Peran Guru Dalam Perencanaan Sistem Pembelajaran

Rabu, 27 April 2011 0 komentar

Dalam perencanaan sistem pembelajaran, guru tidak hanya berfungsi sebagai perencana pembelajaran tetapi juga sebagai pelaksana perencanaan pembelajaran dalam proses kegiatan belajar mengajar. Bahkan sebagai penilai keberhasilan perencanaan yang telah disusun setelah diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Ketiga peran tersebut tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, karena kecakapan guru dalam menyusun dan mengelola pembelajaran sangat membantu dalam menjalankan tugasnya secra efektif dan efisien.

Sebelum menyusun perencanaan sistem pembelajaran, diharapkan guru terlebih dahulu memiliki kecakapan berpikir ilmiah mengenai apa yang akan diajarkan? Untuk apa kita mengajarkan topic tersebut? Materi apa yang kita perlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang kita inginkan? Bagaimana cara mengajarkan serta prosedur pencapaiannya? Dari mana materi tersebut bisa diperoleh dan alat apa yang bisa digunakan untuk memperjelas materi yang disajikan? Dan bagaimana cara menilai keberhasilan proses belajar mengajar?

Untuk membantu proses berpikir ilmiah tersebut guru harus memilki empat kompetensi yaitu :1) memiliki pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku anak didik serta mampu menerjemahkan ke situasi riel. 2) memilki sikap yang tepat terhadap diri sendiri, sekolah, peserta didik, teman sejawat, dan mata pelajaran yang dibina. 3) menguasai mata pelajaran yang diajarkan. 4) memilki keterampilan teknis dalam mengajar, yakni keterampilan merencanakan pelajaran, bertanya, menggunakan strategi, pendekatan, metode dan teknik dalam mengajar, mengelola kelas, memotivasi peserta didik, dan menilai pencapaian keberhasilan peserta didik.

Peranan Guru dalam Meningkatkan Kreativitas

2 komentar

Kreativitas dangat dibutuhakn bagi seorang guru, karena bila seorang guru kreatif maka akan memerikan dampak yang positif pula pada murid. Ada sebuah istilah yang sangat populer ”guru kencing berdiri murid kencing berlari” hal ini mengandung makna bahwa jika gurunya kreatif maka kemungkinan besar akan menjadikan murid lebih kreatif. Siswa yang kreatif akan belajar kreatif pula, belajar kreatif itu sangat penting sebagaimana yang dikemukan oleh Treffin¬ger yang dikutip Conny Semiawan dkk yang memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting. 1) Belajar kreatif membantu anak menjadi lebih berhasil guna jika kita tidak bersama me-reka. 2) Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masa¬lah yang tidak mampu kita ramalkan, yang timbul dimasa depan. 3) Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita. 4) Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

Beberapa alasan mengapa kreativitas perlu dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak: Pertama, karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan dirinya itu termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Seorang ahli, Maslow, yang menye¬lidiki sistem kebutuhan manusia menekan bahwa kreativitas merupakan menifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya. Kedua, kreativitas atau berfikir kreatif, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang pada saat ini masih kurang mendapat perhatian da¬lam pendidikan formal. Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memberikan kepuasan pada individu. Ini tampak sekali jika kita mengamati anak-anak yang se¬dyang asik bermain balok-balok kayu atau bahan-bahan permainan kontruktif lainnya. Mereka tidak mau diganggu seolah-olah tidak bosan-bosan setiap kali membuat kombinasi baru dari ba¬lok-baloknya.

Demikian pula hal ini berlaku pada oryang dewasa. Keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia maningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era ini tak dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakant dan negara kita tergantung pada sumbangan kreatif, be¬rupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dari anggot masyarakantnya. Untuk mencapai hal ini, perlulah sikap dan prilaku dipupuk sejak dini, agar anak didik kelak ti¬dak hanya menjadi konsumen pengetahuan, namun mampu menghasilkan pengetahuan baru, ti¬dak hanya pencari kerja, namun mampu menciptakan lapangan baru (wiraswasta).

Tentu bukan hanya siswa yang harus kereatif, tapi guru sebagai pendi¬dik tent harus lebih kreatif dari murid, jika pendapat diatas dibalik pentingnya kreativitas bagi seorang murid akan menjadi pentingnya kreativitas bagi seorang guru yaitu : Pertama, kreativi¬tas merupakan salah satu kreasi manusia dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan dirinya itu termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Seorang ahli, Maslow, yang menyelidiki sistem kebutuhan manusia menekan bahwa kreativitas merupakan menifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya dalam perwujudan dirinya.

Kedua, kreati¬vitas atau berfikir kreatif, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang pada saat ini masih ku¬rang mendapat perhatian dalam pendidikan formal.hal ini sangat penting bagi guru karena den-gan kreatifitas yang tinggi seorang guru akan memberikan solusi tak terbatas terhadap berbagai persoalan murid

Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tetapi jug memberi-kan kepuasan pada individu. Ini tampak sekali jika kita mengamati anakanak yang sedang asik bermain balok-balok kayu atau bahan-bahan permainan kontruktif lainnya. Mereka tidak mau diganggu seolah-olah tidak bosan-bosan setiap kali membuat kombinasi baru dari balok-balok¬nya. Demikian pula hal ini berlaku pada seorang guru.

Keempat, kreativitaslah yang memungkin¬kan manusia maningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era ini tak dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakant dan negara kita tergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dari anggota masyarakantnya. Untuk men¬capai hal ini, perlulah sikap dan prilaku dipupuk sejak dini oleh guru, agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, namun mampu menghasilkan pengetahuan baru, tidak hanya pencari kerja, namun mampumenciptakan lapangan baru.

Cara Mengajar Yang Kreatif

2 komentar

Faktor penting dalam meningkatkan kreativitas di sekolah adalah peran guru. Banyak sekali hal yang dapat dilakukan guru di sekolah untuk merangsang danmeningkatkan daya pikir siswa, sikap dan perilaku kreatif siswa, melalui kegiatan di dalam atau di luar kelas. Potensi kreatif siswa di sekolah dapat ditingkatkan dengan cara mengusahakan iklim di dalam kelas yang dapat menggugah kreativitas siswa.

Selanjutnya guru harus menghargai keunikan pribadi dan potensi setiap siswa dan tidak perlu selalu menuntut dilakukannya hal-hal yang sama (Utami Munandar, 1988). Pada waktu tertentu siswa diberi kebebasan untuk melakukan atau membuat sesuatu yang disenangi oleh siswa. Dalam kegiatan belajar, proses berfikir kreatif dan pemeca-han masalah secara kreatif dirangsang dengan mengundang siswa untuk mengajukan pertanyaan, untuk menemukan masalah sendiri, untuk menggunakan imajinasinya dalam mengemukakan macam-macam gagasan atau kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan.

Dalam hal ini guru lebih banyak memberi umpan balik dan meminta siswa untuk meni-lai sendiri produk-produk kreativitasnya (internal locus of evaluation). Lindgren (1976) menya¬takan bahwa kreativitas siswa dapat ditingkatkan dengan cara menyediakan kesempatan di dalam kelas untuk berfikir divergen. Spaulding (1963) dalam studinya terhadap interaksi guru-siswa di kelas, menemukan dua cara mengajar yang cenderung menghilangkan fleksibilitas dan origina¬litas (dua aspek dari berfikir divergen dan kreativitas) pada siswa. Cara mengajar yang pertama adalah membentuk, dalam hal ini guru menciptakan kondisi yang terstruktur dengan mengawasi hal-hal yang bersifat memalukan, tertawaan/ejekan, atau memberiperingatan.

Sedangkan cara mengajar yang kedua adalah guru cenderung untukmerespon kualitas sosial-emosional dari siswa, daripada performansi kognitifnya. Cara mengajar kedua tersebut dicirikan dengan tinda¬kan guru yang membebaskan siswa, namun kurang perhatian terhadap prestasi dan perfomansi siswa. Kuncinyaadalah kebebasan saja tidak cukup, guru harus memperhatikan bahwa teman-te¬man dikelas dari siswa yang kreatif mungkin tidak toleran dengan cara berfikir divergen. Mereka bahkan akan menganggap siswa yang kreatif sebagai orang yang memiliki ide yang gila.

Lindgren (1976) juga menyatakan bahwa semakin kreatif seorang guru maka ia cende-rung untuk memupuk kreativitas siswanya secara lebih tinggi, demikian pula sebaliknya. Menu¬rut Lindgren pula, seorang guru yang mendorong dirinya agar kreatif akan menyebabkan ia me¬ningkatkan kreativitas pada siswanya.

Torrance (1964) dalam Lindgren (1976) menemukan hu¬bungan antara kreativitas guru dan kreativitas siswa. Ia mengemukakan bahwa siswa yang diberi skor oleh guru di atas median dalam tes motivasi kreatif (keingintahuan intelektual) menunjuk¬kan peningkatan yang signifikan di dalam kemampuan menulis secara kreatif selama 3 bulan, sementara siswa yang dinilai oleh guru di bawah median, tidak ada peningkatan. Sementar itu dari sisi guru, semakin banyak guru yang kreatif karena mereka menerima dorongan dan seman¬gat dari kepala sekolah.

Menurut Torrance (1967), pengajaran kreatif ialah pengajaran untuk mengembangkan kreativitas siswa, yang meliputi adanya hubunga kreatif guru-siswa dan digunakannya metode-metode mengajar kreatif. Ditambahkan pula bahwa antara guru dan siswa perlu membina hubun¬gan yang kreatif, yaitu hubungan yang megembangkan proses berfikir yang otomatis, cepat, dan spontan, serta menghindari hubungan yang reaktif, yang justru mengganggu proses berfikir tese¬but.

Menurut Conny Semiawan (1988) pengajaran kreatif memungkinkan siswa belajr krea¬tif, yaitu belajar yang mengasyikkan, yang menggerakkan potensi kreaitvitas, dan menimbulkan berbagai getaran penemuan terhadap hal-hal yang sebelumnya belum diketahui, dikenal atau di¬pahaminya. Sebagaimana pengalamanbelajar yang sangat menyenangkan, pada belajar kreatif siswa terlibat secra aktif sertaingin mendalami bahan yan dipelajari, digunakan proses berpikir divergen dan proses berpikir konvergen serta berpikir kritis. Belajar kreatif banyak memberi pe¬luang untuk mencegah penurunan kreativitas siswa (Semiawan, 1988).

Dalam melaksanakan pengajaran kreatif, guru harus kreatif dan memiliki semangat pe-tualang (Torrance, 1967). Hal ini berarti bahwa cara guru mengajar seharusnya bervariasi, den¬gan untuk mencoba-coba sesuatu yang baru, tidak kaku dalam melaksanakan kurikulum atau atu¬ran-aturan yang ada, serta bersikap hangat kepada siswa. Guru dalam mengajar hendaknya juga menciptakan lingkungan yang merangsang belajar kreatif, terampil mengajukan dan mengun¬dang pertanyaan, dan dapat memadukan perkembangan kognitif dan afektif (Munandar, 1987). Munandar (1987) memberikan saran agar guru dapat mengajar secara kreatif. Saran-saran terse-but adalah sebagai berikut :
• Guru menghargai kreativitas siswa
• Guru bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan baru
• Guru mengakui dan menghargai adanya perbedaan individual
• Guru bersikap menerima dan menunjang anak
• Guru menyediakan pengalaman mengajar yang berdiferensisasi
• Guru cukup memberikan struktur dalam mengajar sehingga anak tidak merasa
• Ragu-ragu tetapi di lain pihak cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap dan perilaku kreatif anak
• Setiap anak ikut mengambil bagian dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan kelompok.
• Guru tidak bersikap sebagai tokoh yang “maha mengetahui” tetapi menyadari
keterbatasannya sendiri.
Horrocks (1985) memberikan saran bagi guru untuk mengembangkan kreativitas anak seperti berikut :
• Provide for variety in instructional materials and forms of student Exprssion
• Develop favorable attitudes toward creative achievement
• Encourage continuing creative expression
• Foster productivity
• Provide assistance and feedbac
Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, khususnya untuk mengembangkan kreativitas siswa, saran Horrocks tersebut sangatlah tepat. Materi pengajaran yang bervariasi hendakya senantiasa disediakan oleh guru. Dalam hal ini guru hendaknya tidak terpaku pada materi yang ada pada Satuan Pelajaran yang telah ada, namun berusaha menambah materi pelajaran dari berbagai sumber. Selain itu, dalam mata pelajaran yang diajarkannya, guru perlu mem¬beri tugas yang bervariasi pula agar siswa dapat menunjukkan kreativitasnya.

Dari saran Horrocks di atas jelas bahwa guru perlu mengembangkan sikap yang mendu¬kung kreativitas, misalnya guru tidak perlu tergesa-gesa memberikan penilaian terhadap ide / gagasan, maupun bentuk lain sebagai hasil kreativitas siswa. Sementara itu, guru juga diha¬rapkan selalu mendorong munculnya gagasan-gagasan kreatif siswa sehingga dapat mengha¬silkan produk kreatif. Adapun tugas lain yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya men¬gembangkan kreativitas adalah membimbing siswa, baik diminta maupun tidak, dan memberikan umpan balik terhadap apa yang dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini guru da¬pat bertindak sebaai nara sumber bagi siswa.

Hakikat Mengajar

0 komentar

Mengajar merupakan proses yang komplek, tidak sekedar menyampaikan informasi dari guru kepada siswa, banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, terutama bila diinginkan hasil belajar yang lebih baik pada siswa. Karena itu banyak terdapat aneka ragam pengertian mengajar, antara lain. Menurut M. Ali mengartikan, ”mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan”. O. Screeuder (dalam Roestiyah) mengatakan bahwa ”mengajar adalah kegiatan yang dilakukan guru dengan memakani bahan pelajaran sebagai medium untuk membawa anak-anak dalam pembentukkan pribadi termasuk kegiatan pembentukkankejasmanian”.

Mengajar merupakan satu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar merupakan suatu perbuatan atau pekerjaan yang bersifat unik tetapi sederhana. Dikatakan unik karena hal itu berkenaan dengan manusia yang belajar yakni siswa, dan yang mengajar, yakni guru, dan berkaitan erat dengan manusia di dalam masyarakat yang semuanya menunjukkan keunikkan.

Dikatakan sederhana karena mengajar dilaksanakan dalam keadaan praktis dalam kehidupan sehari-hari, mudah dihayati oleh siapa saja. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar mengajar.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses, upaya, kegiatan, perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru kepada siswa yang bertujuan untuk mencapai rumusan yang telah ditentukan yang membutuhkan tanggung jawab moral yang cukup berat, namun mengajar merupakan suatu pekerjaan yang unik dan sederhana.

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum