Menanamkan Kebiasaan Baik Sejak Dini

Kamis, 04 Oktober 2012 0 komentar

Pendidikan adalah proses pengembangan diri seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik.

Sejatinya, pendidikan harus menghasilkan manusia yang cerdas, cakap, dan bertanggung jawab, serta berakhlak muliya. Yang mana dalam hal ini mengimplementasikan tiga aspek kehidupan manusia sebagaimana disebutkan di atas.

Namun pada realitanya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang hanya menghasilkan manusia yang hanya unggul pada aspek kognitif saja, sementara dua aspek yang lainnya terabaikan.

Banyak lembaga pendidikan yang mengahsilkan peserta didik yang cerdas dan pintar. Namun ironisnya mereka menjadi manusia manusia yang tidak beradab.mereka tidak mempunyai rasa hormat, sopan dan santun dalam keseharian mereka, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun di lingkungan masyarakat pada umumnya.

Di sekolah, banyak peserta didik yang mempunyai kebiasaan ngeyel, kebiasaan, mengolok-olok, dan kebiasaan bertindak nakal. Kebiasaan-kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan kepada sesama temannya, akan tetapi yang lebih parah lagi kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan terhadap gurunya.

Sementara di rumah, masih banyak anak-anak yang yang suka melakukan kebiasaan buruk serupa terhadap orang tua mereka, begitu juga di lingkukangan masayarakat tempat tinggal mereka.

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, kitab yang menjelaskan tentang konsep belajar, pada bab ilmu dijelaskan bahwa ilmu yang perioritas dalam kehidupan sosial manusia adalah ‘Ilmul Hal. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu akhlak, yakni ilmu yang membahas tentang adab dan sikap seseorang dalam kehidupa sosial. Karena sejatinya orang yang berilmu akan mengimplentasikan dirinya sebagai orang yang beradab. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin baik akhlaknya, bukan sebaliknya.

Indahnya Beramal Di Bulan Ramadhan

Kamis, 19 Juli 2012 0 komentar

Segala puji bagi Allah yang menjadikan bulan Ramadhan lebih baik dari pada bulan-bulan lainnya dengan menurunkan al-Qur`an dan mewajibkan puasa bagi kaum muslimin sebagai salah satu pondasi Islam. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad saw. Yang telah menyampaikan kepada kita tentang ibadah-ibadah di bulan Ramadhan dan memberikan contoh kepada kita bagaimana sebaiknya menghidupkan bulan - bulan yang penuh berkah ini.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, 'Rasulullahsaw.memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat dalam bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka ia tidak memperoleh apa-apa." HR. Ahmad dan an-Nasa`i.

Berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan di bulanRamadhan:

1. Puasa: Allah memerintahkan berpuasa di bulan Ramadhan sebagai salah satu rukun Islam. FirmanAllah : "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". (QS. Al-Baqarah:183)

Rasulullahsaw.bersabda: "Islam didirikan di atas lima perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad saw .adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan pergi ke Baitul Haram." Muttafaqun 'alaih.

Puasa di bulan Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa yang terdahulu apabila dilaksanakan dengan ikhlas berdasarkan iman dan hanya mengharapkan pahala dari Allah, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telahlalu."Muttafaqun 'alaih.

2. Membaca al-Qur`an :Membaca al-Qur`an sangat dianjurkan bagi setiap muslim di setiap waktu dan kesempatan.Rasulullahsaw.bersabda:"Bacalah al-Qur`an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yaitu, orang yang membaca, mempelajari dan mengamalkannya). HR. Muslim.

Dan membaca al-Qur`an lebih dianjurkan lagi pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan al-Qur`an. FirmanAllah :"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hakdan yang bathil)". (QS: al-Baqarah:185)

 Rasulullah saw.selalu memperbanyak membaca al-Qur`an di hari-hari Ramadhan, seperti diceritakan dalam hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Saya tidak pernah mengetahui Rasulullah saw.membaca al-Qur`an semuanya, sembahyang sepanjangmalam, dan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan." HR. Ahmad. Dalam hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan al-Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah saw.melakukan tadarus al-Qur`an bersama Jibril di setiap bulan Ramadhan.

Motivasi Hidup 2

Minggu, 10 Juni 2012 3 komentar


Jangan putus asa saat masalah menyulitkanmu. Banyak yang masalahnya lebih besar tapi tetap berjuang menjalani hidup.
Membohongi orang yang selalu mempercayaimu sama ruginya dengan mempercayai orang yang selalu membohongimu.
Cinta bisa memberimu luka, tapi cinta juga bisa menjadi obat yang akan menyembuhkan luka itu.
Manusia hanya bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan.
Memaafkan memang tak semudah membalik telapak tangan. Namun tak ada salahnya mencoba jika saling memaafkan bisa membuat hidupmu tenang.
Orang yang sedang jatuh cinta itu dibutakan perasaannya, dia tidak tau mana yang benar dan mana yang salah.
Sepahit apapun kehidupan yg dijalani pasti baik bila membuat kita smakin dekat dg Allah.
Bila kita berani jujur melihat aib,dosa, kekurangan diri, pasti tak akn sakit hati bila dihina.
Siapapun yg jujur melihat aib atau keburukan dirinya, pasti tak bangga dg pujian yg datang padanya.
Siapapun yg berani Jujur melihat dosa atau keburukan diri, maka dia akan tau betapa Maha Baiknya Allah yg mmberi ksempatn tobat.
Jadilah diri sendiri. Jika ada yang tidak suka, itu urusan mereka.
Mngobral pandangan melihat yg tak halal hanya akan mengotori pikiran, mngeraskan hati, malas ibadah dan diperbudak nafsu.
Menjaga pandangan menentramkan hati, ibadah nikmat, munajat lezat.
Jangan suka ingin dikasihani orang, tak ada gunanya selain membuat diri jadi hina, cukuplah ingin dikasihani Allah, berkah.
Ketika kamu sudah mencapai pada titik teratas dalam hidupmu, jangan lupa bahwa kamu pernah memulainya dari bawah.
Berterima kasihlah pada mereka yang pergi meninggalkanmu, mereka menyadarkanmu bahwa di dunia ini tak ada yang abadi.
Hidup kudu ceria. Apapun kesulitannya. Ceria. Kalo ga bisa, pura2lah ceria. Ga boleh nunjukin duka
Terkadang beberapa tindakan tidak akan selalu mendatangkan kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah apa yang kamu rasakan.
Yang membuktikan siapa dirimu sebenarnya adalah perbuatanmu, bukan omonganmu.
Sepahit apapun kehidupan yg dijalani pasti baik bila membuat kita smakin dekat dg Allah
Kalo gara2 galau, jadi banyak zikir, itu tanda Allah KANGEN... Nikmatin aja kegalauan itu...
Saat kamu mulai tidak memperhatikan orang tuamu, katahuilah bahwa tiap detik waktumu di dunia ini adalah karena mereka.
Hal yang tersulit dalam suatu hubungan adalah mempertahankannya.
Kenanglah masa lalumu yang indah, tapi tetaplah ingat bahwa kamu masih memiliki masa depan yang juga harus kamu buat menjadi indah.
Masa lalu itu adalah pelajaran kehidupan dimana yang baiknya itu diambil, yang kurang baiknya dibuang jauh-jauh.
Bila kita berani jujur melihat aib,dosa, kekurangan diri, pasti tak akn sakit hati bila dihina
Jika cinta, jangan tuntut dia untuk menjadi sempurna. Cinta harusnya menerima, memahami dan mempertahankan demi kebahagiaan bersama.
Boleh punya keinginan, tapi setidaknya dahulukan apa yang benar-benar kamu butuhkan saat ini.
Dalam cinta, kadang yang harus kita lakukan adalah mencoba mengerti apa yang ia inginkan walaupun ia tidak mengatakan apapun.
Obat galau: لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, baca 300x dah per hari, atau sebanyak2nya pas gelisah.
Tuhan, aku bersyukur atas segala yang telah Engkau berikan. Tuntunlah langkahku menuju kebahagiaan. Aamiin
Siapapun yg jujur melihat aib/keburukan dirinya, pasti tak bangga dg pujian yg datang padanya
Saat aku terjatuh, ibuku menghapus air mataku dan ayahku mengajariku untuk menjadi lebih kuat. Tuhan, aku mencintai mereka, jagalah mereka.
Yang akan terjadi besok belum bisa dipastikan, tapi kamu bisa mempersiapkan dirimu mulai sekarang.
Siapapun yg berani Jujur melihat dosa/keburukan diri, maka dia akan tau betapa Maha Baiknya Allah yg mmberi ksempatn tobat
Jagalah perasaan wanita. Ia mungkin berusaha kuat di hadapanmu, tapi kamu tidak tahu jika dia meneteskan air mata saat di belakangmu.
Jika seseorang mengkhianatimu, itu kesalahannya. Jika kamu dikhianati untuk yang kedua kalinya, itu kesalahanmu karena telah percaya.
Sebelum berjanji, yakinlah bahwa kamu bisa menepati. Mendapatkan kepercayaan mungkin mudah. Tapi jika hilang, sulit untuk mengembalikannya.
Kadang hal yang paling kamu syukuri dalam hidup bukanlah saat kamu jatuh cinta, tapi saat kamu terlepas dari cinta yang salah.
Jangan pernah membenci dirimu, jika kenyataan itu tak seperti yang kamu inginkan.
Beranilah dalam mengambil resiko jika ingin berkembang, jika hanya ingin aman saja kamu akan terus berjalan di tempat.
Menjaga pandangan menentramkan hati, ibadah nikmat, munajat lezat
Belajar untuk menikmati dan mensyukuri dengan apa yang diberikan Tuhan kepada kita.
Untuk bisa dicintai Allah, usahakan cintai apa yg dicintai Allah: baca Qur'an, ke masjid, berjamaah, qiyaamullail, puasa2 sunnah...
Dan malaikat langit menyuruh lagi penghuni bumi mencintai dia. Maka, cintailah Allah, semoga Allah mencintai kita.
Kadang seseorang menjauhimu bukanlah karena membencimu, melainkan dia sudah lelah terus kamu sakiti saat kamu dekat dengannya.
Kadang- kadang perpisahan itu bisa menjadi suatu kebahagiaan, karena perpisahan mungkin bisa membuat hatimu tidak tersakiti lagi.
Tuhan, jauhkanlah aku dari keputus asaan, berilah aku kekuatan untuk menghadapi segala cobaan.

Manajemen Pendidikan

Sabtu, 19 Mei 2012 0 komentar

A.Pendahuluan
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna diantara beberapa ciptaanNya dimuka bumi ini, karena Allah telah melengkapinya dengan tiga matra (dimensi) persis seperti “segi tiga” yang sama panjang dan sisinya, yaitu badan, akal dan ruh. Ini adalah matra pokok dalam kepribadian manusia. Kemajuan, kebahagiaan dan kesempurnaan kepribadian manusia banyak tergantung kepada keselarasan dan keharmonisan antara tiga dimensi pokok tersebut.

Untuk mewujudkan adanya keselarasan dan keharmonisan pada tiga dimensi pokok tersebut, maka hal itu harus diupayakan, yang salah satunya adalah dengan pendidikan. Karena pendidikan dalam arti yang luas adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan pada diri seseorang tiga aspek dalam kehidupannya, yakni pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup. Suatu keharusan bahwa dalam proses penyelenggaraan pendidikan memerlukan sebuah perencanaan atau manajemen yang matang.

Karena planning atau perencanaan adalah suatu proses menetapkan sejumlah kegiatan, tujuan, waktu pelaksanaanya, tenaga pelaksana, cara melaksanakannya, dan prosedur pelaksanaan kegiatan tersebut, semua hal itu ditetapkan terlebih dahulu untuk mencapai tujuan akhir dari suatu organisasi. Agar mencapai hasil yang maksimal, maka dalam proses sebuah pendidikan kiranya tidaklah mungkin dapat dilakukan oleh orang seorang, secara sendiri-sendiri atau individual, karena permasalahan yang dihadapi akan semakin bertambah berat, seiring dengan perkembangan zaman serta tuntutan dan permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat. Oleh karena itu dalam proses penyelenggaraan pendidikan harus dilakukan dengan kerjasama pada suatu kesatuan yang teratur, rapi serta dengan perencanaaan yang baik, menggunakan sistem kerja yang efekttif dan efisien.

Dengan kata lain dalam menghadapi masyarakat / konsumen atau objek pendidikan yang saat ini semakin komplek dengan berbagai macam problematikanya, maka penyelenggaraan pendidikan akan dapat berjalan efektif dan efisien manakala dapat di identifikasi dan di antisipasi terlebih dahulu berbagai masalah dan hambatan-hambatan yang mungkin akan muncul.

Manajemen pada awalnya hanya tumbuh dan berkembang pada dunia industri dan perusahaan saja. Lain dari pada itu, ada juga orang yang memang belum memahami perlunya manajemen dalam sebuah organisasi demi keberhasilan program-programnya. Ada dua asumsi pemahaman, pertama bahwa penerapan dan pengembangan manajemen disini berorentasi pada kegiatan ekonomi dengan pendekatan rasional. Kedua, hambatan kultural pada penerapan manajemen dalam organisasi yang tumbuh dan berkembang secara natural.

Penerapan manajemen yang baik dan tepat guna akan memberikan hasil yang efektif dan efisien. Karena manajemen berfungsi sebagai ”controling” atau pengendali kegiatan, pemeriksaan, pencocokan, penilaian, koreksi dan mengusahakan agar pekerjaan dapat terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan menghasilkan secara maksimal.

Motivasi Hidup 1

Sabtu, 14 April 2012 1 komentar

Jangan memaksakan dia untuk mencinta. Jika memang rasa itu ada, dia akan tulus memberikannya.

Hidup banyak dosa pasti tak akan pernah tenang

Bersyukurlah, syukur adalah cara mempertahankan nikmat yang ada dan mendapatkan nikmat yang belum ada

Hidup ini memang tidak selalu memberikanmu keberhasilan yang terbaik. Maka bersiaplah juga pada kemungkinan terburuknya.

Jangan suka ingin dikasihani orang, tak ada gunanya selain membuat diri jadi hina, cukuplah ingin dikasihani Allah

Belajarlah dari masa lalu, bersiaplah hadapi masa depan dan jalani hari ini sebaik mungkin. Dunia terus berputar, jangan sampai tertinggal.

Apa yang tampak indah belum tentu benar-benar indah, apa yang tampak buruk belum tentu benar-benar buruk. Jangan menilai sebelum mengenal.

Di dunia ini ada banyak hal yang bisa membuatmu terjatuh. Salah satu yang paling berkuasa dan bisa menjatuhkanmu adalah dirimu sendiri.

Kesempatan kedua itu langka, tapi tidak lebih berharga dari kesempatan pertama. Karenanya, jangan pernah buang kesempatan yang kamu punya.

Mencintai berarti siap untuk bersama-sama menghadapi segala yang akan kamu temui, baik hal-hal baik maupun buruk.

Jadilah dirimu sendiri karena itulah satu-satunya hal yang tidak bisa orang lain lakukan kecuali dirimu.

Cinta sejati tak akan memaksamu untuk berubah, kamu akan berubah menjadi dirimu yang lebih baik atas keinginanmu sendiri karena cinta.

Slamat istirahat shbtku.. Sambil terus berbisik menyebut nama Allah, nscya teduh hati ini..

Jangan biarkan orang yang tidak suka pada semua yang kamu lakukan membuatmu berhenti. Ia hanya iri karena tidak bisa melakukannya sepertimu.

Biasakanlah bersyukur atas segala yang ada padamu sebelum waktu memaksamu untuk melupakan apa yang telah hilang darimu.

Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah Dalam Mengevaluasi Pelaksanaan Kurikulum Integral

0 komentar

A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu proses yang sangat kompleks dan berjangka panjang, di mana berbagai aspek yang tercakup dalam proses saling erat berkaitan antara yang satu dengan yang lain dan bermuara pada terwujudnya manusia yang memiliki nilai hidup, pengetahuan hidup dan keterampilan hidup. “Proses ini bersifat kompleks, karena interaksi di antara berbagai aspek tersebut seperti, guru, bahan ajar, fasilitas, kondisi siswa, lingkungan, dan metode pengajaran, tidak selamanya memiliki sifat dan bentuk yang konsisten yang dapat dikendalikan. Hal ini mengakibatkan penjelasan terhadap fenomina pendidikan bisa berbeda-beda, baik karena waktu, tempat maupun subjek yang terlibat dalam proses”.

Sementara sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi yang di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama yang lain berkaitan dan saling menentukan. Sedangkan sifat unik menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi yang memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, di mana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan hidup manusia. Karena sifat yang kompleks dan unik itulah, sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.

Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menetukan titik pusat dan irama sekolah. Bahkan lebih jauh studi tersebut menyimpulkan bahwa “keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah”. Kepala sekolah dilukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staf dan para siswa, kepala sekolah adalah mereka yang mengetahui tugas-tugas mereka dan mereka menentukan irama bagi sekolah mereka.

Seorang kepala sekolah hendaknya memahami betul apa yang menjadi tugas dan peranannya di sekolah. Jika kepala sekolah mampu memahami tugas dan peranannya sebagai kepala sekolah, ia akan mudah dalam menjalankan tugasnya, terutama berkenaan dengan manajemen sekolah yang akan dikembangkannya. Bekal kemampuan dalam memahami kompetensi sebagai seorang kepala sekolah ini akan menjadi bekal dalam pelaksanaan tugas yang harus dilakukannya. Dalam hal ini, kinerja kepala sekolah sangat penting.

Penanggulangan Kemiskinan

Senin, 19 Maret 2012 1 komentar

A.Pendahuluan
Kemiskinan merupakan permasalahan yang seringkali dihadapi oleh negara-negara berkembang pada umumnya, termasuk juga salah satu masalah yang dihadapi oleh negara Indonesia. Berbagai macam kebijakan yang timbul sebagai dampak adanya reformasi juga menyebabkan perubahan dalam bidang politik, ekonomi dan pemerintahan yang ada di Indonesia, terlebih dengan diterapkannya Otonomi Daerah yang berpedoman pada Undang-Undang No. 22 Tahun 1999.

Berbagai strategi yang telah dilakukan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan memang perlu mendapat tanggapan serius seperti memicu pertumbuhan ekonomi nasional, menyediakan fasilitas kredit bagi lapisan miskin, membangun infrastruktur pedesaan dalam hal ini pembangunan pertanian, pengembangan wilayah/kawasan, proyek Inpres Desa Tertinggal (IDT) dan lain-lain.

Upaya-upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah hingga saat ini masih belum membuahkan hasil yang memuaskan. Masih banyak penduduk Indonesia baik di desa maupun di kota yang menderita kemiskinan. Ketidak berhasilan itu bersumber dari cara pemahaman dan penanggulangan kemiskinan yang selalu didasarkan pada pemikiran Neo-Klasik, yaitu masalah kemiskinan yang selalu diartikan sebagai sebuah kondisi ekonomi sematamata.

Pada sisi lain, kaum kulturalis menganggap bahwa kemiskinan bersumber dari budaya tertentu yang mengakibatkan orang menjadi fatalis dan malas. Akibat dari pandangan itu, proyek pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan masyarakat lapisan bawah hanya sebatas pada upaya perbaikan kondisi ekonomi (peningkatan pendapatan) dan perubahan budaya melalui proyek-proyek pelatihan kerja kelompok miskin agar mampu meningkatkan produktivitas.

Upaya pemberdayaan lapisan masyarakat miskin, diperlukan model kebijakan pendekatan alternatif yang partisipatoris. Model kebijakan ini sangat berlainan dengan model kebijakan konvensional yang sering digunakan karena adanya sifat pemihakan ideologis dari pengguna metode tersebut kepada objek penelitian. Pemihakan ini diwujudkan atas munculnya rasa kesetiakawanan peneliti terhadap yang diteliti, sehingga harkat dan martabat subjek penelitian terasa diangkat. Mengangkat rasa percaya diri lapisan miskin dalam menghadapi struktur politik yang beku merupakan tujuan utama penelitian partisipatoris karena orang-orang miskin tersebut pada akhirnya akan mampu menyuarakan kepen-tingannya. Kemampuan bersuara dalam struktur politik merupakan sebuah infrastruktur untuk menolong diri sendiri dari jebakan kemiskinan ekonomi dalam rangka meraih akses ekonomi.

B.Langkah Penanggulangan Kemiskinan
Problema kemiskinan bersifat multi-dimensional, maka strategi penanggulangannya tidak harus bersifat ekonomi semata sehingga apabila kebutuhan ekonomi sudah tercapai seolah-olah proyek penanggulangan kemiskinan itu juga ikut selesai. Ini berarti menenggelamkan persoalan-persoalan kemiskinan yang tidak berdimensi ekonomi seperti kemiskinan struktural atau politis. Untuk itu ada beberapa langkah yang perlu diperhitungkan dalam penanggulangan kemiskinan.

Pertama, Pemberdayaan masyarakat merupakan prasyarat mutlak bagi upaya penanggulangan masalah kemiskinan. Pemberdayaan ini bertujuan mene-kan perasaan ketidakberdayaan (impotensi) masyarakat miskin bila berhadapan dengan struktur sosial politis. Langkah konkretnya adalah meningkatkan kesadaran kritis atas posisinya dalam struktur sosial-politik dimana orang miskin bersangkutan tinggal. Tanpa kesadaran kritis dari orang miskin itu sendiri, mereka tetap bersifat tidak berdaya dan cenderung akan menyerah pada nasibnya.

Kedua, setelah kesadaran kritis muncul, upaya-upaya memutus hubungan yang bersifat eksploitatif terhadap lapisan orang miskin perlu dilakukan. Pemutusan hubungan itu dapat dilakukan bila terjadi reformasi sosial, budaya dan politik. Artinya, biarkan kesadaran kritis mereka muncul dan bersamaan dengan itu biarkan pula mereka melakukan reorganisasi dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas hidupnya.

Ketiga, tanamkan rasa kesamaan (egalitarian) dan berikan gambaran bahwa kemiskinan bukan merupakan takdir tetapi sebagai penjelmaan dari konstruksi sosial. Nasib mereka bukannya tidak dapat diubah, pasti dapat diubah namun yang mempunyai kekuatan untuk merubah hanya mereka sendiri. Artinya, Tuhan melahirkan setiap umatnya di dunia dalam keadaan yang sama. Kemiskinan dan ketimpangan bukan produk Tuhan tetapi produk masyarakat itu sendiri (the social construction).

Keempat, merealisasi perumusan pembangunan dengan melibatkan masyarakat miskin secara penuh. Sebagai contoh, bagaimana merelisasikan program Proyek Kawasan Terpadu (PKT) dengan perumus utama proyek itu adalah lapisan miskin. Ini hanya bisa tercapai kalau komunikasi politik antara pemegang kekuasaan, kelompok-kelompok atau person-person strategis, dan masyarakat miskin tidak mengalami distorsi. Apabila komunikasi politik mengalami distorsi maka rumusan pembangunan hanya mencerminkan kepentingan bukan lapisan miskin.

Kelima, perlunya pembangunan sosial dan budaya bagi masyarakat miskin. Selain perubahan struktural yang diperlukan juga perubahan nilai-nilai budaya. Perubahan ini dapat dilakukan dengan cara mensosialisasikan nilai-nilai positif kepada lapisan miskin seperti perencanaan hidup, optimisme, perubahan kebiasaan hidup, peningkatan produktivitas kerja dan kualitasnya, dan lain-lain.

Keenam, diperlukan redistribusi infrastruktur pembangunan yang lebih merata. Meskipun keempat langkah diatas dapat dipenuhi tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, orang miskin tetap saja tidak akan memperoleh akses ekonomi yang akibatnya tidak memiliki juga akses ke bidang-bidang lainnya. Dengan demikian butir-butir usulan itu seyogyanya dilakukan secara simultan dan terpadu.

Sumber tulisan : Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, S.H., M.Hum, Hukum Dan Kebijakan Kemiskinan, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 9, No. 1, Maret 2006: 1 – 18.

Analisis Kebijakan Pendidikan Tentang Penulisan Karya Tulis dalam Jurnal Ilmiah Sejalan dengan Peningkatan Sumber Daya Manusia Indonesia

Minggu, 18 Maret 2012 3 komentar

Penulis : Afga Sidiq Rifai*
Editor : Subliyanto**

A.Pendahuluan
Indonesia merupakan Negara besar yang di bangun oleh semangat besar para pejuang dalam memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah. Semangat kemerdekaan menuahkan hasil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraan sosial. Dalam rangka mencerdaskan bangsa Indonesia membangun sekolah-sekolah dari sabang sampai merauke, dari tingkat pendidikan dasar samapai dengan pendidikan tinggi.

Indonesia melalui pendidikan tingi telah mampu mencetak para sarjana, master dan doktor yang jumlahnya jutaan. Hasil ini cukup menggembirakan karena sejalan dengan semangat kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Maju tidaknya suatu bangsa bisa dilihat dari tingkat pendidikannya. Selain itu banyak juga para pelajar Indonesia yang melanjutkan studinya ke luar negeri, di kampus-kampus yang mempunyai peringkat di Dunia. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menetap dan bekerja di Negara tempat mereka belajar, ada juga yang kemudian menjadi guru besar dan mengajar di tempat mereka dulu belajar. Ini menunjukkan bahwa pelajar Indonesia sebenarnya mampu beringsaing dengan negara-negara maju di dunia.

Indonesia sudah bisa dikatakan negara yang memperhatikan pendidikan warganya, terlihat banyaknya sarjana yang di cetak, dan tidak sedikit juga yang kemudian berkarya di luar negeri, meskipun masih banyak juga rakyat Indonesia yang belum bisa merasakan pendidikan tinggi. Akan tetapi ketika melihat sedikitnya hasil karya lulusan perguruan tinggi baik sarjana maupun master dalam hal tulis-menulis maka Indonesia masih dikatakan cukup rendah, hal ini terlihat sedikitnya jurnal ilmiaah yang dimiliki oleh lembaga pendidikan tinggiIndonesia, Mendiknas menyebutkan penulisan jurnal ilmiah hanya sekitar 7% dari jumlah jurnal ilmiah yang ada di Malaysia, apadahal di awal kemerdekaannya Malaysia banyak mengimpor tenaga pendidik dari Indonesia.

Sedikitnya juranal ilmiah yang ada menunjukkan bahwa para pelajar Indonesia masih kurang dalam hal tulis menulis, melihat hal tersebut Kemendiknas mengeluarkan Surat Edaran bernomor 152/E/T/2012 kepada seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia baik Negeri maupun Swasta yang berisikan kewajiban menulis karya tulis ilmiah yang dimuat dalam jurnal ilmiah sebagai suatu syarat kelulusan mahasiswa S1, S2 dan S3. (Surat Edaran Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementrian Pendidikan Nasional Nomor 152/E/T/2012 27 Januari 2012).

Niat yang baik ini bertujuan agar mahasiswa Indonesia terbiasa menulis sebuah karya tulis ilmiah. Suatu kebijakan pasti akan mengalami pro dan kontra, sehingga tidak sedikit pula perguruan tinggi yang belum siap menjalankan SE dari Mendiknas tersebut, tidak sedikit pula pengamat pendidikan yang juga menanggapi SE dari Mendikanas tersebut dengan menyebutkan dampak positif dan negatif yang mungkin terjadi ketika Perguruan Tinggi dan mahasiswa diwajibkan menulis karya tulis ilmiah dalam jurnal.

Inilah yang akan penulis bahas dalam makalah ini yang berkaitan dengan karya tulis ilmiah, jurnal ilmiah, Surat Edaran nomor 152/E/T/2012 Ditjen Dikti kemendniknas 27 Januari 2012, pro dan kontra tentang SE mendiknas serta dampak positif dan negatif dari SE tersebut.

B.Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis ilmiah merupakan perwujudan kegiatan ilmiah yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Karya tulis ilmiah adalah karangan atau karya tulis yang menyajikan fakta dan pembahasan permasalahan ditulis dengan menggunakan metode penulisan yang baku, Pembahasan dilakukan berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian. (http://hafismuaddab.wordpress.com/2011/03/24/pengertian-karya-tulis-ilmiah/ diunduh 26 februari 2012 pukul 06:10 wib).

Selain itu karya tulis ilmiah dapat juga disebut dengan laporan hasil penelitian. Laporan hasil penelitian ditulis sesuai dengan tujuan laporan tersebut dibuat atau ditujuan untuk keperluan yang dibutuhkan. Laporan hasil penelitian dapat ditulis dalam dua macam, yaitu sebagai dokumentasi dan sebagai publikasi. Adapun karya tulis ilmiah merupakan publikasi hasil penelitian. Dengan demikian format yang digunakan dalam karya tulis ilmiah ini ditentukan oleh isi penelitian yang menggambarkan metode atau sistematika penelitian.

Karya tulis ilmiah yang berupa hasil penelitian ini dapat dibedakan berdasarkan sasaran yang dituju oleh penulis. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat akademik bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan objektif. Karya tulis ilmiah untuk kepentingan masyarakat umum biasanya disajikan dalam bentuk artikel.

Dari berbagai macam bentuk karya tulis ilmiah, karya tulis ilmiah memiliki persyaratan khusus. Persyaratan karya tulis ilmiah adalah:
1. Karya tulis ilmiah menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2. Karya tulis ilmiah ditulis secara cermat, tepat, benar, jujur dan tidak bersifat terkaan. Dalam pengertian jujur terkandung sikap etik penulis ilmiah yakni mencantukan rujukan dan kutipan yang jelas.
3. Karya tulis ilmiah disusun secara sistematis setiap langkah direncanakan secara terkendali, konseptual dan prosedural.
4. Karya tulis ilmiah menyajikan rangkaian sebab-akibat dengan pemahaman dan alasan yang indusif yang mendorong pembaca untuk menarik kesimpulan.
5. Karya tulis ilmiah mengandung pandangan yang disertai dukungan dan pembuktian berdasarkan suatu hipotesis
6. Karya tulis ilmiah hanya mengandung kebenaran faktual sehingga tidak akan memancing pertanyaan yang bernada keraguan. Penulis karya ilmiah tidak boleh memanipulasi fakta, serta tidak bersifat ambisius dan berprasangka, penyajian tidak boleh bersifat emotif.


Berdasarkan uraian di atas, maka dalam menulis karya ilmiah memerlukan persiapan yang dapat dibantu dengan menyusun kerangka tulisan. Di samping itu, karya tulis ilmiah harus menaati format yang berlaku. Ketika mahasiswa menulis skripsi pada dasarnya mereka sedang menulis karya ilmiah.

C.Jurnal Ilmiah
1. Pengertian Jurnal Ilmiah
Jurnal adalah terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan yang sangat diminati orang saat diterbitkan . Bila dikaitkan dengan kata ilmiah di belakang kata jurnal dapat terbitan berarti berkala yang berbentuk pamflet yang berisi bahan ilmiah yang sangat diminati orang saat diterbitkan. (Buku Pegangan Gaya Penulisan, penyunting dan penerbitan Karya Ilmiah Pegangan Gaya Penulisan, Penyunting dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia, karya Mien A. Rifai, Gajah Mada Uneversity, 1995, h.57-95). (http://www.ditpertais.net/regulasi/jurnal/jur3.asp). Jurnal ilmiah adalah terbitan berkala yang berisi kajian-kajian ilmiah yang spesifik dan dalam bidang tertentu.

2. Akreditasi Jurnal Ilmiah
Suatu jurnal ilmiah bisa diajukan kepada direktorat pendidikan tinggi untuk mendapatkan Akreditasi jurnal dengan memenuhi syarat-syarat penilaian jurnal. Jurnal ilmiah yang diajukan untuk memperoleh Akreditasi, yaitu jurnal yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Jurnal yang telah terbit minimal selama 3 (tiga) tahun berturut-turut, terhitung mundur mulai tanggal terakreditasi.
b. Frekwensi penerbitan jurnal ilmiah minimal dua kali dalam satu tahun secara teratur. Bagi jurnal yang hanya sekali terbit dalam mengajukan akreditasi, harus mengajukan alasan-alasannya.
c. Jumlah tiras setiap kali penerbitan minimal 300 eksemplar.
d. Diterbitkan oleh Pengurus Perguruan Tinggi dibawah naungan Depdiknas, Himpunan Profesi dan Intansi Terkait.

Jurnal ilmiah berkala yang dinilai oleh Komisi Pengembengan Penerbitan Ilmiah diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu terakreditasi dengan nialai A atau dengan angka (80-100), terakreditasi dengan angka B atau dengan angka (70-79), dan terakreditasi dengan nilai C atau denfan angka (60-69). Jurnal ilmiah telah mendapatkan akreditasi, masa berlakunya selama 3 tahun.

Penilaian terhadap bobot jurnal Karya ilmiah, didasarkan pada beberapa kriteria dan pembobotan komponen-komponen dengan skor tertinggi masing-masing, yaitu : Nama berskala skor tetinggi(5), Kelembagaan penerbit (5), Penyunting (30), Kemantapan penampilan (10), Gaya penulisan (10), Substansi (25), Keberkalaan (12), dan Kewajiban pasca terbit (3). Dari kreteria tersebut, bobot yang paling tinggi mendapatkan skernya adalah pada criteria Penyunting (30) dan Substansi (25). Dua criteria itulah yang sangat dominant, disamping criteria lainnya untuk menentukan sebuah jurnal ilmiah dapat memenuhi kwalifikasi sebagai jurnal yang berkwalitas dan mendapat akreditasi dari Komosi Pengembangan Penerbitan Ilmiah.

3. Pendaftaran jurnal dan ISSN
Untuk mendaftarkan sebuah jurnal dan mendapatkan ISSN, lembaga penelitian atau pun perguruan tinggi harus melewati beberapa proses, yaitu:
a. Membawa surat permohonan tertulis dari penerbit bahwa terbitan berkala;Membawa dua eksemplar terbitan pertama, atau dua lembar fotokopi halaman sampul depan bila jurnal tersebut belum diterbitkan
b. Menyertakan dua lembar fotokopi halaman daftar isi
c. Menyertakan dua lembar fotokopi halaman dewan redaksi
d. Melampirkan data bibliografi lengkap yang mencakup keterangan mengenai frekuensi terbit, tahun pertama terbit, bahasa yang digunakan, dan lain sebagainya.
Masing-masing ISSN dikenakan biaya administrasi sebesar Rp 200 ribu. Registrasi bisa dilakukan langsung di PDII LIPI, atau mendaftar secara online melalui http://issn.pdii.lipi.go.id. Adapun, persyaratan serta bukti transfer biaya ISSN melalui surat atau fax.

ISSN adalah kode yang dipakai secara internasional untuk terbitan berkala, dan diberikan oleh International Serial Data System (ISDS) yang berkedudukan di Paris, Perancis. Dengan mendapatkan ISSN, akan memudahkan untuk mengidentifikasi beberapa terbitan yang memiliki judul sama karena satu ISSN hanya diberikan untuk satu judul terbitan berkala. ISSN juga mempermudah pengelolaan administrasi dalam hal pemesanan terbitan berkala. Sebab, pemesanan cukup hanya menyebutkan ISSN dari terbitan berkala itu. "Bagi jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia, ISSN merupakan salah satu syarat yang harusdipenuhi,"(http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/07/13253694/Bagaimana.Cara.Mengakreditasi.Jurnal.Ilmiah). Dari pengertian diatas suatu jurnal ilmiah yang baik adalah jurnal yang sudah terakreditasi oleh diktis, dan jurnal yang berkualitas memiliki akreditas A serta ber ISSN.

D.Surat Edararan Ditjen Dikti Nomor 152/E/T/2012
Surat edaran dari Direktorat jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Nasional yang dikelurkan pada tanggal 27 Januari 2012 dengan nomor surat 152/E/T/2012 berisi tentang persyaratan kelulusan bagi mahasiswa untuk Strata satu dengan ketentuan menghasilkan makalah yang diterbitkan di jurnal ilmiah, Strata Dua pada jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi Dikti dan Strata Tiga pada jurnal internasional, dan syarat ini mulai berlaku untuk kelulusan setelah Agustus 2012. (Surat Edaran Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementrian Pendidikan Nasional Nomor 152/E/T/2012 27 Januari 2012).

Kebijakan ini diambil berdasarkan minimnya publikasi tulisan penelitian ilmiah yang sesuai standar akademik. dan apabila dibandingkan dengan jurnal-jurnal negara Malaysia jurnal yang ada di Indonesia hanya sekitar 7% dari total jurnal ilmiah yang dimiliki Malaysia. Selain itu kebijakan ini bertujuan meningkatkan kualitas Sumber daya Manusia terutama para akademisi dalam hal tulis-menulis.

E.Pro Kontra SE Ditjen Dikti Nomor 152/E/T/2012
Adanya Surat Edaran yang dialamatkan kepada seluruh kampus yang ada di Indonesia baik Negeri maupun Swasta yang berkaitan dengan kewajiaban menerbitkan karya tulis ilmiah dalam jurnal mengalami Pro dan Kontra. Para pendukung kebijakan ini mempunyai beberapa alasan terkait dengan hal ini.

Djoko Santoso mengatakan bahwa “kebijakan ini merupakan “revolusi” ke arah kebaikan dan dalam rangka mengubah Indonesia yang saat ini berbudaya tutur ke budaya tulis. Karena mahasiswa merupakan insan akademik (ilmiah), sehingga dituntut bisa menulis karya untuk bisa dimuat di jurnal ilmiah”. (Koran Kedaulatan Rakyat, kamis 16 februari 2012 hal.13)

Pengamat Pendidikan AA Gde Oka Wisnu Murti mengatakan “Kebijakan ini sangat baik sangat baik bagi mahasiswa karena akan membangun budaya menulis dan masyarakat menjadi tahu produk-produk akademis yang dihasilkanmahasiswa. “namun harus diingat, biaya penerbitan jurnal itu mahal” (Koran Republika,Senin 20 februari 2012 hal.21).

Ki Supriyoko mengatakan “Beberapa PTS di Yogyakarta juga berhasil menerbitkan aneka jurnal ilmiah. Dalam skala nasional beberapa PTN dan PTS di Indonesia juga telah mampu menerbitkan aneka jurnal; masalahnya adalah rutinitas penerbitannya yang kurang terjaga dikarenakan berbagai alasan. Jadi, sebenarnya jurnal ilmiah itu mudah sehingga keinginan. Kemdikbud tentang pemuatan makalah di jurnal ilmiah sebagai persyaratan lulus sarjana, magister dan/atau doktor perlu didukung untuk mencerdaskan bangsa dan mengilmiahkan pola berpikir masyarakat akademis kita.” (http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=140882&actmenu=39).

Rektor Universitas Nasional (Unas) El Amry Bermawi Putera mengatakan, “Sampai hari ini pihaknya belum menerima surat edaran tersebut. Namun demikian, berdasarkan informasi yang diunduh melalui internet, dirinya mengaku mendukung ketentuan tersebut dengan catatan adanya insentif lebih dari Kemdikbud. Ia mengungkapkan, diwajibkannya mahasiswa mempublikasikan makalah dalam jurnal ilmiah akan berdampak baik bagi pembangunan semangat dan produktivitas mahasiswa dalam membaca, menulis, dan melakukan penelitian. Akan tetapi, menurutnya, waktu yang diberikan oleh Kemdikbud dirasa sangat tergesa. Mengingat, kata dia, aturan tersebut berlaku untuk mahasiswa lulusan setelah Agustus 2012. Selain itu, Jurnal online yang disiapkan pemerintah belum jelas definisinya. Mestinya, ada bantuan agar perguruan tinggi bisa menciptakan jurnal ilmiah atau pun fasilitas untuk mendukung jurnal online.” (http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/14/16253040/Rektor.Unas.Jurnal.Ilmiah.Baik.Tapi).

Muhammad Nuh mengatakan “Output universitas itu ada dua yakni orang dan karya ilmiah, karena itu jurnal ilmiah itu merupakan bentuk pertanggungjawaban universitas kepada masyarakat, sekaligus akan mengangkat nama universitas itu bila karya ilmiah yang dituliskan dipublikasikan pada jurnal 'online', artikel yang ditulis dan dipublikasikan akan mendorong penulisnya untuk serius dan hasilnya pun berkualitas, karena penulisnya tidak ingin malu di hadapan temannya dan orang lain yang membaca artikelnya secara "online". Publikasi karya ilmiah itu juga akan mewujudkan terjadinya dialektika ilmiah, karena artikel mana yang belum pernah ditulis dan artikel yang sudah pernah ditulis, akan menjadi bahan pembicaraan guna menghindari pengulangan dan mempercepat perkembangan iptek," (http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/12/02/18/lzl7n8-m-nuh-tak-ada-sanksi-bagi-universitas-yang-tolak-jurnal)

Alasan lain yang juga penting adalah publikasi karya ilmiah akan dapat mengangkat nama universitas yang bersangkutan, sehingga peringkat universitas yang sering mempublikasikan karya ilmiah pun akan cepat naik.

Adapun para penolak kebijakan ini mengungkapkan beragam alasan keberatannya penerbitan karya tulis ilmiah dalam jurnal ilmiah, bahkan jumlah yang menolak kebijakan ini relatif banyak, melalui Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) menyatakan sebanyak 3.150 Perguruan tinggi Swasta (PTS) menolak untuk mentaati kebajiban mahasiswa Strata Satu (S1) untuk membuat karya ilmiah sebagai syarat kelulusan. (Koran Kedaulatan Rakyat, jumat 17 Februari 2012 hal.8).

Sekjen Aptisi Suyatno mengatakan “PTS mempunyai kewenangan menolak karena kelulusan mahasiswanya ditentukan sendiri oleh pengelola kampus karena ada otonomi kampus. “sejak zaman Malik Fajar (Mendikbud) kami boleh meluluskan mahasiswa sendiri tanpa ada persetujuan dari Kemendikbud. Lagi pula buat apa dipaksakan, kalau dipaksakan malah mereka akan membuat karya ilmiah asal-asalan”, bila perlu Kemendiknas harus menunda kebijakan tersebut sesudah ada perbaikan sistem dan dukungan peralatan. Pasalnaya ratusan jurnal ilmiah yang dikirim tidak akan mudah tertampung dalam sistem jurnal ilmiah dengan bandwith dan akses yang ada saat ini. Apalagi infrastruktur di kampus berbeda satu sama lain”.

Edy Sunandi Hamid menilai persyaratan itu patut mendapatkan apresiasi,tapi tidak realistis, persyaratan itu tidak membumi, karena tidak sesuai dengan daya dukung jurnal di tanah air. Seandainya dari 3.000 perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air setiap tahun melulus kan 750.000 calon sarjana, harus ada puluhan ribu jurnal ilmiah di negeri ini, andai Indonesia saat ini ada 2.000 jurnal dan setiap jurnal terbit setahun dua kali dengan setiap terbit mempublikasikan lima artike, setiap tahun hanya bisa memuat 20.000 tulisan calon sarjana, dan masih kurang 730.000 tulisan yang belum di muat”. (Koran Republika, Senin 13 Februari 2012 hal.11).

Trianto safari mengatakan “Kenyataan mendasar kenapa mahasiswa kesusahan menulis karya ilmiah karena rendahnya kemampuan mahasiswa s1 dalam meramu dan menuliskan pemikirannya dalam bentuk makalah, bahkan dalam proses penulisan skripsi, kebanyakan mahasiswa hanya sedikit memiliki kemampuan menulis dengan baik, kesadaran akan ketidak mampuan ini menyebabkan banyak mahasiswa menyuruh orang atau menyerahkan penulisan skripsi kepada biro jasa skripsi, terlebih untuk mahasiswa yang berduit mereka lebih baik membayar jutaan rupiah untuk tugas akhir skripsi.” (Koran Republika, kamis 23 februari 2012 hal.28)

Dari beberapa pernyataan Pro dan kontra diatas dapat kita analisis bahwa sebenarnya kebijakan ini memperoleh dukungan hampir dari setiap kalangan baik dari mahasiswa, dosen dan pengamat pendidikan apabila esensi dari kebijakan ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, mendorong untuk melakukan beragam penelitian , publikasi penelitian dan pengembangan Ilmu Pengetaan, serta meningkatkan karya tulis dikalangan mahasiswa, dosen dan peneliti. Terlebih ada dukungan pemerintah untuk memperbanyak jurnal-jurnal yang telah ada dan mepercepat penerbitan jurnal dengan pemberian subsidi untuk tiap penerbitan jurnal.

Akan tetapi kebijakan ini dinilai kurang pas apabila pemerintanh kurang memperhitungkang berapa jumlah jurnal ilmiah yang tersedia dan berapa jumlah calon sarjana setiap tahunnya apakah sudah bisa menampung semua tulisan calon sarjana, selain itu juga pemerintah diminta memberikan subsidi untuk penerbitan jurnal ilmiah, pencetakan jurnal ilmiah dinilai relatif mahal, dan apabila ini terus dipaksakan akan memunculkan penerbitan jurnal secara asal-asalan yang sekedar memenuhi parsyaratan kelulusan mahasiswa, apabila ini terjadi maka filosofi di balik penerbitan jurnal ilmiah sebagai media mempublikasi karya akademik ini tidak tercapai, yang ada jurnal hanya menjadi media formalitas sebagai persyaratan untuk bisa meluluskan sarjana, master dan doktor. Bahkan akan bermunculan para joki dan biro jasa pembuatan karya tulis ilmiah, dan semangat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan Sumber Daya manusia dalam hal tulis-menulis tidak tercapai.

Latar belakang kenapa mahasiswa Indonesia kurang mahir dalam hal tulis-menulis karena iklim pendidikan di negera ini masih menjadikan dosen sebagai centre of knowledge sehingga di kelas mahasiswa cenderung pasif, dan seditnya minat mahasiswa untuk melakukan penelitian, selain itu apabila kita melihat materi yang diberikan untuk pedoman penulisa suatu karya ilmiah (skripsi,desis,disertsi) selalu diberikan di akhir-akhir kuliah dalam hal ini di semester-semester akhir dan jumlah Sistem Kredit Semester (SKS) untuk mata kuliah ini hanya dua atau tiga SKS saja. Dengan SKS yang relatif sedikit ini wajar apabila kemampuan mahasiswa dalam memahami tata cara penulism karya tulis ilmiah masih kurang baik. Dan sering kali salah bahkan belum bisa membuat kayta tulis ilmiah. Selain itu bermunculannya biro jasa pembuatan Skripsi,Tesisi dan Disertasi semakin menambah keterpurukan mahasiswa tidak bisa membuat suatu karya tulis ilmiah.

Apabila permasalahan-permasalahan yang dapat menghambat terlaksanannya kebijakan penerbitan karya tulis ilmiah bisa teratasi, terlebih sebelum kebijakan itu diberlakukan baik yang bersifat teknis maupun non teknis dengan menyiapkan dan meningkatkan Sumber Daya Manusianya, maka budaya tulis mahasiswa, dosen dan peneliti akan semakain meningkat, sehingga mutu suatu lembaga pendidikan bisa dilihat dari hasil karnya civitas akademik yang ada di dalamnya.

F.Simpulan
Suatu langkah dan kebijakan berani dan inovatif yang dilakukan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementrian Pendidikan Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012, meskipun banyak Pro dan kontra, itulah suatu kebijakan. Kebijakan ini akan berjalan dengan baik apabila Sumber Daya Manusia yang berkaitan dengan kebijakan ini sudah disiapkan dengan baik, sarana prasarana, teknis non teknis harus sudah bisa teratasi sebelum kebijakan ini diberlakukan.

*Afga Sidiq Rifai (Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Klijaga Yogyakarta)
**Subliyanto (Konsultan Pendidikan Integral Hidayatullah Yogyakarta)

Uregnasi Memahami Karakter Murid

0 komentar

Suatu hari saya menghadiri sebuah acara upgrading guru di sebuah lembaga pendidikan di sleman yogyakarta. Pada acara tersebut hadir sebagai pemateri seorang pakar dalam bidang pendidikn. Dan hadir sebagai peserta para tenaga pendidik sekolah dasar (SD).

Pada acara tersebut banyak disampaikan seputar tentang guru, yang mana pada intinya menjawab beberapa pertanyaan tentang siapakah guru? apa peran guru? dan pertanyan-pertanyaan lain yang masih terkait dengan guru.

Namun terdapat catatan kecil di notes saya terkait dengan peran guru yang disampaikan oleh pakar tersebut, sehingga menurut saya perlu dicerna kembali sebelum diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Dalam persentasinya pakar tersebut mengatakan bahawa “seorang guru tidak dikatakan berhasil dalam mendidik apabila tidak bisa mengkondisikan siswa dalam jam pelajaran, sehingga seorang guru harus tegas memberikan hukuman pada siswa yang membuat gaduh, melanggar, gojek, dan lain-lain. Hukuman tersebut harus diberikan sampai mereka merasa kapok sehingga tidak mengulangi lagi dan takut pada gurunya, dalam hal ini takut dalam tanda positif”.

Mendengar ungkapan pakar pendidikan tersebut, secara pribadi saya tersenyum dalam hati, karena saya mempunyai kacamata yang berbeda dengan pakar itu tentang hal tersebut.

Bagi saya pribadi “anak-anak tetaplah anak-anak, yang harus mengerti adalah yang punya anak”. Artinya seorang anak tidak bisa di paksakan memahami kita seperti layaknya orang dewasa, karena alam mereka berbeda dengan kita. Mereka memang harus melewati dan menikmati masa keanak-anakannya sebelum masuk masa dewasa. Sehingga kalau di rumah yang harus mengerti adalah orang tuanya, sedangkan di sekolah yang harus mengerti adalah gurunya, walaupun antara orang tua dan guru perlu bekerja sama secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan pendidikan secara sempurna.

Sementara “belajar adalah seni dan mengajar adalah seni tersendiri”. Artinya seorang guru harus mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam segala hal dalam mendidik. Karena fungsi utama guru adalah bagimana bisa mendampingi, membimbing serta memberi arahan kapada peserta didik dalam menggali potensi yang dimilikinya.

Sehingga seorang guru harus paham betul jiwa masing-masing anak untuk memudahkan guru dalam melakukan pendekatan kepada anak. Bukan justru memaksakan kehendak guru pada peserta didik, karena setiap peserta didik mempunyai gaya belajar masing-masing.

Kalau hal tersebut dipaksakan maka yang terjadi pada peserta didik adalah munculnya perasaan takut dan minder, karena selau dihantui oleh yang namanya hukuman. Dan ingatlah bahwa ditakuti lebih berbahaya, karena bisa jadi mereka takut di depan kita tapi kita lihat apa yang terjadi di belakang kita. Nah ketika peserta sudah merasa takut dan minder maka lenyaplah potensi-potensi yang ada. Potensi-potensi yang seharusnya digali dan dikembangkan malah dilenyapkan. Cara mendidik yang seperti inilah yang akan berakibat fatal pada siswa.

Oleh karena itu kita sebagai pendidik, marilah kita sama-sama mengamati dan memahmi betul karakter peserta didik kita satu persatu, potensi apa yang mereka miliki? Gaya belajar apa yang mereka senangi? Sehingga dari situlah kita akan menemukan berbagai macam metode untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada mereka. Jangan paksakan mereka selalu selalu dan selalu harus mengikuti kehendak kita walaupun apa yang kita kehendaki itu benar, akan tetapi mungkin caranya kurang benar sehingga sulit untuk diterima.

Kesejahteraan Sosial

Rabu, 14 Maret 2012 0 komentar

A.Pendahuluan
Kehidupan yang didambakan oleh semua manusia di dunia ini adalah kesejahteraan. Baik yang tinggal di kota maupun yang di desa, semua mendambakan kehidupan yang sejahtera. Sejahtera lahir dan bathin. Namun, dalam perjalanannya, kehidupan yang dijalani oleh manusia tak selamanya dalam kondisi sejahtera. Pasang surut kehidupan ini membuat manusia selalu berusaha untuk mencari cara agar tetap sejahtera. Mulai dari pekerjaan kasar seperti buruh atau sejenisnya, sampai pekerjaan kantoran yang bisa sampai ratusan juta gajinya dilakoni oleh manusia. Jangankan yang halal, yang harampun rela dilakukan demi kesejahteraan hidup.

Kesejahteraan menurutut paradigma sentra bisnis UKM adalah hakikat pembangunan yang mencakup bidang kehidupan yang luas. Secara praktis, Semua upaya ini perlu "tindakan" untuk memungkinkan setiap 'orang' agar dapat menikmati kehidupan yang kreatif, sehat dan sejahtera.

Dalam konteks mensejahterakan rakyat telah menjadi perhatian yang universal karena berkaitan dengan hak-hak hidup manusia, sebagaimana telah dilaporkan UNDP menjelang Word Summit for Social Development pada Maret 1995 di Copenhagen. Masalah ini mencakup tujuh unsur perlindunganyakni : 1) Perlindungan ekonomi. 2) Perlindungan makanan. 3) Perlindungan kesehatan. 4) Perlindungan lingkungan. 5) Perlindungan sosial. 6) Perlindungan polusi dan 7) Perlindungan pendidikan.

Semua unsur ini berkaitan dengan pembangunan manusia yang mengarah kepada Global Human Security Fund (Boer & Koekkoek:1994). Sejak krisis multidimensi yang mengawali proses reformasi, masalah fundamental ekonomi Indonesia ditandai dengan adanya kesenjangan antar daerah, antar sektor ekonomi, dan antar golongan penduduk. Keadaan ini yang sesungguhnya sudah terjadi sejak awal orde baru, telah memunculkan problema pengangguran, kemiskinan dan ketertinggalan kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Mereka adalah kelompok yang sangat rentan terhadap dampak krisis karena tidak memiliki akses kepada sumber daya ekonomi, terutama modal, sumber daya alam, teknologi, kesehatan, dan pendidikan, selain tidak mampu berperan serta dalam pembangunan dan kegiatan sosial ekonomi produktif.

Manusia atau angkatan kerja merupakan salah satu faktor produksi, sehingga bila timbul pengangguran pada suatu masyarakat berarti alokasi sumber daya dan produksi nasional relatif kurang normal. Karena itu, penyediaan lapangan kerja merupakan salah satu prioritas pembangunan di Indonesia, sebagai cara untuk memperluas pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya agar rakyat dapat hidup secara layak.

B.Arti Kesejahteraan Sosial
Menurut Segel dan Bruzy (1998:8), “Kesejahteraan sosial adalah kondisi sejahtera dari suatu masyarakat. Kesejahteraan sosial meliputi kesehatan, keadaan ekonomi, kebahagiaan, dan kualitas hidup rakyat.” Sedangkan menurut Midgley (1995:14) menjelaskan bahwa kesejahteraan sosial adalah suatu keadaan sejahtera secara sosial tersusun dari tiga unsur sebagai berikut: Pertama, setinggi apa masalah-masalah sosial dikendalikan. Kedua, seluas apa kebutuhan-kebutuhan dipenuhi. Dan ketiga, setinggi apa kesempatan-kesempatan untuk maju tersedia. Tiga unsur ini berlaku bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas, dan bahkan seluruh masyarakat.

Sedangkan Wilensky dan Lebeaux (1965:138) merumuskan kesejahteraan sosial sebagai sistem yang terorganisasi dari pelayanan-pelayanan dan lembaga-lembaga sosial, yang dirancang untuk membantu individu-individu dan kelompok-kelompok agar mencapai tingkat hidup dan kesehatan yang memuaskan. Maksudnya agar tercipta hubungan personal dan sosial yang memberi kesempatan kepada individu dalam pengembangan kemampuan mereka seluas-luasnya dan meningkatkan kesejahteraan mereka sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut Romanyshyn (1971:3) kesejahteraan sosial dapat mencakup semua bentuk intervensi sosial yang mempunyai suatu perhatian utama dan langsung pada usaha peningkatan kesejahteraan individu dan masyarakat sebagai keseluruhan. Kesejahteraan sosial mencakup penyediaan pertolongan dan proses-proses yang secara langsung berkenaan dengan penyembuhan dan pencegahan masalah-masalah sosial, pengembangan sumber daya manusia, dan perbaikan kualitas hidup itu meliputi pelayanan-pelayanan sosial bagi individu-individu dan keluarga-keluarga juga usaha-usaha untuk memperkuat atau memperbaiki lembaga-lembaga sosial.

C.Kesehateraan Sosial Dalam Islam
Pilar terpenting dalam keyakinan seorang muslim adalah kepercayaan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT. Ia tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT. (Q.S. Ar-Ra’du:36) dan (Q.S. Luqman: 32). Ini merupakan dasar bagi piagam kebebasan sosial Islam dari segala bentuk perbudakan. Menyangkut hal ini, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa tujuan utama dari misi kenabian Muhammad SAW. adalah melepaskan manusia dari beban dan rantai yang membelenggunnya (Q.S. Al-A’raaf:157).

Konsep kesejahteraan sosial dalam Islam adalah bahwa manusia dilahirkan mardeka. Karenanya, tidak ada seorangpun bahkan negara manapun yang berhak mencabut kemerdekaan tersebut dan membuat hidup manusia menjadi terikat. Dalam konsep ini, setiap individu berhak menggunakan kemerdekaannya tersebut sepanjang tetap berada dalam kerangka norma-norma Islam. Dengan kata lain, sepanjang kebebasan tersebut dapat dipertanggung jawabkan baik secara sosial maupun spiritual di hadapan Allah SWT.

Islam mengakui pandangan universal bahwa kebebasan indiviu merupakan bagian dari kesejahteraan yang sangat tinggi. Menyangkut masalah kesejahteraan individu dalam kaitannya dengan masyarakat, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa prinsip-prinsip kesejahteraan adalah 1) Kepentingan masyarakat yang lebih luas harus didahulukan dari kepentingan individu. 2) Melepas kesulitan harus diprioritaskan dibanding memberi manfaat. 3) Kerugian yang besar tidak dapat diterima untuk menghilangkan yang lebih kecil. Manfaat yang lebih besar tidak dapat dikorbankan untuk manfaat yang lebih kecil. Sebaliknya, hanya yang lebih kecil harus dapat diterima atau diambil untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar, sedangkan manfaat yang lebih kecil dapat dikorbankan untuk mandapatkan manfaat yang lebih besar.

Kesejahteraan individu dalam kerangka etika Islam diakui selama tidak bertentangan dengan kepentingan sosial yang lebih besar atau sepanjang individu itu tidak melangkahi hak-hak orang lain. Jadi menurut Al-Qur’an kesejahteraan meliputi faktor:

1.Keadilan dan Persaudaraan Menyeluruh
Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid. Dalam tatanan itu, setiap individu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagi suatu keluarga. Sebuah persaudaraan yang universal dan tak diikat batas geografis. Kesejahteraan tersebut akan terlihat adil dan menyeluruh jika kasih dan sayang sudah terjalin baik (Q.S Al-Hujuraat:13).

2.Nilai-Nilai Sistem Perekonomian
Nilai ekonomi yang standar, sederhana dan merata sesuai dangan acuan syariah merupakan hal yang sangat penting dalam perekonomian masyarakat, karena ekonomi dalam arti sejahtera tidak pernah lepas dari tatanan syariat Islam. Islam sangat mendorong penganutnya berjuang untuk mendapatkan materi/harta dengan berbagai cara, asalkan mengikuti rambu-rambu yang ditetapkan (Q.S. Al-Baqarah:168) dan (Q.S. Al-Maa’idah:87-88)

3.Keadilan Distribusi Pendapatan
Ketidakadilan dan eksploitasi disini dimaksudkan untuk melindungi hak-hak individu dalam masyarakat, juga untuk meningkatkan kesejahteraan umum sebagai tujuan utama. Kesenjangan pendapatan dan kekayaan alam yang ada dalam masyarakat, berlawanan dengan semangat serta komitmen Islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial-ekonomi (Q.S. Al-Maa’idah:8).

Kesejahteraan sosial harus diatasi dengan menggunakan cara yang ditekankan Islam. Diantaranya adalah cara-cara berikut:
1. Menghapuskan monopoli, kecuali oleh pemerintah, untuk bidang-bidang tertentu.
2. Menjamin hak dan kesempatan semua pihak untuk aktif dalam proses ekonomi, baik produksi, distribusi, sirkulasi, maupun konsumsi.
3. Menjamin basic needs fulfillment (pemenuhan kebutuhan dasar hidup) setiap anggota masyarakat.
4. Melaksanakan amanah at-takaaful al-ijtima’i atau social economic security insurance dimana yang mampu menanggung dan membantu yang tidak mampu.

Keadilan dalam arti sejahtera menurut Islam memiliki implikasi sebagai berikut:
1. Keadilan sosial
Islam menganggap ummat manusia sebagai suatu keluarga. Karenanya, semua aggota keluarga ini mempunyai derajat yang sama. Islam tidak membedakan yang kaya dan yang miskin, demikian juga tidak membedakan yang hitam dan yang putih. Secara sosial, nilai yang membedakan satu dengan yang lain adalah ketakwaan, ketulusan hati, kemampuan, dan pelayanannya pada kemanusiaan. “Sesungghnya Allah tidak melihat pada wajah dan kekayaanmu, tetapi pada hati dan perbuatan yang ikhlas (HR. Ibnu Majah dalam Kitab Zuhud, No. 4133)

2. Keadilan ekonomi
Konsep persaudaraan dan perlakuan yang sama bagi setiap individu dalam masyarakat dan di hadapan hukum harus diimbangi oleh keadilan ekonomi. Tanpa pengimbangan tersebut, keadilan sosial ekonomi kehilangan makna dari kesejahteraan tersebut. Dengan keadilan ekonomi, setiap individu akan mendapatkan haknya sesuai dengan kontribusi masing-masing kepada masyarakat. Setiap individu pun harus terbebaskan dari eksploitasi individu lainnya. Islam dengan keras melarang seorang muslim untuk merugikan orang lain.

D.Indikator Kesejahteraan Sosial
Menurut Wikipedia, sejahtera menunjuk ke keadaan yang lebih baik, kondisi manusia dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat atau damai. Lebih jauh, menurut Wikipedia, dalam ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan keuntungan benda. Menurut Wikipedia pula, dalam kebijakan sosial, kesejahteraan sosial menunjuk ke jangkauan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kesejahteraan meliputi seluruh bidang kehidupan manusia. Mulai dari ekonomi, sosial, budaya, iptek, hankamnas, dan lain sebagainya. Bidang-bidang kehidupan tersebut meliputi jumlah dan jangkauan pelayanannya. Pemerintah memiliki kewajiban utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.

Untuk mendapatkan kesejahteraan itu memang tidak gampang. Tetapi bukan berarti mustahil didapatkan. Tak perlu juga melakukan yang haram, sebab yang halal masih banyak yang bisa dikerjakan untuk mencapai kesejahteraan. Kita hanya perlu memperhatikan indikator kesejahteraan itu. Adapun indikator tersebut diantaranya adalah:

1. Jumlah dan pemerataan pendapatan.
Hal ini berhubungan dengan masalah ekonomi. Pendapatan berhubungan dengan lapangan kerja, kondisi usaha, dan faktor ekonomi lainnya. Penyediaan lapangan kerja mutlak dilakukan oleh semua pihak agar masyarakat memiliki pendapatan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa itu semua, mustahil manusia dapat mencapai kesejahteraan. Tanda-tanda masih belum sejahteranya suatu kehidupan masyarakat adalah jumlah dan sebaran pendapatan yang mereka terima. Kesempatan kerja dan kesempatan berusaha diperlukan agar masyarakat mampu memutar roda perekonomian yang pada akhirnya mampu meningkatkan jumlah pendapatan yang mereka terima. Dengan pendapatan yang mereka ini, masyarakat dapat melakukan transaksi ekonomi.

2. Pendidikan yang semakin mudah untuk dijangkau.
Pengertian mudah disini dalam arti jarak dan nilai yang harus dibayarkan oleh masyarakat. Pendidikan yang mudah dan murah merupakan impian semua orang. Dengan pendidikan yang murah dan mudah itu, semua orang dapat dengan mudah mengakses pendidikan setinggi-tingginya. Dengan pendidikan yang tinggi itu, kualitas sumberdaya manusianya semakin meningkat. Dengan demikian kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak semakin terbuka. Berkat kualitas sumberdaya manusia yang tinggi ini, lapangan kerja yang dibuka tidak lagi berbasis kekuatan otot, tetapi lebih banyak menggunakan kekuatan otak. Sekolah dibangun dengan jumlah yang banyak dan merata, disertai dengan peningkatan kualitas, serta biaya yang murah. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki kekuatan ekonomi, atau mereka yang tergolong cerdas saja. Tapi, semua orang diharuskan untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya. Sementara itu, sekolah juga mampu memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya. Pendidikan disini, baik yang bersifat formal maupun non formal. Kedua jalur pendidikan ini memiliki kesempatan dan perlakuan yang sama dari pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat. Angka melek huruf menjadi semakin tinggi, karena masyarakatnya mampu menjangkau pendidikan dengan biaya murah. Kesejahteraan manusia dapat dilihat dari kemampuan mereka untuk mengakses pendidikan, serta mampu menggunakan pendidikan itu untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya.

3. Kualitas kesehatan yang semakin meningkat dan merata.
Kesehatan merupakan faktor untuk mendapatkan pendapatan dan pendidikan. Karena itu, faktor kesehatan ini harus ditempatkan sebagai hal yang utama dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat yang sakit akan sulit memperjuangkan kesejahteraan dirinya. Jumlah dan jenis pelayanan kesehatan harus sangat banyak. Masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan tidak dibatasi oleh jarak dan waktu. Setiap saat mereka dapat mengakses layanan kesehatan yang murah dan berkualitas. Lagi-lagi, ini merupakan kewajiban pemerintah yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Apabila masih banyak keluhan masyarakat tentang layanan kesehatan, maka itu pertanda bahwa suatu negara masih belum mampu mencapai taraf kesejahteraan yang diinginkan oleh rakyatnya.

Inilah tiga indikator tentang kesejahteraan sosial. Inidikator ini akan menjadi faktor penentu dalam usaha-usaha yang dilakukan oleh semua pihak dalam mencapai kesejahteraan. Ketiga hal ini diyakini merupakan puncak dari gunung es kesejahteraan yang didambakan oleh semua orang.

Man Jadda Wajada

0 komentar

”Man Jadda Wajada“ Sebuah kata motivasi yang menjadi semangat bagi kalangan orang sukses. Salah satu contohnya adalah yang group band wali yang sukses menebar dakwah melalui seni musik, ternyata motivasi yang menyemangati mereka adalah kata “Man Jadda Wajada“. Begitu juga dengan Ahmad Fuadi yang sukses dengan novelnya yang berjudul “Negeri Lima Menara“ yang sampai divisualkan ke layar lebar saat ini, ternyata kunci kesuksesan mereka juga bermsumber dari kata “Man Jadda Wajada“.

Tapi tentunya semua itu tidak didapatkan begitu saja, semua itu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan serta kesabaran. Jadi tak heran jika bang haji Rhoma Irama memberi semangat perjuangan melalui syairnya bahwa “perjuangan dan pengorbanan takkan terelakkan kala menempuh kehidupan“ . Subhanallah luar biasa…! Ada apa di balik Man Jadda Wajada?

Salah satu jawabannya adalah sebuah kesabaran. Jadi kayaknya pas banget kalau kata “Man Jadda Wajada“ berangkat bareng dengan kata “Man shabara zhafira“. Sehingga keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat di pisahkan.

Kata “Man shabara zhafira“ yang artinya barang siapa yang bersabar maka ia akan beruntung. Yupz, betul banget bahwa dalam setiap hal kesabaran itu diperlukan banget, bukan hanya dalam mengejar cita-cita saja, apalagi cuma mengejar cinta…? Tanpa kesabaran, bisa dipastikan bakal kacau kehidupan di dunia ini.

Pentingnya perilaku sabar, Allah menyebutkannya dalam Al-Qur’an sejajar dengan shalat. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat,sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S. al-Baqarah [2]: 153).

Sabar itu tidak ada batasnya, namun memang kesabaran seseorang itulah yang ada batasnya. Sehingga bila ada ungkapan bahwa kesabaran itu ada batasnya, berarti dia itu sudah tidak sabar lagi. Sabar pun juga ada tempatnya. Sabar dalam menjauhi kemaksiatan, sabar dalam melakukan kebaikan, sabar dalam menunggu janji-janji Allah, dan sebagainya.

Imam al-Ghazali mengatakan "Sabar ialah suatu kondisi jiwa yang terjadi karena dorongan ajaran agama dalam mengendalikan hawa nafsu." Yang namanya dorongan agama dalam hal ini adalah al-Islam, maka dorongan tersebut pastilah bermakna positif dan baik.

Jadi yang dimaksud dengan sabar menurut pengertian Islam ialah rela menerima sesuatu yang tidak disenangi dengan rasa ikhlas, namun semua itu tentunya sijalani dengan ikhtiar serta tawakkal kepada Allah. Ada proses yang tidak mudah disini apalagi ketika sampai pada taraf rela menerima sesuatu dengan ikhlas meskipun tidak disenangi. Maka tak heran, bila kedudukan sabar disebut-sebut sejajar dengan kedudukan shalat.

Orang yang mampu bersabar disebut oleh Allah sebagai orang yang beruntung. Karena dengan sabar inilah, seseorang itu mampu mengendalikan hawa nafsunya terutama yang bersifat merusak. Sebagai seorang muslim yang beriman tentunya harus tangguh dan kokoh. Ia tak mudah hancur hanya karena tekanan hidup. Sebaliknya, tempaan hidup yang berat akan menjadikan dia semakin matang dan dewasa untuk menyikapi semua permasalahan yang ada. Sabar inilah sebagai salah satu kunci penolong ketika hidup mulai terasa berat.

Oleh karena itu, marilah kita sama-sama belajar bersabar mulai detik ini. Lapangkan dada dan pikiran kita dalam menerima cobaan Allah apa pun itu bentuknya baik berupa kebahagiaan maupun kesedihan. Dunia ini fana kok alias tak abadi. Bila kita mampu bersabar, Allah pasti akan mengganjar kita dengan berlipat pahala kebaikan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bekal sabar ini pula yang akan menentukan arah hidup kita, menuju kebaikan atau sebaliknya. Bulatkan tekad dalam hati kita bahwa kita bisa bersabar terhadap apa pun takdir Allah. Termasuk dalam perjalanan cinta….hehe . Dan agar kesabaran tetap ada, kita pun diperintahkan meminta pertolongan melalui shalat. Shalat adalah perintah Allah, sumber kekuatan seorang muslim, dan bekal dunia akhirat yang tidak ada habisnya. Dengan shalat, kita yang lemah ini, akan terhubung dengan Allah Yang Maha kuat dan Maha kuasa. Wallahu A’lam…!

Manajemen Pendidikan Unggul

Selasa, 07 Februari 2012 0 komentar

A.Manajemen Sekolah Dasar (SD) Unggul
Manajemen atau mengelola sekolah artinya mengatur agar seluruh potensi sekolah berfungsi secara optimal dalam mendukung tercapainya tujuan sekolah. Manajemen pendidikan dasar unggul diharapkan menjadi sebuah model pengelolaan dan layanan pendidikan yang lebih baik dan sekaligus sebagai wahana implementasi berbagai inovasi dan kebijakan.

Sekolah pendidikan dasar unggul yang sebenarnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Dalam konsep manajemen pendidikan dasar unggul yang saat ini diterapkan untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi, maka harus dirancang kurikulum yang baik untuk diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. Padahal sekolah unggul yang sebenarnya, keunggulan akan dapat dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Berarti tenaga administrasi, pengembang kurikulum di sekolah, kepala sekolah, guru, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif. Karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mampu membentuk keunggulan sekolah.

Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah memanajemen sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi, bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul yaitu keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dan masyarakat dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Beberapa kriteria pendidikan dasar menjadi unggul yang perlu diperhatikan yaitu: pertama, sekolah unggul membutuhkan legitimasi dari pemerintah bukan atas inisiatif masyarakat atau pengakuan masyarakat. Sehingga penetapan sekolah unggul cenderung bermuatan politis dari pada muatan edukatifnya. Apabila sekolah unggul didasari atas pengakuan masyarakat maka pemerintah tidak perlu mengucurkan dana lebih kepada sekolah unggul tersebut, karena masyarakat akan menanggung semua biaya atas keunggulan sekolah itu. Kedua, sekolah unggul hanya melayani golongan kaya, sementara itu golongan miskin tidak mungkin mampu mengikuti sekolah unggul walaupun secara akademis memenuhi syarat.

Untuk memperoleh pendidikan dasar unggul, selain harus memiliki kemampuan akademis tinggi juga harus menyediakan dana pendidikan yang cenderung banyak. Artinya penyelenggaraan sekolah unggul bertentangan dengan prinsip equity yaitu terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menikmati pendidikan yang baik. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan ini amat penting agar kelak melahirkan manusia-manusia unggul yang memiliki hati nurani yang berkeadilan. Ketiga, profil sekolah unggul hanya dilihat dari karakteristik prestasi akademik yang tinggi berupa daftar nilai ujian nasional (DANUN), input siswa yang memiliki daftar nilai ujian nasional (DANUN) tinggi, ketenagaan berkualitas, sarana prasarana yang lengkap, dana sekolah yang besar, kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan sekolah yang kesemuanya sudah unggul. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus.

Oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan dasar di sekolah unggul harus segera direstrukturisasi agar benar-benar bisa melahirkan manusia unggul yang bermanfaat bagi negeri ini. Bila pendidikan dasar unggul dimaksudkan untuk mengembangkan segala aspek pendidikan “whole School Development” dan mewujudkan pendidikan anak seutuhnya “whole child development”, maka manajemen pendidikan dasar unggul perlu memperhatikan aspek-aspek sumber daya manusia yang meliputi pengembangan tenaga kependidikan yang diarahkan pada guru, teknisi sumber belajar dan pustakawan, pengembangan tenaga pendukung lain seperti tenaga tata usaha dan penjaga sekolah.

Selain itu manajemen pendidikan dasar unggul juga memperhatikan komponen lain yang mendukung sekolah unggul meliputi manajemen kelas dan sekolah, manajemen gugus dan segala kegiatannya, hubungan sinergis dengan masyarakat demi terciptanya pengelolaan sekolah yang berbasis masyarakat dan stakeholder lainnya. Pembelajaran dan penilaian yaitu model-model pembelajaran inovatif, pengembangan kecakapan hidup (life skills) melalui Broad Based Education, pengembangan bakat dan minat siswa dalam berbagai bidang misalnya olah raga, Iptek, Imtaq, serta sosial budaya. Hal lainnya, pengembangan pendidikan multibudaya, sistem penilaian hasil belajar secara menyeluruh, sistematis dan berkelanjutan, pengembangan minat bakat, dan kreatifitas siswa secara berkelanjutan.

B.Manajemen Sekolah Menengah Pertama (SMP) Unggul
Sekolah Menengah Pertama (SMP) berpenampilan unggul merupakan alternatif dalam pendidikan yang menekankan kepada kemandirian dan kreatif sekolah yang memfokuskan pada perbaikan proses pendidikan. Konsep sekolah unggul menekankan pentingnya pemimpin yang tangguh dalam mengelola sekolah. Sekolah yang berpenampilan unggul atau sekolah yang efektif menggunakan strategi peningkatan budaya kerja, strategi pengembangan kesempatan belajar, strategi memelihara kendali mutu, strategi penggunaan kekuasaan, serta penggunaan dan informasi secara efisien.

Sekolah Menengah Pertama (SMP) berpenampilan unggul memerlukan upaya pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kegiatannya dalam menyampaikan pelayanan yang bermutu kepada siswa dan masyarakat. Untuk itu manajemen Sekolah Menengah Pertama (SMP) unggul yang berpenampilan unggul atau kinerja unggul menempatkan sumber-sumber informasi, pengetahuan dan keterampilan, dalam upaya perbaikan sekolah. Penggunaan sumber-sumber informasi, metode proses belajar mengajar, pengambilan keputusan dalam struktur organisasi sekolah atau birokrasi sangat menentukan sekolah berpenampilan unggul. Selain itu akuntabilitas diyakini sebagai faktor utama yang mempengaruhi sekolah unggul.

Guru yang selalu berhadapan dengan siswa di sekolah menempati peranan kunci dalam mengelola kegiatan proses belajar mengajar. Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebagai sekolah unggul yang dirintis akan menggunakan pendekatan sistem guru mata pelajaran. Keunggulan guru tidak hanya dilihat dari kemampuan intelektualnya melainkan juga keunggulan aspek moral, keimanan, ketaqwaan, disiplin, bertanggung jawab, dan keluasan wawasan kependidikannya dalam mengelola kegiatan proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Fattah (2004: 113), beberapa indikator yang menunjukkan sekolah berpenampilan unggul, yaitu : 1) Sekolah memiliki visi dan misi untuk meraih prestasi/mutu yang tinggi, 2) Semua personel sekolah memiliki komitmen yang tinggi untuk berprestasi, 3) Adanya program pengadaan staf sesuai dengan perkembangan iptek, 4) Adanya kendali mutu yang terus menerus (quality control), 5) Adanya perbaikan mutu yang berkelanjutan (continous quality inprovement), dan 6) Adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid dan masyarakat.

Gaya Mengajar Guru Profesional

3 komentar

A.Pendahuluan
Guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing siswa. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan (Uno, 2007: 15).

Guru merupakan suatu profesi, yang artinya suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih banyak terdapat seorang guru yang mempunyai latar belakang di luar bidang kependidikan. Untuk seorang guru yang berlatar belakang kependidikan perlu mengetahui dan dapat menerapkan beberapa prinsip mengajar agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu sebagai berikut :

1) Guru harus dapat membangkitkan perhatian siswa pada materi pembelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi. 2) Guru harus dapat membangkitkan minat siswa untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan. 3) Guru harus dapat membuat urutan dalam pemberian materi pembelajaran dan penyesuainnya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan siswa. 4) Guru perlu menghubungkan materi pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa (kegiatan apersepsi), agar siswa menjadi mudah dalam memahami materi pelajaran yang diterimanya. 5) Guru dapat menjelaskan unit materi pelajaran secara berulang-ulang sampai tanggapan siswa menjadi jelas. 6) Guru wajib memperhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara materi pelajaran dan/atau praktik nyata yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. 7) Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar siswa dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang diperoleh sendiri. 8) Guru harus mengembangkan sikap siswa dalam membina hubungan sosial baik dalam kelas maupun di luar kelas. 9) Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan siswa secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaan tersebut.

B.Konsep Gaya Mengajar Guru Profesional
Gaya mengajar adalah bentuk penampilan guru saat proses belajar mengajar baik yang bersifat kurikuler maupun psikologis. Gaya mengajar yang bersifat kurikuler adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran tertentu. Sedangkan gaya mengajar yang bersifat psikologis adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan motivasi siswa, pengelolaan kelas, dan evaluasi hasil belajar mengajar.

Gaya mengajar seorang guru berbeda antara yang satu dengan yang lain pada saat proses belajar mengajar walaupun mempunyai tujuan sama, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan, membentuk sikap siswa, dan menjadikan siswa terampil dalam berkarya. Gaya mengajar guru juga mencerminkan kepribadian guru itu sendiri dan sulit untuk diubah karena sudah menjadi pembawaan sejak kecil atau sejak lahir. Dengan demikian, gaya mengajar guru menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan prestasi siswa.

C.Macam-Macam Gaya Mengajar Guru Profesional
Gaya mengajar yang perlu diterapkan guru dalam proses belajar mengajar sebaiknya bersifat variatif, inovatif, serta mudah diterima oleh siswa dalam penyampaian materi pelajaran. Thoifuri (2007: 83), membedakan gaya mengajar guru yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran menjadi beberapa macam, yaitu gaya mengajar: klasik, teknologis, personalisasi, dan interaksional.

1)Gaya Mengajar Klasik
Guru dengan gaya mengajar klasik masih menerapkan konsepsi sebagai satu-satunya cara belajar dengan berbagai konsekuensi yang diterimanya. Guru masih mendominasi kelas dengan tanpa memberi kesempatan pada siswa untuk aktif sehingga akan menghambat perkembangan siswa dalam proses pembelajaran. Gaya mengajar klasik tidak sepenuhnya disalahkan manakala kondisi kelas yang mengharuskan seorang guru berbuat demikian, yaitu kondisi kelas dimana siswanya mayoritas pasif.

2)Gaya Mengajar Teknologis
Guru yang menerapkan gaya mengajar teknologis sering menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah selesai. Argumentasinya bahwa setiap guru dengan gaya mengajar tersebut mempunyai watak yang berbeda-beda, yaitu kaku, keras, moderat, dan fleksibel. Gaya mengajar teknologis ini mensyaratkan seorang guru untuk berpegang pada berbagai sumber media yang tersedia. Guru mengajar dengan memperhatikan kesiapan siswa dan selalu memberikan stimulan untuk mampu menjawab segala persoalan yang dihadapi. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari pengetahuan yang sesuai dengan minat masing-masing, sehingga memberi banyak manfaat pada diri siswa.

3)Gaya Mengajar Personalisasi
Guru yang menerapkan gaya mengajar personalisasi menjadi salah satu kunci keberhasilan pencapaian prestasi belajar siswa. Guru memberikan materi pelajaran tidak hanya membuat siswa lebih pandai semata-mata, melainkan agar siswa menjadikan dirinya lebih pandai. Guru dengan gaya mengajar personalisasi ini akan selalu meningkatkan belajarnya dan juga senantiasa memandang siswa seperti dirinya sendiri. Guru tidak dapat memaksakan siswa untuk menjadi sama dengan gurunya, karena siswa tersebut mempunyai minat, bakat, dan kecenderungan masing-masing.

4)Gaya Mengajar Interaksional
Guru profesional cenderung berpola pikir untuk menjadi guru dengan gaya mengajar interaksional. Guru dengan gaya mengajar interaksional lebih mengedepankan dialogis dengan siswa sebagai bentuk interaksi yang dinamis. Guru dan siswa atau siswa dengan siswa saling ketergantungan, artinya mereka sama-sama menjadi subyek pembelajaran dan tidak ada yang dianggap paling baik atau sebaliknya paling jelek.

Budaya Kerja Guru

0 komentar

A.Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Budaya kerja pada dasarnya merupakan nilai-nilai yang menjadi kebiasaan seseorang dan menentukan kualitas seseorang dalam bekerja. Nilai-nilai itu dapat berasal dari adat kebiasaan, ajaran agama, norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Budaya kerja seorang guru dalam proses pembelajaran sangat menentukan ketercapaian tujuan pendidikan. Budaya kerja guru dapat terlihat dari rasa bertanggungjawabnya dalam menjalankan amanah, profesi yang diembannya, dan rasa tanggungjawab moral.

Semua itu akan terlihat pada kepatuhan dan loyalitasnya dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya dalam proses pembelajaran. Sikap ini akan dibarengi dengan rasa tanggungjawabnya untuk membuat dan mempersiapkan administrasi proses belajar mengajar, pelaksanaan proses belajar mengajar, serta pelaksanaan evaluasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Budaya kerja guru di sekolah unggul akan menjadi optimal, bilamana didukung oleh kepala sekolah, guru, karyawan maupun siswa. Kinerja guru akan lebih bermakna bila dibarengi akan kekurangan yang ada pada dirinya, dan berupaya untuk dapat meningkatkan atas kekurangan tersebut sebagai upaya meningkatkan kearah yang lebih baik. Budaya kerja yang dilakukan di sekolah dapat berupa membuat dan mempersiapkan administrasi guru, pelaksanaan proses belajar mengajar, serta pelaksanaan evaluasi pembelajaran.

Guru merupakan suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang pendidikan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari dan mengolah sendiri berbagai informasi yang diperolehnya. Dengan demikian, keahlian guru harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip-prinsip proses belajar mengajar di kelas.

Untuk menghindari kejenuhan dalam proses pembelajaran di dalam kelas, seorang guru hendaknya pandai menciptakan gaya mengajar yang mampu menimbulkan minat siswa untuk belajar baik bersifat kurikuler maupun psikologis. Guru yang profesional dalam hidup ditengah-tengah masyarakat dituntut untuk lebih baik, apalagi jika guru tersebut berada dalam kegiatan proses belajar mengajar.

B.Pembahasan
Culture berasal dari bahasa latin icolere yang berarti “mengolah, mengerjakan” terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti tersebut berkembang arti culture sebagai segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam (Koentjaraningrat, 1980: 74). Sedangkan kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi/akal) sehingga dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sedangkan menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Sedangkan Deshpande dan Webster (1989) dalam Pablo Crespell dan Eric Hansen (2008: 1), Culture dipahami sebagai satuan nilai-nilai yang umum, kepercayaan-kepercayaan dan norma-norma bahwa bantuan bisa dipahami dari suatu organisasi.

Budaya kerja pada dasarnya merupakan nilai-nilai yang menjadi kebiasaan seseorang dan menentukan kualitas seseorang dalam bekerja. Nilai-nilai itu dapat berasal dari adat kebiasaan, ajaran agama, norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat. Dari definisi tersebut, jelas bahwa seorang guru yang memiliki budi pekerti, taat pada agama, dan memiliki nilai-nilai luhur akan mempunyai kinerja yang baik, dalam arti mau bekerja keras, jujur, anti KKN, serta selalu berupaya memperbaiki kualitas hasil pekerjaannya demi kemajuan profesinya.

Ada beberapa nilai-nilai yang mendasari kehidupan budaya kerja, yaitu : 1) nilai-nilai sosial, yang terdiri dari nilai kemanusiaan, keamanan, kenyamanan, persamaan, keselarasan, efisiensi, kepraktisan; 2) nilai-nilai demokratik, yang terdiri dari kepentingan individu, kepatuhan, aktualisasi diri, hak-hak minoritas, kebebasan/kemerdekaan, ketepatan, peningkatan; 3) nilai-nilai birokratik, yang meliputi kemampuan teknik, spesialisasi, tujuan yang ditentukan, lugas dalam tindakan, rasional, stabilitas, tugas terstruktur; 4) nilai-nilai profesional, termasuk keahlian, wewenang memutuskan, penolakan kepentingan pribadi, pengakuan masyarakat, komitmen kerja, kewajiban sosial, pengaturan sendiri, manfaat bagi pelanggan, disiplin; 5) nilai-nilai ekonomik, yaitu rasional, ilmiah, efisiensi, nilai terukur dengan materi, campur tangan minimal, tergantung kekuatan pasar.

Pengertian pendidik menurut UU RI Nomor 20 Tahun 2003 BAB XI pasal 39 ayat 2, adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Tugas pokok guru sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Nomor 84 Tahun 1993 adalah menyusun program pengajaran, menyajikan program pengajaran, evaluasi belajar, menganalisis hasil evaluasi belajar, serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Berdasarkan hal tersebut, maka aspek-aspek tugas pokok dalam kaitannya dengan budaya kerja guru dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu: 1) Administrasi Guru, 2) Proses Belajar Mengajar (PBM), dan 3) Evaluasi Pembelajaran.

1.Administrasi Guru
Istilah “administrasi” atau ”administration” berasal dari bahasa latin yang terdiri dari “ad” intensif dan “ministrare” suatu kata kerja yang berarti melayani, membantu, mengarahkan. Jadi administrasi adalah segenap usaha atau kegiatan dalam mengarahkan, melayani, membantu dalam rangka mencapai tujuan tertentu (Burhanudin, 1994: 4).

The Liang Gie, dan kawan-kawan dalam Burhanuddin (1994: 5), mengemukakan bahwa administrasi adalah segenap serangkaian perbuatan penyelenggaraan setiap usaha kerja sama sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan Daryanto (2008: 7), administrasi adalah aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu tujuan, atau proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan peserta didik dalam proses belajar mengajar adalah perencanaan atau persiapan guru dalam bentuk kelengkapan administrasi yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Guru yang baik akan berusaha sedapat mungkin agar proses belajar mengajarnya berhasil sesuai tujuan.

Dari defenisi administrasi yang telah dikemukakan di atas terlihat bahwa dalam setiap kegiatan administrasi terdapat beberapa unsur yang saling berkaitan satu sama lain. Beberapa unsur pokok di dalam administrasi yang dimaksud adalah: 1) adanya suatu proses kegiatan atau rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih, 2) kegiatan yang dilakukan dan merupakan bentuk kerjasama sekelompok manusia yang harmonis, dan 3) usaha kerjasama tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Semua unsur tersebut harus diatur dan dikelola sedemikian rupa secara profesional, efektif, dan efesien sehingga mengarah kepada tercapainya tujuan yang telah ditentukan.

Administrasi guru pada suatu sekolah pendidikan dasar unggul adalah untuk melaksanakan tugas-tugas pokok dalam rangka mencapai tujuan tertentu yang telah dibuat secara bersama-sama. Arikunto (1993), administrasi guru adalah segenap proses penataan yang bersangkut-paut dengan masalah untuk memperoleh dan menggunakan tenaga kerja dan di sekolah dengan efesien, demi tercapainya tujuan sekolah yang telah di tentukan sebelumnya. Sedangkan Daryanto (2008), administrasi guru adalah semua manusia yang tergabung di dalam kerja sama pada suatu sekolah untuk melaksanakan dalam mencapai tujuan pendidikan.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi guru adalah segenap proses penataan yang berhubungan dengan tenaga pengajar di sekolah secara efektif dan efesien agar tujuan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tercapai secara optimal. Oleh karena itu administrasi guru dikelompokan atas tenaga teknik edukatif yang merupakan guru atau tenaga pengajar dan tenaga teknik administratif yang merupakan tenaga usaha, tenaga pesuruh dan juga penjaga sekolah. Dalam berlangsungnya kegiatan sekolah, unsur manusia memang mempunyai peranan penting, karena bagaimanapun lengkapnya dan moderennya sarana prasarana, alat kerja, metode-metode kerja yang ada dalam sekolah, tetapi bila kemampuan manusia yang menjalankan program sekolah ini tidak memadai, maka tujuan yang dikemukakan akan sulit dicapai.

Bidang kajian administrasi yang harus dimiliki guru untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu berupa perangkat pembelajaran yang meliputi: 1) pengembangan silabus, 2) pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 3) pengembangan indikator, dan 4) pengembangan materi pembelajaran. Budaya kerja guru dalam bidang administrasi di sekolah dapat diartikan bagaimana seorang guru membuat administrasi untuk persiapan proses belajar mengajar. Administrasi guru tersebut harus dibuat oleh masing-masing guru dengan cara musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) baik tingkat sekolah maupun tingkat kabupaten. Guru terbiasa membuat seluruh administrasi sebelum proses belajar mengajar dimulai di awal tahun pelajaran.

2.Proses Belajar Mengajar (PBM)
Proses belajar mengajar harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa. Guru harus memberikan keteladanan setiap satuan pembelajaran dalam melaksanakan perencanaan proses belajar mengajar, pelaksanaan proses belajar mengajar, penilaian hasil proses belajar mengajar, dan pengawasan proses belajar mengajar untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Budaya kerja guru dalam proses belajar mengajar dapat dikategorikan menjadi tiga macam kemampuan, yaitu kemampuan profesional, kemampuan sosial, dan kemampuan pribadi. Kemampuan profesional guru dalam kegiatan proses belajar mengajar mencakup aspek-aspek: 1) Penguasaan untuk pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan dan konsep-konsep keilmuan yang harus diajarkan, 2) Kemampuan mengelola program belajar mengajar, 3) Kemampuan mengelola kelas, 4) Kemampuan mengelola dan menggunakan media dan sumber belajar, dan 5) Kemampuan menilai hasil prestasi belajar mengajar.

Kemampuan sosial guru dalam proses belajar mengajar meliputi aspek-aspek: 1) Terampil berkomuniksi dengan siswa, 2) Bersikap simpatik, 3) Dapat bekerjasama dengan komite sekolah, dan 4) Pandai bergaul dengan teman kerja dan mitra pendidikan. Sedangkan kemampuan pribadi guru dalam proses belajar mengajar meliputi aspek-aspek: 1) Kemantapan dan integritas pribadi, 2) Peka terhadap perubahan dan pembaharuan, 3) Berfikir alternatif, 4) Berusaha memperoleh hasil kerja yang sebaik-baiknya, 5) Berdisiplin dalam melaksanakan tugas, 6) Simpatik dan menarik, luwes, bijaksana dan sederhana dalam bertindak, 7) Kritis, dan 8) Berwibawa.

Budaya kerja guru dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan melalui tiga kegiatan, yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Dalam kegiatan awal, guru mengucapkan salam kepada seluruh siswa yang telah ada di dalam kelas. Kemudian guru membuka pelajaran dengan apersepsi atau pengenalan. Langkah ini digunakan dengan mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa atau pada salah seorang siswa dengan tujuan untuk menarik perhatian. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada awal materi pelajaran diberikan. Tujuan pembelajaran dapat dikemukakan secara tertulis, ditulis di papan tulis, atau di tulis dalam charta yang sudah disiapkan terlebih dahulu.

Kegiatan inti dalam proses belajar mengajar harus sesaui dengan tuntutan kurikulum baru, yaitu: (a) kegiatan belajar mengajar yang lebih berpusat pada peserta didik (student centered), (b) menciptakan kreativitas, (c) menciptakan kondisi yang menyenangkan, menantang, dan kontekstual, serta (d) menyediakan pengalaman belajar yang beragam dan belajar melalui berbuat (learning by doing) (Suparlan, 2008: 152).

Kegiatan penutup dalam proses belajar mengajar ditekankan pada guru untuk mengajak semua siswa bersama-sama mengevaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Guru menanyakan pada siswa tentang kekurangan dan kelebihan dari hasil proses pembelajaran. Guru bersama-sama siswa untuk mengambil kesimpulan tentang materi pelajaran yang telah diberikan dan memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah.

3.Evaluasi Pembelajaran
Penilaian hasil belajar menurut lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 bahwa, penilaian hasil belajar hendaknya memenuhi hal-hal sebagai berikut:

“ .....1) berkeadilan, bertanggungjawab dan berkesinambungan, 2) dilakukan untuk setiap mata pelajaran dan membuat catatan keseluruhan, sebagai bahan program remedial, 3) transparan dan berkelanjutan, 4) semua guru mengembalikan hasil kerja siswa yang telah dinilai, 5) sekolah menetapkan petunjuk pelaksanaan operasional yang mengatur mekanisme penyampaian ketidakpuasan peserta didik dan penyelesaiannya mengenai penilaian hasil belajar, 6) penilaian meliputi semua kompetensi dan materi yang diajarkan, 7) metode penilaian perlu disiapkan dan digunakan secara terencana untuk tujuan diagnostik, formatif dan sumatif, sesuai dengan metode/strategi pembelajaran yang digunakan, 8) ketentuan pelaksanaan penilaian hasil belajar harus sesuai dengan Standar Penilaian Pendidikan, 9) kemajuan yang dicapai oleh peserta didik dipantau, didokumentasikan dan digunakan sebagai balikan kepada peserta didik untuk perbaikan secara berkala, 10) didokumentasikan disertai bukti kesahihan, keandalan, dan dievaluasi secara periodik, dan 11) hasil belajar harus dilaporkan kepada orang tua peserta didik, komite sekolah/madrasah, dan insitusi (Diknas, 2007: 7)”.

Penilaian bagi siswa memiliki dua fungsi utama, yaitu: (a) membantu siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, dan (b) mengetahui tingkat pencapaian kompetensi tersebut. Berdasarkan kurikulum dan standar kompetensi yang terkait, guru harus merumuskan kompetensi yang sesuai dengan potensi siswa, mengembangkan pengalaman pembelajaran untuk mencapai penguasaan kompetensi, mengembangkan indikator pencapaian kompetensi, dan mengembangkan strategi penilaian untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. Selain itu, pada akhir program satuan pendidikan harus melakukan penilaian terhadap pencapaian kompetensi siswa dalam bentuk ulangan blok atau ulangan akhir semester (UAS).

Objek dalam penilaian hasil proses belajar mengajar mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar siswa. Penilaian proses belajar adalah upaya pemberian nilai terhadap kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan siswa, sedangkan penilain hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Model penilaian hasil belajar disesuaikan dengan penilaian berbasis kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Teknik penilaian yang digunakan dalam melaksanakan penilaian dapat berupa kuis dan tes harian. Untuk jenis tagihan nontes, teknik-teknik penilain yang dapat diterapkan adalah: 1) observasi, 2) angket, 3) wawancara, 4) tugas, 5) proyek, dan 6) portofolio. Instrumen yang digunakan dalam melakukan penilaian berupa tes isian, benar-salah, menjodohkan, pilihan ganda, uraian, dan unjuk kerja. Teknik penilaian nontes berupa panduan observasi, kuisioner, panduan wawancara, dan rubrik.

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum