Lindungi Saudaramu, Ariflah Bermedia

Rabu, 22 November 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

"Arif bermedia". Kalimat ini saya temukan di tulisan sahabat saya, dan membuat saya ingin menulis sebagai nasehat untuk pribadi saya dan untuk pembaca. Kalimat yang menarik dan cukup menjadi renungan jika dikaitkan dengan konsep bersaudara. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa media menjadi corong informasi bangsa, dimana dengan media semua masyarakat bisa mengetahui fenomena negeri, mulai dari pelosok desa hingga istana negara.

Dengan media, baik cetak maupun elektronik sejarah bangsa ini akan terdokumentasikan dan menjadi referensi sebagai rujukan bagi generasi bangsa.

Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah realita, dan masa depan adalah cita-cita. 

Maka jangan pernah lupakan sejarah. Karena sejarah akan kembali diputar pada masanya ketika generasi bangsa ini menyusun sebuah rencana untuk masa depannya. Dan salah satunya bisa mereka dapatkan melalui media.

Media bak pisau bermata dua, bergantung pada yang memainkannya. Jika media dimainkan dengan baik, maka kebaikan yang didapatkannya. Begitu juga sebaliknya. Mungkin ini salah satu bagian dari tugas kita "arif bermedia".

Maraknya pemberitaan di media tentang isi negeri ini terkadang membuat manusia lupa bahwa ada hak saudara kita di tangan kita. Sehingga manusia terjebak dan larut didalamnya.

Maka menjadi hal yang wajar jika perkumpulan ulama di jawa tengah dalam bahtsul masail mengharamkan monopoli frekuensi publik, sebagaimana diberitakan nujateng.com (21/11/2017). 


Kalau dikaitkan dengan konsep persaudaraan media bisa menjadi pemersatu bangsa, dan bisa juga sebaliknya. Karena dengan media manusia bisa membaca dan mendengar, mengikuti informasi perkembangan publik terkini.

Maka bergantung pada kecerdasan dari pengguna media itu sendiri dalam mensikapinya. Tentu tingkat intelektual setiap manusia juga menjadi penentu dalam "arif bermedia".  

Dalam islam, sebagai seorang muslim kita mempunyai kewajiban untuk melindungi saudara kita. Melindungi dalam hal ini bukan melindungi dalam bab hukum, hukum tetaplah hukum yang harus ditaati sesuai undang-undang yang sudah ditetapkan. Namun melindungi yang dimaksud adalah melindungi harkat dan martabatnya yang salah satunya dengan menyembunyikan aibnya.

Maka dalam bermedia kita harus arif dan bijaksana. Jangan sampai menjadikannya sebagai sumber perpecahan yang dapat merusak tali persaudaraan yang bermula dari untaian kebencian dan yang lainnya.

Bukankah Rasulullah shallahu alaihi wassallam sudah menjelaskan bahwa : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Saat ini media sudah di genggaman kita. Tinggal sejauh mana kita bisa mengendalikannya. Semuanya kembali kepada kita. Obor apa yang ingin kita nyalakan melalui media ? Tentu obor kebaikan yang harus kita nyalakan guna menjadi penerang kegelapan. Wallahu A'lam.[] 
*Penulis aktivis sosial, twitter @Subliyanto, website www.subliyanto.id

Menentukan Titik Koordinat

Sabtu, 18 November 2017 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Jum'at malam (17/11/2017) saya sempat berdiskusi via WhatsApp dengan sahabat senior yang sekaligus sebagai guru saya, Imam Nawawi. Diskusi tentang gerakan pemuda muslim dan perannya sebagai generasi penerus perjuangan islam.

Dalam diskusinya sahabat saya menyebut tentang titik koordinat . Sebuah istilah untuk mengetahui posisi suatu benda. Tentu istilah tersebut menarik dan tidak asing dalam ilmu matematika.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) titik koordinat adalah bilangan yang dipakai untuk menunjukkan lokasi suatu titik dalam garis, permukaan, atau ruang. Dan untuk mengetahui titik koordinat diperlukan dua garis berarah yang tegak lurus satu sama lain (sumbu x dan sumbu y), dan panjang unit, yang dibuat tanda-tanda pada kedua sumbu tersebut.

Berbincang titik koordinat hakikatnya membahas tentang posisi. Dan kaitannya dengan pemuda hal ini termasuk hal yang penting dalam perannya sebagai generasi pejuang dalam melakukan perjuangan.

Mudah dan simpel menentukannya, dimana posisi anda ? Dan untuk siapa anda berjuang dan berkarya ? Pertanyaan tersebut penting untuk ditentukan sebagai acuan dalam bergerak dan melebarkan sayap perjuangan. 

Tentu sebagai generasi muslim hal yang diperjuangkan adalah islam. Karena islam luas maka harus diperjuangkan dan disebar luaskan agar islam sebagai rahmatan lil'alamin dapat dirasakan oleh semua kalangan.

Adapun medan dan medianya sangat beragam sesuai dengan kapasitas keilmuan yang digenggam. Karena kita khususnya generasi penerus perjuangan harus berbagi peran agar pembenahan pada aspek-aspek lini kehidupan terselesaikan secara bersamaan.

Sudah saatnya generasi mengembangkan pola perjuangan agar bisa diterima di semua kalangan. Hal itu dapat dilakukan dengan sikap netralitas dalam kehidupan sosial tanpa melepas baju yang bersifat fundamental.

Karena disadari atau tidak, perpecahan umat islam saat ini karena faktor internal lebih dominan. Sehingga faktor eksternal mudah menyusup menangkap peluang seolah-olah dia sebagai kawan, padahal hakikatnya adalah lawan.

Kita boleh mengibarkan bendera sebagai simbol miniatur perjuangan. Tapi jangan sampai bendera yang kita kibarkan menjadi sumber perpecahan. Karena visi utama kita adalah bagaimana bendera islam berkibar.

Sebagai penutup tulisan ini saya kutip sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Wallahu A'lam []

*Penulis aktivis sosial dan pendidikan, website www.subliyanto.id

Gadget bagi Anak, Puji Hariyanti : Orang Tua Harus Membatasi

Sabtu, 11 November 2017 0 komentar


"Kalau dilarang sama sekali gadget kepada anak-anak maka itu hal yang mustahil, karena anak-anak kita sekarang hidup di jaman yang serba digital. Lalu yang bisa dilakukan oleh orangtua apa? Yaitu membatasi." 

Demikian disampaikan Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) pada kegiatan Seminar Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak. (Sabtu, 11 November 2017).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta diikuti oleh ratusan peserta dari wali murid sekolah tersebut.


Dalam paparannya, Puji Harianti menyampaikan bahwa harus ada dialog antara orang tua dan anak dalam penggunaan Gadget.


"Harus ada dialog antara orangtua dengan anak. Kapan waktu mereka boleh memegang gadget dan kapan mereka tidak boleh memegangnya. Misalnya sehari dibatasi 30 menit, maka selebihnya orangtua harus istikomah tidak memberikan gadget setelah anak memakai waktu 30 menit itu."  Jelas Puji.


Selain itu, Puji juga menyampaikan beberapa bahaya gadget yang harus diwaspadai oleh orang tua, di antaranya susah tidur, gangguan kesehatan mata, konsentrasi pendek atau pelupa, kurang sosialisasi, kecanduan, terkena radiasi sehingga kekebalan tubuh berkurang, pornografi, menurunnya prestasi belajar, perkembangan fisik, sosial, otak

"Jika hal-hal di atas sudah dirasa membahayakan bagi anak-anak, maka kewajiban bagi orangtua adalah memutus ketergantungan gadget ini." Himbau Puji kepada para orang tua.

Editor : Subliyanto

Membaca Pesan Edukasi Deddy Mizwar

Jumat, 10 November 2017 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Adalah Deddy Mizwar, Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2013-2018 yang dengan kicauannya di akun twitternya seakan memberi motivasi tersendiri, khususnya bagi para generasi penduduk negeri.

Pada 9 November 2017, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas selesainya pendidikan S2 yang ia tempuh. Ungkapan tersebut ia sampaikan di akun twitternya dengan nama @Deddy_Mizwar_.

"Alhamdulillah, kemarin saya diwisuda S2 Magister Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung. Terima kasih kpd semua pihak yang sudah mensupport saya sehingga dapat selesainya studi S2 saya ini." Tulis Wagub Jabar tersebut di twitternya.

Tentu hal itu bukan sebatas untaian kalimat saja. Akan tetapi di dalamnya tersirat makna yang memberi pesan edukasi kepada para generasi bangsa ini bahwa betapa pentingnya pendidikan. 

Ilmu merupakan modal utama dalam hidup dan kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu sebagaimana telah Rasulullah sabdakan :

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka jangan pernah berhenti untuk belajar.Karena belajar merupakan kewajiban setiap manusia sejak ia lahir sampai nafasnya berakhir.

*Penulis adalah pelajar, tinggal di www.subliyanto.id. twitter @Subliyanto 



KH. Dr. Tengku Zulkarnain, MA Tiba di Gresik

0 komentar


Besok, Sabtu 11 November 2017 akan digelar pengajian umum di Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik Jawa Timur.

Pengajian yang rencananya akan dimulai pukul 07:30-11:00 tersebut akan dihadiri oleh KH. Dr. Tengku Zulkarnain, MA (Wasekjen MUI Pusat Jakarta) sebagai penceramah dengan tema "Mulia Bersama alQur'an Hingga Husnul Khatimah".

Berdasarkan informasi yang dihimpun www.subliyanto.id malam ini KH. Tengku Zulkarnain sudah tiba di Gresik dan sedang makan malam.

"Alhamdulillah KH. Tengku Zulkarnain sudah datang di Gresik, dan sekarang makan malam". Kata akun WhatsApp bernama Abdul Karim di sebuah group WhatsApp dengan melampirkan foto KH. Tengku Zulkarnain yang dikirim pada pukul 21:00.


Gelar Pahlawan dan Kiprahnya di Medan Juang

0 komentar

Oleh : Subliyanto*

10 November merupakan momen sejarah dimana ditetapkan pada tanggal itu sebagai hari Pahlawan Nasional. Menyambut hari itu, kemarin 09/11/2017, presiden Republik Indonesia menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada 4 tokoh yang dianggap layak mendapatkan gelar tersebut.

Dikutip dari laman kumparan.com, menyambut Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November besok, Presiden Joko Widodo hari ini, Kamis (9/11), menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat orang tokoh yang diwakili oleh para ahli waris. Acara tersebut dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta. 

Adapun keempat tokoh tersebut yaitu TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB); Laksamana Malahayati, tokoh dari Provinsi Aceh; Sultan Mahmud Riayat Syah, tokoh dari Provinsi Kepulauan Riau; dan Alm Prof Drs H Lafran Pane, tokoh dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Membahas tentang pahlawan tentu tidak lepas dari perjuangan dan kiprahnya di medan juang, sehingga prestasinya mendapatkan apresiasi yang layak di sandang, karena pahlawan adalah pejuang.

Rindu Pejuang

Saat ini di Indonesia, rakyat sedang merindukan sosok pejuang yang betul-betul berjuang untuk kepentingan rakyat. Rakyat rindu pada sosok pejuang yang rasa perjuangannya seperti para pejuang kemerdekaan, yang membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Akhir-akhir ini Indonesia semakin memprihatinkan. Merosotnya kepercayaan rakyat terhadap para pemimpin semakin tinggi. Hal itu disebabkan karena peran pemimpin yang tidak mencerminkan dirinya sebagai pejuang sejati.

Banyaknya pemimpin yang memakai rompi dalam jeruji besi menunjukkan bahwa perjuangan mereka tidak murni.

Maka hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian bagi para pemimpin di negeri ini. Setidaknya bisa introspeksi diri untuk kembali pada visi dan misi.

Kelayakan atau barometer pejuang yang mendapatkan gelar Pahlawan manakala perjuangannya dapat mengantarkan Indonesia menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

Jika yang terjadi justru sebaliknya, pantaskah gelar Pahlawan disematkan kepada para pemimpin negeri ini ?

*Penulis rakyat biasa, tinggal di www.subliyanto.id

Menjadikan Ridho Alloh Sebagai Orientasi Hidup

Selasa, 07 November 2017 0 komentar

Oleh : Damanhuri, MPd*
 
Salah satu kepribadian seorang muslim terhadap Tuhannya adalah menjadikan Ridho Alloh SWT sebagai orientasi hidupnya dan cita-citanya. Seorang Muslim yang benar senantiasa mencari ridho Alloh dalam setiap amalannya. Keinginannya hanya agar Alloh senang, bahkan dalam setiap langkahnya dan pekerjaannya ingin Allah senang, bukan agar manusia senang. Walaupun, kadang-kadang dalam mencari Ridho Allah itu dia dibenci oleh manusia. 

Rasulullah SAW dalam riwayat Tirmidzi, menyampaikan, "Barang siapa mencari Ridho Alloh dengan sesuatu yang dibenci manusia, maka Allah akan mencukupkan (menjaga) baginya dari gangguan manusia. Barang siapa mencari keridhoan manusia dengan sesuatu yang mendatangkan bencinya Allah, maka Allah akan serahkan dia pada manusia".

Seorang Muslim menimbang semua perbuatannya dengan timbangan ridho Allah. Apa saja yang memberatkan timbangan itu, dia terima dan dia rela mengerjakannya, dan apa saja yang meringankan timbangan itu dia tolak dan dia jauhkan amalan itu. Sehingga, standar penilaian seorang Muslim menjadi lurus dan jalan yang menuju ridho Allah menjadi jelas terlihat di depan pandangannya.

Karena itu, seorang Muslim Tidak berada dalam situasi yang bertentangan dan menggelikan. Seolah-olah engkau lihat dia taati Allah dalam satu perkara dan dia durhaka (tidak taat) dalam perkara yang lain, atau dia halalkan satu hal pada satu masa dan mengharamkannya pada masa yang lain. Pada pribadi Muslim, tidak ada tempat untuk saling bertentangan selama titik tolaknya benar dan metodenya jelas dan standar penilaiannya tetap.

Sungguh, orang-orang yang engkau lihat mereka di masjid sholat dengan khusyu' kemudian engkau lihat mereka di pasar bermuamalah dengan riba. Dan engkau lihat mereka di rumah, di jalan, di sekolah, mereka tidak menegakkan syariat atau aturan Allah terhadap diri mereka dan terhadap anak-anak dan istri mereka, karena mereka kurang dan lemah dalam pemahaman dan gambaran mereka terhadap hakikat ini agama yang mengantarkan seorang Muslim dalam setiap perbuatannya pada keridhoan Allah SWT. Dari sini, maka muncullah setengah muslim, bahkan bagi mereka Islam hanya sebuah nama saja sedangkan kepribadian mereka ganda. Dan kepribadian ganda termasuk yang paling Berbahaya untuk umat Islam pada zaman sekarang ini. 

Cukupkan pada diri, firman Alloh SWT dalam QS. al Baqarah ayat 208 sebagai pesan untuk selalu diingat, “ Wahai orang yang beriman masuklah Islam secara kaffah (menyeluruh), janganlah mengikuti langkah syetan karena sungguh syetan adalah musuh yang nyata bagi kalian”. Wallohu A’lamu bish showab.[]

*Dosen STAIL Surabaya, tinggal di kampus II Panceng Gresik

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum