SELAMATKAN GENERASI DARI PROSTITUSI

Rabu, 16 Desember 2015 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Beberapa hari ini kita disuguhkan dengan berita yang sangat memprihatinkan. Berita tentang #prostitusi yang melibatkan artis papan atas dengan tarif yang tinggi mampu merubah sorot kamera media dan bahkan mampu membuat semua orang angkat bicara mengomentarinya.

PILKADA DAN SIKAP KITA

Rabu, 09 Desember 2015 0 komentar

(Renungan Pasca PILKADA)
Oleh : Subliyanto*

Rabu,09 Desember 2015 kemarin,ribuan rakyat indonesia dari masing-masing daerah telah menentukan pemimpinnya melalui Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak di seluruh daerah di indonesia.

PILKADA DAN MASA DEPAN BANGSA

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Rabu 09 Desember 2015 merupakan pesta demokrasi rakyat indonesia di tingkat daerah. Dimana setiap warga negara menyalurkan suara simboliknya untuk Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak di seluruh daerah.

KETIKA PEMIMPIN MELANGGAR KODE ETIK

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Beberapa hari ini kita dihebohkan dengan sidang Mahkamah Kehormatan DPR ( MKD ) terkait tindakan ketua DPR yang konon dianggap sebagai pelanggaran kode etik.

MELESTARIKAN ALAM, MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

Senin, 23 November 2015 1 komentar

Oleh : Subliyanto,S,Pd.I*

Alam didefinisikan oleh para ulama’ dengan “Kullu maa siwallah”, yang artinya “Segala sesuatau selain Allah”. Maka semua makhluk (ciptaan) Allah pada hakikatnya adalah alam, termasuk di dalamnya manusia.

Alam diciptakan oleh Allah dengan proses dan bentuk ciptaan yang beraneka ragam, untuk suatu maksud dan tujuan tertentu sesuai dengan yang dikehendaki penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

PENYUSUNAN PROPOSAL DAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Kamis, 05 November 2015 0 komentar

Oleh Kastam Syamsi[1] (Dosen FBS Universitas Negeri Yogyakarta)

  1. PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Penyusunan proposal penelitian tindakan kelas (PTK) biasanya disajikan tidak dalam bab per bab, melainkan dalam bentuk pemberian seperti berikut ini.

LAKSANAKAN TUGAS KARENA ALLAH !

Rabu, 21 Oktober 2015 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Salah satu kebiasaan buruk manusia adalah mengeluh dalam melaksanakan tugas. Entah keluhan itu karena kurangnya hak yang seharusnya didapatkannya atau karena kelebihan beban tugas yang diamanahkannya.

Disisi lain keluhan itu wajar jika memang terjadi ketidak sesuaian antara kewajiban dan haknya. Namun keluhan itu juga akan menjadi racun yang mematikan spritual manusia jika keluhan itu mengarah kepada kelemahan dan kemalasan.

YANG KITA TUNGGU HANYALAH KEMATIAN

Kamis, 15 Oktober 2015 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Kemarin (15 Oktober 2015),saya mendapatkan kabar dari berbagai jaringan sosial media sahabat saya,yang mengabarkan bahwa salah satu sahabat saya telah dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"

Tentunya kalimat di atas sontak terucap dari para sahabatnya,seraya mendo'akan "Semoga amal baiknya diterima oleh Allah,dan segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah,serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran"

TAHUN BARU DAN MASA DEPAN KITA

Rabu, 14 Oktober 2015 0 komentar

(Refleksi Tahun Baru 1437 Hijriyah)

Oleh : Subliyanto*

"Selamat tahun baru  1437 Hijriyah"

Mungkin kalimat tersebut sering kita dengar kemarin. Bahkan tidak sedikit dari kita sebagai umat islam yang merayakannya dengan berbagai macam kegiatan.

Terlepas dari pro dan kontra tentang hal itu,yang jelas pergantian tahun ini patut kita syukuri,karena berarti Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk senantiasa memperkuat keimanan kita kepada Allah,dan mengimplementasikannya dalam bentuk amal shaleh dalam keseharian kita.

MENDAMPINGI ANAK HINGGA LUAR RUMAH

Kamis, 01 Oktober 2015 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

"Anak-anak tetaplah anak-anak,yang harus mengerti adalah kedua orang tuanya"

Ungkapan tersebut tentunya patut menjadi catatan bagi kita sebagai orang tua,karena kesimpulannya kalau terjadi apa-apa terhadap anak-anak kita yang menjadi sorotan utama dan dimintai pertanggung jawaban pertama adalah kita sebagai orang tuanya,lebih-lebih pertanggung jawaban disisi Allah subhanhu wa ta'ala.

PENGHINAAN PEMIMPIN TANDA KETIDAK ADILAN

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Beberapa hari ini kita disuguhkan dengan wacana dihidupkannya kembali undan-undang penghinaan presiden,yang tidak lain sasarannya adalah rakyat.  Bahkan saking alotnya mantan presiden indonesiapun Bapak Susilo Bambang Yudoyono juga angkat bicara melalui akun twitter pribadinya.

KETIKA MURID DEMAM BATU AKIK

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Fenomina batu akik tidak hanya menjadi trend di kalangan pria dewasa. Namun juga merambat di kalangan siswa. Tak sedikit diantara siswa yang memakai akik dan bahkan mereka mengetahui nama dari masing-masing jenis batu mulia tersebut.

Suatu hari seorang guru mengadakan razia di tas bawaan siswanya,razia tersebut tidak ada tujuan khusus untuk batu akik,namun razia tersebut memang sudah rutin dilakukan sebagai bagian dari monitoring siswa selama kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung.

Ketika Narkoba Berada dalam Rumah Tangga

Selasa, 19 Mei 2015 0 komentar

Baru-baru ini kita di suguhkan dengan berita tentang  penelantaran lima anak oleh kedua orang tuanya. Mirisnya, bedasarkan penyelidikan kepolisian, hal itu ternyata merupakan salah satu dampak dari pemakaian Narkoba oleh kedua orang tua anak tersebut.

Tentunya berita ini sangat mengejutkan, pasalnya sebuah keluarga  yang seharusnya menjadi pendidikan utama bagi anak-anaknya, beralih fungsi menjadi sebuah markaz konsumsi Narkoba. Sehingga efek dari semua itu adalah kelalaian terhadap tanggung jawab yang seharusnya dilakukan oleh orang tua, baik bagi dirinya maupun bagi anak-anaknya.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang tua. Anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga kita sebagai orang tua mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Salah satu kewajiban kita sebagai orang tua adalah merawat dan mendidik anak dengan baik dan benar. Anak merupakan generasi penerus perjuangan kita, generasi penerus perjuangan islam, sehingga kita sebagai orang tua harus memberikan arahan dan bimbingan serta kasih sayang kepada mereka agar menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Selain itu anak juga merupakan investasi kita kelak. Jika kita merawatnya dan mendidiknya dengan baik hingga anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah, maka kitapun akan menjadi orang nomor satu yang akan mendapatkan nilai keshalehannya.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdo’a baginya” (HR.Muslim).

Namun sebaliknya, jika kita sebagai orang tua lalai terhadap amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita yang berupa anak, hingga anak kita menjadi anak yang tidak paham akan Islam, maka kita sebagai orang tua akan menjadi orang nomor satu pula yang akan dimintai pertanggung jawabannya.

Kita sebagai orang tua terkadang terlalu sibuk dengan masalah duniawi, sehingga tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak kita. Bahkan tak jarang ada orang tua yang karena kesibukan pekerjaannya ia berangkat saat anaknya masih tidur dan pulang saat anaknya juga sudah tidur, sehingga tanggung jawabnya dilimpahkan kepada pihak ketiga, yaitu pembantu rumah tangga.

Tentunya hal itu merupakan kebiasaan yang tidak baik dan sebisa mungkin untuk dihindari, karena anak-anak kita butuh kasih sayang dari kita sebagai orang tua, khususnya ibu, karena ibu adalah pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya, “al ummu madrasatul ula”. Karenanya jangan tinggalkan anak-anak kita hanya karena kepentingan dunia semata.

Orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya, jika kita sebagai orang tua kita tidak mampu memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, maka yang terjadi adalah sebuah kehancuran.

Sementara narkoba, sebuah zat yang memabukkan, yang dengannya manusia akan kehilangan akal sehatnya, sehingga semuanya akan terabaikan. Jika narkoba sudah masuk dalam lingkungan rumah tangga, maka yang terjadi adalah malapetaka. Apabila kejahatan narkoba sudah menguasai diri manusia, maka ia akan buta atas segalanya, ia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, karena ia sudah kehilangan kesdarannya.

Sebagai orang tua, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan sebagai upaya untuk menghindari kejahatan narkoba yang semakin gencar peredarannya hingga saat ini.

Pertama, bertakwalah kepada Allah dimanapun kita berada, karena dengan ketakwaan akan mengantarkan kita kepada kebenaran, dan kebenaran akan mengantarkan kita kepada kebaikan, serta kebaikan akan mengantarkan kita kepada kasih sayang. Orang yang mencintai kebaikan akan dilindungi oleh Allah dari kejahatan.

Kedua, lindungi diri kita dan keluarga kita agar tidak terkontaminasi oleh lingkungan yang tidak sehat. Karena lingkungan merupakan sebuah pendidikan tidak langsung kepada kita ketika kita berada di tengah-tengah masyarakat.

Jika lingkungan kita baik, maka kitapun insya Allah akan ikut baik. Tapi jika lingkungan kita buruk, maka kita harus mempunyai benteng yang kuat agar tidak tergoda oleh keburukan-keburukan yang ada di dalamnya, bahkan kita mempunyai kewajiban untuk memberantasnya.

Ketiga, hendaknya kita memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu cahaya kebaikan akan terbuka.  Dengan ilmu kita akan bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Belajar tidaklah cukup di bangku sekolah, baik jenjang dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi, bahkan hingga gelar guru besar. Akan tetapi belajar adalah kewajiban manusia mulai dari buaian ibu hingga mati. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan kita. Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian ibu hingga ke liang lahat”.

Semoga fenomina-fenomina yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran bagi kita, sehingga kita bisa mengambil ibrah darinya, dan menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik.

Kebaikan yang kita raih hari ini adalah sebuah prestasi yang harus kita syukuri. Sementara keburukan yang kita kerjakan hari ini menjadi sebuah evaluasi yang harus kita istighfari. Wallahu a’lam.[]

*Penulis adalah Subliyanto, pendidik di Sleman Yogyakarta

Antara Anak dan Orang Tua

Sabtu, 16 Mei 2015 0 komentar

Baru-baru ini kita di hebohkan dengan berita tentang  penelantaran lima anak oleh kedua orang tuanya. Tentunya berita ini menjadi cambuk bagi kita sebagai orang tua. Anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga kita sebagai orang tua mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Salah satu kewajiban kita sebagai orang tua adalah merawat dan mendidik anak dengan baik dan benar. Anak merupakan generasi penerus perjuangan kita, generasi penerus perjuangan islam, sehingga kita sebagai orang tua harus memberikan arahan dan bimbingan serta kasih sayang kepada mereka agar menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.

Selain itu anak juga merupakan investasi kita kelak. Jika kita merawatnya dan mendidiknya dengan baik hingga anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah, maka kitapun akan menjadi orang nomor satu yang akan mendapatkan nilai keshalehannya.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh yang berdo’a baginya” (HR.Muslim).

Namun sebaliknya, jika kita sebagai orang tua lalai terhadap amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita yang berupa anak, hingga anak kita menjadi anak yang tidak paham akan Islam, maka kita sebagai orang tua akan menjadi orang nomor satu pula yang akan dimintai pertanggung jawabannya.

Kita sebagai orang tua terkadang terlalu sibuk dengan masalah duniawi, sehingga tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak kita. Bahkan tak jarang ada orang tua yang karena kesibukan pekerjaannya ia berangkat saat anaknya masih tidur dan pulang saat anaknya juga sudah tidur, sehingga tanggung jawabnya dilimpahkan kepada pihak ketiga, yaitu pembantu rumah tangga.

Tentunya hal itu merupakan kebiasaan yang tidak baik dan sebisa mungkin untuk dihindari, karena anak-anak kita butuh kasih sayang dari kita sebagai orang tua, khususnya ibu, karena ibu adalah pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya, “al ummu madrasatul ula”. Karenanya jangan tinggalkan anak-anak kita hanya karena kepentingan dunia semata.

Lantas apa saja yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita ?

Selain menjaga pertumbuhan fisiknya, kalau kita merujuk kepada kisah Lukman yang diabadikan namanya dalam al-Qur’an, maka yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah tentang akidah,akhlak,dan fiqih.

Pertama, tanamkan kepada anak-anak kita akidah yang kokoh. Akidah merupakan pondasi utama bagi anak-anak kita, sehingga kita harus menanamkannya sejak dini. Karena dengan akidah yang baik maka manusia akan kokoh. Sebaliknya tanpa akidah yang baik maka manusia akan rapuh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Dan (ingatlah) ketika lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungghnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS.Lukman : 13)

Kedua, tanamkan kepada anak-anak kita sikap yang baik (akhlak). Akhlak merupakan modal manusia dalam berinterkasi, baik kepada Allah sebagai Tuhannya, maupun berinteraksi dengan manusia yang lain sebagai saudaranya. Dengan akhlak maka kebaikan diantara manusia  akan tercipta. Sebaliknya tanpa akhlak maka keburukan akan meraja lela.

Salah satu akhlak yang harus diajarkan kepada anak kita adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, dan tidak bersikap sombong. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

“Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS.Lukman : 14)

“Dan jika keduanya memaksakan untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempuyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tenpat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS.Lukman : 15)

Terkait berbuat baik kepada kedua orang tua, Muhammad Habibullah bin Rois Ibrahim melalui syairnya berpesan dalam kitabnya Tarbiyatus Syibyan yang berbunyi: “Wamtasilan amrahuma habibi... Malamyakun makshiyatal wahhabi...”

Selanjutnya akhlak yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah larangan bersikap sombong. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman :

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan di bumi karena angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS.Lukman: 18).

Ketiga, tanamkan kepada anak-anak kita agar senantiasa rajin beribadah. Ibadah merupakan bentuk perwujudan dari penghambaan manusia kepada Allah sebagai Tuhannya. Untuk itu agar anak-anak kita dapat beribadah dengan baik maka ajarkan kepada mereka ilmu fiqih, baik secara teori maupun praktik.

Salah satu ibadah yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita adalah shalat, karena shalat adalah amalan pertama yang kelak akan dihisab oleh Allah. Selanjutnya kita ajarkan mereka praktik-praktik ibadah yang lain, baik yang bersifat mahdah ataupun yang ghairu mahdah. Shalat menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Lukman kepada anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS.Lukman : 17)

Semoga kita menjadi orang tua yang peduli terhadap anak-anak kita. Tidak hanya peduli terhadap kebutuhan duniawi mereka semata akan tetapi yang lebih utama adalah peduli terhadap kebutuhan ukhrawi mereka, karena kehidupan yang sesungguhnya adalah manakala kelak kita berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala.[] Wallahu a’lam.


*Penulis adalah Subliyanto, Pendidik di Sleman Yogyakarta

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 5

Minggu, 26 April 2015 0 komentar

Kinerja Guru adalah wujud prilaku atau kegiatan guru dalam proses pembelajaran, yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran melaksanakan kegiatan pembelajaran dan menilai hasil belajar, indicator jabatan fungsional kinerja guru sesuai dengan rincian kegiatan yang terdapat SK Menpan No 84/1993, dilakukan dengan menfokuskan pada unsur kegiatan, pendidikan, pengembangan profesi, dan kegiatan penunjang proses pembelajaran dan bimbingan.

Kualitas Kinerja Guru adalah wujud prilaku atau kegiatan yang dilaksanakan dan sesuai dengan harapan dan kebutuhan atau tujuan yang hendak dicapai secara efektif dan efisien. Untuk mencapai hal tersebut, seringkali kinerja guru dihadapkan pada berbagai hambatan/kendala sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan bentuk kinerja yang kurang efektif.ukuran kualitas kinerja guru dapat dilihat dari produktivitas pendidikan yang telah dicapai menyangkut output siswa yang dihasilkan.

Abilitas Guru adalah suatu karakteristik umum dari seseorang yang berhubungandengan pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan. Abilitas seorang guru secara aplikatif indikaatornya dapat digambarkan melalui delapan keterampilan mengajar (teaching skills), yakni: keterampilan bertanya(questioning skills), keterampilan member penguatan (reinforcement skills), keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan (explaning skills), keterampilan membuka dan menutup pelajaran (set induction and closure skills), keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan pembelajaran individual.

Sertifikasi Guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru yang telah memenuhi standar kompetensi guru. Sertifikasi guru bertujuan untuk: (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan nasional pendidikan, (2) meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, (3) meningkatkan martabat guru, (4) meningkatkan profesionalisme guru, (5) meningkatkan kesejahteraan guru.

Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya atau prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebgai guru dalam interval waktu tertentu.


*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 4

0 komentar

Sumber Belajar memiliki enam jenis yaitu (1) pesan (message) yang meliputi pesan formal dan nonformal (2) orang (people) yang secara umum dapat dibagi dua  kelompok yaitu kelompok orang yang didesain khusus sebagai sebagai sumber belajar utama, kelompok yang kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada dilingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas (3) bahan (matterials) yaitu merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran (4) alat (device) berupa benda-benda yang berbentuk fisik, sering disebut juga dengan perangkat keras (hardware) (5) teknik yaitu cara (prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran (6) latar (setting) yaitu lingkungan yang ada didalam sekolah maupun lingkungan yang ada diluar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran.

Media merupan wadah dari pesan yang oleh sumber pesan ataupun penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut.

Media Pembelajaran adalah berperan sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar sehingga mengkondisikan seseorang untuk belajar.
Sejumlah pertimbangan dalam memilih media pembelajaran yang tepat dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION yaitu akronim dari  access, cost, tehnology, organization, dan novelty.

Internet adalah sebuah jaringan global yang merupakan kumpulan dari jaringan-jaringan computer diseluruh dunia. Internet mempermudah para pemakainya untuk mendapatkan informasi-informasi di dunia cyber, lembaga-lembaga milik pemerintah dan institusi pendidikan dengan menggunakan komunikasi protocol yang terdapat pada computer.

Pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Perencanaan Pembelajaran (deign insrtuctional) adalah merupakan penjabaran oprasional dari kurikulum sedangkan aplikasi dari perencanaaan akan terlihat dalam kegiatan pembelajaran. Perenceanaan pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, terutama sebagai alat proyeksi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran. fungsi perencanaan pembelajaran sebagi pedoman atau panduan kegiatan, menggambarkan hasil yang akan dicapai sebagai alat control dan evaluasi. Bentuk perencanaan pembelajaran adalah silabus pembelajaran dan rencana pelaksanaan pembelajaran.


*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 3

Sabtu, 07 Maret 2015 0 komentar

Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya diwajibkan mengikuti seluruh program pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan yang dimaksud.

Kalender Pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik dalam satu tahun ajaran,kalender pendidikan mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

Permulaan Tahun Ajaran adalah waktu dimulainya kegiantan pembelajaran pada awal tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan

Minggu Efektif Belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun ajaran pada setiap satuan pendidikan.

Waktu Pembelajaran Efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan local, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.

Waktu Libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pembelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum (termasuk hari-hari besar nasional), dan hari libur khusus.

Striktur Kurikulum adalah merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik pada satuan pendidikan dalam kegiatan pembelajaran. Susunan mata pelajaran tersebut terbagi dalam lima kelompok, yaitu kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulya, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi estatika jasmani olahraga dan kesehatan.

Sumber Belajar adalah segala sesuatu yang ada disekitar lingkungan kegiatan belajaar yang dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar (output), namun juga dapaat dilihat dari proses berupa interaksi siswa dengan berbagai macam sumber yang dapat merangsang untuk terjadinya proses belajar dan mempercepat penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif terhadap bidang ilmu yang dipelajarinya.

Pemanfaatan Sumber Belajar adalah dapat dikatagorikan menjadi dua, yaitu sumber belajar yang sengaja dirancang untuk pembelajaran (by design) dan sumber belajar yang dapat langsung dimanfaatkan yang berada dilingkungan tempat kegiatan belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk pembelajaran (by utilization).


*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009

     **Tulisan ini akan dilanjutkan dengan Istilah-Istilah dalam Pendidikan 4

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 2

0 komentar

Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,pengetahuan, dan keterampilan. Standar kompetisi lulusan meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau seluruh kelompok mata pelajaran.

Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran adalah kualaifikasi kemampuan minimal peserta didik pada setiap kelompok mata pelajaran yang mencakup kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewrga negaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika dan jasmani, olahraga dan kesehatan.

 Standar Kompetensi Mata Pelajaran adalah  kualifikasi kemapuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapka dicapai pada setiap tingkat dan atau semester untuk mata pelajaran tertentu.

Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan atau semester. Standar kompetensi terdiri atas sejumlah kompetensi dasar sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku secara nasional.

Kompetensi Dasar adalah merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi.

Beban Belajar adalah dirumuskan dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mengikuti program pembelajaran melalui sistem tatap muka. Penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstrukter untuk mencapai standar kompetensi lulusan serta kemampuan lainnya dengan memerhatikan tingkat perkembangan peserta didik.

Kegiatan Tatap Muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik, materi pembelajaran, pendidik dan lingkungan.

Penugasan Terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi dan atau kemampuan lainnya pada kegiatan tatap muka.  Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik. Penugasan terstruktur termasuk kegiatan perbaikan, pengayaan dan percepatan.

Kegiatan Mandiri Tak Terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang didesain oleh pendidik untuk menunjang pencapaian tingkat kompetensi mata pelajaran atau lintas mata pelajaran atau kemampuan lainnya yang waktu penyelesaiannya diatur sendiri oleh peserta didik.


*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009
     
     **Tulisan ini akan dilanjutkan dengan Istilah-Istilah dalam Pendidikan 3

Peran Guru Menuju UN

Rabu, 04 Maret 2015 0 komentar

Pendidikan merupakan pengembangan seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek kognitif, aspek afektif, maupun aspek psikomotorik. Ketiga aspek ini dikembangkan secara terus-menerus untuk tercapainya tujuan dari pendidikan itu sendiri. Salah satunya adalah dengan memperbanyak latihan yang nantinya akan membawa perubahan dan perkembangan pada aspek-aspek tersebut.

Menjelang Ujian Nasional 2015, terdapat sebuah tradisi belajar yang dianggap sangat “mujarab” untuk keberhasilan peserta didik, khususnya dalam Ujian Nasional. Sementara Ujian Nasional itu sendiri termasuk salah satu indikator dari keberhasilan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan.

Tradisi tersebut merupakan tradisi belajar untuk mengasah kemampuan peserta didik, yang dikemas dengan Latihan Ujian Nasional, atau yang lebih dikenal dengan Tray Out Ujian Nasional, yang mana pelaksanaanya dilaksanakan secara serentak pada setiap jenjeng pendidikan.

Tray Out termasuk salah satu metode dari sekian metode untuk mengembangkan aspek kognitif, aspek afektif, serta aspek psikomotorik pada peserta didik. Walaupun secara spesifik Tray Out dimaksudkan untuk kesuksesan peserta didik dalam menghadapi Ujian Nasioanal.

Kalau kita merujuk kepada sistem pembelajaran klasik, terdapat sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa “At Thariqatu Ahammu Minal Maddah, Wal Ustadzu Ahammu Minat Tariqah, Wa Ruhul Ustadzu Ahammu Min Kulli Hali”

Arti dari kaidah di atas adalah bahwa “metode lebih utama daripada materi, dan guru lebih utama daripada metode, serta ruh (semangat) guru lebih utama dari segalanya”.

Kaidah di atas secara garis besar menjelaskan bahwa peran guru sangatlah penting dalam mengantarkan peserta didiknya menjadi pribadi yang sukses dalam kehidupannya.

Adanya Try Out Ujian Nasional, atau apapun bentuknya, pada hakikatnya merupakan amunisi bagi peserta didik agar mereka menjadi manusia pembelajar, manusia yang sadar akan pentingnya pendidikan, sehingga tumbuhlah pada mereka sikap kemadirian belajar.

Tapi sebaliknya, jika adanya Tray Out Ujian Nasional, atau metode apapun yang diberikankepada peserta didik justru membuat mereka bosan karena yang dibahas hanya itu-itu saja, sehingga melahirkan kemalasan pada diri mereka, maka itu pertanda sebuah kemunduran dalam pendidikan. Dan disitulah peran guru yang sesungguhnya.

Karenanya, kita sebagai guru hendaknya selalu memberi motivasi, arahan, dan bimbingan kepada mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Jika guru tidak mampu membangkitkan semangat kepada peserta didiknya, yang kemudian akan memberikan efek tumbuhnya kesadaran belajar dan kemandirian belajar pada diri mereka, maka sistem pendidikan akan berjalan dengan pincang, dan tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara sempurna.


Tentunya semua itu bukan tugas yang ringan, dan tidak semua orang dapat melakukannya. Bahkan, dalam sebuah ungkapan dikatan bahwa “ Al Ilmu Fannun, Wat Ta’limu Fannun Akhar”. “Ilmu adalah seni, dan mengajar merupakan seni tersendiri”. Namun percayalah bahwa guru adalah tugas yang mulia. Wallahu A’lam []

Istilah-Istilah dalam Pendidikan 1

Senin, 09 Februari 2015 0 komentar

Standar nasional pendidikan adalah kriteria tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum negara kesatuan republik Indonesia.

Badan standar nasional pendidikan adalah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,isi,dan bahan pelajaran,serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif,komprehensif,siatemik dan sitematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.

Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksnakan oleh masing-masing satuan pendidikan.

Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur,jenjang,dan jenis pendidikan tertentu.

Kompetensi adalah kemampuan bersikap,berpikir dan bertindak secara konsisten sebagai perwujudan dari pengetahuan,sikap,dan keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik.

*Sumber : Rusman, Glosarium, Manajemen Kurikulum, Jakarta : Rajawali Pers, 2009

**Tulisan ini akan dilanjutkan dengan Istilah-Istilah dalam Pendidikan 2

Mengenal Konsep Mulazamah

Selasa, 27 Januari 2015 0 komentar

Pembaca yang budiman, mohon maaf blog ini lama gak muncul tulisan barunya,mungkin karena kesibukan saya sehingga belum menyempatkan diri untuk menulis, tapi saya rasa gak maslah yang penting semangat belajar selalu ada di hati kita.

Kali ini saya tertarik dengan artikel yang hari ini disodorkan di meja kerja saya oleh salah satu rekan kerja saya. Ketertarikan saya pada artikel ini karena artikel ini membahas tentang program yang saya tekuni di tempat kerja saya.

Setelah saya mencoba telusuri di internet ternyata artikel itu memang ada. Nah untuk berbagi ilmu sekaligus mengisi blog saya di bulan ini, maka artikel itu saya copy dan saya posting kembali di blog ini dengan judul yang berbeda, tentunya dengan mencantumkan sumbernya, dengan judul asli Mulazamah : 24 Jam Sehari Bersama Para 'Ulama Handal

Semoga artikel yang saya copy dari www.fimadani.com ini bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca...!

Mungkin mendengar semangat para ‘ulama zaman dulu yang setia untuk menyertai syaikh (guru) dalam keseharian, atau  rela menempuh jarak beribu-ribu kilometer  untuk menjumpai seorang guru guna memperoleh ilmu-ilmu syar’i adalah hal yang biasa di telinga kita, meski untuk masa sekarang, hal ini bisa dibilang sudah jarang dilakukan. Kita pun tak terlalu memusingkan apa istilah yang tepat untuk membahasakan metode belajar yang terdengar demikian ‘rumit’ itu. Metode belajar semacam itulah yang disebut dengan mulazamah.
Mulazamah sudah dikenal sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Secara harfiah, mulazamah bisa diartikan menetapi dan tidak meninggalkan. Istilah ini kemudian dialamatkan pada metode pendidikan non-formal, dimana para santri menetapi dan tinggal bersama gurunya dalam rangka mempelajari suatu ilmu. Metode belajar mulazamah ini menjadi idola para penuntut ilmu generasi awal umat ini.
Sejarah mencatat, bahwa beberapa orang sahabat selalu berusaha menyertai Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak kesempatan. Salah satu tujuannya adalah supaya mereka dapat mengais ilmu sebanyak mungkin dari beliau. Apalagi, ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tak hanya terangkum dalam lisan beliau, tapi juga mengalir dalam perilaku dan perbuatan dalam keseharian beliau.
Belajar secara mulazamah memang tak menjajikan surat tanda tamat belajar atau gelar, seperti halnya sistem pendidikan formal yang kerap menjadi pilihan banyak orang di masa sekarang. Karena memang, bermulazamah tidaklah ada batas waktunya. Tidak tiga tahun, tidak enam tahun, dan tidak pula sembilan atau dua belas tahun seperti halnya wajib belajar  yang diterapkan di Indonesia. Belajar dari buaian hingga liang lahat. Itu prinsipnya.
Budaya metode belajar ini menuntut para murid untuk mempelajari dan mematangkan kaidah dasar dari masing-masing disiplin ilmu. Dan fakta yang harus dijumpai adalah wajibnya penguasaan Bahasa Arab, karena memang bahasa langit itu menjadi sarana utama transfer ilmu-ilmu dasar yang lain, meliputi ilmu hadits, tafsir, fiqh, serta ilmu dasar lainnya. Ya, ternyata dalam metode mulazamah, ilmu-ilmu itu masih lah berlabel ‘dasar’.
Ilmu dasar bak sebuah kunci yang menjadi alat untuk membuka setiap pintu-pintu ilmu yang hendak dimasuki. Setelah kunci dasar ilmu ada di tangan, para santri itu akan semakin mudah dan cepat untuk mendalami ilmu yang diinginkannya. Sebagai contoh adalah Ibnu Hajar, seorang ‘ulama hadits yang diakui kepakarannya dalam duni Islam. Sesudah mematangkan ilmu dasar yang memang diperlukan, dia lalu bermulazamah kepada Al Iraqi, seorang muhaddits (pakar haddits) di zamannya, dan memperdalam padanya ilmu Hadits.
Metode belajar dengan bermulazamah sangatlah fleksible karena memang tak banyak aturan atau persyaratan seperti hAl nya dalam penidikan formal yang memang kadang justru mempersulit sesorang untuk belajar. Hanya saja, yang harus diingat dan dijadikan maklum adalah penguasaan bahasa arab dan ilmu dasar yang memang tidak bisa ditawar lagi. Metode ini pada dasarnya terbuka bagi siapa saja yang menghendaki, yang ditutut oleh para masyayikh hanyalah kesungguhan dari santri.
Metode mulazamah lebih menekankan pada sisi penguasaan materi secara rinci. Para masyayikh tidak menjadikan target sebagai sesuatu yang diburunya. Target memang harus ada, tapi hal itu tidak mengorbankan pemahaman yang seharusnya diperoleh santrinya secara rinci dan mendetail.  Dalam metode ini, setiap disiplin ilmu dipelajari secara tuntas dan demikian terperinci sebelum beralih pada disiplin ilmu yang lain. Dengan tanpa mengabaikan pemenuhan aspek spiritual santrinya, intelektual santrinya terus menerus diisi dan diasah.
Dalam sistem pendidikan ini, akhlaq dan adab para penuntut ilmu ini sangat diperhatikan oleh sang masyayikh. Menilik berbagai keunggulan sistem mulazamah ini, alangkah baiknya manakala sistem pendidikan formal yang kini menjamur pun ditopang dengan sistem mulazamah, hingga mampu melahirkan generasi rabbani yang faqih seperti halnya para pendahulu yang memang mengaplikasikan sistem pendidikan ini.
Dalam catatan sejarah, ribuan orang tersohor yang diakui kepakarannya dalam berbagai disiplin ilmu dan menjadi sumber rujukan, adalah sebagian dari mereka yang melalui metode pembelajaran ini. Mulai dari keempat khulafah rasyidin, hingga shahabat yang akhirnya berpencar di segenap pelosok bumi yang lain.
‘Ibnu Mas’ud yang faqih dalam ilmu tafsir pada akhirnya memilih Khuffah sebagai tempat tinggalnya dan ladang pahala baginya melalui transfer ilmu dalam ta’lim-ta’limnya. Dari halaqah Ibn Mas’ud ini lahir sejumlah ‘ulama besar seperti Al Qamah, Al Azwad ibn Yazid, Ibrahim An Nakhai, dan Asy Syabi.
Sementara itu, di Makkah, Ibnu ‘Abbas adalah salah satu masyayikh yang juga menyelenggarakan ta’lim. Dari halaqah Ibnu ‘Abbas, lahir sejumlah ‘ulama yang pakar dalam bidang tafsir semisal Mujahid, Ikrimah, Atho’ ibn Abi Rabah, dan Said ibn Jubair.
Metode mulazamah kala itu memang berkembang pesat karena banyaknya syaikh yang cukup mampu menjawab kobaran semangat keingintahuan para murid untuk mendalami suatu disiplin ilmu. Karena ketiadaan kondisi yang mengikat, para murid bisa berpindah dari satu syaikh ke syaikh yang lain sesuai dengan ilmu yang diperlukan atau yang ingin didalaminya.  Bahkan tak jarang, para murid bertualang dari satu negeri ke negeri lain untuk mendapatkan ilmu.
Sebagi contoh adalah Imam Syafi’i yang semula bermulazamah pada Muslim ibn Khalid az-Zanji, lalu mengambil hadits pada Imam Malik di Madinah, kemudian berpindah ke Mekkah dan bermulazamah kepada Sufyan bin Uyainah, seorang ahli hadits di Makkah.
Beberapa ‘ulama kontemporer yang juga menjalani metode mulazamah ini diantaranya dalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani, Syaikh Abdul Aziz ibn abdullah ibn Baz, Syaikh Muhammad ibn Shalih Utsaimin, dan ulama lain yang sangat menguasai bidang-bidang ilmu syar’i dan dijadikan rujuk kaum muslimin.
Pada masa itu, segenap penjuru di Jazirah Arab sempat menjadi pusat-pusat mulazamah. Sebut saja kota Bashrah, Yaman, Mesir, dan Syam. Halaqah-halaqah mulazamah ini demikian eksis dan mampu melahirkan banyak ulama handal, hingga akhirnya seiring perguliran masa, terlahir sistem pendidikan formal yang lebih didominasi dengan cara pengajaran klasikal.
Hingga kini, beberapa negara di Timur Tengah masih mempertahankan mulazamah sebagai sistem yang dinilai sangat efektif membantu para mahasiswa yang belajar di pergutuan tingggi secara formal. Di Saudi Arabia, misalnya, masjid-masjidnya masih semarak dengan mulazamah yang kebanyakan diikuti oleh para mahasiswa yang ingin mempertajam ilmu yang didapatnya di kelas.
Di Indonesia, kini beberapa ma’had dan pesantren mulai kembali melirik metode ini dan menerapkannya dalam sistem belajar mengajar yang dilaluinya, meski memang jumlahnya masih belum terlalu banyak.  Beberapa pesantren di Indonesia yang menerapkan mulazamah ini memang harus menyiapkan tenaga pengajar yang tinggal di kompleks pesantren, sehingga selama 24 jam siap untuk melayani transfer materi serta membimbing santri dalam memahami dan mengamalkan berbagai ilmu syar’i yang dipelajari. Pertimbangan untuk kembali menerapkan metode ini jelas lah karena jejak-jejak masa lampau membuktikan ulama handal yang lahir dari rahim metode Mulazamah tak terpungkiri kepakarannya.

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum