Sayangi Wanita

Kamis, 14 Februari 2013 0 komentar


Saat ini, perbincangan tentang wanita adalah termasuk perbincangan yang telah menyita banyak waktu semua orang, dari kalangan intelektual maupun dari kalangan awam. Betapa tidak, kaum wanita dengan kelemahlembutannya dapat melakukan hal-hal spektakuler yang dapat mengguncangkan dunia. Dengan kelemahlembutannya itu ia dapat melahirkan tokoh-tokoh besar yang dapat membangun dunia. Namun dengan kelemah-lembutannya pulalah ia dapat menjadi penghancur dunia yang paling potensial.

Untuk mengetahui bagaimana semestinya posisi kaum wanita yang tepat maka kita perlu mengetahui bagaimana posisi kaum wanita di kalangan generasi terdahulu sebelum datangnya Islam.

Siapapun yang mencoba mempelajari kondisi kaum wanita sebelum Islam maka ia temukan hanyalah sekumpulan fakta yang tidak menggembirakan. Ia akan terheran-heran menyaksikan kondisi kaum wanita yang sangat berbeda antara suatu bangsa dengan bangsa yang lain, bahkan antara satu suku dengan suku yang lain. Di suatu bangsa ia melihat kaum wanita menjadi penguasa tertinggi, sementara pada bangsa yang lain mereka manjadi mahluk yang terhina dan dianggap aib bahkan dikubur hidup-hidup.

Allah berfirman tentang ratu Saba’: “Sesungguhnya aku (burung hud-hud) mendapati seorang ratu yang menguasai mereka dan ia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar” (An-Naml: 23).

Sementara di belahan bumi lain, Allah menceritakan sisi yang berlawanan dari itu: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh.” (At-Takwir: 8-9).

Itulah kondisi kaum wanita di masa jahiliyah; ibarat barang yang terhina dalam keluarga dan masyarakat, diperbudak oleh kaum pria. Hari kelahirannya adalah hari di mana semua wajah menjadi kecewa, dan tidak lama kemudian ia akan dikubur hidup-hidup dalam kubangan tanah yang digali oleh ayahnya sendiri. Inilah akibat dari jauhnya akal masyarakat dari cahaya wahyu. Inilah gambaran umat yang dilahirkan oleh berhalaisme dan dididik oleh para tukang sihir dan peramal.

Pendidikan Karakter Menumbuhkan Kearifan Lokal

Kamis, 07 Februari 2013 0 komentar

Adakah anda temukan nama Zulaikha dalam Surat Yusuf, novel romansa Al Qur’an itu??? Jawabnya TIDAK

Sungguh Allah Maha Santun terhadap semua hamba – hambanya. Jika hambanya bermaksiat dengan sembunyi –sembuyi dan masih tersisa rasa malu dalam diri, maka Allah sang Maha Santun tidak akan menyebut – nyebut namanya. Meski untuk i’tibar dan mengambil hikmah sekalipun. Maka kita tidak akan pernah menemukan nama Zulaikha di dalam Al Qur’an pada novel yang indah Surat Yusuf itu. Kita hanya menemukan sebutan imraatul ‘Aziz istrinya Al ‘Aziz. Karena dia masih berikhtiar menutup semua pintu dan menyembunyikan diri dari pandangan manusia saat terbit niatan untuk menggoda pemuda tampan di rumahnya, ya...meski ada satu pintu yang tak pernah ditutupNya; yakni pintu yang dari sana Allah senantiasa menatap hamba – hambaNya.

Sekali lagi Allah itu Al Haliim, Maha Santun. Manusia diajak mengambil pelajaran dari romantika itu, namun Allah tidak menyebut nama sang wanita. Allah menutup aib – aibnya, karena masih ada rasa malu yang tersisa dalam dirinya. Meski malu yang terbatas pada manusia.

Tetapi sungguh berbeda perlakuan Allah kepada manusia yang terang – terangan menentangNya. Allah pun terang – terangan menyebut namanya, mengabadikannya. Seperti hari itu di bukit shafa ketika Rasul menyeru pada kaumnya:
“...Wahai Bani Fihr, wahai Bani Ady, wahai semua orang Quraisy!”
“Apa pendapat kalian sekiranya kukabarkan bahwa di balik bukit ini sepasukan berkuda bersenjata lengkap mengepung, siap menyerbu Makkah dan melumatkannya?”
Semua orang – orang yang hadir seketika itu berebut untuk menjawab; “Kami belum pernah mendengar ada kedustaan keluar dari lisanmu.”
“ Benar. Kami tidak pernah menyesap darimu kecuali kejujuran.”
“ Engkau adalah Al Amin.”

Kemudian beliau tersenyum sebelum melanjutkan kata – katanya;
“Sesungguhnya aku adalah pembawa peringatan dari sisi Allah...” kalimat ini belum terselesaikan ketika tiba – tiba seorang lelaki bermata juling berteriak sambil mengacungkan telunjuknya “Tabban laka ya Muhammad!!! Alihaadza jama’tanaa?!!” (binasa engkau Muhammad. Apakah untuk urusan seremeh ini kami engkau kumpulkan)

Saat itulah turun ayat Allah membalas perkataan “Tabban laka Ya Muhammad.” Yakni “Tabbat yadaa Abi Lahaabiw wa Tabb!” Abu lahab. Ya inilah nama yang abadi di dalam Alqur’an sebagai lambang penentangan da’wah.

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum