Menarik Pengunjung
Salah satu cara yang efektif untuk menembus pembatas dan penghalang komunikasi antara perpustakaan dan penggunanya adalah dengan jalan mengadakan kegiatan perpustakaan yang melibatakan staf perpustakaan dan pengguna. Beberapa macam kegiatan yang dapat dilakukan untuk promosi antara lain dengan peningkatan diri para petugas perpustakaan yaitu dengan berusaha tampil penuh percaya diri, berpandangan positif, dan berpakaian dengan sopan dan rapi.
Pendekan pada guru dilakukan dengan cara proaktif, membuat daftar buku yang ada di perpustakaan berkenaan dengan tiap mata pelajaran dan diberikan kepada masing-masing guru sesuai dengan mata pelajarannya, meminta daftar buku yang diperlukan guru-guru dalam menunjang pengajaran mereka
Pendekatan dengan pihak pemimpin dengan cara membuat perencanaan jangka pendek (1 tahun) yang berkualitas dengan argumentasi yang kuat dan diajukan kepada kepala sekolah, membuat laporan pembangunan perpustakaan secara periodik (perkuartal, persemeter, atau pertahun, mengajukan kepada kepala sekolah agar mewajibkan anak didik mengikuti kelas perpustakaan satu jam pelajaran dalam satu minggu
Selain itu petugas juga memberikan pelayanan yang baik agar kepuasan pengguna tercapai yaitu dengan memelihara penantaan buku yang rapi agar buku mudah didapat, membiasakan diri agar biasa berdisiplin dengan waktu, melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Kegiatan penunjang perpustakaan yang lain adalah membuat poster, membuat pamflet, mengadakan pameran buku





Pelayanan dan Peralatan Perpustakaan

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
Perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan.

Perpustakaan memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. Sedangkan perpustakaan merupakan jantung bagi kehidupan aktifitas akademik, karena dengan adanya perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, perpustakaan harus menjadi sarana aktif/interaktif dan menjadi tempat dihasilkannya berbagai hal baru.

Oleh karena itu pada makalah ini kami bahas tentang salah satu bagian dari manajemen perpustakaan, yaitu tentang pelayanan, perlengkapan dan sumber daya manusia petugas. Yang meliputi : sirkulasi, referensi, tata tertib, peralatan, perlengkapan, keriteria petugas, da kiat menarik pengunjung.
Semoga dengan pembahasan ini dapat memberikan kontribusi dan pemahaman mahasiswa tentang pengelolaan perpustakaan.


BAB II
PEMBAHASAN
A.Pelayanan
Perkembangan perpustakaan dilihat dari kepentingan pengguna dirasakan belum menggembirakan. Masih banyak “tuntutan” pengguna yang belum dapat dipenuhi oleh perpustakaan.

Untuk itu perlu kiranya dipikirkan sebuah sinergitas yang mengakomodasi kedua kepentingan tersebut sehingga terjadi keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Perpustakaan, Universitas dan Pengguna perlu berjalan bersama untuk memikirkan sebuah perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik.
Bidang layanan perpustakaan ini dapat dilihat dari beberapa hal seperti:
a. Layanan Sirkulasi
Penerapan dalam bidang layanan sirkulasi dapat meliputi banyak hal diantaranya adalah layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dll. Selain itu dapat juga dilakukan silang layan antar perpustakaan yang lebih mudah dilakukan apabila teknologi informasi sudah menjadi bagian dari layanan sirkulasi ini.
b. Layanan Referensi
Penerapan dalam layanan referensi dan hasil-hasil penelitian dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri sumber-sumber referensi bahan pustaka yang ada.
c.Layanan Tata tertib
Mahasiswa yang akan meminjam koleksi perpustakaan wajib mentaati tata tertib sebagai berikut :

a).Menunjukan kartu anggota perpustakaan yang masih berlaku.
b). Bertanggung jawab atas bahan bacaan yang di pinjam dan tidak di perkenankan mengembalikan buku melalui orang lain.
c).Jangka waktu peminjaman bahan pustaka untuk di bawa pulang kerumah : mahasiswa, dosen, serta karyawan maksimal 1 ( satu ) minggu apabila terlambat dikenakan sangsi/ denda Rp. 500.- ( lima ratusrupiah ) satu hari satu buku.
e).Wajib meninggalkan identitas diri ( kartu tanda mahasiswa, kartu forum, DPP ( pembayaran uang perkuliahan ) yang masih berlaku pada petugas bagian peminjaman .
f).Buku pinjaman dapat di perpanjang kembali bila tidak ada yang memerlukannya, untuk memperpanjang jangka waktu peminjaman buku tersebut, harus di bawa kebagian peminjaman guna untuk di berikan tanggal kembali yang baru. Lamanya perpanjangan buku 2( dua ) kali 1 ( satu ) minggu bagi mahasiswa.

B. Perlengkapan
Perabot perpustakaan adalah sarana pendukung atau perlengkapan
perpustakaan yang digunakan dalam proses pelayanan pemakai perpustakaan dan merupakan kelengkapan yang harus ada untuk terselenggaranya perpustakaan.
Yang termasuk dalam perabot/perlengkapan perpustakaan antara lain : Rak buku, Rak majalah, Rak surat kabar, Rak atlas dan kamus, Papan peraga / pameran, Laci penitipan tas, Lemari catalog, Lemari multi media, Lemari Arsip, Meja dan kursi sirkulasi, Meja dan kursi baca, Meja dan kursi pegawai, Kereta buku, barang, dan Tangga beroda.

Sedangkan peralatan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara
langsung dalam mengerjakan tugas/kegiatan di perpustakaan. Yang termasuk
dalam perlengkapan perpustakaan antara lain :buku pedoman perpustakaan,Buku klasifikasi, Kartu catalog, Buku Induk, Kantong buku, Lembar tanggal kembali, Label, Cap inventaris, Cap perpustakaan, Bak stempel, Kartu pemesanan, Mesin ketik/Komputer, ATK, Selotip,dan Lem dll.












Paham Kesetaraan Gender dalam Studi Islam*

Senin, 01 Februari 2010 0 komentar

Pendahuluan
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Umar ibn al-Khattab r.a, hendak mengadukan akhlak isterinya. Sesampainya di sana, dia berdiri menunggu di depan pintu. Tiba-tiba dia mendengar isteri Umar sedang ngomel-ngomel memarahi beliau. Umar pun hanya terdiam, tidak membalas omelan isterinya. Lelaki itu pun pulang dan berkata pada dirinya: "Jika saja seorang Amirul Mukminin seperti ini, lalu bagaimana dengan diriku?" Tidak lama berselang, Umar keluar dan melihat lelaki itu sedang meninggalkan rumahnya, lalu memanggilnya: "Apa keperluanmu?!" Dia menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, saya datang bermaksud untuk mengadukan akhlak isteriku yang suka memarahiku kepadamu. Lalu aku mendengar isterimu tengah memarahimu. Maka aku berkata pada diriku sendiri: "Jika Amirul Mukminin saja sabar menghadapi omelan isterinya, lalu kenapa saya harus mengeluh?" Maka Umar berkata: "Wahai saudaraku, sesungguhnya saya bersabar, karena memang isteriku mempunyai hak atasku. Dialah yang telah memasak makanan buatku, mencuci pakaianku dan menyusui anakku, padahal kesemuanya itu tidak diwajibkan atasnya. Di samping itu, dia telah mendamaikan hatiku untuk tidak terjerumus kedalam perbuatan yang diharamkan. Oleh karena itu, aku bersabar atas segala pengorbanannya". "Wahai Amirul Mukminin, isteriku pun demikian", kata lelaki tadi. Maka Umar pun menasehatinya: "Bersabarlah wahai saudaraku, karena omelan istrimu itu hanyalah sebentar". Demikianlah kedudukan perempuan dalam Islam, sehingga sang khalifah pun memberikan suri tauladan yang baik dalam berinteraksi dengan mereka.
Namun ternyata tidak sedikit umat Islam yang tidak perduli dengan teladan yang diberikan tokoh-tokoh terkemuka umat Islam dan justru terkesima dengan paham-paham yang berasal dari Barat. Paham feminisme dan kesetaraan gender misalnya, yang merupakan respon atas kondisi lokal terkait dengan masalah politik, budaya, ekonomi dan sosial yang dihadapi masyarakat Barat dalam menempatkan perempuan di ruang publik, justru marak didengung-dengungkan di dunia Islam. Padahal umat Islam memiliki tradisi, khazanah keilmuan dan latar belakang permasalahan yang berbeda dengan Barat. Ini tentu tidak terlepas dari hegemoni Barat, yang memang pada zaman ini menjadi sebuah kawasan yang sedang maju dalam bidang teknologi, persenjataan dan pembangunan fisik-empirik lainnya, sehinga mempengaruhi kawasan-kawasan yang belum maju. Hal ini sudah menjadi sunnatullah bahwa pihak yang kalah akan meniru yang menang, sebagaimana disindir oleh Ibnu Khaldun (1332-1406M) dalam pernyataannya: "Si Pecundang akan selalu meniru pihak yang mengalahkannya, baik dalam slogan, cara berpakaian, cara beragama, gaya hidup serta adat istiadatnya".


Derasnya arus globalisasi budaya, menyebabkan gerakan feminisme di Barat menyebar cepat ke seluruh pelosok dunia. Feminisme atau paham kesetaraan gender semakin kuat pengaruhnya, terlebih setelah digelarnya Konferensi PBB IV tentang perempuan di Beijing tahun 1995. Di Indonesia, hasil konferensi tersebut dilaksanakan oleh para feminis, baik melalui lembaga pemerintah, seperti tim Pengarusutamaan Gender DEPAG, Departemen Pemberdayaan Perempuan, maupun melalui LSM-LSM yang kian menjamur. Di ranah pendidikan tinggi, telah didirikan institusi-institusi Pusat Studi Wanita (PSW/PSG). Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dalam www.mennegpp.go.id, melaporkan jumlah PSW hingga tahun 2005 telah mencapai 132 di seluruh universitas di Indonesia. Feminisme pun seolah-olah telah menjadi global theology dan semakin mengakar pengaruhnya di Indonesia setelah masuk dalam 10 program PKK dan diresmikannya UU Pemilu 2003 Pasal 65 Ayat 1 yang menyatakan batas minimal keterwakilan perempuan sebagai anggota DPR/DPRD dari setiap partai adalah 30%.
Di Indonesia, feminisme bak sebuah franchise yang telah merasuk jauh kedalam lingkungan institusi-institusi pendidikan tinggi. Kurikulum pendidikan, diktat-diktat perkuliahan, beragam seminar dan pelatihan, serta tugas akhir akademis baik yang berupa skripsi, tesis maupun disertasi disusun untuk mendukung paham ini. Kuatnya pengaruh feminisme dalam pendidikan, di antaranya bisa dilihat dari festival Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) VII di Pekanbaru, 21-24 Nopember 2007 yang diprakarsai oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Departemen Agama RI dan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Acara ini diikuti oleh utusan universitas-universitas Islam di Indonesia. Banyak makalah tentang isu kesetaraan gender dibentangkan untuk mengkaji ulang hukum Islam yang berkenaan dengan hak-hak perempuan.
Artikel ini secara ringkas akan difokuskan pada pembahasan kesetaraan gender dalam studi Islam, seperti metode mendudukkan al-Qur'an dalam kerangka jender, beberapa contoh hasil penafsiran feminis terhadap ayat-ayat al-Qur'an, serta diskripsi ringkas tentang perkembangan gerakan gender di perguruan tinggi. Namun demikian, kajian ini tidak menyinggung kasus-kasus yang bukan merupakan substansi paham kesetaraan gender, seperti pelanggaran hukum dan kriminal terhadap perempuan, serta pembelaan terhadap nasib buruh perempuan.

Definisi
Feminisme adalah paham yang beragam, bersaing dan bahkan bertentangan dengan teori-teori sosial, gerakan politik dan falsafah moral. Kebanyakan paham ini dimotivasi dan difokuskan perhatiannya pada pengalaman perempuan, khususnya dalam istilah-istilah ketidakadilan sosial, politik dan ekonomi. Salah satu tipe utama dari feminisme secara institusional, difokuskan pada pembatasan atau pemberantasan ketidakadilan gender untuk mempromosikan berbagai hak, kepentingan dan isu-isu kaum perempuan dalam masyarakat. Tipe lainnya yang berlawanan dengan feminisme modern, -dengan akar sejarahnya yang mendalam-, memfokuskan pada pencapaian dan penegakan hak keadilan oleh dan untuk perempuan, dengan dihadap-hadapkan dengan laki-laki, untuk mempromosikan kesamaan hak, kepentingan dan isu-isu menurut pertimbangan gender. Jadi, seperti halnya suatu ideologi, gerakan politik atau filsafat manapun, tidak pernah didapati bentuk feminis yang tunggal dan universal yang mewakili semua aktivis feminis.
Dalam menggemakan feminis anarkhis, seperti Emma Goldman, telah berasumsi bahwa hirarkhi dalam bisnis, pemerintahan dan semua organisasi perlu dirombak dengan desentralisasi ultra-demokrasi. Sebagian feminis lainnya berpendapat bahwa pemimpin pusat (central leader) dalam organisasi apapun berasal dari struktur kekeluargaan yang andosentrik. Maka struktur seperti ini perlu dirombak. Oleh sebab itu, para sarjana tersebut melihat bahwa esensi feminisme sebenarnya adalah isu seks dan gender.
Para aktivis politik feminis pada umumnya mengkampanyekan isu-isu seperti hak reproduksi, (termasuk hak yang tidak terbatas untuk memilih aborsi, menghapus undang-undang yang membatasi aborsi dan mendapatkan akses kontrasepsi), kekerasan dalam rumah tangga, meninggalkan hal-hal yang berkaitan dengan keibuan (maternity leave), kesetaraan gaji, pelecehan seksual (sexual harassment), pelecehan di jalan, diskriminasi dan kekerasan seksual (sexual violence). Isu-isu ini dikaji dalam sudut pandang feminisme, termasuk isu-isu patriarkhi dan penindasan.
Sekitar tahun 1960an dan 1970an, kebanyakan dari feminisme dan teori feminis telah disusun dan difokuskan pada permasalahan yang dihadapi oleh wanita-wanita Barat, ras kulit putih dan kelas menengah. Kemudian permasalahan-permasalahan tersebut diklaim sebagai persoalan universal mewakili seluruh wanita. Sejak itu, banyak teori-teori feminis yang menantang asumsi bahwa "perempuan" merupakan kelompok individu-individu yang serba sama dengan kepentingan yang serupa. Para aktivis feminis muncul dari beragam komunitas dan teori-teorinya mulai merambah kepada lintas gender dengan berbagai identitas sosial lainnya, seperti ras dan kelas (kasta). Banyak kalangan feminis saat ini berargumen bahwa feminisme adalah gerakan yang muncul dari lapisan bawah yang berusaha melampaui batasan-batasan yang didasarkan pada kelas sosial, ras, budaya dan agama, yang secara kultural dikhususkan dan berbicara tentang isu-isu yang relevan dengan wanita dalam sebuah masyarakat.
Sedangkan pengertian paham kesetaraan jender --seperti yang dikutip Nasaruddin Umar dari Women's Studies Encyclopedia--, adalah "konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat". Ada beberapa definisi jender lainnya yang dia kutip, namun mempunyai pengertian yang tidak jauh berbeda, yang pada intinya tidak terlepas dari tiga kata kunci: laki-laki, perempuan dan kebudayaan.

Perkembangan Wacana Kesetaraan Gender dalam Studi Islam di Indonesia
Di atas telah disinggung sekilas tentang usaha-usaha membumikan paham kesetaraan gender di lingkungan pendidikan tinggi, seperti penyusunan kurikulum, diktat perkuliahan, tugas akhir akademis baik yang berupa skripsi, tesis maupun disertasi, serta penyelenggaraan seminar dan pelatihan. Pada sub bab ini, penulis akan menguraikan sebagian kecil contoh dari gerakan feminisasi pendidikan, khususnya dalam penerbitan buku.
1) Pengantar Kajian Gender yang ditulis oleh Tim Penulis Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku yang diterbitkan atas kerjasama dengan McGill-ICIHEP ini merupakan kumpulan makalah yang menjadi bahan pengajaran mata kuliah gender di tingkat universitas. Buku ini menguraikan sejarah, konsep dan perkembangan fahaman feminisme, sejarah pergerakan perempuan di Indonesia, metode penelitian berasaskan gender, analisis gender, dan kajian gender dalam Islam.
2) Pengarusutamaan Gender dalam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ditulis oleh Andayani, dkk., dan diterbitkan oleh Pusat Studi Wanita UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bekerjasama dengan Mc.Gill IISEP. Buku ini menguraikan panduan (guidance) untuk melaksanakan kaedah pengarusutamaan gender dalam strategi pembelajaran dan sistem manajemen di UIN Sunan Kalijaga.
3) Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan: Kritik Atas Nalar Tafsir Gender ditulis oleh Aksin Wijaya. Buku ini asalnya merupakan tesis master di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia menguraikan perlunya memandang al-Qur’an secara terpisah, antara kedudukannya yang sakral-absolut di satu sisi dan yang profan-fleksibel/relatif di sisi lain. Menurut Aksin bahwa yang sakral dalam al-Qur'an hanyalah pesan Tuhan yang ada di dalamnya, dan itu pun masih belum jelas, karena masih dalam tahap pencarian. Oleh sebab itu tidak salah jika manusia bermain-main dengan mushaf al-Qur’an.
4) Prof. Dr. Siti Musdah Mulia menulis beberapa elemen dasar ajaran Islam yang mengukuhkan landasan teori gender melalui bukunya yang berjudul Gender Dalam Perspektif Islam. Di dalam bukunya yang diterbitkan oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan ini, dia menguraikan prinsip-prinsip tauhid dan ajaran Islam yang tidak membedakan jenis kelamin dan pengakuan terhadap hak-hak perempuan sebagai pintu masuk untuk menjustifikasi kesetaraan gender. Di samping itu dia juga menjelaskan perlunya penafsiran ulang terhadap al-Qur'an dan al-Hadith. Ini karena tafsiran yang ada merupakan rekayasa dan konspirasi ulama untuk menempatkan perempuan sebagai korban, baik di dalam rumah tangga maupun di ranah publik. Penolakan terhadap formalisasi shari'ah di beberapa kawasan di Indonesia juga dibincangkan untuk menjamin adanya keadilan terhadap hak-hak perempuan.
5) Dra. Hj. Sri Suhandjati Sukri (editor) mengedit kumpulan makalah yang diterbitkan dalam buku berjudul: Bias Jender Dalam Pemahaman Islam (Jilid I) dan Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Jender (Jilid II). Buku ini menguraikan adanya ketidakadilan jender dalam memahami teks-teks keagamaan. Kedua buku ini ditulis oleh para dosen IAIN Walisongo Semarang dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang merupakan aktivis di dalam Pusat Studi Jender (PSJ). Dengan menggunakan metode kritik sejarah dan hermeneutika, pemahaman terhadap al-Qur'an dan al-Hadith yang dipandang merugikan perempuan, dipermasalahkan kembali. Isu-isu berkenaan dengan hak perempuan sebagai wali kawin, imam shalat, pemimpin negara dan rumah tangga, relativitas batasan aurat perempuan, kebolehan perempuan pergi tanpa mahram, kesaksian perempuan setengah laki-laki, menolak perbedaan lelaki dan perempuan di dalam aqÊqah, air kencing bayi dan hak waris dibahas dalam perspektif gender.
6) Isu-Isu Gender Dalam Kurikulum Pendidikan Dasar & Menengah diedit oleh Waryono Abdul Ghafur, M.Ag dan Drs. Muh. Isnanto, M.Si. Buku ini mengkritisi buku-buku pelajaran agama, khususnya Fiqh, Tafsir dan Hadith yang diajarkan di berbagai sekolah dasar hingga menengah yang dianggapnya menindas perempuan. Buku yang diterbitkan atas kerjasama antara PSW UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan McGill IISEP Jakarta ini merupakan salah sebuah upaya untuk menghilangkan unsur-unsur patriarkhisme dalam kurikulum pendidikan. Isu-isu yang diangkat sebagai bentuk benih-benih penindasan terhadap perempuan di antaranya yaitu adanya ilustrasi gambar anak-anak yang sedang mengerjakan ÏahÉrah, shalat berjama'ah, adhÉn, iqÉmah, puasa, tadarrus al-Qur'an, imam, aktivitas membangun masjid, memotong hewan kurban dan lain-lain didominasi laki-laki. Di samping itu, buku ini juga memaparkan kritik terhadap pembedaan lelaki dan perempuan dalam gerakan shalat, pakaian iÍrÉm, kurangnya ditampilkan perawi hadith dari kalangan perempuan, dst. Metode pembahasan yang digunakan dalam buku ini adalah analisis gender dan tafsir hermeneutika.
7) M. Nuruzzaman menulis buku berjudul Kyai Husein Membela Perempuan. Kajian buku ini awalnya merupakan tesis masternya di Universitas Indonesia di fakultas sosiologi. Dalam bukunya ini, dia menguraikan pandangan-pandangan Kyai Husein Muhammad, seorang kyai feminis di Cirebon, tentang paham kesetaraan gender. Pembahasan buku ini hanya terbatas kepada kajian kasus di kalangan pondok pesantren sebagai institusi pendidikan Islam klasik yang berwawasan gender dan menghargai kesetaraan antara lelaki dan perempuan.
8) Zunly Nadia dalam bukunya yang berjudul Waria, Laknat atau Kodrat!?, menguraikan pembelaan terhadap eksistensi waria (mukhannath) yang terasing dari ruang sosial, budaya dan politik. Buku ini pada awalnya adalah hasil skripsi (tesis) sarjana S1 di fakultas Ushuluddin, bagian Tafsir Hadith. Argumen dan dukungan terhadap kaum waria dalam buku ini dilengkapi dengan teks-teks al-Qur'an dan al-Hadith, kemudian dipahami berdasarkan konteks realitas sosial masyarakat setempat.
9) S. Edy Santosa (Ed.,) mengedit kumpulan makalah dalam buku yang berjudul Islam dan Konstruksi Seksualitas. Buku ini awalnya merupakan himpunan kertas kerja dalam seminar Nasional yang berjudul: "Islam, Seksualitas dan Kekerasan terhadap Perempuan", yang diprakarsai oleh PSW IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bekerja sama dengan Ford Foundation, 26-29 Juli 2000. Buku ini menguraikan berbagai realitas sosial dan tafsiran agama berkenaan dengan wujudnya diskriminasi, marjinalisasi dan kekerasan terhadap perempuan.
10) Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) menerbitkan buku berjudul Wajah Baru Relasi Suami-Istri, Tela'ah Kitab 'Uqud al-Lujjayn melalui kerjasamanya dengan The Ford Foundation. Buku ini mengkritik Kitab 'Uqud al-Lujjayn yang ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Bantani yang membahas hubungan suami-isteri, masalah-masalah rumah tangga, kewajiban dan hak suami-isteri, ibadah dan tingkah laku perempuan. Kajian buku ini hanya terbatas pada kritik dan ulasan terhadap hadith-hadith yang dipandang turut mengekalkan dominasi laki-laki terhadap perempuan, kemudian membahasnya dengan pendekatan kontekstual melalui metode kritik sejarah.
11) Dr. Nasaruddin Umar, MA, menulis buku berjudul: Argumen Kesetaraan Jender: Perspektif al-Qur'an. Buku ini awalnya adalah tesis Ph.D-nya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN). Dia menguraikan kritik terhadap berbagai metode dan pendekatan dalam memahami teks keagamaan, seperti tafsir, 'UlËm al-Qur'Én dan fiqh yang dinilainya bercorak patriarkhis. Metode pemahaman nas al-Qur'an dan al-Hadith yang ada sejak zaman Sahabat diklaim turut memberi dukungan atas munculnya ketidakadilan jender, seperti pembakuan tanda huruf, tanda baca dan QirÉ'at; pengertian kosa kata; penetapan rujukan kata ganti (ÌamÊr); penetapan batasan pengecualian; penetapan arti huruf 'aÏf, pengaruh riwayat isra'iliyyat, ketidakadilan jender dalam struktur bahasa Arab, kamus bahasa Arab, metode tafsir, dan pembukuan dan pembakuan kitab-kitab Fiqh. Kemudian dia mengusulkan perlunya metode dan pendekatan baru dalam memahami teks-teks wahyu, seperti metode kritik sejarah dan tafsir hermeneutis.
12) Srinthil, Media Perempuan Multikultural: merupakan jurnal yang membahas masalah-masalah perempuan dan hubungannya dengan agama dan realitas sosial. Edisi IV jurnal ini misalnya, mengangkat tema: "Ketika Aurat Dikuasai Surat". Di sini diuraikan tentang hak dan kebebasan perempuan yang dirampas oleh aturan-aturan agama dan perundang-undangan negara, termasuk hak perempuan berekspresi dalam bidang seni, hak memiliki suami lebih dari seorang, hak melakukan kawin kontrak (kawin mut'ah), dan isu-isu lainnya terkait dengan ketidakadilan gender dalam perkawinan.
13) Jurnal Perempuan merupakan media akademik yang terbit setiap 3 bulan untuk mendukung perjuangan kesetaraan gender. Kajian jurnal ini mencakup isu-isu gender yang dipandang merugikan perempuan, baik berkenaan dengan realitas sosial, pemikiran keagamaan, budaya, ekonomi atau politik. Sebagai media untuk menolak hegemoni patriarkhi, maka isu-isu yang dikaji berasaskan analisis dan perspektif gender, termasuk kajian tentang pemikiran Islam, seperti metode penafsiran, fiqh, ilmu hadith dan seumpamanya.
14) Diah Ariani Arimbi menulis tesis Ph.D di Fakulti Art and Social Sciences University of New South Wales berjudul Reading the Writings Contemporary Indonesian Muslim Women Writers: Representation, Identity and Religion of Muslim Women in Indonesian Fictions. Tesis ini menguraikan isu-isu perempuan tentang kesetaraan gender di Indonesia yang didasarkan pada tulisan-tulisan empat tokohnya. Pembahasan dalam tesis ini dititikberatkan pada masalah bagaimana permasalahan gender dikonstruksi dan bagaimana konsepsi-konsepsi tentang identitas, peranan (role) dan status perempuan Indonesia dibentuk, baik sebelum atau sesudah zaman kemerdekaan.
Selain penerbitan buku-buku karya pengusung feminisme lokal, juga dilakukan penterjemahan buku feminisme manca negara. Di antaranya adalah sebagai berikut:
15) Buku "Women and Gender in Islam: Historical Roots of a Modern Debate" karya Leila Ahmed telah diterjemahkan dengan judul Wanita dan Gender dalam Islam: Akar-akar Historis Perdebatan Modern. Dalam bukunya ini, Leila menguraikan tentang akar-akar sejarah yang menjadi perdebatan hingga kini tentang pandangan Islam terhadap perempuan. Pembahasan buku ini dimulai dari kondisi kawasan Timur Tengah sebelum Islam, zaman kedatangan Islam dan penghargaannya terhadap perempuan. Selain itu juga dibahas masalah penafsiran dan kejumudan Islam abad pertengahan, sehingga munculnya wacana perubahan sosial dan intelektual berkenaan dengan hak dan kebebasan perempuan.
16) "Women's Rebellion & Islamic Memory" karya Fatima Mernissi telah diterjemahkan dengan judul: Pemberontakan Wanita! Peran Intelektual Kaum Wanita Dalam Sejarah Muslim. Buku ini menguraikan fenomena ketidakadilan sosial dan budaya yang dihadapi perempuan di negara-negara muslim. Mernissi lebih banyak mengkaji isu-isu fiqh, masalah kesehatan, politik dan peranan sosial yang dipandang merugikan perempuan. Sebagai justifikasi atas idenya tentang kesetaraan gender, dia memaparkan kisah-kisah kepahlawanan para perempuan sejak masa Sahabat dan peran sosial mereka.
17) "Islam and Democracy, Fear of the Modern World" karya Fatima Mernissi ini telah diterbitkan dalam edisi Indonesia berjudul Islam dan Demokrasi: Antologi Ketakutan. Mernissi menguraikan sejarah hitam peradaban Islam yang dipenuhi dengan pembunuhan politik, karena ketakutan para penguasa terhadap kebebasan berfikir. Buku ini juga menganalisis ketakutan di kalangan umat saat ini untuk membahas wacana demokrasi dan hak asasi manusia yang disebabkan adanya trauma sejarah dalam menempatkan perempuan di balik jilbab dan tembok-tembok pergundikan.
18) Karya Fatima Mernisi lainnya juga telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berjudul Menengok Kontroversi Peran Wanita Dalam Politik. Di buku ini dia menjelaskan masalah peran politik kaum perempuan dan realitas ketidakadilan terhadapnya. Pembahasan isu perempuan dalam berpolitik dalam buku ini lebih terfokus kepada jilbab yang merupakan indikasi perampasan hak dan kebebasan perempuan di ruang publik.
19) Haideh Moghissi menulis buku berjudul: Feminisme dan Fundamentalisme Islam. Buku ini adalah terjemahan dari judul aslinya, "Feminism and Islamic Fundamentalism, The Limits of Postmodern Analysis". Haideh memamparkan realitas sosial di kawasan Iran dan Timur Tengah tentang masalah hak dan kebebasan perempuan. Kajian buku ini didasarkan pada analisis postmodernis dan menempatkan fundamentalisme dalam Islam sebagai "rival antagonis" pembahasan untuk mengekalkan adanya kekecewaan muslim feminis dan seruan kepada perubahan sosial.
20) Budhi Munawar Rachman dkk menulis buku Rekonstruksi Fiqh Perempuan yang diterbitkan atas anjuran Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII). Buku ini adalah kumpulan kertas kerja yang dibentangkan dalam seminar nasional berjudul "Rekonstruksi Fiqh Perempuan dalam Peradaban Masyarakat Modern" di UII Yogyakarta. Ringkasnya, buku ini menguraikan perlunya perubahan fiqh konvensional yang dianggap membelenggu kaum perempuan dalam mengembangkan perannya di berbagai sektor kehidupan secara makro. Hal ini dikarenakan bangunan fiqh yang sarat dengan norma dan doktrin di satu sisi dan di sisi lainnya bernuansa permasalahan zaman klasik, sehingga fiqh klasik dipandang tidak relevan dan menghambat aktualisasi potensi kaum perempuan dalam transformasi sosial. (mm)

*Oleh :Henri Shalahuddin, MA


 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum