Ajari Anak Didik kita Disiplin

Jumat, 27 Desember 2013 0 komentar


Secara sederhana disiplin berarti rajin, ulet, taat, patuh. Sedangkan kedisiplinan secara luas adalah sikap dan nilai-nilai yang harus ditanamkan dan dilakukan oleh setiap individu yang mempunyai pekerjaan agar tujuan yang hendak dicapai dapat tercapai.

Dari teori di atas apabila kita hubungkan dengan kegiatan pembelajaran maka kedisiplinan mengandung arti bahwa kedisiplinan adalah sikap dan nilai-nilai yang harus ditanamkan pada diri murid dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 

Dalam kegiatan pembelajaran disiplin merupakan kunci utama, baik disiplin waktu, disiplin dalam mengikuti kegiatan, ataupun disiplin dalam mengerjakan tugas, karena sikap disiplin pada diri murid menunjukkan bahwa murid itu bersungguh-sungguh dalam belajar.

”Man Jadda Wajada“ Sebuah kata motivasi yang sering menjadi penyemangat bagi kalangan orang sukses. Ungkapan itu merupakan interpretasi dari kedisiplinan. Jadi siapa yang bersungguh, maka ia akan mendapatkan yang ia harapkan.

Untuk mewujudkan sikap disiplin membutuhkan kesabaran. Jadi sepertinya sangat cocok  kalau ungkapan “Man Jadda Wajada“ berangkat bareng dengan kata “Man shabara zhafira“ yang artinya barang siapa yang bersabar maka ia akan beruntung. 

Menanamkan sikap disiplin memang tidaklah mudah. Hemat penulis terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tingkat kediiplinan. Pertama adalah tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan peserta didik. Dalam hal ini tujuan yang dimaksud adalah tujuan belajar dan mengikuti kegiatan pemebelajaran. Tujuan ini harus ditanamkan kepada peserta didik, baik oleh orang tua maupun oleh guru.

Kedua adalah keteladanan seorang pimpinan. Di rumah, orang tua merupakan pemimpin bagi anak-anaknya, sehingga sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Sementara di sekolah guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya, karenanya seorang guru juga harus menjadi teladan bagi murid-muridnya.  

Pemimpin sangat berperan dalam manentukan kedisiplinan seseorang karena pemimpin dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Orang tua akan dijadikan cermin oleh anak-anaknya. sementara guru akan dijadikan contoh oleh murid-muridnya. Sehingga sebagai pemimpin harus memberikan contoh yang baik, disiplin dalam segala hal, jujur, adil, serta sesuai antara kata dengan perbuatan.  

Jika kita sebagai orang tua ataupun sebagai guru tidak bisa memberikan contoh disiplin  kepada anak didik kita maka anak didik kitapun sulit untuk bersikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Wallu a’lam...[]*

Belajar Diwaktu Libur

1 komentar


“Assalamu’alaikum... Gimana kabarnya pak, sehat...?” tanya salah seorang guru SDIT Hidayatullah kepada salah satu orang tua murid saat silaturrahim ke rumahnya. Orang tuapun menjawab salam dan sapaannya “wa’alaikumussalam... Alahmdulillah sehat pak...!” dan menyambut kedatangannya dengan penuh rasa bahagia.

Kemudian guru itu menanyakan anaknya yang sekaligus menjadi murid SDIT Hidayatullah. “Nisa dimana pak...?” Bapakpun menjawab “nich lagi di rumah si mbok pak”. Tak lama kemudian disela-sela perbincangan Nisa datang dengan membawa buku gambar dan pensil berwarna. “Nisa liburan kemana..?” sapa guru SDIT Hidayatullah kepada Nisa. “di rumah aja pak belajar” sahutnya.

“di rumah saja pak belajar” merupakan sebuah kalimat yang mengandung makna yang sangat dalam. Kalimat itu merupakan kalimat motivasi yang menunjukkan bahwa semangat belajar yang ada pada diri anak sangat tinggi, sehingga diwaktu liburpun dia memanfaatkan waktu liburnya untuk belajar.

Kita perlu mengapresiasi kepada anak-anak yang mempunyai semangat belajar yang tinggi, karena tidak banyak anak-anak yang mempunyai semangat belajar yang tinggi seperti ini. Tentunya semua itu juga tidak lepas dari dukungan orang tua yang peduli terhadap pendidikan anaknya.

Karenanya Rasulullah saw. Bersabda : { dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari) }

Hadits di atas menunjukkan betapa berharganya waktu yang kita miliki, sehingga kita perlu memanfaatkannya semaksimal mungkin, karena jika tidak maka kita akan ketinggalan ataupun kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk kita yaitu ilmu.

Memang sejatinya belajar tidak mengenal waktu, sehingga tidak ada waktu yang sia-sia dalam hidup ini. Rasulullah saw. Bersabda “Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyak yang meminum arak, dan timbulnya perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan”. (Shahih Muslim No.4824)

Yuk kita manfaatkan waktu libur ini untuk senantiasa belajar. Semoga Allah swt. Memberi kemudahan bagi kita dalam melaksanakan perintahnya yang berupa belajar. Wallahu a’lam []

Memahami Karakter Anak

0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Ada sebuah pernyataan yang cukup menarik ketika sedang bincang-bincang seputar pendidikan. Dalam sebuah perbincangan tentang pendidikan seorang sahabat berkata “Anak-anak tetaplah anak-anak, yang harus mengerti adalah yang punya anak”. Sekilas pernyataan itu nampak apatis terhadap perilaku anak. Namun setelah penulis resapi, mungkin pernyataan itu benar. Berikut hasil analisis penulis terhadap pernyataan tersebut. 

“Anak-anak tetaplah anak-anak, yang harus mengerti adalah yang punya anak” Artinya adalah seorang anak tidak bisa di paksakan memahami kita seperti layaknya orang dewasa, karena alam mereka berbeda dengan kita. Mereka memang harus melewati dan menikmati masa keanak-anakannya sebelum masuk masa dewasa. Sehingga kalau di rumah yang harus mengerti adalah orang tuanya, sedangkan di sekolah yang harus mengerti adalah gurunya. Namun antara orang tua dan guru juga perlu bekerja sama secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan pendidikan secara sempurna. 

Pernyataan tersebut erat kaitannya dengan sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa “belajar adalah seni dan mengajar adalah seni tersendiri”. Sehingga hemat penulis dua pernyataan tersebut ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. 

“Belajar adalah seni dan mengajar adalah seni tersendiri”. Yang mengandung arti bahwa seorang guru harus mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam segala hal dalam mendidik. Karena fungsi utama guru adalah bagimana bisa mendampingi, membimbing serta memberi arahan kapada peserta didik dalam menggali potensi yang dimilikinya. 

Sehingga seorang guru harus paham betul jiwa masing-masing anak untuk memudahkan guru dalam melakukan pendekatan kepada anak. Bukan justru memaksakan kehendak guru pada peserta didik, karena setiap peserta didik mempunyai gaya belajar masing-masing. 

Kalau hal tersebut dipaksakan maka yang terjadi pada peserta didik adalah munculnya perasaan takut dan minder, karena selau dihantui oleh yang namanya hukuman. Dan ingatlah bahwa ditakuti lebih berbahaya, karena bisa jadi mereka takut di depan kita akan tetapi kita lihat apa yang terjadi di belakang kita. 

 Nah ketika anak sudah merasa takut dan minder maka lenyaplah potensi-potensi yang ada. Potensi-potensi yang seharusnya digali dan dikembangkan malah dilenyapkan. Cara mendidik yang seperti inilah yang akan berakibat fatal pada anak. 

Oleh karena itu kita sebagai pendidik, marilah kita sama-sama mengamati dan memahmi betul karakter peserta didik kita satu persatu, potensi apa yang mereka miliki? Gaya belajar apa yang mereka senangi? Sehingga dari situlah kita akan menemukan berbagai macam metode untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada mereka. Jangan paksakan mereka selalu selalu dan selalu harus mengikuti kehendak kita walaupun apa yang kita kehendaki itu benar, akan tetapi mungkin caranya kurang benar sehingga sulit untuk diterima. Wallahu a’lam []

Memahami al-Qur'an dan Isinya

Kamis, 19 Desember 2013 0 komentar

A. Adab Membaca Al Qur’an
      a.       Adab Dalam Tilawah

Membaca Al Quran adalah bagian dari ibadah yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasulnya. Layak tentunya sebagai orang yang akan melaksanakan ibadah untuk sebaik mungkin bersikap taa’dduban (bertata krama). Sangat dianjurkan bagi setiap orang yang membaca Al Quran untuk memperhatikan halhal berikut ini:

1.       Hendaknya membaca Al Quran  dalam keadaan berwudlu karena ia termasuk dzikir yang paling utama, meskipun boleh membacanya bagi orang yang berhadast.
2.       Membacanya hanya di tempat yang bersih dan suci, untuk menjaga keagungan Al Quran.
3.       Membaca dengan khusyu’, tenang dan bersahaja.
4.       Bersiwak (membersihkan mulut) sebelum mulai membaca, tidak menyisakan makanan ataupun minuman dalam mulut.
5.       Membaca Taáwwudz  (A’udzu billahi minasysyaithanirrajiim) pada permulaannya, berdasarkan firman Allah SWT:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Dan jika engkau membaca Al Quran maka berlindunglah kepada Allah dari syaithan yang terkutuk". (Q.S. An Nahl: 98).


6.       Membaca Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) pada permulaan setiap surat, kecuali surat Al Baraáh (At Taubah).
7.       Membacanya secara Tartil, yaitu dengan pelan dan terang serta membaguskan makhrajul huruf dan tajwidnya. Allah SWT berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.” (Q.S. Al Muzammil: 4).
           
8.       Memikirkan dan mentadabburi (merenungi) ayatayat yang dibacanya.
9.       Meresapi makna dan maksud ayatayat Al Quran yang berhubungan dengan janji serta ancaman.
10.   Membaguskan suara dengan sentuhan nada. Rasulullah SAW bersabda:

 Hiasilah olehmu Al Quran itu dengan suaramu.”  (H.R. Ibnu Hibban).

11.   Mengeraskan bacaan jika dianggap lebih baik dan tidak menimbulkan perasaan riya’ (pamer).

b.      Keutamaan Tilawah

Membaca Al Quran adalah ibadah sunnah  yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan. Membacanya dengan penuh hudhur (konsentrasi diri), ditambah dengan merenungi (tadabbur) ayat-ayatnya adalah merupakan ibadah terbaik yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sebagaimana yang digambarkan dalam Hadits Nabi:

1.       Dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW bersabda:  

Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Quran) maka baginya satu kebaikan, dan setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. (H.R Tirmidzi)

2.       Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda:

Bacalah Al Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat (pertolongan) bagi setiap pembacanya. (H.R Muslim)

Mengukir Prestasi di Hadapan Ilahi

Sabtu, 23 November 2013 0 komentar

Telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli, Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Daripadanya berkembang menjadi banyak bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau berdua. 

Dalam hal ini Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Disebutkan dalam ayat ini bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, tidak ada perbedaan. Adapun yang membedakan di antara mereka adalah dalam urusan diin (agama), yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya. Al-Hafifzh Ibnu Katsir menambahkan: “Mereka berbeda di sisi Allah adalah karena taqwanya, bukan karena jumlahnya”. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya atau amal shalih.”

Saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya. Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bangsa bahkan ribuan suku yang masing-masing mengembangkan diri sesuai potensi yang bisa dikem-bangkan. Darinya pula muncul beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-lain, termasuk teknologi yang mereka temukan. 

Namun, kalau kita renungkan semua itu adalah untuk jasmani kita (saja) agar hidup kita dalam keadaan sehat, tercukupi kebutuhan materi, tidak saling mengganggu, aman tentram dalam mengemban persoalan kehidupan. Inilah tuntutan “kasat mata” hidup seorang manusia.

Tak pelak dari perkembangan tersebut menimbulkan rasa gembira, puas, bangga, bahkan lebih dari itu, yakni sombong. Sebagai contoh, negara yang maju, kuat merasa lebih baik dan harus diikuti oleh negara yang lain. Orang kaya merasa lebih baik dari yang miskin, orang yang mempunyai jabatan dan kedudukan (tertentu yang lebih tinggi) merasa lebih baik dan pantas untuk diikuti oleh yang lain dalam segala tuntutannya. Bahkan kadang-kadang, orang yang ditakdirkan Allah mempunyai “kelebihan” dari orang yang ditakdirkan “kekurangan” itu menyuruh dan memaksanya untuk mengerjakan hal-hal yang menyalahi ajaran agama Allah.

Begitulah kecenderungan manusia dalam memenuhi hasrat hidupnya, kadang (atau bahkan sering) tidak mempedulikan perintah atau larangan Allah. Padahal dari aturan agama inilah manusia diuji oleh Allah-menjadi hamba yang taat atau maksiat. Itulah parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya.

Tetapi sekali lagi, karena tipisnya ikatan manusia dengan syariat Allah, manusia banyak yang tidak menghiraukan halal atau haram, karena memang manusia “tidak punya hak” untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, kecuali kembali kepada syariat agama Allah. 

Karena minimnya ilmu syar’i itulah yang menyebabkan banyak manusia terjerembab ke lembah kedurhakaan dan jatuh ke lumpur dosa. Bahkan tidak menutup kemungkinan, para pelakunya tidak merasa berbuat dosa, atau malah bangga dengan “amal dosa” itu, na’udzubillah.

Mari kita renungkanlah syair seorang tabi’in Abdullah Ibnul Mubarak:
“Aku lihat perbuatan dosa itu mematikan hati, membiasakannya akan mendatangkan kehinaan. Sedang meninggalkan dosa itu menghidupkan hati, dan baik bagi dirimu bila meninggalkannya”

Prestasi manakah yang akan kita ukir? Prestasi barrun, taqiyyun, karimun (baik, taqwa, mulia) Ataukah prestasi fajirun, syaqiyun, Dzalilun (ahli maksiat, celaka, hina) Dalam hal mana? Yaitu sejauh mana kita menyikapi ajaran Allah dan RasulNya. 

Perhatikanlah wasiat Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
“Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, setiap ada sehari yang berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”

Umat Islam telah diberi hidayah berupa Al-Qur’an (dan As-Sunnah). Selanjutnya tinggal bagaimana umat Islam menerjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk zhalimun linafsih, muqtashid, atau saabiqun bil khairat bi idznillah. Dalam tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu Katsir memberikan pengertiannya masing-masing sebagai berikut: 

Zhalimun linafsihi: Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) tetapi banyak melanggar apa yang Allah haramkan (yang dilarang).

Muqtashid: Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, kadang meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang makruh. 

Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan yang sunnah, serta meninggalkan yang haram dan makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah (karena wara’nya) 

Tak seorang pun di antara kita yang bercita-cita untuk mendekam dalam penjara. Apalagi penjara Allah yang berupa siksa api Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan. Tetapi semua itu terpulang kepada kita masing-masing. Kalau kita tidak mempedulikan syari’at Allah, tidak mustahil kita akan mendekam di dalamnya.

Semoga Allah mengumpulkan kita dalam umatNya yang terbaik dan terjauhkan dari ketergelinciran ke dalam jurang kemaksiatan. Wallahu A’alam []

*Penulis adalah Zainal Arifin, tim QLC ( Qiyamul Lail Center )

Mengembalikan Kepercayaan Rakyat

Jumat, 04 Oktober 2013 0 komentar

Berangkat dari sebuah kerisauan saat melihat sebuah fenomina baru yang benar-benar menggegerkan di negeri ini. Fenomina yang melibatkan lembaga tinggi negara yang bernama Mahkamah Konstitusi (MK) terlibat dalam sebuah rangkaian korupsi.


Tentu hal ini semakin menghapus kepercayaan rakyat Indonesia kepada para pemimpin di negeri ini. Ibarat orang terluka, negara  ini sudah terluka sangat parah yang disebabkan oleh sabitan dan tusukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka tersebut. Betapa tidak, sebuah lembaga hukum tertinggi di negara ini yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi rakyatnya, justru malah ternodai dengan perbuatan-perbuatan yang dapat menghilangkan kepercayaan rakyat.

Jika kita tinjau dari aspek pendidikan, kejadian ini secara tidak langsung telah memberikan dua sisi pelajaran bagi bangsa ini, pertama pelajaran yang positif dan yang kedua pelajaran negatif.

Sisi positif dari kasus ini sebagai cambuk dan koreksi bagi pemimpin negara ini terkait dengan pemilihan dan penetapan aparatur negara. Sehingga selanjutnya harus lebih selektif lagi dan memperketat jalur serta uji kelayakan bagi seorang pemimpin.

Sementara sisi negatifnya dapat membuka mata bagi orang-orang yang mempunyai “kepentingan”, baik kepentingan individu maupun kepentingan kelompok-kelompok tertentu, sehingga mereka akan semakin mempercantik pola mainnya. Karena mereka mulai tahu bahwa “disanapun masih bisa begini dan begitu”. Bisa jadi kejadian-kejadian seperti ini di lembaga ini sudah berlangsung lama.

Dengan demikian, peran Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) diharapkan mampu mengusut secara tuntas kasus ini dan memberikan sangsi hukum yang seberat-beratnya kepada pelakunya demi mengembalikan kembali kepercayaan rakyat kepada institusi hukum yang berada di negara ini. []

Kelayakan Seorang Pemimpin

Rabu, 25 September 2013 0 komentar

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan informasi seputar ditolaknya Ruhut Sitompul oleh beberapa fraksi di Komisi III untuk menduduki kursi kepemimpinan di Komisi III DPR RI. Dalam tulisan ini penulis tidak akan mengomentari hal tersebut, akan tetapi setidaknya fenomina tersebut menjadi contoh kongkrit bagi kita semua bahwa betapa sulitnya mencari sosok pemimpin yang ideal, yang layak dan diterima oleh masyarakat umum.

Seorang pemimpin adalah orang yang mampu memegang setir dalam sebuah roda organisasi. Pemimpin adalah orang yang mempunyai kemahiran dan keahlian terhadap sebuah bidang yang dipimpinnya. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah bagi seorang pemimpin juga harus mencerminkan aura keteladanan pada dirinya. Keteladanan dipancarkan dalam rekam jejak atau Track Record dari sosok seorang pemimpin.

Setidaknya dalam memilih seorang pemimpin harus terjawab beberapa pertanyaan yang mewakili kriteria seorang pemimpin. Hemat penulis pertanyaan tersebut meliputi tentang kemampuan, sikap, pengalaman, serta interaksi sosial dalam kehidupan calon pemimpin.

Sejatinya seorang pemimpin tidak hanya memiliki satu disiplin ilmu yang terkait dengan bidang yang dipimpinnya. Akan tetapi seorang pemimpin juga harus memiliki ilmu-ilmu lain yang erat kaitannya dengan bidangnya, yang mana semua itu harus terintegrasikan dalam jiwa kepemimpinan seseorang. Sebut saja ilmu komunikasi, ilmu hukum, ilmu strategi, dan ilmu kepemimpinan tentunya.

Sehingga kemampuan seseorang, sikap seseorang, pengalaman seseorang, serta interaksi sosial seseorang merupakan elemen terpenting dalam memilih seorang pemimpin, karena “Track Record yang baik akan menentukan masa depan yang baik”. Matur Nuwun Sanget…!  []

Mempertahankan Kepercayaan Rakyat

0 komentar

Negara ini adalah Negara demokrasi. Negara yang berlandaskan aturan hukum. Keberlangsungan Negara ini ada di tangan rakyat. Sementara rakyat memepercayakan keberlangsungan Negara ini kepada para pemimpin yang telah terpilih secara aklamasi.

Namun, tidak sedikit rakyat yang kecewa terhadap peran para pemimpin negeri ini. krisisnya kepercayaan rakyat kepada para pemimpinnya inilah yang membuat Negara ini seakan tiada hari tanpa masalah, tiada hari tanpa tindakan kriminal, dan tiada hari tanpa demonstrasi, yang semua itu adalah cermin dari kekecewaan rakyat terhadap pemimpinnya.

Lantas kapan Negara ini benar-benar menjadi Negara yang aman, damai, dan sejahtera, jika tradisi suap dan korupsi selalu menghiasi negeri ini mulai dari meja makan, hingga “kamar toilet”.

Miris betul nasib bangsa ini. sudah tak ada pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya. Karena jika mereka jujur, maka mereka akan di usir dan ditendang serta kehilangan kursi jabatan, bahkan nyawapun akan melayang.

“Dari rakyat untuk rakyat” itulah selogan yang sering dibawa sebagai makna simple dari istilah demokrasi. Namun hal itu berbanding terbalik, yang terjadi adalah “Dari rakyat untuk saya dan teman sejawat”. Hal itu dapat kita lihat pada beberapa kasus yang sedang gencar dibahas oleh KPK, katakanlah kasus hambalang dan kasus impor daging sapi.

Sudah pantas kiranya para pemimpin bangsa ini bangun dari tiudrnya, sadar dan kembali ke jalan yang benar demi mempertahankan kepercayaan rakyat. Jujur dan bertanggung jawab adalah kunci dari semuanya. []

Untukmu Indonesiaku

0 komentar

Di tengah santernya perbincangan seputar politik di Negara kita, maka sudah sepantasnya kita prihatin dengan nasib bangsa ini yang nampaknya sedikit-demi sedikit citra Negara ini akan tercoreng di mata dunia.

Betapa tidak, nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi karakater bangsa sudah mulai lepas dari genggaman mereka. Satu persatu dari ribuan penggerak Negara ini sudah memperioritaskan kepentingan pribadinya. Padahal jutaan umat manusia yang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera.

Namun yang terjadi adalah kehidupan yang dihiasi oleh perkara hukum, yang seakan sudah menjadi sarapan pagi di Negara kita ini. banyaknya aktivis hukum nampaknya tidak membuat jera para pelanggar hukum. Semakin banyak undang-undang semakin banyak pula pelanggaran.

Pendidikan karakter nampaknya hanya menjadi label di negeri ini. Bagaimana mungkin suatu Negara akan melahirkan generasi yang berkarakter jika orang-orang yang sejatinya harus memberi contoh bagi rakyatnya malah justru tidak mencerminkan sosok seorang pemimpin yang berkarakter.

Uang dan jabatan memang menggiurkan. Namun demi semua itu rakyat menjadi korban. Mungkin inilah efek dari demokrasi dan kejayaan HAM di muka bumi ini. lantas mau diapakan Negara ini ?

Generasi penerus bangsa ini tidak bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Mungkin mereka lupa akan sejarah perjuangan bangsa ini sehingga mereka dengan seenaknya menggendutkan perut mereka dengan uang Negara. 

Setelah sekian lama proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno berjuang mati-matian menyatukan langkah dan tujuan bersama dengan rakyat demi untuk membebaskan tanah air ini dari penjajahan hingga kemerdekaan itu diraih dan di proklamerkan tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 seakan semuanya tanpa makna.

Jika tradisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin jika kelak Negara ini kembali di jajah oleh mereka yang berkuasa, walaupun hakikatnya disadari atau tidak kita sedang di jajah oleh mereka. Tentunya semua itu karena kebodohan bangsa ini ditambah lagi karena kebejatan aparatur Negara yang memanfaatkan jabatannya dengan semena-mena.

Hati-hati wahai para pemimpin Indonesia….
Kalian mempunyai tanggung jawab besar di Negara ini…

Marhaban Ya Ramadhan

Rabu, 10 Juli 2013 0 komentar

1.Ramadhan Adalah Bulan Ibadah, Bulan Tarbiyah, Dan Bulan Jihad

"Hai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (QS.al-Baqarah : 183).

“Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, di saat pintu-pintu surga terbuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya dijumpai satu malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka barang siapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak mendapat kebaikan itu selama-lamanya” ( HR.Ahmad,Nasa’i,dan Baihaqi ).

Dalam rangka menyambut bulan ramadhan yang penuh barakah ini, marilah kita senantiasa menjadikan bulan mulia ini sebagai bulan ibadah,bulan tarbiyah,dan bulan jihad.

Sebagai bulan ibadah, marilah kita jadikan bulan ini untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Jangan sampai lewatkan detik-detik ramadhan tanpa nilai ibadah. Jika pada bulan-bulan yang lain kita masih jarang melaksanakan ibadah sunnah, maka di bulan ini marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya. Dan marilah kita hiasi ramadhan kita dengan memperbanyak membaca al-Qur’an, berdzikir, dan berdo’a kepada Allah swt.

Sebagai bulan tarbiyah, marilah kita jadikan bulan suci ini untuk senantiasa meningkatkan intensitas belajar kita. Jangan jadikan alasan hanya karena kita berpuasa justru kita libur belajar, karena perintah belajar kepada kita tidak terbatas umur dan waktu, perintah belajar kepada kita hingga kita mati.

Sebagai bulan jihad, marilah kita jadikan bulan ini untuk berperang melawan hawa nafsu kita, berupa kemalasan, ketidak disiplinan, sombong, dan penyakit hati lainnya. Kita adalah mujahid yang melawan diri kita sendiri dan melawan kemungkaran yang ada di muka bumi ini.

Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Kamis, 27 Juni 2013 0 komentar

Pendidikan merupakan hal yang penting dalam sejarah kehidupan manusia, karena dengan pendidikan, seseorang akan mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui, serta mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Sementara pendidikan juga telah berkembang pesat dan menunjukkan hasil yang luar biasa. Salah satu hasil perkembangan pendidikan adalah lahirnya pendidikan Integrated School.

Lahirnya Integrated School berawal dari munculnya data mengenai jumlah penyandang autis di Indonesia oleh biro sensus Amerika dinyatakan telah mencapai 475.000 orang (Kompas,2005). Menurut Suyanto (2005) dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini dikatan bahwa Indonesia memang tidak di hadapkan pada kondisi yang sangat ekstrim seperti di amerika.

Undang-undang pendidikan Amerika menyatakan bahwa semua warga Amerika Serikat berhak atas pelayanan pendidikan yang sama. Sehingga pada akhirnya sekolah di Amerika harus menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) baik fisik maupun mental untuk dapat sekolah sama seperti anak pada umumnya, sehingga lahirlah sekolah Inklusi.

Sekolah Inklusi merupakan sekolah yang menyelenggarakan proses pembentukan program pembelajaran berdasarkan tujuan pendidikan atau tujuan sosial, yang di desain untuk memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Dalam buku psikologi dan pendidikan anak luar biasa terdapat beberapa definisi mengenai anak luar biasa yang kemudian dikenal dengan anak berkebutuhan khusus (ABK). Geartheart (1981) mendefinisikan anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memerlukan persyaratan pendidikan yang berbeda dari rata-rata anak normal, dan untuk belajar secara efektif memerlukan program, pelayanan, fasilitas, dan materi khusus (Mangunsong,1998).

BLSM Menjadi Kabar Baik dan Kabar Buruk

Sabtu, 22 Juni 2013 0 komentar

Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) merupakan program bantuan yang dicetuskan oleh pemerintah mengiringi diputuskannya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. BLSM diperuntuhkan bagi masyarakat miskin di seluruh Tanah Air, yang mana pengambilannya melalui Kantor Pos dengan menggunakan Kartu Perlindungan Sosial (KPS). Selain untuk pengambilan BLSM, KPS juga dapat digunakan oleh warga miskin untuk menerima bantua siswa misikin dan Program Keluarga Harapan (PKH), serta pengambilan bantuan raskin.

Sebagaimana dilangsir Koran Harian Kedaultan Rakyat (KR) edisi Jum’at 21 Juni 2013, mikanisme pencairan BLSM dengan KPS adalah : 1) Warga datangi Kantor Pos membawa KPS dan kartu identitas/KTP. 2) Petugas keamanan cocokkan identitas dengan KPS. 3) Diarahkan ke loket antrian sesuai dengan abjad. 4) Pencairan dengan menyerahkan KPS ke petugas loket. 5) Petugas loket menggeskkan KPS ke card reader. 6) Uang BLSM diserahkan dan KPS dikembalikan. Hal ini merupakan kabar baik bagi masyarakat miskin. Namun,juga menjadi kabar buruk bagi mereka.

Pertama menjadi kabar baik karena dalam beberapa bulan kedepan masyarakat miskin akan mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah walaupun sifatnya sementara. Bantuan tersebut sebesar Rp.150.000 yang mana pencairan BLSM ini akan dicairkan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama untuk bulan Juni-Agustus, dan tahap kedua untuk jatah bulan September-Oktober.

Namun disisi lain, kabar baik ini membuat jumlah masyarakat miskin bertambah. Salah satu contohnya di Yogyakarta yang rencananya merupakan tempat pencairan awal atau launching BLSM. Jumlah penerima di wilayah ini meningkat tajam. Jika sebelumnya 104.591 KK, kini menjadi 288.391 KK. (KR 21 Juni 2013).

Kedua kabar baik ini juga menjadi kabar buruk bagi mereka. Hal ini bisa terjadi karena saat pengambilan BLSM bisa dipastikan akan terjadi antrian panjang yang secara otomatis memicu terjadinya desak-desakan yang tidak akan terelakkan.

Prediksi inilah yang menjadikan BLSM dinilai tidak solutif dan bahkan tidak mendidik. Kiranya semua masyarakat sudah bisa membayangkan, bagaimana jika seorang rakyat miskin yang sudah tua harus berdesak-desakan untuk mendapatkan yang namanya BLSM ? lantas apa yang yang akan terjadi ? Tentu hal ini yang juga menjadi salah satu kajian kalangan yang menolak rencana kenaikan BBM dan sekaligus program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Yang jelas, pemerintah akan cerdas dalam menyikapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Namun, alangkah lebih cerdas lagi kiranya jika kenaikan harga BBM dan pembagian BLSM benar-benar demi rakyat, apabila dibarengi dengan solusi yang lebih efektif dan efisien serta lebih aman.

Hemat penulis, salah satu solusi yang lebih efektif dan efisien serta lebih aman dalam pembagian BLSM adalah “Door to door”. Yakni dengan cara memanfaatkan petugas khusus dalam hal ini pihak yang berwenang untuk mendistribusikan BLSM dengan mendatangi langsung rumah masing-masing masyarakat yang berhak menerima BLSM sesuai dengan data yang dimiliki pemerintah.

Cara ini mungkin membutuhkan waktu yang sedikit agak lama dalam pendistribusian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Namun, cara ini akan memberikan efek positif yang lebih, utamanya dalam hal keamanan. Selain itu, cara ini juga sekaligus akan menjadi bahan evaluasi langsung terkait tepat atau tidaknya sasaran penerima BLSM.

Kajian Teoritis Tentang Dakwah

Rabu, 12 Juni 2013 0 komentar


A.   Kajian Tentang Dakwah
1.    Pengertian Dakwah
Dakwah merupakan serangkaian perjuangan keagamaan yang selalu berkaitan dengan aktivitas manajerial (amaliyyah al idariyyah) secara professional untuk mempengaruhi, mengajak dan menuntun manusia menuju kebenaran Islam. 
Untuk memperjelas serta mempermudah pemahaman tentang dakwah, penulis akan membahas pengertian dakwah tersebut dari dua aspek, yaitu bahasa (etimologi) dan aspek istilah (terminologi).
a.    Pengertian Dakwah Menurut Bahasa (Etimologi)
Ditinjau dari  aspek bahasa, kata dakwah berasal dari bahasa Arab dengan  kata kerja lampau (fi’il madli) دعا dan  fiil mudhori’  يدعو  dengan mashdar lafadz  دعوة  yang berarti memanggil, menyeru dan mengajak.1  Istilah ini sering diberi arti  yang sama dengan istilah-istilah tabligh, amr ma’ruf nahi munkar, mauidzah hasanah, tabsyir, indzar, washiyyah, tarbiyyah, ta’lim, dan khotbah.2
Dengan demikian, secara etimologi pengertian dakwah merupakan suatu proses penyampaian (tabligh) pesan‑pesan tertentu yang berupa ajakan, atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.
b.    Pengertian Dakwah Menurut Istilah (Terminologi)
Pengertian dakwah secara istilahy dapat disimpulkan bahwa, esensi dakwah merupakan aktivitas dan upaya untuk mengubah manusia, baik secara individu maupun masyarakat dari situasi yang tidak baik kepada situasi yang lebih baik. 3
   Kegiatan mendorong manusia untuk berbuat lebih baik, merupakan  suatu proses pengamalan terhadap ajaran agama yang di sampaikan dengan tanpa adanya unsur‑unsur paksaan dan dilakukan atas dasar kesadaran akan kewajiban moral setiap individu muslim terhadap agamanya. Sebagaimana definisi dakwah yang dikemukakan oleh Syaikh Ali Mahfudz dalam kitab Hidayat al Mursyidin Ila Thuruq al Wa’dzi Wa al Khitabah  sebagai berikut:
حث الناس على الخير والهدى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكرليفوزوا بسعادة العاجل والأجل. (الشيخ على محفوظ, هداية المرشدين إلى طروق الوعظ والخطابة: 17)

   Artinya:“Mendorong manusia untuk berbuat baik, memberi petunjuk, menyuruh yang ma’ruf dan melarang yang munkar untuk mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.”4

Dari pengertian dakwah tersebut dapat disimpulkan bahwa, dakwah memiliki tiga unsur pengertian yang paling pokok, yaitu sebagai berikut:
1)    Dakwah adalah merupakan suatu proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan secara sadar dan disengaja.
2)    Mengajak manusia untuk beriman dan mentaati Allah atau memeluk agama  Islam, dan Amar ma'ruf Nahi munkar.
3)    Proses penyelenggaraan usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah (li naili mardlotillahi)..

Harta Yang Menggoda

Kamis, 30 Mei 2013 0 komentar


Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka memesonamu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengannya untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah [9]: 55)

Imam Qatadah menafsirkan, penggalan ayat tersebut merupakan susunan kalimat yang dikedepankan dan diakhirkan. Asal ayat itu kira-kira begini: maka janganlah harta dan anak-anak mereka memesonamu dalam kehidupan dunia. Sesungguhnya Allah hendak menyiksa mereka dengannya di akhirat.

Imam al-Hasan al-Basri menjelaskan, Allah menyiksa mereka karena menolak zakat dan tidak menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah.Hal senada juga dikatakan oleh Ibnu Jarir.

Sejak dulu harta telah memiliki daya pesona tersendiri.Apalagi zaman sekarang, siapa yang tak terpesona dengan harta.Di berbagai negara, harta bahkan menjadi simbol suatu kesuksesan. Bangsa China misalnya, memandang kesuksesan itu ada tiga: umur panjang (shio), harta yang banyak (hok) dan kekuasaan yang tinggi (lok). 

Bangsa Amerika memaknai kesuksesan itu sebagai: kekuatan (power), kedudukan (position) dan kekayaan (property). Sedang bangsa Indonesia banyak yang memandang kesuksesan itu ditandai dengan tiga T: harta, tahta, dan wanita.

Segala urusan jadi mudah jika banyak harta.Misalnya, gampang membeli setiap kebutuhan hidup, rumah luas dan megah, juga bisa memakai kendaraan yang mewah dan berlibur ke luar negeri. Mereka yang memiliki harta banyak bisa membeli apa pun. Bahkan jabatan, hukum dan penguasa juga bisa dibeli.

Kaya harta menjadi impian banyak orang.Yang sudah kaya saja masih ingin menambah lebih kaya lagi, apalagi yang kekurangan kadang membuat lupa diri dan nekat berbuat jahat.Semua itu karena terpesona keindahan dunia.

Harta memang menyenangkan, tapi jangan lupa ia juga bisa menyusahkan. Betapa banyak orang yang setelah mendapat harta yang diinginkan masih saja galau. Harta yang tadinya dianggap mampu membahagiakan itu, karena tidak benar cara menggunakannya malah menyengsarakan dirinya.

Harta memang diperlukan, tetapi jika harta menjadi tujuan, maka orang akan diperbudak harta. Harta menjadi jalan kesombongan dan pelampiasan hawa nafsu, tapi bukan sebagai alat beramal saleh.Harta yang hanya untuk kesombongan dan kemewahan merupakan jalan setan.Karena itu, banyaknya harta tidak selalu identik dengan kemuliaan.

Adakalanya harta yang banyak itu membuat pemiliknya kian berat menanggung siksa.Pada saat seperti ini harta telah menjadi penyakit di hati.Pada hakikatnya harta dan anak-anak yang demikian itu bukan lagi nikmat tetapi azab.

Ada juga yang mencari harta dengan cara menyalahgunakan kekuasaan. Jumlah yang didapatkan bermiliar-miliar. Mereka yang kebagian mungkin merasa beruntung, tetapi harta dari cara yang haram itu tak bisa digunakan apa-apa kecuali berakibat keburukan. Seiring berputarnya waktu maka bau busuk pun tercium.Awalnya gembira tapi kini menjadi gelisah karena dikejar-kejar petugas (Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Bisa jadi, impian hidup bermewah-mewah berbalik menjadi meringkuk di balik jeruji besi.

Bagi mereka yang masih bisa berkelit jangan merasa beruntung. Sebab, jika maut menjemput justru akan menghadapi mahkamah Ilahi. Di penjara dunia orang sudah ketakutan apalagi di “penjara akhirat”.Masihkah kita di dunia yang sementara ini terpesona dengan harta kekayaan yang membawa bencana seperti itu?

Harta dunia memang tampak indah dan menyenangkan.Tetapi sekali lagi, jangan terpesona dengan dunia ini. Apalagi melihat seolah dengan harta yang banyak itu tanda bahwa hidup ini akan diridhai Allah.

Harta yang berkah kian bertambah manfaatnya. Sebaliknya kalau kita bakhil maka harta akan kehilangan keberkahannya dan rezeki pun terasa sempit. Itulah teguran Allah supaya kembali kepada-Nya dengan bersedekah.Bila seseorang telah melanggar aturan-Nya seperti tidak berzakat namun rezeki tetap didapat dengan mudah, maka waspadalah.Jangan terpesona dan merasa aman. Boleh jadi, bertambahnya kekayaan itu akan semakin memberatkan azab dan murka-Nya. Naudzubillah.
Sumber materi    : http://majalah.hidayatullah.com/?p=3666
Sumber gambar : http://www.mentari.biz/gambar-uang-logam-100-000.html

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum