RENDAHNYA MINAT BACA MAHASISWA

Minggu, 01 Oktober 2017


Oleh Iffatus Sholehah*

Gaya hidup mahasiswa saat ini yang mengharap kebebasan malah kebablasan. Kontras dengan hidup mahasiswa tempo dulu. 

Mahasiswa tempo dulu yang sangat tinggi minatnya dalam membaca, membuat mereka tahu akan banyak hal. Bahkan pada saat itu menjadi hobi bagi kebanyakan dari mereka. Hasil bacaan selain menambah pengetahuan, akan menginspirasi pembaca untuk berpikir tentang substansi yang dibaca. 

Berpikir terhadap teks dan kontekstual dari bahan bacaan terhadap fenomena kekinian menjadi bagian berpikir problematik, sistematis dan solutif. Kegiatan berpikir menjadi bagian olah intelegensi dengan sikap kritis atas informasi dan penerapan informasi pada kenyataan.

Pada level pendidikan perguruan tinggi misalnya, seharusnya proses belajar-mengajar lebih menitik-beratkan pada budaya membaca daripada mendengar. Membaca adalah salah satu kegiatan manusia yang paling awal, sehingga ia dapat mengembangkan fungsi-fungsi jasmani maupun ruhaninya agar berfungsi sosial sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.

Kalau kita belajar ke masyarakat Yunani, kota lahirnya para filosof, pada masa Socrates para siswa diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Di antara sekian banyak aspek yang mendorong keberhasilan pendidikan pada masa itu adalah faktor budaya baca. 

Tidak heran kalau waktu itu, masyarakat Socrates adalah masyarakat yang memiliki kepekaan sangat tinggi dan budaya kritis, bahkan sampai melahirkan seorang ilmuan maupun seorang filosof-filosof yang sangat berpengaruh pada perkembangan peradaban pada masa itu.

Melihat realitas yang terjadi saat ini, minat baca mahasiswa mulai menurun dan bisa dikatakan rendah. Hal ini dapat dibuktikan dalam beberapa perpustakaan universitas yang ramai hanya karena ia mendapatkan tugas kuliah. Apabila tugas-tugas sudah selesai, maka perpustakaan akan sepi kembali. Entah hal itu disebabkan karena faktor bawaan atau sesuatu yang membuat mereka malas membaca. 

Timbulnya minat baca pada diri seseorang itu disebabkan oleh adanya rasa ketertarikan, berkepentingan dan perhatian pada suatu obyek.  Obyek itu bisa berupa alam sekitar, yang berupa lingkungan sosial maupun lingkungan material.

Saya baru sadar ketika bersua dengan ungkapan Finley Fater Dunoe yang mengatakan bahwa; “kita bisa mengantar orang memasuki universitas, tapi belum tentu bisa membuatnya berpikir”. ‘jalan berfikir’ bagi masa depan manusia. Dengan ditandainya era informasi dan pengetahuan, masyarakat masa depan berarti akan menuntut semua institusi pendidikan termasuk media cetak maupun elektonik, dapat memerankan dirinya sebagai sarana komunikasi yang efektif terhadap peningkatan budaya membaca bagi masyarakat.

Keengganan mahasiswa untuk membaca dan menulis bukan tanpa sebab atau latar belakang. Faktor intrinsik yang dikemukakan menjadi bagian pembentuk sikap enggan. Mahasiswa tidak termotivasi untuk membaca dan menulis karena memang tidak ada keinginan untuk menambah pengetahuan dan membuka wawasan. 

Ketiadaan keinginan kemungkinan terjadi karena beberapa hal yaitu (1) berkaitan dengan motivasi kuliah; (2) tidak menganggap penting mempunyai pengetahuan atau melengkapi pengetahuan diluar buku teks, handout atau informasi yang disampaikan di dalam kelas; (3) tiada daya kritis untuk men-chalenge informasi yang diterima di ruang kelas.

Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi dituntut supaya memberikan “rangsangan” kepada peserta didik agar mereka mampu meningkatkan budaya membaca. Sebagai sebuah media pembelajaran, lembaga pendidikan seharusnya mendorong peserta didik agar termotivasi untuk membaca. 

Membaca bukan dalam arti sempit, namun membaca dalam arti seluas-luasnya. Sebagaimana salah satu pesan dalam al-Qur’an, bahwa ungkapan iqra’ pada wahyu pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. 

Hal itu memerintahkan kepada umat manusia supaya sering membaca. Sekali lagi, proses membaca adalah bagian inheren yang tak terpisahkan dari dialektika kehidupan manusia di mana pun kita berada.

Untuk mengakhiri tulisan ini, sekali lagi penulis berharap supaya lembaga pendidikan dan media komunikasi memberikan rangsangan kepada khalayak ramai khususnya mahasiswa agar menyadari akan pentingnya budaya membaca. Membaca dapat menggerakkan pikiran, mengetahui apa yang tidak diketahui, menambah wawasan dan mendorong diri manusia untuk bersifat kritis dan dinamis.

*Alumni Pascasarjana Prodi Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta*

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2018 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum