Menentukan Titik Koordinat

Sabtu, 18 November 2017

Oleh : Subliyanto*

Jum'at malam (17/11/2017) saya sempat berdiskusi via WhatsApp dengan sahabat senior yang sekaligus sebagai guru saya, Imam Nawawi. Diskusi tentang gerakan pemuda muslim dan perannya sebagai generasi penerus perjuangan islam.

Dalam diskusinya sahabat saya menyebut tentang titik koordinat . Sebuah istilah untuk mengetahui posisi suatu benda. Tentu istilah tersebut menarik dan tidak asing dalam ilmu matematika.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) titik koordinat adalah bilangan yang dipakai untuk menunjukkan lokasi suatu titik dalam garis, permukaan, atau ruang. Dan untuk mengetahui titik koordinat diperlukan dua garis berarah yang tegak lurus satu sama lain (sumbu x dan sumbu y), dan panjang unit, yang dibuat tanda-tanda pada kedua sumbu tersebut.

Berbincang titik koordinat hakikatnya membahas tentang posisi. Dan kaitannya dengan pemuda hal ini termasuk hal yang penting dalam perannya sebagai generasi pejuang dalam melakukan perjuangan.

Mudah dan simpel menentukannya, dimana posisi anda ? Dan untuk siapa anda berjuang dan berkarya ? Pertanyaan tersebut penting untuk ditentukan sebagai acuan dalam bergerak dan melebarkan sayap perjuangan. 

Tentu sebagai generasi muslim hal yang diperjuangkan adalah islam. Karena islam luas maka harus diperjuangkan dan disebar luaskan agar islam sebagai rahmatan lil'alamin dapat dirasakan oleh semua kalangan.

Adapun medan dan medianya sangat beragam sesuai dengan kapasitas keilmuan yang digenggam. Karena kita khususnya generasi penerus perjuangan harus berbagi peran agar pembenahan pada aspek-aspek lini kehidupan terselesaikan secara bersamaan.

Sudah saatnya generasi mengembangkan pola perjuangan agar bisa diterima di semua kalangan. Hal itu dapat dilakukan dengan sikap netralitas dalam kehidupan sosial tanpa melepas baju yang bersifat fundamental.

Karena disadari atau tidak, perpecahan umat islam saat ini karena faktor internal lebih dominan. Sehingga faktor eksternal mudah menyusup menangkap peluang seolah-olah dia sebagai kawan, padahal hakikatnya adalah lawan.

Kita boleh mengibarkan bendera sebagai simbol miniatur perjuangan. Tapi jangan sampai bendera yang kita kibarkan menjadi sumber perpecahan. Karena visi utama kita adalah bagaimana bendera islam berkibar.

Sebagai penutup tulisan ini saya kutip sabda Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam : 

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat”
(HR. Bukhari no. 2442, Muslim no. 2580, Ahmad no. 5646, Abu Dawud no. 4893, at-Tirmidzi no. 1426 ; dari Abdullah bin ‘Umar radliyallahu ‘anhuma.)
Wallahu A'lam []

*Penulis aktivis sosial dan pendidikan, website www.subliyanto.id

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum