Efisiensi Dan Efektifitas Dalam Mengerjakan Soal Ujian

Rabu, 26 Februari 2014 0 komentar

Ujian merupakan bentuk evaluasi program pembelajaran yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan. Dengan ujian dapat diketahui perkembangan belajar peserta didik, sehingga ujian dapat dikatagorikan sebagai salah satu barometer keberhasilan belajar.

Dalam memantau perkembangan peserta didik, dilakukan monitoring dan evaluasi yang berkesinambungan dengan tahapan-tahapan tertentu, mulai dari evaluasi harian, mingguan, mid semester, ujian akhir semester, dan bahkan hingga ujian akhir sekolah atau ujian nasional.

Pelaksanaan ujian tentunya juga sangat erat kaitannya dengan efisiensi dan efiktifitas. Efisiensi berkaitan dengan waktu, tenaga, dan biaya. Sementara efektifitas berkaitan dengan situasi dan kondisi berlangsungnya ujian.

Efisiensi dan efektifitas dalam pelaksanaan ujian merupakan indikator hasil pencapaian akhir proses pembelajaran. Apakah sudah berhasil sesuai dengan target dan harapan atau belum ?

Mari kita cermati sebuah kasus yang terjadi di sebuah sekolah berikut ini.

Di sebuah sekolah sedang berlangsung ujian mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Peserta ujian terdiri dari 20 orang. Lembar soal yang disiapkan oleh panitia sebanyak jumlah peserta ujian yang ada di ruangan tersebut. Sementara jumlah soal terdiri dari 40 soal dengan durasi waktu 120 menit ( 07.30-09.30 ).

Namun, yang menarik dalam kegiatan ujian tersebut adalah siswa dapat menyelesaikan dalam waktu 30-45 menit, dan 15 menit digunakan untuk mengoreksi kembali jawaban mereka. Lantas sisa waktu yang 60 menit digunakan untuk apa ?

50-75 % dari siswa, sisa waktu yang 60 menit digunakan untuk ngobrol dengan sesama temannya, sehingga ruangan yang awalnya kondusif berubah menjadi gaduh, karena siswa sudah selesai mengerjakan soal ujian. Pertanyaannya adalah, apakah siswa di sekolah itu memang pintar ? atau soal ujian pada pelajaran itu terlalu mudah ?

Tentunya cerita di atas, merupakan katagori kasus dalam sebuah pendidikan, karena akan menimbulkan permasalahan dalam sistem evaluasi pendidikan. Untuk menjawab pertanyaan di atas dibutuhkan sebuah analisis dari berbagai aspek.

Pertama, aspek siswa. Aspek ini dapat dilihat dari hasil akhir ujian mereka, apakah sudah sesuai standart dan target yang diharapkan atau tidak ? jika sudah sesuai, berarti ada dua opsi prediksi, yaitu siswa di sekolah itu memang pintar, atau soal pada pelajaran tersebut terlalu mudah. Jika belum sesuai, berarti ada masalah dengan siswa di sekolah itu.

Kedua, aspek soal. Aspek ini dapat dilihat dengan menggunakan sistem evaluasi soal ujian yang dilakukan oleh para pakar dan ahli, apakah soal tersebut tergolong mudah, sedang, atau sulit ? indikatornya adalah alokasi waktu yang disediakan dan jumlah soal ada.

Ketiga, aspek pelaksanaan ujian. Aspek ini dapat dilihat dari jumlah peserta ujian, ruang ujian, pengawas, lingkungan, dan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ujian tersebut.

Tiga aspek inilah yang perlu ditinjau sebagai bahan dalam pencapaian efisiensi dan efektifitas dalam pelaksanaan ujian. Sehingga jika ketiganya sudah baik, maka evaluasi pembelajran akan terlaksana dengan baik pula.[]

Efek Budaya Instan

Senin, 24 Februari 2014 0 komentar

Seiring perkembangan zaman, segala sesuatu yang ditawarkan dalam kebutuhan kita terkemas dalam bentuk instan.

Secara umum instan merupakan langkah praktis dalam melakukan sesuatu, sehingga mudah dan cepat menjadi indikatornya. Namun, belum tentu tepat dalam bidang-bidang tertentu, terlebih dalam bidang pendidikan, karena pendidikan membutuhkan proses yang berkesinambungan.

Sementara pendidikan adalah pengembangan seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek kognitif, afektif, maupun aspek psikomotorik.

Untuk mewujudkan hal itu, tentunya membutuhkan proses yang inten dan tidak bisa dilakukan secara instan, karena pendidikan sejatinya adalah menanamkan nilai dan karakter dalam diri manusia.

Contoh kecil yang sering kita abaikan sebagai orang tua adalah tentang makanan. Mungkin hal itu nampak sepele, namun sungguh sangat besar efeknya.

Ada sebuah kasus yang sangat menarik dan perlu menjadi pelajaran bagi kita semua.

Suatu hari di sebuah sekolah swasta, seorang anak pamit kepada gurunya untuk pergi ke kantin. Sang guru menanyakan keperluannya. Anak itu menjawab untuk minta bantuan petugas kantin memasakkan mie instan. Padahal, di sekolah tersebut sangat melarang muridnya untuk jajan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Setelah ditanya lebih lanjut ternyata anak itu tidak sempat sarapan di rumah, yang kemudian hanya disiapkan uang dan mie oleh orang tuanya, kemudian diantar ke sekolahnya.

Kalau kasus seperti di atas terjadi kepada kita sebagai orang tua, dengan alasan hanya sibuk bekerja dan lain sebagainya, lantas kapan kita akan menanamkan nilai kasih sayang kepada anak-anak kita ?

Hal semacam ini sangat penting untuk diperhatikan oleh kita sebagai orang tua, karena budaya instan mempunyai efek samping yang sangat besar dalam kehidupan manusia.

Rendahnya kreativitas, rendahnya moral, lahirnya kemalasan, krisisnya sikap hormat terhadap orang tua, dan bahkan lahirnya koruptor, mungkin adalah efek dari budaya instan yang sudah mengakar dalam kehidupan manusia hingga menjadi pandangan hidupnya.

Karenanya, kita sebagai orang tua mari kita sama-sama introspeksi diri agar tidak terjebak dan terjerumus ke dalam budaya instan yang akan mengakibatkan keburaman di masa depan.

Proses yang baik akan menentukan hasil yang baik pula. Wallu a’lam. []

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum