Karakteristik Guru Ala Rasul

Minggu, 19 Januari 2014 0 komentar

Rasulullah Saw adalah seorang guru terbaik di dunia yang selalu mengajar ummatnya dengan berbagai macam pelajaran.  Dengan sifat-sifat mulia, beliau mampu mengajarkan dengan sangat baik, sehingga bisa menjadikan murid-murid beliau menjadi manusia terbaik sepanjang sejarah. Kita selaku ummat beliau hendaknya memiliki sifat-sifat tertentu yang dimiliki dan diajarkan oleh beliau. Lantas, apa saja sifat-sifat beliau yang seyogyanya diamalkan oleh guru?

1. Ikhlas
Dengan memiliki keikhlasan dalam mengajar, seorang guru akan mampu menembus hati sanubari murid sehingga akan mudah menyerap ilmu yang disampaikan. Guru yang mengajar dengan ikhlas, berbeda rasanya dengan guru yang hanya  mengajar karena tuntutan kerja ataupun karena sebab lainnya. Sang murid akan tenang dan nyaman karena merasakan bahwa sang guru betul-betul ingin menstransfer ilmunya.

Dwi Budiyanto dalam bukunya Prophetic learning, menyampaikan bahwa mengajar dengan ikhlas juga akan mendorong seorang guru untuk mengetahui lebih banyak lagi. Ia mencontohkan apa yang ada pada diri sahabat mulia Ibnu Abbas, seorang guru yang memiliki banyak murid. Semangatnya untuk mengajar sama besarnya dengan semangatnya dalam belajar. Bila ada berita tentang sebuah hadits pada salah seorang sahabat Rasulullah, maka ia akan segera mendatanginya. Jika seorang sahabat yang didatangi sedang tidur siang, ia akan menunggu di depan pintu rumah sambil berbantal pakaian luarnya. Subhanallah. Inilah kekuatan ikhlas yang mampu mendorong guru untuk lebih banyak lagi memperoleh ilmu.

Selain mengajar dengan ikhlas, seorang guru seharusnya juga menanamkan sifat ikhlas ke dalam jiwa murid-muridnya. Karena semua pengetahuan bersumber dari Allah. Ilmu dipergunakan hanyalah untuk mencari ridha Allah, bukan yang lain. Dengan berlandaskan keikhlasan, Allah akan membuka pintu-pintu pengetahuan, karena Allah-lah Al-‘Aalim, Rabb Yang Maha Mengetahui dan ilmu Allah sangat luas tidak bertepi, Al-Wasi’.

Rasulullah juga sangat menekankan agar berbuat ikhlas karena niat yang ikhlas adalah penentu suatu perbuatan. Beliau pernah bersabda, “sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya” [HR. Bukhari-Muslim]. Kalau niatnya tidak ikhlas, sia-sialah perbuatan kita. Allah hanyalah melihat hati kita, bukan secara lahiriah belaka. Rasul juga pernah menjelaskan lebih lanjut, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan rupa kamu, akan tetapi dia memandang kepada hati dan amal-amal kamu” [HR. Muslim].

2. Jujur
Dengan memiliki sifat jujur, ilmu yang disampaikan oleh seorang guru akan diterima dan dipercayai tanpa ada rasa curiga oleh murid-muridnya. Selain itu, ia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Karena bagi mereka yang suka berbohong, nerakalah tempatnya. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya kebenaran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan pada surga. [HR. Bukhari-Muslim]

3. Ucapan = Perbuatan

Kalaulah perilaku seorang guru bertentangan dengan apa yang disampaikan kepada murid-muridnya akan menjadikan martabat dirinya rendah di hadapan orang yang seharusnya menghormatinya. Selain itu, murid-muridnya akan mengalami kebingungan serta tidak tahu siapa yang harus dicontoh. Sang murid pun juga tidak memahami arti kemulian akhlaq.

Dalam hal ini, Allah berfirman dalam surat As-Shaff ayat 3 yang bernada ancaman terhadap orang-orang yang perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya. “Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

4. Adil
Sikap adil seharusnya diwujudkan oleh seorang guru kepada murid, karena akan menebarkan rasa kasih sayang dan cinta di antara mereka. Contoh pewujudan adil misalnya memberi nilai dan peringkat sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan, bukan karena faktor keluarga, kecondongan dengan salah satu murid, atau faktor-faktor lainnya. 

Berbuat adil ini akan mengantarkan sesorang menjadi makhluq yang dicintai oleh Allah. Terlebih dia adalah seorang pemimpin. Rasulullah Saw bersabda, “Manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yangg adil, dan manusia yang paling dibenci Allah dan mendapat siksa yang pedih pada hari kiamat adalah pemimpin yang dzalim” [HR. Tirmidzi].

5. Akhlaq Mulia
Ucapan yang baik, senyuman, dan raut muka yang berseri dapat menghilangkan jarak yang membatasi antara seorang guru dengan muridnya. Sikap kasih sayang, serta kelapangan hati seorang pendidik mampu menangani kebodohan seorang murid.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan dalam segala sesuatu”[HR. Muslim]

6. Tawadhu’
Dengan sifat tawadhu’ yang dimiliki oleh guru, akan memberi dampak positif bagi sang guru maupun murid. Ia dapat menghancurkan batas yang menghalangi antara keduanya. 

Rarasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ sehingga seseorang tidak bersikap sombong pada yang lainnya dan tidak mendzalimi satu sama lainnya” [HR. Muslim].

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum