BERLOMBA-LOMBA DALAM KEBAIKAN

Rabu, 18 Januari 2017


Oleh : Subliyanto*
Ada dua tugas utama manusia di muka bumi. Yaitu sebagai abdullah dan khalifatullah. Sebagai abdullah adalah bagaimana kita menjadi orang yang shaleh. Namun hal itu juga belum cukup, karenanya kita juga harus berupaya menjadi orang yang "muslih" yaitu orang yang senantiasa menebar kebaikan. Maka lahirlah tugas selanjutnya yaitu sebagai khalifatullah.
Setiap manusia mempunyai tugas menyampaikan kebenaran dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun, serta melalui jalan apapun. Tentunya semua item itu selama tidak bertentangan dengan koredor agama yang sudah ditentukan. Tugas inilah yang disebut dengan istilah dakwah.
Tugas ini merupakan tugas pokok manusia sebagai khalifatullah. Dan hal ini tidaklah mudah, karena harus dimulai dari diri, keluarga, kerabat, sahabat, hingga masyarakat umum. Hal itu sebagaimana telah Rasulullah contohkan.
Kita dihadapkan dengan masyarakat yang majemuk. Maka beragam cara untuk menyampaikan kebenaran selama cara itu tidak keluar dari rule yang telah ditentukan oleh Tuhan, Allah Rabbul 'alamin.
Mungkin sedikit analogi ini menjadi sebuah renungan. Ibarat kita mau bepergian maka kita harus tau lokasi, arah dan tujuan sehingga kendaraan yang kita bawa sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.
Kendaraan yang mewah dan serba canggih belum tentu bisa kita jadikan alat atau media untuk kita bawa dan kita tumpangi menuju tujuan kita. Karenanya harus ada opsi lain yang dapat mendukung langkah dan gerakan kita dalam mengemban amanah kekhalifaan.
Memilih kendaraan lain bukan berarti menunjukkan ketidak setiaan selama yang kita lakukan adalah kebenaran, akan tetapi harus kita sadari bahwa mungkin kendaraan yang kita miliki belum pas untuk lokasi tujuan kita dalam melaksanakan tugas menyampaikan kebenaran.
Tugas utama kita adalah menyampaikan kebenaran. Maka manfaatkan segala media yang kita miliki untuk menjawab tantangan problema ummat yang kian mencekam.
Perintah Allah pun juga sudah jelas dan terang benderang bahwa kita diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.
"Fastabiqul khairat". Demikian Allah firmankan.
Maka sangat disayangkan jika fanatisme golongan masih diagung-agungkan yang justru akhirnya menjadi pemicu terpecah belahnya persatuan. Cukuplah kita mengambil ibrah dari sejarah akan hal itu.
Dan peristiwa 212 kemarin sudah menjadi bukti nyata konsep persatuan. Tidak lain dan tidak bukan, konsep iman yang menjadi landasan, bukan golongan.
Bagi orang beriman tidak ada istilah "kacang lupa kulitnya" karena ia sadar bahwa semakin banyak orang yang melakukan kebaikan yang ia tunjukkan maka baginya pahala yang tidak terhingga. Hal ini sebagaimana Rasulullah sabdakan :
"Barang siapa menunjukkan pada kebaikan, maka baginya pahala sebagaimana orang yang mengerjakannya"
Inilah rumus bagi kita sebagai da'i, guru ataupun yang lainnya. Dan jika ini menjadi prinsipnya maka pantaslah kita disebut dengan "pahlawan tanpa jasa". Yaitu pahlawan yang mencetak kader sebanyak-banyaknya guna tersampaikannya kebaikan seluas-luasnya tanpa mengharap balasan apapun, karena ia sadar bahwa hadiah dari Allah lebih berharga dari segalanya.
Semoga kita tetap istiqamah di jalan Allah dimanapun kita berada. Wallahu a'lam ... []

*Sebuah jawaban untuk sahabat saya yang telah mengirim artikel curhatannya terkait konsep persatuan.

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum