Hakikat Cinta

Minggu, 14 November 2010 7 komentar

Mula-mula permainan, lama-lama menjadi sungguhan, itulah perjalanan cinta. Cinta memiliki makna yang indah dan agung. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikat cinta tak dapat ditemukan selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta adalah urusan hati. Dan hati adalah urusan Ilahi.

Cinta adalah penghubung jiwa-jiwa manusia yang beraneka corak dan warna. Sedangkan jiwa adalah inti kebudiluhuran manusia. Jiwa adalah kejernihan dan kebeningan serta ketentraman. Jiwa selalu menyertai langkah manusia yang tiada henti memburu ketenangan dan ketentraman.

Sesungguhnya cinta merupakan sesuatu yang bersemayam dalam jiwa yang terdalam. Cinta adalah bayangan indah yang terhujam dalam jiwa. Cinta adalah selaksa kasih yang terukir dalam hati manusia.

Jika ada orang yang tak membalas cinta, sesungguhnya jiwanya tidak dapat merasakan ketersambungan getaran cinta yang disampaikan oleh jiwa orang yang mencintinya. Jika seseorang merasakan getaran cinta, maka segenap perhatian cinta kasih dan sayangnya akan tercurah pada sang kekasih tercinta. Ia curahkan segalanya dengan penuh kesadaran hati untuk mempersatukan jiwanya dengan jiwa sang keksihnya. Saat ia terpisah, maka ia akan mencarinya,ia akan mendatanginya, dan ia selalu merindukannya.

Jiwa-jiwa manusia laksana pasukan bersenjata. Yang saling mengenal akan menyatu. Dan yang tidak saling mengenal akan bercerai. Cinta adalah kejujuran, ketulusan, dan kesetiaan. Cinta sejati adalah kesucian yang harus dijaga. Cinta yang semestinya adalah berhulu iman, bermuara takwa, dan kebersihan jiwa.

Namun, terkadang cinta juga menjadi racun dalam kehidupan manusia. Dengan cinta permusuhan merajalela, akan timbul rasa benci tanpa alasan dan tujuan yang tak mesti, serta dengan cinta terkadang kita enggan untuk berjumpa tanpa alasan yang nyata.

Obat dari semua itu adalah sejauh mana kita berinteraksi dengan orang yang kita cinta…? Sejauh mana kita berkunjung ke tempat yang kita suka…? Dan sejauh mana kita melakukan sesuatu yang kita senangi…?

Satukanlah jiwa-jiwa kalian dengan cinta yang hakiki. Yaitu mencintai karena Allah semata. Karena itulah paling utamanya cinta. Dengan cinta perdamaian akan tercipta. Dengan cinta pula ketentraman jiwa akan terjaga. Cinta membuat hal yang dipandang hina menjadi mulia. Dan cinta akan merubah yang rumit menjadi mudah……….!

“Dialah yang menciptakan dirimu dari jiwa yang satu ( Adam ) dan darinya Dia menciptakan pasangannya agar dia merasa senang kepadanya…….”( QS.Al-A’raf 189 )

Merencanakan Kurikulum

0 komentar

A.Merencanakan Kurikulum

Usaha peningkatan mutu pendidikan tinggi selama ini nampaknya belum mencapai taraf yang memadai (critical mass). Dengan pendidikan diharapkan mampu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat pada umumnya. Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memaknai mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan akademik dan lebih khusus lagi hanya aspek kognitif, yang pada gilirannya berdampak terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni dan olah raga serta life skill. Berdasarkan hal tersebut, maka kurikulum perlu disempurnakan dengan pendekatan berbasis kompetensi.
Telah dimaklumi bersama, bahwa kurikulum merupakan perangkat pendidikan yang dinamis. Oleh karena itu, kurikulum juga harus peka merespon beragam perubahan dan tuntutan stakeholders yang menginginkan adanya peningkatan kualitas pendidikan. Bagaimana merencanakan kurikulum seperti yang dikehendaki stakeholders? Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan.

1. Langkah-Langkah Perencanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) meliputi perumusan visi, misi, profil lulusan, analisis tugas lulusan, kompetensi lulusan, bahan kajian, elemen kompetensi, nama mata kuliah, identifikasi pengalaman belajar, sumber belajar, bobot satuan kredit semester (SKS), dan alokasi waktu.

Langkah-Langkah

a. Menetapkan Visi
Rumusan visi merupakan penjabaran visi institusi (universitas) ke fakultas, jurusan/bagian/program studi. Perumusan visi didasarkan atas pertimbangan societal needs, professional needs, dan academic needs

b. Menuliskan Misi
Mendeskripsikan tentang apa yang hendak dicapai dan untuk siapa

c. Profil lulusan
Deskripsi singkat tentang peran yang dapat dilakukan seorang lulusan, dan bukan gambaran singkat tentang data lulusan

d. Analisis tugas
Menjabarkan nomor c dengan membuat indikatornya (dokter, pendidik, hukum, ekonom, dan sebagainya)

e. Perumusan kompetensi
Lulusan seperti apa yang akan dibentuk melalui program pendidikan ini

f. Kajian elemen kompetensi
- Bahan kajian tentang disiplin ilmu secara komprehensip dan sistemik untuk membentuk sebuah kompetensi.
- Untuk membentuk sebuah kompetensi diperlukan beberapa bahan kajian.
- Bahan kajian nantinya akan diturunkan menjadi mata kuliah

g. Menetapkan elemen kompetensi Elemen kompetensi meliputi:
landasan kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemampuan berkarya, sikap perilaku dalam berkarya, dan pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat.

h.Identifikasi nama mata kuliah
Penamaan mata kuliah berdasarkan rumpun topik kajian dari kolom f

i. Identifikasi pengalaman belajar
Perekayasaan kegiatan belajar agar mahasiswa dapat melakukan sendiri sehingga kompetensi dapat tercapai/terbentuk

j. Sumber-sumber belajar
Menunjukkan berbagai sumber belajar yang dapat diakses guna mendukung baik langsung maupun tidak langsung dalam proses pembelajaran (paper, person maupun place)

k. Penentuan bobot SKS
Disesuaikan dengan urgensi dan status materi

l. Alokasi waktu
Ditetapkan berdasarkan pengalaman belajar, luas bahan, tingkat kesulitan, dsb.

2. Menyusun Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah perumusan tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tugas/pekerjaan yang didasari atas pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan.

Dengan dikuasainya kompetensi tersebut, maka yang bersangkutan akan mampu:
a. mengerjakan suatu tugas/pekerjaan
b. mengorganisasikannya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan
c. melakukan suatu tindakan bilamana terjadi hal yang berbeda dengan rencana semula
d. menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugas dengan kondisi yang berbeda

Standar kompetensi oleh berbagai pihak. Pertama, institusi pendidikan dan pelatihan guna memberikan informasi dalam rangka pengembangan program dan kurikulum; sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelatihan penilaian, sertifikasi. Kedua, dunia usaha/industri dan penggunaan tenaga kerja, yakni membantu dalam rekrutmen, penilaian unjuk kerja, membuat uraian jabatan, dan mengembangkan program pelatihan yang spesifik berdasar kebutuhan dunia usaha/industri. Ketiga, institusi penyelenggara pengujian dan sertifikasi, yakni sebagai acuan dalam merumuskan paket-paket program sertifikasi sesuai dengan kualifikasi dan levelnya, dan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelatihan penilaian dan sertifikasi

Kompetensi kunci adalah kemampuan kunci atau generik yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan. Ada tujuh kompetensi kunci, yaitu:

a. Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi
b. Mengkomunikasikan ide dan informasi
c. Merencanakan dan mengatur kegiatan
d. Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok
e. Menggunakan ide dan teknik matematika
f. Memecahkan persoalan/masalah
g. Menggunakan teknologi

Level kompetensi adalah pengelompokan unit-unit kompetensi berdasarkan pada tingkat kesukaran atau kompleksitas serta tingkat persyaratan yang harus dipenuhi. Tingkat kompleksitas ditentukan oleh seberapa banyak kompetensi kunci tersebut tercakup dalam unit.

Level 1:
Mampu melaksanakan tugas /pekerjaan yang bersifat rutin atau prediktabel berdasar pada Standart of Operating Procedure (SOP) serta di bawah pengawasan atasan.


Lavel 2:
Pada level ini yang bersangkutan mampu melaksanakan tugas /pekerjaan rutin serta pekerjaan lain yang memerlukan tanggungjawab dan otonomi.

Lavel 3:
Pada level ini yang bersangkutan mampu melakukan tugas/pekerjaan yang menuntut kemampuan analisis dan evaluasi dengan berbagai konteks serta mampu memberikan bimbingan dan supervisi pada bawahannya.

3. Melaksanakan Kurikulum di Tingkat Institusi (Jurusan/Prodi/Bagian)

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu ‘didesentralisasikan’ terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan mahasiswa, dan, keadaan institusi. Konsekuensianya, fakultas/jurusan/prodi/bagian perlu menyusun silabus dengan cara melakukan penjabaran dan penyesuaian Kompetensi Dasar ke dalam bentuk rencana pembelajaran yang memuat materi yang relevan, sesuai dengan kondisi serta potensinya (otonomi pendidikan).

Pengelolaan kurikulum di tingkat institusi dapat dilakukan, jika institusi yang bersangkutan telah mampu mengelola kurikulum nasional untuk dijabarkan menjadi silabus yang berstandar menjadi bahan ajar yang siap pakai. Siap pakai yang dimaksud meliputi penguasaan metode mengajar, kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, pemilihan dan penggunaan alat bantu dan sumber belajar, jenis penilaian yang sesuai dengan kompetensi yang dilatihkan, serta mampu memberikan kegiatan perbaikan dan pengayaan kepada mahasiswa.

Dalam penyusunan kurikulum, ada sejumlah perangkat yang perlu dipertimbangkan seperti kewenangan universitas, yaitu merumuskan landasan filosofis, rekonseptualisasi kurikulum, pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, penilaian berbasis kelas, serta bentuk-bentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien.

4. Mengembangkan Silabus

a. Pengertian

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata kuliah/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar (kegiatan pembelajaran), pencapaian indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/referensi belajar.

b. Prinsip-prinsip pengembangan silabus

1) Ilmiah. Keseluruhan materi dalam kajian silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2) Relevan. Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial emosional, dan spiritual mahasiswa.
3) Sistematis. Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4) Konsisten. Adanya hubungan konsisten (taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi okok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5) Memadai. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6) Aktual dan kontekstual. Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian harus memperhatikan perkembangan ilmu dan teknologi dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi.
7) Fleksibel. Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keberaga-man mahasiswa, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di kampus dan tuntutan masyarakat.
8) Menyeluruh. Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif).

c. Unit waktu Silabus

1) Silabus mata kuliah disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang disediakan selama satu penyelenggaraan pembelajaran di setiap prodi/ jurusan/bagian.
2) Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada struktur kurikulum yang telah ada.

d. Langkah-Langkah Pengembangan Silabus

1) Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar
Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata kuliah dengan mempertimbangkan hal-hal seperti berikut:
(a) Urutan berdasarkan hirarkhis konsep disiplin dan/atau tingkat kesulitan materi
(b) Keterkaitan antar unsur standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam materi ajar
(c) Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata kuliah

2) Merumuskan Indikator Keberhasilan Belajar
(a) Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi yang menunjukkan tanda-tanda, perbuatan atau respon yang dilakukan atau keterampilan mahasiswa.
(b) Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata kuliah, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan dapat diamati. Indikator ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun alat penilaian.

3) Mengembangkan Pengalaman Belajar
(a) Pengalaman belajar merupakan kegiatan mental dan fisik yang dilakukan mahasiswa dalam berinteraksi dengan sumber belajar melalui pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan mahasiswa.
(b) Pengalaman belajar memuat pengalaman hidup yang perlu dikuasasi mahasiswa.
(c) Rumusan pengalaman belajar juga mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar mahasiswa.

4) Mengidentifikasi Bahan Kajian/Materi Pokok
Mengindentifikasi bahan kajian/materi pokok yang menunjang pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:
(a) Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual mahasiswa
(b) Kemanfaatan bagi mahasiswa
(c) Struktur keilmuan
(d) Kedalaman dan keluasan materi
(e) Relevansi dengan kebutuhan mahasiswa dan tuntutan lingkungan
(f) Alokasi waktu

5) Penentuan Jenis Penilaian
Penilaian pencapaian kompetensi dasar mahasiswa dilakukan beradasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk penggunaan portofolio dan penilaian diri.

6) Menentukan Alokasi Waktu
Alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan dan tingkat kepentingan kompe-tensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk menguasai kompetensi dasar.

7) Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan atau bahan yang digunakan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Hal ini bisa berupa media cetak dan elektronik, nara sumber serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi.

e. Pengembangan Silabus Berkelanjutan

Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dilaksanakan, dievaluasi dan ditindaklanjuti oleh masing-masing dosen. Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran) dan evaluasi rencana pembelajaran.

B. Menentukan Isi Kurikulum

Pada bagian ini perlu ditulis mengenai identitas lembaga atau institusi penyele-nggara pendidikan, termasuk segala perangkat pendukungnya, yang meliputi:

1. Identitas Lembaga:
Yang memuat Nama Fakultas, Program Studi, Bagian atau sejenisnya sebagai penyelenggara pendidikan

2. Gelar Lulusan:
Menyesuaikan dengan ketentuan aturan yang berlaku

3. Tujuan Pendidikan:
Merupakan cerminan visi, harapan tentang citra lulusan dari lembaga penyelenggara pendidikan; termasuk citra kompetensi (sebagai ciri pembeda antara Fakultas, Jurusan, Program Studi, Bagian seperti: pengetahuan dan pemahaman, keterampilan intelektual, keterampilan praktis, dan keterampilan managerial dan sikap.

4. Fasilitas utama penyelenggaraan Jurusan/Program Stusi/Bagian
Sarana dan prasarana pembelajaran pendukung seperti media pembelajaran, laboratorium baik di dalam maupun di luar kampus, perpustakaan, jaringan informasi dengan lembaga internal maupun eksternal. Serta tenaga non-edukatif yang telah terlatih guna membantu penyelenggaraan pembelajaran.

5. Persyaratan akademis dosen
Pendidikan tenaga akademis yang harus dimiliki sebagai penyangga penyele-nggaraan pembelajaran; serta kualifikasi dan relevansinya dengan lembaga.

6. Penentuan Substansi Kajian Kompetensi
Dengan substansi kajian ini dapat membedakan kompetensi utama dan kompetensi penunjang

7. Proses belajar-mengajar dan bahan kajian:
Strategi pembelajaran mana yang akan dipilih sesuai dengan bahan kajian tersebut; yang dapat memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa.

8. Sistem evaluasi berdasarkan kompetensi:
Dalam kurikulum berbasis kompetensi (KBK) diseyogyakan menggunakan sistem evaluasi berbasis kelas. Dengan harapan agar semua kegiatan mahasiswa dapat dihargai secara objektif (progressiveness, benchmarking, authentic assessment-portofolio)

9. Pelibatan kelompok calon pengguna
Sebagai institusi penyedia lulusan (supply) tentunya harus disesuaikan dengan calon pengguna atau permintaan (needs) stakeholders agar terjadi keseimbangan Calon pengguna dapat dihadirkan di kampus atau institusi mengadakan survei ke lapangan; studi literatur atau dengan cara lain yang paling sesuai.

10. Struktur Kurikulum:
Uraian tentang ciri khas kompetensi utama lulusan sebagai pembeda antara jurusan/program studi/bagian, yang dilihat dari gatra: (1) nilai pembentuk kehidupan yang berkebudayaan, (2) keterkaitan komplementer-sinergis di antara kompetensi utama

11. Kurikulum Inti:
Sifatnya nasional, ditentukan secara nasional (given) dari Departemen Pendidikan Nasional atau organisasi profesi, tidak sampai pada bentuk mata kuliah, dan hanya berbentuk kompetensi dan substansi-kajian.

12. Kurikulum Institusional:
Sifatnya lokal, merupakan kekhususan program studi, dikembangkan oleh jurusan, program studi, atau bagian sampai dengan penentuan mata kuliah; pelibatan stakeholders, expert atau trans-expert

13. Format Kurikulum:
Meliputi standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator.
Format Silabus: memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, pangalaman belajar, hasil belajar, indikator pencapaian, langkah pembelajaran yang memuat kegiatan mahasiswa dan materi, alokasi waktu, sistem evaluasi yang digunakan, serta sarana dan sumber belajar yang digunakan. Format silabus terlampir. Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang meliputi identitas mata kuliah, tahap kegiatan, kegiatan pembelajaran, media, metode, sumber belajar/bahan, dan alokasi waktu. Format RPP terlampir.

Wahai Pemuda Jangan Layu Sebelum Berbuah…!*

Jumat, 12 November 2010 0 komentar

Sering di usia produktif, dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar

Semua manusia di dunia ini secara fisik tunduk kepada fenomena penciptaan-Nya. Ia akan meniti fase shobi (bayi), thifl (balita), murahiq (pemuda), kuhulah (dewasa), dan syaikh (tua). Makhluk-makhluk-Nya itu selalu bertasbih kepada Allah Swt dengan bahasanya sendiri. Tetapi, usia paling menentukan arah kehidupan seseorang adalah fase murahaqa (puber) dan kuhulah (produktif) antara usia 15-35 tahun.

Ada sebuah ungkapan ahli hikmah: “Siapa yang tumbuh, berkembang pada masa mudanya di atas, akhlak, orientasi (ittijah), kepribadian (syakhshiyyah), karakter, bakat (syakilah) khusus, maka rambutnya akan memutih (al masyiibu) dalam keadaan ia memiliki tradisi (daabu), akhlak seperti itu.”

Ahli sastra Arab dahulu pernah menjelaskan impian orang tua yang ingin kembali pada masa muda. Tetapi, itu suatu kemustahilan.

“Alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini. Aku akan memberitahukan kepada khalayak (ramai) tentang apa yang dilakukan oleh orang yang sudah pikun dan beruban”.

Marilah kita hitung usia produktif dalam logika kehidupan manusia.

Umumnya umat Rasulullah Saw berusia antara 60-70 tahun (HR. Ahmad). Seumpama kita ditakdirkan berumur 63 tahun seperti uswah, qudwah (panutan) kita, 13 tahun pertama tentu tidak masuk perhitungan, berarti tidak bisa kita nilai. Kita belum baligh. Jadi, usia kita yang bisa dihitung 47 tahun.

Jika dalam sehari tidur belasan jam. Yang tersisa setiap hari 2/3. Tinggallah seputar 16 jam. Dalam aktivitas tidur tersebut tidak ada catatan amal. Untuk ukuran ini saja, dari 47 tahun, yang tertinggal 2/3-nya.

Lantas, sebagian besar ke mana? Orang itu produktif pada usia puber atau pada usia tua? Pertanyaan itu perlu kita jawab secara serius. Supaya aktivitas kita bisa dihisab oleh Allah Swt.

Semakin sering kita berhasil menghadapi godaan pada usia muda, seperti itulah ending kita pada masa tua (syaikhukhah). Sebaliknya, semakin sering kita kalah dalam mengantisipasi ujian, seperti itulah akhir kehidupan kita. Pertarungan yang paling berat dan keras adalah pada usia muda. Kalau diibaratkan seperti matahari, maka usia muda adalah ketika sinar matahari berada persis di tengah-tengah kita. Betapa teriknya pada siang bolong itu.

Itulah sebabnya Allah Swt memberikan penghargaan kepada pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah Swt (syaabun nasya-a fi ‘ibadatillah). Bahkan Allah Swt memberikan perlindungan di padang Mahsyar, ketika tiada naungan kecuali naungan-Nya. Karena pada usia produktif tersebut dorongan kuat untuk beramal saleh berbanding lurus dengan dorongan melanggar. Maka, mengelola masa muda agar tunduk kepada karakter keagamaan merupakan perjuangan yang berliku, licin, dan mendaki. Hanya pemuda yang mendapat rahmat dari-Nya yang berhasil melewati godaan.

“Ya Allah, jadikanlah usiaku yang paling baik adalah pada penghujungnya, dan amalku yang terbaik adalah pungkasannya, dan hari-hariku yang terbaik adalah hari-hari saya bertemu dengan-MU.” [al Hadits].

Secara sunnatullah keberhasilan masa tua kita ditentukan oleh perjuangan yang tak kenal menyerah di masa muda. Keberhasilan mustahil diperoleh dengan gratis (majjanan), tanpa melewati proses ujian. Ibarat anak sekolah, untuk naik kelas harus mengikuti ujian. Jika kita kurang terampil mengelola masa muda dengan menggali potensi thalabul ‘ilmi (ijtihad), taqarrub ilallah (mujahadah), jihad fii sabilillah (jihad), secara maksimal kelak akan kita pertanggungjawabkan di Mahkamah Ilahi (‘an syabaabihi fiimaa ablaahu).

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

“Barangsiapa jelek akhlaknya (ketika pemuda), ia akan tersiksa ketika tua.”

Mengikuti Siklus Ibadah

Mengapa kita perlu shalat lima waktu sehari semalam. Kita ibarat membuat kolam renang di depan rumah, setiap kali azan berkumandang kita segera membersihkan lumpur yang menempel dalam diri kita. Sehingga tidak tersisa sisi gelap dalam pikiran dan hati kita, demikianlah sabda Rasulullah Saw.
demikian sabda Nabi.

Allah Swt membuat perencanaan ibadah, agar kita selalu terjaga. Ibadah yaumiyyah, harian (shalat lima waktu), usbuiyyah, mingguan (shalat Jum’at, puasa Senin Kamis, puasa tiga hari dalam sebulan), syahriyyah, bulanan (puasa Ramadan), sanawiyyah, tahunan (shalat idul fithr dan idul qurban), marrotan fil umr, sekali seumur hidup (ibadah haji ke Baitullah).

Maka, kita perlu membuat standarisasi dalam beribadah. Ada empat kegiatan ubudiyah yang perlu kita lakukan dengan istiqomah (konsisten) dan mudawamah wal istimror (secara berkesinambungan).

Pertama : Shalat fardhu secara berjamaah di masjid

Kedua : Shalat sunnah rawatib ba’diyah dan qabliyah

Ketiga : Membaca al Quran satu juz sehari

Keempat : Ditambah dengan ibadah bulanan

Muhasabah : Seminggu sekali

Ibadah harian yang perlu dipertahankan untuk menjaga stamina ritme spiritual. Ibadah wajib kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub). Ibadah sunnah kita lakukan, untuk membangun kecintaan secara timbal balik antara kita dengan Allah Swt. Jika kita sudah dicintai, aktifitas kita merupakan jelmaan dari kehendak-kehendak-Nya.

Supaya kita dekat dengan diri kita sendiri, kita perlu muhasabah usbuiyyah (intropeksi mingguan). Hati kita mengalami gerakan yang tidak berhenti. Dan itu harus selalu dikontrol. Jika kita sudah mencapai kenaikan grafik amal, dan kekurangan kita bisa kita hitung. Berarti kita dalam posisi ideal. Terjaga dari dosa, hanya Rasulullah Saw.

Bangkit Dari Keterpurukan

Jika kita terjatuh melakukan dosa, kita segera bangkit. Setiap langkah menuju dosa harus kita persempit ruangnya. Karena, dosa kecil yang kita remehkan, akan mengajak kepada dosa-dosa kecil berikutnya. Dosa itu beranak pinak, berkembang biak.

Langkah-langkah untuk bangkit, sebagai berikut:
Pertama: Istighfar (memohon ampun kepada Allah Swt). Bukan sekedar memperbanyak istighfar, sekalipun itu berpahala. Yang paling penting adalah dengan istighfar kita selalu menyadari seharusnya makin hari kekurangan, bau tidak sedap dalam diri kita semakin tertutupi (hilang).

Kedua, beramal. Setiap kali melakukan kejahatan, susullah dengan amal saleh. (ittaqillah haitsumaa kunta wa atbi’issayyiata al hasanata tamhuhaa). Kebaikan itu bisa menghapus dosa. Jika kita senang melakukan satu kebaikan, akan mengajak kepada kebaikan berikutnya. Misalnya, jika kita suka ke masjid, maka dengan sendirinya kita akan termotivasi untuk melakukan berbagai amal saleh di situ. Sholat fardhu, sholat sunnah, membaca Al-Quran, zikir dll.

Rasulullah Saw bersabda : “Jika engkau melihat seorang laki-laki terbiasa ke masjid, saksikanlah sesungguhnya ia seorang beriman.” [al Hadits].

Demikian pula jika kita senang melangkahkan kaki menuju ke tempat maksiat, maka akan mengerakkan untuk berbuat dosa berikutnya.

Jika kita sedang bersemangat dalam beribadah, lakukanlah sebanyak mungkin yang Anda mampu. Jika grafik ibadah menurun, minimal pertahankan yang wajib. Hati kita elastis, fluktuatif. Kita memiliki saat maju dan saat mundur. Dengan cara di atas kita bisa mengelola naik turunnya hati kita dengan baik.

Terakhir: Berdoa kepada Allah Saw, semoga kita tetap teguh dalam agama-Nya. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbii ‘alaa diinik (Wahai Yang Membolak Balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-MU).

Penutup, wahai para pemuda, ingatlah falsafah pohon pisang. “Janganlah mati sebelum berbuah.”
*Oleh : Abu Hilyatil Auliyah Hadziqoh [www.hidayatullah.com]

Teknik Mencatat Tingkat Tinggi

Selasa, 09 November 2010 0 komentar

Mengapa Harus Mencatat ?
Mencatat yang efaktif adalah salah satu kemampuan terpentimng yang pernbah dipelajari orang. Bagi pelajar hal ini sering kali berarti perbedaan antara mendapatkan nilai tinggi atau rendah pada saat ujian. Bagi orang-orang bisnins itu berarti selalu dapat mengikuti tugas-tugas dan proyek-proyekm penting dan tidak tersesat dalam lautan kertas yang berserakan.
Alas an pertama untuk mencatat adalah bahwa mmencatat dapat meningkatkan daya ingat. Pikiran manusia yang menakjubkan yaitu pikiran anda dapat menyimpan segala sesuatu yang anda lihat, dengar dan rasakan. Memori anda sempurna seperti computer.
Tujuannya bukanlah untuk membantu pikiran anda mengingat, memori melakukannya secara otomatis. Tujuannya dalah membantu diri anda mengingat apa yang tersimpan dalam memori anda. Jadi bila anda ingi8n mengingat sesuatu maka tulislah.
Format Outline Kuno Yang Tidak Praktis
Kebanyakan diantara kita pernah diajarkan unutk membuat catatn dengan membuat format outline. Cara ini diajarkan pada kita oleh guru-gur yang membuat outline ketika kuliah dan berkesimpulan jika mereka belajar dalam bentuk outline maka kita belajar dalam benmtuk outline juga. Masalahnya adalah ketika guru mengajar dengan bentuk outline, mereka jrang menyampaikan materi dengan cara yang sama. Mereka lupa pada banyak hal dan ngelantur kemana-mana.
Ketika seorang pembicara mengingat kembali sesuatu yang ia lupa maka anda harus mencari jalan untuk mencocokkan dengan informasi itu dengan catatan anda yang sudah rapi. Cara outline tradisional ini juga mempersulit kita untuk mendapatkan gambaran dan melihat kaitan-kaitan antara gagasan.
Bekerja Sebagaiman Kerja Otak
Tujuan anda mencatat adalah mendapatkan poin-poin kunci dari buku-buku, laporan, kulih, dan sebagainya. Catatan yang baik dan afektif membantu anda untuk mengingat detail-detail tentang poin-poin kunci, memahami konsep-konsep utama dan melihat kaitannya. Oleh karena itu hendaklah anda mencatat sesuai dengan kerja otak anda. Reset terakhir tentang bagaimana otak menyimpan dan mengingat informasi telah menghasilkan tehnik-tehnik mencatat yang baru. Ini yang memunkinkan anda menjadi lebih teratur, mengembangkan pemahan anda, menyimpan informasi lebih lama, dan memperoleh pandangan baru.
Orang mengira bahawa otak mengolah informasi secara linear yatiu dalam fornmat yang teratur dan rapi seperti sebuah daftar. Padahal ketika kita berrkomonikasi dengan kata-kata, otak kita pada saat yang sama harus mencari,memilih, memilah, merumuskan, mengatur dan menghubungkan serta mencampur antara gagasan-gagasan dengn kata-kata yang mempunyai arti sehingga mudah dipahami.
Riset mengenai proses komonikasi ini telah mengakibatkan evaluasi ulang tentang bagaimana buku-buku teks ditulis, bagaimana pengajaran diberikan dan bagaimana cara membuat catatan. Ada dua cara mencatat yang sangat efektif yaitu peta pikiran dan catatan :TS ( catatan : tulis susun ) kedua cara ini akan membuat anda mampu melihat seluruh gambaran secara selintas dan menciptakan hubungan mental yang membantu anda untuk memahami dan mengingat.

Peta Pikiran
Otak anda sering kali mengingat informasi dalam bentuk gambar symbol, suara dan bentuk-bentuk serta perasaan. Peta pikiran menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik ini dalam suatu pola dan ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang dugunakan untuk belajar, mengorganisasikan dan merencanakan. Peta ini dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah.
Untuk membuat peta pikiran ada kia-kiat yang membantu untuk mempermudah dalam pembuatan peta pikiran anda yaitu :
• Ditengah kertas buatlah lingkaran dari gagasan utama
• Tambahkan sebuah cabang dari pusatnya untuk tiap-tiap poin kunci, gunakan balpoin warna-warni
• Tulislah kata kunci pada tiap-tiap cabang, kembangkan untuk menambah detail-detail
• Tambahkan symbol dan ilustrasi
• Gunakan huruf-huruf capital
• Tulislah gagasan pentin g denga huruf yang lebih besar
• Hidupkanlah peta pikiran anda
• Garis bawahi kata-kata itu dan gunakan huruf tebal
• Bersikap kreatif dan berani
• Gunakan bentuk-bentuk acak untuk menunjukkan poin-poin atau gagasan
• Buatlah peta pikiran secara garis horizontal
Manfaat Peta Pikiran
• fleksibel
• memusatkan perhatian
• meniungkatkan pemahaman
• menyenangkan
Catatn : Ts
Dalam membuat catatan melalui cara ini mulailkah deangan secari kertas dan gambarlah secara vertical, kira-kira sepertiga dari tepi kanan. Sisi kiri untuk menulis catatan, sisi kanan un tuk menyusun. Disisi kiri tuliskan apa yang dikatakn oleh pembicara, poin-poin, istilah, diagramdan bagan-bagan. Disisi kanan ditulis catat pikiran, perasaan dan reaksi, serta pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam pikiran anda. Untuk mempermudah ikuti kiat-kiat berikut :
• Dengarkan secara aktif
• Amati dengan cermat
• Berpartisipasi
• Tinjauan ulang
• Membuat yang auditorial menjadi visual
• Jadikanmengulangi itu mudah
• Bersikap teguh dan mencoba
Manfaat Catatan : Ts
• Lebih mudah mengingat suatu objek
• Memusatkan perasaan anda
• Merupakan impian yang konstruktif
• Merekam penilaian-penilain anda

Menulis Dengan Penuh Percaya Diri

0 komentar

Menulis Adalah Aktivitas Seluruh Otak Yang Menggunakan Bahan Otak Kanan ( Emosional ) Dan Belahan Otak Kiri ( Logika )

Kita semua adalah penulis, disuatu tempat didalam diri manusia ada jiwa unik yang berbakat yang mendapatkan kepuasanmendalam karena menceritakan suatu kisah, menerangkan bagaimana melakukan sesuatu, atau sekedar bebagi rasa pikiran. Dorongan untuk menulis sama besarnya dengan dorongan untuk bicara, untuk mengkomonikasikan pengalaman kita klepada orang lain, paling tidak menunjukkan kepada kita siapa diri kita.
Pikiran anda adalah tempat menyimpan ide-ide panas, bergejolak, mendidih yang meletup-letup untuk dapat bebas keluar. Bendungan yang menahannya adalah hambatan menulis. Begitu kuatnya hambatan itu sehingga ia benar-benar menghambat anda untuk menggoreskan pena and adia tas kertasdan muali menulis.
Untuk membuka bendungan itu ada dua cara untuk menghancurkan bendungantersebut yaitu dengan pengelompokan dan menulis cepat. Kedua metode ini sangat efektif dan juga sangat menyenangkan.

Pengelompokan
Pengelompokan adalah suatu cara memilah gagasan dan menuangkannya keatas kertas secepatnya tampa pertimbangan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
• Melihat dan membuat kaitan antara gagasan
• Mengembangkan gagasan yang telah dikemukakan
• Menelusuri jalan pikiran yang ditempuhotak agar mencapai suatu konsep
• Bekerja secara alamiah dengan gagasan tanpa menyunting atau pertimbangan
• Menvisualkan hal-hal khusus dan mengingatnya kembali dengan mudah
• Mengalami desakan kuat untuk menulis .

Saat mencoba pengelpompokan ini anda akan melihat kemiripan dengan peta pikiran. Keduanya berdasarkan pada teori yang sama yang berarti keduanya bekerja dengan alasan yang sama. Kedua teknik ini memberikan beberapa keuntungan yaitu :
• Membuat anda mampu melihat dan membuat hubungan-hubungan antara gagasan
• Membantu anda mengemukakan gagasan yang telah dikemukakan
• Membuat anda dapat menelusuri jalur yang dilaluli otak anda untuk tiba pada suatu konsep tertentu.

Menulis Cepat
Untuk menulis dengan cepat gunakan pengaturan waktu katakanlah lima menit untuk mulai, lalu mulilah menulis untuk yopik anda atau yang alinnya. Teruskannlah menulis hingga waktu habis. Ini berarti selama lima menit yang padat, anda akan menulis secepat munkin tak pernah berhenti untuk mengemukakan gagasan anda. Membentuk kalimat, memeriksa bahasa, mengulangi atau mencoret sesuatu. Ksrena cara penulisan ini tulisan anda munkin akan tampak berantakan dan mengandung kesalahan ejaan, pemikiran yang tidak sempurna, dan kalimat-kalimat yang serampangan.
Tapi tidak apa-apa……! Karena nantinya andan akan memanfaatkan tulisan anda untuk sebagai dasar dokumen anda yang sempurna dengan mengeluarkan gagasan-gagsan yang berguna dan menyusunnya dengan baik.
Setelah gagasan anda dituangkan semua dalam tulisan maka lanjutkan dengan menulis dengn baik melalui tahapan-tahapan proses penulisan yang lengkap sebagai berikut :
• Persiapan yaitu mengelompokkan dan menulis dengan cepat
• Draf-kasar yaitu mengeksplorasikan gagasan dan mengembangkannya
• Memperbaiki yaitu memiliah dan memilih gagasan yang telah ditulis
• Penyuntingan yaitu memperbaiki semua kesalahan, tata bahasa, dan tanda baca
• Penulisan kembali yaitu memasukkan isi yang baru yang telah di sunting
• Evaluasi yaitu memeriksa secara keseluruhan apakah tulisan anda sudah selesai….?

Kiat-Kiat Untuk Memperlancar Penulisan
• mulailah secepatnya
• putarlah musik
• cari waktu yang tepat
• berolahraga
• bacalah apa saja
• mengelompokkan pekerjaan
• gunakan warana-warna

Kiat-Kiat Supaya Tidak Mengalami Hambatan Menulis
• hematlah kertas kesayangan anda
• tempatkanl;ah diri anda pada sisi yang lain
• menyingkirlah dari tulisan anda
• langgarlah aktivitas rutin anda
• gantilah alat-alt tulis anda
• ubalah lingkungan anda
• berbicaralah kepada anak-anak tentang proyek anda

Melaju Dengan Kekuatan Membaca

0 komentar

Kebiasaan Membaca
Bagi banyak orang membaca adalah suatu tugas yang sangat berat. Pernahkah anda sampai padabagian terakhir saat anda membaca….?seberapa sering anda kembali keatas dan mengulangi bacaan anda….?berapa kali anda mengulang bacaan yang telah and abaca…?atau pernahkah anda berhenti saat pikiran anda mengembara kemana-mana…..?
Kegiatan membaca sehari-hari biasanya terdiri dari pengamatan atas kata-kata yang tercetak secara mencolok, pemahaman, pemilihan dan penyimpanan informasi. Untuk mengatasi semua itu marilah kita gunakan teknik membaca menggunakan timer. Dengan menggunakan sebuah timer maka anda akan menikmati bacaan dengan cepat, apabila waktunya sudah habis maka lihatlah sampai mana anda membaca…..?

Mendorong Keterampilan Membaca
Doronglah keterampilan membaca anda untuk mengejar kemampuan mental andadengan cara menyingkirkan mitos-mitos yang anda percayai tentang hal membaca. Seperti :
• membaca itu sulit
• anda tidak boleh menggunakan jari anda ketika membaca
• membaca harus dilakuakn dengan mengeja kat-perkata
• dan anda harus membaca perlahan-lahan sampai dapat memahami isinya
• dan metos-metos lainnya.

Gantikan mitos-mitos kuno dengan gagasan-gagasan baru, karena itu merupakan langkah pertama dalam menciptakan keterampilan baru dalam membaca. Seperti :
• membaca itu mudah
• tak ada salahnya membaca denganm menggunakan jari sebagai petunjuk
• anda boleh membaca banyak kata secara sekaligus
• anda boleh membaca dengan cepat dan tetap memahami isi bacaan anda.
• Aku sadari bahwa membaca itu mudah
• Aku adalah pembaca yang hebat
• Aku dapat membaca dengan cepat dan dapat memahami isi bacaanku.


Kiat-Kiat Untuk Membaca
• Mempersiapkan diri
• Meminimalkan ganmgguan
• Duduklah dengan sikap tegak
• Luangkan waktu bebrapa saat untuk menenangkan pikiran
• Gunakan jari anda atau benda lain sebagai petunjk
• Lihat sekaligus bahan bacaan anda sebelum mulai membaca

Kiat-Kiat untuk Memahami Bacaan
• Jadilah pembaca yang aktif
• Baca gagasannya, bukan kata-katanya
• Libatkan seluruh indera anda
• Ciptakan minat
• Buat prta pikiran bahan bacaan tersebut

Upayakan Keajaiban-Keajaiban Memori Anda

0 komentar

Hidup anda penuh dengan janji-janji, pembuatan anggaran, presentasi kerja, janji makan siang, ulang tahun teman-teman, urusan-urusan pribadi, kelanjutan seminar seminar pendidikan berjenjang yang menginagt sacra detail tentang hal-hal yang khusus yang mana semuanya tampaknya merupakan hal yang mustahil di lakukan, olah karenanya anda perlu mempelajari keajaiban-keajaiban memori anda.

Memori Kita Berhubungan Dengan Usia Dan Pengalaman-Pengalamn Hidup…..!
Sebagai seorang anak bermain-main dan bersenang-senang kemunkinan menjadi fokus segala ingatan. Berbeda dengan anak muda, sebagai anak muda percintaan dan tempat-tempat yang eksotis menjadi lebih penting bagi mereka. Apalagi dengan orang dewasa, sebagai seorang dewasa pikiran mengingatkan pengalaman-pengalamn hidup yang keanak-anakan, romantis dan yang nyata. Pertanyaanya adalah apa hubungan antara ini semua……?
Jawabannya adalah semakin banyak anda menghubungkan asosiasi yang bermakna dengan peristiwa tertentu atau teori atau susunan fakta, maka semakin munkin anda dapat mengumpulkan asosiais yang bermakna dalam kehidupan anda.

Memori Dan Daya Ingat
Ketika orang mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai memori yang baik, sebenarnya mereka berbicara tentang daya ingat. Mereka mempunyai kesulitan mengingat informasi yang sudah tersimpan dalam memori mereka. Memori anda menyimpan apapun dan hanya mengingat apa yang diperlukan dan yang mempunyai arti dalam hidup anda.
Pikiran menyimpan segala sesuatu dan hanya menginagat apa yang anda perlukan dan yang berarti dalamkehidupan anda. Dengan menjalani hidup seutuhnya, anda menciptakan hubungan-hubungan memori yang baru dan mengingatkan kemampuan anda untuk mengingat kenyataan-kenyataan peristiwa-peristiwa, dan informasi-informasi baru. Dengan meningkatkan kemampuan untuk mengingat detail, seseorang mengem,bangkan kreatifitas dan lebih berhasil pada pemecahan masalah.

Ciri-Ciri Informasi Yang Dapat Diingat Dengan Baik
• asosiasi indera terutama indera penglihatan ( visual )
• konteks emosional seperti cinta, kebahagiaan dan kesedihan
• kualitas yang meninjol atau berbeda
• asosiasi yang intens
• kebutuhan untuk bertahan hidup
• hal-hal yang memiliki keutamaan pribadi
• hal-hal yang diulang-ulang
• hal-hal yang pertama dan terakhir dalam suatu sesi

Pengumpulan Data PTK

4 komentar

A. PENGUMPULAN DATA DALAM PTK
Keputusan mengenai bagaimana data ptk akan dikumpulkan sangat bergantung pada permasalahannya. Tidak ada satu resep mujarap mengenai bagaiman pengumpulan data harus dilakukan. Kelompok peneliti hendaknya berunding mengenai cara pengumpulan data mana yang akan memberikan pemahaman maksimal mengenai permasalahan dan bagaimana mengatasinya.
Jadi, pengumpulan data PTK sangat bergantung pada keinginan untuk memahami praktik dengan mengumpulkan data yang tepat dan terjangkau.
Secara umum, ada dua macam cara pengumpulan data PTK, yaitu scara kualitatif (berdasarkan pengalaman) da secara kuantitatif (berdasarkan jumlah).
Dalam makalah ini kami akan menguraikan llebih rinci bagaimana pengumpulan data secara kualitatif antara lain dengan catatan lapangan, jurnal, survey,skala sikap, skor tes, pemetaan,audiotape, dan video tape.
Mentrut mills (2003: 71), dari segi tekhnik pengumpulan data kualitatifnya ada tiga tekhnik yang dapat dipilih oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang disebut sebagai 3 E (Experiencing, Enquiring, dan Examining).
1. Experiencing yaitu pengumpulan data melalui pengalaman sendiri, terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan, atau membuat catatan lapangan. Tekhnik pengumpulan datanya berupa observasi partisipan sebagai partisipan aktif, pengamat aktif yang khusus dan pengamat pasif.
2. Enquiring yaitu tekhnik pengumpulan data melalui pertanyaan. Hal itu dapat berupa wawancara formal / informal, kuesionir,skala sikap yang mungkin berupa skala likert atau skala perbedaan makna dan tes buku.
3. Examining yaitu tekhnik pengumpulan data melalui pembuatan dan pemanfaatan satatan yang dapat berupa data arsip, jurnal, peta, audio tape,artifac, dan catatan lapangan.
1. Pengalaman Mealalui Pengamatan
Guru yang melakukan PTK memiliki banyak kesempatan iuntuk mengamati kelasnya sendiri. Hal itu merupakan kegiatan normal memantau pembelajaran agar dapat diseuaikan berdasarkan interaksi verbal a di dalam kelas.
Pengamatan PTK dapat dilakukan oleh guru sendiri sebagai partisipan aktif ; pengamat aktif yang khusus dan pengamat pasif. Guru bertinfdak sebagai partisipan aktif a[pabila dia bertindak sebagai pengajar dikelasnya sendiri. Hendaknya dia mencatat hasil pengamatannya dengan cara yang sistematis. Guru bertindak sebagai pengamat aktif khusus apabila dia mengamati peserta didik pada saat dia tidak bertindak langsiung sebagai pengajar tapi dia mengamati pada jam pelajaran lain. Dalam hal ini biasanya guru piket yang melakukan hal ini. Guru bertindak sebagi pengamat pasif apabila dia tidak berfungsi sebagai pengajar tetappi menjadi pengamat dikelas guru lain yang mengajar.

2. Pengumpulan Dsata Melalui Pertanyaan
Guru peneliti dapat mewngajukan pertanyaan kepada peserta didik, orang tua atau guru lain dengan menggunakan tyekhnik wawancara atau kuesionir. Informasi yang diperoleh melalui wawancara data berfungsi sebagai ‘ inti pengiumpulan data’ sementara pengumpulan data melalui pengamatan dapat digunakan sebagai ‘ masukan’ untuk melakukan wawancara.
a. wawancara formal
yaitu wawancara yang menggunakan format wawancara terstruktur, guru dapat mennyaklan pertanyaan yang sama kepada seluruh responden.
b. Wawancara informal
Yaitu percakapan bebas yabng memungkinkan guru untuk menanyakan hal-hal terkait dengan praktek yang menjadi minatnya untuk diselidiki.
c. Kuisioner
Yaitu pengumpulan data yang menggunakan angket dan respondennya akan menulis jawaban pada lembar yang telah disediakan.
d. Sklaa likert
Yaitu guru menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab responden dengan memilih apakah mereka sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju atau sangat tidak setuju
e. Skala perbedaan makna
Yaitu dengan meminta peserta didik atau orang tua mengisi format dengan melingkari suatu angka yang menujukkan derajat tertantu p[ada suatu skala perbedaan makna.
3. Pengumpulan Data Melalui Pembuatan Atau Pemanfaatan Catatan
cara-cara yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
• dokumen arsip
erdapat berbagai arsip yang daspat digunakan oleh guru untuk memperoleh wawsasan kejadian masa lalu, mengidentifikasi kecenderunmgan masa depan, dan menjelaskan mengapa sesuatu seperti yang dapat diamati sekarang.
• Jurnal
Jurnal merupakan salah satu upaya berkelanjutan agar guru dapart melakukan refleksi secaara sistematis mnegenai kegiatan pembelajarnya dengan menuliskan narasi hasil pengamatannya dan perasaan yanbg dirasakannya pada saat pembelajatran berlangsung.
• Membuat map (peta), videotape, audiotape, foto, film, dan artifak
o Pembuatan peta
Peta ini memberikan wawasan konseptual dengan alat untuk melakukan refleksi dengan cara berfikir kembali mengenai keadaan kelas
o Penggunaaan videotape, audiotape, foto dan film
Guru memperolehkesempatan untuk melakukan refleksi mengenai penguasaan konsep, keterampilan dan sikap peserta didik bahkan memberikan penekanan atas suatu peristiwa yang terjadi dikelas.
o Artifak
Yaitu sumber data tertulis atau visual yang dapat memberikan sumbangan pada pemahaman peneliti mengenai apa yang terjadi dikelas dan disekolah.

B. INSTRUMENT UNTUK MENGUMPULKAN DATA PTK
Instrument yang diperlukan dalam mengumpulkan data PTK dapat dipahami dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi yang diamati (susilo dan kisyani 2006)
1. Dari sisi proses
Dari sisi proses (bagan alirnya ), instrument dalam PTK harus fdapat menjangkau masalah yuang berkaitan dengan input (kondisi awal ) dan output hasil.
a. Instrument untuk input
Ia dapat dikembangkan dari hal-hal yang mewnjadi akal masalah besrta pendukungnya.
b. Instrument untuk proses
Instrument yang digunakan pada sat proses berlangsung berkaitan erat dengan tindakan yang dipilih untuk dilakukan
c. Instrument untuk output
Hal ini berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian hasil berdasarkan criteria yang telah ditetaakan.
2. dari sisi hal yang dapat diamati
Dari sisi hal yang diamati ninstrumen dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu instrument untuk mengamati guru (observing teachers), instrument untuik mengatasi kelas (observice class room), dan instrument untuk mengamati perilaku peserta didik (observing students).

C.HAL-HAL YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DALAM PENGUMPULAN DATA PENELITIAN
1.Instrument Penelitian
Tugas utama dalam pengukuran adalah memilih alat ukur yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mengukur tingkah laku dan sifat dari sesuatu yang sedang diteliti. Dalam penelitian pendidikan serinmg kali diperlukan pengembangan alat yang dapat dipercaya sekaligus dapat mengukur hal-hal yang abstrak dan pelik.
Secara garis besar instrument penelitian social dan pendidikan yang menggunakan pendekatan kuantitatif dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu kuesioner, tes, dan pedoman.
Istilah tes digunakan untuk menunjuk semua jenis instrument yang ditrancang untuk mmengukur kemampuan seseorang dalalm bidan g tertentu, seperti bakat matematika, bakat musik, dan kewmampuan bahasa. Inventori dapt diartikan sebagai instrument yang dipakai untuk mengetahui karakteristik (psikologis) tertentu dari individu. Sementrara pedoman pengamatan (observasi) adalah instrument yang dipakai sebagai alat bantu dalam melakukan observasi terfokus.
2.Keriteria Instrument Penelitian Yang Baik
Ada tiga keriteria pokok yang harus dipenuhi oleh suatyu instrument penelitian agar dapat dinyatakan memiliki kualitas yang baik., yaitu :

2.1 Validitas
Nunnally,1978:86. mengatakan bahwa suatu instrument dinyatakan telah memilki validitas (keshihan atau ketetapan ) yang baik. Biasanya validitasi intrumenlebih tepat diartikan sebagai derajat kedekatanhasil pengukuran dengan keadaan yang sebenarnya (kebenaran), bukan masalah sama benar atau seluruhnya salah. Jadi, validitas suatu instrument selalu bergantung pada situasi dan tujuan penggunaan instrument tersebut. Suatu tes yang valid untuk satu situasi mungkin tidak vilid untuk situasi yang lain.
Macam validitas
o Validitas isi : menunjukkna pada sejauh mana instrument tersebut mencerminkan isi yang dikehendaki.
o Validitas yang dikaitkan engan criteria : menunjukan hubungan antara skor suatu instrument suatu pengukuran dengan skor suatu instrument (criteria) lain yang mandiri dan dapat dipercaya dengan mengukur langsung tiingkah laku atau cirri-ciri yang diselidiki
Adapun siri-ciri yang harus dimiliki oleh criteria antara lain
• Relevansi artinya apakah criteria yang dipilih benar-benar menggambarkan cirri-ciri yang tepat dariu perilaku yang diselidiki.
• Reliable artinya criteria tersebut harus merupakan ukuran yang ajik bagi atribut yang diukur, dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi yang lain.
• Bebas dari bias, artinya pemberian skor pada suatu ukuran criteria hendaknyua tidak dipengaruhi oleh factor-faktor selain penampilan sebenarnya pada criteria itu.
Menurut Guba (1991,dalam mills,2003) , istilah “trustworthiness” dalam inkuiri kul;aitatif dapat dibangun dengan memerhatikan beberapa karakteristik studi yaitu
a. Kredibilitas
Kredibilitas suatu studi meliputi seberapa jauh seorang peneliti mampu mempertimbangkan segala komplek ke kompleksan yang terkait dalalm studinya dan bagaimana peneliti memecahkan masalah-maalh penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah
b. Transferabilitas
Tranferabilitas berkenaan dengan keyakinan peneliti kualitatif bahwa segala sesuatu yang mereka pelajari itu berdasarkan konteks tertentu dan bahwa tujuan dari karyanya bukan untuk mengembangkan suatu pernyataan “kebenaran” Yang dapat digeneralisasikan ke kelompok yang lebih besar.
c. Dependabilitas
Dependabiliotas biasanya berkenaan dengan stabilitas data. Adapun langkah-langkahnya adalah membuat metode yang tumpang tindih, membuat suatu “ audit trail” , biasanya bebebntuk driskripsi tertulis dan bias juga berupa akses terhadap catatan lapangan, artifak, gambar, atau data arsipan yang asli.
d. Konfirmabilitas
Konfirmabilitas data merujuk pada kenetralan atau objektifitas data yang dikumpulkan. Adapun langkah-langkahnya yakni dengan mempraktekan triagulasi dan refleksivitas.
Menurut Maxwell (1992, dalam Mills, 2003), istilah understanding yang seperti diusulkan Wolcott (1990) lebih tepat dari pada Validitas Inkuiri Kualitatif. Macam “pemahaman” meliputi lima aspek yaitu Validitas Diskriptif (keakuratan factual), Validitas Interpretif (kepedulian terhadap pandangan partisipan), Validitas Teoritis (kemampuan laporan hasil penenlitian untuk menjelaskan fenomena yang telah dipelajari dan dideskripsikan), Generalisabilitas (internal : kemungkinan di Generalisasikan di dalam komunitas yang telah diselidiki. Eksternal : kemungkinan di generalisasikan ke suatu setting yang tidak diselidiki oleh peneliti), Validitas Evaluatif ( apakah peneliti mampu menyajikan data tanpa melakukan evaluasi atau menghakimi.
Menurut Anderson et al (1994, dalam Mills, 2003), peneliti PTK memerlukan suatu system untuk mengukur kualitas Inkuiri yang secara khusus diterapkan dalam proyek penelitiannya di dalam kelas. Adapun kriterianya yakni :
• Validitas Demokratis : Apakah perspektif ganda yang dimiliki semua indifidu yang terlibat dalam study telah diwakili secara akurat.
• Validitas Hasil : Apakah tindakan yang dipilih dalam studi telah menghasilkan pemecahan terhadap permasalahannya.
• Validitas Proses : Apakah PTK telah dilaksanakan secara penuh tanggungjawab dan kompeten.
• Validitas Katalitis : Apakah hasil PTK menjadi suatu katalis untuk bertindak.
• Validitas Dialogis : Apakah studi ini direview oleh mitra peneliti.
e. Reliabilitas
Dalam bidang psikologi dan pendidikan, reliabilitas (keterandalan) instrument diartikan sebagai keajengan (concistenci) hasil dari instrument tersebut. Artinya, suatu instrument dikatakan memiliki keterandalan sempurna, ketika hasil pengukuran berkali-kali trhadap subjek yang sama selalu menunjukkan hasil atau skor yang sama.
Reliabilitas biasa diartikan sebagai konsistensi hasil pengukuran data yang ingin kita ukur dari waktu kewaktu
Jadi realibilitas berknaan dengan keajengan. Untuk membedakan konsep realibilitas perlu dikenal kesalahan acak pengukuran dan kesalahan sistematis pengukuran. Kesalahan acak menunjuk pasda kesalahan sebagai akibat dari factor kebetulan murni.
2.2 Praktikabilitas
Syarat ketiga yang harus dimiliki oleh instrument untuk dikatakan baik adalah kepraktisan atau keterpakaian (usability). Pertama, instrument yang baik harus ekonomis dari sudut uang maupun waktu, kedua, ia harus mudah dilaksanakan dan diberi skor, ketiga, instrument tersebut harus mampu menyediakan hasil yang dapat diintrepertasikan secara akurat serta dapat digunakan oleh pihak-pihak yang memerlukan.
2.3 Generalisabilitas (Kemungkinan Dapat Tidaknya Digeneralisai)
Dalam sejarahnya, secara umump[enelitian pendidikan mempermasalahkan generalisabilitas atau dapat tidaknya hasil penelitian digeneralisasikan ke setting atau konteks lain yang berbeda dengan setting dan konteks tempat penelitian itu dilaksankan. Biasanya, peneliti pendidikan ingin menjelaskan tinh\gkah laku kelompok besar orang berdasarkan penamaan terhadap tingkah laku sekelompok kecil orang.

D.BIAS PPERSONAL DALALM MELAKUKAN PTK
Terkait dengan isu dapat tidaknya hasil PTK digeneralisasikan, terdapat isui bias personal. Asalkan peneliti malakukan penelitiannya dengan sistematis, disiplin tinggi maka peneliti akan meminimalkan bias personal dalam penemuannya.
Salah satu cara yang dapat dipakai noleh peneliti untuk mencegah terjadinya bias personal adalah dengan menuliskan proposisi-proposisi (pernyataan) mengenai apa menurut peneliti akakn ditemukan selama penelitian. Proposisi ini memberikan suatu jendela untuk melongok kedalam system yang diyakini peneliti dan bias personal yang mungkin masuk kepenelitian. Pernyataan-pernyataan itu juga memberikan titik awal untuk menyelidiki teori yang dianggap benar oleh peneliti mengenai prodses belajar mengajar dan dimana asalnya.


Program Turun Ke Desa Dan Pondok Pendidikan Kedesaan

0 komentar

Ada beberapa program “ turun ke desa” yang patut dibeberkan, dimengerti, dan selanjutnya diupayakan pendayagunaannya secara optimal bagi pendidikan masyarakat desa. Diantaranya seperti KKN dan KKM. Pondok pendidikan kedesaan juga mempunyai daya tarik tersendiri untuk dipahami, ditelusuri dan dicarikan kemungkinan pengembangannya secara lebih luas.
Program Turun ke Desa
Program sekolah ke desa, sedikit banyak bisa disejajarkan dengan program turun ke desa yang sementara ini dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi di Indonesia, seperti :
a. KKN (Kuliah Kerja Nyata)
KKN (yang nama asalnya ”Pengabdian Mahasiswa Kepada Masyarakat”) dirintis pada tahun 1971 oleh tiga perguruan tinggi yaitu Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Universitas Hasanudin Ujung Pandang, dan Universitas Andalas padang yang kala itu di ikuti oleh 40 mahasiswa.
Berikutnya, tepatnya pada tahun 1973 / 1974, KKN mulai dilaksanakan dan diikuti oleh 13 Perguruan Tinggi Negeri. Dalam tahun 1974 / 1975 diperluas lagi dan diikuti oleh 29 Perguruan Tinggi Negeri. Kemudian mulai tahun 1976 / 1977 semua perguruan tinggi negeri dan beberapa swasta ikut melaksanakan program KKN. Semenjak tahun 1976 / 1977, hingga sekarang ini, semua perguruan tinggi negeri khususnya sebanyak 40 buah, ditambah dengan beberapa perguruan tinggi swasta, setiap tahunnya menyelenggarakan program KKN. Dalam tahun 1977, ada 1000-an mahasiswa yang ”turun ke desa” di dalam rangka program KKn, dan di tahun 1980 / 1981 mencapai 8000-an mahasiswa yang ikut berKKN.

Untuk jelasnya, berikut ini dipaparkan hal-hal pokk yang dipetik dari pedoman pelaksanaan KKN yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi Departemen P dan K (1980). Beberapa hal pokok dimaksud :
• Tujuan KKN adalah :
o Supaya perguruan tinggi menghasilkan sarjana sebagai penerus pembangunan yang lebih menghayati permasalahan yang sangat komploks yang dihadapi oleh masyarakat dalam pembangunan dan belajar menanggulangi permasalahan tersebut secara pragmatis dan interdidipliner.
o Untuk lebih mendekatkan perguruan tinggi kepada masyarakat..
o Membantu pemerintah dalam mempercepat gerak pembangunan dan mempersiapkan kader-kader pembangunan di pedesaan.
• Sasaran KKN, bagi mahasiswa adalah :
 Memperdalam pengertian dan penghayatan mahasiswa tentang :
o Cara berfikir dan bekerja secara interdisipliner
o Kegunaan hasil pendidikannya bagi pembangunan umumnya dan daerah pedesaan khususnya.
o Kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat desa dalam pembangunan, dan
o Konteks keseluruhan dari masalah pembangunan dan pengembangan daerah pedesaan.
o Mendewasakan lam fikiran mahasiswa untuk melaksanakan setiap penelahan dan pemecahan masalah yang ada di dalam masyarakat secara pragmatis ilmiyah.
o Memberikan keterampilan kepada mahasiswa untuk melaksanakan program-program pengembangan dan pembangunan desa.
 Membina mahasiswa untuk menjadi seorang ”motivator” dan ”problem solver”
 Memberikan pengalaman dan keterampilan kepada mahasiswa sebagai kader pembangunan.
 Sedangkan bagi perguruan tinggi :
o Perguruan tinggi akan lebih mantab dalam pengisian ilmu atau pendidikan kepada mahasiswa.
o Tenaga pengajar memperoleh berbagai kasus yang berharga, yang dapat digunakan sebagai contoh dalam proses pendidikan.
o Mempererat dan meningkatkan kerja sama antara perguruan tinggi sebagai pusat ilmu dan teknologi dengan instansi-instansi lainnya dalam pelaksanaannya pembangunan.
o Ilmu yang ada di perguruan tinggi akan lebih terasa kefaedahannya dengan pengarahan terhadap berbagai masalah pembangunan.
 Sedangkan sasaran untuk mayarakat :
o Memperoleh bantuan tenaga dan fikiran untuk merencanakan serta melaksanakan proyek pembanguan.
o Cara berfikir, bersikap dan bertindak akan lebih tertingkatkan dan sesuai dengan program pembangunan.
o Memperoleh pembaharuan-pembaharuan yang diperlukan oleh masyarakat.
o Terbentuknya kader-kader pembangunan di dalam masyarakat, sehingga terjamin terbentuknya penerus-penerus pembangunan.
• Pendekatan yang ditempuh
Untuk mencapai sasaran dan tujuan KKN, pendekatan yang ditempuh adalah sebagai berikut :
o Mahasiswa tidak hanya belajar dimasyarakat untuk meningkatkan keterampilan atau menambah ilmu pengetahuannya, tetapi secara nyata turut membantu daerah yang dikunjunginya.
o Masyarakat bukan dijadikan obyek studi tetapi sebagai patner dalam pembangunan
o Penentuan permasalahan dan lokasi kegiatan ditentukan bersama oleh perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
o Dalam penangulangan permasalahan di desa-desa para mahasiswa bekerja sama dengan mahasiswa dibidang ilmu lainnya.
• Kedudukan KKN :
Mengingat tujuan KKN ini sangat erat hubungannya dengan pengembangan dan peningkatan kemampuan masyarakat, pembinaan pribadi mahasiswa secara utuh, serta pengembangan kurikulum perguruan tinggi yang sesuai dengan tuntutan pembangunan maka program KKN menjadi bagian dari kerangka kurikulum perguruan tinggi dan merupakan persyaratan wajib bagi setiap mahasiswa.
• Pembiayaan KKN :
Pembiayaan program KKN pada dasarnya merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang mempunyai program-program pembangunan.
Sumber sumber pembiayaan diperoleh dari pusat (Anggaran Belanja KKN), dari Pemerintah Daerah Tingkat I dan Tingkat II. Serta sumber-sumber lainnya yang tidak mengikat.
• Penyiapan dan penempatan mahasiswa :
Setiap mahasiswa yang hendak melaksanakan tugas KKN, harus terlebih dahuli dibekali pengetahuan-pengetahuan , keterampilan-keterampilan hingga latihan yang bertujuan :
o Mahasiswa menghayati maksud dan tujuan program KKN.
o Mahasiswa memiliki keterampilan praktis yang dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan
o Mahasiswa dapat berfikir dan bekerja berkelompok secara interdisipliner dan lintas sektoral.
• Macam kegiatan dalam pelaksanaan
Banyaknya kegiatan yang akan dilaksanakan ditempat KKN, tidak dimaksudkan semuanya harus dilaksanakan oleh mahasiswa sendiri, namun disini fungsi mahasiswa merupakan sebagai penggerak, kreator, serta problem solver.
• Lama waktu kegiatan
Tugas setiap angkatan dalam melaksanakan program KKN antara 3 sampai 6 bulan efektif. Adapun waktu untuk latihan penyiapan, observasi, dan penyusunan program diluar waktu tersebut.
• Pembinaan Mahasiswa
Dilakukan secara berkesinambungan oleh pembimbing KKN.
b. KKM (Kemah Kerja Mahasiswa)
Sebagai mana halnya dengan KKN, program KKM juga merupakan wujud aktifitas ”turun ke desa” yang dilakukan oleh mahasiswa. Untuk lebih jelasnya, terkait dengan konsep KKM yang telah dicetuskan oleh Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Tinggi Departemen P dan K (1977 / 1978) :
• Maksud dan tujuan KKM :
Tujuan KKM, untuk mendekatkan mahasiswa dengan masyarakat sehingga dapat memberikan kontribusinya dengan berdaya guna dan tepat guna sesuai dengan Tri dharma Perguruan Tinggi. Adapun maksudnya :
o Menumbuhkan minat untuk berbakti dan menolong masyarakat yang membutuhkan bantuan
o Belajar bekerja sama dan berkarya bersama masyarakat
o Memperkenalkan mahasiswa dengan permasalahan-permasalahan kehidupan masyarakat.
o Mempraktekan spesialisasi (profesi), dengan mengamalkan teori-teori dengan praktek-praktek, serta melaksanakan usaha-usaha yang didasarkan atas pendekatan antar disiplin (interdiciplinary approach)
• Bentuk KKM :
o Perkemahan
o Integrasi dengan masyarakat ( tinggal dirumah penduduk setempat)
• Macam kegiatan KKM :
o Proyek kebhaktian masyarakat
o Proyek penerangan, dengan ceramah-ceramah, pertunjukan-pertunjukan dll.
• Tingkat penyelenggaraannya :
o Tingkat Nasional (Direktorat kemahasiswaan)
o Tingkat Regional (satu atau lebih universitas)
o Tingkat Daerah (Universitas)
• Waktu kegiatan KKM :
Waktu penyelenggaraan kegiatan disesuaikan dengan :
o Sikon setempat
o Macam kegiatan yang dilakukan
o Sikon perguruan tinggi yang bersangkutan
• Tempat KKM :
Tempat diselenggarakannya KKM dapat dipilih dengan memperhatikan :
o Situasi, kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat
o Jenis jenis kegiatan yang akan dilaksanakan
o Kemungkinan dijadikan proyek percontohan.
• Acara KKM :
Acara KKM, disusun sedemikian rupa, sehingga :
o Penggunaan waktu efisien
o Cukup memberikan waktu istirahat bagi mahasiswa
o Cukup baik menarik dan menggembirakan.
o Menimbulkan rasa kebanggaan atas kebaktiannya, menumbuhkan kecintaan kepada masyarakat.
o Menimbulkan rasa simpati masyarakat terhadap mahasiswa dan peruruan tinggi, dan
o Membina masyarakat sehingga merasa ikut memiliki, ikut melindungi, dan ikut bertanggung jawab atas kelangsungan proyek-proyek.
• Peserta KKM :
o Mahasiswa (pria maupun wanita)
• Panitia KKM :
o Mahasiswa yang senior dengan dibina oleh Dosen Pembimbing
• Biaya KKM :
o Simpatisan
o Donatur
o Pemerintah
o Dana pribadi (mahasiswa)

2. Pondok Pendidikan Kedesaan
Pondok pesantren yang dikenal sebagai perguruan keislaman berasrama dibawah asuhan kyai, umumnya terdapat didaerah pedesaan, dan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.
Pondok pesantren lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama islam Indonesia, dalam hubungan ini, pondok pesantren berfungsi sebagai lembaga pendidikan, penyebaran, dan pembangunan masyarakat islam.
Perguruan berasrama model pondok pesantren tersebut, hingga sampai saat ini berjumlah puluhan ribu dengan jumlah santri yang relatif besar pula, tersebar dari sabang hingga merauke dan terbesar berada di pulau Jawa, khususnya di daerah pedesaan. Dalam perkembangannya, pesantren memiliki lima variasi pola :
1. Pola Pertama :
• Masjid
• Rumah Kyai
Pesantren ini masih bersifat sangat sederhana, dimana kyai mempergunakan masjid atau rumahnya sendiri untuk tempat mengajar. Dalam pola ini santri hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri, namunmereka telah mempelajari ilmu agama secara kontinyu dan sistematis.
2. Pola Kedua :
• Masjid
• Rumah Kyai
• Pondok
Dalam pola ini pesantren telah memiliki pondok atau asrama yang disediakan bagi para santri yang datang daerah lain.
3. Pola Ketiga :
• Masjid
• Rumah Kyai
• Pondok
• Madrasah
Pesantren ini telah memakai sistem klasikal, dimana santri yang mondok mendapat pendidikan di madrasah. Adakalanya murid madrasah ini datang dari daerah pesantren itu sendiri. Disamping ada madrasah, ada pula pengajaran sistem weton yang dilakukan oleh Kyai. Pengajar madrasah biasanya hanya disebut guru atau ustadz.
4. Pola Keempat :
• Masjid
• Rumah Kyai
• Pondok
• Madrasah
• Tempat Keterampilan
Disamping ada madrasah, terdapat pula tempat untuklatihan keterampilan, misalnya : Peternakan. Kerajinan Rakyat, dll.
5. Pola Kelima :
• Masjid
• Rumah Kyai
• Pondok
• Madrasah
• Tempat Keterampilan
• Universitas
• Gedung Pertemuan
• Tempat Olahraga
• Sekolah umum
Dalam pola ini pesantren disebut ” Pesantren Modern” yang mempunyai sarana prasarana yang memadai (Lengkap)
• kehidupan sehari-hari dipesantren
Kehidupan dipesantren sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kehidupan dirumah, hanya saja sistem pesantren tertata lebih terperinci karena jumlah masyarakat yang tinggal didalamnya lebih banyak. Santri (panggilan untuk pelajar) dididik dan diatur dari bangun tidur hingga tidur lagi.
• Fasilitas pesantren
Terkait dengan fasilitas, pesantren beraneka ragam ada yang sudah luar biasa dalam artian terpenuhinya sarana prasarana yang layak dan memadai serta ada pula yang amat sangat sederhana.
Biasanya pesantren modern lebih unggul dalam fasilitas dibandingkan dengan pesantren klasik Namun kalah dalam segi keilmuaan.
• Santri dan alumni
Setiap pesantren pasti memiliki santri, banyak sedikitnya santri biasanya dipengaruhi kualitas output pendidikan pesantren yang ditawarkan. Dan itu semua bisa dilihat oleh kualitas alumninya.
• Pendidikan non formal
Pendidikan non formal yang dilakukan oleh pesantren meliputi pendidikan yang sebagian tercakup dalam pendidikan ekstrakurikuler, dalam latihan atau kursus dan penyuluhan.
Sasaran pendidikan non formal adalah para santri yang menempuh pendidikan formal, orang-orang dewasa yang datang untuk mengikuti latihan di pesantren dan orang-orang dewasa yang menjadi obyek dakwah.”
Pesantren merupakan manifestasi dari penggalian nilai agama yang seimbang antara tuntutan duniawiyan dengan ukhrowiyah. Namun dalam kehidupan kesehariannya lebih kental aspek ukhrawinya .

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum