Kelayakan Seorang Pemimpin

Rabu, 25 September 2013 0 komentar

Baru-baru ini kita disuguhkan dengan informasi seputar ditolaknya Ruhut Sitompul oleh beberapa fraksi di Komisi III untuk menduduki kursi kepemimpinan di Komisi III DPR RI. Dalam tulisan ini penulis tidak akan mengomentari hal tersebut, akan tetapi setidaknya fenomina tersebut menjadi contoh kongkrit bagi kita semua bahwa betapa sulitnya mencari sosok pemimpin yang ideal, yang layak dan diterima oleh masyarakat umum.

Seorang pemimpin adalah orang yang mampu memegang setir dalam sebuah roda organisasi. Pemimpin adalah orang yang mempunyai kemahiran dan keahlian terhadap sebuah bidang yang dipimpinnya. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah bagi seorang pemimpin juga harus mencerminkan aura keteladanan pada dirinya. Keteladanan dipancarkan dalam rekam jejak atau Track Record dari sosok seorang pemimpin.

Setidaknya dalam memilih seorang pemimpin harus terjawab beberapa pertanyaan yang mewakili kriteria seorang pemimpin. Hemat penulis pertanyaan tersebut meliputi tentang kemampuan, sikap, pengalaman, serta interaksi sosial dalam kehidupan calon pemimpin.

Sejatinya seorang pemimpin tidak hanya memiliki satu disiplin ilmu yang terkait dengan bidang yang dipimpinnya. Akan tetapi seorang pemimpin juga harus memiliki ilmu-ilmu lain yang erat kaitannya dengan bidangnya, yang mana semua itu harus terintegrasikan dalam jiwa kepemimpinan seseorang. Sebut saja ilmu komunikasi, ilmu hukum, ilmu strategi, dan ilmu kepemimpinan tentunya.

Sehingga kemampuan seseorang, sikap seseorang, pengalaman seseorang, serta interaksi sosial seseorang merupakan elemen terpenting dalam memilih seorang pemimpin, karena “Track Record yang baik akan menentukan masa depan yang baik”. Matur Nuwun Sanget…!  []

Mempertahankan Kepercayaan Rakyat

0 komentar

Negara ini adalah Negara demokrasi. Negara yang berlandaskan aturan hukum. Keberlangsungan Negara ini ada di tangan rakyat. Sementara rakyat memepercayakan keberlangsungan Negara ini kepada para pemimpin yang telah terpilih secara aklamasi.

Namun, tidak sedikit rakyat yang kecewa terhadap peran para pemimpin negeri ini. krisisnya kepercayaan rakyat kepada para pemimpinnya inilah yang membuat Negara ini seakan tiada hari tanpa masalah, tiada hari tanpa tindakan kriminal, dan tiada hari tanpa demonstrasi, yang semua itu adalah cermin dari kekecewaan rakyat terhadap pemimpinnya.

Lantas kapan Negara ini benar-benar menjadi Negara yang aman, damai, dan sejahtera, jika tradisi suap dan korupsi selalu menghiasi negeri ini mulai dari meja makan, hingga “kamar toilet”.

Miris betul nasib bangsa ini. sudah tak ada pemimpin yang dipercaya oleh rakyatnya. Karena jika mereka jujur, maka mereka akan di usir dan ditendang serta kehilangan kursi jabatan, bahkan nyawapun akan melayang.

“Dari rakyat untuk rakyat” itulah selogan yang sering dibawa sebagai makna simple dari istilah demokrasi. Namun hal itu berbanding terbalik, yang terjadi adalah “Dari rakyat untuk saya dan teman sejawat”. Hal itu dapat kita lihat pada beberapa kasus yang sedang gencar dibahas oleh KPK, katakanlah kasus hambalang dan kasus impor daging sapi.

Sudah pantas kiranya para pemimpin bangsa ini bangun dari tiudrnya, sadar dan kembali ke jalan yang benar demi mempertahankan kepercayaan rakyat. Jujur dan bertanggung jawab adalah kunci dari semuanya. []

Untukmu Indonesiaku

0 komentar

Di tengah santernya perbincangan seputar politik di Negara kita, maka sudah sepantasnya kita prihatin dengan nasib bangsa ini yang nampaknya sedikit-demi sedikit citra Negara ini akan tercoreng di mata dunia.

Betapa tidak, nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi karakater bangsa sudah mulai lepas dari genggaman mereka. Satu persatu dari ribuan penggerak Negara ini sudah memperioritaskan kepentingan pribadinya. Padahal jutaan umat manusia yang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera.

Namun yang terjadi adalah kehidupan yang dihiasi oleh perkara hukum, yang seakan sudah menjadi sarapan pagi di Negara kita ini. banyaknya aktivis hukum nampaknya tidak membuat jera para pelanggar hukum. Semakin banyak undang-undang semakin banyak pula pelanggaran.

Pendidikan karakter nampaknya hanya menjadi label di negeri ini. Bagaimana mungkin suatu Negara akan melahirkan generasi yang berkarakter jika orang-orang yang sejatinya harus memberi contoh bagi rakyatnya malah justru tidak mencerminkan sosok seorang pemimpin yang berkarakter.

Uang dan jabatan memang menggiurkan. Namun demi semua itu rakyat menjadi korban. Mungkin inilah efek dari demokrasi dan kejayaan HAM di muka bumi ini. lantas mau diapakan Negara ini ?

Generasi penerus bangsa ini tidak bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Mungkin mereka lupa akan sejarah perjuangan bangsa ini sehingga mereka dengan seenaknya menggendutkan perut mereka dengan uang Negara. 

Setelah sekian lama proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno berjuang mati-matian menyatukan langkah dan tujuan bersama dengan rakyat demi untuk membebaskan tanah air ini dari penjajahan hingga kemerdekaan itu diraih dan di proklamerkan tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 seakan semuanya tanpa makna.

Jika tradisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin jika kelak Negara ini kembali di jajah oleh mereka yang berkuasa, walaupun hakikatnya disadari atau tidak kita sedang di jajah oleh mereka. Tentunya semua itu karena kebodohan bangsa ini ditambah lagi karena kebejatan aparatur Negara yang memanfaatkan jabatannya dengan semena-mena.

Hati-hati wahai para pemimpin Indonesia….
Kalian mempunyai tanggung jawab besar di Negara ini…

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum