MENJADI MANUSIA PEMBELAJAR

Rabu, 18 Januari 2017


Oleh : Subliyanto
Kemarin saya berkesempatan untuk belajar dari pengalaman seorang sahabat. Mungkin kalau dilihat dari kacamata pendidikan beliau lebih rendah dari saya.
Pria yang hanya lulusan SMP, namun punya pengalaman khusus pada bidang tertentu. Tentunya itu merupakan sebuah prestasi yang harus diapresiasi.
Tidak semua ilmu kita dapatkan dari meja belajar atau yang dikenal dengan kelas dalam sebuah lembaga pendidikan.
Adakalanya ilmu itu bisa kita dapatkan dalam sebuah kesempatan yang berbeda. Bisa di lapangan, di meja makan, dan dimanapun selama kita masih bisa berinteraksi dengan banyak orang.
Dan yang terpenting adalah bagaimana kita menjadi manusia pembelajar. Yaitu manusia yang haus akan ilmu sehingga ia terus ingin belajar dimanapun dan kapanpun serta kepada siapapun. Karena haus akan ilmu memang menjadi salah satu syarat dalam belajar atau menuntut ilmu.
Berbincang hal ini jadi teringat penjelasan yang tersurat dalam kitab taklimul Muta'allim waktu sekolah madrasah diniyah dulu.
Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa ada enam syarat bagi penuntut ilmu, yaitu cerdas, haus akan ilmu, sabar, biaya, bimbingan guru, dan kontinyu.
"Dzakaun wahirsun wastibarun wabulghatun dari irsyadu ustadzin Presiden Lu zzamani"
Demikian kutipan syair yang tertera dalam kitab tersebut.
Dalam syair tersebut haus akan ilmu atau yang disebut dengan "hirs" menjadi bagian yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu.
Maka tidak pantas kiranya bagi manusia berhenti untuk belajar, karena belajar merupakan sebuah kewajiban bagi setiap insan, dimulai sejak ia dalam buaian ibu hingga ia mati.
Namun demikian sebagai seorang pembelajar harus mempunyai filter yang kuat, karena tidak semua yang dilihat dan didengar bermanfaat. Maka kebaikan harus menjadi prioritas.
Kalau meminjam istilah ekonomi seorang pembelajar harus menjadi konsumen yang cerdas, yaitu yang baik diambil dan yang buruk dibuang.
Tentunya filter yang kuat bagi seorang pembelajar tidak lain adalah iman. Karena iman merupakan penentu arah dan tujuan manusia.
Tidak salah kiranya kalau saya meminjam istilah judul bukunya sahabat saya Syaiful Anshor yang berjudul "Jaddid Imanak". Karena memang iman seseorang fluktuatif, atau dikenal juga dengan istilah "yazidu wa yankus".
Nah bagaimana dan kapan keduanya itu terjadi ?
Dalam sebuah referensi dijelaskan bahwa keimanan seseorang sedang naik sementara ia semakin taat kepada Allah. Dan iman seseorang sedang turun sementara ia sedang bermaksiat.
"Al imanu yazidu wa yankus. Yazidu sedikit thaati. Wa yankusu bil maksiyati."
Semoga kita semua menjadi insan pembelajar yang senantiasa dilandasi dengan iman.
Wallahu a'lam ...

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum