PEMUDA HARUS AKTIF

Minggu, 29 Oktober 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Ahad 29 Oktober 2017, saya kedatangan tamu mahasiswa dan mahasiswi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Darut Taqwa (STAIDA). 

Kedatangannya dalam rangka bakti sosial sebagai bentuk solidaritas dan soliditas ukhuwah dalam mewujudkan kepedulian sosial.

Pada kesempatan itu saya diminta untuk memberikan sambutan. Dalam sambutan saya tidak banyak yang saya sampaikan, hanya sedikit motivasi kepada mereka.

Pemuda merupakan aset negara, generasi penerus perjuangan bangsa. Maka sebagai generasi muslim harus berada di geranda terdepan dalam membela agama, bangsa dan negara.

Pemuda harus bergerak aktif dalam memberikan solusi riil terhadap problema kehidupan bangsa dan negara. Karena di tangan pemudalah awal kebangkitan dan kemajuan bangsa.

Tugas utama pemuda adalah belajar, maka gerakannya jangan sampai melupakan tugasnya sebagai pelajar, dan jangan merubah orientasinya.

Maka disiplin dalam memenuhi target belajarnya merupakan hal yang utama. Selain itu aplikasi ilmu di lapangan juga sangat diperlukan untuk mengetahui riil kehidupan sosial.

Sehingga ilmu yang dimiliki tidak hanya sebatas orientasi menjadi manusia berdasi. Akan tetapi bagaimana bisa menjadi manusia yang dapat memberikan solusi.

Di tangan pemuda terdapat tumpukan PR yang harus kellar dan betul-betul final. Maka pemuda harus bergerak aktif membangun kanal perjuangan sebelum PR yang baru datang.

*Penulis tinggal di www.subliyanto.id

PUISI : TIGA TAHUN KAU BERTAHTA

Minggu, 15 Oktober 2017 0 komentar


Oleh : Fadli Zon
Sumber : detik.com 

tiga tahun kau bertahta
semakin banyak tanda tanya
mau dibawa kemana Indonesia
hidup rakyat makin susah
petani rugi panen masalah
nelayan dilarang pakai cantrang
buruh dihadang pekerja asing negeri seberang
pedagang bangkrut pelanggan hilang
toko tutup supermarket redup
daya beli jatuh transaksi runtuh
utang melambung membubung menggunung
ekonomi diambang stagnasi 

tiga tahun kau bertahta
harga listrik makin gila
bbm mahal luar biasa
subsidi tak ada lagi
pajak sana pajak sini pajak semua lini
korupsi tetap tinggi tak berhenti
narkoba bebas mengganas dimana-mana
tentara dan polisi rebutan senjata

tiga tahun kau bertahta
keadilan cuma wacana
ulama dihina difitnah dipenjara
suara kritis diancam pidana
hukum diatur sesuai selera
demokrasi fatamorgana

dimanakah kau berada?
meletakkan batu pertama
menggunting pita di berbagai kota
infrastruktur sini infrastruktur sana
entah punya siapa untuk siapa
tapi rakyat tetap susah
pengangguran melimpah
biaya hidup bikin marah
dan kau tetap sumringah
asyik bagi kartu dan sepeda
masih terus kampanye saja

tiga tahun kau bertahta
rasanya waktu begitu lama
terbuang sia sia

Fadli Zon Perjalanan Jakarta-Amsterdam, 13 Oktober 2017

Takziyah : Izana Aqila Surufa

Jumat, 13 Oktober 2017 0 komentar

Menjelang pukul 00:00 (Kamis, 12 Oktober 2017) saya mendapatkan informasi duka atas meninggalnya murid saya. Informasi tersebut saya terima melalui grup Sahabat Muslim Jogja dan grup Sahabat Muslimah Jogja :
---------------
BERITA DUKA

*اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْن* 

Telah meninggal dunia pada malam hari ini di RS PKU Pakem ananda *Izana Aqila Surufa (Iza)* 

murid kelas 1B SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Putri kedua dari Ust Mansur (Ketua DPD Hidayatullah Kab Sleman) dan Usth Saufa (Wali Kelas 2B).

In Syaa Allah jenazah akan dimakamkan pada : Jum'at, 13 Oktober 2017, Pukul 09.00 WIB, di Komplek Pemakaman Ponpes Hidayatullah Yogyakarta, Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 14,5, Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman.

Semoga Mba Izza bisa menjadi tabungan amal untuk kedua orangtuanya dan menjadi wasilah menuju syurga.

Serta Ust Mansur, Usth Saufa dan Keluarga diberikan kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.
------------------
Atas nama guru dari almarhumah, dan keluarga besar www.subliyanto.id turut berduka atas berita duka tersebut. Semoga kedua orang tuanya diberi kesabaran. Amin

Writing is the Painting of Voice

Minggu, 08 Oktober 2017 0 komentar

Oleh : Umaya Khusniah*

Pernah membayangkan kalau di dunia ini tidak ada tulisan? Pernah membayangkan apa jadinya masa kini dan masa depan kalau tidak ada tulisan? Jawabanmu pasti beragam. Tapi menurtku, yang pasti kehidupan ini bakal sangat sulit. Tidak ada yang menceritakan sejarah masa lalu nenek moyang dan pendahulu kita. Tak ada ilmu yang bisa kita kembangkan di masa kini dan masa depan.  Begitu pentingnya sebuah tulisan. 

Dari sebuah tulisan, kita tahu sebuah kronologi, kita tahu proses sebuah penemuan, bahkan kita bisa mengembangkannya di masa kini. Hebatnya lagi, kita bisa memprediksi sebuah masa depan. Bersyukurlah kita banyak ahli yang kini meninggal, menghadiahkan kita tulisan-tulisan mereka. Ilmu akan abadi dalam tulisan. 

Setelah tau betapa pentingnya tulisan, selanjutnya, siapa yang berhak menulis. Jawabnya tentu kita semua berhak menulis. Apa yang mau ditulis? jawabnya apapun. Fiksi, non fiksi, dalam berbagai bentuk. Dicetak atau ga jadi sebuah buku atau masuk ke sarana lain seperti blog, website atau berita, itu nanti. Yang pasti, kamu berhak menulis apapun. 

Tulisan itu memiliki kekuatan besar bagi pembaca terutama. Ia bisa mengubah haluan hidup orang, mempengaruhi cara berpikir, membentuk perangai, dan sebagainya. Intinya, tulisan dapat membentuk seseorang. Saat kamu siap ‘go public’ dengan tulisanmu, yakinkan dirimu, tulisanmu harus membawa kebaikan bagi pembacamu. Jadilah penulis yang bertanggung jawab.   

Kapan mulai menulis? Sekarang juga jawabnya. Menulis apa? Apapun bisa kamu tulis. Apa yang kamu lihat di depanmu. Apa yang terdengar di telingamu. Apa yang tersentuh tanganmu. Apapun bisa kamu tulis. Mulailah dengan hal yang sederhana. Kembangkan perlahan, bebaskan imajinasimu. Maka pikiranmu akan mengalir apik. 

Satu hal yang paling utama yang wajib kamu lakukan agar tulisanmu semakin berisi dan berkembang. BACA, BACA, BACA. Semakin banyak baca semakin berwarna imajinasimu, semakin tajam analisamu. Selain baca, masuklah lingkungan yang bisa bikin kamu maju dalam menulis. Lingkungan yang pas, akan membuatmu makin semangat berlatih. 

Saya bilang, menulis itu mudah. Tapi saya juga bilang menulis yang berbobot itu tidak mudah tapi tidak mustahil. Banyak baca, berlatih serta berdiskusi akan memperlancar tulisanmu. Cari wahana pendukung. Pers kampus, wartawan freelance, blog, dapat kamu pilih jadi wadah curahan pikiranmu. 

Akhir kata mengutip pesan Sahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib ra, “IKATLAH ILMU DENGAN MENULIS” membuat kita termotivasi mengikat ilmu.

Semoga pembaca makin termotivasi menulis dan selalu mengembangkan diri. Yakinlah, banyak ilmu di luar sana yang menunggu untuk kita serap berapapun usia kita, di manapun kita, apapun kondisi kita.[]

*UMAYA KHUSNIAH, nama yang diberikan orang tua.  Saat ini masih aktif di dunia jurnalistik sebagai kuli ketik dan kuli wawancara di Majalah GATRA. Selain nguli, aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Beberapa kali hoki dapat beasiswa jurnalis untuk beberapa tema khusus dan beasiswa belajar bahasa Asing. Lumayan bisa bicara bahasa London, dan baru mulai lagi belajar bahasa China.

Indahnya Skenario Allah

Sabtu, 07 Oktober 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Diantara murid saya ada yang paling kecil usia 4,5 tahun. Usia yang masih sangat dini yang dalam kesehariannya harus didampingi karena belum bisa mandiri.

Suatu hari saya mendapatkan undangan untuk menghadiri tasyakuran ulang tahun bersama murid-murid saya. Saya bawa murid saya yang paling kecil menghadiri undangan karena di asrama tidak ada orang.

Setibanya di lokasi saya ditunjuk untuk mengisi acara. Sayapun melaksanakannya mulai dari iftitah sampai ikhtitam.

Setelah do'a selesai tiba saatnya ramah tamah dan menikmati hidangan yang disuguhkan sambil ngobrol santai dengan shahibul hajah.

Ketika obrolan sedang berlangsung di tengah menikmati suguhan dari sohibul hajah, murid saya yang usia 4,5 tahun bilang mau pipis.

"Ayah mau pipis" ucapnya. Saya sedikit mengabaikannya karena sedang dalam situasi ramah tamah.

"Ayah mau pipis" anak itu kembali mengulangi pertanda kalo ia kebelet. Akhirnya saya gendong menuju ke kamar kecil.

Alhasil, belum sampai ke kamar kecil anak tersebut pipis beneran ketika saya gendong dan basahlah semua pakaian yang saya pakai.

Sepintas, kejadian itu membuat saya agak merengut. Namun saya segera merubah aura tersebut dan mengembalikan pada hal yang positif karena setiap sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya.

Tak lama kemudian, tuan rumah keluar menghampiri saya dan membawa baju baru lengkap untuk anak itu.

Dari situ saya semakin yakin bahwa kejadian itu bukan kejadian yang semata mata terjadi begitu saja. Tapi ada skenario Allah dalam rangka memberikan suatu nikmat kepada hambaNya.

Simpulannya, jangan pernah menilai negatif terhadap segala sesuatu yang menimpa kita walaupun sekilas dimata manusia dipandang negatif. 

Berbaik sangka adalah sikap arif dan bijaksana. Karena dibalik setiap kejadian terdapat hikmah yang sudah Allah skenario untuk hambaNya. Wallahu A'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan, website www.subliyanto.id

MUCHLAS SAMANI : MENULIS ITU MENATA NALAR

Senin, 02 Oktober 2017 0 komentar

Sumber:http://muchlassamani.blogspot.co.id/2013/12/menulis-itu-menata-nalar.html?m=1

Beberapa hari yang lalu, sambil menyopir saya mendengarkan radio Suara Surabaya.  Waktu itu ada ungkapan “menulis itu dapat menjadi media pengungkapan pikiran  yang mungkin tidak mudah diungkapan melalui lesan”.    Saya setuju dengan ungkapan itu, karena saya juga sering melakukan.  Biasanya saya masukkan di blog. Hal-hal yang kita sungkan menyampaikan secara lesan dapat dengan nyaman kita tuangkan dalam tulisan.  Tentu tetap menunjung tinggi etika penulisan.

Saya juga ingin menambahkan pemikiran yang ditulis memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dibanding yang disampaikan secara lesan.  Mengapa?  Karena tulisan dapat dibaca banyak orang.  Di era cyber, sekali tulisan masuk ke dunia maya, pembacanya menjadi tak terbatas. Apalagi sekarang beberapa mesin pencari (searching engine), seperti Google menyediakan fasilitas terjemahan, sehingga naskah yang ditulis dalam bahasa Indonesia dapat dengan mudah diperoleh terjemahannya dalam bahasa Inggris atau bahasa lain.

Oleh karena itu saya mendukung gagasan untuk mengembangkan budaya literasi.  Harus jujur diakui bahwa membaca dan menulis belum menjadi kebiasaan keseharian orang Indonesia. Konon budaya kita adalah budaya tutur.  Pada saat naik kereta, menunggu kereta, dan menunggu antrean, biasanya kita ngobrol dengan sebelah.  Bahkan banyak orang yang memberi ceramah, tetapi tanpa menggunakan naskah.  Sudah saatnya budaya tutur dilengkapi dengan budaya baca dan tulis.  Dan pendidikan literasi merupakan wahana cocok untuk mengembangkannya.

Budaya tulis dan baca tampaknya juga memegang peran dalam penyebaran gagasan. Mengapa pemikiran orang Barat banyak mempengaruhi kita, salah satunya karena pemikiran mereka ditulis.  Sementara pemikiran kita banyak yang tersimpan menjadi cerita lesanyang ditularkan secara turun temurun. Sebagai contoh, taksonomi Bloom yang banyak dikutip oleh ahli pendidikan di Indonesia ditulis pada tahun 1956.  Konsep itu sama tepat dengan yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara pada Konggres Taman Siswa Pertama  pada tahun 1930.  Jadi 26 tahun lebih dahulu dibanding tulisan Bloom.   Jangan-jangan Bloom “meniru” Ki Hajar Dewantara.  Atau mungkin karena, pemikiran Ki Hajar tidak ditulis dan disebarluaskan, seakan-akan konsep Bloom lebih diketahui oleh pendidik di Indonesia.

Sekian tahun lalu saya mendapat tugas untuk membaca naskah beberapa teman dosen di Unesa.   Karena sifatnya rahasia, maka halaman yang berisi nama penulis dihilangkan.   Saya berkelakar, walaupun tanpa nama saya dapat mengenali tulisan siapa yang saya baca. Beberapa teman juga menyampaikan hal serupa.  Artinya, kita dapat mengenali tulisan seseorang yang sering kit abaca tulisannya. 

Saya ingat betul, ada senior di Unesa yang tulisannya sangat runtut.  Kalimatnya pendek-pendek dan sangat cermat menggunakan titik-koma.  Ada senior lain yang kalau membuat naskah, kalimatnya panjang-panjang.  Kadang-kadang satu kalimat terdiri dari 10 baris ketikan. Ada teman yang tulisannya sangat mudah dimengerti.  Ada juga teman yang tulisannya sangat sulit difahami.  Tampaknya setiap orang memiliki pola tulisan yang khas.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tulisan menggambarkan pola pikir penulisnya.   Pengalaman saya membimbing mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis dan disertasi mendukung pendapat tersebut.  Biasanya mahasiswa yang nalarnya tertata, tulisannya juga runtut.  Sementara mahasiswa yang masih rancu nalarnya, tulisannya juga sudah difahami. Mahasiswa jenis kedua ini memerlukan waktu untuk menata nalar dan latihan menulis yang runtut tampaknya membantu yang bersangkutan menata nalar berpikirnya.


Itulah alasan kedua saya mendukung ide pendidikan literasi.  Dengan belajar menulis diharapkan kita dapat mengasah nalar agar menjadi lebih runtut dan logis.  Dengan belajar menulis kita menghidupkan budaya baca-tulis. Dengan belajar menukis kita dapat menuangkan gagasan yang dapat dibaca banyak orang.  Semoga.

RENDAHNYA MINAT BACA MAHASISWA

Minggu, 01 Oktober 2017 0 komentar


Oleh Iffatus Sholehah*

Gaya hidup mahasiswa saat ini yang mengharap kebebasan malah kebablasan. Kontras dengan hidup mahasiswa tempo dulu. 

Mahasiswa tempo dulu yang sangat tinggi minatnya dalam membaca, membuat mereka tahu akan banyak hal. Bahkan pada saat itu menjadi hobi bagi kebanyakan dari mereka. Hasil bacaan selain menambah pengetahuan, akan menginspirasi pembaca untuk berpikir tentang substansi yang dibaca. 

Berpikir terhadap teks dan kontekstual dari bahan bacaan terhadap fenomena kekinian menjadi bagian berpikir problematik, sistematis dan solutif. Kegiatan berpikir menjadi bagian olah intelegensi dengan sikap kritis atas informasi dan penerapan informasi pada kenyataan.

Pada level pendidikan perguruan tinggi misalnya, seharusnya proses belajar-mengajar lebih menitik-beratkan pada budaya membaca daripada mendengar. Membaca adalah salah satu kegiatan manusia yang paling awal, sehingga ia dapat mengembangkan fungsi-fungsi jasmani maupun ruhaninya agar berfungsi sosial sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.

Kalau kita belajar ke masyarakat Yunani, kota lahirnya para filosof, pada masa Socrates para siswa diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Di antara sekian banyak aspek yang mendorong keberhasilan pendidikan pada masa itu adalah faktor budaya baca. 

Tidak heran kalau waktu itu, masyarakat Socrates adalah masyarakat yang memiliki kepekaan sangat tinggi dan budaya kritis, bahkan sampai melahirkan seorang ilmuan maupun seorang filosof-filosof yang sangat berpengaruh pada perkembangan peradaban pada masa itu.

Melihat realitas yang terjadi saat ini, minat baca mahasiswa mulai menurun dan bisa dikatakan rendah. Hal ini dapat dibuktikan dalam beberapa perpustakaan universitas yang ramai hanya karena ia mendapatkan tugas kuliah. Apabila tugas-tugas sudah selesai, maka perpustakaan akan sepi kembali. Entah hal itu disebabkan karena faktor bawaan atau sesuatu yang membuat mereka malas membaca. 

Timbulnya minat baca pada diri seseorang itu disebabkan oleh adanya rasa ketertarikan, berkepentingan dan perhatian pada suatu obyek.  Obyek itu bisa berupa alam sekitar, yang berupa lingkungan sosial maupun lingkungan material.

Saya baru sadar ketika bersua dengan ungkapan Finley Fater Dunoe yang mengatakan bahwa; “kita bisa mengantar orang memasuki universitas, tapi belum tentu bisa membuatnya berpikir”. ‘jalan berfikir’ bagi masa depan manusia. Dengan ditandainya era informasi dan pengetahuan, masyarakat masa depan berarti akan menuntut semua institusi pendidikan termasuk media cetak maupun elektonik, dapat memerankan dirinya sebagai sarana komunikasi yang efektif terhadap peningkatan budaya membaca bagi masyarakat.

Keengganan mahasiswa untuk membaca dan menulis bukan tanpa sebab atau latar belakang. Faktor intrinsik yang dikemukakan menjadi bagian pembentuk sikap enggan. Mahasiswa tidak termotivasi untuk membaca dan menulis karena memang tidak ada keinginan untuk menambah pengetahuan dan membuka wawasan. 

Ketiadaan keinginan kemungkinan terjadi karena beberapa hal yaitu (1) berkaitan dengan motivasi kuliah; (2) tidak menganggap penting mempunyai pengetahuan atau melengkapi pengetahuan diluar buku teks, handout atau informasi yang disampaikan di dalam kelas; (3) tiada daya kritis untuk men-chalenge informasi yang diterima di ruang kelas.

Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi dituntut supaya memberikan “rangsangan” kepada peserta didik agar mereka mampu meningkatkan budaya membaca. Sebagai sebuah media pembelajaran, lembaga pendidikan seharusnya mendorong peserta didik agar termotivasi untuk membaca. 

Membaca bukan dalam arti sempit, namun membaca dalam arti seluas-luasnya. Sebagaimana salah satu pesan dalam al-Qur’an, bahwa ungkapan iqra’ pada wahyu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. 

Hal itu memerintahkan kepada umat manusia supaya sering membaca. Sekali lagi, proses membaca adalah bagian inheren yang tak terpisahkan dari dialektika kehidupan manusia di mana pun kita berada.

Untuk mengakhiri tulisan ini, sekali lagi penulis berharap supaya lembaga pendidikan dan media komunikasi memberikan rangsangan kepada khalayak ramai khususnya mahasiswa agar menyadari akan pentingnya budaya membaca. Membaca dapat menggerakkan pikiran, mengetahui apa yang tidak diketahui, menambah wawasan dan mendorong diri manusia untuk bersifat kritis dan dinamis.

*Alumni Pascasarjana Prodi Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta*

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum