Antara “Cinta” Dan Ilmu

Senin, 23 Mei 2011 3 komentar


"Penuntut ilmu jika jatuh cinta pada lawan jenis maka ilmu itu tidak akan bisa melekat pada akal, pikiran, dan hatinya. Sebab akal, pikiran dan hatinya dikotori oleh bayangan semu kekasih hatinya”

“Cinta” memiliki makna yang indah dan agung. Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikat cinta tak dapat ditemukan selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan penjiwaan. Cinta adalah urusan hati, dan hati adalah urusan Ilahi. Cinta adalah penghubung jiwa-jiwa manusia yang beraneka corak dan warna. Dengan Cinta perdamaian akan tercipta dengan Cinta pula permusuhan merajalela.

Bagi seorang penuntut ilmu katakanlah mulai dari siswa sampai mahasiswa, “Cinta” terkadang menjadi penghambat untuk diperolehnya ilmu, karena apabila “Cinta” sudah melekat dalam diri siswa atau mahasiswa maka ia akan menghantui akal, pikiran, dan hatinya.

“Pandangan matanya dan senyuman bibir manisnya…
bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya…
dan menusuk lubuk hatiku yang lagi merana… “

Itulah sebait syair yang terucap dari seseorang yang lagi jatuh cinta. Pikirannya akan selalu teringat pada orang yang ia cintai sehingga ia lalai bahkan lupa pada visi utamanya sebagai siswa atau mahasiswa yaitu belajar, belajar, dan belajar. Yang ia pikirkan hanyalah bunga-bunga cinta, hal-hal yang tidak sedikit mengarah pada sesuatu yang dilarang oleh syari’at, yang mana semua itu hanyalah mengikuti suara nafsu belaka. Sehingga tidak salah jika seorang pujangga berkata :


“Jika aku sedang sibuk dengan gadisku…
Yang parasnya laksana cahaya pagi…
Maka aku enggan memikirkan yang lain…”

Apalagi kondisi sekarang yang semua elemen didukung oleh kemajuan sains dan teknologi yang mana melalui media itu semua urusan menjadi mudah. Disisi lain kita akui bahwa keberadaan dan kemajuan sains dan teknologi sangat membantu aktifitas kita sehari-hari, namun juga tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kemajuan sains dan teknologi akan melalaikan kita dari pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya kita perioritaskan dalam kehidupan kita. Terlebih bagi penuntut ilmu yang statusnya masih sebagai siswa maupun mahasiswa.

Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu, sehingga ilmu yang diperoleh akan benar-benar bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain di sekelilingnya. Dalam kitab Ta’limul Muta’Allim dikatakan bahwa :

“Manusia tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat dari ilmu itu kecuali dengan menghormati ilmu itu sendiri, menghormati Ustadz / guru, dan menghormati sumber ilmu / buku”.

“ Al ‘Ilmu Nurun, Wa Nurullahi La Yanzalu Ilal Ma’ashi “

Dari beberapa pesan ini paling tidak menjadi koreksi bagi diri kita sebagai penuntut ilmu, sudahkah kita menghormati ilmu yang kita miliki…? Sudahkah kita menghormati guru-guru kita…? Dan sudahkah kita menghormati buku-buku kita….? Serta sudahkah kita mensucikan diri kita dari kemaksiatan…?

Sebagai kesimpulan marilah kita sebagai penuntut ilmu hendaknya memurnikan kembali niat kita agar ilmu yang kita peroleh menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat kelak. Ingatlah bahwa Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan turun pada orang-orang yang bermaksiat. Hapuslah SMS mesramu…! Kurangilah volume nelponmu…! Tinggalkanlah kencanmu…! Jangan kawatir akan kehilangan pasanganmu karena suatu saat ia akan bersamamu…! Wallahu A’lam…..!

Do’a dalam Sujudku

0 komentar

Jam dua dini hari alarmku berbunyi
Membangunkanku dari mimpi indahku
Saat itu…aku langsung terbangun dari tidurku
Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi
Tuk mensucikan diri dengan tetesan air wudu’ yang suci

Kulanjutkan diriku menghadap sang Ilahi Rabbi
Kupasrahkan diriku melalui sujudku
Kumulai komonikasiku dengan membaca surah al-fatehah
Kemudian kusambung dengan membaca surah al-baqarah

Hati ini terasa tenang sekan tanpa beban
Setelah kuadukan semua rasa resah dan gelisahku pada Tuhanku
Kuucapkan tasbih…Kuucapkan tahmid…Kuucapkan takbir
Dan kuakhiri dengan tahlil…Kemudian aku berdo’a

Ya Allah…!
Kuingat Engkau saat alam begitu
gelap gulita, dan wajah zaman
berlumuran debu hitam
Kusebut nama-Mu dengan lantang
di saat fajar menjelang, dan fajar
pun merekah seraya menebar
senyuman indah
Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf
Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap Yang Maha Agung
sedang semua makna, akan lebur,
mencair, di tengah keagungan-Mu….wahai Rabku……..

Ya Allah ya Rab….berilah hamba petunjukmu
Berilah hamba pertolonganmu
Mudahkanlah semua urusan hamba
Mudahkanlah semua urusan kedua orang tua hamba
Mudahkanlah semua urusan saudara hamba
Serta wujudkanlah impian hamba….

Antara Kepala Sekolah Dan Guru

0 komentar

Munculannya lembaga-lembaga pendidikan Islam akhir-akhir ini merupakan sebuah fenomena yang cukup menggembirakan, ini adalah salah satu bukti respon positif masyarakat terhadap kesempurnaan ajaran Islam yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Salah satu bukti kesempurnaan ajarannya adalah perhatian Islam yang tinggi pada masalah pendidikan, “…Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat…”. Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, ayy lâ ta’taqidû annahû idzâ fasaha ahadun minkum li akhîhi anna dzâlika yakûnu naqshon fî haqqihi, bal huwa raf’atun wa ratbatun ‘inda Allâhi, wa Allâhu ta’âlâ lâ yudhî’u dzâlika lahu, bal yujzîhi bihâ fi al-dunyâ wa al-âkhirah. Jadi menurut Ibnu Katsir, Allah mengangkat beberapa derajat itu maksudnya adalah Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu bukan hanya disisi manusia, tapi juga yang lebih penting diangkat derajatnya disisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan ‘Abdu al-Rahmân bin Nâshir al-Sa’di menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “wa Allâhu ta’âla yarfa’u ahla al-ilmi wa al-îmâni darajâtin bihasbi mâ khossohum bihi min al-‘ilmi wa al-îmâni” . Jadi menurut ‘Abdu al-Rahmân bin Nâshir al-Sa’di, tafsir dari ayat ini adalah Allah SWT akan mengangkat derajat orang ahli ilmu (yang memiliki ilmu) dan orang ahli iman beberapa derajat berdasarkan dengan kekhususan ilmu dan iman mereka.

Salah satu tempat dalam proses pendidikan adalah sekolah. Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi yang di dalamnya terdapat keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sedangka sifat unik menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi lain. Oleh karena sifatnya yang komlpeks dan unik tersebut, sekolah sebagai sebuah organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi antara pimpinan (kepala sekolah) dan bawahan (guru). Wahyo Sumidjo mengatakan bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan oleh kepala sekolah dalam menentukan keberhasilan di sekolah antara lain, pertama kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak sekolah, kedua kepala sekolah harus memahami tugas dan fungsi mereka demi keberhasilan sekolah, serta memiliki kepedulian terhadap staf (termasuk guru) dan siswa.

Maka, lembaga-lembaga pendidikan Islam harus selalu menjaga kualitas kinerjanya agar tidak kalah dan tenggelam dalam persaingan dengan lembaga-lembaga yang lain. Salah satu faktor penyebab maju mundurnya lembaga adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) lembaga terutama guru sebagai ujung tombak pendidikan. Untuk itulah urusan sumber daya manusia sudah seharusnya mendapat perhatian yang serius dari kepala lembaga atau organisasi. Kalau dalam lembaga pendidikan, kepala lembaganya adalah kepala sekolah.

Oleh karena itu, keberhasilan sekolah menurut Mulyasa dapat dilihat dari out put sekolah, sementara kualitas out put tergantung dari SDM (guru) yang berkualitas. Dari teori di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kepala sekolah harus memiliki kepedulian (pay attention) yang sesuai (appropriate) dan perhatian khusus (special attention) terhadap tenaga pendidik (guru). Karena bagaimanapun guru adalah salah satu dari bagian yang penting dalam sebuah lembaga pendidikan. Sehingga dapat berjalan selaras (harmonious) dan seirama (in rhytm).

Oleh karena itu, kompetensi kepala sekolah tidak hanya dituntut memiliki kemampuan konseptual (conceptual skill), keterampilan kemanusiaan (human skill), keterampilan administrasi (administrative skill) dan keterampilan teknik (technical skill). Tapi ada hal penting yang mutlak harus dimiliki oleh kepala sekolah, yaitu kepala sekolah harus mampu mengkoordinasikan dan mempersatukan usaha seluruh sumber daya manusia ke arah pencapaian tujuan.

Sumber daya yang dimaksud di atas adalah guru. Karena guru adalah sekelompok sumber daya manusia yang ditugasi untuk membimbing dan melatih para peserta didik. Ia adalah al-Syaikh, al-Qiyadah, al-Ustadz, atau pribadi yang unggul yang memiliki karakter. Paling kokoh prinsipnya (asbatuhum mauqifan), paling lapang dadanya (arhabuhum shadran), paling dalam pemikirannya (a’maquhum fikran), paling luas wawasan dan pandangannya (ausa’uhum nadhran), paling rajin dalam amal-amalnya (ansyathuhum a’malan), paling akurat dan paling rapih dalam penataan organisasinya (aslabuhum tandhiman), dan puncaknya adalah yang paling banyak manfaatnya (aktsaruhum naf’an). guru adalah sekelompok sumber daya manusia yang ditugasi untuk membimbing, mengajar dan atau melatih para peserta didik, mereka adalah tenaga pengajar, tenaga pendidik yang secara khusus diangkat dengan tugas utama mengajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Semua itu adalah perangkat ideal yang mutlak dimiliki oleh seorang guru. Betapa luar biasanya potensi seorang guru dan betapa besar pengaruhnya terhadap kualitas peserta didik. Oleh karena itu, potensi yang besar dan kuat harus diimbangi dengan kualitas kemampuan kepala sekolah yang cerdas dalam rasionalitas dan intelektualitas (IQ) juga memiliki kekuatan sepiritual dan emosional (ESQ).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mengharuskan orang untuk belajar terus. Lebih-lebih guru, yang mempunyai tugas mendidik dan mengajar. Sedikit saja lengah dalam belajar akan ketinggalan dengan perkembangan, termasuk siswa yang diajar. Oleh karena itu, kemampuan mengajar guru harus senantiasa ditingkatkan, antara lain melalui pembinaan guru.

Dominannya perhatian pemerintah, dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, terhadap guru sebenarnya didasarkan atas suatu anggapan, bahwa di tangan gurulah mutu pendidikan kita banyak bergantung. Hal ini dapat dipahami dari kenyataan, tidak berdayanya sekolah-sekolah kita bila tidak ada gurunya. Guru dipandang sebagai faktor kunci, karena dia yang berinteraksi secara langsung dengan muridnya dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Kadar kualitas guru ternyata dipandang sebagai penyebab kadar kualitas out put sekolah. Rendah dan merosotnya mutu pendidikan sebagaimana yang sering disinyalir oleh banyak media masa, hampir selalu disertai dengan menuding gurunya. Strategisnya peranan guru dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan dapat dipahami dari hakikat guru yang selama ini dijadikan asumsi pragmatik pendidikan guru. Asumsi-asumsi tersebut adalah, bahwa guru adalah: agen pembaharuan; berperan sebagai fasilitator yang memungkinkan terciptanya kondisi yang baik bagi subyek didik untuk belajar; bertanggung jawab atas terciptanya hal belajar subjek didik; dituntut menjadi subjek didik; bertanggung jawab secara profesional meningkatkan kemampuannya; dan menjunjung tinggi kode etik profesionalnya.

Sungguhpun untuk mempersiapkan guru telah diupayakan sedemikian rupa, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru di sekolah-sekolah kita betul-betul profesional dalam melaksanakan tugasnya. Hal demikian dapat dibuktikan dengan kenyataan-kenyatan: seringnya guru mengeluh kurikulum yang sering berubah, seringnya guru mengeluhkan kurikulum yang sarat dengan beban, seringnya siswa mengeluhkan cara mengajar guru yang tidak menarik, dan masih belum dijaminnya mutu pendidikan sebagaimana yang dikehendaki. Berkaitan dengan inilah, maka jauh sebelumnya Jacobson (1954) pernah menyatakan, bahwa tidak semua guru berada dalam keadaan well trained dan well qualifed.

Apa yang dikemukakan oleh Jacobson sebenarnya pernah dikemukakan oleh pakar pendidikan seperti Elsbree Mc Nally. Kenyataannya, menunjukkan bahwa perkembangan sains dan teknologi yang demikian cepat, akan menjadikan penyebab senantiasa dimutakhirkannya kemampuan guru. Jika guru lengah sedikit saja dalam memutakhirkan kemampuan, maka yang bersangkutan akan ketinggalan dengan perkembangannya.

Berdasarkan kenyataan itulah, maka guru-guru perlu dibina terus kemampuan profesionalnya. Sebab dengan pembinaan terus menerus, mereka akan memutakhirkan kemampuan profesionalnya. Perlunya pembinaan yang terus menerus ini, tidak saja secara konseptual dibenarkan, tetapi secara empirik telah banyak dibuktikan. Oleh karena itu, pemerintah melalui Depdikbud, membuat Pedoman Pembinaan Guru, sebagai salah satu perangkat dalam pedoman pelaksanaan kurikulum.

Dalam melaksanakan pembinaan guru, perhatian yang dominan haruslah tertuju pada aspek-aspek profesional, dengan mereduksikan aspek-aspek yang bersifat administratif. Bahkan di luar dunia pendidikan, kegiatan serupa dengan nama staff development, career development, staff improvement dan yang serupa juga banyak tertuju pada aspek-aspek profesional dibandingkan dengan aspek administratif.

Penelitian mengenai sikap guru terhadap usaha pembinaan dan peningkatan kemampuan guru telah banyak dilakukan. Blumberg (1974) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa guru-guru lebih bersikap positif jika pimpinannya menerapkan pendekatan kolaboratif dan non direktif. Maka, dalam pembinaan terhadap guru, kepala sekolah harus memiliki beberapa pola yang cukup efektif dan efisien dalam pembinaan tersebut.

Jadi, titik tekan dalam pembinaan kepala sekolah terhadap guru adalah pada aspek kompetensi profesianoalnya. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

Peranan Seorang Guru

0 komentar

Sesuai tugasnya, peran seorang guru adalah sebagai berikut:
• Sebagai tokoh terhormat dalam masyarakat, sebab ia nampak sebagai orang yang berwibawa.
• Sebagai penilai ia memberi pemikiran.
• Sebagai seorang nara sumber, karena ia memberi ilmu pengetahuan.
• Sebagai fasilitator
• Sebagai penyangga rasa takut.
• Sebagai pemimpin kelompok.
• Sebagai orang tua atau wali.
• Sebagai pembimbing dan konselor.
• Sebagai patner belajar.
• Sebagai pembawa rasa kasih sayang.
• Sebagai penceramah.
• Sebagai tutor.
• Sebagai manajer.
• Sebagai kepala laboratorium.
• Sebagai perancang program.
• Sebagai manipulator, yang dapat mengubah situasi belajar.

Eric Holey, seorang ahli sosiologi pendidikan melihat peran guru diumpamakan sebagai anggota dalam satu keluarga. Ia mengemukakan peran guru sebagai berikut:
• Guru sebagai bapak (teacher as a father). Sebagai bapak ia tahu apa yang ia perbuat; dan semua yang diperbuatnya demi melindungi sang anak. Maksudnya, guru berperan sebagai bapak. Ia mengetahui apa yang harus ia perbuat demi melindungi siswanya.
• Guru sebagai kakek (teacher as a grand father). Seorang kakek adalah seorang yang baik hati dan banyak tahu. Ia menunjukkan dan suka bercerita kepada cucu-cucunya. Maksudnya, guru berperan sebagai seorang kakek. Ia banyak memiliki ilmu pengetahuan dan pengalaman dan selalu menunjukkan dan suka bercerita tentang ilmu pengetahuan dan pengalamannya kepada siswa.
• Guru sebagai nenek (teacher as a grand mother). Sebagai nenek ia suka bercerita tentang masa lampau anak-anaknya, tentang garis keturunan dari keluarga mereka. Maksudnya, guru berperan sebagai seorang nenek. Ia selalu bercerita tentang sejarah orang-orang kesuksesan dan kegagalan orang-orang sebelumnya.
• Guru sebagai kakak tertua (teacher as an eldest brother). Sebagai kakak tertua, ia di dalam mengerjakan sesuatu biasanya ia mengajar untuk bersama-sama. Maksudnya, guru berperan sebagai kakak tertua. Ia selalu mengajarkan kebersamaan atau hidup berjama’ah kepada siswanya.
• Guru sebagai paman (teacher as an uncle). Ia suka memberi berbagai informasi dan ide. Maksudnya, guru berperan sebagai paman. Ia selalu memeberikan berbagai informasi dan ide kepada siswanya.
• Guru sebagai ipar (teacher as a cousin). Seorang ipar tidak mau mengurus hal-hal lain selain memperhatikan tugas pokoknya. Maksudnya, gruru berperan sebagai ipar. Ia selalu memperhatikan tugas pokoknya, yaitu mendidik dan membimbing siswa.
• Guru sebagai sersan mayor (teacher as an sergean mayor). Guru sering berperan sebagai pengawal pasukan yang dengan disiplin ketat dan dengan menggunakan catatan dari berbagai buku selalu mengadakan parade senjata untuk menghormat pimpinan pasukan. Maksudnya, guru berperan sebagai sersan mayor. Ia selalu mengutamakan kedisilinan.
• Guru sebagai Sigmund freud (teacher as Sigmund freud). Guru sering berperan sebagai alat atau mensin untuk menyelesaikan konflik dan ketegangan. Maksudnya guru harus bisa menyelesaikan masalah-masalah, konflik dan ketegangan dari para siswa.
• Guru berperan sebagai psikoterapist (the teacher as group psichotherapist). Maksudnya, guruharus bisa melakukan terapi kepada siswanya.
• Guru berperan sebagai editor buku (teacher as prite’s reader). Sebagai editor ia mengadakan koreksi terhadap tulisan sebuah buku sebelum dicetak. Maksudnya, guru harus mampu mengukur dan menilai siswanya dan kemudian membimbing dan mendidiknya ke arah yang lebih baik.
• Guru berperan sebagai guru (teacher as teacher). Ia berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan. Maksudnya, guru harus mampu mentransformasi ilmu pengetahuan kepada siswanya dengan baik dan benar.

Dari status, tugas, tanggung jawab dan perannya, sebenarnya guru mempunyai kedudukan penting dalam proses pendidikan pada umumnya. Oleh karena itu perlu adanya pengkajian yang mendalam untuk menemukan profil seorang guru. Profil seorang guru harus nampak ke masyarakat untuk mengubah citra masyarakat terhadap guru.

Kisah Cinta Seorang Profesor

0 komentar

Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri, Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah. Tulisan ini bersumber dari http://amiehamasah.multiply.com/khutbah nikah. Melalui Pemuda Muslim kisah ini tersaji kembali dengan harapan semoga kita baik sebagai orang tua, pemuda mapun pemudi bisa mengambil ibrah dari kisah ini, sebagai renungan dalam membangun mahligai rumah tangga. Selamat membaca..............!

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan...", suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. Tiga puluh tahun yang lalu ...Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah. "Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur....tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?

Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri." Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil,rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami. "Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!" "Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta.Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta. Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya." Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita: Sambil menatap kaki langit Kukatakan kepadanya Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba Bukan karna ketiadaan kata-kata Tapi karena kupu-kupu kelelahan Akan tidur di atas bibir kita Besok, oh cintaku... besok Kita akan bangun pagi sekali Dengan para pelaut dan perahu layar mereka Dan akan terbang bersama angin Seperti burung-burung Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama! "Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak...ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita." Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. "Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: "Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas. Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof. Dr. Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Pernikahan

0 komentar

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Ruum 30:21)
"Nikah itu adalah sunahku, karena itu barang siapa yang membenci sunahku, ia bukan sebahagian golonganku" (Hadits)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di tengah umat yang lain.” (Hadits)

Yang digarisbawahi di sini adalah kata “membanggakan”.
Bahwa, bagaimana kita sebagai umat Rasulullah SAW, selalu dapat menghadirkan kondisi yang lebih baik, lebih manfaat bagi masyarakat.

Melalui pernikahan, kita membina keluarga baru yang lebih baik, melahirkan anak-anak yang lebih baik, yang tidak terkontaminasi oleh penyakit masyarakat saat ini. Bahkan sebaliknya, malah dapat menjadi bagian dari solusi problematika masyarakat.

Dengan berkeluarga, lahirlah generasi-generasi baru yang lebih baik, yang benar akidahnya, bagus ibadahnya, baik akhlaqnya, sehingga dapat dibanggakan, dibanggakan oleh siapapun juga, dibanggakan oleh keluarganya, dibanggakan oleh masyarakat, bahkan dibanggakan oleh Rasulullah SAW.Itulah hakikat pesan Rasulullah SAW di atas.

Terdapat beberapa hal yang melatar belakngi pernikahan, antara lain adalah :
1. Karena Hartanya
Karena harta, baik kehendak ini dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Yaitu seseorang yang ingin menikah dengan seorang hartawan, sekalipum dia tahu bahwa pernikahan itu tidak akan sesuai dengan keadaan dirinya dan kehendak masyarakat. Orang yang mementingkan pernikahan disebabkan harta benda yang diharapkannya pandangan ini bukanlah pandangan yang sehat, lebih-lebih kalau hal ini terjadi dari pihak laki-laki, sebab sudah tentu akan menjatuhkan dirinya dibawah pengaruh perempuan dan hartanya. Hal yang demikian adalah berlawanan dengan sunah alam dan titah Allah menjadikan laki-laki pemimpin perempuan. Sebagaimana firman-Nya :“Laki–laki itu pemimpin yang bertanggung jawab atas kaum perempuan “
Berarti mempunyai kekuasaan yang tertinggi terhadap perempuan (istri). Sabda Rasulallah saw :“Barang siapa menikahi seorang perempuan karena kekayaan, niscaya tidak akan bertambah kekayaannya, sebaliknya kemiskinan yang akan didapatinya.”

2. Karena Kebangsawanan
Karena mengharapkan kebangsawanan berarti mengharapkan gelaran atau pangkat. Ini juga tidak akan memberi faedah sebagaimana yang diharapkannnya, melainkah dia akan bertambah hina dan dihinakan, karma kebangsawanan salah seorang diantara suami istri itu.
Sabda Rasulallah saw. “Barang siapa menikahi seorang perempuan karma kebangsawanannya niscaya Allah tidak akan menambah kecuali kehinaannya.”

3. Karena Kecantikannnya
Ini adalah sedikit lebih baik dari pada harta dan kebangsawanan sebab harta dapat lenyap dengan lekas, tetapi kecantikan seorang dapat tinggal sampai tua asal dia jangan bangga dan sombong karena kecantikannya itu.

Sabda Rasulallah saw : “Janganlah kamu menikahi perempuan itu, karena melihat kecantikannya mungkin kecantikan itu akan membawa kerusakan bagi mereka sendiri dan janganlah kamu menikahi mereka karena mengharapkan harta mereka, mungkin hartanya itu akan menyebabkan mereka sombong. Tetapi nikahilah mereka dengan dasar agama dan sesungguhnya hamba sahaya yang hitam lebih baik asal dia beragama.” Riwayat baihaqi

4. Karena Agama dan Budi Pekerti
Inilah yang patut dan baik menjadi ukuran untuk pergaulan yang akan kekal, serta dapat menjadi dasar kerukunan dan kemaslahatan rumah tangga serta keluarga seumumnya. Sabda Rasulullah saw. “Barang siapa menikahi seorang perempuan karma agamanya niscaya Allah mengaruniaya dengan harta.”
Sabda junjungan kita saw :“Sebaik-baiknya perempuan, ialah perempuan yang apabila engkau memandang kepadanya ia menggembirakan engkau, dan jika engkau menyuruhnya diturutinya perintah engkau, dan jika engkau bepergian dipeliharaannya harta, engkau dan dijaganya dirinya.”

Jadi dengan jelas hendaknya agama dan budi pekerti itulah yang menjadi pokok yang utama pemilihan dalam pernikahan maka dari itu pertimbangkanlah lebih dahulu antara manfaat dan mudharahnya, yang bakal terjadi dihari kemudian sebelum mempertalikan perjodohan agar tidak ada penyesalan setelah berumah tangga nanti.

Peran Pemerintah Dan Masyarakat Dalam PBM

Sabtu, 14 Mei 2011 3 komentar

A.Peran Pemerintah
Pelaksanaan pendidikan yang berbasis masyarakat pada prinsipnya merupakan perwujudan dari demokratisasi pendidikan. Demokratisasi pendidikan berarti memperluas keterlibatan dan kepemilikan masyarakat dalam pelayanan pendidikan untuk kepentingan rakyat sebagai kekuatan utama kehidupan bangsa. Melalui proses penyadaran pada masyarakat, kita mendidik seluruh bangsa untuk mencapai tatanan kebutuhan berprestasi dari mereka sendiri. Kebutuhan pendidikan berprestasi ditumbuhkan agar masyarakat memiliki motivasi untuk melakukan suatu tindakan. Tugas pendidikan adalah membantu proses penyadaran tersebut. Pendidikan lebih mengarah untuk membangkitkan kekuatan dari dalam diri masyarakat atau innerdynamic.(McClellan,1991). Peran pemrintah dalam menata dan melaksanakan program-program pendidikan luar sekolah yang bertumpu pada masyarakat antara lain;
a. peran sebagai pelayan masyarakat
b. peran sebagai fasilitator
c. peran sebagai pendamping
d. peraan sebagai mitra
e. peran sebagai penyandang dana

B.Peran Masyarakat
Masyarakat memegang peranan sentral dan strategis dalam penyalanggaraan program-program pendidikan berbasis pada masyarakat. Peran masyarakat tersebut adalah sebagai berikut :
a. Tokoh masyarakat berperan sebagai pemrakarsa, mediator, motivator, tutor, dan bahkan sebagai penyandang dana serta penyedia fasilitas pendidikan.
b. Organisasi kemasyarakatan berperan sebagai pemrakarsa, perencana, penyelenggara, organisator, pemberi motivasi, penyedia fasilitas, pengatur kegiatan, pengayom kegiatan, penyedia dana Pembina kegiatan dan pemecah masalah.
c. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) berperan sebagai pembangkit dan penyampai aspirasi masyarakat, pemberi motivasi, pendamping masyarakat, fasilitator, pengembang, sebagai penyedia dana, penyedia teknologi, penedia informasi pasar, dan penyedia tenaga ahli, dan pengelola program.
d. Lembaga usaha perusahaan berperan sebagai penyelengara pendidikan, penyedia fasilitas, penyedia tutor/intruktur, penyedia dana pendidikan, penyedia fasilitas pasar, dan sebagai mitra usaha dalam mengelola produksi dari hasil penguasaan ketrampilan yang telah dipelajari.

C. Peran Organisasi Kemasyarakatan
Organisasi kemasyarakatan ini merupakan kekuatan nyata (riil) dan potensial yang dapat diajak untuk menggerakkan program pendidikan luar sekolah di lingkungannya. Berbagai peran yang dapat dilakukan oleh organisasi kemasyarakatan antara lain :
1. Mengidentifikasi calon warga belajar
2. Mengidentifikasi kebutuhan belajar calon warga belajar
3. Mencari tenaga yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang mau dan bersedia untuk membelajarkan warga belajar
4. Mengorganisir kegiatan belajar
5. Mencari tempat belajar
6. Menghubungkan warga belajar dengan sumber-sumber pendanaan dan membantu proses untuk memperoleh data belajar yang diperlukan
7. memonitor setiap program belajar yang ada di sekitarnya.

D.Bentuk Kemitraan antara Pemerintah dan Masyarakat
Pendidikan berbasis masyarakat (PBM) pada dasarnya adalah pemberdayaan masyarakat melalui pelayanan penyelenggaraan program-program pendidikan. Pemberdayaan masyarakat berarti membantu masyarakat menemukan eksistensi dirinya, memahami kelemahan dan kelebihan dirinya, serta memberikan ruang untuk mengekspresikan kebebasan yang dimiliki dalam kehidupan bersama (S.M. Bethel, 1997). Pendidikan memilih jalan pembebasan yang arahnya adalah bagaimana lahirnya masyarakat yang mandiri dan kreatif (Osborne, 1998). Artinya menjadikan manusia menjadi diri sendiri yang mampu memulai usaha sendiri, mencari kebutuhan sendiri, menciptakan jaringan kerja sendiri dan memutuskan sendiri. Dengan kata singkat “percaya bahwa mereka mampu”. Kemitraan yang baik antara pemerintah dan masyarakat perlu dijalin dan diperkuat oleh kedua belah pihak. Dari pihak pemerintah tidak boleh mendominasi, menggurui, memonopoli, memaksakan kehendak, mendikte, menguasai, membodohi, mengelabui dan jangan kebablasan menguasai.

E.Organisasi Mitra Pendidikan Luar Sekolah
Apabila dilihat dengan teliti ternyata pendidikan luar sekolah hanya dapat terselenggara dengan dukungan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam berbagai aspek kehidupan, social budaya, ekonomi, budaya dan pendidikan. Pendidikan luar sekolah sudah bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan. Dengan demikian dapat dikatakan, pemerintah dalam mendorong perkembangan pendidikan luar sekolah tidak dapat berbuat banyak tanpa bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan.

F.Kendala Pelaksanaan program PBM
Dalam pelaksanaan program pembelajaran masyarakat dengan menggunakan pendekatan konsep PBM yang sudah digambarkan di atas menuai beberapa hambatan/ masalah yang dihadipi, antara lain;
1. Sistem perencanaan, penganggaran, dan pertanggung jawaban keuangan yang dianut pemetintah.
2. kyerangnya kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan dan kekuatan energi masyarakat untuk mengambil peran dalam melaksanakan program-program pembangun yang dibutuhkan oleh masyarakat.
3. Sikap birokra, birokra belum mampu membiasakan diri bertindak sebagai pelayan, meraka selalu cenderung bertindak sebagai penentu yang ingin selalu di hormati.
4. Kebutuhan belajar; karakteristik kebutuhan belajar masyarakat yang beranekaragam, sedang system yang dinut masih turun dari atas dan standard.
5. sikap masyarakat; pola piker masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masih tertuju pada hal-hal yang masih bersifat badani-kebendaan.
6. Budaya menunggu;
7. Tokoh panutan, tokoh-tokoh masyarakat yang seyogyanya menjadi panutan masih berlaku birokrat.
8. Lembaga social masyarakat;n organisasi kemasyarakatan yang sangat sedikit yang bergerak di bidang pendidikan.
9. Anggaran; keterbatasan dukungan anggaran dan prosedur yang berbelit-belit.
10. Ego sektoral; masih ada keraguan diantara petugas dari instansi yang berbeda tentang kepemilikan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM).

Pendidikan Yang Bertumpu Pada Masyarakat (PBM)

0 komentar

A.Pendahuluan
Salah satu permasalahan pendidikan yang terjadi di Negara kita Indonesia ini adalah masalah pemerataan pendidikan. Hal ini di buktikan dari data yang berhasil dikumpulkan ternyata dari sekitar 205 juta penduduk Indonesia pada tahun 1999, sekitar 60 juta orang (28%) yang oleh karena berbagai hal seperti ekonomi,social,budaya, dan geografis belum dapat terlayani oleh jalur pendidikan sekolah. Sehingga terdapat masyarakat yang buta huruf, putus sekolah dan sebagainya. Untuk memberikan pelayanan pendidikan dan pengajaran bagi mereka yang memerlukan, ada tiga buah bentuk pendidikan dan pengajaran yang ditawarkan dan berada di tengah-tengah masyarakat, yaitu Pendidikan yang berbasis pada pemerintah (government base education), Pendidikan berbasis sekolah (school base education), dan Pendidikan yang bertumpu pada masyarakat (Community base education).

Pendidikan yang berbasis pada pemerintah (government base education) adalah pendidikan yang penyelenggaraannya tergantung pada pemerintah yang memiliki berbagai aturan yang harus dipatuhi,seperti aspek pembiayaan gaji guru,tanah, gedung dan lain-lain. Ciri khas yang kelihatan dari pendidikan ini adalah ketergantungan bukan kemandirian. Contoh sekolah-sekolah negeri. Pendidikan berbasis sekolah (school base education). adalah pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dan dikelola dalam bentuk usaha swasta (private enterprise) dalam arti pembiayaan yang diperlukan bersumber atau dipungut dari masyarakat, penunjukan kepala sekolah atau tenaga administrasi ditentu7kan pengelola, tetapi persyaratan kurikulum, bahan belajar, ujian, guru, batas usia murid dan lokasi mengikuti aturan pemerintah. Ciri khas yang kelihatan, mereka otonom dalam pengelolaan, tetapi tergantung pada aturan pemerintah. Contoh sekolah swasta. Sedangkan Pendidikan yang bertumpu pada masyarakat (Community base education) yaitu adalah pendidikan yang diselenggarakan dari,oleh dan untuk masyarakat.. Menggunakan kurikulum yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat.sarana-sarana belajar dan sumber belajar menggunakan apa yang ada di masyarakat. Pada pembahasan ini akan dibahas secra khusus mengenai pendidikan yang bertumpu pada masyarakat (community base sducation).


B.Pengertian
Pendidikan yang bertumpu pada masyarakat (community base sducation) adalah pendidikan yang diselenggarakan dari,oleh dan untuk masyarakat.. Menggunakan kurikulum yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat.sarana-sarana belajar dan sumber belajar menggunakan apa yang ada di masyarakat. Ijasah tidak menjadi tujuan utama. Kebermaknaan pendidikan untuk memperbaiki hidup dan kehidupan warga masyarakat menjadi acuan. Ciri khas yang ditunjukan adalah kemandirian. Contoh kegiatan belajar masyarakat, sebagian pesantren, kursus-kursus.

Bertumpu pada masyarakat artinya berada di tengah masyarakat, mengandalkan kekuatan masyarakat, dimiliki oleh masyarakat, menjawab kebutuhan masyarakat dan pengelolaan pendidikan ada di tangan masyartakat.Pendidikan yang bertuimpu pada masyarakat,tidak menyiapkan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,tetapi untuk tujuan perbaikan mutu kehidupan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat kurikulumnya terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari dan masalah yang relevan, urutan belajar tergantung pada warga belajar, waktu belajar fleksibel, menggunakan konsep keterampilan fungsional, menggunakan pendekatan andragogik, dan tidak mengutamakan ijasah. Visi para perancang pendidikan berbasis masyarakat ini adalah terwujudnya masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri, berdaya saing dan gemar belajar.

C. Kenapa bertumpu pada masyarakat.
Berdasarkan pengamatan di lapangan menunjukan bahwa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah banyak di dominasi pemerintah sehingga kurang mengena dalam masyarakat, oleh karena itu masyarakat itu sendiri harus dijadikan fondasi dalam penyelenggaraan pendidikan yang mereka perlukan. Dengan demikian masyarakat diberdayakan untuk memutuskan apa yang mereka perlukan. Di sini ditekankan usaha penyadaran masyarakat terhadap hakekat kehidupan dan lingkunganya, yang merupakan tugas penting yang harus diwujudkan melalui jalur pendidikan luar sekolah

Pemberdayaan mengsandung makna membangun kekuatan masyarakat agar mereka mampu bersaing menghadapai masalah dan tantangan yang dating silih berganti dalam kehidupanya. Mereka yang mampu menghadapi tantangan ini adalah mereka yang memiliki kekuatan dalam dirinya atau inner dynamic (mc Celand) dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang siap digunakana dalam menghadapai permasalhanya. Tanpa ketiga factor tersebut maka orang akan lari dari permasalahannya, sementara permasalahan tersebut akan terus mengejarnya. Karena itulah masyarakat harus didorong untuk memikirkan bagaimana memanfaatkan kekuatan yang ada di lingkunganya, dan ini dapat dicapai melalui pendidikan luar sekolah.

Dalam perspektif pemberdayaan masyarakat, pendidikan luar sekolah harus terus berusaha memantapkan pelaksanaan misinya dalam rangka pembelajaran masyarakat. Ada beberapa hal yang harus dikemukakan mengapa harus melaksanakan PBM antara lain:
1. Untuk memposisikan masyarakat sebagai perencana,pelaksana dan pengelola kegiatan pendidikan yang mengutamakan prinsip dari masyarakat,oleh masyarakat, untuk masyarakat dan di dalam lingkungan masyarakat.
2. Untuk menempatkan dan menjadikan masyarakat sebagai pusat orientasi pelaksanaan pendidikan.
3. Untuk mempertajam pelayanan pendidikan yang fokusnya pada kebutuhan masyarakat dan kebutuhan pasar sehingga penyelenggaraan program menunjang kehidupan masyarakat.
4. Untuk membangun pilar-pilar pendidikan dalam masyarakat yaitu belajar untuk tahu, belajar bagaimana berbuat sesuatu yang bermanfaat, belajar mengenal diri sendiri dan sebagainya
5. Untuk membangkitkan energi kreatifitas masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mkepentingan membebaskan dirinya dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.
6. Untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang gemar belajar dan membelajarkan sesamanaya (lerning-teaching society )


Suatu hal yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana pola PBM itu mampu diterima bahkan berkembang menjadi milik masyarakat. Kembali kepada moto PBM dari, oleh dan untuk masyarakat, maka konsep PBM harus berakar pada masyarakat. Kita semua meyakini bahwa pada dasarnya masyarakat memiliki kebutuhan untuk berkembang, masyarakat memiliki kemauan untuk berkembang, masyarakat memiliki kemampuan untuk berkembang, masyarakat mampu memutuskan apa yang menjaadi kepentinganya, dan masyarakat memiliki pengalaman yang berfungsi sebagai lumbung ilmu yang tidak pernah kering.

Ada beberapa sendi yang harus dibangun untuk memperkokoh PBM, antara lain :
• Kepercayaan
• Saling mengisi
• Teguh pada komitmen
• Kebermaknaan program
• Keteladanan
• Pengkaderan
D. Sasaran Program PBM
Sasartan program Pendidikan yang bertumpu pada masyarakat ini adalah seluruh lapisan masyarakat yang tidak dibatasi usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan,dan kebutuhan belajar yang tidak dilayani pendidikan sekolah, maupun yang sudah dilayani tetapi memerlukan tambahan pengetahuan lain yang kurang diperolaeh dari sekolah.

E. Program Pembelajaran
Program pembelajaran Pendidikan yang bertumpu pada masyarakat harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dalam rangka memperbaiki kualitas hidup dan kehidupannya, serta menyiapkan generasi muda menyongsong hari depan yang penuh tantangan yaitu pengembangan anak dini usia, pendidikan dasar luar sekolah, pendidikan perempuan, pendidikan berkelanjutan, dan pendidikan kejuruan masyarakat.

F. Acuan Pelaksanaan PBM
Ada lima aspek yang menjadi acuan yang seharusnya digunakan oleh pendidikan luar sekolah di dalam mengembangkan dan melaksanakan konsep PBM yaitu teknologi, kelembagaan, sosial, kepemilikan, dan organisasi. Menurut beberapa ahli pendidikan berbasis masyarakat menekankan pentingnya memahami kebutuhan masyarakat dan cara pemecahan permasalahan oleh masyarakat dengan menggunakan potensi yang ada di lingkungan kehidupannya. Ada yang mengatalkan bahwa ada 3 unsur dari PBM yaitu mementingkan warga belajar, program dimulai dari perspektif yang kritis, dan pembangunan masyarakat.

Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli di bidang pendidikan luar sekolah yang menjadi rujukan dalan merancang dan mengimplementasikan strategi pelaksanaan PBM bagi program-program pendidikan Luar sekolah yaitu :
1. Iklim belajar yang sesuai dengan keadaan peserta
2. diikutsertakanya peserta dalam mendiagnosis kebutuhan belajarnya
3. Diikutsertakanya peserta dalam proses perencanaan belajarnya
4. proses belajar menjadi tanggung jawab bersama antara fasilitator dan peserta serta pelaksanaan evaluasi belajar lebih menekankan pada evaluasi diri sendiri
5. proses belajar yang menekankan p[ada teknis yang sifatnya membangkitkan dan menghargai penga;laman peserta
6. Proses belajar yang mengutamakan pada penerapan atau aplikasi praktis
7. bahan belajar yang berdasarkan pada tugas perkembangan peserta
8. Peranan pendidik yang bukan sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran tertentu, tetapi lebih sebagai fasilitator
9. Bahan belajar yang lebih berorientasi pada masallah yang dihadapi oleh peserta, atau yang diinginkan oleh peserta pas pemecahannya
10. penggunaan metode belajar yang lebih merangsang peserta untuk terlibat secara aktif dan memberikan suasana gembira (Knoles, 1977)

G. Strategi Pengembangan dan Pelembagaan
Dalam pengembangan dan pelembagaan program pembelajaran,pendidikan luar sekolah dapat memilih beberapa strategi penyelenggaraan, antara lain:
• Mengubah orientasi
• Mengembangkan metode partisipatif yang dinamis dalam menumbuhkan kreatifitas masyarakat.
• Menggunakan pendekatan bertahap-bergilir
• Merubah pendekatan standarisasi program menjadi pendekatan bervariasi dan keanekaragaman (diversifikasi dan diferebnsifikasi), sebagai usah untukmenjawab keanekaragaman perbedaaan kebutuhan belajar masyarakat
• Merubah peran pemerintah dari penentu menjadi pemberdaya dengan cara membangkitkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan program.
• Meningkatkan koordinasi multi sector
• Merubah pendekatan belajar cara klasikal menjadi cara partisipatif dan menggunakan bahan belajar local.

Untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan PBM diperlukan strategi yang tepat yakni menempatlkan masyarakat sebagai pelaku utama atau subyek bukan sebagai sasaran atau obyek. Berdasarkan pemikiran tersebut maka pelaksanaan PBM harus memperhatikan hal-hal berikut :
1. Mementingkan kepuasan masyarakat
2. berorientasi pada pasar
3. keterkaitan dan kesinambunagan program
4. Pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengembangan dan pendanaan.
5. fleksibel
6. otonomi
7. pelembagaan

H. Tolok Ukur Pelembagaan
Secara kualitatif tolok ukur keberhasilan darinpelaksanaan program pembewlajaran masyarakat dapat dikemukakan di sini sebagai berikut:
1) Warga belajar Keaksaraan Fungsional
a) Memiliki kemampuan memahami informasi melalui tulisan
b) Memiliki keterampilan yang dapaat digunakan dalam kehidupan sehari-hari
c) Memiliki mata pencaharian untuk menambah penghasilan
d) Meningkatkan kesadarannya terhadap hokum
2) Lulusan paket A setara SD, mereka dapat :
a) Melanjutkan ke paket B atau ke SMP
b) Bekerja dengan menggunakan ijasah setara SD
c) Bekerja usaha mandiri
3) Lulusan paket B setara SMP mereka dapat :
a) Melanjutkan ke program paket C atau ke SMU
b) Bekerja dengan menggunakan ijasah setara SMP
c) Bekerja usaha mandiri
4) Lulusan paket C setara SMA mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
5) Magang dan KBU mereka dapt :
a) Bekerja di perusahaan
b) Memiliki kegiatan usaha
c) Mengembangkan keterampilan/usaha yang telah dimiliki
6) Lulusan dari kursus mereka dapat :
a) Memperoleh pengetahuan, keterampilan untuk mengembangkan diri dan menambah pengetahuan yang diperoleh di sekolah
b) Bekerja, mengembangkan karir?profesi
c) Usaha mandiri
d) Melanjutkan ke jenjang keterampilan yang lebih tinggi.

16 Cara Mengejar Ketertinggalan Menuju Keberhasilan

0 komentar

1.Dua prinsip kunci: koneksi pikiran-tubuh dan koneksi pikiran-otak
Prinsip pertama yang harus ditekankan adalah bahwa belajar bukan hanya merupakan proses akademik. Professor Palmer membuktikan bahwa kegiatan fisik rutin di TK dapat meningkatkan secara drastic kemampuan akademik anak berumur lima tahun karena aktivitas tersebut benar-benar mengembangkan otak. Prinsip kedua, otak dan pikiran tidaklah sama. Otak itu bersifat biologis dan neurologis, ia punya neuron, sel glial, dendrite, dan selaput myelin yang sama-sama menyediakan mekanisme biologis. Dalam konteks buku ini, pikiran adalah isi otak. Ada lima factor utama yang mempengaruhi kemampuan belajar yaitu: waktu, budaya konteks, dukungan dan kebebasan memilih.

2.Kinesiologi khusus
Kinesiology adalah ilmu tentang gerakan. Kinesiology menjadi terkenal di beberapa Negara karena membantu meningkatkan prestasi puncak olahragawan. Teknik ini kini digunakan ujtuk membantu dunia pendidikan, dan bukan hanya untuk orang-orang yang mengalami kesulitan belajar. Kathleen Carroll, ahli kinesiology dari Washington DC mengatakan “kinesiology meningkatkan kemampuan akademik semua orang”.

3.Model Doman-Palmer-Niklasson-Hartigan
Variasi dari program kegiatan fisik yang dikembangkan oleh Glenn Damon, Lyelle Palmer, Irene dan Mats Niklasson, serta Jerome dan Sophie Hartigan saat ini berhasil digunakan diberbagai dunia. Hartigan menyarankan agar anak-anak dibawah umur tiga tahun diberi berbagai permainan dan tarian menyenangkan yang diiringi musik. Setelah anak berumur tiga tahun diberikan program yang lebih terstruktur.

4.Model bola/tongkat/burung
Dalam metode ini, bola mewakili seluruh huruf yang memiliki lingkaran, tongkat melambangkan semua huruf yang berupa garis, dan burung melambangkan semua huruf yang bersayap. Metode ini menunjukan kepada selurus siswa yang mengalami keterbelakangan dalam belajar, bahwa seluruh huruf terdiri dari tiga bentuk sederhana itu saja. Dengan kode tersebut dan cerita-cerita pendek, para siswa yang paling terbelakang sekalipun mampu belajar dan erkembang dengan cepat.

5.Mengejar Ketertinggalan Mengeja
Mengeja merupakan salah satu korban debat sia-sia antara pendekatan ponics (tulisan sama atau hamper sama dengan ucapan) dan nonponics (tulisan berbeda dengan ucapan). Pendekatan ponics membantu anak mempelajari kata-kata dan suku kata dengan vocal pendek seperti: get, set, bet;sit, hit, fit. Dan permainan sederhana dan daftar di papan tulis dapat membantu anak-anak mengenali kata dan pola suku kata yang sangat lazim seperti: fate, mate, dan plate; light, might,bridge, ridge, sledge, dan dredge. Pengejaan nonfonetik juga merupakan ketrampilan visual, dan bukan kemampuan mendengarkan. Kebanyakan anak-anak merasa sulit mempelajari kata-kata nonfonetik hanya dari contoh-contoh yang diucapkan.

6.Menulis dipunggung untuk mengatasi problem “penulisan cermin”.
Bagi anak-anak usia sekolah yang memiliki problem membedakan huruf-huruf seperti b, d dan b, serta p dan q. Peter Young dan Colin Tyre, dua pendidik dari inggris mengatakan bahwa selama bertahun-tahun metode ini belum pernah mengalami kegagalan. Meraba huruf yang dibuat diatas kertas amplas model Montessori juga membantu anak-anak membedakan huruf serupa, tetapi berlainan. Sekarang banyak huruf yang tersedia dari plastic.

7.Program Finger-ponics
Program ini menggunakan pendekatan yang sangat sederhana tentang pengajaran membaca fonetik dengan menghubungkan setiap suara dalam bahasa inggris dengan tindakan dan gerakan jari tertentu. Dan ternyata berhasil. Anak-anak kinestetis yang jauh tertinggal dalam kemampuan membaca pada awal-awal sekolah, kini mengalami perkembangan pesat. Ini sekali lagi membuktikan kekuatan”MEMORI OTOT” perlunya melayani berbagai gaya belajar. Sebelum program ini diperkenalkan 40% siswa yang berumur 6 tahu tidak dapat membaca.

8.TRAP: Program membaca dibantu kaset
Metode ini disebut TARP (tspe-assisted reading program) setiap anak didorong untuk melajar membaca dengan suaranya sendiri berbagai serita menurut minat masing. Dan ketika anak membaca buku, baik di sekolah maupun di rumah, dia dapat mendengarkan cerita yang sama pada kaset, melalui headphone Walkman. Program ini sangat terdukung oleh materi-materi School Journal, dengan pemburuan secara teratur catalog yang berisi isi, tema, dan tingkatan umur. Para siswa dapat memilih kaset rekaman cerita terpilih yanh telah dihasilkan oleh sekolah, atau meminta seorang guru atau orang t ua untuk merekam sebuah cerita atau artikel mengenai bidang minat tertentu.

9.Mengajari teman sebayanya
Dalam metode ini seorang siswa SD bertindak sebagai guru kecil untuk seorang temannya. Biasanya guru kecil ini duduk di kelas yang sedikit tinggi sehingga tutor sebayanya dapat mengambil keuntungan. Si tutor tentu bukan pembaca terbaik di kelas, walaupun ia pada akhirnya mampu mencapai itu. Sebenarnya program ini adalah bentuk satu lawan satu tanpa mengambil jatah waktu guru dewasa.

10.Metode “lihat-dengar”
Sebuah inovasi lain dari Selandia Baru berhasil mengubah secara drastic dalam pengajaran membaca untuk seluruh kelas. Guru Forbes Robinson telah menunjukan keunggulanya selama bertahun-tahun dan membuktikanya di Amerika, Inggris, dan Kanada. Dia menyebutkan metode lihat-dengar Robinson adalah penganut teori Doman yang menganjurkan anak-anak dapat belajar membaca dengan jika telah disodori dengan huruf-huruf besar. Jadi dalam penataan kelasnya, metode ini menggunakan proyektor sebagai alat yang digunakan dalam proses pembelajaran.

11.Program “ Reading Recovery” Selandia Baru
Program ini membantu anak-anak yang kesulitan membaca. Pada usia enam tahun anak-anak yang mengalami kesulitan membaca diidentifikasi dalam program ini dan dibantu oleh guru yang dilatih khusus dalam bidang reading recovery. Rata-rata anak-anak dapat mengejar ketrtinggalannya dalam tempo waktu enam minggu.

12.Kosa kata kunci pribadi
Cerita tentang asal usul kata-kata kunci itu dikisahkan dalam bahasa Inggris-Maori. Sebenarnya program ini tidak trpikirkan oleh departemen pendidikan selandia ketika mereka menyarankan perlunya menggali pengalaman anak-anak dalam mengajar membaca. Tetapi itu ternyata berhasil. Ketertarikan dan keterbukaan menciptakan antusiasme membaca. Dia menyadari bahwa anak-anak lebih tertarik pada cerita mereka sendiri. Jadi dia hanya membantu mereka menuliskannya. Dia mengiringi cerita-cerita mereka dengan musik. Dan dia membuat presentasi bergambar tentang mimpi-mimpi dan pengalaman mereka.

13.Sekolah Matematika Dasar.
Kemampuan Selandia Baru dalam pemulihan kemampuan membaca telah dibarengi pula dengan beberapa pendekatan inovatif dalam pengajaran matematika dasar. Program Beginning School Mathematics, misalnya menggunakan berbagai macam teka-teki dan permainan yang kaya warna. Selama 2 tahun pertama anak-anak menggunakan metode ini dan berbagai bahasa manipulatif yang lain untuk mempelajari hubungan-hubungan dasar matematika.

14.Program mengejar ketertinggalan belajarar dengan computer
Berbagai sekolah menengah lain telah berhasil menggunakan program internasional technic lego. Yang lain beberapa program computer matematika yang kini tersedia. Diantara yang terbaik adalah program yang dirancang oleh computer curriculum corporation, berdasarkan riset di Universitas Stanford, California-tidak hanya tentang matematika, tetapi juga berbagai mata pelajaran lain.

15.Program Matematika SEED
Program mengejar ketertinggalan yang terbaik di bidang matematika nonkomputer adalah SEED (special elementary education for the disadvantaged). Para guru yang menggunakan program SEED berhasil mengajarkan matematika lanjut sekolah menengah kepada anak-anak Afrika-Amerika yang berusia sepuluh tahun yang sebelumnya mengalami ketertinggalan selama dua tahun.

16.Tiga program “medis-educatif” lain
Program pertama dikembangkan oleh Doman dan Tim dari Philadelphia di The Insitute For The Achievemen Of Human Potensial. Tim Doman berhasil mengajar anak buta untuk melihat, anak tuli untuk mendengar dan anak anak cacat untuk bergerak pada tingkat normal, dengan secara fisik “memola kembali bagian-bagian lain dari otak yang rusak. Program kedua disebut metode tomatis. Metode tersebut menggunakan suara yang tersaring atau tidak tersaring untuk mendidik kembali kemampuan mendengar dan memproses suara, keduanya di telinga dalam dan seluruh tubuh. Program ketiga, yaitu mencakup berbagai alternative alami. Metode ini menggunakan berbagai jenis kegiatan dari perubahan kebiasaan makan sampai program pendidikan fisik, dari kursus bela diri sampai menggunakan musik yang mententeramkan, dari penyaluran energi dan seni kreatif hingga pelatihan computer.

Rancangan Pengajaran

Selasa, 10 Mei 2011 0 komentar

Rancangan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem menurut Dikc dan Carey adalah identifikasi tujuan umum pengajaran, melakukan analisis pengajaran, identifikasi tingkah laku dasar dan cirri-ciri peserta didik, merumuskan tujuan performansi, mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, mengembangkan strategi pengajaran, mengembangkan dan memilih materi pengajaran, merancang dan melakukan evaluasi formatif, merevisi materi pengajaran, dan merancang dan melakukan evaluasi sumatif.

1. Identifikasi Tujuan Umum Pengajaran
Untuk merumuskan tujuan umum pengajaran terdapat kriteria menurut Dick dan Carey (Kusumo dan Willis, 1989) yaitu pernyataan umum yang jelas tentang hasil belajar, penjelasan tentang hal yang akan dicapai peserta didik, secara jelas berhubungan dengan kebutuhan yang telah ditetapkan, dapat dicapai dengan baik jika menggunakan pengajaran daripada dengan hal lain.

2. Melakukan Analisis Pengajaran
Analisis pengajaran biasanya dilakukan biasanya dilakukan dengan membuat diagram prosedur analisis pengajaran terdiri atas 2 langkah yakni (1) mengklasifikasi tujuan umum kedalam domain pengajaran. (2) menentukan langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan umum tersebut. Domain (ranah) pengajaran menurut Gange, yaitu : (1) keterampilan intelektual (2) keteramfilan psikomotor (3) keterampilan informasi verbal (4) keterampilan sikap. Jenis analisis pengajaran: (1) prosedural, (2) hirarki, dan (3) kluster. Dalam suatu analisis pengajaran, dapat menggunakan satu jenis analisis dapat pula menggunakan gabungan dari dua atau tiga jenis analisis.

3. Identifikasi Tingkah Laku Dasar dan Cirri-Ciri Peserta Didik
Menurut dick & carey (kusumo & willis ,1989), identitas peserta didik dapat dijelaskan dalam dua hal, yakni ciri umum dan tingkah laku dasar. Tingkah laku yang dimaksud adalah keterampilan khusus yang harus diperagakan oleh setiap peserta didik pada saat awal kegiatan pengajaran(keterampilan khusus sebagai prasyarat masuk). Dan harus dirumuskan sebagai subkterampilan dalam analisis pengajaran. Sebaliknya, ciri-ciri umum meliputi aspek yang lebih luas. Cirri umum yang penting adalah kemampuan intelektual. Untuk mengidentifikasinya dapat dilakukan tes masuk.

4. Merumuskan Tujuan Performansi
Setelah tujuan umum pengajaran ditentukan, analisis pengajaran dilakukan, dan ciri dan prasyarat peserta didik ditetapkan, maka yang harus dilakukan selanjutnya adalah merumuskan tujuan performansi peserta didik yang diharapkan setelah mempelajari pelajaran. Tujuan performansi peserta didik ini sebenarnya merupakan penjabaran dari tujuan umum pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Seperti tujuan umum pengajaran, rumusan tujuan performansi pun harus menunjukan perubahan perilaku peserta didik. Tujuan performansi terdiri atas tiga ranah (kawasan), yakni (a) ranah kognitif,(b) ranah afektif, dan (c) ranah psikomotor. Ranah kognitif berhubungan dengan kecerdasan otak, ranah afektif berhubungan dengan sikap, mental, dan emosi, sedangkan ranah psikomotor berhubungan dengan gerak anggota badan.

5. Mengembangkan Butir-Butir Tes Acuan Patokan
Tes acuan patokan (criterion-referenced test) adalah alat untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Tanpa tes ini, rencana pengajaran yang telah disusun tidak akan banyak manfaatnya, karena tidak dapat mengetahui hasil belajar peserta didik. Untuk setiap tujuan khusus yang telah ditetapkan, perlu ada tes untuk mengukurnya. Dick dan Carey membagi tes acuan patokan maenjadi empat jenisa tes sebagai berikut:
a. Tes masuk (entri behavior test). Item tes masuk ini harus sesuai dengan keterampilan yang harus dimiliki peserta didik untuk memulai proses belajar
b. Tes awal (pretest). Item tes ini mengukur keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang akan diajarkan
c. Tes kemajuan (embedded test).item tes ini memberikan informasi kepada pendidik atau pembimbing tentang apakah peserta didik mampu mempergunakan keterampilan baru atau tidak.
d. Tes akhir (pos test). Tes ini harus menilai tujuan khusus keterampilan, pengetahuan yang diperoleh peserta didik.

6. Mengembangkan strategi pengajaran
Strategi pengajaran adalah rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar semua prinsip dasar dapat terlaksana dan semua tujuan pengajaran dapat dicapai (Gulo, 2002). Strategi pengajaran mungkin menjelaskan komponen umum dari seperangkat materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan bersama-sama, disertai dengan materi yang digunakan untuk menjelaskan hasil pembelajaran (Kusumo & Wilis, 1989).

7. Mengembangkan dan Memilih Materi Pengajaran
Dalam mengambangkan dan memilih materi pengajaran perlu diperhatikan komponen yang terdapat dalam satuan setiap acara pengajaran.Komponen tersebut menurut Hartatik (dalam kusumo &willis,1989) antara lain :1)petunjuk pengajaran 2)materi pengajaran3)tes 4)petunjuk bagi pendidik atau pembimbing.Materi pengajaran berisi informasi dalam bentuk materi tertulis atau media yang akan digunakan peserta didik untuk mencapai tujuan khusus.Tujuan tidak hanya untuk menguasai materi pengajaran yang telah ditetapkan dalam tujuan khusus,tetapi juga untuk mengadakan perbaikan bagi peserta didik yang kurang berhasil.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan materi pengajaran,yaitu 1) lingkungan pengajaran 2) tingkat penguasaan pendidik atau pembimbing 3) materi yang tersedia 4) ruang lingkup pengajaran 5) perorangan atau kelompok 6) ciri-ciri dan besar kelompok sasaran 7) personal,fasilitas,dan aparat. Sementara itu,Willis (1989) menyarankan kriteria untuk menggunakan materi pengajaran yang ada,yaitu 1.menarik 2.mengandung isi yang sesuai 3.isi tersusun secara berurutan 4.berisi semua informasi yang dibutuhkan 5.ada latihannya 6.tersedia tes yang layak.

8. Merancang dan Melakukan Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif adalah suatu proses untuk memperoleh data yang digunakan untuk menyakinkan bahwa materi pengajaran efisien dan efektif. Evaluasi formatif dapat dilaksanakan dengan tiga langkah yaitu: evaluasi perorangan, evaluasi kelompok kecil, dan evaluasi lapangan. Evaluasi perorangan., yakni setelah acara pengajaran disusun,pendidik atau pembimbing memilih dua atau tiga orang peserta didik untuk memeriksa tes dan isi materi pengajaran. Setelah itu mereka mendiskusikan kelemahan dan kekuatan tes maupun isi materi pengajaran tersebut. Evaluasi kelompok kecil yakni setelah perbaikan dengan menggunakan hasil evaluasi perorangan, pendidik atau pembimbing menyampaikan pengajarannya dengan menggunakan materi yang telah diperbaiki dan menggunakan strategi yang telah ditetapkan kepada kelompok peserta didik (10-20 orang). Semua kesulitan yang dihadapi peserta didik harus dicatat untuk perbaikan selanjutnya. Setelah semua kegiatan pengajaran (termasuk tes akhir) selesai dilakukan, pendidik atau pembimbing menbagikan kuesioner untuk mengetahui seberapa baik strategi pengajaran itu dilaksanakan. Sementara evaluasi lapangan adalah upaya pendidik atau pembimbing memperoleh data dari situasi pebelajaran itu sendiri.data tersebut meliputi:laporan tes masuk,nilai tes awal dan tes akhir,laporan tentang jangka waktu yang diperlukan peserta didik menyelesaikan tes dan tugas yang lain,kebutuhan perbaikan,dan laporan survei tingkah laku.

9. Merevisi Materi Pengajaran
Setelah memperoleh semua data evaluasi formatif,langkah selanjutnya adalah menentukan bagian pengajaran mana sajs yang perlu direvisi.Tabel yang baik untuk mengerjakan revisi materi pengajaran adalah table yang berisi nilai tes masuk,tes awal dan tes akhir dari setiap peserta didik yang terlibat dalam evaluasi formatif kelompok kecil (Hartatik dalam Kkusumo &Willis).Nilai tersebut dapat berbentuk persentase jumlah objectif yang telah ditetapkan.Atau persentase nilai performasi yang dapat dibandingkan dengan nilai performasi tertinggi yang dapat dicapai.

10. Merancang dan Melakukan Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah suatu proses evaluasi versi final satuan acara pengajaran,pengumpulan data untuk menentukan efisiensi dan efektivitas satuan acara pengajaran itu (Dick & Carey dalam kusumo & Willis,1989). Penilaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:(Hartatik dalam Kusumo &Willis 1989) 1. persiapan instrument evaluasi yang akan digunakan untuk mengindentifikasi keberhasilan peserta didik. Instrumen terdiri atas :tes tulis,laporan,dan tes lisan, 2. catat nilai dari semua peserta didik dan simpulkan, 3. dengan menggunakan metode indentifikasi value (penjelasan kualitas, missal baik,sedang,kurang,jelek).

Perencanaan Pendidikan Orang Dewasa

0 komentar

A. Pendahuluan
Rancangan pendidikan perlu disusun jika ingin kegiatan pendidikan berhasil. Di Imdonesia, persepsi tentang pendidikan orang dewasa lebih mengarah pada pendidikan luar sekolah atau pendidiksn masyarakat. Ini sesuai dengan pendapat Rahman (1989), yanh menyatakan bahwa istilah seperti pendidikan luar sekolah, pendidikan orang dewasa, pendidikan masyarakat, latihan ketermpilan dapat saling ditukarkan. Sementara itu, Soedomo, menyatakan bahwa orang dewasa yang ingin belajar, yang terbuka lebar adalah pendidikan luar sekolah dan pendidikan masyarakat, karena hanya sebagian kecil orang dewasa yang mampu mengikuti pendidikan di perguruan tinggi.

Oleh karena itu, untuk membahas perencanaan pendidikan orang dewasa dapat digunakan pendekatan perencanaan pendidikan luar sekolah atau pendidikan masyarakat. Pwerenncanaan pensisikan tidak akan lengkap jika tidak disertai dengan rancangan pemnelajaran. Peerencanaan pendidikan dan rancangan pembelajaran diperlukan agar proses pendidikan dan pembelajaran orang dewasa dapat berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa.

B. Komponen Perencanaan Pendidikan
Setiap perencanaan pendidikan, apapun jenis pendidika Pada dasarnya mempunyai komponen yang sama. Berdaarkan pemikiran demkian, komponen perencanaan pendidikan kuar sekolah menurut Rahman dapat dianggap sebagai lomponen perencanaan pendidikan orang dewasa. Komponen tersebut adalah Peserta didik, Tujuan belajar, Sumber belajar, Kurikulum, Organisasi pelaksana, Kondisi masyarakat setempat, Kemanfaatan langsung, dan Struktur organisasi.

Dalam perencanaan pendidikan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain perencanaan yang tekah ada sebelumnya, perlunya penelitian keadaan lokasi, perkiraan kebutuhan, penyusunan skala prioritas, penyusunan tujuan dan strategi, rancangan implementasi, penetapan waktu pelaksanaan, dan penilaian.

C. Perencanaan Partisipatif
Dalam perkembangannya pendidikan orang dewasa saat ini lebih banyak menggunakan metode partisipatif, dimana semua pihak yang terkait dalam pendidikan dilibatkan dalam proses pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Prinsip Perencanaan partisipatif adalah Hubungan dengan masyarakat, Partisipasi pihak yang terkait, Ramalan dan pembuaran program, dan Pengambilan keputusan. Selain itu menurut kesimpulan yang diambil oleh Pidarta setelah mencermati berbagai pendapat dari berbagai ahli prosedur perencanaan partisipatif adalah menentukan kebutuhan atas dasar antisipasi terhadap perubahan lingkungan, melakukan ramalan dan menentukan program, tujuan, misi perencanaan prioritas , menspesifikasi tujuan, menentukan standar performansi, menentukan alat pemecahan , melakukan implementasi dan menilai, serta mengadakan review.

D. Peristiwa Pengajaran
Dalam pendidikan orang dewasa terdapat proses belajar mengajar diantara peserta didik dan pendidiknya. Dari sudut pabdang pendidik, prises itu disebut dengan peristiwa pengajaran. Peristiwa pengajaran adalah +sirancang untuk membuat peserta didik bergerrak dari dimasa ia berada pada saat awal pengajaran menuju pencapaian kemampuan yang telah ditetapkan dalam tujuan khusus pengajaran. Bentuk komunikasi kepada peserta tidak dapat ditentukan dan berlaku untuk semua pelajaran.

Peristiwa pengajaran mempunyai fungsi untuk memperoleh perhatian peserta didik, memberitahu tujuan khusu pengajaran kepada peserta didik, membantu peserta didik mengingat kembali pengetahuan yang telah dimiliki, menyajikan materi pelajaran , memberi bimbinhan belajar, memperoleh performansi, memberi umpang balik tentang pendidikan, menilai performansi peserta didik, dan meningkatkan retensi dan transfer.

E. Rancangan Pengajaran
Rancangan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem menurut Dikc dan Carey adalah identifikasi tujuan umum pengajaran, melakukan analisis pengajaran, identifikasi tingkah laku dasar dan cirri-ciri peserta didik, merumuskan tujuan performansi, mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, mengembangkan strategi pengajaran, mengembangkan dan memilih materi pengajaran, merancang dan melakukan evaluasi formatif, merevisi materi pengajaran, dan merancang dan melakukan evaluasi sumatif.

Tiga Prinsip Dalam Bercinta

Rabu, 04 Mei 2011 2 komentar

Dalam menjalani perjalanan cinta tidaklah semudah apa yang kita bayangkan. Perjalanan cinta adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu yang lama, butuh keseriusan, dan butuh pengorbanan, karena cinta adalah sebuah titipan sang Ilahi Rabbi yang dianugrahkan kepada seluruh insan di muka bumi tuk menggerakkan roda kehiupan yang penuh dengan duri.

Memelihara rasa cinta adalah sebuah kewajiban bagi setiap insan. Sehingga patutlah kita ketahui secara mendalam tentang prinsip-prinsip dalam bercinta. Terdapat tiga prinsip dalam bercinta yaitu mengalami, mengungkapkan, dan memelihara.
Mengalami adalah merasakan sesuatu yang baru dalam kehidupan kita. Maka tidak salah kalau orang bijak berkata “ pengalaman adalah guru utama “. Dalam perjalanan cinta prinsip pertama yang harus kita pahami adalah mengalami rasa cinta. Ketika kita sudah mengalami rasa cinta maka kita akan bertanya pada diri kita, darimana rasa cinta itu datang….? Kemana rasa cinta itu kita salurkan….? Bagaimana caranya…..? serta sejuta pertanyaan lainnya yang muncul dari hati kita.

Mengungkapkan adalah menterjemahkan rasa yang kita alami dalam sebuah kata-kata yang penuh dengan makna. Kalau kita mengalami rasa sakit maka mulut kita akan mengatakan sakit, kalau kita mengalami rasa enak maka mulut kita akan mengatakan enak, kalau kita mengalami rasa manis maka mulut kita akan mengatakan manis, dan rasa yang lain yang senantiasa kita rasakan setiap detik, setiap menit, setiap jam bahkan seumur hidup, karena apa yang kita rasakan tidak bisa kita bohongi dalam kehidupan kita. Begitupula dengan rasa cinta yang kita alami, hendaknya kita terjemahkan dalam sebuah kata-kata yang penuh dengan makna,kemudian kita ungkapkan rasa cinta yang suci itu kepada orang yang kita cinta. Akan tetapi perlu di ingat bahwa hati-hati dengan kata-kata, karena kata-kata adalah janji, dan janji itu harus ditepati.

Memelihara adalah menjaga dan merawat sesuatu yang kita miliki dengan sepenuh hati agar sesuatu itu tetap eksis sesuai dengan hakikatnya. Ketika kita memiliki sebuah bunga dan kita mencintai bunga itu maka kita harus menjaga dan merawatnya agar bunga itu tetap segar. Tentunya banyak cara yang harus kita lakukan, banyak waktu yang harus kita luangkan, dan banyak pengorbanan yang harus kita keluarkan demi memelihara sekuntum bunga yang kita dambakan, karena pengorbanan takkan terelakkan dalam sebuah kehidupan, demi teman agar tak putus berteman maka kita butuh pengorbanan, demi cinta agar tak putus bercinta maka kita juga butuh pengorbanan. Itulah kesimpulan sebait syair yang di ungkapkan oleh seorang Raja Dangdut yaitu H.Rhoma Irama.

Bagaimana dengan rasa cinta yang kita miliki…..? Dalam menjalani perjalanan cinta sopasti kita harus memelihara rasa cinta yang kita miliki, rasa cinta yang telah kita ungkapkan melalui sejuta kata yang penuh dengan makna agar jalinan cinta yang kita jalani tetap suci dan kekal abadi, sehingga kita akan menjadi pribadi-pribadi yang suci. Namun semua itu tidak mudah dilakukan tak semudah yang kita ungkapkan, semua itu mebutuhkan perjuangan dan pengorbanan serta kesabaran, karena hidup adalah perjuangan yang tidak lepas dari tantangan dan rintangan. Wallahu A’lam and Good luck ……..!

Kemandirian Belajar

14 komentar

A.Pengertian Kemandirian
Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu. Seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah lepas dari cobaan dan tantangan. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.

Menurut kamus besar bahasa indonesia (1996:625), kemandirian diartikan sebagai keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Menurut Mungin Eddy Wibwo (1992:69) kemandirian diartikan sebagai tingkat perkembangan seseorang dimana ia mampu berdiri sendiri dan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri dalam melakukan berbagai kegiatan dan menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Sedangkan Hasan Basri (1994:53) mengatakan bahwa kemandirian adalah keadaan seseorang dalam kehidupannya mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian adalah kemampuan seseorang (siswa) dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara nyata tanpa bergantung dengan orang lain, dalam hal ini siswa mampu melakukan belajar sendiri, dapat menetukan belajar yang efektif , dan mampu melakukan aktifitas belajar secara mandiri.

B.Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat, bagi pelajar atau siswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.

Menurut Slameto, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Sedangkan Moeslichatoen mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai proses yang memuat terjadinya proses belajar dan perubahan itu sendidri dihasilakan dari usaha dalam proses belajar. (Abdul Hadis, 2008:60).

Sedangkan Hilgrd & Blower ( dalam Hamalik, 2004 : 45 ) mengatakan belajar adalah perubahan dalam perbuatan melalui aktivitas , praktek dan pengalaman.
Dalam belajar terdapat hal – hal pokok sebagai berikut :
a. Bahwa belajar itu membawa perubahan ( dalam arti behaviorel changes, aktual maupun potensial )
b. Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkan kecakapan baru.
c. Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja) (Suryabrata,2001: 232).

Berdasarkan pendapat para ahli datas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan didalam diri seseorang yang disengaja dan terarah untuk menuju pada suatu tujuan kepribadian yang lebih utuh dan tangguh. Dalam dunia pendidikan, belajar merupakan proses siswa yang tidak tahu menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dan sebagainya. Dengan demikian belajar dalam penelitian adalah unsur yang terkait dengan kemandirian, belajar yang dimaksud adalah belajar yang mandir, yang dapat menjadikan siswa mampu belajar secara mandiri.

C.Kemandirian Siswa dalam Belajar
Setiap siswa memiliki gaya dan tipe belajar yang berbeda dengan teman-temannya, hal ini disebabkan karena siswa memiliki potensi yang berbeda dengan orang lain. Menurut Hendra Surya (2003:114), Belajar mandiri adalah proses menggerakan kekuatan atau dorongan dari dalam diri individu yang belajar untuk menggerakan potensi dirinya mempelajari objek belajar tanpa ada tekanan atau pengaruh asing di luar dirinya. Dengan demikian belajar mandiri lebih mengarah pada pembentukan kemandirian dalam cara-cara belajar.
Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah aktivitas belajar yang didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri tanpa bantuan orang lain serta mampu mempertanggung jawabkan tindakannya. Siswa dikatakan telah mampu belajar secara mandiri apabila ia telah mampu melakukan tugas belajar tanpa ketergantungan dengan orang lain.

D.Ciri-Ciri Kemandirian Belajar
Agar siswa dapat mandiri dalam belajar maka siswa harus mampu berfikir kritis, bertanggung jawab atas tindakannya, tidak mudah terpengaruh pada orang lain, bekerja keras dan tidak tergantung pada orang lain. Ciri-ciri kemandirian belajar merupakan faktor pembentuk dari kemandirian belajar siswa.

Menurut Chabib Thoha (1996: 123-124) membagi ciri kemandirian belajar dalam delapan jenis, yaitu :
a. Mampu berfikir secara kritis, kreatif dan inovatif.
b. Tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.
c. Tidak lari atau menghindari masalah.
d. Memecahkan masalah dengan berfikir yang mendalam.
e. Apabila menjumpai masalah dipecahkan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.
f. Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda dengan orang lain.
g. Berusaha bekerja dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan.
h. Bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa ciri-ciri kemandirian belajar pada setiap siswa akan nampak jika siswa telah menunjukkan perubahan dalam belajar. Siswa belajar untuk bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan padanya secara mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
E.Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar
Menurut Hasan Basri (1994:54) kemandirian belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang terdapat di dalam dirinya sendiri (endogen) dan faktor – faktork yang terdapat di luar dirinya (eksogen).
a. Faktor endogen
Faktor endogen adalah semua pengaruh yang bersumber dari dalam dirinya sendiri, seperti keadaan keturunan dan konstitusi tubuhnya sejak dilahirkan dengan segala perlengkapan yang melekat padanya. Segala sesuatu yang dibawa sejak lahir adalah merupakan bekal dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan individu selanjutnya. Bermacam-macam sifat dasar dari ayah dan ibunya mungkin akan didapatkan didalam diri seseorang, seperti bakat, potensi, intelektual dan potensi pertumbuhan tubuhnya.
b. Faktor eksogen
Faktor eksogen adalah semua keadaan atau pengaruh yang berasal dari luar dirinya, sering pula dinamakan dengan faktor lingkungan. Lingkungan kehidupan yang dihadapi individu sangat mempengaruhi perkembangan seseorang, baik dalam segi negatif maupun positif. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik terutama dalam bidang nilai dan kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadian, termasuk pula dalam hal kemandiriannya.

Menurut Chabib Thoha (1996:124-125) faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian dapat dibedakan dari dua arah, yakni :
a. Faktor dari dalam
Faktor dari dalam dari anak antara lain faktor kematangan usia dan jenis kelamin. Di samping itu intelegensi anak juga berpengaruh terhadap kemandirian anak.
b. Faktor dari luar
Adapun faktor dari luar yang mempengaruhi kemandirian anak adalah:
1) Kebudayaan, masyarakat yang maju dan kompleks tuntutan hidupnya cenderung mendorong tumbuhnya kemandirian dibanding dengan masyarakat yang sederhana.
2) Keluarga, meliputi aktifitas pendidikan dalam keluarga,kecendrungan cara mendidik anak, cara memberikan penilaian kepada anak bahkan sampai cara hidup orang tua berpengaruh terhadap kemandirian anak.
3) Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja sebagai siswa.
4) Sistem kehidupan di masyarakat. Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hirarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja atau siswa.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam mencapai kemandirian seseorang tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendasari terbentuknya kemandirian itu sendiri. Faktor-faktor tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan selanjutnya akan menentukan seberapa jauh seorang individu bersikap dan berfikir secara mandiri dalam kehidupan lebih lanjut. Kemnadirian siswa dalam belajar akan terwujud sangat bergantung pada siswa tersebut melihat, merasakan, dan melakukan aktifitas belajar atau kegiatan belajar sehari-hari di dalam lingkungan tempat tinggalnya.

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum