Lindungi Saudaramu, Ariflah Bermedia

Rabu, 22 November 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

"Arif bermedia". Kalimat ini saya temukan di tulisan sahabat saya, dan membuat saya ingin menulis sebagai nasehat untuk pribadi saya dan untuk pembaca. Kalimat yang menarik dan cukup menjadi renungan jika dikaitkan dengan konsep bersaudara. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa media menjadi corong informasi bangsa, dimana dengan media semua masyarakat bisa mengetahui fenomena negeri, mulai dari pelosok desa hingga istana negara.

Dengan media, baik cetak maupun elektronik sejarah bangsa ini akan terdokumentasikan dan menjadi referensi sebagai rujukan bagi generasi bangsa.

Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah realita, dan masa depan adalah cita-cita. 

Maka jangan pernah lupakan sejarah. Karena sejarah akan kembali diputar pada masanya ketika generasi bangsa ini menyusun sebuah rencana untuk masa depannya. Dan salah satunya bisa mereka dapatkan melalui media.

Media bak pisau bermata dua, bergantung pada yang memainkannya. Jika media dimainkan dengan baik, maka kebaikan yang didapatkannya. Begitu juga sebaliknya. Mungkin ini salah satu bagian dari tugas kita "arif bermedia".

Maraknya pemberitaan di media tentang isi negeri ini terkadang membuat manusia lupa bahwa ada hak saudara kita di tangan kita. Sehingga manusia terjebak dan larut didalamnya.

Maka menjadi hal yang wajar jika perkumpulan ulama di jawa tengah dalam bahtsul masail mengharamkan monopoli frekuensi publik, sebagaimana diberitakan nujateng.com (21/11/2017). 


Kalau dikaitkan dengan konsep persaudaraan media bisa menjadi pemersatu bangsa, dan bisa juga sebaliknya. Karena dengan media manusia bisa membaca dan mendengar, mengikuti informasi perkembangan publik terkini.

Maka bergantung pada kecerdasan dari pengguna media itu sendiri dalam mensikapinya. Tentu tingkat intelektual setiap manusia juga menjadi penentu dalam "arif bermedia".  

Dalam islam, sebagai seorang muslim kita mempunyai kewajiban untuk melindungi saudara kita. Melindungi dalam hal ini bukan melindungi dalam bab hukum, hukum tetaplah hukum yang harus ditaati sesuai undang-undang yang sudah ditetapkan. Namun melindungi yang dimaksud adalah melindungi harkat dan martabatnya yang salah satunya dengan menyembunyikan aibnya.

Maka dalam bermedia kita harus arif dan bijaksana. Jangan sampai menjadikannya sebagai sumber perpecahan yang dapat merusak tali persaudaraan yang bermula dari untaian kebencian dan yang lainnya.

Bukankah Rasulullah shallahu alaihi wassallam sudah menjelaskan bahwa : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Saat ini media sudah di genggaman kita. Tinggal sejauh mana kita bisa mengendalikannya. Semuanya kembali kepada kita. Obor apa yang ingin kita nyalakan melalui media ? Tentu obor kebaikan yang harus kita nyalakan guna menjadi penerang kegelapan. Wallahu A'lam.[] 
*Penulis aktivis sosial, twitter @Subliyanto, website www.subliyanto.id

Menentukan Titik Koordinat

Sabtu, 18 November 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Jum'at malam (17/11/2017) saya sempat berdiskusi via WhatsApp dengan sahabat senior yang sekaligus sebagai guru saya, Imam Nawawi. Diskusi tentang gerakan pemuda muslim dan perannya sebagai generasi penerus perjuangan islam.

Dalam diskusinya sahabat saya menyebut tentang titik koordinat . Sebuah istilah untuk mengetahui posisi suatu benda. Tentu istilah tersebut menarik dan tidak asing dalam ilmu matematika.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) titik koordinat adalah bilangan yang dipakai untuk menunjukkan lokasi suatu titik dalam garis, permukaan, atau ruang. Dan untuk mengetahui titik koordinat diperlukan dua garis berarah yang tegak lurus satu sama lain (sumbu x dan sumbu y), dan panjang unit, yang dibuat tanda-tanda pada kedua sumbu tersebut.

Berbincang titik koordinat hakikatnya membahas tentang posisi. Dan kaitannya dengan pemuda hal ini termasuk hal yang penting dalam perannya sebagai generasi pejuang dalam melakukan perjuangan.

Mudah dan simpel menentukannya, dimana posisi anda ? Dan untuk siapa anda berjuang dan berkarya ? Pertanyaan tersebut penting untuk ditentukan sebagai acuan dalam bergerak dan melebarkan sayap perjuangan. 

Tentu sebagai generasi muslim hal yang diperjuangkan adalah islam. Karena islam luas maka harus diperjuangkan dan disebar luaskan agar islam sebagai rahmatan lil'alamin dapat dirasakan oleh semua kalangan.

Adapun medan dan medianya sangat beragam sesuai dengan kapasitas keilmuan yang digenggam. Karena kita khususnya generasi penerus perjuangan harus berbagi peran agar pembenahan pada aspek-aspek lini kehidupan terselesaikan secara bersamaan.

Sudah saatnya generasi mengembangkan pola perjuangan agar bisa diterima di semua kalangan. Hal itu dapat dilakukan dengan sikap netralitas dalam kehidupan sosial tanpa melepas baju yang bersifat fundamental.

Karena disadari atau tidak, perpecahan umat islam saat ini karena faktor internal lebih dominan. Sehingga faktor eksternal mudah menyusup menangkap peluang seolah-olah dia sebagai kawan, padahal hakikatnya adalah lawan.

Kita boleh mengibarkan bendera sebagai simbol miniatur perjuangan. Tapi jangan sampai bendera yang kita kibarkan menjadi sumber perpecahan. Karena visi utama kita adalah bagaimana bendera islam berkibar.

Sebagai penutup tulisan ini saya kutip sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Wallahu A'lam []

*Penulis aktivis sosial dan pendidikan, website www.subliyanto.id

Gadget bagi Anak, Puji Hariyanti : Orang Tua Harus Membatasi

Sabtu, 11 November 2017 0 komentar


"Kalau dilarang sama sekali gadget kepada anak-anak maka itu hal yang mustahil, karena anak-anak kita sekarang hidup di jaman yang serba digital. Lalu yang bisa dilakukan oleh orangtua apa? Yaitu membatasi." 

Demikian disampaikan Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) pada kegiatan Seminar Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak. (Sabtu, 11 November 2017).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta diikuti oleh ratusan peserta dari wali murid sekolah tersebut.


Dalam paparannya, Puji Harianti menyampaikan bahwa harus ada dialog antara orang tua dan anak dalam penggunaan Gadget.


"Harus ada dialog antara orangtua dengan anak. Kapan waktu mereka boleh memegang gadget dan kapan mereka tidak boleh memegangnya. Misalnya sehari dibatasi 30 menit, maka selebihnya orangtua harus istikomah tidak memberikan gadget setelah anak memakai waktu 30 menit itu."  Jelas Puji.


Selain itu, Puji juga menyampaikan beberapa bahaya gadget yang harus diwaspadai oleh orang tua, di antaranya susah tidur, gangguan kesehatan mata, konsentrasi pendek atau pelupa, kurang sosialisasi, kecanduan, terkena radiasi sehingga kekebalan tubuh berkurang, pornografi, menurunnya prestasi belajar, perkembangan fisik, sosial, otak

"Jika hal-hal di atas sudah dirasa membahayakan bagi anak-anak, maka kewajiban bagi orangtua adalah memutus ketergantungan gadget ini." Himbau Puji kepada para orang tua.

Editor : Subliyanto

Membaca Pesan Edukasi Deddy Mizwar

Jumat, 10 November 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Adalah Deddy Mizwar, Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018 yang dengan kicauannya di akun twitternya seakan memberi motivasi tersendiri, khususnya bagi para generasi penduduk negeri.

Pada 9 November 2017, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas selesainya pendidikan S2 yang ia tempuh. Ungkapan tersebut ia sampaikan di akun twitternya dengan nama @Deddy_Mizwar_.

"Alhamdulillah, kemarin saya diwisuda S2 Magister Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung. Terima kasih kpd semua pihak yang sudah mensupport saya sehingga dapat selesainya studi S2 saya ini." Tulis Wagub Jabar tersebut di twitternya.

Tentu hal itu bukan sebatas untaian kalimat saja. Akan tetapi di dalamnya tersirat makna yang memberi pesan edukasi kepada para generasi bangsa ini bahwa betapa pentingnya pendidikan. 

Ilmu merupakan modal utama dalam hidup dan kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu sebagaimana telah Rasulullah sabdakan :

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jangan pernah berhenti untuk belajar.Karena belajar merupakan kewajiban setiap manusia sejak ia lahir sampai nafasnya berakhir.

*Penulis adalah pelajar, tinggal di www.subliyanto.id. twitter @Subliyanto 



KH. Dr. Tengku Zulkarnain, MA Tiba di Gresik

0 komentar


Besok, Sabtu 11 November 2017 akan digelar pengajian umum di Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik Jawa Timur.

Pengajian yang rencananya akan dimulai pukul 07:30-11:00 tersebut akan dihadiri oleh KH. Dr. Tengku Zulkarnain, MA (Wasekjen MUI Pusat Jakarta) sebagai penceramah dengan tema "Mulia Bersama alQur'an Hingga Husnul Khatimah".

Berdasarkan informasi yang dihimpun www.subliyanto.id malam ini KH. Tengku Zulkarnain sudah tiba di Gresik dan sedang makan malam.

"Alhamdulillah KH. Tengku Zulkarnain sudah datang di Gresik, dan sekarang makan malam". Kata akun WhatsApp bernama Abdul Karim di sebuah group WhatsApp dengan melampirkan foto KH. Tengku Zulkarnain yang dikirim pada pukul 21:00.


Gelar Pahlawan dan Kiprahnya di Medan Juang

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

10 November merupakan momen sejarah dimana ditetapkan pada tanggal itu sebagai hari Pahlawan Nasional. Menyambut hari itu, kemarin 09/11/2017, presiden Republik Indonesia menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada 4 tokoh yang dianggap layak mendapatkan gelar tersebut.

Dikutip dari laman kumparan.com, menyambut Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November besok, Presiden Joko Widodo hari ini, Kamis (9/11), menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat orang tokoh yang diwakili oleh para ahli waris. Acara tersebut dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta. 

Adapun keempat tokoh tersebut yaitu TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB); Laksamana Malahayati, tokoh dari Provinsi Aceh; Sultan Mahmud Riayat Syah, tokoh dari Provinsi Kepulauan Riau; dan Alm Prof Drs H Lafran Pane, tokoh dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Membahas tentang pahlawan tentu tidak lepas dari perjuangan dan kiprahnya di medan juang, sehingga prestasinya mendapatkan apresiasi yang layak di sandang, karena pahlawan adalah pejuang.

Rindu Pejuang

Saat ini di Indonesia, rakyat sedang merindukan sosok pejuang yang betul-betul berjuang untuk kepentingan rakyat. Rakyat rindu pada sosok pejuang yang rasa perjuangannya seperti para pejuang kemerdekaan, yang membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Akhir-akhir ini Indonesia semakin memprihatinkan. Merosotnya kepercayaan rakyat terhadap para pemimpin semakin tinggi. Hal itu disebabkan karena peran pemimpin yang tidak mencerminkan dirinya sebagai pejuang sejati.

Banyaknya pemimpin yang memakai rompi dalam jeruji besi menunjukkan bahwa perjuangan mereka tidak murni.

Maka hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian bagi para pemimpin di negeri ini. Setidaknya bisa introspeksi diri untuk kembali pada visi dan misi.

Kelayakan atau barometer pejuang yang mendapatkan gelar Pahlawan manakala perjuangannya dapat mengantarkan Indonesia menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

Jika yang terjadi justru sebaliknya, pantaskah gelar Pahlawan disematkan kepada para pemimpin negeri ini ?

*Penulis rakyat biasa, tinggal di www.subliyanto.id

Menjadikan Ridho Alloh Sebagai Orientasi Hidup

Selasa, 07 November 2017 0 komentar

Oleh : Damanhuri, MPd*
 
Salah satu kepribadian seorang muslim terhadap Tuhannya adalah menjadikan Ridho Alloh SWT sebagai orientasi hidupnya dan cita-citanya. Seorang Muslim yang benar senantiasa mencari ridho Alloh dalam setiap amalannya. Keinginannya hanya agar Alloh senang, bahkan dalam setiap langkahnya dan pekerjaannya ingin Allah senang, bukan agar manusia senang. Walaupun, kadang-kadang dalam mencari Ridho Allah itu dia dibenci oleh manusia. 

Rasulullah SAW dalam riwayat Tirmidzi, menyampaikan, "Barang siapa mencari Ridho Alloh dengan sesuatu yang dibenci manusia, maka Allah akan mencukupkan (menjaga) baginya dari gangguan manusia. Barang siapa mencari keridhoan manusia dengan sesuatu yang mendatangkan bencinya Allah, maka Allah akan serahkan dia pada manusia".

Seorang Muslim menimbang semua perbuatannya dengan timbangan ridho Allah. Apa saja yang memberatkan timbangan itu, dia terima dan dia rela mengerjakannya, dan apa saja yang meringankan timbangan itu dia tolak dan dia jauhkan amalan itu. Sehingga, standar penilaian seorang Muslim menjadi lurus dan jalan yang menuju ridho Allah menjadi jelas terlihat di depan pandangannya.

Karena itu, seorang Muslim Tidak berada dalam situasi yang bertentangan dan menggelikan. Seolah-olah engkau lihat dia taati Allah dalam satu perkara dan dia durhaka (tidak taat) dalam perkara yang lain, atau dia halalkan satu hal pada satu masa dan mengharamkannya pada masa yang lain. Pada pribadi Muslim, tidak ada tempat untuk saling bertentangan selama titik tolaknya benar dan metodenya jelas dan standar penilaiannya tetap.

Sungguh, orang-orang yang engkau lihat mereka di masjid sholat dengan khusyu' kemudian engkau lihat mereka di pasar bermuamalah dengan riba. Dan engkau lihat mereka di rumah, di jalan, di sekolah, mereka tidak menegakkan syariat atau aturan Allah terhadap diri mereka dan terhadap anak-anak dan istri mereka, karena mereka kurang dan lemah dalam pemahaman dan gambaran mereka terhadap hakikat ini agama yang mengantarkan seorang Muslim dalam setiap perbuatannya pada keridhoan Allah SWT. Dari sini, maka muncullah setengah muslim, bahkan bagi mereka Islam hanya sebuah nama saja sedangkan kepribadian mereka ganda. Dan kepribadian ganda termasuk yang paling Berbahaya untuk umat Islam pada zaman sekarang ini. 

Cukupkan pada diri, firman Alloh SWT dalam QS. al Baqarah ayat 208 sebagai pesan untuk selalu diingat, “ Wahai orang yang beriman masuklah Islam secara kaffah (menyeluruh), janganlah mengikuti langkah syetan karena sungguh syetan adalah musuh yang nyata bagi kalian”. Wallohu A’lamu bish showab.[]

*Dosen STAIL Surabaya, tinggal di kampus II Panceng Gresik

PEMUDA HARUS AKTIF

Minggu, 29 Oktober 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Ahad 29 Oktober 2017, saya kedatangan tamu mahasiswa dan mahasiswi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Darut Taqwa (STAIDA). 

Kedatangannya dalam rangka bakti sosial sebagai bentuk solidaritas dan soliditas ukhuwah dalam mewujudkan kepedulian sosial.

Pada kesempatan itu saya diminta untuk memberikan sambutan. Dalam sambutan saya tidak banyak yang saya sampaikan, hanya sedikit motivasi kepada mereka.

Pemuda merupakan aset negara, generasi penerus perjuangan bangsa. Maka sebagai generasi muslim harus berada di geranda terdepan dalam membela agama, bangsa dan negara.

Pemuda harus bergerak aktif dalam memberikan solusi riil terhadap problema kehidupan bangsa dan negara. Karena di tangan pemudalah awal kebangkitan dan kemajuan bangsa.

Tugas utama pemuda adalah belajar, maka gerakannya jangan sampai melupakan tugasnya sebagai pelajar, dan jangan merubah orientasinya.

Maka disiplin dalam memenuhi target belajarnya merupakan hal yang utama. Selain itu aplikasi ilmu di lapangan juga sangat diperlukan untuk mengetahui riil kehidupan sosial.

Sehingga ilmu yang dimiliki tidak hanya sebatas orientasi menjadi manusia berdasi. Akan tetapi bagaimana bisa menjadi manusia yang dapat memberikan solusi.

Di tangan pemuda terdapat tumpukan PR yang harus kellar dan betul-betul final. Maka pemuda harus bergerak aktif membangun kanal perjuangan sebelum PR yang baru datang.

*Penulis tinggal di www.subliyanto.id

PUISI : TIGA TAHUN KAU BERTAHTA

Minggu, 15 Oktober 2017 0 komentar


Oleh : Fadli Zon
Sumber : detik.com 

tiga tahun kau bertahta
semakin banyak tanda tanya
mau dibawa kemana Indonesia
hidup rakyat makin susah
petani rugi panen masalah
nelayan dilarang pakai cantrang
buruh dihadang pekerja asing negeri seberang
pedagang bangkrut pelanggan hilang
toko tutup supermarket redup
daya beli jatuh transaksi runtuh
utang melambung membubung menggunung
ekonomi diambang stagnasi 

tiga tahun kau bertahta
harga listrik makin gila
bbm mahal luar biasa
subsidi tak ada lagi
pajak sana pajak sini pajak semua lini
korupsi tetap tinggi tak berhenti
narkoba bebas mengganas dimana-mana
tentara dan polisi rebutan senjata

tiga tahun kau bertahta
keadilan cuma wacana
ulama dihina difitnah dipenjara
suara kritis diancam pidana
hukum diatur sesuai selera
demokrasi fatamorgana

dimanakah kau berada?
meletakkan batu pertama
menggunting pita di berbagai kota
infrastruktur sini infrastruktur sana
entah punya siapa untuk siapa
tapi rakyat tetap susah
pengangguran melimpah
biaya hidup bikin marah
dan kau tetap sumringah
asyik bagi kartu dan sepeda
masih terus kampanye saja

tiga tahun kau bertahta
rasanya waktu begitu lama
terbuang sia sia

Fadli Zon Perjalanan Jakarta-Amsterdam, 13 Oktober 2017

Takziyah : Izana Aqila Surufa

Jumat, 13 Oktober 2017 0 komentar

Menjelang pukul 00:00 (Kamis, 12 Oktober 2017) saya mendapatkan informasi duka atas meninggalnya murid saya. Informasi tersebut saya terima melalui grup Sahabat Muslim Jogja dan grup Sahabat Muslimah Jogja :
---------------
BERITA DUKA

*اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْن* 

Telah meninggal dunia pada malam hari ini di RS PKU Pakem ananda *Izana Aqila Surufa (Iza)* 

murid kelas 1B SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Putri kedua dari Ust Mansur (Ketua DPD Hidayatullah Kab Sleman) dan Usth Saufa (Wali Kelas 2B).

In Syaa Allah jenazah akan dimakamkan pada : Jum'at, 13 Oktober 2017, Pukul 09.00 WIB, di Komplek Pemakaman Ponpes Hidayatullah Yogyakarta, Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 14,5, Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.

Semoga Mba Izza bisa menjadi tabungan amal untuk kedua orangtuanya dan menjadi wasilah menuju syurga.

Serta Ust Mansur, Usth Saufa dan Keluarga diberikan kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.
------------------
Atas nama guru dari almarhumah, dan keluarga besar www.subliyanto.id turut berduka atas berita duka tersebut. Semoga kedua orang tuanya diberi kesabaran. Amin

Writing is the Painting of Voice

Minggu, 08 Oktober 2017 0 komentar

Oleh : Umaya Khusniah*

Pernah membayangkan kalau di dunia ini tidak ada tulisan? Pernah membayangkan apa jadinya masa kini dan masa depan kalau tidak ada tulisan? Jawabanmu pasti beragam. Tapi menurtku, yang pasti kehidupan ini bakal sangat sulit. Tidak ada yang menceritakan sejarah masa lalu nenek moyang dan pendahulu kita. Tak ada ilmu yang bisa kita kembangkan di masa kini dan masa depan.  Begitu pentingnya sebuah tulisan. 

Dari sebuah tulisan, kita tahu sebuah kronologi, kita tahu proses sebuah penemuan, bahkan kita bisa mengembangkannya di masa kini. Hebatnya lagi, kita bisa memprediksi sebuah masa depan. Bersyukurlah kita banyak ahli yang kini meninggal, menghadiahkan kita tulisan-tulisan mereka. Ilmu akan abadi dalam tulisan. 

Setelah tau betapa pentingnya tulisan, selanjutnya, siapa yang berhak menulis. Jawabnya tentu kita semua berhak menulis. Apa yang mau ditulis? jawabnya apapun. Fiksi, non fiksi, dalam berbagai bentuk. Dicetak atau ga jadi sebuah buku atau masuk ke sarana lain seperti blog, website atau berita, itu nanti. Yang pasti, kamu berhak menulis apapun. 

Tulisan itu memiliki kekuatan besar bagi pembaca terutama. Ia bisa mengubah haluan hidup orang, mempengaruhi cara berpikir, membentuk perangai, dan sebagainya. Intinya, tulisan dapat membentuk seseorang. Saat kamu siap ‘go public’ dengan tulisanmu, yakinkan dirimu, tulisanmu harus membawa kebaikan bagi pembacamu. Jadilah penulis yang bertanggung jawab.   

Kapan mulai menulis? Sekarang juga jawabnya. Menulis apa? Apapun bisa kamu tulis. Apa yang kamu lihat di depanmu. Apa yang terdengar di telingamu. Apa yang tersentuh tanganmu. Apapun bisa kamu tulis. Mulailah dengan hal yang sederhana. Kembangkan perlahan, bebaskan imajinasimu. Maka pikiranmu akan mengalir apik. 

Satu hal yang paling utama yang wajib kamu lakukan agar tulisanmu semakin berisi dan berkembang. BACA, BACA, BACA. Semakin banyak baca semakin berwarna imajinasimu, semakin tajam analisamu. Selain baca, masuklah lingkungan yang bisa bikin kamu maju dalam menulis. Lingkungan yang pas, akan membuatmu makin semangat berlatih. 

Saya bilang, menulis itu mudah. Tapi saya juga bilang menulis yang berbobot itu tidak mudah tapi tidak mustahil. Banyak baca, berlatih serta berdiskusi akan memperlancar tulisanmu. Cari wahana pendukung. Pers kampus, wartawan freelance, blog, dapat kamu pilih jadi wadah curahan pikiranmu. 

Akhir kata mengutip pesan Sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib ra, “IKATLAH ILMU DENGAN MENULIS” membuat kita termotivasi mengikat ilmu.

Semoga pembaca makin termotivasi menulis dan selalu mengembangkan diri. Yakinlah, banyak ilmu di luar sana yang menunggu untuk kita serap berapapun usia kita, di manapun kita, apapun kondisi kita.[]

*UMAYA KHUSNIAH, nama yang diberikan orang tua.  Saat ini masih aktif di dunia jurnalistik sebagai kuli ketik dan kuli wawancara di Majalah GATRA. Selain nguli, aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Beberapa kali hoki dapat beasiswa jurnalis untuk beberapa tema khusus dan beasiswa belajar bahasa Asing. Lumayan bisa bicara bahasa London, dan baru mulai lagi belajar bahasa China.

Indahnya Skenario Allah

Sabtu, 07 Oktober 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Diantara murid saya ada yang paling kecil usia 4,5 tahun. Usia yang masih sangat dini yang dalam kesehariannya harus didampingi karena belum bisa mandiri.

Suatu hari saya mendapatkan undangan untuk menghadiri tasyakuran ulang tahun bersama murid-murid saya. Saya bawa murid saya yang paling kecil menghadiri undangan karena di asrama tidak ada orang.

Setibanya di lokasi saya ditunjuk untuk mengisi acara. Sayapun melaksanakannya mulai dari iftitah sampai ikhtitam.

Setelah do'a selesai tiba saatnya ramah tamah dan menikmati hidangan yang disuguhkan sambil ngobrol santai dengan shahibul hajah.

Ketika obrolan sedang berlangsung di tengah menikmati suguhan dari sohibul hajah, murid saya yang usia 4,5 tahun bilang mau pipis.

"Ayah mau pipis" ucapnya. Saya sedikit mengabaikannya karena sedang dalam situasi ramah tamah.

"Ayah mau pipis" anak itu kembali mengulangi pertanda kalo ia kebelet. Akhirnya saya gendong menuju ke kamar kecil.

Alhasil, belum sampai ke kamar kecil anak tersebut pipis beneran ketika saya gendong dan basahlah semua pakaian yang saya pakai.

Sepintas, kejadian itu membuat saya agak merengut. Namun saya segera merubah aura tersebut dan mengembalikan pada hal yang positif karena setiap sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya.

Tak lama kemudian, tuan rumah keluar menghampiri saya dan membawa baju baru lengkap untuk anak itu.

Dari situ saya semakin yakin bahwa kejadian itu bukan kejadian yang semata mata terjadi begitu saja. Tapi ada skenario Allah dalam rangka memberikan suatu nikmat kepada hambaNya.

Simpulannya, jangan pernah menilai negatif terhadap segala sesuatu yang menimpa kita walaupun sekilas dimata manusia dipandang negatif. 

Berbaik sangka adalah sikap arif dan bijaksana. Karena dibalik setiap kejadian terdapat hikmah yang sudah Allah skenario untuk hambaNya. Wallahu A'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan, website www.subliyanto.id

MUCHLAS SAMANI : MENULIS ITU MENATA NALAR

Senin, 02 Oktober 2017 0 komentar

Sumber:http://muchlassamani.blogspot.co.id/2013/12/menulis-itu-menata-nalar.html?m=1

Beberapa hari yang lalu, sambil menyopir saya mendengarkan radio Suara Surabaya.  Waktu itu ada ungkapan “menulis itu dapat menjadi media pengungkapan pikiran  yang mungkin tidak mudah diungkapan melalui lesan”.    Saya setuju dengan ungkapan itu, karena saya juga sering melakukan.  Biasanya saya masukkan di blog. Hal-hal yang kita sungkan menyampaikan secara lesan dapat dengan nyaman kita tuangkan dalam tulisan.  Tentu tetap menunjung tinggi etika penulisan.

Saya juga ingin menambahkan pemikiran yang ditulis memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibanding yang disampaikan secara lesan.  Mengapa?  Karena tulisan dapat dibaca banyak orang.  Di era cyber, sekali tulisan masuk ke dunia maya, pembacanya menjadi tak terbatas. Apalagi sekarang beberapa mesin pencari (searching engine), seperti Google menyediakan fasilitas terjemahan, sehingga naskah yang ditulis dalam bahasa Indonesia dapat dengan mudah diperoleh terjemahannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain.

Oleh karena itu saya mendukung gagasan untuk mengembangkan budaya literasi.  Harus jujur diakui bahwa membaca dan menulis belum menjadi kebiasaan keseharian orang Indonesia. Konon budaya kita adalah budaya tutur.  Pada saat naik kereta, menunggu kereta, dan menunggu antrean, biasanya kita ngobrol dengan sebelah.  Bahkan banyak orang yang memberi ceramah, tetapi tanpa menggunakan naskah.  Sudah saatnya budaya tutur dilengkapi dengan budaya baca dan tulis.  Dan pendidikan literasi merupakan wahana cocok untuk mengembangkannya.

Budaya tulis dan baca tampaknya juga memegang peran dalam penyebaran gagasan. Mengapa pemikiran orang Barat banyak mempengaruhi kita, salah satunya karena pemikiran mereka ditulis.  Sementara pemikiran kita banyak yang tersimpan menjadi cerita lesanyang ditularkan secara turun temurun. Sebagai contoh, taksonomi Bloom yang banyak dikutip oleh ahli pendidikan di Indonesia ditulis pada tahun 1956.  Konsep itu sama tepat dengan yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara pada Konggres Taman Siswa Pertama  pada tahun 1930.  Jadi 26 tahun lebih dahulu dibanding tulisan Bloom.   Jangan-jangan Bloom “meniru” Ki Hajar Dewantara.  Atau mungkin karena, pemikiran Ki Hajar tidak ditulis dan disebarluaskan, seakan-akan konsep Bloom lebih diketahui oleh pendidik di Indonesia.

Sekian tahun lalu saya mendapat tugas untuk membaca naskah beberapa teman dosen di Unesa.   Karena sifatnya rahasia, maka halaman yang berisi nama penulis dihilangkan.   Saya berkelakar, walaupun tanpa nama saya dapat mengenali tulisan siapa yang saya baca. Beberapa teman juga menyampaikan hal serupa.  Artinya, kita dapat mengenali tulisan seseorang yang sering kit abaca tulisannya. 

Saya ingat betul, ada senior di Unesa yang tulisannya sangat runtut.  Kalimatnya pendek-pendek dan sangat cermat menggunakan titik-koma.  Ada senior lain yang kalau membuat naskah, kalimatnya panjang-panjang.  Kadang-kadang satu kalimat terdiri dari 10 baris ketikan. Ada teman yang tulisannya sangat mudah dimengerti.  Ada juga teman yang tulisannya sangat sulit difahami.  Tampaknya setiap orang memiliki pola tulisan yang khas.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tulisan menggambarkan pola pikir penulisnya.   Pengalaman saya membimbing mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis dan disertasi mendukung pendapat tersebut.  Biasanya mahasiswa yang nalarnya tertata, tulisannya juga runtut.  Sementara mahasiswa yang masih rancu nalarnya, tulisannya juga sudah difahami. Mahasiswa jenis kedua ini memerlukan waktu untuk menata nalar dan latihan menulis yang runtut tampaknya membantu yang bersangkutan menata nalar berpikirnya.


Itulah alasan kedua saya mendukung ide pendidikan literasi.  Dengan belajar menulis diharapkan kita dapat mengasah nalar agar menjadi lebih runtut dan logis.  Dengan belajar menulis kita menghidupkan budaya baca-tulis. Dengan belajar menukis kita dapat menuangkan gagasan yang dapat dibaca banyak orang.  Semoga.

RENDAHNYA MINAT BACA MAHASISWA

Minggu, 01 Oktober 2017 0 komentar


Oleh Iffatus Sholehah*

Gaya hidup mahasiswa saat ini yang mengharap kebebasan malah kebablasan. Kontras dengan hidup mahasiswa tempo dulu. 

Mahasiswa tempo dulu yang sangat tinggi minatnya dalam membaca, membuat mereka tahu akan banyak hal. Bahkan pada saat itu menjadi hobi bagi kebanyakan dari mereka. Hasil bacaan selain menambah pengetahuan, akan menginspirasi pembaca untuk berpikir tentang substansi yang dibaca. 

Berpikir terhadap teks dan kontekstual dari bahan bacaan terhadap fenomena kekinian menjadi bagian berpikir problematik, sistematis dan solutif. Kegiatan berpikir menjadi bagian olah intelegensi dengan sikap kritis atas informasi dan penerapan informasi pada kenyataan.

Pada level pendidikan perguruan tinggi misalnya, seharusnya proses belajar-mengajar lebih menitik-beratkan pada budaya membaca daripada mendengar. Membaca adalah salah satu kegiatan manusia yang paling awal, sehingga ia dapat mengembangkan fungsi-fungsi jasmani maupun ruhaninya agar berfungsi sosial sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.

Kalau kita belajar ke masyarakat Yunani, kota lahirnya para filosof, pada masa Socrates para siswa diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Di antara sekian banyak aspek yang mendorong keberhasilan pendidikan pada masa itu adalah faktor budaya baca. 

Tidak heran kalau waktu itu, masyarakat Socrates adalah masyarakat yang memiliki kepekaan sangat tinggi dan budaya kritis, bahkan sampai melahirkan seorang ilmuan maupun seorang filosof-filosof yang sangat berpengaruh pada perkembangan peradaban pada masa itu.

Melihat realitas yang terjadi saat ini, minat baca mahasiswa mulai menurun dan bisa dikatakan rendah. Hal ini dapat dibuktikan dalam beberapa perpustakaan universitas yang ramai hanya karena ia mendapatkan tugas kuliah. Apabila tugas-tugas sudah selesai, maka perpustakaan akan sepi kembali. Entah hal itu disebabkan karena faktor bawaan atau sesuatu yang membuat mereka malas membaca. 

Timbulnya minat baca pada diri seseorang itu disebabkan oleh adanya rasa ketertarikan, berkepentingan dan perhatian pada suatu obyek.  Obyek itu bisa berupa alam sekitar, yang berupa lingkungan sosial maupun lingkungan material.

Saya baru sadar ketika bersua dengan ungkapan Finley Fater Dunoe yang mengatakan bahwa; “kita bisa mengantar orang memasuki universitas, tapi belum tentu bisa membuatnya berpikir”. ‘jalan berfikir’ bagi masa depan manusia. Dengan ditandainya era informasi dan pengetahuan, masyarakat masa depan berarti akan menuntut semua institusi pendidikan termasuk media cetak maupun elektonik, dapat memerankan dirinya sebagai sarana komunikasi yang efektif terhadap peningkatan budaya membaca bagi masyarakat.

Keengganan mahasiswa untuk membaca dan menulis bukan tanpa sebab atau latar belakang. Faktor intrinsik yang dikemukakan menjadi bagian pembentuk sikap enggan. Mahasiswa tidak termotivasi untuk membaca dan menulis karena memang tidak ada keinginan untuk menambah pengetahuan dan membuka wawasan. 

Ketiadaan keinginan kemungkinan terjadi karena beberapa hal yaitu (1) berkaitan dengan motivasi kuliah; (2) tidak menganggap penting mempunyai pengetahuan atau melengkapi pengetahuan diluar buku teks, handout atau informasi yang disampaikan di dalam kelas; (3) tiada daya kritis untuk men-chalenge informasi yang diterima di ruang kelas.

Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi dituntut supaya memberikan “rangsangan” kepada peserta didik agar mereka mampu meningkatkan budaya membaca. Sebagai sebuah media pembelajaran, lembaga pendidikan seharusnya mendorong peserta didik agar termotivasi untuk membaca. 

Membaca bukan dalam arti sempit, namun membaca dalam arti seluas-luasnya. Sebagaimana salah satu pesan dalam al-Qur’an, bahwa ungkapan iqra’ pada wahyu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. 

Hal itu memerintahkan kepada umat manusia supaya sering membaca. Sekali lagi, proses membaca adalah bagian inheren yang tak terpisahkan dari dialektika kehidupan manusia di mana pun kita berada.

Untuk mengakhiri tulisan ini, sekali lagi penulis berharap supaya lembaga pendidikan dan media komunikasi memberikan rangsangan kepada khalayak ramai khususnya mahasiswa agar menyadari akan pentingnya budaya membaca. Membaca dapat menggerakkan pikiran, mengetahui apa yang tidak diketahui, menambah wawasan dan mendorong diri manusia untuk bersifat kritis dan dinamis.

*Alumni Pascasarjana Prodi Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta*

Konsultasi : Wanita Bekerja di Luar Rumah

Jumat, 22 September 2017 0 komentar

Assalamualaikum

Pak Yanto, saya Linda. Mohon do'anya insya Allah dalam hitungan hari saya akan menikah. Terkait hal itu saya ingin menanyakan tentang pekerjaan saya yang sudah saya jalani selama sebelum menikah. Apakah saya boleh tetap bekerja sebagai wanita karir setelah menikah ? Terimakasih

Waalaikumussalam

Terimakasih informasinya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. 

Terkait pertanyaan mbak berikut yang bisa sampaikan berdasarkan kapasitas keilmuan yang saya ketahui.

Antara laki-laki dan perempuan memang dibedakan posisinya dalam islam. Namun perbedaan tersebut dalam rangka menjunjung tinggi harkat dan martabat keduanya.

Laki-laki dan segala sesuatu yang melekat pada dirinya adalah hak kedua orang tuanya walupun ia sudah menikah.

Sementara perempuan apabila sudah menikah maka hak penuh milik suaminya. 

Maka ketaatan perempuan yang sudah menikah terhadap suaminya adalah kunci surga baginya. Tentu selama suaminya tidak dalam kemaksiatan.

Sebaik-baiknya pekerjaan perempuan adalah di rumah, mendidik dan menjaga putra putrinya. 

Maka segala aktivitas perempuan yang sudah menikah harus dapat restu dari suaminya jika pekerjaannya di luar rumah.

Apakah boleh suaminya mengetahui seluk beluk pekerjaannya di luar rumah ? 

Bukan hanya boleh tapi termasuk wajib karena suami punya tanggung jawab atas restu yang diberikannya. Sehingga jika ditemukan hal yang kurang "sehat" dalam dunia kerjanya, terlebih "sehat" dalam kacamata agama, maka hak dan tanggung jawab suami di atas segalanya.

Wallahu A'lam

Buku : Api Sejarah

Kamis, 21 September 2017 0 komentar

Mau tahu bagaimana fakta-fakta sejarah bangsa Indonesia yang tidak pernah diungkap secara gamblang di buku-buku pelajaran SD, SMP, SMA? 

Mau tahu Bagaimana kaitan sejarah antara Ulama, Santri dan Kemerdekaan NKRI?

Mau tahu keterkaitan runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani oleh bangsa salibis dan terjadinya penjajahan Bangsa Indonesia yang juga oleh Salibis Inggris, Portugis, Belanda?

Tahukah anda jika Organisasi Boedi Oetomo sebenarnya adalah buatan Belanda untuk mengimbangi Sarekat Islam?

Tahukah anda jika Boedi Oetomo mendukung Penjajah Belanda? dan Menghina Rasulullah?

Temukan rasa penasaran anda tentang sejarah bangsa Indonesia yang dikupas tuntas secara apik pada serial "Api Sejarah ini"

Untuk info pemesanan, bisa langsung Whatsapp di 08973825909

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum