Start to Speak English 3

Senin, 26 April 2010 0 komentar

HOW TO ACTION

 ASK : BERTANYA
 ANSWER : MENJAWAB
 ACT : BERTINDAK
 ARRIVE : DATANG
 ACCOMPANY : MENEMANI
 ADMIT : MENGAKUI
 ADVISE : MENASEHATI
 AGREE : MENYETUJUI
 ADD : MENAMBAH
 APOLOGIZE : MINTA MAAF
 AWAKE UP : BANGUN TIDUR
 ABUSE : MENYALAHGUNAKAN
 ACROSS : MENYEBRANG
 ACQUISTION : MENUNUT
 BITE : MENGGIGIT
 BEAT : MEMUKUL
 BORROW : MEMINJAM
 BRING : MEMBAWA
 BUY : MEMBELI
 BLAME : MENYALAHKAN
 BOIL : MEREBUS
 BARGAIN : MENAWAR
 BECOME : MENJADI
 CLOSE : MENUTUP
 CUT : MEMOTONG
 CHEAT : MENIPU
 CONTINUE : MENERUSKAN
 CONFESS : MENGAKUI
 CALL : MEMANGGIL
 COPY : MENYALIN
 CANCEL : BATAL
 CHOOSE : MEMILIH
 CHANGE : MENGGANTI
 CHECK : MEMERIKSA
 CATCH : MENANGKAP
 COME : DATANG
 COOK : MEMASAK
 CRY : MENANGIS
 CHAMPION : MEMPERJUANGKAN
 COMPARE : MEMBANDINGKAN
 CLORIFY : MENJELASKAN
 CALCULATE : MENGHITUNG
 DIE : MENINGGAL
 DRINK : MINUM
 DANCE : MENARI
 DECIDE : MEMUTUSKAN
 DISCUSS : BERDISKUSI
 DEDICATE : MEMPERSEMBAHKAN
 DROP IN : MAMPIR
 DRIVE : MENYETIR
 DENY : MENYANGKAL


 DETERMINE : MENETUKAN
 DIVIDE : MEMBAGI
 ECONOMIZE : IRIT
 EAT : MAKAN
 ENTER : MASUK
 EDUCATE : MENDIDIK
 EXPLOIT : MEMANFAATKAN
 ENJOY : MENIKMATI
 FALL : GAGAL
 FIND : MENEMUKAN
 FOLLOW : MENGIKUTI
 FEEL : MERASA
 FIGHT : BERTENGKAR
 FLY : TERBANG
 FORGET : MELUPAKAN
 FINISH : MENYELESAIKAN
 FRY : MENGGORENG
 FLEE : MELARIKAN DIRI
 STEADY : PACARAN
 GUEES : MENEBAK
 GIVE : MEMBERI
 GET : MENDAPATKAN
 GET UP : BANGUN
 GUIDE : MENUNJUKKAN
 HATE : MEMBENCI
 HANG : MENGGANTUNG
 HELP : MENOLONG
 HOPE : MENGHARAP
 BREAK FAST : SARAPAN
 LUNCH : MAKAN SIANG
 DINNER : MAKAN MALAM
 DOWN PRAYER : SHOLAT SUBUH
 MIDDAY PRAYER : SHOLAT DHUHUR
 AFTERNOON PRAYER : SHOLAT ASHAR
 WEST PRAYER : SHOLAT MAGHRIB
 EVENING PRAYER : SHOLAT ISYA’
 KNOW : TAHU
 KILL : MEMBUNUH
 KISS : MENCIUM
 KEEP :MENYIMPAN/MENJAGA
 LISTEN : MENDENGAR
 LET : MEMBIARKAN
 LAUGH : TETAWA
 LOVE : MENCINTAI
 LOCK : MENGUNCI
 LOSE : MENGALAHKAN
 LIKE : MENYUKAI
 LOOK : MELIHAT
 LIVE : TINGGAL
 MOP : MENGEPEL
 MEET : BERTEMU
 MARRY : MENIKAH
 MISS : KANGEN
 MAKE UP : BERDANDAN
 MEASURE : MENGUKUR
 MANAGE : MENGATUR
 OPEN : MEMBUKA
 OVER SLEEP : KESIANGAN
 GET : MENDAPATKAN
 OPTIONAL PRAYER : SHOLAT SUNNAH
 PUT : MELETAKKAN
 PLAY : BERMAIN
 PUNISH : MENGHUKUM
 PRAY : BERDO’A
 PERMIT : IZIN
 PUSH : MENDORONG
 PAY : MEMBAYAR
 PELT : MELEMPARI
 PULL : MENDORONG
 PASS : MELEWATI
 PICK UP : MENJEMPUT
 PRACTICE : PRAKTEK
 PREPARE : MENYIAPKAN
 PERFORM : MENAMPILKAN
 PREVENT : MENCEGAH
 RECEIVE : MENERIMA
 REFUSE : MENOLAK
 REMEMBER : INGAT
 REST : IATIRAHAT
 REPEAT : MENGULANG
 RECITE : MENGATAKAN
 RAISE : TERBIT
 REPRIMIND : MENEGUR
 REGRET : MENYESALI
 SMILE : SENYUM
 STAND : BERDIRI
 SIT : DUDUK
 SING : MENYANYI
 SPEAK : BERBICARA
 SHOOT : MENEMBAK
 SAY : BERKATA
 SLEEP : TIDUR
 STAY UP : BEGADANG
 SHOW UP : MEJENG
 STRUNGGLE : BERJUANG
 SPEND : MENGHABISKAN
 SPEND NIGHT : MENGINAP
 STIMULATE : MERANGSANG
 SEW : MENJAHIT
 SATISFY : MEMUASKAN
 TELL : MENGATAKAN
 TRANSLATE : MENGARTIKAN
 THINK : BERFIKIR
 TAKE : MENGAMBIL
 TAKE ABATH : MANDI
 TAKE OUT : KELUAR
 TRY : MENCOBA
 TAKE WALK : BERJALAN
 TREATEN : MENGANCAM
 TIDY UP : MERAPIKAN
 UNDERSTAND : FAHAM/MENGERTI
 UTILIZE : MEMANFAATKAN
 USE : MENGGUNAKAN
 WASH : MENCUCI
 WATER : MENYIRAM
 WORSHIP : MENYEMBAH
 WISH : BERHARAP
 WALK : BERJALAN
 WAIT : MENUNGGU
 WARN : MENGANCAM
 WRITE : MENULIS
 WANT : INGIN
 WORRY : HAWATIR
 WIN : MENANG
 WELCOME : MENYAMBUT
 WED : MENGAWINI
 WEVE : MELAMBAIKAN
 WATCH : MENONTON
 WEAKEN : MELEMAHKAN
 WEAR : MEMAKAI
 WHISPER : MEMBISIKI

Start to Speak English 2

Sabtu, 24 April 2010 0 komentar

HOW TO INTRODUCE YOUR SELF

- OKE MY FRIENDS, I WOULD LIKE TO INTRODUCE MY SELF
- LET ME INTRODUCE MY SELF
- MY NAME IS…….
- I LIVE IN…..
- MY FATHER’S NAME IS…..
- AND MY MOTHER’S NAME IS……
- I HAVE A BROTHER, HIS NAME IS……
- AND I HAVE A SISTER, HER NAME IS….
- MY FATHER IS…….AND MY MOTHER IS……..
- OKE MY FRIENDS THANK YOU VERY MUCH FOR YOUR ATTENTION

HOW TO SPEECH

- ASSALAMU’ALAIKUM WR WB
- FIRST OF ALL LET’S THANKS TO ALLAH WHO HAS GIVEN US MERCY AND BLESSING, SO WE CAN ASSAMBLE IN THIS PLACE WITHOUT TROUBLE, AMIN
- SHALAWAT AND SALAM LET’S DELIVER TO OUR PROPHET MUHAMMAD SAW, WHO HAS DIRECT US FROM JAHILIYAH ERA TO ISLAMIC ERA
- HAPPY AUDIENCE… IN THIS OPPORTUNITY I WOULD LIKE TO SPEECH UNDER TITLE……….
- HAPPY AUDIENCE…MAYBE THAT’S ALL MY SPEECH, IF YOU FOUND MANY MASTAKE I APOLOGIZE TO YOU,THANKS VERY MUCH FOR YOUR ATTENTION,SEE YOU NEXT TIME,AND ICONCLUDE,WASSALAMU’ALAIKUM WR WB.


HOW TO CALL SOME ONE

- SIR : PAK / TUAN
- Mr.BUDI : PAK BUDI
- MAM : BU…
- Mrs.MERI : BU MERI
- MOM / MOMY : IBU
- DAD / DADY : BAPAK / PAK
- MISS : NONA
- MISS YULI : NONA YULI
- KIDS / KID : NAK…
- GUYS : BUNG
- HI GUYS : HAI BUNG…
- BABY : ANAK / KASIH / SAYANG
- DEARLING : SAYANG

HOW TO KNOW OUR FAMILY

- FATHER : AYAH
- MOTHER : IBU
- SON : ANAK LAKI-LAKI
- DAUGTHER : ANAK PEREMPUAN
- CHILD : ANAK
- CHILDREN : ANAK-ANAK
- BROTHER : SAUDARA LAKI-LAKI
- SISTER : SAUDARA PEREMPUAN
- EALDER BROTHER : KAKAK LAKI-LAKI
- EALDER SISTER : KAKAK PEREMPUAN
- YOUNGER BROTHER : ADIK LAKI2
- YOUNGER SISTER : ADIK PEREMPUAN
- PARENT : ORANG TUA
- DRANDFATHER : KAKEK
- GRANDMOTHER : NENEK
- GRANDSON : CUCU
- UNCLE : PAMAN
- AUNT : BIBI
- NEPHEW : PONAKAN LK
- NIECE : PONAKAN PR
- COUSIN : SEPUPU

HOW TO KNOW OUR BODY

- HEAD : KEPALA
- HAIR : RAMBUT
- FACE : MUKA
- FOREHED : DAHI
- EYE : MATA
- EYEBROWS : KENING
- EYELASHSES : BULU MATA
- EYELIDE : KELOPAK MATA
- EYEBALL : BOLA MATA
- NOSE : HIDUNG
- MOUSTACHE : KUMIS
- MOUTH : MULUT
- LIP : BIBIR
- TOOTH : GIGI
- GUM : GUSI
- JAW : GERAHAM
- TONGUE : LIDAH
- CHIN : DAGU
- BEARD : JENGGOT
- CHEEK : PIPI
- WHISKER : PELIPIS
- EAR : TELINGA
- NECK : LEHER
- BODY : BADAN
- SHOULDER : PUNDAK
- CHEST : DADA
- BACK : PUNGGUNG
- ABDOMEN : PERUT
- HIP : PINGGUL
- ARMPIT : KETIAK
- ARM : LENGAN
- ELBOW : SIKU
- HAND : TANGAN
- PALM : TELAPAK TANGAN
- FINGER : JARI
- THUMB : IBU JARI
- TIP : TELUNJUK
- MIDDLE FENGER : JARI TENGAH
- RING FINGER : JARI MANIS
- LITTLE FINGER : JARI KELINGKING
- NAIL : KUKU
- LEG : KAKI
- BOTTOM : PANTAT
- THIGH : PAHA
- KNEE : LUTUT
- CAFT : BETIS
- FOOT : KAKI
- HEEL : TUMIT
- BRAIN : OTAK
- RIB : TULANG RUSUK
- HEART : JANTUNG
- LEVER : HATI
- STOMACH : PERUT
- SKIN : KULIT
- SWEAT : KERINGAT
- BREATH : NAFAS
- LUNG : PARU-PARU
- BLOOD : DARAH
- JOINT : SENDI
- INTESTINES : USUS
- BILE : EMPEDU
- URINE : AIR SENI
- FUR : BULU
- NERVE : SARAF
- KIDNEY : GINJAL
- BACKBONE : TULANG PUNGGUNG

HOW TO KNOW ABOUT OUR DRESS

- COAT : BAJU JAS
- UNDER WEAR : CELANA DALAM
- TROUSER : CELANA PANJANG
- SHORT : CELANA PENDEK
- VEIL : JILBAB
- UNDERSHIRT : KAOS DALAM
- SOCKS : KAOS KAKI
- SHIRT : KEMEJA
- HAT : KOPYAH / PECI
- SKIRT : ROK
- BELT : SABUK
- SHOES : SEPATU
- SANDAL : SANDAL

HOW TO KNOW ABOUT OUR HOUSE

- ROOF : ATAP
- DOOR BELL : BEL PINTU
- KITCHEN : DAPUR
- WALL : DINDING
- VENTILATION : FENTILASI
- YARD : HALAMAN
- WINDOW : JENDELA
- BED ROOM : KAMAR TIDUR
- CURTAIN : KORDEN
- FLOOR : LANTAI
- FENCE : PAGAR
- STUDY ROOM : RUANG BELAJAR
- DINING ROOM : RUANG MAKAN
- LIVING ROOM : RUANG TAMU
- WAITING ROOM : RUANG TUNGGU
- VERANDA : SERANBI
- PARK : TAMAN
- STEP : TANGGA
- PILLAR : TIANG

HOW TO KNOW OUR BEDROOM

- PILLOW : BANTAL
- MIRROR : CERMIN
- HANGER : GANTUNGAN
- BOLSTER : GULING
- MATTRESS : KASUR
- SHIRT : KEMEJA
- DOORMET : KESET
- FAN : KIPAS ANGIN
- BOX : KOTAK
- DRAWER : LACI
- TABLE : MEJA
- BLANKET : SELIMUT
- COMB : SISIR
- BED-SHEET : SEPRAI
- BED : TEMPAT TIDUR
- STICK : TONGKAT

HOW TO KNOW OUR BATH ROOM

- WATER : AIR
- URINE : AIR KENCING
- LAVATORY : BAK MANDI
- FOAM : BUSA
- BUCKET : EMBER
- DIPPER : GAYUNG
- TOWEL : HANDUK
- FAUCET : KRAN
- SHOWER : PANCURAN
- TOOTH PASTE : PASTA GIGI
- WATER PUMP : POMPA AIR
- DETERGENT : SABUN CUCI
- SOAP : SABUN MANDI
- SHAMPOO : SAMPO
- CLOTES BRUSH : SIKAT CUCI
- TOOTH BRUSH : SIKAT GIGI
- WELL : SUMUR
- SOAP HOLDER : TEMPAT SABUN
- PAIL : TIMBA
- TOILET : WC
- CLOSET : WC DUDUK

HOW TO KNOW OUR KITCHEN

- FIRE : API
- SMOKE : ASAP
- BASIN : BASKOM
- BLENDER : BLENDER
- BOTTLE : BOTOL
- CUP : CANGKIR
- KETTLE : CERET
- GLASS : GELAS
- WOOD : KAYU
- STOVE : KOMPOR
- GAS STOVE : KOMPOR GAS
- ELETRIC STOVE : KOMPOR LISTRIK
- SOUP : KUAH
- BOWL : MANGKOK
- COOKING : MASAKAN
- FRIED OIL : MINYAK GORENG
- PETROLEUM : MINYAK TANAH
- COOKER : PANCI
- GRATER : PARUT
- PLATE : PIRING
- KNIFE : PISAU
- SPOON : SENDOK
- NAPKIN : SERBET
- THERMOS : TERMOS
- FRAYING PAN : WAJAN
- RICE COOKER : PENANAK NASI

HOW TO KNOW ABOUT DAY

- SUNDAY : AHAD
- MONDAY : SENIN
- TUESDAY : SELASA
- WEDNESDAY : RABU
- THURSDAY : KAMIS
- FRIDAY : JUM’AT
- SATURDAY : SABTU
- LEBARAN DAY : HARI RAYA
- BIRTHDAY : HARI ULTAH

HOW TO KNOW ABOUT MONTH

- JANUARY : JANUARI
- FEBRUARY : FEBRUARI
- MARCH : MARET
- APRIL : APRIL
- MAY : MEI
- JUNE : JUNI
- JULY : JULI
- AGUST : AGUSTUS
- SEPTEMBER : SEPTEMBER
- OCTOBER : OKTOBER
- NOVEMBER : NOPEMBER
- DECEMBER : DESEMBER
- FASTING MONT : BULAN PUASA

Start to Speak English 1

Senin, 19 April 2010 0 komentar

- GOOD MORNING !
- GOOD AFTERNOON !
- GOOD EVENING !
- GOOD NIGHT !
- HOW DO YOU DO ?
- HOW ARE YOU ?
- YOUR ADDRES PLEASE !
- HERE YOU ARE !
- TOUR NAME PLEASE !
- MY……PLEASE !
- WHAT NUMBER ?
- THANK YOU…
- HAVE A GOOD TRIP !
- HAVE A GOOD TIME !
- JUST A MOMENT !
- WHO IS THIS ?
- WHAT IS THIS ?
- IS THIS YOUR…..?
- IS THAT YOUR…..?
- WHERE ARE YOU ?
- WHAT TIME IS THIS ?
- WHAT DAY IS TODAY ?
- WHAT DATE IS TODAY ?
- WHERE IS…..?
- ARE YOU THERE ?
- DON’T WORRY !
- GUESS PLEASE !
- TAKE……..PLEASE !
- WHAT DOYOU NEED ?
- HOW MUCH ?
- HOW MANY ?
- WHAT ELSE ?
- EXCUSE ME ?
- DON’T FORGET !
- HOW MUCH IS THIS ?
- THIS ONE ?
- I WILL TAKE…….
- WHERE ARE YOU FROM ?
- ARE YOU…….?
- WHAT IS YOUR NAME ?
- HOW OLD ARE YOU ?
- HOW TALL…….?
- HOW LONG…..?
- HOW FAR……?

- WHAT ARE YOU LIKE ?
- SEE YOU TOMORROW, LATER, NEXTIME !
- WHAT DOES HE DO ?
- WHAT SIZE IS THIS ?
- I’M SORRY !
- DON’T PUSH !
- DON’T PULL !
- DON’T GO !
- I THINK…..
- WHAT COLOR ?
- VERY FAST !
- NO THANKS !
- WELL COME TO…….!
- I LIVE IN……
- I STAY IN…..
- DON’T SIT DOWN !
- SIT DOWN PLEASE !
- PLEASE HURRY !
- I NEED SOME …..
- CAN I HELP YOU ?
- WHAT CAN I DO FOR YOU ?
- I WOULD LIKE TO……
- ANYTHING ELSE ?
- IS THAT ALL ?
- LET’S LOOK !
- LET’S SIT DOWN HERE !
- I’M HUNGRY !
- LET ME SEE !
- IS THERE ANY……?
- THERE IS……
- THERE IS NOT…..
- YOU KNOW ABOUT…..
- YOU KNOW WHAT ?
- WHAT ABOUT YOU ?
- HOW ABOUT YOU ?
- DO YOU…..?
- DO YOU HAVE TIME ?
- ANY TIME FOR ME ?
- DO YOU HAVE……?
- WHAT IS THE LIKE ?
- WAIT HERE !
- I WILL LOOK FOR…….
- I WILL LOOK FOR IT !
- SO LONG !
- THANKS FOR YOUR HELP !
- HAVE YOU MEET…..?
- HAVE YOU BREAKFAST ?
- HAVE YOU LUNCH?
- HAVE YOU DINNER ?
- ANY MASSAGE ?
- WE NEED TO MEET Mr……..
- WE NEED MORE !
- TELL ME PLEASE !
- DO YOU HAVE SPARE TIME ?
- HOW INTERISTING !
- WHAT KIND OF…….?
- WHAT……..DO YOU LIKE ?
- WHICH…..DO YOU LIKE ?
- WHAT ARE YOU DOING ?
- I’M DRIVING ………
- WHAT IS THE WEATHER LIKE ?
- WHAT THE MATTER ?
- WHAT DO YOU WANT ?
- I WANT TO……
- WHERE ARE YOU WAITING ?
- HOW CAN I RECOGNISE YOU ?
- WHAT ARE YOU WEARING ?
- I’M WEARING…….
- WHAT ARE YOU CARRYING ?
- WHAT ARE YOU BRING ?
- WHO ARE YOU PHONING ?
- WHO IS PHONING YOU ?
- YOU HAVE THE WRONG NUMBER !
- WHERE ARE YOU GOING ?
- WHERE WILL WE GO ?
- GOING UP !
- WHAT ARE YOU STUDYING ?
- LUCKY YOU !
- COME IN PLEASE !
- STAND UP PLEASE !
- LET’S PRAY TOGETHER !
- TAKE OF !
- PUT ON !
- TURN DOWN PLEASE !
- TURN UP PLEASE !
- TURN ON PLEASE !
- TURN OF PLEASE !
- CAN YOU PROVE IT ?
- WHAT SHALL WE DO ?
- WHAT SHALL WE GO ?
- HOW ABOUT…….
- YES,WHY NOT ?
- YOU MUST COOL !
- I’M OUT !
- TIME OUT !
- YOU NEVER SAY IT !
- IN THE ROOM NOW !
- THAT IS FUNY BUT WRONG
- SEE YOU REAL SOON !
- AM I CORRECT ?
- I CAN SUMUP THAT….
- I DIDN’T SEE THE SIGN !
- I DIDN’T SEE THE LIGH !
- I WOULD LIKE TO MENTION BREFLY THAT…….
- I WOULD LIKE TO BEGIN BY…..
- CLEAR…..!
- GO TO BED NOW !
- ARE YOU OKE !
- WHAT HAPPEN ?
- YEAH / YUP !
- THERE IS INVITION FOR YOU !
- WHAT DEPARTEMEN ARE YOU IN ?
- HOW LONG HAVE YOU BEEN LIVING HERE ?
- WHAT IS WRONG ?
- DON’T PUSH YOUR LUCK !
- ACCEP ME FOR WHAT IT !
- KEEP YOU COOL !
- JUST DON’T TAKE IT HARD !
- TO THE BEST OF MY KNOWLEDGE…..
- WHAT BRINGS YOU HERE ?
- HANG LOOSE !
- A LITTLE IS BETTER THAN NONE !
- YOU LOOK BABY FACE !
- NOTHING VENTURE NOTHING GAIN !
- GET MOVING,YOU WILL BE LATE !
- WHERE HAVE YOU BEEN ?
- I HAVE BEEN…..
- NO BODY’S PERFECT !
- PLEASE BELIEVE ME !
- HELP ME PLEASE !
- LOOK UP A WARD IF DON’T UNDERSTAND IT !
- YOU NEVER KNOW TILL YOU HAVE TRIED !
- HE IS CRAZY ABOUT HER !
- LOST TIME IS NEVER FOUND !
- HANG AROUND !
- DON’T BOTHER ABOUT ME, I’M OKE !
- THE RICE IS GONE !
- FACE TO FACE
- I’M GONE !
- DON’T GIVE UP !
- YOU MAKE UP STORIES !
- WHAT ARE YOU SERVING TO NIGHT ?
- IT’S ON ME !
- TREAT ME PLEASE !
- COUNT ME IN !
- CUT IT OUT !
- WHAT’S THE MOVIE ABOUT ?
- THE MOVIE IS BLOCK BUSTER !
- WHACH OUT !
- LET’S CONCLUDE……
- I HAVE’NT BEEN ANY WHERE !
- DON’T GO ANY WHERE !
- WHAT’S GOING ON TO NIGHT ?
- IS THE MEAL READY ?
- CAN YOU MOVE FOR WARD ?
- CAN YOU MOVE FOR BACK ?
- COME FOR WARD !
- PIECE OF CAKE !
- YOU SKIPPED CLASS !
- CAN I HAVE A BITE ?
- CAN YOU PASS THE DISH ?
- WHACH YOUR LANGUAGE !
- TRY TO FOCUS ON…..
- LISTEN TO ME !
- THIS IS MY STYLE !
- MAKE THE BEST OF IT !
- ON THE JOB !
- YOU LOOK SHARP !
- HE IS JUST SHOWING OF….
- WHO CUT YOUR HAIR ?
- STOP MAKING THAT NOISE !
- DON’T BE SILLY !
- I STAYED UP LAST NIGHT !
- YOU ARE BUSTED !
- TAKE YOU TIME !
- DON’T MENTION IT !
- I’M GLAD TO MEET YOU !
- NICE TO MEET YOU !


Para Sahabat Penghafal Al-Qur’an

0 komentar

Al-qur’an diturunkan Allah swt. Allah pula yang akan memelihara melalui manusia-manusia yang di pilih-Nya. Di masa Rasulullah saw hidup, beliau menanamkan kecintaan yang dalam kepada al-Qur’an di hati para sahabat. Di pundah para sahabat inilah Rasulullah saw mengamanahkan teladan pelaksanaan al-Qur’an dan mewariskan petunjuk kehudupan ini bagi generasi-generasi selanjutnya.

Rasulullah saw memberi petunjuk untuk mempelajari al-Qur’an dari penghafalnya. Tujuh orang yang terkenal sebagai penghafal al-Qur’an di zaman Rasulullah saw, mereka adalah :
1. Abumusa Al-Asy’ari
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim. Ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw yang menghafal al-Qur’an. Ia mempunyai perhatian yang besar terhadap kitab suci ini.

Abu Musa dianugrahkan oleh Allah swt berupa suara yang merdu. Suara merdunya ini mampu menembus tirai hati orang-orang mukmin dan melenakannya menembus kebesaran Allah swt. Rasulullah pun pernah memuji suaranya yang merdu itu “Ia ( Abu Musa ) benar-benar telah diberi seruling Nabi Daud”, begiu kata Rasulullah saw. Sampai-sampai banyak para sahabat yang menanti-nanti Abu Musa untuk menjadi imam pada setiap kesempatan shalat.

Abu Musa telah mempelajari al-Qur’an langsung dari Rasulullah saw, ia mengajarkan dan menyebarkannya pada umat setiap negeri yang ia kunjungi. Perjalanan hidup dan kisah mulianya banyak terekam dalam kitab-kitab tarikh. Abu Musa wafat di usia 63 tahun pada tahun 44 hijriah. Ia telah meriwayatkan 365 hadits.


2. Abu Darda
Abu Darda adalah seorang hafidzh yang bijaksana. Ia termasuk orang yang mengumpulkan al-Qur’an dan menjadi sumber bagi para pembaca di Damaskus pada masa khalifah Utsman bin Affan.

Ia memiliki kedudukan yang tin ggi dalam hal ilmu dan amal dari para sahabat yang lainnya. Selama hidupnya ia mengajarkan kepada umat apa yang ia pelajari dari Rasulullah saw. Ia guru yang selalu dinani-nanti murid-muridnya.

Dalam pengakuan Suwaid bin Abdul Aziz dikatakan jika Abu Darda salat di masjid Damaskus ribuan manusia mengelilinya untuk mempelajari al-Qur’an. Ia membagi-bagikan satu kelompok dengan sepuluh orang dan dipilioh satu orang ketua. Ia hanya mengawasinya di mihrab. Jika ada yang salah mereka kembali kepada ketuanya. Jika ketua yang salah maka ketua tersebut menghadap Abu Darda untuk bertanya. Jumlah penghafal al-Qur’an dalam majlis Abu Darda mencapai 1.600 orang.

Beliau wafat tahun 32 hijriah pada masa khalifah Utsman di Syam. Ia telah meriwayatkan 179 hadits.

3. Zaid Bin Tsabit
Zaid mempunyai nama lengkap Abu Said al-Khazraji al-Anshari. Ia merupakansahabat anshar yang cerdas, penulis, penghafal dan mengusai ilmu. Ia mengalahkan orang lain dalam pengusaan ilmu al-Qur’an dan faraid. Ia juga mampu mempelajari kitab yahudi dalam waktu yang relative singkat atas permintaan Rasulullah saw.

Selain itu zaid juga dikenal sebagai sekretaris kepercayaan Rasulullah saw dalam menerima wahyu. Apabila Rasulullah saw menerima wahyu zaid selalu dipanggil untuk menulisnya.

Zaid adalah sebagai penghimpun al-Qur’an dan menguasai informasi tentang al-Qur’an. Jasa Zaid dalam upaya kodifikasi al-Qur’an sangatlah mulia. Tiada yang mampu menandinginya dalam menulis kalamullah.

Zaid wafat tahun 45 hijriah. Kepergiannya ditangisi seluruh penduduk madinah. Banyak orang yang merasa kehilangan , diantaranya Ibnu Abbas yang berkata “hari ini telah pergi seorang ulama besar dan tokoh cendekia”

4. Abdullah Bin Mas’ud
Ia memiliki nama lengkap Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil Abdirrahman al-Hadzali al-Maki al-Muhajiri. Ia merupakan salah seorang penghimpun al-Qur’an di masa Rasulullah saw dan membacakan dihadapannya. Ia pernah berkata “Aku telah menghafal dari mulut Rasulullah saw tujuh puluh surat”

Abdullah selalu mengikuti Rasulullah saw sejak usia belia. Pendengarannya selalu dihiasi dengan ayat-ayat al-Qur’an sejak turun kepada Rasulullah saw. Kiprahnya dalam memelihara al-Qur’an tidak diragukan lagi. Ia hidup bersama dan untuk al-Qur’an.

Abdullah menjadi ulama yang paling tahu tentang al-Qur’an. Tak heran jika Rasulullah memujinya dan mengajurkan para sahabat dan orang setelahnya untuk mempelajari kandungan al-Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah bin Mas’ud wafat pada tahun 32 hijriyah dalam usia 65 tahun. Ia wafat di madinah dan telah meriwayatkan 840 hadits.

5. Utsman Bin Affan
Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash Abu Amr Abu Abdillah al-Quraisy al-Amawi. Ia dikenal sebagai sahabat Rasul yang hatinya nempel dengan al-Qur’an.

Dimasa kekhalifaannya ia berhasil menghimpun al-Qur’an dalam satu mushaf dan menyebarkannya pada beberapa kota. Ali bin Abi Thalib pun memujinya “kalaulah Utsman tak melakukannya maka pasti akan kulakukan”. Selain itu Utsman juga mampu menyatukan al-Qur’an yang tujuh jenis huruf atau dialek sehingga terhindarlah malapetaka dan fitnah perpecahan umat.
Di akhir kekhalifaannya ( tahun 35 hijriah ) terjadi kekacauan, Utsman di sekap di rumahnya selama empat puluh hari. Ia syahid terbunuh saat membaca al-Qur’an. Usianya 82 tahun.

6. Ali Bin Abi Thalib
Ali adalah seorang penghafal al-Qur’an yang kuat dan termasuk diantara orang yang pertama kali mendapat hidayah islam. Ali berislam dalam usia belia. Ia memiliki nama lengkap Ali bin Abi Thalib Amir al-Mu’minin Abu al-Hasan al-Quraisyi al-Hasyimi.
Ali terkenal zuhud, wara, dan dermawan ia menganggap rendah dunia dan selalu beramal untuk keridhaan Allah swt. Ia sangat memahami ilmu al-Qur’an. Abu Abdurrahman as-Sulmi berkata “aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai dalam al-Qur’an daripada Ali”.
Kehidupan Ali selalu diwarnai dengan al-Qur’an. Ali berkata tentang dirinya dan karunia Allah kepadanya “Demi Allah tidak satupun ayat yang diturunkan kecuali aku telah mengetahui tentang apa dan dimana diturunkan. Sesungguhnya Allah telah memberikan kecerdasan hati dan lidah yang fasih”
Ali syahid terbunuh pagi hari tanggal 17 Ramadhan 40 hijriah di kuffah. Ia dibunuh Ibnu Muljam al-Maradi.

7. Ubai Bin Ka’ab
Ia memiliki nama lengkap Ubai bin Ka’ab bin Qais Abu al-Mudzir al-Anshari al-Madani. Ubai hidup dalam naungan al-Qur’an. Ia selalu menyempatklan diri membaca al-Qur’an siang malam dan khatam dalam delapan malam. Umar bin Khattab pernah berkata “Qari paling baik diantara kami adalah Ubai”
Umar juga pernah berkutbah di Jabiyah sembari menyatakan tentang pengetahuan Ubai terhadap al-Qur’an. Umar berkata “barang siapa yang hendak menanyakan tentang al-Qur’an datanglah ke Ubai”.
Ubai telah menjadikan al-Qur’an sebagai sumber kebaikan dalam ucapan serta perbuatannya. Ubai selalu menasehati orang-orang untuk menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap perbuatan.
Ubai termasuk skretaris Rasulullah saw sebelum Zaid bin Tsabit. Ia bersama Zaid adalah sahabat yang paling tekun menulis wahyu dan menulis banyak surat. Keduanya menulis wahyu dalam pengawasan Rasulullah saw.
Ubai wafat di madinah tahun 20 hijriah. Di hari wafatnya Umar berkata “hari ini telah meninggal seorang tokoh islam, semoga Allah meridhainya”.




Tentang Kami

Sabtu, 17 April 2010 0 komentar

www.subliyanto.id

Nama Pemilik   : Subliyanto

Website             : www.subliyanto.id


Email                 : subliyanto85@gmail.com


WhatsApp         :
08973825909

Call / SMS          : 08973825909 / 085225264224

Penyebab Problem Pendidikan

Jumat, 16 April 2010 0 komentar

Salah satu landasan utama dalam pemikiran filsafat pendidikan islam menurut al-Attas adalah konsep adab yang sangat komprehensif. Secara alami analisa beliau tentang problem pendidikan, intelektual dan kebudayaan menunjukkan fakta bahwa problem-problem itu berakar dari penyebab eksternal dan penyebab internal.

Penyebab eksternal disebabkan oleh tantangan religio-kultural dan sosio-poliotis dari kultur dan kebudayaan barat. Sedangkan yang internal nampak dalam tiga bentuk fenomina yang saling berhubungan yaitu (1) kekeliruan dan kesalahan dalam memahami ilmu dan aplikasinya.(2) hilangnya adab.(3) munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak layak memikul tanggung jawab secara benar dalam segala bidang.

Dari ketiga fenomena tersebut hilangnya adab merupakan hal yang perlu ditinjau dan dikoreksi secara efektif, jika kita ingin menyelesaikan problem kebingungan dan kekeliruan dalam bidang keilmuan dan menanggulangi munculnya kepemimpinan yang tidak layak dan tidak bertanggung jawab.

Kita harus menyelesaikan pertama kali problem hilangnya adab, sebab ilmu tidak dapat diajarkan atau ditularkan pada pelajar kecuali jika orang itu telah mempunyai adab yang tepat terhadap ilmu pengetahuan, berbagai displinnya dan otoritasnya yang legitimate.Karena adab secara integral adalah bagian daripada hikmah dan keadilan, maka hilangnya adab akan menyebabkan kedzaliman, kebodohan dan bahkan kegilaan secara alami.


Kedzaliman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, kebodohan menurut al-Ghazali adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai hasil tujuan tertentu, sedangkan kegilaan adalah perjuangan berdasarkan pada tujuan dan maksud yang salah.

Sesuatu akan lebih jadi gila lagi jika tujuan utama mencari ilmu adalah bukan untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya atau kecintaan kepada Tuhan sesuai dengan ajaran agama yang benar yaitu untuk dapat melihat Allah swt. di hari kemudian. Demikian pula adalah suatu kebodohan jika berupaya mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti tanpa ilmu dan amal yang benar.

Tujuan pendidikan menurut islam pada hakikatnya adalah untuk menciptakan manusia yang baik yakni orang yang beradab secara menyeluruh, yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang yang berusaha menanamkan kwalitas kebaikan yang diterimanya. Oleh karena itu orang yang benar-benar terpelajar menurut persepektif islam adalah orang-orang yang beradab.

Al-Attas mendefinisikan bahwa orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya tentang tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya, yang selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kearah kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.


Variabel dan Hipotesis Penelitian

Kamis, 15 April 2010 1 komentar

A. Pendahuluan
Metode penelitian pendidikan mengkaji konsep-konsep, prinsip, pendekatan, metode dan teknik penelitian pendidikan. Dibahas pula tentang penerapan teori-teori penelitian dalam praktek di lapangan, khususnya dalam bidang studi pendidikan umum. Metode penelitian pendidikan perlu dikuasai oleh calon tenaga kependidikan dan mereka yang berprofesi kependidikan dalam upaya pencanderaan dan pengembangan kebijakan dan program-program pendidikan yang menjadi tugasnya.

Penelitian pendidikan ialah cara yang dilakukan orang untik mendapatkan informasi yang berguna dan dapat dipertanggung jawabkan serta mengenai proses kependidikan. Traves merumuskan penelitian pendidikan sebagai : “Suatu kegiatan yang diarahkan kepada pengembangan pengetahuan ilmiah tentang kejadian-kejadian yang menarik perhatian para pendidik”. Tujuan penelitian pendidikan ialah menemukan prinsip-prinsip umum, atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerangkan, meramalkan dan mengendalikan kejadian-kejadian dalam lingkungan pendidikan. Dengan kata laintujuannya ialah untuk memperoleh teori ilmiah.

Pada makalah ini akan kami bahas secara khusus yang berkaitan dengan metode penelitian, yaitu Hipotesis dan Variabel serta macam-macamnya. Semoga dengan pembahasn ini dapat menambah wawasan keilmuan kita khususnya dalam metode penelitian.


B. Pengertian Variabel
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau objek uang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981). Variabel juga dapat merupakan atribut dari bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerja, merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut-atribut dari objek. Bahan baku pabrik, teknologi produksi, pengendalian mutu, pemasaran, advertising, nilai penjualan, keuntungan adalah merupakan contoh variabel dalam kegiatan maupun ilmu bisnis.

Dinamakan variabel karena ada variasinya. Misalkan berat badan dapat dikatakan variable, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu dengan yang lain. Demikian juga motivasi, persepsi dapat juga dikatakan sebagai variable karena misalnya persepsi dan sekelompok orang tentu berfariasi. Jadi, kalau peneliti akan memilih variable penelitian, baik yang dimiliki orang objek. Maupun bidang kegiatan dan keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya. Variabel yang tidak ada variasinya bukan dikatakan sebagai variable. Untuk dapat bervariasi, maka penelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau objek yang bervariasi.

Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variable adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari. Diberikan contoh misalnuya, tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status sosial, jenis kelamin, golongan gaji, produktivitas kerja, dan lain-lain. Di bagian lain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifat yang diambil dari suati nilai yang berbeda (different values). Dengan demikian variable itu merupakan suatu yang bervariasi. Selanjutnya Kidder (1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas (qualities) dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dirumuskan di sini bahwa variabel penelitian adalah sauatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.

C. Macam-macam Variabel
Variabel adalah suatu peubah penelitian yang dapat diukur. Variabel juga dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang yang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau suatu objek dengan objek yang lain.

Dalam penelitian, setelah memperoleh pengertian tentang konsep dan definisi operasional variabel, langkah berikutnya adalah menentukan variabel yang memiliki hubungan antar variabel yang satu dengan variabel lain.

Berikut adalah macam-macam variabel dan bisa dibedakan menjadi :
a) Variabel Independent. Variable independent atau variable bebas, atau peubah bebas sering juga disebut dengan variabel stimulus, atau predictor, atau variabel antecedent. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, variabel independent disebut juga sebagai peubah bebas. Peubah bebas ini adalah merupakan peubah yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab terjadinya perubahan terhadap peubah tak bebas. Atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi peubah tak bebas (variabel dependent).
b) Variabel Dependent. Variabel dependent, dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai peubah tak bebas, variabel output, criteria, atau konsekuen. Variabel ini sering disebut sebagai peubah tak bebas, atau variabel terikat. Variable terikat atau peubah tak bebas ini merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variable sebab atau peubah bebas.
c) Varibel Moderator. Variabel moderator adalah peubah yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent. Variabel ini sering disebut juga sebagai peubah bebas kedua. Bila suami istri mempunyai anak, maka anak dapat disebut sebagai variabel moderator, karena dapat memperkuat hubungan emosional antara suami dan istri
d) Variabel Intervening. Variabel intervening adalah peubah yang secara teoritis mempengaruhi (memperlemah dan memperkuat) hubungan antara variabel independent (peubah bebas) dengan variable dependent (peubah terikat), akan tetapi tidak dapat diamati dan diukur secara matematis.
e) Variabel Kontrol. Variabel kontrol adalah peubah yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independent (peubah bebas) terhadap variabel dependent (peubah tak bebas) tidak dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diamati. Variabel kontrol ini sering digunakan dalam penelitian komparatif, yang bersifat melakukan perbandingan.

D. Pengertian Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawabanyang benar maka seseorang ilmuwan seakan-akan melakukan interogasi terhadap alam.

Adapun kegunaan Hipotesis adalah sebagai berikut :
1) Mengarahkan penelitian. Misalnya relasi dan hubungan yang diungkapkan dalam hipotesis akan memberitahukan hal-hal yang dilakukan oleh peneliti.
2) Masalah dan hipotesis membuat peneliti mampu mendeduksi manifestasi empiris tertentu yang tercakup dalam masalah serta hipotesis itu, karena masalah dan hipotesis pada umumnya merupakan pernyataan yang reasional.

E. Macam-macam Hipotesis
Terdapat tiga macam hipotesis :
a) Hipotesis Deskriftif : dirumuskan untuk menentukan titik peluang, atau dirumuskan untuk menjawab pertanyaan taksiran/estimatif. Tidak membandingkan. Contoh “Disiplin kerja pegawai Fak. Teknik UNTAG sangat tinggi” Yang menjadi estimasi pada contoh ini adalah : sangat tinggi
b) Hipotesis Komparatif : memberi jawaban terhadap permasalahan yang bersifat membedakan. Contoh “Ada perbedaan daya ikat antara Semen Tiga Roda dengan Semen Padang”
c) Hipotesis Asosiatif : memberi jawaban pada permasalahan yang bersifat hubungan.

Dalam hal ini menurut sifat hubungannya, ada tiga jenis hipotesis penelitian (Ha) :
a) Hipotesis hubungan simentris : Hubungan bersifat kebersamaan antara dua variabel atau lebih, tapi tidak menunjukkan sebab akibat. Contoh ”Ada hubungan antara banyaknya mengikuti perkuliahan dengan nilai akhir mahasiswa”
b) Hipotesis hubungan sebab akibat (kausal) : menyatakan hubungan yang saling mempengaruhi antara dua variabel atau lebih. Contoh ”Disiplin pegawai yang tinggi berpengaruh positif terhadap produktifitas kerja.”
c) Hipotesis hubungan interaktif : menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih bersifat saling mempengaruhi. Contoh ”Terdapat pengaruh timbal balik antar kenaikan pangkat dengan tersedianya jabatan”

Selain dari itu ada juga yang berpendapat bahwa hipotesis di bedakan menjadi dua macam, yaitu :
1) Hipoteis Nol (null hypotheses) Hipotesi nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian bersifat bersifat statistik, yaitu diuji dengan hitungan statistik.
2) Hipotesis kerja. Hipotesis ini juga disebut dengan hipotesis alternatif yang disingkat dengan Ha. Hipotesis kerja menyatakan hubungan antara variabel variabel X dan variabel Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.







Tujuan Pendidikan Dalam Islam*

Senin, 12 April 2010 0 komentar

Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi.

Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. “Gelar” dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab.


Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis.

Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.

Tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah mencari ridha Allah swt. Dengan pendidikan, diharapkan akan lahir individu-indidivu yang baik, bermoral, berkualitas, sehingga bermanfaat kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negaranya dan ummat manusia secara keseluruhan. Disebabkan manusia merupakan fokus utama pendidikan, maka seyogianyalah institusi-institusi pendidikan memfokuskan kepada substansi kemanusiaan, membuat sistem yang mendukung kepada terbentuknya manusia yang baik, yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan. Dalam pandangan Islam, manusia bukan saja terdiri dari komponen fisik dan materi, namun terdiri juga dari spiritual dan jiwa. Oleh sebab itu, sebuah institusi pendidikan bukan saja memproduksi anak didik yang akan memiliki kemakmuran materi, namun juga yang lebih penting adalah melahirkan individu-individu yang memiliki diri yang baik sehingga mereka akan menjadi manusia yang serta bermanfaat bagi ummat dan mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Institusi pendidikan perlu mengarahkan anak didik supaya mendisiplinkan akal dan jiwanya, memiliki akal yang pintar dan sifat-sifat dan jiwa yang baik, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, memiliki pengetahuan yang luas, yang akan menjaganya dari kesalahan-kesalahan, serta memiliki hikmah dan keadilan.

Oleh sebab itu juga, ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam institusi pendidikan seyogianya dibangun di atas Wahyu yang membimbing kehidupan manusia. Kurikulum yang ada perlu mencerminkan memiliki integritas ilmu dan amal, fikr dan zikr, akal dan hati. Pandangan hidup Islam perlu menjadi paradigma anak didik dalam memandang kehidupan.

Dalam Islam, Realitas dan Kebenaran bukanlah semata-mata fikiran tentang alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik dan budaya sebagaimana yang ada dalam konsep Barat sekular mengenai dunia, yang dibatasi kepada dunia yang dapat dilihat. Realitas dan kebenaran didasarkan kepada dunia yang nampak dan tidak nampak; mencakup dunia dan akhirat, yang aspek dunia harus dikaitkan dengan aspek akhirat, dan aspek akhirat memiliki signifikansi yang terakhir dan final. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam).

Jadi, institusi pendidikan Islam perlu mengisoliir pandangan hidup sekular-liberal yang tersurat dan tersirat dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan modern saat ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevant. Dengan perubahan-perubahan kurikulum, lingkungan belajar yang agamis, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam, maka institusi-institusi pendidikan Islam akan membebaskan manusia dari kehidupan sekular menuju kehidupan yang berlandaskan kepada ajaran Islam. Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang dengan ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Tuhannya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan yang lain dalam masyarakatnya, dan berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang beradab.

*oleh Adnin Armas


Ciri Istri Sholehah

0 komentar

Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan merasa tenteram bila ada bersamanya.

Mendapatkan istri shalehah adalah idaman setiap lelaki. Karena memiliki istri yang shalehah lebih baik dari dunia beserta isinya. ''Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalehah.'' (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Di antara ciri istri shalehah adalah, pertama, melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah bersabda, ''Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.'' (HR Ibnu Majah).


Kedua, amanah. Rasulullah bersabda, ''Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu ...'' (HR Hakim).

Ketiga, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ''Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.''(QS Ar Rum : 21).

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.'' (HR Thabrani dan Hakim).

Namun, istri shalehah hadir untuk mendampingi suami yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa menuntut istri menjadi 'yang terbaik', sementara kita sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita masing-masing.



Humas Sekolah

Jumat, 02 April 2010 0 komentar

A. Pendahuluan

Banyak komponen penting yang dinilai turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dalam upaya pencapaian out put yang berkualitas. Salah satu diantara kompenen itu adalah partisipasi masyarakat. Sapari (2001: 13) mengatakan bahwa peran serta masyarakat dalam bidang pendidikan sangat penting dan strategis. Dan Pidarta (dalam Subakir, 2001:13) juga menyampaikan hal senada, ia menyatakan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam keberhasilan pendidikan. Lebih dari itu, El bree (dalam Indrafachrudi, 1987: 1) merekomendasikan agar sekolah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat mencitakan hubungan baik dengan masyarakat.

Dan bahkan secara legal pemerintah mewajibkan masyarakat memberikandukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Mengingat pentingnya partisipasi masyarakat dalam peningkatan kemajuan suatu lembaga pendidikan sebagaimana terpaparkan di atas, disisi lain partisipasi masyarakat tidak terjadi secara otomatis, maka penggalangan partisipasi masyarakat untuk peningkatan kemajuan lembaga pendidikan mesti diupayakan secara maksimal.


B. Pengertian dan Tujuan Hubungan Masyarakat
1. Pengertian Hubungan Masyarakat
Hubungan masyarakat dalam hal ini adalah hubungan masyarakat dengan sekolah yang diupayakan untuk menumbuh kembangkan pemahaman masyarakat akan kebutuhan pendidikan sehingga terbangun minat dan kooperasi dalam peningkatan mutu sekolah. Leslie (dalam Mulyasa, 2005:172) mendifinisikan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: “School public relation is a process of communication between the school and community for purpose for increasing citizen understanding of educational needs and practices and encouraging intelligent citizen interest and co-operation in the work of improving the school”.

Membaca dan memahami difinisi hubungan masyarakat yang diberikan oleh Leslie di atas, Indrafachrudi mengambil pokok-pokok pengertian berikut:
a) Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat.
b) Bermaksud untuk meningkatkan pengertian warga masyarakat.
c) Pengertian tentang kebutuhan dan pelaksanaan pendidikan.
d) mendorong minat warga masyarakat secara tepat.
e) Mendorng mereka bekerja sama untuk memajukan sekolah.

2. Tujuan Hubungan Masyarakat
Banyak tujuan hubungan masyarakat yang telah dikemukakan para pakar. Adapun tujuan dikembangkannya hubungan masyarakat dengan sekolah secara umum adalah untuk;
a) terciptanya komunikasi antara sekolah dengan masyarakat,
b) terciptanya pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan,
c) terbangunnya minat dan kooperasi masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah.
Sianipar (dalam Purwanto, 1987: 189-190) memilah tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat ini kedalam dua bagian sesuai dengan masing-masing dari kepentingan sekolah itu sendiri dan kepentingan masyarakat. Dilihat dari kepentingan sekolah, pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dengan masyarakat ini menurut Sianipar (dalam Purwanto, 1987: 189-190) bertujuan untuk:
a) Memelihara kelangsungan sekolah,
b) meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan,
c) memperlancar proses belajar mengajar, memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.

Sedangkan dilihat dari kepentingan masyararakat, tujuan hungan masyarakat dengan sekolah ini menurut Sianipar (dalam Purwanto, 1987: 190) adalah:
a) Memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam bidang mental-spiritual
b) Memperoleh bantuan sekolah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
c) Menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
d) Memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.

Peran Hubungan Masyarakat dalam Peningkatan Kualitas Sekolah. Mulyasa (2002:50) memandang bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pribadi peserta didik di sekolah. Menurutnya, sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien.

Hubungan yang telah terbangun dengan baik antara sekolah dan masyarakat menurut mulyasa (2002:51) akan dapat membentuk:
a) saling pengertian antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan lembaga-lembaga lain yang ada di masyarakat, termasuk dunia kerja;
b) saling membantu antara sekolah dan masyarakat karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing;
c) kerja sama yang erat antara sekolah dengan berbagai pihak yang ada di masyarakat dan mereka merasa ikut bertanggung jawab atas suksesnya pendidikan di sekolah.

C. Jenis dan Bentuk Kegiatan Humas
Purwanto (1987: 194) mengkategorikan hubungan masyarakat dengan sekolah kedalam tiga jenis, yakni:
a) Hubungan edukati,
b) Hubungan kultural, dan
c) Hubungan institusional.

Purwanto (1987: 194) mengartikan hubungan edukatif sebagai hubungan kerja sama dalam hal mendidik/murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adapun hubungan kultural ia artikan sebagi usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada.

Sedangkan hubungan institusional diartikan sebagai hubungan kerja sama antara sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi-instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerja sama antara sekolah dengan sekolah-sekolah lain, dengan kepala pemerintahan setempat, jawatan penerangan, jawatan pertanian, perikanan dan peternakan, dengan perusahaan-perusahaan pemerintah maupun swasta, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

Dan dilihat dari aspek kegiatan yang dilaksanakan untuk membangun dan mengembangkan hubungan itu, maka kegiatan hubungan masyarakat ini dapat dibedakan kedalam beberapa jenis yang masing-masing jenis dapat meliputi beberapa bentuk, yaitu:

1. Jenis tulisan.
Hubungan masyarakat jenis ini dapat dilaksanakan dalam beberapa bentuk kegiatan, yaitu:
a) mengadakan buletin sekolah atau majalah,
b) menyampaikan lembar informasi kepada masyarakat dalam bentuk liflet atau yang semisalnya,
c) catatan berita gembir atas perkembangan harian peserta didik kepada orang tua
d) catatan berita masalah peserta didik di sekolah untuk orang tua.

2. Jenis lisan
Hubungan masyarakat dalam jenis ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan:
a) kunjungan rumah para orang tua peserta didik.
b) panggilan orang tua ke sekolah, dan
c) pertemuan-pertemuan formal orang tua dengan pihak sekolah seperti: rapat musyawarah untuk pengembangan sekolah.

3. Jenis peragaan
Dalam jenis ini kegiatan dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan kurikuler dan ekastra kurikuler peserta didik, serta aktivitas para guru baik di sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat.

4. Jenis opini publik
Kegiatan hubungan masyarakat dalam jenis ini dapat berbentuk open house, mengundang masyarakat dalam kegiatan masive, seperti pengajian dan seminar, bakti sosial, pameran dan semisalnya. Muslim, dkk. (dalam Subakir, 2001:19) mengemukan bentuk-bentuk kegitan tersebut di atas denagan bahasa istilah berbeda. Dia menggunakan dalam bentuk kata kerja hingga menjadikannya sebagai cara untuk dapat menjalankan dan mengembangkan hubungan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat. Dikatakan bahwa bergagai cara yang dapat digunakan adalah:
a) berkirim surat,
b) bersilaturrahim,
c) terlibat dalam kegiatan masyarakat,
d) datang berkunjung di temapat atau kegiatan masyarakat,
e) bertelephon,
f) mengundang masyarakat dalam acara rapat yang diselenggarakan sekolah,
g) menyertakan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, dan
h) mengadakan pameran.

D. Pengelolaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat.
Hubungan Sekolah dengan masyarakat (humas) sebagai salah satu komponen penting dalam pengelolaan sekolah tidak dapat diabaikan. Komponen ini mesti direncanakan dengan baik dan benar, diorganisasikan, dilaksanakan dengan baik, dan juga mesti dievaluasi secara terus menerus tingkat keberhasilan dan kegagalannya untuk dapat meningkatkannya pada masa yang akan datang.

Adapun perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi program hubungan masyarakat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Perencanaan
Perencanaan pada dasarnya adalah penetapan keseluruhan aspek dari suatu kegiatan yang hendak dilakukan mulai dari tujuan, cara untuk mencapai tujuan itu, dan sumber yang diperlukan. Sejalan dengan hal ini, Fattah (2001:49) mengatakan bahwa perumusan tujuan yang ingin dicapai dari suatu kegiatan, pemilihan program untuk mencapai tujuan itu, serta identifikasi dan pengerahan sumber merupakan tiga kegiatan yang harus ada dan tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain dalam setiap perencanaan. Perencanan dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Dipandang dari sudut besarannya, perencanaan dibedakan kedalam perencanaan makro, perencanaan meso, dan perencanaan mikro.

Adapun dipandang dari tingkatannya maka perencanaan perencanaan dapat dibedakan ke dalam jenis-jenis:
a) perencanaan strategik, yakni konspigurasi tetang hasil yang diharapkan tercapai pada masa depan.
b) perencanaan koordinatif, yakni perencanaan yang ditujukan untuk mengarahkan jalannya pelaksanaan, sehingga tujuan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai secara efektif dan efisien, dan
c) perencanaan operasional, yakni perencanaan yang memusatkan perhatian pada apa yang akan dikerjakan pada tingkat pelaksanaan di lapangan dari suatu rencana strategi.. (Fattah, 2001: 54-58)

Perencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara mencapai tujuan itu pada tingkat nasional. Adapun perencanaan meso adalah kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada tingkat makro, kemudian dijabarkan ke dalam program-program yang bersekala kecil. Sedangkan perencanaan mikro adalah perencanaan pada tingkat institusionan dan merupakan penjabaran dari perencanaan tingkat meso. (Fattah, 2001: 54-55)

2. Pengorganisasian
Pengorganisasian dalam hal ini dipahami sebagai proses pembagian dan pengalokasian pekerjaan di antara para anggota sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif. Ernest Dale (dalam Fattah, 2001: 71-72) mengemukakan bahwa proses pengorganisasian meliputi:
a) pemerincian pekerjaan,
b) pembagian kerja,
c) penyatuan pekerjaan,
d) koordinasi pekerjaan, dan
e) monitoring dan reorganisasi.

Fattah (2001:72) memberikan penjelasan masing-masing bagian dalam proses pengorganisasian sebagai berikut: Tahap pertama, yang harus dikerjakan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tahap kedua, membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau kelompok. Tahap ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota dengan cara yang rasional, efisien. Pengelompokan tugas yang saling , jika organisasi sudah membesar atau kompleks. Tahap keempat, menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis. Tahap kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas.

3.Pengawasan
Pengawasan secara sederhana diartikan sebagai proses untuk menjamin bahwa kegiatan sesuai dengan yang direncanakan (Husnan, 1988:195) Adapun secara lebih terperinci Robert J. Mockler (dalam Husnan, 1988:196) mendefinisikan pengawasan sebagai usaha yang sistematis untuk menentukan standar hasil kerja dengan tujuan perencanaan, untuk merancang sistem informasi pemberian umpan balik, untuk membandingkan hasil kerja senyatanya dengan standar yang telah ditentukan, untuk menentukan apakah ada penyimpangan dan untuk mengukur penting tidaknya penyimpangan itu, dan untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar supaya sumber-sumber daya organisasi digunaka seefisien dan seefektif mungkin untuk mencapai tujuan organisasi.

4. Evaluasi
a) Evaluasi didefinisikan oleh Fattah (2001:107) sebagai proses pembuatan pertimbangan menurut suatu perangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan. Fattah (2001:108) juga mengemukan bahwa di antara tujuan evaluasi adalah untuk: memperoleh dasar bagi pertimbangan akhir suatu periode kerja, apa yang telah dicapai, apa yang belum dicapai, dan apa yang perlu mendapat perhatian khusus,
b) Menjamin cara kerja yang efektif dan efisien yang membawa organisasi kepada penggunaan sumber daya pendidikan (manusia/tenaga, sarana/prasarana, biaya) secara efisien ekonomis,
c) Memperoleh fakta tentang kesulitan, hambatan, penyimpangan dilihat dari aspek tertentu seperti program tahunan, kemajuan belajar.




Hakikat Manusia Dalam Filsafat Islam

0 komentar

A. Pendahuluan

Pemikiran tentang hakikat manusia sejak zaman dahulu kala sampai zaman modern sekarang ini juga belum berakhir dan munkin tak akan pernah berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia itu dari berbagai sudut pandang. Ada yang menyelidiki manusia dari segi fisik yaitu antropologi fisik, adapula yang menyelidiki dengan sudut pandang budaya yaitu antropologi budaya. Sedangkan yang menyelidiki manusia dari sisi hakikatnya disebut antropologi filsafat.

Memikirkan dan membicarakan hakikat manusia inilah yang menyebabkan orang tak henti-hentinya berusaha mencari jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan yang mendasar tentang manusia itu sendiri, yaitu apa dari mana dan mau kemana manusia itu.

Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas tentang hakikat manusia dalam filsafat pendidikan islam yang meliputi hakikat Allah menciptakan manusia, apa hakikat manusia, mengapa manusia memerlukan pendidikan, dan mengapa manusia bisa di didik. Semoga dengan pembhasan ini dapat menambah wawasan bagi kita dalam memahami hakikat diri kita sebagai manusia di muka bumi ini.


B. Hakikat Allah Menciptakan Manusia

Manusia disisi Allah adalah sebagai salah satu ciptaan (makhluk) Allah. Sebagaimana dalam QS. 96 : 2“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” QS. 2 : 21“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Makna yang paling mendasar yang dapat diambil dari hal ini (manusia sbg makhluk) adalah bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sesungguhnya semua yang diciptakan oleh Allah memiliki kekurangan dan keterbatasan. Sedangkan Allah Maha Sempurna, tidak memiliki kekurangan, keterbatasan atau kelemahan.Yang menunjukkan hal tersebut adalah ucapan “Subhanallah”, “Maha Suci Allah dari serba kekurangan dan keterbatasan”. Oleh karena itu tidaklah pantas manusia sebagai ciptaan untuk menyombongkan dirinya. Allahlah yang pantas untuk sombong, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna.

Allah swt memeberikan keutamaan lebih kepada manusia dari pada makhluk yang lain. Manusia dilantik menjadi Abdullah dan Khalifatullah dimuka bumi ini untuk memakmurkannya. Oleh karena itu dibebenkan kepada manusia amanah Attaklif, dan diberikankan pula kebebasan dan tanggung jawab memiliki serta memelihara nilai-nilai kemuliaan.

Kemuliaan yang diberikan bukanlah karena bangsanya, warna kulitnya, kecancikannya, perawakannya, harta, derajatnya, akan tetapi semata-mata karena iman dan dan taqwanya kepada Allah swt.

Semua itu dijelaskan dalam al-qur’an surat al-baqarah ayat 21 yang artinya “ Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertaqwa “

Dan ayat 30 yang artinya “ Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malikat, “aku hendak menjadikan khalifah dimuka bumi” mereka berkata apakah engkau akan menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan aku memuji-Mu dan menyucikan-Mu, Dia berfirman sungguh aku mengetahui apa ynag tidak kamu ketahui “
Allah swt juga menjelaskan hakikat ciptaan manusia dalam surat az-zariyat ayat 56 yang artinya “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku ”

C. Hakikat Manusia

Hakikat manusia menurut al-Qur’an ialah bahwa manusia itu terdiri dari unsur jasmani, unsur akal, dan unsur ruhani. Ketiga unsur tersebut sama pentingnya untuk di kembangkan. Sehingga konsekuensinya pendidikan harus di desain untuk mengembangkan jasmani, akal, dan ruhani manusia.

Unsur jasmani merupakan salah satu esensi ( hakikat ) manusia sebagai mana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-baqarah ayat 168 yang artinya “ Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dari bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan karena sesungguhnya syuetan itu adalah musuh yang nyata bagimu “

Akal adalah salah satu aspek terpenting dalam hakikat manusia. Akal digunakan untuk berpikir, sehingga hakikat dari manusia itu sendiri adalah ia mempunyai rasa ingin, mempunyai rasa mampu, dan mempunyai daya piker untuk mengetahui apa yang ada di dunia ini.

Sedangkan aspek ruhani manusia di jelaskan dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 29 yang artinya “ Tatkala aku telah menyempurnakan kejadiannya, aku tiupkan kedalamnya ruhku.kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud “

Dalam hal ini muhammad Quthub menyimpulkan bahwa eksistensi manusia adalah jasmani, akal, dan ruh, yang mana ketiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan.

D. Manusia Memerlukan Pendidikan

Bagi filsafat pendidikan penentuan sikap dan tanggapan tentang manusia merupakan hal yang amat penting dan vital. Sebab manusia merupakan unsur terpenting dalam usaha pendidikan. Tanpa tanggapan dan sikap yang jelas tentang manusia pendidikan akan merasa raba.

Bahkan pendidikan itu sendiri itu dalam artinya yang paling asas tidak lain adalah usaha yang dicurahkan untuk menolong manusia menyingkap dan menemukan rahasia alam memupuk bakat dan dan mengarahkan kecendrungannya demi kebaikan diri dan masyarakat . usaha itu berakhir dengan berlakunya perubahan yang di kehendaki dari segi social dan psikologis serta sikap untuk menempuh hidup yang lebih berbahagia dan berarti.

Manusia mengalami proses pendidikan terus berlangsung sampai mendekati waktu ajalnya. Proses pendidikan adalah life long education yang dilihat dari segi kehidupan masyarakat dapat dikatakan ebagai proses yang tanpa akhir.

Bila dipandang dari segi kemampuan dasar pedagogis, manusia dipandang sebagai “homo edukadum” mahluk yang harus dididik, atau bisa disebut “animal educabil ” mahluk sebangsa binatang yang bisa dididik, maka jelaslah bahwa manusia itu sendiri tidak dapat terlepas dari potensi psikologis yang dimiliknya secara individual berbeda dalam abilitas dan kapabilitasnya, dari kemampuan individual lainnya. Dengan berbedanya kemampuan untuk dididk itulah fungsi pendidikan pada hakikatnya adalah melakukan seleksi melalui proses pendidikan atas pribadi manusia.
Dari segi sosial psikologis manusia dalam proses pendidikan juga dapat dipandang sebagai mahluk yang sedang tumbuh dan berkembangdalam proses komonikasi antara individualitasnya dengan orang lain atau lingkungan sekitar dan proses membawanya kea rah pengembangan sosialitas dan moralitasnya. Sehingga dalam proses tersebut terjadilah suatu pertumbuhan atau perkembangan secara dealiktis atau secara interaksional antara individualitas dan sosialitas serta lingkungan sekitarnya sehingga terbentuklah suatu proses biologis, sosiologis, dan psikologis.

E. Manusia Bisa Dididik

Kemampuan belajar manusia sangat berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengetahui dan mengenal terhadap obyek-obyek pengamatan melalui panca indranya. Membahas kemampuan mengetahui dan mengenal tidak dapat terlepas dari filsafat dalam bidang epistimologi. Karena filsfat ini menunjukkan kepada kita betapa dan sejauh mana manusia dapat mengetahui dan mengenal obyek-obyek pengamatan disekitarnya. Apa pengetahuan itu, cara mengetahui, dan memperoleh pengetahuan serta berbagai jenis pengalaman indrawi.

Panca indera manusia adalah merupakan alat kelengkapan yang dapat membuka kenyataan alam sebagai sumber pengetahuannya yang memunkinkan dirinya untuk menemukan hakikat kebenaran yang diajarkan oleh agamanya atau oleh Tuhannya. Panca indera manusia merupakan pintu gerbang dari pengetahuan yang makin berkembang. Oleh karena itu Allah mewajibkan panca indera manusia untuk digunakan menggali pengetahuan.

Dalam hal ini islam lebih cenderung untuk menegaskan bahwa perpaduan antara kemampuan jiwa dan kenyataan materi sebagai realita merupakan sumber proses “mengetahui” manusia yang keduanya merupakan “kebenaran”menurut ukuran proses hidup manusiawi bukan Ilahi. Kebenaran yang hakiki hanyalah Tuhan sendiri, dan kebenaran hakiki inilah yang menciptakan segala kenyataan alami dan manusiawi dengan diberi mekanisme hukum-hukumnya sendiri. Bila Ia menghendaki mekanisme itu bisa di rubah menurut kehendaknya.

F. Teori Emanasi Al Farabi

Nama lengkapnya adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Auzalagh. Lahir pada 870 M di desa Wasij, bagian dari Farab, yang termasuk bagian dari wilayah Mā Warā`a al-Nahr (Transoxiana); sekarang berada di wilayah Uzbekistan. Al-Farabi meninggal di Damaskus, ibukota Suriah pada umur sekitar 80 tahun, tepatnya pada 950 M. Di negeri Barat, al-Farabi dikenal dengan nama Avennaser atau Alfarabius. Ayahnya berasal dari Persia (Suriah) yang pernah menjabat sebagai panglima perang Turki. Sedang ibunya berasal dari Turki.

Al-Farabi dipandang sebagai filosof Islam pertama yang berhasil menyusun sistematika konsepsi filsafat secara meyakinkan. Posisinya mirip dengan Plotinus (204 – 270 M) yang menjadi peletak filsafat pertama di dunia Barat. Jika orang Arab menyebut Plotinus sebagai Syaikh al-Yūnānī (guru besar dari Yunani), maka mereka menyebut al-Farabi sebagai al-Mu’allim al-Tsānī (guru kedua) di mana “guru pertama”-nya disandang oleh Aristoteles. Julukan “guru kedua” diberikan pada al-Farabi karena dialah filosof muslim pertama yang berhasil menyingkap misteri kerumitan yang kontradiktif antara pemikiran filsafat Aristoteles dan gurunya, Plato.

Melalui karya al-Farabi berjudul al-Ibānah ‘an Ghardh Aristhū fī Kitāb Mā Ba’da al-Thabī’ah (Penjelasan Maksud Pemikiran Aristoteles tentang Metafisika). Karya al-Ibānah inilah yang membantu para filosof sesudahnya dalam memahami pemikiran filsafat Yunani. Konon Ibnu Sina (filosof besar sesudah al-Farabi) sudah membaca 40 kali buku metafisika karya Aristoteles, bahkan dia menghafalnya, tetapi diakui bahwa dirinya belum mengerti juga. Namun setelah membaca kitab al-Ibānah karya al-Farabi yang khusus menjelaskan maksud dari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku mulai paham pemikiran metafisik-nya Aristoteles.

Sekilas tentang Pemikiran Filsafatnya, Al-Farabi menggunakan proses konseptual yang disebutnya dengan nazhariyyah al-faidh (teori emanasi) untuk memahami hubungan antara Tuhan dan alam pluralis dan empirik. Menurut teori ini, alam terjadi dan tercipta karena pancaran dari Yang Esa (Tuhan); yaitu keluarnya mumkin al-wujūd (disebut alam) dari pancaran Wājib al-Wujūd (Tuhan). Proses terjadinya emanasi (pancaran) ini melalui tafakkur (berpikir) Tuhan tentang diri-Nya, sehingga Wājib al-Wujūd juga diartikan sebagai “Tuhan yang berpikir”. Tuhan senantiaa aktif berpikir tentang diri-Nya sendiri sekaligus menjadi obyek pemikiran.

Al-Farabi memberi 3 istilah yang disandarkan padaTuhan: al-‘Aql (akal, sebagai zat atau hakikat dari akal-akal); al-‘Āqil (yang berakal, sebagai subyek lahirnya akal-akal); dan al-Ma’qūl (yang menjadi sasaran akal, sebagai obyek yang dituju oleh akal-akal). Adapun sistematika teori emanasi al-Farabi adalah sebagai berikut:
1. Tuhan sebagai al-‘Aql dan sekaligus Wujud I. Tuhan sebagai al-‘Aql (Wujud I) ini berpikir tentang diri-Nya hingga melahirkan Wujud II yang substansinya adalah Akal I → al-Samā` al-Awwal (langit pertama).
2. Wujud II itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud III yang substansinya Akal II → al-Kawākib (bintang-bintang).
3. Wujud III itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud IV yang substansinya Akal III → Saturnus.
4. Wujud IV itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud V yang substansinya Akal IV → Jupiter.
5. Wujud V itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud VI yang substansinya Akal V → Mars.
6. Wujud VI itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud VII yang substansinya Akal VI → Matahari.
7. Wujud VII itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud VIII yang substansinya Akal VII → Venus.
8. Wujud VIII itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud IX yang substansinya Akal VIII → Mercury.
9. Wujud IX itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud X yang substansinya Akal IX → Bulan.
10. Wujud X itu berpikir tentang Wujud I hingga melahirkan Wujud XI yang substansinya Akal X → Bumi, ruh, dan materi pertama (hyle) yang menjadi dasar terbentuknya bumi: api, udara, air, dan tanah. Akal X ini disebut juga al-‘aql al-fa’āl (akal aktif) yang biasanya disebut Jibril yang berperan sebagai wāhib al-suwar (pemberi bentuk, form).
Al-Farabi membagi wujud-wujud itu ke dalam dua kategori:
1. esensinya tidak berfisik (baik yang tidak menempati fisik [yaitu Tuhan, Akal I, dan Akal-Akal Planet] maupun yang menempati fisik [yaitu jiwa, bentuk, dan materi]).
2. esensinya berfisik (yaitu benda-benda langit, manusia, hewan, tumbuhan, barang-barang tambang, dan unsur yang empat, yaitu: api, udara, air, dan tanah).
Pemikiran al-Farabi yang lain adalah tentang jiwa. Menurutnya, jiwa berasal dari pancaran Akal X (Jibril). Hubungan antara jiwa dan jasad hanya bersifat accident (‘ardhiyyah), artinya ketika fisik binasa jiwa tidak ikut binasa, karena substansinya berbeda. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nāthiqah (jiwa yang berpikir) yang berasal dari alam Ilahi, sedang jasad berasal dari alam khalq yang berbentuk , berkadar, bergerak, dan berdimensi.

Jiwa manusia, menurut al-Farabi, memiliki 3 daya:
1. daya gerak (quwwah muharrikah), berupa: makan (ghādiyah, nutrition), memelihara (murabbiyah, preservation), dan berkembang biak (muwallidah, reproduction);
2. daya mengetahui (quwwah mudrikah), berupa: merasa (hāssah, sensation) dan imajinasi (mutakhayyilah, imagination); dan
3. daya berpikir (al-quwwah al-nāthiqah, intellectual), berupa: akal praktis (‘aql ‘amalī) dan akal teoretis (‘aql nazharī).

Dan al-‘aql al-nazharī terbagi pada 3 tingkatan:
1. al-‘aql al-hayūlānī (akal potensial, material intellect) yang mempunyai “potensi berpikir” dalam arti melepaskan arti-arti atau bentuk-bentuk (māhiyah) dari materinya;
2. al-‘aql bi al-fi’l (akal aktual, actual intellect) yang dapat melepaskan arti-arti (māhiyah) dari materinya dan arti-arti itu telah mempunyai wujud dalam akal yang sebenarnya (aktual), bukan lagi dalam bentuk potensial;
3. al-‘aql al-mustafād (akal pemerolehan, acquired intellect) yang sudah mampu menangkap bentuk murni (pure form) tanpa terikat pada materinya karena keberadaannya (pure form) tidak pernah menempati materi. Al-‘aql al-mustafād bisa berkomunikasi dengan akal ke-10 (Jibril) dan mampu menangkap pengetahuan yang dipancarkan oleh “akal aktif” (‘aql fa’āl). Dan ‘aql fa’āl menjadi mediasi yang bisa mengangkat akal potensial naik menjadi akal aktual, juga bisa mengangkat akal aktual naik menjadi akal mustafad. Hubungan antara ‘aql fa’āl dan ‘aql mustafād ibarat mata dan matahari.

G. Simpulan

Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa pada hakikatnya Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini adalah semata-semata untuk mengabdi kepada-Nya dan untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Hakikat penciptaan manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu unsur jasmani, unsur akal, dan unsur ruhani, yang mana ketiga unsur tersebut menjadi satu kesatuan pada diri manusia.

Dalam pemikiran filsafatnya, Al-Farabi menggunakan proses konseptual yang disebutnya dengan nazhariyyah al-faidh (teori emanasi) untuk memahami hubungan antara Tuhan dan alam pluralis dan empirik. Menurut teori ini, alam terjadi dan tercipta karena pancaran dari Yang Esa (Tuhan); yaitu keluarnya mumkin al-wujūd (disebut alam) dari pancaran Wājib al-Wujūd (Tuhan). Proses terjadinya emanasi (pancaran) ini melalui tafakkur (berpikir) Tuhan tentang diri-Nya, sehingga Wājib al-Wujūd juga diartikan sebagai “Tuhan yang berpikir”. Tuhan senantiaa aktif berpikir tentang diri-Nya sendiri sekaligus menjadi obyek pemikiran.




 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum