Ketika Hidup Kita Hanya Untuk-Nya

Senin, 27 Maret 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

"Manusia hidup di alam dunia, bagai musyafir di tengah perjalanan. Suatu hari pabila waktunya tiba, akan kembali ke hadirat yang maha kuasa".

Demikian sebuah syair yang mengingatkan kepada kita bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Maka sangat disayangkan jika kesempatan hidup kita di dunia ini sia-sia.

Hidup yang sia-sia adalah manakala kita tidak memanfaatkan kesempatan hidup kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena dengan kebaikanlah kita akan menikmati hidup yang sesungguhnya.

Berbuat kebaikan merupakan implementasi dari ketaatan. Dan ketaatan merupakan implementasi dari keimanan kita.

Ketika hidup kita hanya untuk-Nya, maka Dia akan menjamin segalanya. Namun sebaliknya ketika hidup kita untuk selain-Nya, maka kita hanya akan mendapatkan hal yang bersifat sementara sesuai dengan tujuan kita.

Maka dalam setiap aktivitas kehidupan kita, niat menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, Muhammad Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita melalui sabdanya :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang)

Maka kemanapun kaki kita melangkah, niat menjadi hal yang utama, karena dengan niat itulah akan menentukan segalanya.

Ketika hidup kita hanya untuk-Nya, maka Diapun akan membela kita.

Bukankah kita percaya dengan janji-Nya yang sudah tersurat dalam firman-firman-Nya ?

Janji-Nya dan janji kita tidaklah sama. Janji-Nya sungguh benar dan nyata. Tapi janji kita terkadang hanya di bibir saja. Dan hanya orang-orang yang beriman yang akan merasakannya.

Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman dan islam kita, sehingga kita selalu taat pada-Nya dalam semua aspek hidup dan kehidupan kita.

Wallahu a'lam...[]

*Penulis adalah aktivis sosial. Twitter @Subliyanto

Yang di Tangan Kita Belum Tentu Milik Kita

Senin, 13 Maret 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Suatu hari seorang sahabat chat saya via WhatsApp. Ia bercerita tentang musibah yang menimpanya. 

Seorang sahabat yang biasanya sangat berhati-hati dan waspada dalam kesehariannya, namun ia kehilangan hartanya sekejap mata dengan nominal cukup besar.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un", ungkapan inilah yang harus menjadi perioritas dalam menghadapi hal tersebut. Karena dengan ungkapan tersebut dapat menyadarkan kita bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, dan akan kembali kepada Allah.

Harta hanyalah sebuah titipan semata. Maka yang di tangan kita belum tentu milik kita. Dan jika Allah menghendaki maka harta itu akan beralih tangan dengan caraNya. Disinilah sebagai seorang muslim, kita tidak boleh terlena.

Namun demikian kita tetap harus bersyukur karena dengan bersyukur Allah akan nenambahkan nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Lenyapnya sesuatu yang kita miliki bukan berarti hilang segalanya. Akan tetapi merupakan bagian dari sebuah solusi yang Allah berikan kepada kita dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Bukankah kita percaya dengan Qadha' dan Qadar Allah ?
Untuk itu berbaik sangka kepada Allah dan bersyukur adalah kunci menata hati kita dalam setiap aspek kehidupan kita.

Tidak satupun yang terjadi dalam hidup dan kehidupan ini tanpa sebuah tujuan. Maka terus bersandarlah kepada Allah sampai Allah tunjukkan maksud dan tujuanNya.

Sesungguhnya kita sebagai manusia hanya berkewajiban berikhtiyar. Dan Allah yang menentukan segalanya.

"Al insanu bit takhyir, wallahu bit taqdir".
Wallahu A'lam...[]

*Penulis adalah aktivis sosial. Twitter @Subliyanto

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum