Harta Yang Menggoda

Kamis, 30 Mei 2013 0 komentar


Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka memesonamu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengannya untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah [9]: 55)

Imam Qatadah menafsirkan, penggalan ayat tersebut merupakan susunan kalimat yang dikedepankan dan diakhirkan. Asal ayat itu kira-kira begini: maka janganlah harta dan anak-anak mereka memesonamu dalam kehidupan dunia. Sesungguhnya Allah hendak menyiksa mereka dengannya di akhirat.

Imam al-Hasan al-Basri menjelaskan, Allah menyiksa mereka karena menolak zakat dan tidak menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah.Hal senada juga dikatakan oleh Ibnu Jarir.

Sejak dulu harta telah memiliki daya pesona tersendiri.Apalagi zaman sekarang, siapa yang tak terpesona dengan harta.Di berbagai negara, harta bahkan menjadi simbol suatu kesuksesan. Bangsa China misalnya, memandang kesuksesan itu ada tiga: umur panjang (shio), harta yang banyak (hok) dan kekuasaan yang tinggi (lok). 

Bangsa Amerika memaknai kesuksesan itu sebagai: kekuatan (power), kedudukan (position) dan kekayaan (property). Sedang bangsa Indonesia banyak yang memandang kesuksesan itu ditandai dengan tiga T: harta, tahta, dan wanita.

Segala urusan jadi mudah jika banyak harta.Misalnya, gampang membeli setiap kebutuhan hidup, rumah luas dan megah, juga bisa memakai kendaraan yang mewah dan berlibur ke luar negeri. Mereka yang memiliki harta banyak bisa membeli apa pun. Bahkan jabatan, hukum dan penguasa juga bisa dibeli.

Kaya harta menjadi impian banyak orang.Yang sudah kaya saja masih ingin menambah lebih kaya lagi, apalagi yang kekurangan kadang membuat lupa diri dan nekat berbuat jahat.Semua itu karena terpesona keindahan dunia.

Harta memang menyenangkan, tapi jangan lupa ia juga bisa menyusahkan. Betapa banyak orang yang setelah mendapat harta yang diinginkan masih saja galau. Harta yang tadinya dianggap mampu membahagiakan itu, karena tidak benar cara menggunakannya malah menyengsarakan dirinya.

Harta memang diperlukan, tetapi jika harta menjadi tujuan, maka orang akan diperbudak harta. Harta menjadi jalan kesombongan dan pelampiasan hawa nafsu, tapi bukan sebagai alat beramal saleh.Harta yang hanya untuk kesombongan dan kemewahan merupakan jalan setan.Karena itu, banyaknya harta tidak selalu identik dengan kemuliaan.

Adakalanya harta yang banyak itu membuat pemiliknya kian berat menanggung siksa.Pada saat seperti ini harta telah menjadi penyakit di hati.Pada hakikatnya harta dan anak-anak yang demikian itu bukan lagi nikmat tetapi azab.

Ada juga yang mencari harta dengan cara menyalahgunakan kekuasaan. Jumlah yang didapatkan bermiliar-miliar. Mereka yang kebagian mungkin merasa beruntung, tetapi harta dari cara yang haram itu tak bisa digunakan apa-apa kecuali berakibat keburukan. Seiring berputarnya waktu maka bau busuk pun tercium.Awalnya gembira tapi kini menjadi gelisah karena dikejar-kejar petugas (Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Bisa jadi, impian hidup bermewah-mewah berbalik menjadi meringkuk di balik jeruji besi.

Bagi mereka yang masih bisa berkelit jangan merasa beruntung. Sebab, jika maut menjemput justru akan menghadapi mahkamah Ilahi. Di penjara dunia orang sudah ketakutan apalagi di “penjara akhirat”.Masihkah kita di dunia yang sementara ini terpesona dengan harta kekayaan yang membawa bencana seperti itu?

Harta dunia memang tampak indah dan menyenangkan.Tetapi sekali lagi, jangan terpesona dengan dunia ini. Apalagi melihat seolah dengan harta yang banyak itu tanda bahwa hidup ini akan diridhai Allah.

Harta yang berkah kian bertambah manfaatnya. Sebaliknya kalau kita bakhil maka harta akan kehilangan keberkahannya dan rezeki pun terasa sempit. Itulah teguran Allah supaya kembali kepada-Nya dengan bersedekah.Bila seseorang telah melanggar aturan-Nya seperti tidak berzakat namun rezeki tetap didapat dengan mudah, maka waspadalah.Jangan terpesona dan merasa aman. Boleh jadi, bertambahnya kekayaan itu akan semakin memberatkan azab dan murka-Nya. Naudzubillah.
Sumber materi    : http://majalah.hidayatullah.com/?p=3666
Sumber gambar : http://www.mentari.biz/gambar-uang-logam-100-000.html

Ucapkan Salam Yuk…!

Selasa, 07 Mei 2013 0 komentar


Pengendara sepatutnya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan kelompok yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada kelompok yang beranggota lebih banyak

  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: 
    Rasulullah saw. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak. (Shahih Muslim No.4019)
Di antara hak muslim terhadap muslim lain adalah menjawab salam
  • Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: 
    Rasulullah saw. bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022)
Larangan memulai salam kepada Ahli Kitab dan cara menjawab salam mereka
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: 
    Rasulullah saw. bersabda: Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum. (Shahih Muslim No.4024)
  • Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: 
    Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang Yahudi itu bila mengucapkan salam kepada kalian mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian), maka jawablah dengan: "Wa`alaka" (semoga menipa kamu). (Shahih Muslim No.4026)
  • Hadis riwayat Aisyah ra.: 
    Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah saw. lalu mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian). Aisyah menyahut: "Bal `alaikumus saam" (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian). Rasulullah saw. menegur: Hai Aisyah, Sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal. Aisyah berkata: Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Rasulullah saw. bersabda: Aku telah menjawab: "Wa `alakum" (semoga menimpa kalian). (Shahih Muslim No.4027)
Mengucapkan salam kepada anak kecil
  • Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: 
    Rasulullah saw. pernah melewati anak-anak lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Shahih Muslim No.4031)

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum