Hadiah Terbaik Buat Orang Tua

Senin, 31 Juli 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Pada suatu kesempatan setelah shalat maghrib seorang guru bertanya kepada muridnya. "Siapa diantara adik-adik yang ingin membantu orang tuanya ?

Mendengar pertanyaan itu sontak semua murid yang sedang bersamanya mengacungkan tangannya seraya berkata "Saya pak guru".

Kemudian, guru itu melanjutkan pertanyaannya, "Bantuan apa yang ingin adik-adik berikan kepada orang tuanya ?

Beragam jawaban polos dari muridnya terlontar merespon pertanyaan gurunya. Dan rata-rata dari jawaban mereka adalah ingin membuat orang tuanya bahagia.
****
Dialog singkat di atas setidaknya menjadi pengingat buat kita bahwa membahagiakan orang tua merupakan impian semua manusia, karena mereka adalah guru pertama kita.

Tentu kebahagiaan yang harus kita upayakan buat mereka tidak hanya kebahagiaan dunia semata, akan tetapi kebahagiaan akhirat juga menjadi skala prioritas, karena disanalah kehidupan yang hakiki.

Hadiah terbaik buat orang tua kita adalah menjadikan diri kita sebagai anak yang shaleh dan shalehah, yakni orang yang senantiasa selalu dalam kebaikan, karena anak yang shaleh dan shalehah adalah harapan dan impian semua orang tua. Belajar dan beramal dengan sungguh-sungguh merupakan pintunya.

Setiap kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, maka tetesan pahala juga mengalir kepada orang tua yang membimbingnya. Itulah investasi para orang tua yang akan dipanen kelak di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.

Hadiah berupa materi juga penting tapi hal itu bukanlah segalanya, karena materi bukan satu-satunya indikator kesuksesan, namun itu hanya bagian terkecil saja dalam kehidupan manusia di dunia.

Hal ini penting bagi kita baik sebagai orang tua maupun sebagai anak agar orientasi hidup dan kehidupan kita tetap terarah sesuai dengan arahanNya.

Semoga Allah menjadikan anak anak kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah. Amin

*Penulis adalah pemerhati pendidikan anak. Twitter @Subliyanto. (01/08/2017)

Menulis Itu Memulai

Minggu, 30 Juli 2017 0 komentar

Oleh: Iffatus Sholehah*

Menulis itu memulai. Sebuah kalimat penuh makna yang merupakan bahasa biasa akan tetapi memerlukan pemahaman secara mendalam. Memang, menulis itu perlu dimulai. Karena jika kita tidak pernah memulainya, maka kita tidak akan tahu bagaimana cara menulis itu sendiri.

Di samping itu, menulis tidak hanya sekadar menulis. Sebelum kita menulis, kita harus membaca tulisan orang lain untuk mengetahui letak posisi kita dalam menulis. Posisi tersebut dimaksudkan agar tulisan kita dapat memberikan satu titik saja untuk mengetahui perbedaan tulisan kita dengan tulisan orang lain.

Terkadang, banyak orang hanya terlintas ingin menulis. Akan tetapi, hal tersebut hanya sebatas keinginan saja tanpa aksi nyata. Memang benar, menulis itu membutuhkan niat dan keinginan yang besar. Tapi bukan berarti hanya sebatas keinginan yang hanya terpatri di dalam pikiran saja.

Menurut salah satu penulis kontemporer Amerika Serikat, Stephen King, menulis tidak harus menunggu datangnya inspirasi. Akan tetapi, kita sendiri yang harus menciptakannya. Pernyataan tersebut cukup mewakili bahwa menulis itu perlu dimulai.

Apabila saya mengingat pengalaman pertama saat menulis, susah sekali rasanya untuk merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat. Ada beberapa tulisan pertama saya yang mandeg di pertengahan jalan. Alhasil, tulisan tersebut tidak dapat sempurna hingga berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun.

Selain itu, pernah suatu ketika tulisan saya sudah layak terbit dan sudah saya kirim ke salah satu media online. Setelah mendapatkan respon pesan email, ternyata tulisan saya tidak dapat terbit karena dengan alasan tidak sesuai dengan tema waktu itu.

Berdasarkan hambatan-hambatan di atas, saya berusaha untuk terus menulis dan mempelajari kiat-kiat menulis yang baik agar tulisan saya dapat terbit. Sehingga pada suatu hari bahagia rasanya ketika mengetahui tulisan pertama saya terbit di salah satu media online, meskipun media tersebut tidak berbayar.

Saat ini, menulis merupakan suatu hobi bagi saya. Menulis apapun itu. Karena bagi saya, dengan menulis maka pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki akan terus mengalir dan dapat bermanfaat bagi banyak orang. Karena ia akan terus abadi seperti yang diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, Menulis adalah bekerja untuk ke-abadian.

Pada dasarnya menulis tidak hanya persoalan bakat semata, melainkan juga berkaitan dengan niat dan keinginan yang besar untuk belajar merekam sejarah dan pikiran kita sendiri. Oleh karena itu, belajar menulis bukan perkara yang mudah. Karena menulis membutuhkan waktu yang lebih, mengurai kata perkata, menyesuaikan suasana hati yang tidak mood, dan ide pokok tulisan yang akan tertuang. Semua hal tersebut merupakan sesuatu yang mudah apabila sudah terbiasa. Karena bagaimanapun, menulis juga perlu pembiasaan. Sedangkan pembiasaan tersebut berawal dari bagaimana kita memulai.

*Penulis adalah mahasiswi Pascasarjana Prodi Interdisciplinary Islamic Studies Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kala Masjid Al-Aqsha Memanggil

Kamis, 27 Juli 2017 0 komentar


Oleh : M. Anwar Djaelani*                                                                                                                                                      
“Para Pemuda Palestina Shalat Jumat dan Berdoa di Jalan-jalan Yerusalem” (www.salam-online.com 04/072015). “Pasukan Zionis Israel Tembak Imam Masjid Al-Aqsha Usai Shalat” (www.kiblat.net 19/072017). “Situasi Masjid Al-Aqsha Genting, Warga Sipil Palestina Tewas” (www.republika.co.id 22/07/2017). Tiga berita ini cukup mewakili suasana mencekam yang kembali berulang di Palestina dan terutama di seputar Masjid Al-Aqsha. 

*Brutal, Brutal!*
Sungguh sedih! Maka, agar cukup lengkap terasakan situasi mencekam di sekitar Masjid Al-Aqsha, berikut ini petikan agak lengkap dari ketiga berita di atas. 
Dari dari berita pertama, bahwa para pemuda Palestina melaksanakan shalat Jum’at di jalan-jalan Yerusalem Timur. Aksi tersebut dilakukan sebagai tindakan protes kepada penjajah Zionis karena melarang Muslim melaksanakan ibadah di Masjid Al-Aqsha. 

Penjajah mengerahkan ratusan pasukannya untuk menjaga perbatasan di seluruh Kota Tua Yerusalem Timur, sementara pemuda Palestina tetap melakukan doa bersama di Kota Tua Yerusalem dekat komplek dan lingkungan Wadi al-Joz. Pembatasan ke Masjid Al-Aqsha telah diberlakukan oleh penjajah Zionis terhadap warga Palestina selama beberapa bulan terakhir di paruh pertama 2017.

Kepala Wakaf Islam Masjid Al-Aqsha Syaikh Azzam al-Khatib mengatakan, bahwa Al-Aqsha telah menjadi pusat penahanan terhadap Muslim dan masjid itu telah berubah menjadi barak militer yang telah dikelilingi oleh tentara Zionis beberapa bulan terakhir.

Di awal pekan Juli 2017, pasukan Zionis menyerbu desa Palestina Shufat, dan menurunkan bendera Palestina dari rumah dan toko-toko. Mereka juga mengancam bagi siapa-pun yang mengibarkan bendera Palestina.

Sekarang, dari berita kedua. Dikabarkan bahwa pasukan zionis Israel telah menembak seorang Imam Masjid Al-Aqsha setelah melaksanakan shalat pada 18/07/2017 malam. Sejumlah orang juga menjadi korban dari kejadian itu. Sang Imam -Syaikh Ikrima Sabri- mengalami luka setelah terkena peluru Israel. Penembakan terjadi setelah Syaikh Ikrima melakukan shalat di luar gerbang Masjid Al-Aqsha. Selain Syaikh Ikrima, sejumlah warga yang ikut shalat berjamaah di depan gerbang masjid juga terluka. 

Pasca-penembakan itu, Menteri Agama Turki Mehmet Gormez melayangkan kecaman. Melalui akun Twitternya dia juga mengenang peristiwa pembantaian di Masjid Ibrahimi, Hebron pada 1994. “Kita telah menghadapi rasa sakit yang luar biasa. Insiden yang terjadi di Masjid Al-Aqsha dan sekitarnya telah membawa orang yang bijak merasa khawatir,” tulis dia. 

Perlu diketahui, pasukan Israel telah menutup Masjid Al-Aqsha, sehingga umat Islam Palestina terpaksa shalat di luar gerbang. Penembakan Imam Syaikh Ikrima Sabri terjadi setelah gugurnya Rafaat al-Herbawi dalam demonstrasi di depan Masjid al-Aqsha yang menewaskan lima orang.

Kemudian, dari berita ketiga. Dikabarkan, bahwa tiga orang Palestina tewas, sedangkan 140 orang lainnya luka-luka. Media Aljazeera, pada 21/07/2017, melaporkan insiden itu terjadi di tengah demonstrasi yang menentang aksi militer Israel atas kompleks Masjid Al-Aqsha. Kejadian pertama menewaskan Muhammad Mahmoud Sahraf, seorang remaja Palestina berusia 18 tahun, di Ras al-Amuhd, Yerusalem Timur. Kejadian kedua menewaskan pria Palestina seusai shalat Jum’at 21/07/2017. Korban atas nama Muhammad Mahmoud Khalaf itu menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit terdekat. Adapun korban ketiga, Muhammad Hasan Abu Ghanam, juga tewas setelah terlibat bentrok dengan aparat militer Israel pada hari yang sama di Tepi Barat.

Dalam beberapa hari terakhir di pekan kedua Juli 2017, kekuatan militer Israel kian merangsek menuju Masjid Al-Aqsha. Israel bahkan melarang siapa-pun Muslim yang berusia di bawah 50 tahun untuk memasuki kawasan suci bagi umat Islam itu. Para tentara itu menyiapkan alat deteksi logam untuk menyaring para jamaah masjid. Mereka juga sempat menembakkan amunisi, gas air mata, dan peluru karet untuk menghalau massa yang memrotes.

Usai shalat Jum’at pada 21/07/2017, massa mulai bertambah banyak. Tensi emosi sudah terasa karena agitasi yang dilakukan tentara Israel. Sebuah video merekam bagaimana seorang aparat Israel menendang seorang Muslim yang sedang menunaikan shalat di atas jalan, lokasi shalat Jum’at.

Para tokoh Muslim dari penjuru dunia mengutuk keras cara-cara militer Israel menghalang-halangi akses ke Masjid Al-Aqsha. Sementara, pemimpin Hamas Ismail Haniya memeringatkan Israel agar tidak melintasi 'garis tegas' (red line) yakni kompleks Masjid Al-Aqsa. 

*Perlu Gerakan*
Di sepanjang sejarah, kaum Yahudi akan terus bersikap melampaui batas. Mengapa? Antara lain, karena di Yahudi ada ajaran bahwa bangsa yang paling pilihan dan diistimewakan Tuhan di dunia ini, tidak lain hanyalah Bani Israil. Kaum Yahudi menilai segala pendapat dari pihak lain, sekalipun itu benar, tak akan pernah diterima. Pendapat dari yang selain berdarah Israel, dianggap tak sah. Akibatnya, mereka arogan. Mereka selalu bersikap mau menang sendiri dan –oleh karena itu- selalu melampaui batas. 

Lihatlah sejarah, terutama di Palestina (dan sekitarnya). Di sana, telah lama Yahudi-Israel membuat masalah. Himbauan, kecaman, dan tekanan dunia, tak pernah dihiraukan Israel.

Yahudi itu suka berbuat dosa. “Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya  amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu“ (QS Al-Maaidah [5]: 62).
Kini, dalam duka, kita harus selalu bisa membantu saudara-saudara kita di Palestina dan terutama yang ada di sekitar Masjid Al-Aqsha. Bantulah dengan sejauh apapun yang mungkin bisa kita berikan: Harta, jiwa, tenaga, doa, dan lain-lain. Misal, kita bisa membantu melalui cara yang relatif mudah yaitu jangan membeli produk-produk yang –langsung atau tidak langsung- akan menguntungkan Israel. Buatlah hal yang disebut terakhir itu sebagai sebuah gerakan yang berketerusan! []

*Penulis tinggal di www.anwardjaelani.com

Ketika Manusia Berada di Masa Transisi

Rabu, 26 Juli 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Masa transisi merupakan masa peralihan dari situasi lama ke situasi yang baru. Tentu banyak hal yang akan manusia hadapi pada masa-masa ini.

Contoh kecil yang baru-baru ini para orang tua hadapi misalnya, masa dimana harus berpisah dengan putra-putrinya karena mereka harus masuk sekolah atau kembali ke pondok.

Tentu momen ini sangat berkesan dan terkadang harus berlinang air mata, karena mereka yang biasanya selalu bersama orang tuanya menjadi penghibur dikala suka dan duka, kini mereka harus menikmati dunia baru bersama teman yang baru dan di tempat yang baru serta situasi yang baru pula.

Namun, demi kebaikan anaknya dan tentu demi kebaikan buat dirinya (orang tua) mereka harus berpisah dengan orang tuanya dalam waktu sementara.

Sebagai orang tua sudah barang tentu kepikiran. Mereka yang selama ini dimanja harus belajar hidup mandiri dalam lingkup skala yang kecil.

Maka penguatan jiwa pada orang tua harus menjadi prioritas dalam meyakinkan dirinya bahwa dirinya sedang melakukan hal yang terbaik buat anak-anaknya berupa pendidikan. Karena itulah wujud cinta, kasih, dan sayang yang sesungguhnya.

Dalam hal yang lebih besar dapat dicontohkan misalnya, ketika kita harus move on dari dunia kerja dan pindah ke dunia kerja yang lain. Mungkin inilah masa transisi yang sering melanda orang dewasa. Maka menyikapinya harus ekstra bagaimana agar kita bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada.

Ikhlas dan sabar merupakan kunci utamanya. Ikhlas meninggalkan yang lama dan menjalani yang baru. Tentu semua itu dengan konsekuensi yang harus dihadapi.

Hidup adalah proses, dan menjalani hidup dan kehidupan juga butuh proses. Maka sebagai seorang mukmin kita perlu menyikapi semua itu sebagai sebuah solusi hidup dan kehidupan yang telah Allah berikan.

Mungkin dulu kita sudah pernah eksis dengan karir kita, dan kini kita harus mulai lagi dari nol. Maka yakinlah bahwa kita sedang melakukan sesuatu dari zero to hero.

Manusia diciptakan hanya untuk mengikuti alur jalan kehidupan yang sudah Allah tentukan. Maka yakinlah bahwa Ia akan memberikan yang terbaik buat hambaNya.

Tidak akan ada hati yang gundah jika kita mendekat kepada yang Maha Indah. Tidak akan ada hati yang goncang jika kita mendekat kepada yang Maha mengendalikan. Tidak akan ada hati yang merasa kehilangan jika kita mendekat kepada yang Maha memberikan. Dialah Allah yang maha pengasih dan penyayang. Wallahu A'lam []

*Penulis adalah penggiat sosial dan pendidikan islam di jawa timur. Twitter @Subliyanto

Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Selasa, 25 Juli 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Pada artikel sebelumnya yang terpublish di www.subliyanto.id (25/07/2017), penulis menyampaikan bahwa manusia lahir ke dunia membawa tugas yang sangat besar. Tugas sebagai makhluk individu dan tugas sebagai makhluk sosial.

Membahas masalah tugas sosial atau tugas keummatan memang perlu kiranya untuk terus di kampanyekan untuk menumbuhkan sikap kepedulian sosial guna terwujudnya kehidupan manusia yang aman, damai, dan sejahtera.

Dalam skala yang lebih besar hal itu sudah menjadi visi besar negara kita sebagaimana telah termaktub dalam pancasila yang berbunyi "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia".

Tentu itu bukan hal mudah. Membutuhkan konsistensi, sinergi, dan yang terpenting adalah empati dari semua elemen masyarakat terkait.

Masalah sosial merupakan hal yang kompleks dalam semua aspek kehidupan manusia. Dan diantara yang paling dominan dan menjadi sorotan adalah aspek pendidikan dan ekonomi masyarakat.

Kesenjangan sosial yang terjadi saat ini khususnya dalam aspek pendidikan dan ekonomi masyarakat masih menjadi PR kita yang harus dan terus diatasi guna tercapainya visi "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia".

Pendidikan merupakan jalur utama. Karena dengan pendidikan akan melahirkan generasi yang handal dan profesional yang dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik dalam seluruh aspek kehidupan manusia.

Namun adanya klaster-klaster pendidikan yang terjadi saat ini terkadang membuat sebagian orang semakin tidak percaya diri terlebih bagi mereka yang mempunyai keterbatasan ekonomi.

Maka hal ini penting kiranya menjadi evaluasi kita bersama, khususnya para pemangku kebijakan di jajaran pemerintahan karena pendidikan merupakan hak setiap bangsa.

Meminjam istilah yang sering disematkan kepada presiden kita Bapak Jokowi, kalau kita blusukan ke masyarakat kita khususnya mereka yang berada di pelosok desa, di lereng-lereng gunung, dan mereka yang berada di tengah tengah kota sekalipun tapi di zona yang berbeda maka sangat dibutuhkan sikap empati kita kepada mereka.

Terbersit di hati sebuah perasaan adanya ketidak adilan di negeri ini. Kalau sebagian dari kita bisa tinggal di tempat yang layak huni dengan fasilitas yang cukup memadai, namun sebagian lagi dari saudara kita sebangsa dan satu payung dalam naungan negara indonesia masih tinggal di tempat yang sangat tidak layak huni.

Kalau sebagian dari kita bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang dengan fasilitas yang mewah, namun sebagian lagi dari saudara kita sebangsa dan satu payung dalam naungan negara indonesia harus putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

Tidak lain dan tidak bukan untuk menjawab semua realitas sosial kehidupan ini adalah dengan menumbuhkan sikap kepedulian sosial, baik secara personal maupun kelompok. Terlebih dari jajaran pemerintah. Karena di tangan kita terdapat hak mereka.

Maka membuka mata hati pada diri kita adalah solusi, dan peduli kepada mereka adalah aksi nyata demi terwujudnya kehidupan sosial yang hakiki.

Semoga catatan singkat ini dapat menggerakkan jiwa dan raga kita untuk mewujudkan kepedulian kita kepada sesama. Ingatlah bahwa di tangan kita ada hak saudara kita. Wallahu A'lam []

*Penulis adalah penggiat pendidikan islam di jawa timur. Twitter @Subliyanto

Mengembalikan Orientasi Hidup dan Kehidupan Manusia

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Manusia diciptakan dan dilahirkan ke dunia bukanlah sebuah kebetulan. Akan tetapi manusia diciptakan dan dilahirkan ke dunia dengan membawa amanah yang sangat besar, yaitu amanah sebagai makhluk individu dan amanah sebagai makhluk sosial yang juga disebut sebagai amanah keummatan.

Amanah sebagai makhluk individu merupakan sebuah amanah yang melekat pada diri manusia dan menjadi tanggung jawabnya agar bagaimana menjadikan dirinya sebagai manusia yang baik. Hal inilah yang disebut manusia sebagai 'abdullah. Maka tugasnya adalah beribadah kepada Allah dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Dalam hal ini sebagaimana telah Allah firmankan dalam alQur'an yang artinya : ” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku “. (QS Az Zariyat: 56).

Sementara amanah sebagai makhluk sosial merupakan amanah yang melekat pada diri manusia agar bagaimana dirinya bisa melakukan interaksi sosial sehingga dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik pada lingkup kehidupan dengan skala yang lebih besar. Sehingga islam sebagai rahmat bagi seluruh alam betul-betul tersampaikan dan dirasakan. Allah berfirman yang artinya :

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.” (QS Al Baqarah : 30)

Tentu tugas sosial ini lebih berat dari tugas manusia sebagai makhluk individu. Namun demikian keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maka tugas pertama itulah yang menjadi pondasinya dalam menggerakkan roda hidup dan kehidupannya.

Dua tugas pokok dan fungsi manusia inilah yang harus menjadi orientasi dalam hidup dan kehidupan manusia. Sehingga perannya betul-betul bermakna dan bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.

Jika kedua tugas pokok manusia di atas dijalankan sesuai dengan rule yang ada maka harapan dan impian manusia agar bisa hidup aman, damai, dan sejahtera akan tercapai.

Namun sebaliknya, jika kedua tugas pokok manusia tidak dijalankan sesuai rule yang ada, yang telah ditentukan oleh Allah dan dibimbing oleh Rasulullah maka mustahil harapan dan impian manusia agar bisa hidup aman, damai, dan sejahtera akan tercapai, karena di dalamnya terdapat sebuah ketidak taatan.

Maka jadikanlah hakikat diciptakannya manusia sebagai orientasi hidup agar hidup dan kehidupan manusia baik dalam lingkup keluarga, bangsa, dan negara mendapatkan ridha dari yang Maha Hidup, Allah Rabbul 'Alamin. Wallahu A'lam []

*Penulis adalah penggiat pendidikan islam di jawa timur. Twitter @Subliyanto*

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum