PRINSIP EKONOMI DALAM KACAMATA SURAT AL-LAIL

Rabu, 18 Januari 2017


Oleh : Subliyanto*
Istilah ekonomi sangatlah tidak asing di telinga kita. Dan mendengar istilah tersebut setiap manusia sudah bisa membayangkan bahwa yang diperbincangkan adalah tentang uang, sehingga mereka bisa mendefinisikan istilah itu dengan persepsinya masing-masing.
Sederhananya, ekonomi adalah kegiatan yang dapat menghasilkan uang, yang mana dari kegiatan tersebut membuahkan manfaat bagi pelaku ekonomi itu sendiri dan tentunya juga bagi orang lain.
Ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, sehingga setiap manusia melakukan aktivitas tersebut sesuai dengan skill ekonomi yang mereka miliki. Hal demikian juga dilakukan oleh Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam.
Dalam sejarah, dikutip dari kitab "Rakhitul Makhtum" Rasulullah pada awal masa remajanya tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa mengembala kambing di kalangan bani Sa'd dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar.
Kemudian pada usia dua puluh lima tahun, beliau pergi berdagang ke Syam menjalankan barang dagangan milik Khadijah binti khuwailid. Seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya.
Singkat cerita, keberangkatan Rasulullah yang ditemani Maisarah pembantu Khadijah aktivitas ekonomipun beliau lakukan. Dan dengan modal kejujuran beliau, keuntungan daganganpun melimpah, hingga akhirnya Khadijah tertarik kepada Rasulullah dan menikah dengan beliau.
Tentu sejarah ini patut menjadi rujukan bagi ekonom muslim agar aktivitas ekonomi yang dilakukan membuahkan hasil yang melimpah dan barokah.
Membahas masalah ekonomi tidaklah lepas dari prinsip ekonomi. Kalau kita buka lagi buku pelajaran ekonomi kita akan temukan prinsip ekonomi kapitalis yang mengajarkan kepada kita dengan prinsip ekonomi "mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya".
Sebagai ekonom muslim, tentunya harus punya prinsip lain, karena orientasinya tidak hanya dunia semata, akan tetapi akhirat prioritas utama karena disanalah kehidupan yang sesungguhnya.
Maka selain menapaktilasi perjalanan Rasulullah dalam bidang ekonomi, perlu juga kiranya kita mengkaji alQur'an yang mengajarkan prinsip-prinsip ekonomi. Dan salah satunya adalah surat al-Lail.
Dalam surat Al-Lail dijelaskan bahwa prinsip ekonomi yang dapat mengantarkan manusia kepada kesuksesan, kemudahan, dan kebahagiaan adalah dengan berinfak, atau memberikan hartanya di jalan Allah dengan landasan takwa.
Maka barangsiapa melakukan hal tersebut dijamin oleh Allah kemudahan yang tentunya akan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Hal tersebut sebagaimana telah Allah firmankan :
"Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan". (QS. al-Lail : 5-7)
Namun sebaliknya, barangsiapa yang enggan melakukan hal tersebut (berinfak di jalan Allah), ia kikir dan merasa dirinya cukup sehingga ia merasa tidak butuh terhadap pertolongan Allah, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Allah janjikan baginya kesukaran yang akan mengantarkan dirinya pada kesengsaraan.
Masih dalam surat al-Lail Allah berfirman :
"Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan), dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa". (QS. al-Lail : 8-11)
Pada surat ini pula Allah memberikan peringatan kepada kita tentang neraka yang akan menjadi tempat bagi orang-orang yang celaka, para pendusta kebenaran dan orang-orang yang berpaling dari iman.
Semoga Allah, menjauhkan kita dari siksaNya. Dan menjadikan kita orang-orang yang sukses di dunia dan akhirat, sehingga kesenangan yang sempurna kita dapatkan. "Wa lasaufa yardha". []
Wallahu a'lam...

*Twitter @Subliyanto

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum