Renungan : Berhati-hati

Minggu, 07 Desember 2014 0 komentar

Sesuatu yang dianggap baik bagi diri kita belum tentu baik juga bagi orang lain. Pun demikian pula sebaliknya, sesuatu yang dianggap jelek bagi diri kita belum tentu jelek juga bagi orang lain.

Karena kita tidak tahu apa yang sesungguhnya ada di hati orang lain. Kita juga tidak tahu apa yang sesungguhnya dirasakan orang lain.

Antara Guru dan Artis

Kamis, 27 November 2014 1 komentar

Oleh : Subliyanto*

Tanggal 25 Nopember kemarin kita baru merayakan Hari Guru Nasional, dimana hampir semua guru berkumpul di sebuah lapangan untuk mengikuti upacara dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional. Sejalan dengan itu ucapan hari guru juga ramai diperbincangkan di media sosial. namun sangat ironis ketika membaca status sebagian pengguna media sosial yang membandingkan antara guru dengan artis.

Lembaga Pendidikan Islam Sumber Kejayaan Islam

Minggu, 19 Oktober 2014 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Bomingnya Lembaga Pendidikan Islam saat ini merupaka sebuah prestai bagi ummat islam untuk mewujudkan tegaknya peradaban islam di muka bumi. Namun prestasi tersebut tentunya juga harus diimbangi dengan manajeman dan strategi serta pelayanan yang baik pula.

Memperhatikan Sarapan Anak

Kamis, 25 September 2014 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Suatu hari, ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, seorang murid mendatangi gurunya, anak tersebut minta izin untuk jajan di kantin. Sebelum gurunya memberikan jawaban terkait permohonan izinnya, guru tersebut duduk di hadapan muridnya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.

Kisah : Banyak Ilmu, Banyak Manfaat

Selasa, 16 September 2014 0 komentar

Suatu ketika saya mendapatkan tugas dakwah di sebuah tempat yang komunitas masyarakatnya adalah masyarakat yang majemuk, muslim dan non muslim, bahkan konon di tempat itu menjadi salah satu sasaran misionaris.

Urgensi Pendidikan Tauhid

Rabu, 03 September 2014 0 komentar


Orang tua mempunyai tanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Sehingga sebagai orang tua harus mampu memberikan arahan dan bimbingan kepada anak-anaknya guna melahirkan generasi yang baik kelak di masa yang akan datang.

Tiga Pilar Pendidikan Islam Bagi Anak

Rabu, 27 Agustus 2014 0 komentar

Salah satu kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita. Pendidikan sangat penting untuk masa depan mereka. Apabila kita sebagai orang tua salah dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak kita, maka akan berakibat fatal. Tidak hanya fatal terhadap masa depan anak-anak kita, tapi juga fatal terhadap kita sendiri kelak di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Analisis : Manusia Makhluk Biologis dan Ideologis

Jumat, 15 Agustus 2014 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia” (QS.Yasin : 82).

Adanya segala sesuatu dalam keidupan ini merupakan keniscayaan bagi semua manusia, dan juga makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Yasin ayat 82 di atas.

Khutbah Jum'at : Ilmu, Simbol Kejayaan Umat

0 komentar


إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Buku Kurikulum 2013

Senin, 04 Agustus 2014 0 komentar

Mohammad Nuh : Penyakit Sosial dan Solusinya

Kamis, 31 Juli 2014 0 komentar

Khutbah Idul Fitri 1435 H/ 2014 M, Oleh : Mohammad Nuh 
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اَللهُ أَكْبَرُ , لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ ، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَبَعْدُ ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Mensyukuri Karunia Ramadhan
Pagi ini kita berkumpul tidak lain untuk menyampaikan syukur kepada Allah Swt setelah kita selesaikan sebulan penuh beribadah sekaligus menjaga dan menghormati kesucian bulan ramadhan, sebagaimana firman Alllah (QS: Al Baqoroh: 185) :
وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasamu dan Kau besarkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu supaya kalian bersyukur.

Selamat Hari Raya 'Idul Fitri 1435 H

Minggu, 27 Juli 2014 0 komentar


Dokumentasi Peduli Palestina

Jumat, 25 Juli 2014 0 komentar


Delapan Manfaat Puasa

Jumat, 27 Juni 2014 0 komentar


Delapan Keistimewaan Bulan Ramadhan

Kamis, 26 Juni 2014 0 komentar


Keindahan dan Kebahagiaan

0 komentar


Keindahan dan Kebahagiaan

0 komentar


Adab Menyambut Bulan Ramadhan

Rabu, 25 Juni 2014 0 komentar

Terdapat beberapa adab dalam menyambut bulan Ramadhan, diantaranya :

1. Memperbanyak do'a kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 
Salah satu kebiasaan generasi shalih sebelum masuk bulan Ramadhan adalah dengan memperbanyak berdo'a kepada Allah. Bahkan dari beberapa riwayat diceritakan bahwa ada diantara Salafusshalih yang memohon kepada Allah agar dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan sejak enam bulan sebelumnya.

2. Bersuci dan membersihkan diri. 
Bersuci dan membersihkan diri memepunyai sifat maknawi seperti taubat, yakni membebaskan diri dari dosa dan maksiat. Rasulullah bersabda "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya, maka tidak ada bagi Allah kepentingan terhadap meninggalkan makan dan minumnya" (HR.Al-Bukhari)

3. Mempersiapkan jiwa. 
Untuk mempersiapkan jiwa menyambut bulan suci Ramadhan dapat dilakukan dengan memperbanyak amalan-amalan baik pada bulan Sya'ban, karena pada bulan ini Allah mengangkat amalan-amalan. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Umar Zaid berkata kepada Rasulullah : "Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang ada sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban. Rasulullah menjawab, karena bulan itu (Sya'ban) adalah bulan yang manusia lalai. Terletak antara Rajab dan Ramadhan. Dan pada bulan itu (Sya'ban) adalah bulan diangkatnya amal-amal ke Rabbul 'alamin, maka aku suka jika ketika amalku diangkat, akau dalam kedaan berpuasa. (HR.An-Nasa'i)

4. Mempelajari hukum-hukum puasa dan mengenal  petunjuk Rasullah.
Sebelum menjalankan ibadah puasa hendaknya kita mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan puasa, yang meliputi syarat dan rukunnya serta adab dan sunnah-sunnahnya.

5. Merencanakan program diri
Menyambut bulan suci ramadhan hendaknya kita membuat perencanaan-perencanaan kegiatan amal shalaih yang akan kita lakukan di bulan ramadhan. Sehingga dengan amal shalih tersebut dapat mengantarkan diri kita menjadi insan yang sukses yang kesuksesan itu dapat dibuktikan dengan kualitas ketakwaan kita kepada Allah.

Marhaban Ya Ramadhan

0 komentar

Taka lama lagi kita akan kedatangan tamu mulia dan terhormat, yaitu bulan suci Ramadhan. Satu bulan yang dalam penanggalan Hijriah senantiasa dirindukan kedatangannya oleh kaum muslimin.

Pendidikan Bagi Masyarakat Tak Mampu

Selasa, 24 Juni 2014 0 komentar

PENDIDIKAN adalah pengembangan seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1, pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalaui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Manajemen Kemuridan

Rabu, 11 Juni 2014 0 komentar

     A.    Pendahuluan
Prinsip-prinsip manajemen sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Islam sejak zaman Rasulullah Saw dahulu. Dalam ajaran Islam segala bentuk pekerjaan harus dilakukan secara benar, rapi, tertib, dan teratur, serta proses-prosesnya dilalui sesuai prosedur. 
B.     Landasan Pemikiran
Sabda Rasulullah Saw: ‘’Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas, dan tuntas.’’ (HR. Thabrani). 
C.    Manajemen Kemuridan
Manajemen dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik, benar, tepat, dan tuntas merupakan hal yang diwajibkan (disyariatkan) Islam. Arah pekerjaan yang jelas, landasan yang mantap, merupakan amal perbuatan yang dicintai Allah Swt. 
Ihsan artinya adalah melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal dari hal-hal yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besarnya. Tidak ada istilah kecil, remeh di dalam ajaran Islam. Hal kecil yang diabaikan akan berakibat fatal terhadap pekerjaan. Seperti Nabi Saw, pernah menegur seseorang untuk mengulangi wudhu karena lupa mencuci ujung jari kakinya. 
Dengan melakukan sesuatu secara benar, baik, rapi, terencana, dan terorganisasi akan terhindar dari keragu-raguan. Sesuatu yang didasarkan atas keragu-raguan akan melahirkan hasil yang tidak optimal, bahkan tidak bermanfaat.
Manajemen merupakan suatu keniscayaan, terutama bagi suatu lembaga pendidikan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Lembaga pendidikan yang menerapkan manajemen dengan baik akan mencapai hasil yang baik pula. Ali bin Abi Thalib ra, menggambarkan betapa kebatilan dengan manajemen yang baik akan mengalahkan kebaikan yang tidak diorganisir dengan baik. 
Manajemen kemuridan adalah sebuah sistem yang mencakup aturan-aturan yang berkaitan dengan keberadaan murid di sebuah lembaga pendidikan. Aturan-aturan tersebut terintegrasikan dengan peraturan sekolah sehingga secara otomatis menjadi aturan baku yang ditetapkan oleh sekolah yang kemudian di break down menjadi Standart Operating Prosedure (SOP). 
Peraturan-peraturan tersebut meliputi :
  • tata tertib kedatangan murid
  • tata tertib kepulangan murid
  • tata tertib keterlambatan murid
  • tata tertib proses kegiatan pembelajaran
  • tata tertib kegiatan istirahat
  • tata tertib kegiatan ibadah
  • pengembangan potensi diri
Sebagai langkah terakhir dari prinsip manajemen tentunya adalah adanya evaluasi dan tindak lanjut dari hasil evaluasi. Sehingga setelah tahapan-tahapan tersebut dilakukan akan muncul sebuah kesimpulan dari keberhasilan sebuah proses pendidikan. Dan dari kesimpulan itulah seorang pendidik dalam hal ini guru dapat memberikan penilaian terhadap peserta didik.
D.    Perangkat Manajemen Kemuridan
Perangkat manajemen kemuridan terdiri dari dua hal yaitu perilaku pelaku manajemen, dan system pengendalian manajemen.
Perilaku pelaku manajemen senantiasa didasari atas keimanan dan ketauhidan, sehingga semua kegiatan yang dilakukan akan terhindar dari kemaksiatan, penyelewengan dan kecurangan karena menyadari adanya pengawasan dari Allah Swt, yang mencatat semua perbuatan baik dan buruk. Setiap kegiatan dalam manajemen kemuridan diupayakan menjadi amal saleh. Amal saleh tidak semata-mata diartikan perbuatan baik, tetapi perbuatan baik yang dilandasi iman. 
Dalam ajaran Islam suatu perbuatan dinilai sebagai amal saleh apabila memenuhi syarat sebagai berikut. Pertama, niat yang ikhlas karena Allah Swt, kedua, tata cara pelaksanaan yang sesuai syari’at seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw, dan ketiga, dilakukan dengan penuh kesungguhan, terencana, teratur, dan tuntas.
Jadi amal saleh adalah perbuatan yang dikerjakan dengan menerapkan manajemen. Dan dengan manajemen yang baik dengan sendirinya akan menghasilkan amal saleh. Beberapa fungsi manajemen yang dilakukan oleh perilaku pelaku manajemen adalah; perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian. 
Ada beberapa karakter yang dimiliki oleh Bagian Kemuridan, antara lain disiplin/ketegasan, musyawarah, keterbukaan, mampu menempatkan dan mendelegasikan tugas kepada bawahan sesuai degan kemampuan masing-masing, mampu memotivasi bawahan dan mampu memberikan teladan yang baik. 
Sistem pengendalian manajemen dalam hal ini sistem yang baik akan menjadikan perilaku pelakunya berjalan dengan baik. Termasuk di dalamnya adanya sistem yang baik dalam pelaksanaan program hingga sistem kontrol dan evaluasi yang akan menjaga keberlangsungan program-program yang ada. 
Dengan demikian, program tersebut akan tetap berjalan dengan baik dan memiliki parameter keberhasilan yang jelas. Dan final dari proses ini adalah terbentuknya pembiasaan yang baik khususnya bagi murid dan guru.
E.        Penerapan Manajemen Kemuridan
Beberapa tahapan dalam menerapkan manajemen kemuridan dalam melaksanakan program-programnya, antara lain :
1.         Identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dirasakan atau terjadi.
2.        Perumusan tujuan dan target kegiatan yang jelas (memenuhi kebutuhan atau memecahkan permasalahan point pertama).
3.       Pemilihan metode yang tepat (mampu memenuhi kebutuhan atau memecahkan masalah dan mampu menciptakan situasi sesuai tujuan dan target yang sudah dirumuskan secara jelas).
4.    Mengelola tenaga yang melaksanakan (membentuk tim/kepanitiaan untuk melaksanakan, meliputi perencanaan perangkat/fasilitas dan dana yang dibutuhkan untuk kegiatan).
5.  Mengelola sumber daya yang dibutuhkan (pada prinsipnya, semua guru untuk bisa melaksanakan program dan berkomitmen).
6.         Mengelola waktu yang tersedia (penjadwalan tahap-tahap kerja/time schedule program).
7.    Monitoring (memperhatikan bersama secara serius pada perkembangan dan hambatan di setiap tahap-tahap kerja melalui komunikasi intensif, sesuai indikator/tolok ukur yang ada).
8.     Evaluasi (menemukan kelebihan/kekuatan dan kekurangan/kelemahan setiap tahap kerja, sesuai indikator/tolok ukur yang ada).
9.    Follow up/tindak lanjut (suatu kegiatan lanjutan yang perlu dilakukan jika pada saat evaluasi disimpulkan bahwa tujuan dan target program belum terpenuhi).
10. Penjagaan program (program yang baik hendaknya dijaga dan ditingkatkan, sehingga program ini menjadi pembiasaan harian untuk selalu diamalkan (habit forming).

Ketika WhatsApp di Genggaman Anak

Kamis, 22 Mei 2014 0 komentar

Seiring perkembangan media informasi dan teknologi  yang semakin canggih dan menjadi pelengkap dalam kehidupan manusia, seakan segala urusan kita semakin mudah, sehingga kemajuan media informasi dan teknologi bisa dikatakan dapat memberikan efek positif terhadap kehidupan sosial manusia.

Namun ternyata kemajuan media informasi dan teknologi juga memerlukan perhatian khusus, terutama oleh kalangan keluarga dan lembaga pendidikan, karena perkembangan media informasi dan teknologi juga membawa efek negatif dalam kehidupan manusia.

Maraknya media sosial yang terkemas dalam aplikasi instan yang semakin mudah diakses oleh setiap manusia dapat membantu mereka dalam melakukan interaksi sosial, terlepas dari interaksi yang “sehat” atau interaksi yang tidak “sehat”.

Dalam hal ini fokus pembahasan penulis tentang media sosial WhatsApp, yang mana media ini sudah mulai menjamur disejumlah kalangan, termasuk anak usia dasar berdasarkan pendidikannya telah banyak dikenalkan, bahkan menggunakan media ini.

Tentunya fenomina ini perlu menjadi perhatian khusus bagi kalangan keluarga dan lembaga pendidikan, sebagai upaya penyelamatan generasi penerus perjuangan Agama, Bangsa, dan Negara ini.

Karenanya kita sebagai orang tua dan sebagai guru di lingkungan pendidikan harus bisa memberikan arahan dan bimbingan secara kontinyu dalam kehidupan mereka, termasuk mengenai media informasi dan teknologi.

Ulasan ini bukan bermaksud untuk membuat anak-anak kita gaptek, akan tetapi yang terpenting dan perlu difahami dalam hal ini adalah adanya pendampingan dan kontrol nyata oleh kita sebagai orang tua dan sebagai guru di lingkugan pendidikan terhadap pergaulan anak-anak kita, sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Ada apa dengan WhatsApp ?

Sekilas tentang WhatsApp bahwa media ini merupakan media sosial yang menu aplikasinya dapat diinstal di smartpone. Konten media ini adalah layanan pesan instan yang tidak dibatasi oleh karakter kata, dan dilengkapi dengan fitur berbagai simbol, serta dilengkapi dengan lampiran data yang bisa melampirkan foto, vedio, dan rekaman suara, yang dapat dibagikan melalui nomor kontak yang juga terhubung dengan aplikasi ini.

Aplikasi ini bersifat privasi sehingga tidak bisa diketahui kecuali oleh pemilik akun itu sendiri dan lawan komunikasinya. Namun media ini juga dapat terbaca secara umum dalam sebuah group tertentu, itupun hanya oleh anggota group. Sehingga sangat mungkin aplikasi ini dimanfaatkan untuk memperbincangkan hal-hal yang privasi pula.

Faktor privasi inilah yang harus kita waspadai dalam media sosial. Jika kita lalai dalam mengontrol anak didik kita, terutama kontroling mereka saat berinteraksi dengan media sosial, maka bisa saja anak kita menggunakan media tersebut kepada hal-hal yang negatif. Hal ini disebabkan oleh psikis mereka yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dimasa usia belajar.

Karenanya sebagai orang tua dan sebagai guru harus bisa mengontrol dan bisa mendampingi anak secara berkesinambungan,untuk menyelamatkan mereka dari hal-hal yang negatif.
Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh kita, baik sebagai orang tua maupun sebagai guru. Tiga hal ini penulis singkat dengan KDK (Kenalkan, Dampingi, dan Kontrol).

Pertama, kenalkan anak didik kita dengan media sosial yang sudah umum dimanfaatkan di era sekarang. Pengenalan ini dalam rangka memperkenalkan ilmu penegetahuan dan teknologi. Dalam pengenalan ini hendaknya juga disampaikan manfaatnya dalam kehidupan sosial. Sehingga anak didik kita tidak ketinggalan jaman, atau gaptek.

Kedua, dampingi anak didik kita dalam mengakses media sosial. Langkah ini dimaksudkan agar mereka tidak liar dalam berselancar di dunia maya, sehingga jika ditemukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan, kita sebagai orang tua ataupun guru bisa langsung menegurnya.

Ketiga, kontrol anak didik kita dalam berintekasi dengan media sosial. Hal ini sebagai upaya untuk mengatur kedisiplinan mereka sehingga mereka tidak terlena dan lalai terhadap tugas-tugas lain yang seharusnya dilakukan. Selain itu untuk mengetahui perkembangan sejauh mana mereka dalam menggunakan media sosial.

Tentunya tidak hanya WhatsApp, media sosial lainnya seperti facebook, twitter, dan semacamnya masing-masing mempunyai layanan privasi tersendiri, sehingga kita harus menggunakannya dengan “sehat”.

Semoga pengguna media-media sosial ini dapat memafaatkannya dengan baik sehingga dapat membuahkan manfaat yang baik pula. Wallahu A’lam []

*Artikel ini bisa dibaca juga di sdithidayatullah.net dan majalahfahma.com

Modul Bahasa Arab : al-Asas Fi Qowaid al-Lughah al-‘Arabiyah

Sabtu, 17 Mei 2014 0 komentar

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, modul pembelajaran bahasa arab ini telah selesai disusun. Buku ini merupakan buku pedoman dan panduan dalam belajar maupun mengajar bahasa arab. 

Modul ini disusun dalam rangka melestarikan ilmu tata bahasa arab, sehingga modul ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam pembelajaran.

Modul ini disusun oleh pemuda kelahiran Madura Jawa Timur, Subliyanto Ibnu Syamsul ‘Arifin, yang penyusunannya disusun secara bertahap, mulai tahun 2010 hingga tahun 2014, yang kemudian penulis memberi judul dengan “Al-Asas Fi Qowaid Al-Lughah Al-‘Arabiyah”.

Muatan dari modul ini adalah konsep-konsep dalam tata bahasa arab yang disertai dengan rumus tabel guna mempermudah dalam menganalisis struktur kalimat dalam bahasa arab.

Modul ini merupakan rangkuman dan kumpulan dari materi yang penulis susun berdasarkan hasil dan pengalaman penulis dalam belajar bahasa arab, yang merujuk kepada buku-buku klasik tata bahasa arab. 

Sehingga desain modul ini oleh penulis didesain dengan aura klasik pula agar pembaca dapat mempraktikkan langsung dalam baca kitab gundul.

Namun bagi pemula yang sama sekali belum mengenal bahasa arab, membutuhkan pendampingan dalam menggunakan modul ini, sehingga tidak bisa belajar otodidak.

Mudah-mudahan kehadiran buku ini dapat membantu kaum muslimin dalam belajar dan memahami bahasa arab.


Modul ini bisa pembaca didapatkan dengan memesan langsung kepada penulis melalui SMS : 0897 3825 909 / WA : 0877 3981 5226 / Twitter : @Subliyanto / Facebook : Subli Yanto.

Setiap Muslim Wajib Berdakwah

Sabtu, 26 April 2014 0 komentar

Tulisan ini adalah hasil belajar jurnalistik saya yang termuat di hidayatullah.com

Inilah tiga pesan pakar pendidikan dari Riyadh, Syeikh Dr Muhammad ad-Duwaisy pada santri Hidayatullah Jogjakarta.

Tugas besar sebagai Muslim adalah berdakwah di mana saja dan kapan saja. Demikian salah satu pesan pakar pendidikan dari Riyadh Saudi Arabia, Syeikh Dr.Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy di hadapan santri Pesantren Hidayatullah Jogjakarta.

Kehadiran Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy disambut antusias  oleh para santri. Dalam diskusinya dengan para santri dan sejumlah civitas akademik pesantren, ia berpesan tiga hal yang wajib dilakukan oleh umat Islam sebagai generasi penerus perjuangan Islam.

Pertama, sebagai generasi Muslim harus mempelajari ilmu agama dengan baik. Kedua, setiap orang Muslim mempunyai kewajiban untuk berdakwah di manapun dan kapanpun berada, karena hal itu merupakan implementasi dari iman dan takwa kita kepada Allah.

Ketiga, generasi Muslim mempunyai peran penting untuk perjuangan Islam ke depan, sehingga generasi Muslim harus terus belajar memahami Islam dengan baik dan mendakwahkannya.

“Tentunya hal ini dapat dilakukan dengan memahami al-Qur’an dan al-Hadits serta memahami sejarah perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam,” ujarnya.

Setelah diskusi ia menyempatkan diri melihat kegiatan pembelajaran di Sekolah Menengah Integral (SMI) dan SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Seperti diketahui, selain dikenal ahli pendidikan, Syeikh Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy juga dikenal penulis buku yang produktif.

Bukunya berjudul “Anakku, Aku Bangga Padamu”  (Akafa Press) dan “Perang Melawan Syahwat”  (Daar an-Naba) telah banyak beredar di Indonesia.*/Yayan (Jogjakarta)

Efisiensi Dan Efektifitas Dalam Mengerjakan Soal Ujian

Rabu, 26 Februari 2014 0 komentar

Ujian merupakan bentuk evaluasi program pembelajaran yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan. Dengan ujian dapat diketahui perkembangan belajar peserta didik, sehingga ujian dapat dikatagorikan sebagai salah satu barometer keberhasilan belajar.

Dalam memantau perkembangan peserta didik, dilakukan monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan dengan tahapan-tahapan tertentu, mulai dari evaluasi harian, mingguan, mid semester, ujian akhir semester, dan bahkan hingga ujian akhir sekolah atau ujian nasional.

Pelaksanaan ujian tentunya juga sangat erat kaitannya dengan efisiensi dan efiktifitas. Efisiensi berkaitan dengan waktu, tenaga, dan biaya. Sementara efektifitas berkaitan dengan situasi dan kondisi berlangsungnya ujian.

Efisiensi dan efektifitas dalam pelaksanaan ujian merupakan indikator hasil pencapaian akhir proses pembelajaran. Apakah sudah berhasil sesuai dengan target dan harapan atau belum ?

Mari kita cermati sebuah kasus yang terjadi di sebuah sekolah berikut ini.

Di sebuah sekolah sedang berlangsung ujian mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Peserta ujian terdiri dari 20 orang. Lembar soal yang disiapkan oleh panitia sebanyak jumlah peserta ujian yang ada di ruangan tersebut. Sementara jumlah soal terdiri dari 40 soal dengan durasi waktu 120 menit ( 07.30-09.30 ).

Namun, yang menarik dalam kegiatan ujian tersebut adalah siswa dapat menyelesaikan dalam waktu 30-45 menit, dan 15 menit digunakan untuk mengoreksi kembali jawaban mereka. Lantas sisa waktu yang 60 menit digunakan untuk apa ?

50-75 % dari siswa, sisa waktu yang 60 menit digunakan untuk ngobrol dengan sesama temannya, sehingga ruangan yang awalnya kondusif berubah menjadi gaduh, karena siswa sudah selesai mengerjakan soal ujian. Pertanyaannya adalah, apakah siswa di sekolah itu memang pintar ? atau soal ujian pada pelajaran itu terlalu mudah ?

Tentunya cerita di atas, merupakan katagori kasus dalam sebuah pendidikan, karena akan menimbulkan permasalahan dalam sistem evaluasi pendidikan. Untuk menjawab pertanyaan di atas dibutuhkan sebuah analisis dari berbagai aspek.

Pertama, aspek siswa. Aspek ini dapat dilihat dari hasil akhir ujian mereka, apakah sudah sesuai standart dan target yang diharapkan atau tidak ? jika sudah sesuai, berarti ada dua opsi prediksi, yaitu siswa di sekolah itu memang pintar, atau soal pada pelajaran tersebut terlalu mudah. Jika belum sesuai, berarti ada masalah dengan siswa di sekolah itu.

Kedua, aspek soal. Aspek ini dapat dilihat dengan menggunakan sistem evaluasi soal ujian yang dilakukan oleh para pakar dan ahli, apakah soal tersebut tergolong mudah, sedang, atau sulit ? indikatornya adalah alokasi waktu yang disediakan dan jumlah soal ada.

Ketiga, aspek pelaksanaan ujian. Aspek ini dapat dilihat dari jumlah peserta ujian, ruang ujian, pengawas, lingkungan, dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ujian tersebut.

Tiga aspek inilah yang perlu ditinjau sebagai bahan dalam pencapaian efisiensi dan efektifitas dalam pelaksanaan ujian. Sehingga jika ketiganya sudah baik, maka evaluasi pembelajran akan terlaksana dengan baik pula.[]

Efek Budaya Instan

Senin, 24 Februari 2014 0 komentar

Seiring perkembangan zaman, segala sesuatu yang ditawarkan dalam kebutuhan kita terkemas dalam bentuk instan.

Secara umum instan merupakan langkah praktis dalam melakukan sesuatu, sehingga mudah dan cepat menjadi indikatornya. Namun, belum tentu tepat dalam bidang-bidang tertentu, terlebih dalam bidang pendidikan, karena pendidikan membutuhkan proses yang berkesinambungan.

Sementara pendidikan adalah pengembangan seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek kognitif, afektif, maupun aspek psikomotorik.

Untuk mewujudkan hal itu, tentunya membutuhkan proses yang inten dan tidak bisa dilakukan secara instan, karena pendidikan sejatinya adalah menanamkan nilai dan karakter dalam diri manusia.

Contoh kecil yang sering kita abaikan sebagai orang tua adalah tentang makanan. Mungkin hal itu nampak sepele, namun sungguh sangat besar efeknya.

Ada sebuah kasus yang sangat menarik dan perlu menjadi pelajaran bagi kita semua.

Suatu hari di sebuah sekolah swasta, seorang anak pamit kepada gurunya untuk pergi ke kantin. Sang guru menanyakan keperluannya. Anak itu menjawab untuk minta bantuan petugas kantin memasakkan mie instan. Padahal, di sekolah tersebut sangat melarang muridnya untuk jajan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Setelah ditanya lebih lanjut ternyata anak itu tidak sempat sarapan di rumah, yang kemudian hanya disiapkan uang dan mie oleh orang tuanya, kemudian diantar ke sekolahnya.

Kalau kasus seperti di atas terjadi kepada kita sebagai orang tua, dengan alasan hanya sibuk bekerja dan lain sebagainya, lantas kapan kita akan menanamkan nilai kasih sayang kepada anak-anak kita ?

Hal semacam ini sangat penting untuk diperhatikan oleh kita sebagai orang tua, karena budaya instan mempunyai efek samping yang sangat besar dalam kehidupan manusia.

Rendahnya kreativitas, rendahnya moral, lahirnya kemalasan, krisisnya sikap hormat terhadap orang tua, dan bahkan lahirnya koruptor, mungkin adalah efek dari budaya instan yang sudah mengakar dalam kehidupan manusia hingga menjadi pandangan hidupnya.

Karenanya, kita sebagai orang tua mari kita sama-sama introspeksi diri agar tidak terjebak dan terjerumus ke dalam budaya instan yang akan mengakibatkan keburaman di masa depan.

Proses yang baik akan menentukan hasil yang baik pula. Wallu a’lam. []

Karakteristik Guru Ala Rasul

Minggu, 19 Januari 2014 0 komentar

Rasulullah Saw adalah seorang guru terbaik di dunia yang selalu mengajar ummatnya dengan berbagai macam pelajaran.  Dengan sifat-sifat mulia, beliau mampu mengajarkan dengan sangat baik, sehingga bisa menjadikan murid-murid beliau menjadi manusia terbaik sepanjang sejarah. Kita selaku ummat beliau hendaknya memiliki sifat-sifat tertentu yang dimiliki dan diajarkan oleh beliau. Lantas, apa saja sifat-sifat beliau yang seyogyanya diamalkan oleh guru?

1. Ikhlas
Dengan memiliki keikhlasan dalam mengajar, seorang guru akan mampu menembus hati sanubari murid sehingga akan mudah menyerap ilmu yang disampaikan. Guru yang mengajar dengan ikhlas, berbeda rasanya dengan guru yang hanya  mengajar karena tuntutan kerja ataupun karena sebab lainnya. Sang murid akan tenang dan nyaman karena merasakan bahwa sang guru betul-betul ingin menstransfer ilmunya.

Dwi Budiyanto dalam bukunya Prophetic learning, menyampaikan bahwa mengajar dengan ikhlas juga akan mendorong seorang guru untuk mengetahui lebih banyak lagi. Ia mencontohkan apa yang ada pada diri sahabat mulia Ibnu Abbas, seorang guru yang memiliki banyak murid. Semangatnya untuk mengajar sama besarnya dengan semangatnya dalam belajar. Bila ada berita tentang sebuah hadits pada salah seorang sahabat Rasulullah, maka ia akan segera mendatanginya. Jika seorang sahabat yang didatangi sedang tidur siang, ia akan menunggu di depan pintu rumah sambil berbantal pakaian luarnya. Subhanallah. Inilah kekuatan ikhlas yang mampu mendorong guru untuk lebih banyak lagi memperoleh ilmu.

Selain mengajar dengan ikhlas, seorang guru seharusnya juga menanamkan sifat ikhlas ke dalam jiwa murid-muridnya. Karena semua pengetahuan bersumber dari Allah. Ilmu dipergunakan hanyalah untuk mencari ridha Allah, bukan yang lain. Dengan berlandaskan keikhlasan, Allah akan membuka pintu-pintu pengetahuan, karena Allah-lah Al-‘Aalim, Rabb Yang Maha Mengetahui dan ilmu Allah sangat luas tidak bertepi, Al-Wasi’.

Rasulullah juga sangat menekankan agar berbuat ikhlas karena niat yang ikhlas adalah penentu suatu perbuatan. Beliau pernah bersabda, “sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya” [HR. Bukhari-Muslim]. Kalau niatnya tidak ikhlas, sia-sialah perbuatan kita. Allah hanyalah melihat hati kita, bukan secara lahiriah belaka. Rasul juga pernah menjelaskan lebih lanjut, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan rupa kamu, akan tetapi dia memandang kepada hati dan amal-amal kamu” [HR. Muslim].

2. Jujur
Dengan memiliki sifat jujur, ilmu yang disampaikan oleh seorang guru akan diterima dan dipercayai tanpa ada rasa curiga oleh murid-muridnya. Selain itu, ia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Karena bagi mereka yang suka berbohong, nerakalah tempatnya. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya kebenaran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan pada surga. [HR. Bukhari-Muslim]

3. Ucapan = Perbuatan

Kalaulah perilaku seorang guru bertentangan dengan apa yang disampaikan kepada murid-muridnya akan menjadikan martabat dirinya rendah di hadapan orang yang seharusnya menghormatinya. Selain itu, murid-muridnya akan mengalami kebingungan serta tidak tahu siapa yang harus dicontoh. Sang murid pun juga tidak memahami arti kemulian akhlaq.

Dalam hal ini, Allah berfirman dalam surat As-Shaff ayat 3 yang bernada ancaman terhadap orang-orang yang perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya. “Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

4. Adil
Sikap adil seharusnya diwujudkan oleh seorang guru kepada murid, karena akan menebarkan rasa kasih sayang dan cinta di antara mereka. Contoh pewujudan adil misalnya memberi nilai dan peringkat sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, bukan karena faktor keluarga, kecondongan dengan salah satu murid, atau faktor-faktor lainnya. 

Berbuat adil ini akan mengantarkan sesorang menjadi makhluq yang dicintai oleh Allah. Terlebih dia adalah seorang pemimpin. Rasulullah Saw bersabda, “Manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yangg adil, dan manusia yang paling dibenci Allah dan mendapat siksa yang pedih pada hari kiamat adalah pemimpin yang dzalim” [HR. Tirmidzi].

5. Akhlaq Mulia
Ucapan yang baik, senyuman, dan raut muka yang berseri dapat menghilangkan jarak yang membatasi antara seorang guru dengan muridnya. Sikap kasih sayang, serta kelapangan hati seorang pendidik mampu menangani kebodohan seorang murid.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan dalam segala sesuatu”[HR. Muslim]

6. Tawadhu’
Dengan sifat tawadhu’ yang dimiliki oleh guru, akan memberi dampak positif bagi sang guru maupun murid. Ia dapat menghancurkan batas yang menghalangi antara keduanya. 

Rarasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ sehingga seseorang tidak bersikap sombong pada yang lainnya dan tidak mendzalimi satu sama lainnya” [HR. Muslim].

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum