Demi Pendidikan, Hijrahkan Anak dari Pulau Dewata Ke Pulau Jawa

Rabu, 21 September 2016

Setiap orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anaknya dengan baik, karena pendidikan merupakan pondasi pokok dalam mengantarkan masa depan anak bangsa. Namun memilih lingkungan pendidikan yang kondusif juga harus menjadi perhatian khusus bagi kita sebagai orang tua. Terlebih bagi mereka yang hidupnya di kota-kota besar.

Adalah Ibu Alifah, seorang ibu rumah tangga muslimah asal Semarang Jawa Tengah yang sudah 22 tahun hidup di Denpasar Bali harus berjuang keras dalam mendidik putra-putrinya demi menjadi generasi yang shaleh dan shalehah. Karena Denpasar Bali adalah kota yang bebas, bebas berekspresi dan bebas berkreasi sebebas-bebasnya. Sehingga Tak mudah bagi dirinya mendidik anak di pulau dewata.

Banyak hal yang ia lakukan untuk mencapai tujuannya sebagai seorang muslim yang hidup di tengah-tengah kaum mayoritas non muslim, mulai dari mewajibkan diri dan keluarganya berbusana muslim, hingga mengelola amal usaha yang ia miliki dengan manajemen yang islami.

Berbusana muslim merupakan sebuah kewajiban bagi dirinya sebagai seorang muslim. Sehingga bagi ibu Alifah dimanapun ia berada termasuk berada di Denpasar Bali tidak boleh melepasnya. Karena busana muslim adalah identitas bagi dirinya.

“ So If you want to show your identity, use hijab” katanya.

Selain identitas diri, di Denpasar Bali busana muslim juga dianggap menjadi identitas formal yang setara dengan adat, sehingga jika sudah berhijab maka tidak perlu menggunakan helm dalam berkendara roda dua. Namun dalam hal ini saja ibu Alifah harus mengahdapi resiko-resiko besar baik dari internal maupun eksternal. 

Dari internal ia harus dihadapkan dengan penolakan keras dari keluarganya, hingga ia harus rela bercerai dan hidup sendiri bersama anak-anaknya demi mempertahankan identitasnya sebagai seorang muslim.

Sementara dari eksternal Ibu Alifah harus menghadapi berbagai macam realitas kehidupan sosial dalam semua aspek kehidupannya.

“Di Denpasar Bali harus survive”. Ucapnya dengan semangat.

Sebagai seorang muslim ibu Alifah sangat berharap putra putrinya menjadi anak yang shaleh dan shalehah, sehingga ia hijrahkan anak-anaknya khususnya yang perempuan ke pesantren di jawa, yaitu di salah satu Pesantren Tahfizhul Qur’an di Gresik. Sementara dirinya menekuni amal usaha yang dikelolanya hingga saat ini.

Di Denpasar Bali sendiri juga ada beberapa Lembaga Pendidikan Islam. Namun faktor lingkungan yang menjadi pertimbangan dirinya, karena lingkungan 50% merubah pola hidup manusia, dan sekolah serta keluarga masing-masing hanya 25% kontribusinya.

Tidak hanya itu kata Alifah, sebagai seorang muslim yang hidup di pulau dewata ataupun yang berkunjung ke pulau dewata harus ekstra hati-hati khususnya terkait masalah makanan, karena hanya hitungan jari tempat-tempat makan yang bisa dijamin kehalalannya walaupun banyak yang bertuliskan halal.

“Lebih amannya memang masak sendiri”. Imbuhnya.

Alifah juga menceritakan tentang gemerlapnya dunia malam kota tersebut. Dari gang pertama hingga gang berikutnya ia tunjukkan satu persatu pusat lokasi kemaksiatan yang ramai menjadi kunjungan orang selama 24 jam. Bahkan dari standart tarif yang termurah hingga tarif termahal ia tunjukkan.

“Disinilah tempat kalau kita mau menguji iman yang sesungguhnya”. Pesannya.

*Rep. Subliyanto
*Sumber : Alifah, Denpasar Bali, 17-18 September 2016

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum