Ajari Anak Didik kita Disiplin

Jumat, 27 Desember 2013 0 komentar


Secara sederhana disiplin berarti rajin, ulet, taat, patuh. Sedangkan kedisiplinan secara luas adalah sikap dan nilai-nilai yang harus ditanamkan dan dilakukan oleh setiap individu yang mempunyai pekerjaan agar tujuan yang hendak dicapai dapat tercapai.

Dari teori di atas apabila kita hubungkan dengan kegiatan pembelajaran maka kedisiplinan mengandung arti bahwa kedisiplinan adalah sikap dan nilai-nilai yang harus ditanamkan pada diri murid dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. 

Dalam kegiatan pembelajaran disiplin merupakan kunci utama, baik disiplin waktu, disiplin dalam mengikuti kegiatan, ataupun disiplin dalam mengerjakan tugas, karena sikap disiplin pada diri murid menunjukkan bahwa murid itu bersungguh-sungguh dalam belajar.

”Man Jadda Wajada“ Sebuah kata motivasi yang sering menjadi penyemangat bagi kalangan orang sukses. Ungkapan itu merupakan interpretasi dari kedisiplinan. Jadi siapa yang bersungguh, maka ia akan mendapatkan yang ia harapkan.

Untuk mewujudkan sikap disiplin membutuhkan kesabaran. Jadi sepertinya sangat cocok  kalau ungkapan “Man Jadda Wajada“ berangkat bareng dengan kata “Man shabara zhafira“ yang artinya barang siapa yang bersabar maka ia akan beruntung. 

Menanamkan sikap disiplin memang tidaklah mudah. Hemat penulis terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tingkat kediiplinan. Pertama adalah tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan peserta didik. Dalam hal ini tujuan yang dimaksud adalah tujuan belajar dan mengikuti kegiatan pemebelajaran. Tujuan ini harus ditanamkan kepada peserta didik, baik oleh orang tua maupun oleh guru.

Kedua adalah keteladanan seorang pimpinan. Di rumah, orang tua merupakan pemimpin bagi anak-anaknya, sehingga sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Sementara di sekolah guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya, karenanya seorang guru juga harus menjadi teladan bagi murid-muridnya.  

Pemimpin sangat berperan dalam manentukan kedisiplinan seseorang karena pemimpin dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Orang tua akan dijadikan cermin oleh anak-anaknya. sementara guru akan dijadikan contoh oleh murid-muridnya. Sehingga sebagai pemimpin harus memberikan contoh yang baik, disiplin dalam segala hal, jujur, adil, serta sesuai antara kata dengan perbuatan.  

Jika kita sebagai orang tua ataupun sebagai guru tidak bisa memberikan contoh disiplin  kepada anak didik kita maka anak didik kitapun sulit untuk bersikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Wallu a’lam...[]*

Belajar Diwaktu Libur

1 komentar


“Assalamu’alaikum... Gimana kabarnya pak, sehat...?” tanya salah seorang guru SDIT Hidayatullah kepada salah satu orang tua murid saat silaturrahim ke rumahnya. Orang tuapun menjawab salam dan sapaannya “wa’alaikumussalam... Alahmdulillah sehat pak...!” dan menyambut kedatangannya dengan penuh rasa bahagia.

Kemudian guru itu menanyakan anaknya yang sekaligus menjadi murid SDIT Hidayatullah. “Nisa dimana pak...?” Bapakpun menjawab “nich lagi di rumah si mbok pak”. Tak lama kemudian disela-sela perbincangan Nisa datang dengan membawa buku gambar dan pensil berwarna. “Nisa liburan kemana..?” sapa guru SDIT Hidayatullah kepada Nisa. “di rumah aja pak belajar” sahutnya.

“di rumah saja pak belajar” merupakan sebuah kalimat yang mengandung makna yang sangat dalam. Kalimat itu merupakan kalimat motivasi yang menunjukkan bahwa semangat belajar yang ada pada diri anak sangat tinggi, sehingga diwaktu liburpun dia memanfaatkan waktu liburnya untuk belajar.

Kita perlu mengapresiasi kepada anak-anak yang mempunyai semangat belajar yang tinggi, karena tidak banyak anak-anak yang mempunyai semangat belajar yang tinggi seperti ini. Tentunya semua itu juga tidak lepas dari dukungan orang tua yang peduli terhadap pendidikan anaknya.

Karenanya Rasulullah saw. Bersabda : { dari Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundakku dan bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari) }

Hadits di atas menunjukkan betapa berharganya waktu yang kita miliki, sehingga kita perlu memanfaatkannya semaksimal mungkin, karena jika tidak maka kita akan ketinggalan ataupun kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk kita yaitu ilmu.

Memang sejatinya belajar tidak mengenal waktu, sehingga tidak ada waktu yang sia-sia dalam hidup ini. Rasulullah saw. Bersabda “Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah diangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, banyak yang meminum arak, dan timbulnya perzinaan yang dilakukan secara terang-terangan”. (Shahih Muslim No.4824)

Yuk kita manfaatkan waktu libur ini untuk senantiasa belajar. Semoga Allah swt. Memberi kemudahan bagi kita dalam melaksanakan perintahnya yang berupa belajar. Wallahu a’lam []

Memahami Karakter Anak

0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Ada sebuah pernyataan yang cukup menarik ketika sedang bincang-bincang seputar pendidikan. Dalam sebuah perbincangan tentang pendidikan seorang sahabat berkata “Anak-anak tetaplah anak-anak, yang harus mengerti adalah yang punya anak”. Sekilas pernyataan itu nampak apatis terhadap perilaku anak. Namun setelah penulis resapi, mungkin pernyataan itu benar. Berikut hasil analisis penulis terhadap pernyataan tersebut. 

“Anak-anak tetaplah anak-anak, yang harus mengerti adalah yang punya anak” Artinya adalah seorang anak tidak bisa di paksakan memahami kita seperti layaknya orang dewasa, karena alam mereka berbeda dengan kita. Mereka memang harus melewati dan menikmati masa keanak-anakannya sebelum masuk masa dewasa. Sehingga kalau di rumah yang harus mengerti adalah orang tuanya, sedangkan di sekolah yang harus mengerti adalah gurunya. Namun antara orang tua dan guru juga perlu bekerja sama secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan pendidikan secara sempurna. 

Pernyataan tersebut erat kaitannya dengan sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa “belajar adalah seni dan mengajar adalah seni tersendiri”. Sehingga hemat penulis dua pernyataan tersebut ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. 

“Belajar adalah seni dan mengajar adalah seni tersendiri”. Yang mengandung arti bahwa seorang guru harus mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam segala hal dalam mendidik. Karena fungsi utama guru adalah bagimana bisa mendampingi, membimbing serta memberi arahan kapada peserta didik dalam menggali potensi yang dimilikinya. 

Sehingga seorang guru harus paham betul jiwa masing-masing anak untuk memudahkan guru dalam melakukan pendekatan kepada anak. Bukan justru memaksakan kehendak guru pada peserta didik, karena setiap peserta didik mempunyai gaya belajar masing-masing. 

Kalau hal tersebut dipaksakan maka yang terjadi pada peserta didik adalah munculnya perasaan takut dan minder, karena selau dihantui oleh yang namanya hukuman. Dan ingatlah bahwa ditakuti lebih berbahaya, karena bisa jadi mereka takut di depan kita akan tetapi kita lihat apa yang terjadi di belakang kita. 

 Nah ketika anak sudah merasa takut dan minder maka lenyaplah potensi-potensi yang ada. Potensi-potensi yang seharusnya digali dan dikembangkan malah dilenyapkan. Cara mendidik yang seperti inilah yang akan berakibat fatal pada anak. 

Oleh karena itu kita sebagai pendidik, marilah kita sama-sama mengamati dan memahmi betul karakter peserta didik kita satu persatu, potensi apa yang mereka miliki? Gaya belajar apa yang mereka senangi? Sehingga dari situlah kita akan menemukan berbagai macam metode untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada mereka. Jangan paksakan mereka selalu selalu dan selalu harus mengikuti kehendak kita walaupun apa yang kita kehendaki itu benar, akan tetapi mungkin caranya kurang benar sehingga sulit untuk diterima. Wallahu a’lam []

Memahami al-Qur'an dan Isinya

Kamis, 19 Desember 2013 0 komentar

A. Adab Membaca Al Qur’an
      a.       Adab Dalam Tilawah

Membaca Al Quran adalah bagian dari ibadah yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasulnya. Layak tentunya sebagai orang yang akan melaksanakan ibadah untuk sebaik mungkin bersikap taa’dduban (bertata krama). Sangat dianjurkan bagi setiap orang yang membaca Al Quran untuk memperhatikan halhal berikut ini:

1.       Hendaknya membaca Al Quran  dalam keadaan berwudlu karena ia termasuk dzikir yang paling utama, meskipun boleh membacanya bagi orang yang berhadast.
2.       Membacanya hanya di tempat yang bersih dan suci, untuk menjaga keagungan Al Quran.
3.       Membaca dengan khusyu’, tenang dan bersahaja.
4.       Bersiwak (membersihkan mulut) sebelum mulai membaca, tidak menyisakan makanan ataupun minuman dalam mulut.
5.       Membaca Taáwwudz  (A’udzu billahi minasysyaithanirrajiim) pada permulaannya, berdasarkan firman Allah SWT:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Dan jika engkau membaca Al Quran maka berlindunglah kepada Allah dari syaithan yang terkutuk". (Q.S. An Nahl: 98).


6.       Membaca Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) pada permulaan setiap surat, kecuali surat Al Baraáh (At Taubah).
7.       Membacanya secara Tartil, yaitu dengan pelan dan terang serta membaguskan makhrajul huruf dan tajwidnya. Allah SWT berfirman:
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا
"Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.” (Q.S. Al Muzammil: 4).
           
8.       Memikirkan dan mentadabburi (merenungi) ayatayat yang dibacanya.
9.       Meresapi makna dan maksud ayatayat Al Quran yang berhubungan dengan janji serta ancaman.
10.   Membaguskan suara dengan sentuhan nada. Rasulullah SAW bersabda:

 Hiasilah olehmu Al Quran itu dengan suaramu.”  (H.R. Ibnu Hibban).

11.   Mengeraskan bacaan jika dianggap lebih baik dan tidak menimbulkan perasaan riya’ (pamer).

b.      Keutamaan Tilawah

Membaca Al Quran adalah ibadah sunnah  yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan. Membacanya dengan penuh hudhur (konsentrasi diri), ditambah dengan merenungi (tadabbur) ayat-ayatnya adalah merupakan ibadah terbaik yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sebagaimana yang digambarkan dalam Hadits Nabi:

1.       Dari Ibnu Mas'ud, Rasulullah SAW bersabda:  

Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Quran) maka baginya satu kebaikan, dan setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. (H.R Tirmidzi)

2.       Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda:

Bacalah Al Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat (pertolongan) bagi setiap pembacanya. (H.R Muslim)

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum