Ternyata Mencintai Juga Butuh Belajar

Sabtu, 17 Desember 2011 3 komentar

Belajar menyetir mobil pertama kali penuh dengan ketegangan dan bahkan menegangkan orang lain. Belajar bahasa inggris dan bahasa arab serta bahasa-bahasa yang lain berawal dari mengeja membaca dan melafalkan serta mempraktekkan dalam sebuah percakapan, yang terkadang itu harus merelakan hilangnya keindahan mulut kita demi kefasihan.

Begitu juga dengan belajar mencintai, kita harus belajar bahasa cinta, bahasa romantisme, bahasa perasaan dan serta bahasa logika, semua itu sangatlah mungkin diawali dengan kesulitan dan kegugupan, perlu mencoba dan mencoba untuk mencapai keindahan pengungkapan.

Saling mencintai memerlukan proses belajar. Cinta bisa saja menimbulkan prasangka, karena pada hakikatnya semua itu dalam rangka memperkuat dan memperkokoh rasa cinta itu sendiri. Oleh karena itu saling percaya harus tumbuh di atas benih-benih kesuburan cinta, keikhlasan harus senantiasa memancar secara tulus dari hati.

Belajar mencintai hendaknya belajar terbuka, mengatakan sesuatu secara terbuka apa adanya, karena sejatinya cinta adalah kejujuran. Seseorang bisa cepat paham karena adanya keterbukaan dan kejujuran, sehingga kemudian lahirlah butir-butir rasa cinta dan sayang yang mengalir dengan penuh keikhlasan.

Belajar mencintai adalah merasakan apa yang diberikan sebagai sebuah ungkapan cinta dan kerinduan serta belajar memahami ungkapan kemesraan yang tak begitu sempurna terucap melalui kata-kata dan tindakan nyata.

Sementara membangun romantika cinta adalah bagian dari belajar mencintai. Membangun romantika cinta pada hakikatnya adalah bagaimana kita memahami secara utuh tentang orang yang kita cintai, sehingga dari situlah lahir kekokohan cinta yang diwujudkan dengan ucapan, sikap, tindakan, dan kesetiaan serta kemesraan.

Memang memulai sesuatu yang belum pernah kita melakukannya tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, dan tidak pula semudah seperti apa yang kita ucapkan, semua itu memerlukan kesanggupan diri dan keberanian untuk mengiringi langkah pertama.

Sesuatu yang kita tidak terbiasa melakukan sebelumnya memang terasa kaku ketika pertama kali melakukannya, dan hal itu adalah wajar terjadi pada setiap manusia. Oleh karenanya membutuhkan belajar belajar dan terus belajar...... ternyata mencintai juga perlu belajar ya....!

Kajian Tentang Dakwah

Rabu, 14 Desember 2011 0 komentar

A.Pengertian Dakwah
Dakwah merupakan serangkaian perjuangan keagamaan yang selalu berkaitan dengan aktivitas manajerial (amaliyyah al idariyyah) secara professional untuk mempengaruhi, mengajak dan menuntun manusia menuju kebenaran Islam.
Untuk memperjelas serta mempermudah pemahaman tentang dakwah, penulis akan membahas pengertian dakwah tersebut dari dua aspek, yaitu bahasa (etimologi) dan aspek istilah (terminologi).

a.Pengertian Dakwah Menurut Bahasa (Etimologi)
Ditinjau dari aspek bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab dengan kata kerja lampau (fi’il madli) Da’a dan fiil mudhori’ Yad’u dengan mashdar lafadz Da’watan yang berarti memanggil, menyeru dan mengajak.1 Istilah ini sering diberi arti yang sama dengan istilah-istilah tabligh, amr ma’ruf nahi munkar, mauidzah hasanah, tabsyir, indzar, washiyyah, tarbiyyah, ta’lim, dan khotbah.2
Dengan demikian, secara etimologi pengertian dakwah merupakan suatu proses penyampaian (tabligh) pesan pesan tertentu yang berupa ajakan, atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.

b.Pengertian Dakwah Menurut Istilah (Terminologi)
Pengertian dakwah secara istilahy dapat disimpulkan bahwa, esensi dakwah merupakan aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia, baik secara individu maupun masyarakat dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik.

Kegiatan mendorong manusia untuk berbuat lebih baik, merupakan suatu proses pengamalan terhadap ajaran agama yang di sampaikan dengan tanpa adanya unsur unsur paksaan dan dilakukan atas dasar kesadaran akan kewajiban moral setiap individu muslim terhadap agamanya. Sebagaimana definisi dakwah yang dikemukakan oleh Syaikh Ali Mahfudz dalam kitab Hidayat al Mursyidin Ila Thuruq al Wa’dzi Wa al Khitabah sebagai berikut:Artinya:“Mendorong manusia untuk berbuat baik, memberi petunjuk, menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.”4

Dari pengertian dakwah tersebut dapat disimpulkan bahwa, dakwah memiliki tiga unsur pengertian yang paling pokok, yaitu sebagai berikut:
1) Dakwah adalah merupakan suatu proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan secara sadar dan disengaja.
2)Mengajak manusia untuk beriman dan mentaati Allah atau memeluk agama Islam, dan Amar ma'ruf Nahi munkar.
3)Proses penyelenggaraan usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah (li naili mardlotillahi).

B. Unsur-Unsur Dakwah
Yang dimaksud dengan unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang selalu ada dalam setiap kegiatan dakwah antara lain: da'i (subjek dakwah), mad’u (objek dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah) dan thariqah (metode dakwah).
Berikut ini uraian tentang unsur-unsur dakwah:

a.Subyek Dakwah (Da’i)
Da'i adalah seseorang yang melakukan ajakan, atau orang yang menyampaikan ajaran (muballigh). Subyek dakwah merupakan unsur penting dalam pelaksanaan dakwah, karena seorang da'i akan menjadi pemandu titian yang mengemban misi risalah dan diserukan kepada objek dakwah dengan dalil dan hujjah yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Seorang da'i dituntut mampu mengetuk dan menyentuh hati umat yang dihadapinya secara professional agar misi yang disampaikan dapat diterima oleh umat.

b.Obyek Dakwah (Mad’u)
Obyek dakwah adalah sasaran penerima dakwah baik secara individu maupun kelompok, baik yang telah beragama Islam ataupun bukan.
Dalam penyampaian materi dakwah, da'i diharapkan mampu memberikan rangsangan yang kuat terhadap obyeknya, sehingga menimbulkan sugesti pada mad'u. Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut:Artinya:“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia”.(Q.S. Al baqarah: 83).5

Salah satu unsur dakwah yang mendukung keberhasilan dan tolak ukur dakwah, adalah keberadaan obyek dakwah secara jelas. Seorang da'i ditutut mampu mamahami karakteristik dan perilaku yang menjadi tindak tanduk masyarakat sekitar, baik secara sosial, kultur, struktur kelembagaan, profesi, tingkat ekonomi, jenis kelamin, dan masyarakat khusus seperti para tunawisma, narapidana, tuna karya, tuna susila dan lain sebagainya.

c.Materi Dakwah (Maddah)
Adapun yang maksud dengan materi dakwah (maddah) adalah isi pesan atau materi yang disampaikan oleh pengemban dakwah (da'i) kepada subyek dakwah (Mad’u).
Secara umum materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi empat masalah pokok, antara lain:
1).Akidah (kepercayaan)
Akidah adalah masalah pokok (dlarury) yang menjadi materi dakwah Islam, meliputi: iman kepada Allah, malaikat malaikat, kitab kitab, para rasul, hari kiamat, serta iman kepada qadha dan qadar Nya.
2).Syari’at (hukum).
Syari’at adalah dasar utama hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui nash-nash Al-Qur’an. Islam mengembangkan hukum secara komprehensif dan menjadi acuan serta solusi terbaik dalam menjawab segala problematika kehidupan manusia.
Sedangkan tujuan adanya syari’at adalah sebagaimana yang telah diungkapan oleh Abdul Wahhab Khallaf sebagai berikut:Artinya:“Secara umum tujuan Tuhan (Syaari’) dalam ketentuan syari’at hukumnya, adalah untuk mewujudkan tercapainya kesejahteraan yang mencakup segala kebutuhan primer manusia dan memberikan solusi terhadap kebutuhan serta kebaikan baginya.” 6

Hukum-hukum syariat tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a).Ibadah: thaharah, sholat, zakat, shalat, haji dan lain sebagainya.
b).Mu’amalah meliputi :

1.AI qonun al Khas atau hukum perdata yang meliputi: hukum niaga (mu’amalah), hukum nikah (munakahat), hukum warits (Waratsah) dan lain sebagainya.
2.Al Qonun al 'Am atau hukum publik, diantaranya: hukum pidana (jinayah), hukum negara (khilafah), hukum perang dan damai (hadd) dan lain lain.
3).Ahlak (etika), meliputi: Ahlak terhadap pencipta (habl ila al Kholiq) dan Ahlak terhadap mahluk (habl ila al kholqi).

d.Metode Dakwah (Thariqah)
Metode adalah cara tertentu yang dapat ditempuh untuk mencapai satu tujuan. Metode dakwah, berarti suatu cara dalam melakukan kegiatan dakwah secara sistematis yang dapat dilakukan oleh seorang da’i dalam melaksanakan tugas dakwahnya, seperti: ceramah (retorika), tanya jawab, percakapan antar pribadi (individual converence), pendidikan dan pengajaran Islam dan lain sebagainya.

Keberadaan metode dakwah adalah unsur yang sangat erat kaitannya dengan media dakwah (wasilat al da’wah). Jika wasilah merupakan alat yang dipergunakan untuk menyampaikan ajaran Islam, maka metode (thariqah) adalah cara cara yang digunakan dalam melaksanakan aktifitas dakwah.

Diantara beberapa metode yang dapat digunakan dalam kegiatan dakwah dan upaya penyebaran nilai-nilai keislaman, antara lain seperti yang telah disebutkan dalam Al Qur'an:Artinya:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (Qs. An Nahl: 125). 7

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga metode dakwah yang dapat digunakan oleh seorang da'i dalam menyampaikan pesan dakwahnya yaitu:
1).Hikmah, yaitu berdakwah dengan memperhatikan situasi dan kondisi sasaran dakwah. Sehingga dalam menjalankan ajaran ajaran Islam selanjutnya, mereka tidak lagi terpaksa atau keberatan.
2).Mauidzhah Hasanah, yaitu berdakwah dengan memberikan nasehat-nasehat atau menyampaikan ajaran ajaran Islam dengan rasa kasih sayang, sehingga nasehat dan ajaran Islam yang disampaikan dapat menyentuh hati mereka.
3).Mujadalah, yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran atau membantah dengan cara yang sebaik baiknya tanpa mendiskridetkan posisi mad’u.

e.Media Dakwah (Washilah)
Media dakwah adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah seperti media melaui lisan, tulisan, elektronika dan lain sebagainya.

Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa dalam melaksanakan aktifitas dakwah, da'i tidak hanya sekedar menggunakan lisan (oral), melainkan menggunakan media lain yang lebih sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Karena dengan memperhatikan situasi dan kondisi obyek sasaran dakwahnya, memungkinkan keberhasilan dakwah akan tercapai.

C.Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah dimaksudkan untuk memberi arah atau pedoman bagi aktivitas dakwah. Karenanya, dakwah dilihat dari pendekatan sistem (system approach) akan selalu berkaitan satu dengan yang lainnya.

Dengan demikian tujuan dakwah (maqashid ad da’wah), sangat menentukan dan berpengaruh pada penggunaan metode dan media dakwah. Ini disebabkan karena tujuan merupakan arah gerak yang hendak dituju oleh aktivitas dakwah.

Dakwah Islam bertujuan untuk mengubah sikap mental dan tingkah laku manusia yang tidak baik serta untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa seseorang secara sadar dan tanpa merasa dipaksa oleh pihak manapun. Karena dakwah Islamiah bertujuan untuk mengubah sikap, mental dan tingkah laku yang kurang baik menjadi lebih baik dan terarah yitu menjadikan manusia kembali pada fitrah ajaran Islam.

Sedangkan tujuan dakwah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a.Tujuan Umum Dakwah
Tujuan umum dakwah secara global (ijmaly), adalah mengajak umat manusia kepada jalan kebenaran yaitu Din al Islam. Meyakini Islam sebagai agama dan sekaligus mengamalkan syariat yang telah diperintahkan didalamnya.

b.Tujuan Khusus Dakwah
Tujuan khusus dakwah merupakan perumusan yang terperinci dari tujuan umum dakwah, yang berisi antara lain:
1.Mengajak manusia yang telah memeluk agama Islam untuk selalu meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT secara utuh (kaffah).
2.Membina mental keislaman bagi mereka yang masih mu’allaf.
3.Mengajak manusia yang belum beriman agar beriman kepada Allah (memeluk agam Islam)
4.Mendidik dan mengajak manusia agar tidak menyimpang dari fitrahnya.

D.Fungsi Dakwah
Kegiatan dakwah adalah seruan moral, yang dimaksudkan untuk dapat memberikan efek balik (feed back) berupa dampak positif (atsar al khair) terhadap mad’u. Sehingga dengan dakwah akan terjadi perubahan, baik secara psikologis (kognitif), sikap (afektif), serta perilaku nyata (behavioral) dalam kehidupannya.

Dan diantara fungsi dakwah yang lain adalah:
a.Menanamkan akidah yang mantap tentang Islam.
b.Mengarahkan agar setiap orang patuh terhadap hukum Allah SWT.
c.Menanamkan nilai-nilai ahlak kepada masyarakat, sehingga terbentuk pribadi muslim yang baik dan berbudi luhur.

Muhasabah Cinta

Sabtu, 12 November 2011 4 komentar


By : Edcoustic

Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dari Mu
Kupasrahkan semua pada Mu

Tuhan baru kusadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini ku harapkan cinta Mu

Kata kata cinta terucap indah
Mengalir berdzikir di kidung do’a ku
Sakit yang kurasa biar
Jadi penawar dosaku

Butir butir cinta air mataku
Terlihat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya Ilahi Muhasabat cintaku

Tuhan kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku dengan Mu

11 Faktor Keberhasilan Siswa

Kamis, 10 November 2011 0 komentar

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim*
Sumber : www.hidayatullah.com edisi Kamis, 10 November 2011

BAIK, mari kita buka What Works in Schools: Translating Research into Action yang ditulis oleh Robert J. Marzano. Soal penelitian, Marzano memang dikenal sebagai pakar paling kompeten dalam masalah manajemen kelas. Dari penelitiannya secara intensif selama lebih dari 40 tahun, Marzano telah menghasilkan tak kurang dari 25 buku yang menjadi rujukan penting tentang bagaimana seorang guru seharusnya mengelola kelas.

Lalu apa yang bisa kita petik dari What Works in Schools? Banyak hal. Di antaranya yang menarik perhatian saya adalah kesimpulan Marzano tentang 11 faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Kesebelas faktor tersebut tersebar dalam 3 aspek, yakni sekolah, guru dan siswa.
Agar pembicaraan kita lebih efektif, mari kita perbincangkan satu per satu secara ringkas:

A. Sekolah
Faktor pertama yang sangat menentukan kemampuan sekolah mengantar siswa meraih sukses adalah jaminan bahwa kurikulum yang berlaku di sekolah benar-benar layak diandalkan dan dapat diterapkan oleh guru-guru. Sebaik apa pun kurikulum yang telah dirumuskan oleh sekolah, jika guru-guru tidak mampu menerjemahkan dalam tindakan kelas, maka kurikulum tersebut akan sia-sia. Ujung-ujungnya, untuk memenuhi tuntutan kurikulum, yang dilakukan oleh guru bukan menerapkan kurikulum tersebut setepat dan sebaik mungkin, tetapi melakukan drilling. Sebuah proses latihan agar siswa terampil mengerjakan soal. Bukan memahami materi dan konsep sehingga menguasai pelajaran dengan baik.

Kedua, tujuan yang menantang dan umpan balik yang efektif (challenging goals and effective feedback). Tujuan yang mudah dicapai, tidak merangsang kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebabnya, tanpa usaha kita bisa meraih tujuan tersebut dengan mudah. Sebaliknya, tujuan yang terlalu sulit dicapai, sementara kapasitas mental untuk berusaha meraih dengan gigih belum terbentuk dengan kuat, menjadikan seseorang merasa tidak mampu meraih. Akibatnya, ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berusaha.

Sebaliknya, tujuan yang menantang akan mendorong kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita berjuang mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Semakin upaya kita mendekatkan pada tujuan, semakin kita bergairah. Semakin yakin bahwa upaya yang kita lakukan sudah tepat dan ada manfaatnya, maka akan semakin bersemangat kita melakukannya. Ini berarti perlu umpan balik yang tepat. Tanpa umpan balik yang efektif, semangat yang menyala-nyala itu bisa surut kembali. Meskipun ada sebagian orang yang tetap bersemangat tatkala usahanya tidak memperoleh umpan balik yang berarti, tetapi jenis orang seperti ini sangat sedikit.

Ketiga, keterlibatan orangtua dan komunitas. Ini bagian yang sangat penting. Keberhasilan program pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh bagaimana orangtua berinteraksi dengan anaknya. Keselarasan antara sekolah dan orangtua berperan besar dalam mempersiapkan anak meraih sukses. Itu sebabnya, sekolah perlu memiliki program yang secara khusus dirancang untuk membekali orangtua agar memiliki pengetahuan dan kecakapan teknis mengasuh anak serta keselarasan komunikasi dengan sekolah. Pengetahuan dan kecakapan teknis mengasuh bisa diberikan oleh sekolah melalui kegiatan-kegiatan seperti parenting skill class, in house workshop atau berbagai bentuk kegiatan lainnya. Sedangkan keselarasan komunikasi bisa dibangun melalui kegiatan family gathering, breakfast with headmaster, atau blog dan milis orangtua yang dikelola oleh sekolah bersama komite sekolah.

Kegiatan breakfast with headmaster (sarapan bersama kepala sekolah) misalnya, bisa menjadi forum dimana orangtua dapat menyampaikan masukan dan protes secara terbuka. Sebaliknya sekolah bisa menyampaikan harapan maupun kebijakan kepada orangtua secara akrab. Melalui forum semacam ini, ganjalan bisa ditiadakan, komplain bisa segera ditangani dan orangtua tidak perlu melontarkan kritik di depan anaknya. Yang terakhir ini, selain tidak produktif, juga menyebabkan kepercayaan (trust) siswa kepada guru bisa melemah. Padahal kepercayaan merupakan kunci sangat penting bagi keberhasilan pendidikan dan pembelajaran di kelas.

Keempat, lingkungan yang aman dan teratur. Lingkungan yang aman memberi ketenangan bagi staf, guru dan siswa. Sedangkan keteraturan memudahkan siswa beradaptasi dengan peraturan sekolah, peraturan kelas, harapan guru serta keragaman teman. Sedangkan bagi guru, keteraturan memudahkan proses memunculkan perilaku yang diharapkan (expected behavior) dari siswa. Keteraturan juga memudahkan guru membentuk pola belajar.

Kelima, kolegialitas dan profesionalisme (collegiality & proffesionalism). Hubungan yang bersifat kolegial antara guru dengan guru lain, guru dengan kepala sekolah, staf maupun manajemen berperan besar menciptakan komunitas yang bersahabat, akrab, saling menghormati dan saling mendukung. Pada gilirannya, ini sangat menunjang keberhasilan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, terutama dalam menciptakan iklim sekolah (school climate) yang hangat dan saling mendukung.

Tentu saja hangatnya hubungan antar guru dan unsur lain di sekolah tidak boleh mengabaikan tugas pokok mereka masing-masing. Itu sebabnya, kolegialitas harus berjalan seiring dengan profesionalisme.

B.Guru
Ini merupakan aspek yang paling menentukan. Studi yang dilakukan oleh Marzano menunjukkan bahwa prestasi siswa akan meningkat jika mereka ditangani guru yang efektif, meskipun sekolahnya di bawah rata-rata, bahkan sangat tidak efektif. Lebih-lebih jika guru maupun sekolah sama-sama efektif, pengaruhnya akan lebih dahsyat. Sebaliknya, meskipun sekolah terbilang bermutu, prestasi siswa akan merosot jika guru tidak efektif. Artinya, peran guru dalam menciptakan keberhasilan siswa betul-betul sangat menentukan.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dari aspek guru.
Pertama, strategi instruksional. Ini berkait dengan kecakapan guru menyampaikan materi di depan kelas. Ada 9 aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan menyampaikan materi. Tetapi kita belum bisa mendiskusikannya saat ini.

Kedua, kecakapan mengelola kelas (classroom management). Ada empat aspek yang terkait dengan manajemen kelas, yakni penerapan dan penegakan aturan di kelas, strategi pendisiplinan siswa, menjaga dan memperkuat hubungan yang baik antara guru dengan siswa, serta merawat dan menguatkan sikap mental siswa.

Faktor kedua ini sebenarnya perlu pembahasan yang sangat panjang, tetapi kali ini rasanya cukup sampai di sini mengingat kesempatan yang sangat terbatas. InsyaAllah pada lain kesempatan bisa kita perbincangkan secara lebih serius, termasuk terkait dengan bagaimana mengelola anak-anak dengan perilaku bermasalah agar mereka bisa belajar dengan normal sebagaimana yang lain dan tidak mengganggu teman sekelasnya tatkala mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.

Ketiga, desain kurikulum kelas. Ini berkait dengan bagaimana guru merancang kegiatan di kelas secara terstruktur agar tujuan pembelajaran di kelas secara keseluruhan dapat tercapai.

D.Siswa
Ada tiga faktor yang berpengaruh, yakni lingkungan rumah, kecerdasan yang dipelajari atau pengetahuan yang melatarbelakangi serta motivasi. Saya berharap kita bisa berbincang tentang motivasi siswa secara lebih serius pada lain kesempatan. Semoga bermanfaat....!

*Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting

Selamat Hari Raya Idul Adha

Jumat, 04 November 2011 2 komentar


A.Pendahuluan

Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba. Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya. Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.

Sedangkan Kurban, atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual Kurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah.

B.Waktu kurban
• Hadis riwayat Jundab bin Sufyan ra., ia berkata: Aku pernah berhari raya kurban bersama Rasulullah saw. Beliau sejenak sebelum menyelesaikan salat. Dan ketika beliau telah menyelesaikan salat, beliau mengucapkan salam. Tiba-tiba beliau melihat hewan kurban sudah disembelih sebelum beliau menyelesaikan salatnya. Lalu beliau bersabda: Barang siapa telah menyembelih hewan kurbannya sebelum salat (salat Idul Adha), maka hendaklah ia menyembelih hewan lain sebagai gantinya. Dan barang siapa belum menyembelih, hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah. (Shahih Muslim No.3621)
• Hadis riwayat Barra' ra., ia berkata: Pamanku, Abu Burdah ra. menyembelih kurban sebelum salat (Idul Adha) lalu Rasulullah saw. bersabda: Itu adalah kambing daging untukmu semata bukan kurban dan tidak ada pahala kurban. Abu Burdah berkata: Ya Rasulullah saw., aku mempunyai kambing kacang yang masih muda (kira-kira berumur dua tahun). Rasulullah saw. bersabda: Sembelihlah itu, tetapi bagi orang selainmu tidak boleh (tidak sah), kemudian beliau melanjutkan: Barang siapa menyembelih kurban sebelum salat, maka ia menyembelih hanya untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa menyembelih sesudah salat, berarti sempurnalah ibadahnya (kurbannya) dan menepati sunah kaum muslimin. (Shahih Muslim No.3624)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda pada hari Raya Kurban: Barang siapa telah menyembelih kurbannya sebelum salat, maka hendaklah ia mengulangi. Seorang lelaki berdiri dan berkata: Ya Rasulullah, ini adalah hari di mana daging dibutuhkan. Lalu ia menuturkan hajat para tetangganya seakan-akan Rasulullah saw. mempercayainya. Orang itu meneruskan: Aku mempunyai kambing muda (jadzaah) yang lebih aku sukai daripada dua ekor kibas. Bolehkah aku menyembelihnya (sebagai kurban). Rasulullah saw. memberinya kemurahan. Kata Anas: Aku tidak tahu apakah kemurahan itu juga sampai kepada orang selain ia atau tidak. Kemudian Rasulullah saw. menghampiri dua ekor kibas, lalu beliau menyembelih keduanya. Orang-orang menuju ke kambing dan membagi-bagikannya (memotong-motongnya). (Shahih Muslim No.3630)

C.Umur hewan kurban
• Hadis riwayat Uqbah bin Amir ra.: Bahwa Rasulullah saw. memberinya kambing-kambing untuk dibagikan kepada para sahabat sebagai kurban. Lalu tinggallah seekor anak kambing kacang. Uqbah melaporkannya kepada Rasulullah saw. maka beliau bersabda: Sembelihlah itu olehmu! Perkataan Qutaibah kepada kawannya. (Shahih Muslim No.3633)

D.Sunah berkurban dan menyembelih sendiri, tanpa mewakilkan, serta menyebut
nama Allah dan takbir
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Nabi saw. berkurban dengan dua ekor kibas berwarna putih agak kehitam-hitaman yang bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, seraya menyebut asma Allah dan bertakbir (bismillahi Allahu akbar). Beliau meletakkan kaki beliau di atas belikat kedua kambing itu (ketika hendak menyembelih). (Shahih Muslim No.3635)

E.Boleh menyembelih dengan apa saja yang dapat menumpahkan darah, kecuali gigi,
kuku dan tulang
• Hadis riwayat Rafi` bin Khadij ra., ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, kami akan bertemu musuh besok sedangkan kami tidak mempunyai pisau. Rasulullah saw. bersabda: Segerakanlah atau sembelihlah dengan apa saja yang dapat menumpahkan darah dan sebutlah nama Allah, maka engkau boleh memakannya selama alat itu bukan gigi dan kuku. Akan kuberitahukan kepadamu: Adapun gigi maka itu adalah termasuk tulang sedangkan kuku adalah pisau orang Habasyah. Kemudian kami mendapatkan rampasan perang berupa unta dan kambing. Lalu ada seekor unta melarikan diri. Seseorang melepaskan panah ke arah unta itu sehingga unta itupun tertahan. Rasulullah saw. bersabda: Memang unta itu ada juga yang liar seperti binatang-binatang lain karena itu apabila kalian mengalami keadaan demikian, maka kalian dapat bertindak seperti tadi. (Shahih Muslim No.3638)

F.Menerangkan larangan makan daging kurban setelah tiga hari pada permulaan
Islam, serta menerangkan penghapusan larangan tersebut dan diperbolehkan hingga
sekarang
• Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra.: Dari Abu Ubaid, ia berkata: Aku pernah salat Idul Adha bersama Ali bin Abu Thalib ra. Beliau memulai dengan salat terlebih dulu sebelum khutbah dan beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang kami makan daging kurban sesudah tiga hari. (Shahih Muslim No.3639)
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra.: Dari Nabi saw., beliau bersabda: Seseorang tidak boleh makan daging kurbannya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim No.3641)
• Hadis riwayat Aisyah ra.: Dari Abdullah bin Waqid ra. ia berkata: Rasulullah saw. melarang makan daging kurban sesudah tiga hari. Abdullah bin Abu Bakar berkata: Hal itu aku sampaikan kepada Amrah, lalu dia berkata: Dia benar, aku mendengar Aisyah berkata: Pada zaman Rasulullah beberapa orang wanita badui berjalan perlahan-lahan menuju ke tempat penyembelihan kurban. Dan Rasulullah saw. bersabda: Simpanlah tiga hari, setelah itu sedekahkanlah apa yang masih tersisa. Suatu ketika setelah itu para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang menyimpan daging kurban dan membawa sebagian dari lemaknya. Rasulullah bertanya: Mengapa begitu? Mereka menjawab: Dahulu engkau melarang makan daging kurban setelah tiga hari. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya dahulu aku melarang kamu hanyalah karena orang-orang pendatang yang sedang menuju kemari. Dan sekarang silakan makan atau menyimpan atau bersedekah (dengan daging kurban tersebut). (Shahih Muslim No.3643)
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.: Dari Nabi saw. beliau melarang makan daging kurban sesudah tiga hari. Sesudah itu beliau bersabda: Makanlah, berbekal dan simpanlah. (Shahih Muslim No.3644)
• Hadis riwayat Salamah bin Akwa` ra.: Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa di antara kalian menyembelih kurban, maka janganlah ia menyisakan sedikitpun di rumahnya sesudah tiga hari. Pada tahun berikutnya, orang-orang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kami harus berbuat seperti tahun lalu? Rasulullah saw. menjawab: Tidak! Tahun itu (tahun lalu) kaum muslimin masih banyak yang kekurangan. Jadi aku ingin daging kurban itu merata pada mereka. (Shahih Muslim No.3648)

G. Fara` dan atirah
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada lagi fara` (anak unta pertama yang disembelih untuk berhala-berhala mereka) dan tidak pula atirah (hewan ternak yang disembelih pada sepuluh hari pertama dari bulan Rajab). Ibnu Rafi` menambahkan dalam riwayatnya: Fara` adalah anak ternak pertama yang disembelih oleh pemiliknya. (Shahih Muslim No.3652)


Kepala Sekolah Dan Fungsinya

Rabu, 05 Oktober 2011 0 komentar

1. Pengertian Kepala Sekolah
Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang, sifat unik menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki cirri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Cirri-ciri yang menetapkan ssekolah memiliki karakter sendiri, dimana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manusia.

Karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebut sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Dimana ukeberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah .

Kepala sekolah ialah orang yang diberi tugas dan tanggung jawab mengelola sekolah, menghimpun, memanfaatkan dan menggerakkan seluruh potensi sekolah secara optimal untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah sebagai “human resource manager”: menurut Mondy, Noe dan Premaux (1999:10) adalah individu yang biasanya menduduki jabatan yang memainkan peran sebagai adviser (staff khusus) tatkala bekerja dengan manajer lain terkait dengan urusan SDM (individuals who normally act in an advisory (or staff) capacity when working with other (line) managers regarding human resource matters ).

2. Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah
Kepala sekolah bertugas dan bertanggung jawab terhadap manajemen secara keseluruhan. Kepala sekolah termasuk pemimpin akademik, adalah pemain alam yang berangkat dari masing-masing latar belakang pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman. Karena itu kepemimpinan kepala sekolah harus memiliki jiwa entrepreneurship, konsep kelembagaan, dan visioner . Sekolah yang efektif selalu dipimpin kepala sekolah yang memiliki potensi kepemimpinan intruksional yang kuat dan memiliki kompetensi yang professional.

Kepala sekolah yang professional tidak saja dituntut untuk melaksanakan berbagai tugasnya disekolah, tetapi ia juga harus mampu menjalin hubungan/kerja sama dengan masyarakat dalam rangka membina pribadi peserta didik secara optimal. Kerja sama ini penting karena banyak persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sekolah secara sepihak, atau sering terjadi kesalahpahaman, perbedaan persepsi antara pihak sekolah dan masyarakat . Kepala sekolah yang tidak professional, yang akan terjadi adalah bentrokan kebijakan. Apa yang dilakukan atau akan dilakukan oleh guru kadang-kadang diveto oleh kepala sekolah. Veto diberikan oleh kepala sekolah karena ia kurang ahli pada khususnya dan kurang professional pada umumnya. Bila ini terjadi maka sekolah akan kacau .

Pada dasarnya tugas kepala sekolah itu sangat luas dan kompleks. Rutinitas kepala sekolah menyangkut serangkaian pertemuan interpersonal secara berkelanjutan dengan murid, guru dan orang tua, atasan dan pihak-pihak terkait lainnya. Bllimberg (1987) membagi tugas kepala sekolah sebagai berikut:
1. Menjaga agar segala program sekolah berjalan sedamai mungkin (as peaceful as possible);
2. Menangani konflik atau menghindarinya;
3. Memulihkan kerjasama;
4. Membina para staf dan murid;
5. Mengembangkan organisasi;
6. Mengimplementasikan ide-ide pendidikan.

Untuk memenuhi tugas-tugas diatas, dalam segala hal hendaknya kepala sekolah berpegangan kepada teori sebagai pembimbing tindakannya. Teori ini didasarkan pada pengalamannya, karakteristik normative masyarakat dan sekolah, serta iklim intruksional dan organisasi sekolah .

Dari kajian yang berkaitan dengan kepala sekolah, maka tugas dan fungsi kepala sekolah pada semua jenis dan jenjang satuan pendidikan (sekolah) sebagai unit pendidikan formal, secara garis besar memiliki tugas dan tanggung jawab sebgai berikut:
a. Melaksanakan pendidikan formal selama jangka waktu tertentu sesuai jenis, jenjang dan sifat kepala sekolah tertentu dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen.
b. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran dengan melakukan pengembangan kurikulum, menggunakan teknologi pembelajaran sebagai strategi pembelajaran yang mampu memperoleh mutu yang dipersyaratkan.
c. Melakukan bimbingan dan penyuluhan meningkatkan kemajuan belajar peserta didik disekolah.
d. Membina organisasi intra sekolah.
e. Melaksanakan urusan tata usahadan urusan rumah tangga sekolah.
f. Membina kerja sama dengan orang tua, masyarakat dan dunia usaha.
g. Bertanggung jawab kepada pemerintah dan masyarakat.
Sebagai pemimpin dan penanggungjawab kepala sekolah harus dapat menghitung tiap item kebutuhan dan mengalokasikan anggarannya, kemudian mengatur strategi untuk pemenuhannya .

Menurut Segiovani dan Elliot (1975) dalam Arifin (1998: 46) secara esensial keberadaan kepala sekolah memiliki dua fungsi utama bagi sekolah yang dikelolanya. Pertama, kepala sekolah sebagai administrator. Dalam fungsi ini, kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi administrasi pendidikam di sekolah. Dan tugas-tugas tersebut meliputi pengelolaan yang bersifat administratif dan operatif. Kedua, kepala sekolah sebagai edukator. Dalam fungsi ini kepala sekolah bertugas melaksanakan fungsi-fungsi edukatif dalam pendidikan di sekolah .

Sedangkan Kyte (1972) mengatakan bahwa seorang kepala sekolah mempunyai lima fungsi utama. Pertama, bertanggung jawab atas keselamatan, kesejahteraan dan perkembangan murid-murid yang ada dilingkungan sekolah. Kedua, bertanggung jawab atas keberhasilan dan kesejahteraan profesi guru. Ketiga, berkewajiban memberikan layanan sepenuhnya yang berharga bagi murid-murid dan guru-guruyang mungkin dilakukan melalui pengawasan resmi yang lain. Keempat, bertanggung jawab mendapatkan bantuan maksimal dari semua institusi pembantu. Kelima, bertanggung jawab untuk mempromosikan murid-murid terbaik melalui berbagai cara.

Dinas pendidikan (dulu: Depdikbud) telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai educator; manajer; administrator; dan supervisor (EMAS). Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, innovator, dan motivator disekolahnya. Dengan demikian dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah sedikitnya harus mampu berfungsi sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, motivator (EMASLIM).

Perspektif ke depan mengisyaratkan bahwa kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai figur dan mediator bagi perkembangan masyarakat dan lingkungannya. Dalam hal ini, pekerjaan kepala sekolah tidak hanya sebagai EMASLIM, tetapi akan berkembang menjadi EMASLIM-FM. Semua itu harus dipahami oleh kepala sekolah, dan yang lebih penting adalah bagaimana kepala sekolah mampu mengamalkan dan menjadikan hal tersebut dalam bentuk tindakan nyata disekolah.

a. Kepala Sekolah sebagai Educator (Pendidik)
1) Membimbing guru dalam hal menyusun dan melaksanakan program pengajaran, mengevaluasi hasil belajar dan melaksanakan program pengajaran dan remedial.
2) Mampu memberikan alternatif pembelajaran yang efektif.
3) Membimbing karyawan dalam hal menyusun program kerja dan melaksanakan tugas sehari-hari.
4) Membimbing siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler, OSIS dan mengikuti lomba diluar sekolah.
5) Mengembangkan staf melalui pendidikan/latihan, melalui pertemuan, seminar dan diskusi, menyediakan bahan bacaan, memperhatikan kenaikan pangkat, mengusul-kan kenaikan jabatan melalui seleksi calon Kepala Sekolah.
6) Mengikuti perkembangan IPTEK melalui pendidikan/latihan, pertemuan, seminar, diskusi dan bahan-bahan .

b. Kepala Sekolah sebagai Manager (manajer)
1) Kemampuan memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama kooperatif dimaksudkan bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus mementingkan kerja sama dengan tenaga kependidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan.
2) Memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya.
3) Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan, dimaksudkan kepala sekolah harus beruasaha untuk mendorong keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di msekolah (partisiatif).
4) Kemampuan menyusun program sekolah dan menyusun organisasi personalia sekolah .

c. Kepala Sekolah sebagai Administrator (Administrasi)
1) Kemampuan mengelola semua perangkat secara sempurna dengan bukti data administrasi yang akurat.
2) Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan, ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, dan administrasi persuratan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

d. Kepala Sekolah sebagai Supervisor (Penyelia)
1) Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan dilembaganya dan dapat melaksanakan dengan baik. Melaksanakan supervise kelas secara berkala baik supervise akademis maupun supervise klinis.
2) Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi untuk peningkatan kinerja guru dan karyawan.
3) Kemampuan memanfaatkan kinerja guru/karyawan untuk mengembangkan dan peningkatan mutu pendidikan.

e. Kepala Sekolah sebagai Leader (Pemimpin)
1) Memiliki kepribadian yang kuat. Sebagai seoarang muslim yang taat beribadah, memelihara norma agama yang baik, jujur, percaya diri, dapat bekomunikasi dengan baik, tidak egois, bertindak obyektif, penuh optimis, bertanggung jawab demi perkembangan dan kemajuan, berjiwa besar dan mendelegasikan sebagian tugasdan wewenang kepada yang lain.
2) Memahami semua persunalnyayang memiliki kondisi yang berbeda, begitu juga kondisi siswanya berbeda dengan yang lain.
3) Memiliki upaya untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan karyawannya.
4) Mau mendengar kritik/usul/saran yang konstruktif dari semua pihak yang terkait dengan tugasnya baikdari staf, karyawan atau siswanya sendiri.
5) Memiliki visi dan misi yang jelas dari lembaga yang dipimpinnya. Visi dan misi tersebut disampaikan dalam pertemuan individual atau kelompok.
6) Kemampuan berkomunikasi dengan baik, mudah dimengerti, teratur, sistematis kepada semua pihak.
7) Kemampuan mengambil keputusan bersama secara musyawarah.
8) Kemampuan menciptakan hubungan kerja yang harmonis, membagi tugas secara merata dan dapat diterima oleh semua pihak.

f. Kepala Sekolah sebagai Innovator (Pembaharu)
1) Memiliki gagasan baru (proaktif) untuk inovasi kemajuan dan perkembangan sekolah. Maupun memilih yang relevan untuk kebutuhan lembaganya.
2) Kemampuan mrngimplementasi ide yang barui tersebut dengan baik. Ide dan gagasan tersebut berdampak [positif kearah kemajuan. Gagasan tersebut dapat berupa: pengembangan kegiatan ABM, peningkatan perolehan NEM, penggalian dan operasional, peningkatan prestasi siswamelalui kegiatan ekstrakurikuler dan sebagainya.
3) Kemampuan mengatur lingkungan kerja sehingga lebih kondusif (pengaturan tata ruang kantor, kelas, perpustakaan, halaman, interior, mushola atau masjid) untuk bertugas dengan baik. Dengan lingkungan kerja yang baik mendorong keaaarah semangat yang baik. Lebih kondusif untuk belajar siswadan kondusif bagi guru/karyawan. Jadilah lingkungan yang mendukung dalam arti fisikmaupun social psikologis.

g. Kepala Sekolah sebagai Motivator (Pendorong)
1) Mampu mengatur lingkungan kerja.
2) Mampu mengatur pelaksanaan suasana kerja yang memadai.
3) Mampu menerapkan prinsip memberi penghargaan maupun sanksi hukuman yang sesuai dengan aturan yang ada.

Pelangi Petang

Selasa, 13 September 2011 0 komentar

Suatu malam nan sunyi
Kuterbangun dari tidurku
kuambil air wudu
Lalu kubersimpuh dan menangis ketika teringat wajah bundaku ‎tersayang
Terkenang kembali lembaran kisah yang pernah kulalui
Terkenang kembali raut wajah orang yang paling kucintai
Yang selalu memberikan kasih sayang dengan setulus hati
Orang yang dengan sabar selalu mendengar keluhanku
Orang yang selalu menghiburku dikala kusedih
Yang menghapus air mataku disaat kumenangis
Dialah bundaku
Setiap malam kau terbangun
Kau belai rambutku saat ku terlelap dalam tidurku
Ku merasa nyaman berada dalam rengkuhanmu
Oh bunda
Dulu kau selalu menggandengku berkeliling taman
Sebuah taman desa yang indah, seindah kasih sayang mu
Kau selalu memberikan kado istimewa di hari ulang tahunku
Katika aku hendak berangkat kesekolah
Kaulah orang yang selalu mengantarku hingga ke ujung gang
Kucium tanganmu
Dan kau kecup keningku, lalu berpesan
Hati-hati nak semoga kau menjadi anak yang pandai
Demikianlah hari-hari bahagia yang aku lalui bersamanya
Sebelum akhirnya peristiwa naas itu datang dan menghancurkan ‎semuanya
Peristiwa itu benar-benar mengubur segala kebahagiaan
Oh bunda ‎
engkau yang bekerja seorang diri semenjak ayah tiada
Hari itu seperti biasa engkau membawa daganganmu keliling kota
Dengan tertati-tatih engkau melangkah karna tubuhmu mulai lemah
Kau lakukan semua itu dengan tulus,‎
Agar aku bahagia
Tak jarang engkau rela di hardik dan dihina karna belum bisa melunasi ‎pinjaman
Yang aku tahu
Engkau melakukan semua itu agar aku bisa sekolah
Agar aku bisa membeli baju baru
Agar aku bisa membeli tas baru
Agar aku bisa punya sepatu baru seperti teman-teman yang lain
Engkau orang yang selalui ingin melihatku tersenyum
Engkaulah orang yang selalu ingin membuatku bahagia
Namun hari itu benar-benar hari yang mampu menghapus segalanya
Yang meluluh lantakkan segala kebahagiaan
Yang menghancurkan segala keindahan
Oh bunda
Malam ini aku sedih aku rindu padamu
Aku ingin kau ada di sampingku dan memelukku seperti dulu
Kini tak ada lagi yang menyayangiku
Kini tak ada lagi orang yang mengantarku berangkat ke sekolah
Tak ada lagi yang menggandengku berkeliling taman
Tak ada lagi yang mendongeng menjelang tidurku
Tak ada lagi yang menghiburku dikala kusedih
Tak ada lagi yang menghapus air mataku disaat ku menangis
Aku tidak lagi bisa melihat senyum merekah dari bibirmu yang indah
Oh bunda
Maafkan aku putrimu yang selalu menyusahkanmu
Maafkan aku yang sering berbuat salah padamu
Suatu hari kumelihatmu sakit
Tapi kau tetap berusaha untuk terlihat kuat
Untuk terlihat tegar dimataku
Sambil tersenyum kau mengatakan
Nak ibu sayang padamu
Kumelihat tatapan tulusmu
Dan kulihat air mata bening di sudut matamu
Namun kau selalu berusaha tersenyum dan menyembunyikan rasa ‎sakitmu
Tapi semua itu tak kan pernah lagi kutemui
FITRI
Kak kemana ibu kak
Kemana ibu
Aku sayang ibu
‎ Aku cinta ibu aku rindu bertemu ibu
Kemana ibu kemana
"rudi"
Oh bunda
Kenapa kau begitu cepat pergi meninggalkan kami
Kami masih ingin mencium tanganmu
Kami masih ingin bersenda gurau bersamamu
Oh bunda
Tidakkah kau lihat putra putri kecilmu
Yang dulu kau sayangi
Yang dulu kau cintai
Hingga kini masih merindukan kehadiranmu
‎…….‎
Suatu hari aku bersimpuh di atas pusaramu
Aku menangis tersedu
Mengenang masa lalu bersamamu
Oh bunda
Tak ada lagi yang memberi kado ulang tahun istimewa untukku
Tak ada lagi yang mengecup keningku sebagaimana engkau dahulu
Masih terbayang jelas dimataku
Bagimana engkau tertatih-tatih melangkah
Untuk menghidupi anak-anakmu
Yang sangat kau cintai
Yang sangat kau sayangi
Yang begitu kau banggakan
Oh bunda
Masih terbayang jelas di mataku
Peristiwa sadis yang menimpamu setahun yang lalu
Masih terdengar jelas olehku
Jerit tangis adikku yang melihatmu berlumuran darah
Ketika sebuah mobil menghantammu dari belakang
Mulai saat itu segalanya berubah
Tapi kami masih selalu merindukan masa-masa indah seperti dulu
Yang tak mungkin dapat kutemui lagi
Seperti pelangi
Pelangi petang.‎

By :Slamet Setyobudi

Zakat Fitrah

Jumat, 19 Agustus 2011 0 komentar

A.Makna Zakat Fitrah
Makna zakat fitrah, yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah futur (berbuka puasa) pada bulan ramadhan disebut pula dengan sedekah. Lafadh sedekah menurut syara' dipergunakan untuk zakat yang diwajibkan, sebagaimana terdapat pada berbagai tempat dalam qur'an dan sunnah. Dipergunakan pula sedekah itu untuk zakat fitrah, seolah-olah sedekah dari fitrah atau asal kejadian, sehingga wajibnya zakat fitrah untuk mensucikan diri dan membersihkan perbuatannya.

Dipergunakan pula untuk yang dikeluarkan disini dengan fitrah, yaitu bayi yang di lahirkan. Yang menurut bahasa-bukan bahasa arab dan bukan pula mu'arab (dari bahasa lain yang dianggap bahas arab)-akan tetapi merupakan istilah para fuqoha'.
Zakat fitrah diwajibkan pada kedua tahun hijrah, yaitu tahun diwajibkannya puasa bulan ramadhan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada gunanya, untuk memberi makanan pada orang-orang miskin dan mencukupkan mereka dari kebutuhan dan meminta-minta pada hari raya.

Zakat ini merupakan pajak yang berbeda dari zakat-zakat lain, seperti memiliki nisab, dengan syarat-syaratnya yang jelas, pada tempatnya. Para fuqoha' menyebut zakat ini dengan zakat kepala, atau zakat perbudakan atau zakat badan. Yang dimaksud dengan badan disini adalah pribadi, bukan badn yang merupakan dari jiwa dan nyawa.
Di dalam hadist dari ibnu umar. Ia berkata,

" Rosullullah saw. mewajibkan zakat fitrah (berbuka) bulan ramadhan sebanyak satu sa' (3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap orang-orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan." (Riwayat bukhari dan muslim). Dalam hadist bukhari disebutkan,"mereka membayar fitrah itu sehari atau dua hari sebelum hari raya."
Dari abu sa'id. Ia berkata,"Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sa' dari makanan, gandum, kurma, susu kering, atau anggur kering."(diketengahkan oleh bukhari dan muslim)

B. Kewajiban Zakat Fitrah
Jama'ah ahli hadits telah meriwayatkan hadits rosulullah saw. Dari ibnu umar:
"Sesungguhnya Rosulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan ramadhan satu sa' kurma atau satu sa' gandum kepada setiap orang yang merdeka, hamba sahaya, laki-laki, maupun perempun dari kaum muslimin.

Jumhur ulama' Salaf dan Kholaf menyatakan bahwa makna farodho pada hadits itu adalah alzama dan awjaba, sehingga zakat fitrah adalah suatu kewajiban yang bersifat pasti. Juga karena masuk pada keumuman firman Allah: "Dan tunaikanlah oleh kamu sekalian zakat" (Qur'an,2:110;4:77;24:56)

Zakat fitrah oleh Rosululloh saw. Disebut dengan zakat, karenanya termasuk kedalam perintah Allah. Dan karena sabda Rosululloh saw. Farodho, biasanya dalam istilah syara' dipergunakan makna tersebut. Telah menjelaskan pula Abu Aliah, Imam 'Atho, dan Ibnu Sirin, bahwa zakat fitrah itu adalah wajib. Sebagaimana pula dikemukakan dalam Bukhori. Ini adalah madzhab Maliki,Syafi'i dan Ahmad.

Hanafi menyatakan bahwa zakat itu wajib bukan fardhu, fardhu menurut mereka segala sesuatu yang di tetapkan oleh dalil qath'i, sedangkan wajib adalah segala sesuatu yang di tetapkan oleh dalil zanni. Hal ini berbeda dengan imam yang tiga. Menurut mereka fardhu mencakup dua bagian: fardhu yang di tetapkan berdasarkan dalil qoth'i dan fardhu yang ditetapkan berdasar dalil zanni. Dari sini kita mengetahui bahwa hanafi tidak berbeda dengan mazhab yang tiga dari segi hukum, tetapi hanyalah perbedaan dalam istilah saja dan ini tidak menjadi masalah.

Maliki mengutip dari asyhab bahwa zakat fitrah itu hukumnya adalah sunnat muakkad. Ini adalah pendapat sebagian ahli zahir, dan ibnu lubban dri syafi'i. mereka mentakwilkan kalimat fardhu di dalam hadits dengan makna qaddara/memastikan. Apa yang telah di kemukakan diatas, sesungguhnya telah membantah pendapat tersebut. Imam Nawawi setelah mengemukakan pendapat ibnu luban yang menyunatkannya, menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang aneh dan munkar bahkan jelas salahnya.

Ishaq bin rahawih menyatakan bahwa kewajiban zakat fitrah adalah seperti ijma' bahkan Ibnu Mundzir mengutip ijma' ulama akan kewajibannya. Ibrahim bin Uliah dan Abu Bakr Asham berpendapat bahwa kewajiban zakat fitrah itu dinaskh dengan kefardhuan zakat. Keduanya beralasan dengan sebuah hadits riwayat Ahmad dan Nasa'i dari Qoyis bin Sa'ad bin Ubadah:
"Ia ditanya tentang zakat ftrah, ia menjawab: rosulullah saw. telah memerintahkan zakat fitrah, sebelum diturunkan kewjiban zakat. Ketika diturunkan kewajiban zakat, rosul tidak menyuruh dan juga tidak melarang, akn tetapi harus melakukannya."

C. Kepada siapakah zakat fitrah itu diwajibkan?
Rosulullah telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan ramadhan-pada orang yang merdeka, hamba sahaya, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa, orang kaya, fakir atau miskin.

Empat mazhab sepakat bahwa zakat fitrah itu diwajibkan kepada setiap orang islam yang kuat, baik tu maupun muda. Maka bagi wali anak kecil dan orang gila wajib mengeluarkan harta serta memberikan kepada orang fakir, menurut Hanafi orang yang mampu ialah orang yang mempunyai harta yang cukup nishab atau nilainya lebih dari kebutuhannya. Menurut Syafii, Maliki, Hanbali orang yang mampu adalah orang yang mempunyai lebih dalam makanan pokoknya untuk dirinya dan untuk keluarganya pada hari dan malam hari raya dangan pengecualian kebutuhan tempat tinggal dan alat-alat primer, Maliki menambahkan bahwa orang yang mampu adalah orang yang bisa berhutang kalau dia mempunyai harapan untuk membayarnya. Menurut Imamiyah syarat wajib mengeluarkan zakat fitrah itu adalah baligh berakal dan mampu, maka harta anak kecil dan juga harta orang gila tidak wajib di zakati.

Menurut Imam Syafi'i orang yang mempuyai tanggungan ( menanggung nafkah orang lain) dan tidak munngkin meninggalkannya ia wajib menngeluarkan zakat fitrah untuk orang-orang yang berada dibawah tanggungannya seperti anak-anak yang masih kecil. Seseorang juga wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk budak-budaknnya yang berada dibawah kekuasannya atau ditempat lain yang masih ada harapan kembali atau ysng tidak ada harapan unutuk kembali ketangannya, dengan syarat ia mengetahui budak-budak tersebut masih hidup karena budak-budak tersebut statusnya masih dalam kepemilikannyaApabila seseorang mempunyai anak atau tanggungan baru dihari terkhir
bulan ramadhan sebelum matahari tenggelam-sebelum kelihatan hilal bulan syawal-maka ia wajib mengeluarkan zakat fitrah dari anak yang baru lahir tersebut.
Apabila seseorang menghibahkan seorang budak kepada orang lain beberapa saat sebelum terlihat hilal bulan syawal(masih berada diakhir bulan ramadhan), maka yang wajib mengeluarkan zakat fitrah dari budak tersebut adalah orang yang mendapat hibah tersebut. Untuk orang gila dan anak yang masih kecil, maka yang wajib mengeluarkan zakat fitrahnya adalah walinya. Apabila seseorang memasuki awal bulan syawal(malam hari bulan syawal) dan mempunyai makanan yang cukup untuk dirinya dan untuk orang-orang yang berada dibawah tanggungannya, dan makanan tersebut juga cukup untuk dibayarkan sebagai zakat fitrah untuk dirinya dan untuk orang-orang yang berada dibawah tanggungannya, maka dlam hal ini ia wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinyna dan untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya. Apabila makanan tersebut hanya cukup dimakan oleh dirinya dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya ( tidak cukup membayar zakat walaupun untuk satu orang ), maka dalam hal ini ia wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi dirinya dan bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya.

D. Takaran zakat fitrah dan ketentuannya
Dari nafi' dan ibnu umar, "bahwasannya rosulullah saw. Mewajibkan zakat fitrah ramadhan pada manusia( kaum muslimin ), yaitu satu sha' tamar atau satu sha' sya'ir (gandum). Imam Syafi'i berkata: "sesungguhnya Abu Sa'id al Khudhri berkata,
"Dizaman nabi saw. kami mengeluarkan zakat fitrah berupa makanan pokok satu sha', yaitu satu sha' keju ( susu kering ) atau satu sha' zabit ( anggur kering ), atau satu sha' tamar (kurma kering ) atau satu sha' gandum. Demikianlah kami mengeluarkan zakat fitrah, sampai pad suatu hari Muawiyah datang berhaji atau berumroh, lalu ia berkuthbah dihadapan kaum muslimin. Diantara isi khutbahnya adalah, 'aku berpendapat bahwa dua mud samrah yang berasal dari negeri syam adalah sebanding dengan satu sha' tamar. Maka kaum muslimin mengikuti apa yang di ucapkan oleh mu'awiyah."

Imam Syafi'i berkata: biji gandum tidak dikeluarkan zakatnya kecuali satu sha' saja. Menurut sunnah rosul, zakat fitrah adalah berupa makanan pokok yang biasa dimakan oleh seseorang, makanan yang harus di keluarkan sebagai zakat fitrah adalah makanan yang paling sering dimakan seseorang. Jika seseorang mendapat pinjaman berupa makanan dari orang lain, kemudian pinjaman tersebut habis pada malam satu syawal, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah.

Jika terdapat pada suatu negeri yang makanan pokoknya bukan gandum maka dapat dikiaskan dengan gandum, contoh padi ukurannya dapat disamakan dengan gandum dan menjadi menjadi ukuran 2,5 KG seperti yang sudah umum di masyarakat. Ketentuan zakat fitrah yang paling mendasar adalah bahan makanan pokok di indonesia sendiri selain itu terdapat banyak makanan pokok seperti: sagu, ketela atau tepung yang berasal dari ketela. Satu sho' gandum(Hinthoh) versi Imam Abu Nawawi:1862,18Gr, satu sho' beras putih: 2719,19Gr,Satu sho' dalam volume versi Imam Syfii, hambali dan maliki: 188,712Lt / kubus berukuran + 14,65Cm.

Satu sho' itu 1/6 ltr mesir, yaitu 11/3 wadah mesir. Sebagaimana dinyatakan dalam Syarah Dardir dan yang lain. Ia sama dengan 2167 gram(hal ini berdasarkan timbangan dengan gandum). Apabila keadaan ini timbangan 1 sho' gandum, maka mereka menyatakan, bahwa makanan selain gandum itu lebih ringn dari padanya, sehingga apabila yang selain gandum itu dikeluarkan, timbangannya sama dengan gandum, tentu akan lebih dari 1 sho'. Apabila pada suatu daerah makanan utamanya lebih berat daripada gandum, seperti beras misalnya maka wajib untuk menambah dari ukuran tersebut, sebagai imbangan dari adanya perbedaan itu. Atas dasar itu, maka sebagian ulama ada yang berpegang teguh pada takaran, bukan pada timbangan. Karena biji-bijian itu ada yang ringan dan ada pula yang berat.

Menurut Imam Nawawi :" telah menjadi sulit membuat batasan 1 sho' dengan timbangan, karena 1 sho' yang dikeluarkan di zaman Rosululloh saw. adalah takaran yang diketahui, dan berbeda-beda ukuran timbangannya, karena perbedaan benda yang dikeluarkannya, seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dan yang lainnya.

Dibolehkan lebih dari satu sho' karena sesungguhnyaa zakat itu bukanlah urusan ibadah semata, seperti dan segala yang berhubungan dengannya, seperti dzikir dan tasbih.

Adanya tambahan pada zakat dari sekedar kewajiban adalah tidak mengakibatkan dosa, bahkan merupakan perbuatan terpuji, sebagaimana yang dinyatakan Quran:
"barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya."

E. Apakah zakat fitrah itu dibagikan asnaf yang delapan?
Pendapat yang masyhur dari mazhab Syafi'i bahwa wajib menyerahkan zakat fitrah kepada golongan orang yang berhak menerima zakat yaitu Asnaf yang delapan. Mereka wajib diberi bagaian dengan rata. Dan ini dalah mazhab Hazm. Apabila zakat fitrah itu dibagikan sendiri, maka gugurlah bagian petugas, karena memang tidak ada dan gugur pula bagian muallaf karena urusan mereka hanyalah diserahkan kepada penguasa.

"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang di bujuk hatinya, untuk(memerdekakan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang di wajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijakasan."
(QS. At-Taubat:60)

Allah telah mejelasakan delapan golongan yang berhak menerima zakat. Yaitu:
1. Fakir: orang yang hanya mampu memenuhi kurang dari separoh kebutuhanya.
2. Miskin: orang yang mampu memenuhi lebih dari separoh kebutuhanya, namun ia belum mampu memenuhi kebutuhannya secara menyeluruh, maka ia diberi zakat untuk beberapa bulan kebutuhanya.
3. Amil Zakat: orang yang ditugaskan oleh penguasa (pemerintah) untuk mengumpulkan zakat dari orang yang membayar zakat.mereka di beri upah yang layak sesuai dengan pekerjaan mereka.
4. Para muallaf yang dibujuk hatinya: adalah orang orang yang baru memeluk islam, mereka diberi zakat agar hti mereka lunak menerima islam dan agar keimanan dihati mereka tetap teguh
5. Zakat juga di berikan untuk memerdekakan budak dan membebaskan tawanan perang yang tertawan oleh pihak musuh.
6. Orang-orang yang berhutang: mereka adalah orang-orang yang terbebani hutang mereka di beri zakat untuk melunasi hutang mereka dengan syaratnya harus beragama islam, tidak mampu melunasi hutang, dan tidak berhutang untuk membiayai kemaksiatan.
7. Fi sabilillah: mereka adalah para mujahid yang berperang dengan suka rela tanpa mendapat gaji dari pemerintah, mereka di beri zakat untuk diri mereka sendiri atau untuk membeli senjata.
8. Orang yang sedang dalam pejalanan yaitu para musafir yang kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalananya, maka ia diberi zakat sekedar kebutuhanya, sehingga ia sampai ke tujuanya.

Ibnu Qayyim membantah pendapat ini dan berkata: "Pengkhususan zakat fitrah bagi orang-orang miskin, merupakan hadiah dari Nabi saw. Nabi tidak pernah membagikan zakat fitrah sedikit-sedikit kepada golongan yang delapan, tidak pernah pula menyuruhnya, tidak dilakukan oleh seorangpun dari para sahabat dan orang-orang sesudahnya.bahkn salah satu pendapat dari mazhab kami adalah tidak boleh menyerahkan zakat fitrah, kecuali hanya kepada golongan miskin saja. Pendapat ini lebih kuat dibanding pendapat yang mewajibkan pembagian zakat fitrah pada asnaf yang delapan.

Menurut mazhab Maliki, sesungguhnya zakat fitrah itu hanyalah diberikan kepada golongan fakir dan miskin saja. Tidak pada petugas zakat, tidak pada orang yang muallaf, tidak dalam pembebasan perbudakan, tidak pada orang yang berutang, tidak untuk orang yang berutang, tidak untuk orang yang berperang dan tidak pula untuk ibnu sabil yang kehabisan bekal untuk pulang, bahkan tidak diberi kecuali dengan sifat fakir. Apabila di suatu negara tidak ada orang fakir, maka di pindahkan kenegara tetangga dari ongkos orang mengeluarkan zakat, bukan diambil dari zakat, supaya tidak berkurang jumlahnya.
Dalam hal ini jelas ada tiga pendapat:
1. Pendapat yang mewjibkan di bagikan pada asnaf yang delapan, dengan rata ini adalah pendapat yang masyhur dari golongan Syafi'i.
2. Pendapat yang memperkenankan membagikannya pada asnaf yang delapan dan mengkhususkanya kepada golongan fakir. Ini adalah pendapat jumhur, karena zakat fitrah adalah zakat juga, sehingga masuk dalam keumuman sebagaimana pada surat at-Taubat ayat:60
3. Pendapat yang mewajibkan mengkhususkan kepada orang-orang yang fakir saja, ini adalah pendapat golongan Maliki, salah satu dari pendapat Imam Ahmad, di perkuat oleh Ibnu Qoyyim dan gurunya, yaitu Ibnu Taimiyah. Pendapat ini di pegang pula oleh Imam Hadi, Qashim dan Abu Tholib,dimana mereka mengatakan bahwa zakat fitrah itu hanyalah di berikan kepada fakir miskin saja, tidak kepada yang lainnya dari asnaf yang delapan, berdasarkan hadist: "Zakat fitrah adalah untuk memberi makan pada orang-orang miskin." Dan hadis: "Cukupkanlah mereka di hari raya ini."
Hadist-hadist di atas menunjukkan bahwa maksud utama zakat fitrah adalah mencukupkan orang-orang fakir pada hari raya, jika orang orang fakir itu ada, tetapi ini tidak berarti mencegah diberikanya kepada kelompok lainnya, sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan, sebagaimana penjelasan Nabi tentang zakat harta, bahwa zakat itu diambil dari orang kaya dan diberikan kepada orang fakir. Roslullah saw. tidak melarang, zakat itu diberikan kepada asnaf lainya, sebagaimana yang terdapat dalam surat at-Taubat ayat 60.

F. Masalah-masalah yang mencul sehubungan zakat fitrah.
Banyak sekali masalah yang muncul ketika membayar zakat antara lain: Mengeluarkan harga zakat fitrah menurut imam yang tiga adalah tidak diperkenankan, baik pada zakat fitrah maupun pada zakat-zakat lainnya, Ibnu Umar berpendapat bahwa menyerahkan harganya itu bertentangan dengan sunnah Rosul demikian juga Ibnu Hazm berpendapat bahwa menyerahkan harganya itu sama sekali tidak boleh karena hal itu berbeda dengan apa yng diwajibkan Rasulullah saw.
Imam at-Tsuri, Abu Hanifah dan ashabnya berpendapat bahwa mengeluarkan harganya itu diperbolehkan. Hal ini diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Azis serta Hasan Basri, diantara alasan yang memperkuat pendapat ini adalah sabda Rosul saw. "cukuplah orang-orang miskin pada hari raya tidak meminta-minta." Mencukupi ini juga bisa dengan harganya, bisa pula dengan makanannya, kebolehan mengeluarkan harga itu sejak di tunjukkan sejak dari dahulu, yaitu para sahabat memperbolehkan mengeluarkan setengah sha' gandum, karena di anggap sama nilainya dengan satu sha' kurma. Beberapa masalah yang berhubungan dengan penyerahan harga:
• Yang di maksud dengan menyerahkan harga adalah harga gandum, syai'ir, atau kurma.
• Tidak boleh mengelurkan harga dari makanan yang ada nasnya, dicampur antara satu jenis dengan jenis lainya.
orang yang tidak mampu mengeluarkan zakat fitrah sampai melewati hilal bulan syawal, kemudian sehari sesudahnya, maka dalam hal ini ia tidak wajib mengeluarkan zakat (imam syafii).

Daftar Pustaka:
1. Dr. Yusuf Qordawi, (1996). Hukum Zakat. Bogor: Litera Antar Nusa dan Mizan.
2. Imam Syafii, Ringkasan Kitab al-Umm, (2004). Jakarta: Pustaka Azzam.
3. Muhammad jawad Mugniyah, (1996). Fikih Lima Mazhab. Jakarta: Lentera.

Sumber : http://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/makalah-zakat-fitrah.html

Marhaban Ya Ramadhan....!

Sabtu, 23 Juli 2011 3 komentar


"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( QS Al-Baqarah : 183 )

Urgensi Puasa Ramadhan
Ash-shiyam atau shaum atau puasa adalah menahan diri dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu. Tapi bila ditinjau dari hukum syara' adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh, dan dilaksanakan semata-mata karena Allah. Nilai-nilai dari puasa tidaklah dapat dihitung, diperkirakan atau diadakan oleh manusia (ulama, nabi, dll) tetapi nilai puasa adalah semata milik Allah. Rasulullah bersabda:
Firman Allah: Setiap amal anak adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali amal puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. (H.S.R. Imam Bukhari).

Puasa, bukan sekedar kewajiban tahunan, dengan menahan lapar dan berbuka, kemudian setelah itu hampir tidak berbekas dalam jiwa ataupun dalam perilaku dalam bersosialisasi di masyarakat, namun puasa lebih kepada kewajiban yang mampu menggugah moral, akhlak, dan kepedulian kepada hal social kemasyarakatan. Puasa merupakan kewajiban yang universal, dan sebagai orang yang beragama Islam, maka perlu diyakini bahwa puasa merupakan kewajiban yang disyariatkan untuk setiap muslim/mukmin, seperti layaknya sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW.

Puasa, merupakan satu cara untuk mendidik individu dan masyarakat untuk tetap mengontrol keinginan dan kesenangan dalam dirinya walaupun diperbolehkan. Dengan berpuasa seseorang dengan sadar akan meninggalkan makan dan minum sehingga lebih dapat menahan segala nafsu dan lebih bersabar untuk menahan emosi, walaupun mungkin terasa berat melakukannya.

Puasa juga merupakan kewajiban yang konkret sebagai pembina suatu kebersamaan dan kasih sayang antar sesama. Sesama orang Islam akan merasakan lapar, haus, kenyang, dan sulitnya menahan emosi dan amarah diri. Puasa dalam satu bulan, seharusnya dapat membawa dampak positif berupa rasa solidaritas dan kepedulian antar saudara, rasa kemanusiaan yang mendalam atas penderitaan sesama manusia. Perasaan sama-sama lapar, haus, kesabaran yang lebih, dan kesucian pikiran juga kata-kata, mampu membuat manusia memiliki rasa kebersamaan dalam masyarakat, dan menghasilkan cinta kasih antar sesama tanpa memandang latar belakang, warna kulit, dan agama.

Keistimewaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa, bulan penuh berkah, dan segala amal baik umat-Nya di dunia akan dibalas berlipat ganda oleh Tuhan. Semangat untuk menjalankan ibadah puasa, mampu membentuk karakter untuk memperbanyak amal kebajikan maupun amal ibadah spiritual dalam diri. Selain itu, bulan puasa merupakan bulan yang dapat digunakan untuk membuat mental menjadi tetap konsisten dan istiqamah dalam sebelas bulan berikutnya.

Namun, apapun yang diperbuat di bulan puasa ini, semuanya kembali kepada kesadaran diri masing-masing, untuk memahami makna puasa, dan makna-makna lain yang akan menentukan sikap dan perilaku diri ke depan setelah berlalunya bulan puasa. Oleh karena itu, apa yang sampai di mata dan telinga Allah, adalah niat, maka hati dan pikiran kita untuk menjalankan ibadah puasa, bukan penampilan lahiriah atau materi peribadatan yang dilakukan.

Hikmah Puasa Ramadhan
Hikmah yg diperoleh dari ajaran berpuasa Ramadan nilai kesalehan selalu berada pada jaringan sosial masyarakat dilandasi oleh kualitas iman dan takwa. Sehingga dalam kalbu kita tumbuh pribadi yg kuat senantiasa ikhlas beramal dan bukan pribadi yg selalu menjadi beban orang lain. Kondisi sekarang kesalehan sosial yg berwujud rasa peduli terhadap merebaknya kemiskinan terlihat jelas konteksnya.

Seperti tidak menentunya kondisi perekonomian rakyat anjloknya nilai rupiah yg dirasakan pahit bagi masyarakat golongan bawah. Situasi perekonomian yg tidak jelas juntrungnya di berbagai aspek kehidupan menumbuhkan nafsu egoistis di kalangan masyarakat tingkat menengah ke atas menjauhkan diri dari nilai-nilai kemanusiaan menggiringnya ke sikap apatisme. Esensi ajaran Islam tidak mengajarkan manusia bersikap masa bodoh terhadap masyarakat lingkungan lebih-lebih terhadap mereka yg hidup kekurangan dan miskin.

Islam tidak boleh membiarkan umatnya hidup serba kekurangan melainkan dijadikan manusia itu menjadi mahluk yg hidup dalam keseimbangan antara keperluan duniawiyah dan ukhrawiyah. Karena itu hikmah puasa Ramadan secara kondusif melahirkan dua dimensi keberkahan kehidupan dunia dan akhirat.

Secara fisik dgn berpuasa seseorang harus mampu mengendalikan nafsu sekularitas hedonistis egoistis maupun sikap hidup kompetitif konsumtif agar hidup ini senantiasa dihayati sebagai rahmat dan ni’mat dari Allah SWT. Mereka harus menahan rasa lapar dan haus tidak melakukan hubungan badan dgn istri dari waktu fajar hingga matahari tenggelam di petang hari serta tidak melakukan perbuatan jahat tidak mengeluarkan kata-kata kotor menahan emosi dan nafsu amarah serta berbagai perbuatan tercela lainnya.

Secara psikologis seseorang yg berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi penderitaan akibat rasa lapar dan haus yg selama itu lbh banyak diderita oleh fakir miskin yg dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan. Esensi puasa Ramadan juga memberikan nilai ajaran agar orang yg beriman dan bertakwa mengikuti tuntunan Nabi saw yg hidupnya amat sederhana dan selalu bersikap lugu dalam segala aspek kehidupannya.Beliau menganjurkan kepada umat Islam “berhentilah kamu makan sebelum kenyang.” Contoh sederhana tersebut mudah didengar tapi terasa berat dilaksanakan jika seseorang tengah bersantap dgn makanan lezat. Memang itulah tuntunan yg memiliki bobot kesadaran diri tinggi terhadap lingkungan masyarakat miskin yg berada di lingkungannya.

Di bagian lain Nabi saw mencontohkan “berbuka puasalah kamu dgn tiga butir kurma dan seteguk air minum setelah itu bersegeralah salat magrib.” Kaitannya dgn itu Nabi Saw menganjurkan agar selalu gemar memberi makan utk tetangga yg miskin. Fenomena kesadaran fitrah di atas dalam puasa Ramadan saat ini diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan moral utk memihak kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pendekatan ini harus diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal saleh mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh’afin.

Seperti dicontohkan Nabi SAW saat membebaskan budak masyarakat kecil dan golongan lemah yg tertindas dgn membangkitkan ‘harga diri’ dan nilai kemanusiaan. Nabi SAW bisa hidup di tengah mereka dalam kondisi sama-sama lapar tidur di atas pelepah daun kurma. Begitu dekatnya Nabi Saw dgn orang-orang miskin sampai-sampai beliau mendapat julukan Abul Masakin . Ketika ada seorang sahabat bertanya terhadap keberadaan dirinya beliau menjawab “carilah aku di tengah orang-orang yg lemah di antara kalian.” Isyarat yg diberikan Nabi Saw ini menggugah seorang pemikir Islam dari Turki Hilmi H. Isyik mengatakan “Orang yg bersikap masa bodoh terahdap orang-orang miskin di sekitarnya tidak mungkin ia menjadi seorang muslim yg baik.”

Pengertian di atas mengambil esensi dari Sabda Nabi Saw yg maksudnya tiap orang muslim jangan mengabaikan dasar pokok iman ibadah dan akhlak. Kalau hal itu terabaikan amal atau muamalat duniawi akan menyimpang tidak terkontrol nafsu kemurkaannya tidak terkendali sehingga orang akan berperilaku sekehendaknya sendiri tanpa memperdulikan lingkungan dan penderitaan orang lain. Dampaknya dapat menghancurkan sikap toleransi dan solidaritas sesama umat Muslim.

Nabi Saw bersabda “Barangsiapa tidak merasa terlibat dgn permasalahan umat Islam dia bukanlah dari golonganku.” Ini jelas memperingatkan permasalahan umat Muhammad yg tumbuh di dunia bukan hanya ibadah salat dan puasa saja juga luluh ke dalam nasib penderitaan sesama umat. Konteksnya dgn puasa Ramadan Nabi saw menegaskan “begitu banyak orang berpuasa tapi yg dihasilkannya hanya rasa lapar dan haus semata-mata.” Sabda ini mengandung arti hikmah puasa Ramadan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus menahan nafsu dan keinginan hedonistis melainkan secara esensial mengandung makna penghayatan rohani amat yg dalam yakni ekspresi jiwa dan konsentrasi mental secara utuh dan solid di mana sendi-sendi mental dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri meluruskan disiplin pribadi dgn baik.

Semua rangkuman di atas merupakan intisari dari firman Allah Swt “Hai orang-orang yg beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu bertakwa.” . Di sinilah kekuatan iman dan takwa seorang Muslim diuji. Sehingga jelas nilai takwa seorang Muslim terangkat pada derajat hidup manusia ke dalam orientasi kehidupan duniawi sekaligus memperoleh justifikasi etis keakhiratan. Allah Swt berfirman “Dan carilah pada apa yg telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagian negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari keni’matan dunia.” . Dari sana pula pendekatan yg fleksibel sesama umat dijalin dgn batas pengertian tertentu yakni berpegang pada pokok akidah yg kita yakini sehingga upaya mengangkat kemiskinan terwujud dgn semangat kebersamaan dan solidaritas yg tinggi dalam implementasi wadah puasa Ramadan yg penuh rahmat ampunan dan barakah.

Sumber :
http://mashadi.0fees.net/
http://halaqohdakwah.wordpress.com/
http://blog.re.or.id/

Kedisiplinan Guru

Selasa, 05 Juli 2011 2 komentar

1. Pengertian Kedisiplinan Guru
Kedisiplinan merupakan nilai-nilai yang menjadi bagian integral dari suatu profesi seseorang harus memiliki setiap orang yang mempunyai pekerjaan.
Kedisiplinan berasal dari kata “disiplin” yang berarti rajin, ulet, taat, patuh, sedangkan pengertian kedisiplinan secara luas adalah : Sikap dan nilai-nilai yang harus ditanamkan dan dilakukan oleh setiap individu yang mempunyai pekerjaan agar tujuan yang hendak dicapai dapat tercapai.
Dari pengertian kedisiplinan di atas apabila kita hubungkan dengan profesi seorang guru di sekolah maka kedisiplinan guru di sekolah mengandung arti bahwa sikap dan nilai-nilai di sekolah agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Konsep Kedisiplinan
Kedisiplinan adalah fungsi operatif keenam dari Manajemen Sumber Daya Manusia. Kedisiplinan merupakan fungsi operatif MSDN yang terpenting karena semakin baik disiplin seseorang, semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Yang dimaksud dengan MSDN adalah suatu bidang manajemen yang khusus mempelajari hubungan dan peranan manusia dalam organisasi perusahaan (Malayu S.P. Hasibuan 2005 : 10).
Disiplin yang baik mencerminkan rasa tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya . hal ini mendorong gairah kerja, semangat kerja, dan terwujudnya tujuan. Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku (Malayu S.P. Hasibuan 2005 : 193).
Menurut Malayu S.P. Hasibuan, indikator-indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan adalah :
a. Tujuan dan Kemampuan
Tujuan dan Kamampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan seseorang. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan seseorang. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan seseorang harus sesuai dengan kemampuan seseorang bersangkutan, agae dia bekerja sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. Akan tetapi, jika pekerjaan itu di luar kemampuannya atau jauh di bawah kemampuannya maka kesungguhan akan disiplin seseorang rendah.
b. Teladan Pimpinan
Teladan pimpinan sangat sangat berperan dalam manentukan kedisiplinan seseorang karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisiplin baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Jika teladan pimpinan kurang baik (kurang berdisiplin), para bawahan pun akan kurang disiplin. Pimpinan jangan mengharapkan kedisiplinan bawahannya baik jika diri sendiri kurang disiplin. Pimpinan harus menyadari bahwa perilakunya akan dicontoh dan diteladani bawahannya. Hal inilah yang mengharuskan pimpinan mempunyai kedisiplinan yang baik agar para bawahan pun mempunyai disiplin yang baik pula.
c. Balas Jasa
Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan seseorang karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan seseorang terhadap perusahaan/pekerjaannya. Jika kecintaan seseorang semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula. Jadi balas jasa berperan penting untuk menciptakan kedisiplinan seseorang. Artinya semakin besar balas jasa semakin baik kedisiplinan seseorang. Sebaliknya, apabila balas jasa kecil kedisiplinan seseorang menjadi rendah. Seseorang sulit untuk berdisiplin baik selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan baik.
d. Keadilan
Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan seseorang, karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya kedisiplinan seseorang yang baik. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik.
e. Waskat
Waskat adalah tindakan nyata dan efektif untuk mencegah/mengetahui kesalahan, membetulkan kesalahan, memelihara kedisiplinan, meningkatkan prestasi kerja, mengaktifkan peranan atasan dan bawahan, menggali sistem-sistem kerja yang paling efektif, serta menciptakan system internal kontrol yang terbaik dalam mendukung terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
f. Sanksi Hukuman
Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan seseorang. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, seseorang akan semakin takut melanggar peraturan-peraturan, sikap, dan perilaku indisipliner seseorang akan berkurag. Berat/ringannya sanksi hukuman yang akan diterapkan ikut mempengaruhi baik/buruknya kedisiplinan seseorang. Sanksi hukuman yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal, dan diinformasikan secara jelas. Sanksi hukuman seharusnya tidak terlalu ringan atau terlalu berat supaya hukuman itu tetap mendidik seseorang untuk mengubah perilakunya. Sanksi hukuman hendaknya cukup wajar untuk setiap tingkatan yang indisipliner, bersifat mendidik, dan menjadi alat motivasi untuk memelihara kedisiplinan.
g. Ketegasan
Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan seseorang. Pimpinan harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang indisipliner akan disegani dan diakui kepemimpinannya oleh bawahan. Dengan demikian, pimpinan akan dapat memelihara kedisiplinan karyawannya. Sebaliknya apabila seorang pimpinan kurang tegas atau tidak menghukum karyawan yang indisipliner, sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan bawahannya, bahkan sikap indisipliner karyawan semakin banyak karena mereka beranggapan bahwa peraturan dan sanksi hukumannya tidak berlaku lagi. Pimpinan yang tidak tegas menindak atau menghukum karyawan yang melanggar peraturan, sebaliknya tidak usah membuat peraturan atau tata tertib.
h. Hubungan Kemanusiaan
Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama karyawan ikut menciptakan kedisiplinan yang baik. Hubungan yang bersifat vertikal maupun horizontal yang terdiri dari direct single relationship, direct group relationship, dan cross relationship hendaknya harmonis.

Kultur Sekolah

Jumat, 01 Juli 2011 1 komentar

Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan ‎mutu sekolah, yakni proese belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, ‎serta kultur sekolah. Kultur sekolah merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh ‎suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, perilaku, sikap, dan nilai yang ‎tercantum baik dalam wujud fisik maupun abstrak. Kultur ini juga dapat dilihat sebagai ‎suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan cara hidup untuk melakukan penyesuaian ‎dengan lingkungan, dan sekaligus cara memandang persoalan dan memecahkannya.

Oleh karena itu, suatu kultur secara alami diwariskan oleh suatu generasi kepada generasi ‎berikutnya. Sekolah merupakan lembaga utama yang didesain untuk memperlancar proses ‎transmisi kultural generasi tersebut. Konsep kultru di dunia pendidikan berasal dari kultur ‎tempat keraja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan emberikan landasan ‎dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. ‎Kultur sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, ‎mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. ‎

Kultur sekolah dipegang berasama oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi, maupun ‎siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang ‎muncul di sekolah. Kultur sekolah yang sehat berimplikasi pada prestasi dan motivasi siswa ‎untuk berprestasi, sikap dan motivasi guru, dan produktifitas dan kepuasan kerja guru. ‎Sesuatu yang ada pada kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan ‎dengan aspek yang lain, seperti rangsangan untuk berprestasi, penghargaan yang tinggi ‎terahadap prestasi, komonitas sekolah yang tertib, ideologi organisasi yang kuat, partisipasi ‎orang tua siswa, kepemimpinan kepala sekolah, dan hubungan akrab diantara guru. ‎

Nilai,moral, sikap, dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah dan ‎perkembangan mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan kultur ‎sekolah, serta interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang ada di sekolah, ‎seperti kepala sekolah, guru, materi pelajaran, dan antar siswa sendiri. ‎

KKN=KAKAK-KAKAK NAKAL

Minggu, 26 Juni 2011 0 komentar

KKN yakni Kuliah Kerja Nyata yang merupakan bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi kini berubah makna menjadi “Kakak-Kakak Nakal”. Betapa tidak, dari sekian mahasiswa yang terjun ke masyarakat dengan membawa program-program peduli masyarakat sebagai wujud nyata dari kepedulian serta pengabdian mereka terhadap masyarakat, mulai dari program pendidikan, pembangunan, kesehatan, serta bantuan pangan membuat semua warga tak ingin kehilangan mereka. Subhanallah…!

Program pendidikan, merupakan kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan, mereka ikut serta mencerdaskan anak bangsa melalui lembaga-lembaga pendidikan yakni sebagai guru sesuai dengan skill yang mereka miliki. Program pembangunan, merupakan kegiatan bantuan fisik yang berupa bangunan-bangunan, entah sifatnya memperbaiki atau membuat yang baru, seperti tempat ibadah, memperbaiki jalan, bahkan memperbaiki tempat beol warga. Program kesehatan, merupakan kegiatan bantuan kesehatan gratis bagi warga sekitar dan bekerja sama dengan pemerintah setempat sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan warga. Sementara program bantuan pangan, merupakan kegiatan bantuan sembako yang diberikan kepada warga yang tergolong miskin. Jadi tidak heran jika diantara mereka menjadi idola warga dan bahkan dilirik untuk menjadi calon menantu setia. Luar biasa…!

Lahirnya istilah KKN=Kakak-Kakak Nakal bermula dari lembaga pendidikan, karena disinilah peserta KKN banyak berinteraksi dengan anak-anak mulai dari tingkat TK-TPA, SD, SMP, dan bahkan SMA. Istilah ini lahir dari anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian dari peserta KKN, dia merasa di nomor duakan bahkan merasa dikucilkan. Entah karena facenya yang tidak begitu menarik, sifat dan sikapnya yang agak antik, dan sebagainya, sehingga terjadi kecemburuan sosial diantara mereka. Peserta KKN hanya perhatian pada anak-anak yang mempesona dan merona, sehingga tidak heran jika setiap wilayah mempunyai bunga, dan bahkan menjadi rebutan diantara mereka, bagaikan sebuah kerajaan yang memperebutkan wilayah kekuasaan Sungguh terlalu...!

Tempat KKN merupakan tempat dimana mahasiswa belajar bersama masyarakat, karena disana terdapat pelajaran-pelajaran yang tidak mahasiswa dapatkan dibangku kuliah, sebagai gambaran bagi mereka kelak saat benar-benar berada di masyarakat. Mereka akan dihadapkan dengan berbagai macam tipe manusia dan sesuatu yang terkadang tidak srek di kepala mereka. Tempat KKN merupakan tempat beraksi dan berkreasi, menyalurkan semua talenta dan skill yang dimiliki, mulai dari ranah pendidikan, dakwah, serta seni dan keterampilan. Sehingga linangan air mata membasahi pipi warga saat peserta KKN hendak meninggalkan tempat KKN dan kembali ke penjara suci yang mereka tempati. Berbagai perasaan berkumpul menjadi satu sehingga mendorong saraf mata untuk mengeluarkan air matanya, seakan tidak rela akan kepergiannya. Mulai dari rasa sedih, gelisah, dan bahkan ada yang kecewa. Entah kecewa karena apa? Karena cinta kali’…? Sebuah moment yang sulit untuk dilupakan bahkan bisa-bisa berkelanjutan. Subhanallah…!

Yach itulah pernak-pernik kehidupan di daerah orang lain. Dan yang paling penting adalah bagaimana hati selalu tertata dengan baik karena hati adalah kunci dari semua aktifitas dalam kehidupan manusia. Sehingga apapun aktifitas kita dan dimanapun kita berada tetap dalam rel-rel yang telah ditentukan dalam islam. Apabila hati kita baik maka seluruh perkataan dan perbuatan kita akan baik. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah saw bersabda “Ala wa inna fil jasadi mudghah, idza soluhat soluhat jasadu kulluh, wa idza fasadat fasadat jasadu kulluh, ala wa hiya al-qalbu”.

MANFAAT DAUN KEMANGI

Kamis, 16 Juni 2011 2 komentar


Kemangi, daun beroroma khas yang sering kita temui terutama saat kita menyantap pecel ‎lele, konon pernah memenuhi kebun dan taman kerjaan Prancis dan Italia. Bunga kemangi ‎juga dipilih sebagai salah salah satu tanda cinta. Aroma daun kemangi memang ‎mengundang selera makan. wajar saja jika orang mengkonsumsi daun ini sebagai lalapan ‎mentah, campuran pepes, atau karedok. Selain melezatkan, ternyata kemangi memiliki ‎banyak manfaat. Kemangi kaya akan betakaroten dan magnesium, betakaroten sendiri ‎merupakan mineral penting yang berfungsi menjaga dan memelihara kesehatan jantung. ‎Selain menjaga dan memelihara kesehatan jantung, ternyata kemangi juga memiliki ‎manfaat lain yang cukup besar. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari daun Kemangi :‎
‎1.‎ Daun kemangi mengandung senyawa arginine yang telah terbukti mampu ‎memperkuat dan memperpanjang masa hidup sperma dan terbukti pula dapat ‎mencegah kemandulan.‎
‎2.‎ ‎ Daun kemangi juga mengandung zat yang mampu merangsang terbentuknya ‎hormon androgen dan estrogen.‎
‎3.‎ Zat flavonoid seperti orientin dan vicenin di dalam kemangi mampu melindungi ‎struktur sel tubuh. Sedangkan flavonoid seperti cineole, myrcene dan eugenol ‎mempunyai manfaat sebagai antibiotik alami dan anti peradangan.‎
‎4.‎ Getah kemangi dapat digunakan sebagai obat sariawan dan sakit telinga.‎
‎5.‎ Daun kemangi dapat dikonsumsi untuk memperbanyak ASI, penenang, mengobati ‎encok, dan penurun panas saat kita terserang demam.‎
‎6.‎ Daun kemangi juga dapat meningkatkan jumlah air seni, menghilangkan masuk ‎angin dan obat batu berdahak (sebagai peluruh dahak).‎
‎7.‎ Mengkonsumsi daun tanaman ini juga dapat mengatasi masalah bau mulut dan bau ‎badan.‎
‎8.‎ ‎ Asam aspartat, apigenin, arginin, dan boron dalam tanaman ini juga sudah ‎diketahui khasiatnya. Senyawa sineol berkhasiat sebagai penenang, membantu ‎mengatasi ejakulasi dini, merangsang aktifitas syaraf pusat, dan melebarkan ‎pembuluh darah kapiler.‎
‎9.‎ Teh yang dibuat dari daun kemangi dapat digunakan untuk mengatasi mual, ‎disentri, atau menurunkan panas (sebagai antipiretik). Caranya, satu sendok makan ‎daun kemangi kering diseduh dengan setengah cangkir air, lalu diminum. Bila perlu ‎tambahkan madu sebagai pemanis.‎
‎10.‎ Untuk mengobati panu, ambil segenggam daun kemangi, cuci, tumbuk halus, beri ‎sedikit air kapur sirih. Gosokkan ramuan ini pada kulit yang berpanu. Lakukan 2 kali ‎sehari.‎
‎11.‎ Untuk sariawan, ambil 50 helai daun kemangi, cuci bersih, kunyah sampai halus ‎selama 2-3 menit, telan. Minum air hangat. Lakukan 3kali sehari.‎
‎12.‎ Untuk mengurangi bau nafas tak sedap, sering-seringlah makan lalapan daun ‎kemangi, daun kunir dan beluntas.‎
‎13.‎ Mengatasi bau keringat, biasakan mengkonsumsi kemangi sebagai lalapan. Sebagai ‎permulaan, lakukan setiap hari selama 1minggu.‎
‎14.‎ Mengobati kutil, cuci bersih daun kemangi, gosokkan pada kutil secara teratur.‎

*Dari berbagai sumber

Seputar Pondok Pesantren

Selasa, 07 Juni 2011 3 komentar

Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat kompleks dan ‎berjangka panjang, dimana berbagai aspek yang tercakup dalam proses ‎saling erat berkaitan antara yang satu dengan yang lain dan bermuara ‎pada terwujudnya manusia yang memiliki nilai hidup, pengetahuan ‎hidup dan keterampilan hidup. Proses ini bersifat kompleks, karena ‎interaksi diantara berbagai aspek tersebut seperti, guru, bahan ajar, ‎fasilitas, kondisi siswa, lingkungan, dan metode pengajaran, tidak ‎selamanya memiliki sifat dan bentuk yang konsisten yang dapat ‎dikendalikan. Hal ini mengakibatkan penjelasan terhadap fenomina ‎pendidikan bisa berbeda-beda, baik karena waktu, tempat maupun ‎subjek yang terlibat dalam proses.‎

Sementara pondok pesantren adalah lembaga yang bersifat kompleks ‎dan unik. Bersifat kompleks karena pondok pesantren sebagai organisasi ‎yang didalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama yang lain ‎berkaitan dan saling menentukan. Sedangkan sifat unik menunjukkan ‎bahwa pondok pesantren sebagai organisasi yang memiliki ciri-ciri ‎tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi lain. Ciri-ciri yang ‎menempatkan pondok pesantren memiliki karakter tersendiri adalah ‎dimana di dalamnya terjadi proses belajar mengajar, dan merupakan ‎tempat terselenggaranya pembudayaan hidup manusia. Karena sifat ‎yang kompleks dan unik itulah, pondok pesantren sebagai organisasi ‎memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi.‎

Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga islam yang mana di ‎dalamnya diselenggarakan aktifitas-aktifitas keislaman sebagai bentuk ‎pengamalan dalam mewujudkan peradaban islam dengan menciptakan ‎dan menghidupkan tradisi-tradisi islam dalam kehidupan sehari-hari. ‎Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggrakan melalui unit-unit lembaga ‎pendidikan mulai tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, hingga ‎Perguruan Tinggi, dan lembaga layanan masyarkat.‎

Kurikulum pondok pesantren mengintegrasikan tiga komponen ‎pendidikan yang sekaligus menjadi karakteristik khas dari pondok ‎pesantren itu sendiri, yakni aspek ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah, yang ‎mana dari ketiga karakteristik tersebut isi kurikulumnya terdiri dari ilmu ‎agama, ilmu umum, dan ilmu keterampilan. Ketiga ilmu tersebut ‎disampaikan pada santri dengan landasan tauhid. Artinya setiap ilmu ‎yang diberikan kepada santri selalu membuat dirinya semakin dekat ‎kepada Allah SWT, salah satu caranya adalah dengan mengaitkan setiap ‎ilmu yang diberikan dengan Allah SWT, manusia dan alam sekitar. ‎Sehingga konsep tauhid akan melekat pada diri santri, dan santri akan ‎paham tentang hakikat dan tanggung jawab dirinya sebagai manusia, ‎yakni sebagai Abdullah dan Khalifatullah di muka bumi ini.‎

Secara struktural tongkat kepemimpinan pondok pesantren dipegang ‎oleh seseorang yang menjabat sebagai pimpinan umum yang dibantu ‎oleh kepala-kepala unit yang terdapat dalam pondok pesantren tersebut, ‎mulai dari unit pendidikan hingga unit pelayanan masyarakat. Sehingga ‎terdapat garis komandu dan garis koordinasi dalam pelaksanaan ‎program-program kepesantrenan.‎

Model kepemimpinan pondok pesantren terdiri dari dua macam, yaitu ‎model kepemimpinan pondok pesantren tradisional dan model ‎kepemimpinan pondok pesantren modern. Pondok pesantren tradisional ‎tampuk kepemimpinan dipegang oleh seorang kiai yang mana dia adalah ‎perintis sekaligus pembina pondok pesantren tersebut. Model ‎kepemimpinan pondok pesantren tradisional ini tongkat estafet ‎kepemimpinannya secara otomatis akan dilanjutkan oleh anak cucunya ‎sebagai pewaris tahta, karena pondok pesantren yang dirintis adalah ‎bersifat pribadi.‎

Sementara model kepemimpinan pondok pesantren modern, tampuk ‎kepemimpinan ditentukan oleh dewan syura, karena pondok pesantren ‎modern berlandaskan pada prinsip-prinsip organisasi. Sehingga masa ‎jabatan kepemimpinan pondok pesantren modern dibatasi oleh sistem ‎periode, sesuai dengan AD/ART yang terdapat pesantren tersebut. ‎

Manajemen pondok pesantren seperti layaknya manajemen lembaga ‎yang lain, yaitu adanya perencanaan, organizing, actuating, controling, ‎dan evaluating. Namun, perbedaanya adalah pada tataran ‎pelaksanaanya karena pondok pesantren mengemban misi dakwah ‎islamiyah, sehingga seluruh program yang dirancang bernuansa islam.‎

Pengembangan pondok pesantren dilakukan dengan melalui dua jalur ‎yaitu melalui pengembangan unit lembaga pendidikan, dan melalui ‎pengembangan amal usaha milik pesantren. Pengembangan unit ‎lembaga pendidikan yaitu dengan mendesain format pendidikan ‎semenarik mungkin sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yang ‎tentunya tidak keluar dari visi dan misi pesantren.‎

Sementara pengembangan pondok pesantren melalui amal usaha milik ‎pesantren adalah dengan mengembangkan unit-unit amal usaha milik ‎pesantren, seperti koperasi pondok pesantren, koperasi simpan pinjam, ‎baitul mal, layanan kesehatan, dan amal usaha lainya yang bisa di akses ‎oleh masyarakat sekitar. Sehingga keberadaan pondok pesantren benar-‎benar dirasakan oleh masyarakat.‎

Keep Our Mouth…!

Sabtu, 04 Juni 2011 1 komentar


Sering kita mendengar orang-orang di sekitar kita berkata “aku tidak ingin mengecewakan orang lain” lantas apa yang harus kita sampaikan sebagai respon dari pernyataan tersebut…? Mungkin salah satu jawaban yang tepat adalah “Jika engkau tidak ingin mengecewakan seseorang, maka engkau harus berani mengambil sebuah keputusan, karena seseorang merasa dikecewakan apabila dia diberi sebuah harapan”. Jadi tidak heran jika ada sang pujangga berkata “ingat wahai pemuda…hati-hati dengan kata-kata, karena kata-kata pada hakikatnya adalah janji, dan janji harus ditepati”. Apalagi kat-kata yang keluar dari mulut kita adalah bunga-bunga cinta yang membuat seseorang terlena, terpedaya, bahkan tak berdaya.

Memang lidah tak bertulang kawan, tapi tajamnya melebihi pedang. Dengan pedang badan kita akan tercabik-cabik, tapi dengan lidah hati kita akan merasa sakit sakit dan sakit. Memang terkadang hal yang membuat kita sedih adalah melihat orang yang kita cintai, orang yang kita sayangi mencintai orang lain. Namun, hal yang paling menyedihkan lagi apabila kita melihat orang yang kita cinta, orang yang kita sayangi pura-pura mencintai kita, hanya untuk membuat kita tersenyum.

Cukuplah kita mengambil pelajaran dari sebuah kisah seorang pemuda yang lagi PDKT sama seorang putri yang lagi bersemayam dalam tempurung suci, dengan berbagai macam cara pemuda itu mendekati sang putri, mulai dari kata-kata gombal dan lebay sampai tindakan nyata yang membuat sang putri kagum padanya, sang putripun meresponnya dengan penuh harapan agar pemuda itu benar-benar serius padanya. Namun diakhir perjalanan kisah cintanya pemuda itu menghilang begitu saja, tanpa kabar berita sehingga membuat sang putri bertanya-tanya kemana kemana dan kemana…? Akhirnya sang putri merasa sakit hati dan kecewa berat pada pemuda itu, bahkan sampai mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ternyata kawan, perkataan gombal membawa mala petaka.

Kisah yang lain yang mungkin bisa kita ambil pelajaran bahwa betapa pentingnya sikap tegas dan terbuka pada diri kita adalah kalau kita nonton film “DAWAI ASMARA 2” yang dibintangi oleh Ridho Roma dan Delon yang dalam kisahnya merebutkan cewek cantik yang bernama Tufa. Betapa kecewanya Delon pada Tufa karena sikap Tufa yang plin-plan untuk mengambil sebuah keputusan diantara dua pilihan, Ridho atau Delon. Memang jika kita tidak ingin mengecewakan seseorang kita hrus tegas dalam mengambil keputusan.

Sebagai kesimpulan marilah kita senantiasa menjaga lisan kita agar kita selamat di dunia dan akhirat. Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau lebik baik diam”, karena keselamatan manusia bergantung pada sejauh mana ia menjaga lisannya. “ Salamatul insan fi hifdzillisan…” []

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum