Perencanaan Sistem Pembelajaran

Senin, 31 Januari 2011 0 komentar

Perencanaan dapat diartikan sebagai menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan fakta, imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan menvisualisasikan dan menformulasikn hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batasan-batasan yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian. Perencanaan dapat juga diartikan sebagai hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya yang bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program, dan alokasi sumber.

Pembelajaran adalah totalitas aktivitas belajar yang dawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi dan kemudian dilanjutkan dengan follow up. Pembelajaran berbeda dengan pengajaran, pembelajaran lebih menekankan pada keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar, dan guru berfungsi sebagai pengarah dan pembimbing siswa. Sedangkan pengajaran lebih menekankan pada kektifan guru dalam proses belajar mengajar.

Sistem adalah suatu kesatuan komponen yang saling berinteraksi secara fungsional, diamana masing-masing komponen tersebut tidak dapat dipish-pisahkan. Sistem pembelajaran merupakan keterkaitan antara berbagai komponen dalam pembelajaran yakni tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan belajar mengajar yang dilakuakn oleh guru dan siswa, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran, media dan alat sumber belajar, serta evaluasi pembelajaran.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang maksud dengan perencanaan sistem pembelajaran adalah pemikiran atau persiapan yang dilakukan oleh guru, untuk melaksanakan tugas pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan melalui langkah-langkah pembelajaran. Perencanaan sistem pembelajaran dapat juga diartikan sebagai pemikiran tentang penerapan prinsip-prinsip umum pembelajaran dalam rangka pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu interaksi pembelajran tertentu dan khusus, baik yang lansung didalam kelas maupun di luar kelas.

Tujuan perencanaan sistem pembelajaran adalah agar proses kegiatan belajar mengajar terencana secara sistematis sehingga dalam proses kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dan dievaluasi secara efektif dan efisien. Dengan perencanaan inilah diharapkan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan fungsi perencanaan sistem pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi para gurudalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar sehingga proses belajar mengajar lebih terarah, efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Tugas Dan Peranan Kepala Sekolah Dasar

0 komentar

Sekolah dasar merupakan salah satu organisasi pendidikan yang utama dalam jenjang pendidikan dasar. Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 28 tahun 1990 telah disebutkan bahwa pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Berdasarkan rumusan tersebut, dapat digarisbawahi bahwa sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan dasar diharapkan bisa berfungsi sebagai: (1) peletak dasar perkembangan pribadi anak untuk menjadi warga negara yang baik, (2) peletak dasar kemampuan dasar anak, dan (3) penyelenggara pendidikan awal untuk persiapan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu pendidikan menengah. Kemampuan dasar utama yang diberikan kepada anak sekolah dasar adalah kemampuan dasar yang membuat bisa berpikir kritis dan imajinatif yang tercermin dalam modus kemampuan menulis, berhitung dan membaca. Ketiga aspek kemampuan dasar tersebut merupakan kemampuan utama yang dibutuhkan dalam abad informasi.

Ditinjau dari komponennya, ada beberapa unsur atau elemen utama dalam organisasi sekolah dasar. Unsur-unsur tersebut meliputi: (1) sumber daya manusia, yang mencakup kepala sekolah, guru, pegawai administrasi, dan siswa, (2) sumber daya material, yang mencakup peralatan, bahan, dana, dan sarana prasarana lainnya, (3) atribut organisasi, yang mencakup tujuan, ukuran, struktur tugas, jenjang jabatan, formalisasi, dan peraturan organisasi, (4) iklim internal organisasi, yakni situasi organisasi yang dirasakan personel dalam proses interaksi, dan (5) lingkungan organisasi sekolah.Ditinjau dari karakteristiknya, sekolah dasar merupakan suatu sistem organisasi.

Sebagai suatu sistem organisasi, sekolah dasar bisa ditinjau dari dua sisi, yaitu sisi struktur organisasi dan perilaku organisasi. Struktur organisasi mengacu pada framework organisasi, yaitu tata pembagian tugas dan hubungan baik secara vertikal, horizontal dan diagonal. Hal ini bisa mencakup spesifikasi jabatan, pembagian tugas, garis perintah, peraturan organisasi, serta hierarki kewenangan dan tanggung jawab. Perilaku organisasi mengacu pada aspek-aspek tingkah laku manusia dalam organisasi. Organisasi sekolah dipandang sebagai suatu sistem sosial, yang di dalamnya terjadi nteraksi antar individu untuk mencapai tujuan organisasi.

Salah satu atribut yang banyak berkaitan dengan interaksi perilaku individu dalam organisasi adalah budaya organisasi. Budaya organisasi adalah ikatan sosial yang mengikat anggota suatu organisasi secara bersama dalam memberikan nilai-nilai, alat simbolis dan ide-de sosial. Greenberg & Baron (1995) menekankan budaya organisasi sebagai suatu kerangka kognitif yang berisi sikap, nilai, norma, perilaku, dan harapan yang dimiliki anggota organisasi. Dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan psikologis, Getzel dan Guba mengemukakan bahwa perilaku individu dalam organisasi dipengaruhi oleh dua dimensi, yaitu dimensi institusi yang dikenal dengan istilah nomothetic dimension, dan dimensi individu yang dikenal dengan istilah idiographic dimension (Lunenburg & Orstein, 2000).

Ditinjau dari sisi nstitusi, setiap anggota dituntut untuk bertindak sesuai dengan peranan dan harapan untuk mencapai tujuan organisasi. Ditinjau dari sudut individu, setiap anggota dituntut untuk bertindak sesuai dengan pribadi dan kebutuhannya, maupun norma-norma institusi. Bila diterapkan dalam organisasi sekolah dasar, ada tiga komponen yang berkaitan dengan budaya organisasi sekolah dasar, yaitu: (1) institusi atau lembaga yang perannya dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi sekolah, (2) guru-guru sekolah dasar sebagai individu yang memiliki kepribadian dan kebutuhan, baik kebutuhan profesional maupun kebutuhansosial, dan (3) interaksi dari kedua komponen tersebut. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu mengintegrasikan kedua komponen tersebut, yakni peranan, tuntutan dan harapan lembaga, dengan kepribadian, dan kebutuhan guru, agar bisa mencapai tujuan organisasi secara optimal.

Keberhasilan organisasi sekolah banyak ditentukan keberhasilan kepala sekolah dalam menjalankan peranan dan tugasnya. Peranan adalah seperangkat sikap dan perilaku yang harus dilakukan sesuai dengan posisinya dalam organisasi. Peranan tidak hanya menunjukkan tugas dan hak, tapi juga mencerminkan tanggung jawab dan wewenang dalam organisasi. Ada banyak pandangan yang mengkaji tentang peranan kepala sekolah dasar. Campbell, Corbally & Nyshand (1983) mengemukakan tiga klasifikasi peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) peranan yang berkaitan dengan hubungan personal, mencakup kepala sekolah sebagai figurehead atau simbol organisasi, leader atau pemimpin, dan liaison atau penghubung, (2) peranan yang berkaitan dengan informasi, mencakup kepala sekolah sebagai pemonitor, disseminator, dan spokesman yang menyebarkan informasi ke semua lingkungan organisasi, dan (3) peranan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, yang mencakup kepala sekolah sebagai entrepreneur, disturbance handler, penyedia segala sumber, dan negosiator.

Di sisi lain, Stoop & Johnson (1967) mengemukakan empat belas peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) kepala sekolah sebagai business manager, (2) kepala sekolah sebagai pengelola kantor, (3) kepala sekolah sebagai administrator, (4) kepala sekolah sebagai pemimpin profesional, (5) kepala sekolah sebagai organisator, (6) kepala sekolah sebagai motivator atau penggerak staf, (7) kepala sekolah sebagai supervisor, (8) kepala sekolah sebagai konsultan kurikulum, (9) kepala sekolah sebagai pendidik, (10) kepala sekolah sebagai psikolog, (11) kepala sekolah sebagai penguasa sekolah, (12) kepala sekolah sebagai eksekutif yang baik, (13) kepala sekolah sebagai petugas hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (14) kepala sekolah sebagai pemimpin masyarakat.

Dari keempat belas peranan tersebut, dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu kepala sekolah sebagai administrator pendidikan dan sebagai supervisor pendidikan. Business manager, pengelola kantor, penguasa sekolah, organisator, pemimpin profesional, eksekutif yang baik, penggerak staf, petugas hubungan sekolah masyarakat, dan pemimpin masyarakat termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator sekolah. Konsultan kurikulum, pendidik, psikolog dan supervisor merupakan tugas kepala sekolah sebagai supervisor pendidikan di sekolah. Sergiovanni (1991) membedakan tugas kepala sekolah menjadi dua, yaitu ugas dari sisi administrative process atau proses administrasi, dan tugas dari sisi task areas bidang garapan pendidikan.

Tugas merencanakan, mengorganisir, meng-koordinir, melakukan komunikasi, mempengaruhi, dan mengadakan evaluasi merupakan komponen-komponen tugas proses. Program sekolah, siswa, personel, dana, fasilitas fisik, dan hubungan dengan masyarakat merupakan komponen bidang garapan kepala sekolah dasar. Di sisi lain, sesuai dengan konsep dasar pengelolaan sekolah, Kimbrough & Burkett (1990) mengemukakan enam bidang tugas kepala sekolah dasar, yaitu mengelola pengajaran dan kurikulum, mengelola siswa, mengelola personalia, mengelola fasilitas dan lingkungan sekolah, mengelola hubungan sekolah dan masyarakat, serta organisasi dan struktur sekolah.

Berdasarkan landasan teori tersebut, dapat digarisbawahi bahwa tugas-ugas kepala sekolah dasar dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu tugas-tugas di bidang administrasi dan tugas-tugas di bidang supervisi. Tugas di bidang administrasi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan bidang garapan pendidikan di sekolah, yang meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana-prasarana, dan hubungan sekolah masyarakat. Dari keenam bidang tersebut, bisa diklasifikasi menjadi dua, yaitu mengelola komponen organisasi sekolah yang berupa manusia, dan komponen organisasi sekolah yang berupa benda. Tugas di bidang supervisi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pembinaan guru untuk perbaikan pengajaran. Supervisi merupakan suatu usaha memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki atau meningkatkan proses dan situasi belajar mengajar. Sasaran akhir dari kegiatan supervisi adalah meningkatkan hasil belajar siswa.

Keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan merupakan faktor yang paling penting dalam menunjang tercapainya tujuan organisasi sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola kantor, mengelola sarana prasarana sekolah, membina guru, atau mengelola kegiatan sekolah lainnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan bisa terlaksana secara efektif. Sebaliknya, bila tidak bisa menggerakkan anggota secara efektif, tidak akan bisa mencapai tujuan secara optimal. Untuk memperoleh gambaran yang jelas, bagaimana peranan kepemimpinan dalam pengelolaan sekolah, maka perlu diuraikan tentang konsep dasar kepemimpinan kepala sekolah dasar.

Teknik Analisa Tes Hasil Belajar

Rabu, 19 Januari 2011 0 komentar

A. PENDAHULUAN
Salah satu tugas penting yang acapkali dan bahkan pada umumnya dilupakan oleh staf pengajar, adalah tugas untuk melakukan evaluasi terhadap alat pengukur yang telah digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar dari pra peserta didiknya. Alat pengukur yang dimaksud adalah tes hasil belajar, yang sebagaimana telah kita maklumi batang tubuhnya terdiri dari kumpulan butir-butir soal ( item ). Penganalisisan terhadap butir-butir item tes hasil belajar dapat dilakukan dari tiga segi, yaitu derajat kesukaran itemnya, daya pembeda itemnya, dan fungsi distraktornya.

B. TEKNIK ANALISIS DERAJAT KESUKARAN ITEM
Bermutu atau tidaknya item tes hasil belajar dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimliki oleh masing-masing butir item tersebut. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dikatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidakpula terlalu mudah, dengan kata lain derajat kesukaran item itu sedang atau cukup.

Bertitik tolak dari pernyataan tersebut diatas, maka butir-butir item tes hasil belajar dimana seluruh testee tidak bisa menjawab dengan betul karena terlalu sukar, sehingga item tes hasil belajar tersebut tidak dapat dikatakn sebagai item tes hasil belajar yang baik. Demikian pula sebaliknya, apabila semua testee dapat menjawab seluruh item tes hasil belajar, maka juga tidak dapat dimasukkan pada katagori item tes yang baik karena terlalu mudah.

Pertanyaan yang akan segera muncul adalah bagaimana cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui butir-butir item tes hasil belajartertentu yang dapat dikatakan sudah memiliki derajat kesukaran yang memadai…? Dalam hal ini, Witherington dalam bukunya yang berjudul pyisichogical education mengatakan bahwa, sudah atau belum memadainya item tes hasil belajar, dapat diketahui dari besar kecilnya angka yang melambangkan tingkat kesulitan dari item tes tersebut. Angka yang dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat kesukaran item itu dikenal dengan istilah difficulity index ( angka indek kesukaran item ), yang dalam dunia hasil belajar pada umumnya dilambangkan dengan huruf P, yaitu singkatan dari kata proportion (proporsi-proporsa ).
Menurut Witherington angka indek kesukaran item tersebut besarnya berkisar antara 0,00 sampai dengan 1,00. Artinya angka indek kesukaran itu paling rendah adalah 0,00 dan paling tinggi adalah 1,00. angka indek kesukaran 0,00 merupakan petunjuk bagi tester bahwa butir item tersebut termasuk butir item tes yang terlalu sukar, sebab disini testee tidak dapat menjawab seluruh item tes dengan betul ( yang dapat menjawab dengan betul = 0 ). Sebaliknya apabila indek kesukaran itu 1,00 hal ini mengandung makna bahwa butir item tes hasil belajar tersebut termasuk katagori item terlalu mudah, sebab disini seluruh testee dapat menjawab dengan betul seluruh item tes yang bersangkutan ( yang dapat menjawab buir item dengan betul =100%, sehingga 100 : 100 = 1,00 ).


C. TEKNIK ANALISIS DAYA PEMBEDA ITEM
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu item tes hasil belajar untuk dapat membedakan antara testee tang berkemampuan tinggi dengan testee yang berkemampuan rendah. Sehinggga sebagian besar testee yang mempunyai kemampuan tinggi untuk menjawab butir item tes tersebut lebih banyak yang menjawab betul, sementara testee yang mempuyai kemampuan rendah untuk menjawab butir item tes tersebut sebagian besar tidak dapat menjawab butir item tersebut dengan benar.

Mengetahui daya pembeda itu sangat penting sekali, sebab salah satu dasr yang dipegang untuk menyusun butir-butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan bahwa kemampuan antara testee yang satu dengan testee yang lain itu berbeda, dan bahwa butir-butir item tes hasil belajar itu harus mampu memberikan hasil tes yang mencerminkan adanya perbedaan-perbedaan kemampuan yang terdapat dikalangan testee.

Sejalan dengan pernyataan diatas, maka kegiatan analisis terhadap daya pembeda item itu ditunjukkan untu menjawab pertanyaan apakah testee yang kita anggap pandai jawabannya pada umumnya betul, dan apakah testee yang kita anggap bodoh jawabannya pada umumnya salah…?

Jika jawabanya Ya, maka butir item yamg bersangkutan dapat kita anggap sebagai butir item yang baik, dalam arti bahwa item tersebut telah menunjukan kemampuannya didala membedakan antara tstee yang masuk dalam katagori pandai dengan tstee yang masuk dalam katagori bodoh. Namun sebaliknya, jika jawabannya adalah Tidak, maka butir item yang bersangkutan dapat kita nyatakan sebagai butir item jelek, sebab hasil yang dicapai dalam tes itu justru bertentanga atau berlawanan arah dengan tujuan tes itu sendiri.

Daya pembeda item itu dapat diketahui melalui atau dengan melihat besar kecilnya angka indeks diskriminasi item. Angka indek diskriminasi item adalah angka atau bilangan yang menunjukan besar kecilnya daya pembeda yang dimiliki oleh sebutir item. Angka indek diskriminasi ini dapat dihitung dengan pembangian testee kedalam dua kelompok, yaitu kelompok testee yang tergolong pandai dan kelompok testee yang tergolong bodoh. Adapun cara penentuannya bevariasi mulai 50% : 50%, 20% : 20%, dan 27% : 27%.

Indek diskriminasi itu pada umumnya diberi lambing D ( singkatan dari discrimination power ). Besarnya indek diskriminsi item ini sama halnya dengan indek kesukaran item, yaitu berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Jika butir item diskriminasinya = 0,00 maka mhal ini menunjukkan bahwa butir item tersebut tidak memiliki daya pembeda sama sekali. Apabila indek diskriminasi dari sebutir item bertanda negatif (-), maka ini menunjukkan bahwa butir item yang bersangkutan lebih banyak dijawab oleh testee kelompok yang bodoh. Dan bila indek diskriminasi dari item tersebut bertanda positif (+), maka hal ini menunjukkan bahwa butir item yang bersangkutan lebih banyak dijawab oleh testee kelompok yang pandai.

Kurikulum Integral

Sabtu, 15 Januari 2011 0 komentar

Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penenntuan arah, isi, dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suat lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional.

Semua orang berkepentingan dengan kurikulum, sebab sebagai orang tua, sebagai pemimpin, dan sebagai warga masyarakat selalu mengharapkan tumbuh dan berkembangnya anak, pemuda dan generasi muda yang lebih baik. Kurikulu mempunyai andil cuup besar dalam melahirkan harapan tersebut.Sebelum membahas lebih jauh tentang kurikulum integral, terlebih dahulu perlu dirumuskan secra komprehensif apa yang dimaksud dengan kurikulum.

Istlah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni curriculum yang awalnya mempunyai pengertian a running course, yang dalam bahasa prancis berarti courier berarti to run adalah berlari. Kemudian istilah ini digunakan untuk sejmlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari untuk mencapai suatu gelar penghargaan dalam dunia pendidikan yang dikenal dengan ijazah.

Istilah kurikulum, baru dipakai dalam dunia pendidikan pada tahun 1955 dengan makna sejumlah mata pelajran di suatu perguruan. Dalam kamus Webster, kurikulum diartikan dua macam.
1. Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu.
2. Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan suatu lembaga pendidikan atau jurusan.

Dua pengertian kurikulum di atas merupakan definisi dari pandangan tradisional. Adapun dalam pengertian modern, kurikulum tidak hanya sebatas mata pelajaran, tetapi juga menyangkut pengalaman-pegalaman di luar sekolah sebagai suatu kegiatan pendidikan.

Lain halnya dengan pandangan modern mengenai kurikulum, salah satunya yang dikemukakan oleh Romine ( 1954 ), menurutnya kurikulum adalah “ Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and experiences which pupils have under direction of the school, whether in the classroom or not”

Impliksi perumusan ditas adalah :
1. Tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, karena kurikulum bukan hanya terdiri atas mata pelajaran, tetap meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah.
2. Sesuai dengan pandangan ini, berbagai kegiatan di luar kelas sudah tercakup dalam pengertian kurikulum. Oleh karena itu tidak ada pemisahan antara intra dan ekstra kurikulum. Begitu pula halnya dengan college prepatory curriculum, vocational curriculum, dan general curriculum. Semuanya sudah tercakup dalam pengertian kuriklum.
3. Pelaksanaan kurikulum tidak hanya dibatasi pada dinding kelas saja, melainkan dilaksanakan baik di dalam maupun di lusr kelas, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
4. Sistem penyampaian yang dipergunakan oleh guru disesuaikan dengan kegiatan atau pengalaman yang akan disampaikan. Oleh karena itu, guru harus mengadakan berbagai kegiatan belajr-mengajar yang bervariasi, sesuai dengan kondisi siwa.
5. Tujuan pendidikan bukanlah untuk menyamp;aikan mata pelajaran atau bidang pengetahuan yang tersusun, melainkan pembentukan pribadi anak dan belajar cara hidup di dalam masyarakat.

Pengertian kurikulum dalam islam di konsepsikan dengan istilah manhaj yang bermakna jalan yang terang, atau jalan terang yang dilalui manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Manhaj ( kurikulum ) dimaksudkan jalan yang terang yang dilaluli oleh pendidik dengan orang-orang yang dididik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka.

Ibnu Taimiyah menyebutnya sebagai manhaj jam’ bain al-qira’atain, yakini memadukan antara qira’ah wahyu ( membaca, memahami, merenungi, dan menelaah wahyu ) dengan qir’ah fenomina kauni ( membaca, menelaah, meneliti, dan mengkaji fenomina alam semesta ), termasuk didalamnya fenomina social dan pendidikan di dunia empiris. Dalam membaca dan memahami wahyu hendaknya melibatkan pemahaman tentang realitas dan dilandasi dengan roh atau spirit wahyu.

Dari definisi ini dapat di identifikasi bahwa kurikulum memiliki empat unsur yaitu :
1. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu.
2. Pengetahuan, informasi-informasi, data-data dan aktifitas serta pengalaman-pengalaman yang membentuk kurikulum itu.
3. Metode dan cara mengajar
4. Metode dan cara penilaian ( evaluasi )

Sementara kurkulum integral adalah sebuah struktur kurikulum yang terdiri dari tiga komponen pendidikan yang sekaligus menjadi karakteristik khas, yakni aspek ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah, yang mana dari ketiga karakteristik tersebut isi kurikulumnya terdiri dari ilmu agama, ilmu umum, dan ilmu keterampilan.

Ketiga ilmu tersebut disampaikan pada peserta didik dengan landasan tauhid. Artinya setiap ilmu yang diberikan kepada peserta didik selalu membuat peserta didik makin dekat kepada Allah swt, salah satu caranya adalah dengan mengaitkan setiap ilmu dengan Allah, manusia dan alam. seperti yang tertera pada bagan ilmu yang integral dibawah ini.

Rumusan kurikulum ini didasarkan atas fakta penciptaan manusia sebagai abdullah, dan khalifatullah, dimana seluruh desain kurikulum mengacu pada dua konsep kunci tersebut. Secra paradigmatik dan filosofis, melahirkan manusia yang siap memikul amanah Allah swt. sebagai hamba Allah dan khalifah Allah adalah merupakan visi dan misi dari lembaga pendidikan Hidayatullah.

Sesuai dengan visi dan misi lembaga pendidikan Hidayatullah untuk menyelenggarakan pendidikan Islam secara integral dalam aspek ruhiyah ( rohani ), aqliyah ( akal ), dan jismaniyah ( fisik ), sehingga dapat melahirkan insan yang salah satunya berupaya untuk melanjutkan, menumbuh kembangkan, khazanah (pembendaharaan) ilmu pengetahuan dan teknologi umat manusia, khususnya umat Islam, dan untuk membangun peradaban Islam di muka bumi pada umumnya.

Berdasarkan manhaj SNW, maka kurikulum integral secara integratif saling berhubungan antara muatan-muatan ilmu agama, ilmu-ilmu umum, dan keterampilan, seperti bagan integralitas kurikulum dibawah ini.

Semua komponen itu harus diberikan secara simultan mulai tingkat TK-SD dan SMP-SMA serta pergururan tinggi, secara bertahap sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan siswa berdasarkan jenjang pendidikannya.

Berdasarkan ranah dan wilayah cakupannya kurikulum integral juga berarti menghendaki komponen yang integral pula, yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal itu sesuai dengan tujuan pendidikan integral yang ingin mewujudkan manusia yang bertaqwa, cerdas dan terampil, sehingga kurikulum integral mencakup ilmu agama, ilmu umum, dan ilmu keterampilan.

Evaluasi Kurikulum

0 komentar

a. Pengertian Evaluasi kurikulum
Evaluasi secara bahasa berasal dari bahas inggris yaitu evaluation yang artinya adalah penilaian. Sedangkan secara istilah sebagaimana dikemuakan oleh Ralp Tyler bahwa “ evaluasi adalah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai “

Pendapat lain mengatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menlai terhadap serangkaian proses belajar mengajar. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran bersifat kuantitatif, sedangkan menilai merupakan aktifitas mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, bersifat kuantitatif.
Dengan kata lain evaluasi dapat diartikan sebagai :
1. Kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang berkaitan dengan kemampuan siswa untuk mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
2. Alat untuk menentukan apakah tujuan pendidikan dan proses dalam pengembangan ilmu telah sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan demikian, evaluasi sebagai kegiatan yang merupakan bagian integral dari usaha pendidikan, maka arah dan tujuan evaluasi harus sejalan dengan tujuan pendidikan.
3. Dalam rangka pengembangan sistem instruksional, evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk menilai seberapa jauh program telah berjalan seperti telah direncanakan.

Rumusan evaluasi menurut Gonlund adalah suatu proses yang sitematis dari pengumpulan, analisis dan interpretasi informasi/data untuk menentukan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu, Hopkins dan Antes mengemukakan evaluasi adalah pemeriksaan secara terus-menerus ntuk mendapatkan informasi yang meliputi siswa, guru, program pendidikan, dan proses belajar mengajar untuk mengetahui tingkat perubahan siswa dan ketepatan keputusan tentang gambaran siswa dan efektifitas program. Evaluasi berfokus pada upaya untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi pada hasil belajar. Hasil belajar tersebut biasanya diukur dengan tes. Tujuan evaluasi dalam hal ini adalah untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi, baik secara statistik, maupun secara eduktif.

Menurut Morrison evaluasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat keriteria yang disepakati dan dapat dipertanggung jawabkan. Dalam hal ini ada tiga fktor utama yaitu : (1) pertimbangan, (2) deskripsi objek penilaian, dan (3) keriteria yang dapat dipertanggung jawabkan.

Pertimbangan adalah pangakal dalam membuat suatu keputusan. Membuat keputusan berarti menentukan derajat tertentu yang berkenan dengan hasil evaluasi itu. Pertimbangan membutuhkan informasi yang akurat dan relevan serta dapat dipercaya. Jika suatu keputusan dibuat tanpa suatu proses pertimbangan yang mantap, hal itu dapat mengakibatkan lemahnya atau kurang mantapnya keputusan.

Deskripsi objek penilaian adalah perubahan perilaku sebagai produk suatu sistem. Sudah barang tentu perilaku itu dijelaskan, dirinci, dan dispesifikasikan sehingga dapat diamati dan diukur.

Keriteria yang dapat dipertanggung jawabkan adalah ukuran-ukuran yang akan digunakan dalam menilai suatu kurikulum. Keriteria penilaian harus relevan dengan keriteria keberhasilan, sedangkan keriteria keberhasilan harus dilihat dalam hubungannya dengan suatu program.

Adapun evaluasi kurikulum menurut Prof. DR. S. Hamid Hasan adalah ” sebagai usaha sistematis mengumpukan informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbanganmengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu “.

b. Tujuan Evaluasi Kurikulum
Tujuan evaluasi kurikulum berbeda-beda tergantung konsep atau pengertian seseorang tentang evaluasi. Konsep seseorang tentang evaluasi dipengaruhi oleh pandangan filosofis seseorang tentang posisi evaluasi senbagai suatu budang kajian dan suatu bidang profesi.

Menurut Stuflebiam, dkk ( 1971 ), tujuan evaluasi kurikulum adalah “memberi informasi terhadap pembuat keputusan, atu untuk penggunaannya dalam proses menggambarkan hasil, dan memberikan informasi yang berguna untuk membuat pertimbangan berbagai alternatif keputusan”.

Terkadang tujuan tersbut terkadang tercantum secara jelas dalam definisi yang dikemukakan, terkadang tidak tercantum dalam definisi yang dikemukakan. Namun secra mendasar tujuan dari suatu pekerjaan evaluasi kurikulum, dan evaluasi lainnya bersifat praktis. Tujuan tersebut dapat di kelompokkan sebagai berikut.
1. Menyediakan informasi engenai pelaksanaan, dan pengembangan suatu kurikulum sebagai masukan bagi pengambilan keputusan.
2. Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum serta faktor-faktor yang berkontribusi dalam suatu lingkungan tertentu.
3. Mengembangkan berbagai alternatif pemechan masalah yang dapat dignakan dalam upaya perbaikan kurikulum.
4. Memahami dan menjelaskan karakteristik suatu kurikulum dan pelaksanaan suatu kurikulum.

c. Fungsi Evaluasi Kurikulum
Dalam fungsi evaluasi kurikulum, Scriven ( 1967 ) menformolasikan fungsi evaluasi dalam istilah formatif dan sumatif. Fungsi formatif adalah fungsi evaluasi untuk memberikan informasi dan pertimbangan yang berkenaan dengan upaya untuk meperbaiki kurikulum. Perbaikan itu dapat saja dilakukan pada waktu konstruksi kurikulum yang menghasilkan suatu dokumen kurikulum dan pada waktu implementasi kurikulum.

Hal yang mendasar untuk diketahui dalam fungsi formatif adalah fingsi formatif hanya dapat dilakukan ketika kurikulum masih dalam proses pengembangan. Pada waktu itu evaluasi kurikulum memberikan masukan langsung kepada para pengembang kurikulum mengenai aspek pengembangan yang dianggap sudah memnuhi kriteria, dan aspek pengembangan yang belum memenuhi kriteria.

Sementara fungsi sumatif adalah fungsi kurikulum untuk memberikan pertimbangan terhadap hasil pengembangan kurikulum. Hasil pengembangan kurikulum dapat berupa dokumen kurikulum, hasil belajar, ataupun dampak kurikulum terhadap sekolah dan masyarakat.

Berdasarkan fungsi sumatif ini maka evaluator dapat memberikan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dilanjutkan karena keberhasilannya dan masih dianggap relevan dengan perkembangan serta tuntutan masyarakat, atau suatu kurikulum sudah harus diganti karena kegagalan dan ketidak sesuaiannya dengan tuntutan masyarakat.

d. Komponen-komponen evaluasi kurikulum
Proses kurikulum berlangsung secara berkesinambungan dan merupakan keterpaduan dari semua dimensi pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Proses tersebut berlangsung secra bertahap dan berjenjang, yaitu :
1. Proses analisis kebutuhan dan kelayakan sebagai langkah awal untuk mendesain kurikulum.
2. Proses perencanaan dan pengembangan suatu kurikulum sesuai dengan kebutuhan suatu lembaga pendidikan.
3. Proses implementsi atau pelaksanaan kurikulum yang berlangsung dalam suatu proses pembelajaran.
4. Proses evaluasi kurikulum untuk mengetahui tentang tingkat keberhasilan kurikulum.
5. Proses perbaikan kurikulum berdasrkan hasil evaluasi terhadap keterlaksanaan dan kelemahannya setelah dilakukan penilaian kurikulum.
6. Proses penelitian evaluasi kurikulum, dalam hal ini erat kaitannya dengan proses lainnya, tetapi lebih mengarah pada proses pengembangan kurikulum sebagi cabang ilmu dan teknologi.

Evaluasi kurikulum mencakup keenam komponin tersebut. Dengan demikian, evaluasi kurikulum meliputi : komponen-komponin analisis kebutuhan dan studi kelayakan, perencanaan dan pengembangan, proses pembelajran, revisi kurikulum, dan research kurikulum.

Biasanya suatu kurikulum yang akan dilaksanakan terlebih dahulu diujicoba dalam lingkunga terbatas, sebelum akhirnya diputuskan diseminasikan kesemua lembaga pendidikan. Berbagai upaya dilakukan selama fase pengembangan kurikulum dilakukan, termasuk didalamnya adalah evaluasi dan revisi.

Evaluasi yang signifikan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mendukung terwujudnya suatu pengembangan kurikulum secara efektif dn bermakna. Dari hasil-hasil evaluasi inilah puhak pengembang dapat melakukan revisi dan penyesuaian sebelum kurikulum tersebut disebarluaskan.

Sebagai suatu bagia dari sistem bagian sekolah, secara fungsional evaluasi kurikulum juga merupakan bagian dari sistem kurikulum. System kurikulu memiliki tiga fungsi pokok, yaitu pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum, dan evaluasi efek system kurikulum.

Evaluasi kurikulu minimal fokus pada empat bidang , yaitu evaluasi terhadap penggunaan kurikulum, desain kurikulum, hasil dari siswa, dan system kurikulum. Umpan balik evaluasi akan memulihkn vitalitas berbagai bagian dari system kurikulum. Seleksi dan phak-pihak pengembang kurikulum, prosedur penyusunan, pengaturan dan pelaksanaan kurikulum, fungsi coordinator dalam tim penyusun, pengaruh tingkat guru dan kondisi pegajaran terhadap kurikulum, semuanya perlu di evaluasi dan hasilnya akan dapat memperbaiki sistem kurikulum secara keseluruhan.

Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah

0 komentar

a. Pengertian Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah
Secara etimologis, istilah keterampilan berasal dari bahasa inggris yaitu skill yang artinya adalah kemahiran atau kecakapan. Secara terminologis keterampilan adalah kemampuan dalam melaksanakan tugas berdasarkan kompetensi pekerjaan dan hasilnya dapat diamati.

Sementara manajerial adalah hal-hal yang berhubungan dengan manajer. Dan kepala sekolah adalah seorang fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.
Sehingga dari ketiga istilah ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud keterampilan manajerial kepala sekolah adalah kemahiran atau kecakapan yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang manajer.

Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota-anggota organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Manajemen sebagai suatu proses, karena semua manajer bagaimanapun juga dengan ketangkasan dan keterampilan yang khusus, mengusahakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan dapat didayagunakan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Merencanakan, dalam arti kepala sekolah harus benar-benar memikirkan dan merumuskan dalam suatu program tujuan dan tindakan yang harus dilakukan. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah adalah kompetensi manajerial, yang antara lain menyangkut kemampuan kepala sekolah dalam menyusun perencanaan, untuk berbagai macam tingkatan perencanaan, baik jangka panjang, menengah, ataupun pendek.
Perencanaan yang disusun harus merupakan rencana yang komprehensif untuk mengoptimalkan pemanfaatan segala sumber daya yang ada dan yang munkin diperoleh guna mencapaitujuan yang diinginkan dimasa mendatang.

Mengorganisasikan, berarti bahwa kepala sekolah harus menghimpun dan mengkoordinasikan sumber daya manusia dan sumber-sumber material sekolah, sebab keberhasilan sekolah sangat bergantung pada kecakapan dalam mengatur dan mendayagunakan berbagai sumber dalam mencapai tujuan.
Memimpin, dalam artian kepala sekolah mampu mengarahkan dan mempengaruhi seluruh sumber daya manusia untuk melakukan tugas-tugasnya yang esensil. Dengan menciptakan suasana yang tepat kepala sekolah membantu sumber daya manusia untuk melakukan hal-hal yang baik.

Mengendlikan, dalam arti kepala sekolah memperoleh jaminan bahwa sekolah berjalan mencapai tujun. Apabila terdapat kesalahan dalam pelaksanaannya, maka kepala sekolah harus memberikan petunjuk dan arahan.

Dari uraian diatas, seorang manajer atau seorang kepala sekolah pada hakikatnya adalah seorang perencana, organisator, pemimpin dan seorang pengendali. Keberadaan manajer pada suatu organisasi sangat diperlukan, sebab organisasi sebagai alat mencapai organisasi dimana didalamnya berkembang berbagai macam pengetahuan, serta organisasi yang menjadi tempat untu membina untuk membina dan mengembangkan karier-karier sumber daya manusia, memerlukan manajer yang mampu untuk merencanakan, mengorganisasikan, memmpin dan mengendalikan agar organisasi dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Macam-macam Keterampilan Manajerial Kepala sekolah
Peranan kepala sekolah sebagai manajer, perlu memiliki keterampilan manajerial. terdapat tiga macam bidang keterampilan yang perlu dimiliki oleh manajer pendidikan, yaitu keterampilan konsep, manusiawi, dan keterampilan teknik. Ketiga keterampilan manajerial tersebut diperlukan untuk melaksanakan tugas manajerial secara efektif, meskipun penerapan masing-masing keterampilan tergantung pada tingkatan manajer dalam organisasi. Agar seorang kepala sekolah secara efektif dapat melaksanakan fungsinya sebagai manajer, maka kepala sekolah sangat memerlukan ketiga macam keterampilan tersebut.

1. Keterampilan Konsep
Keterampilan konsep merupakan keterampilan kognitif seperti kemampuan analits, berpikir logis, membuat konsep pemikiran induktif, dan pemikiran deduktif. Dalam arti umumnya keterampilan konsep termasuk penilaian yang baik, dapat melihat kedepan, intuisi, kreatif, dan kemampuan untuk menemukan arti dan sukses mengelola peristiwa-peristiwa yang ambisius dan tidak pasti.

Benton (1995) mengartikan keterampilan konsep sebagai “kemampuan yang bedrkaitan dengan menggunakan gagasan dan menjabarkannya untuk mendapatkan pendekatan baru dalam menjalankan departemen-departemen atau perusahaan”.
Sementara menurut Kadarman dan Yusuf Udaya (1996) keterampilan konsep adalah “kemampuan mental untuk mengkoordinasi, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan pembuatan rencana” Sehingga dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ketremapilan konsep merupakan kemampuan mengembangkan gagasan untuk merencanakan, mengkoordinasikan, melakukan pengawasan, dan memcahkan masalah.

Dalam organisasi pendidikan keterampilan konsep adalah keterampilan yang dimiliki oleh kepala sekolah sebagai suatu keseluruhan, merencanakan perubahan, merancang tujuan sekolah, membuat penilaian secara tepat tentang efektifitas kegiatan sekolah dan mengkoordinasikan program secara harmonis ( Otto dan Sanders, 1974 ).

Setiap kepala sekolah harus dapat memecahkan persoalan melaluli suatu analisis, kemudian meyelesaikan persolaln dengan satu solusi yang feasible. Selain itu kepala sekolah harus mampu melihat stiap tuga sebagai satu keseluruhan yang saling berkaitan, memandang persoalan yang timbul sebagai bagian yang tak terpisahkan dari satu keselurhan.

2. Keterampilan manusiawi
Keterampilan manusiawi merupakan keterampilan anatar pribadi, yaitu pengetahuan mengenai perilaku manusia, dan proses-proses kelompok, kemampuan untuk mengerti perasaan, sikap, serta motivasi dari orang lain dan kemampuan untuk mengkomonikasikan dengan jelas dan persuasif.

Keterampilan manusiawi adalah kemampuan seseorang dalam hal ini manajer dalam bekerja sama, memahami aspirasi dan memotivasi anggota organisasi guna memperoleh pertisipasi yang optimal guna mencapai tujuan.

Dalam organisasi pendidikan, keterampilan manusiawi adalah kemampuan kepala sekolah untuk mendirikan sistem komonikasi dua arah yang terbuka dengan personel sekolah dan anggota masyarakat lainnya untuk menciptakan suasana kepercayaan terhadap sekolah dan meningkatkan unjuk kerja guru. Seorang kepala sekolah harus mampu memahami isi hati, sikap dan motif orang lain mengapa orang lain tersebut berkat dan berprilaku.

3. Keterampilan teknik
Keterampilan teknik merupakan keterampilan yang mengetahui tentang metode-metode, proses-proses, prosedur, serta teknik-teknik untuk melakukan kegiatan khusus dalam unit organisasi.

Dalam bidang pendidikan, keterampilan teknik adalah kemampuan kepala sekolah dalam menanggapi dan memahami serta cakap menggunakan metode-metode termasuk bukan pengajaran, yaitu pengetahuan keuangan, pelaporan, penjadwalan, dan pemeliharaan.
Dalam hal ini seorang kepala sekolah mampu mewujudkan semua konsep yang telah dibuat kedalam tindakan atau perilaku dalam organisasi, sebab ia behadapan langsung dengan para petugas pendidikan, terutama para guru.

c. Indikator Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah
Seorang kepala sekolah hendaknya memahami betul apa yang menjadi tugas dan peranannya di sekolah. Jika kepala sekolah mampu memahami tugas dan peranannya sebagai kepala sekolah, ia akan mudah dalam menjalankan tugasnya, terutama berkenaan dengan manajemen sekolah yang akan dikembangkannya. Bekal kemampuan dalam memahami kompetensi sebagai seorang kepala sekolah ini akan menjadi bekal dalam pelaksanaan tugas yang harus dilakukannya.

Kepala sekolah sebagai manajer seharusnya juga mampu memahami indikator-indikator keterampilan manajerial kepala sekolah, baik keterampilan konsep, manusiawi, maupun keterampilan teknik. Indikator - indikator tersebut terdri dari :

a) Keterampilan konsep meliputi :
1. Kemampuan menganalisis
2. Kemampuan berpikir rasional
3. Ahli atau cakap dalam berbagai macam konsepsi
4. Mampu menganalisis berbagai kejadian
5. Mampu mengantisipasikan perintah
6. Mampu mengenali macam-macam kesempatan dan problem-problem sosial.

b) Keterampilan manusiawi meliputi
1. Kemampuan untuk memahami perilak manusia dan prose kerja sama
2. Kemampuan untuk memahami isi hati, sikap dan motif orang lain
3. Kemampua untuk berkomonikasi secara jelas dan efektif
4. Kemampuan untuk menciptakan kerja sama yang efektif, kooperatif, praktis dan diplomatis
5. Mampu berperilaku yang dapat diterima

c) Keterampilan teknik meliputi :
1. Menguasai pengetahuan tentang metode, proses, prosedur, dan teknik untuk melaksanakan kegiatan khusus
2. Kemampuan untuk memanfaatkan serta mendayagunakan sarana, peralatan yang diperlukan dalam mendukung kegiatan yang bersifat khus tersebut.

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum