Tahun Baru dan Masa Depan Baru

Senin, 31 Desember 2018 0 komentar


Oleh : Subliyanto*
Senin, 31 Desember 2018 merupakan hari, tanggal dan bulan serta tahun penutup untuk tahun 2018 dalam catatan kalender Masehi. Kalender yang notabeni dipakai sebagai patokan catatan dan jadwal kegiatan baik oleh perorangan maupun instansi.

Berlepas diri dari pembahasan yang bersifat kontroversial bagi sebagian kalangan, penulis hanya ingin fokus pembahasan tulisan ini pada motivasi menuju masa depan yang lebih bermakna dari berbagai sisi.

"Masa lalu adalah sejarah, masa kini adalah realita, dan masa depan adalah cita-cita"

Ungkapan di atas cukup kiranya menjadi renungan bagi kita untuk terus bergerak dan berkarya menuju kehidupan yang lebih baik dalam segala aspek yang menyertainya.

Diakui atau tidak, kalender Masehi digunakan oleh setiap kita yang keberadaannya sebagai warga negara yang sah berdasarkan catatan sipil. Setidaknya sebagai patokan usia dan status kita di negeri ini.

Membahas usia tentu semua manusia akan berproses untuk menjadi manusia yang semakin dewasa dalam berpikir, berbicara, dan bergerak guna menghasilkan hal yang bersifat positif baik untuk dirinya maupun untuk orang lain di sekitarnya.

Maka tentu semua itu perlu kita upayakan agar kita tergolong orang yang sukses, baik di dunia dan terlebih di akhirat kelak. Dan kunci dari semuanya adalah ilmu. Maka benarlah petuah Rasulullah SAW. akan urgensi ilmu dalam kehidupan kita. Karena dengan ilmu seluruh gerak kehidupan kita akan terarah. Tentu ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang benar.

Terlebih pada 2019 di Indonesia merupakan pesta rakyat, pesta demokrasi guna menentukan sosok pemimpin dan para wakilnya baik di pusat maupun di daerah-daerah. Maka sudah tentu momen ini tidak ada lain yang bisa dilakukan kecuali dengan prinsip berfastabiqul khairat dalam menjalankan demokrasi agar situasi dan kondisi tetap terkendali.

Karena jika tidak maka mustahil persatuan dan kesatuan kita yang kita dengungkan dan kita bangga-bangakan dalam pancasila yang juga menjadi tujuan bersama akan terwujud.

Bagi pribadi yang berilmu tentu ia akan mengedepankan etika dan moral dalam segala hal. Karena itulah esensi dari hakikat makhluk sosial. Maka momen di ujung 2018 dan awal 2019 ini sudah selayaknya untuk muhasabah periodik dengan merenungi catatan-catatan klasik guna menuju masa  depan yang lebih cantik dalam segala tatanan kehidupan yang bersifat imajinatif.

Adalah sebuah kerugian yang nyata jika segudang kebaikan yang kita lakukan selama ini lenyap begitu saja hanya karena disebabkan oleh tenggelamnya kita pada hal yang bersifat sementara hingga membuat kita lepas dari nilai-nilai etika dan estetika.

Cukup indah analogi yang disampaikan oleh Rasulullah kepada ummatnya tentang urgensi kehidupan bersaudara dan kehidupan bersama antar sesama. Dan semua itu sudah banyak bertaburan catatan fatwanya dalam hadits-haditsnya. Sebut saja salah satunya misalnya tentang persaudaraan sesama muslim yang dijelaskan bahwa sesama muslim ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.

Dalam kehidupan bersama antar sesamapun juga sudah sangat jelas prinsip-prinsip toleransinya sehingga kita sebagai ummatnya bisa membedakan dan bersikap pada hal-hal yang bersifat "asas" dan hal-hal yang bersifat "furuk". Semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah cermin dari konsep islam sebagai "Rahmatan lil 'alamin".

Semoga catatan kecil ini bermanfaat khususnya kepada pribadi penulis dan kepada khalayak umum pada skala yang lebih luas. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. www.subliyanto.id

DEBAT POLIGAMI MENJELANG KEMERDEKAAN RI

Kamis, 20 Desember 2018 0 komentar


Oleh: Dr. Adian Husaini

Pada tahun 1937, seorang cendekiawan Muslim Indonesia bernama Mr. Yusuf Wibisono, menulis sebuah buku berjudul "Monogami atau Poligami: Masalah Sepanjang Masa". Aslinya, buku ini ditulis dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Soemantri Mertodipuro pada tahun 1954. Karena tidak memiliki biaya, baru pada tahun 1980, buku Mr. Yusuf Wibisono ini diterbitkan.

Yusuf Wibisono sendiri tidak berpoligami. Ia adalah seorang tokoh Masyumi, tokoh ekonomi, keuangan dan perbankan. Dia pernah menjadi menteri keuangan pada 1951-1952 dan direktur sejumlah bank di Jakarta dan Yogya. Sebagai tokoh pers, dia adalah pemimpin redaksi Mimbar Indonesia. Jabatan penting lain yang pernah dipegangnya adalah rektor Universitas Muhammadiyah dan Universitas Tjokroaminoto. Tapi, hidupnya sangat bersahaja. Hingga istrinya meninggal, dia tidak memiliki rumah pribadi.

Meskipun buku ini ditulis Yusuf Wibisono saat menjadi mahasiswa di zaman penjajahan, buku ini tampak memiliki kualitas ilmiah yang tinggi, dan memberikan penjelasan yang komprehensif tentang masalah poligami, bukan hanya dari sudut pandang hukum Islam, tetapi juga memuat pandangan banyak ilmuwan Barat tentang poligami. Yusuf juga memberikan kritik-kritik terhadap sebagian ilmuwan dari kalangan Muslim, seperti Ameer Ali, yang menolak hukum poligami. Selain buku-buku berbahasa Belanda, Yusuf juga merujuk buku-buku berbahasa Inggris, Perancis, dan Jerman.

Beberapa tahun sebelumnya, pada 1932, seorang wanita bernama Soewarni Pringgodigdo, menulis satu artikel tentang poligami di Koran 'Suluh Indonesia Muda' yang memberikan kritikan keras terhadap poligami. Menurut Soewarni, poligami adalah hal yang nista bagi wanita, dan bahwasanya Indonesia merdeka tak akan bisa sempurna, selama rakyatnya masih menyukai lembaga poligami.

Mr. Yusuf Wibisono memberikan bukti-bukti ilmiah tentang keunggulan pandangan Islam yang membuka pintu poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sistem ini merupakan 'jalan tengah' dari sistem perkawinan kuno yang tidak memberi batasan poligami atau sistem Barat yang menutup pintu poligami sama sekali. Dalam pengantarnya untuk edisi Indonesia, tahun 1980, Yusuf Wibisono menulis bahwa, "Saya rasa umat manusia akhirnya akan dihadapkan kepada dua pilihan yang tidak bisa dihindari yakni poligami legal atau poligami tidak legal (gelap). Islam memilih poligami legal, dengan pembatasan-pembatasan yang mencegah penyalahgunaan kekuasaan kaum pria, sehingga lembaga poligami ini betul-betul merupakan kebahagiaan bagi masyarakat manusia, di mana dia sungguh-sungguh diperlukan."

Salah seorang ilmuwan yang dikutip pendapatnya tentang poligami oleh Yusuf Wibisono adalah Georges Anquetil, pakar sosiologi Perancis, yang menulis buku setebal 460 halaman, berjudul "La maitresse legimitime".

Anquetil menulis dalam bukunya : "Suatu pertimbangan yang sudah cukup terlukis harus diingat-ingat dan diperkembangkan, yakni, mengapa semua orang-orang besar adalah penyokong poligami, seperti yang dinyatakan secara kritis oleh seorang pengarang dari buku Inggris : "History and philosophy of marriege." Bahkan, mereka yang hidup di bawah kekuasaan kemunafikan monogami, tidak mau tunduk kepadanya, tak pula mau taat kepada undang-undang yang bersifat melawan kodrat; baik mereka itu filsuf, seperti Plato, Aristoteles, Bacon, Auguste Comte, atau perajurit seperti Alexander, Cesar, Napoleon, atau Nelson, atau penyair-penyair seperti Goethe, Burns, Byron, Hugo, Verlaine, Chateaubriand atau Catulie Mendes, maupun negarawan-negarawan seperti Pericles, Augustus, Buckingham, Mirabeau atau Gambetta. Apakah hasil daripada sistem yang munafik ini bagi orang-orang besar ini ? Mereka dipaksa untuk selama-lamanya menyembunyikan perasaan-perasaannya, selalu berdusta, baik terhadap istrinya sendiri maupun terhadap dunia yang mewajibkan mereka itu menyembunyikan anak-anaknya dan kurang menghormati mereka yang hanya merupakan maitressenya. 

Sebenarnya ialah, bahwasanya poligami yang semata-mata sesuai dengan hukum alam telah dilakukan pada setiap zaman karena hukum alam itu tetap saja, tetapi pikiran manusia dibuat demikian rupa, dan sangat suka kepada serba berbelit-belit, sehingga bukannya ia memilih sistem yang semata-mata menguntungkan, akan tetapi justru memilih sistem yang penuh dengan dusta dan penipuan, yang membuat berputus asanya berjuta-juta wanita dan yang memaksanya hidup dalam kesedihan, kekacauan, atau dosa-dosa sebagai akibat dari hidup sengsara, terjerumus hidupnya dalam kemunafikan hewani, dan bahwa semua drama percintaan melahirkan turunan-turunan yang diliputi oleh perasaan iri hati yang pandir dan penuh kebencian, yang jumlahnya setiap harinya bertambah-tambah saja."

Salah satu keuntungan poligami yang dijelaskan oleh Anquetil adalah: "Poligami akan memungkinkan berjuta-juta wanita melaksanakan haknya akan kecintaan dan keibuan, yang kalau tidak, akan terpaksa hidup tak bersuami karena sistem monogami."

Yusuf Wibisono juga mengutip tulisan seorang ilmuwan bernama Leonard yang menulis: "In a great measure polygamy is much more a theoretical than a practical institution. Not one on twenty Moslems has even two wives. In any case it is not the proper and legitimate practice of polygamy, but in the abuse of it that the evil lies." (Pada umumnya poligami lebih merupakan lembaga teoritis daripada praktis. Tidak ada satu dari duapuluh orang Islam beristri bahkan lebih dari seorang. Setidak-tidaknya keburukannya tak terletak dalam berpoligami menurut hukum, akan tetapi dalam penyelahgunaan poligami).

Mr. Yusuf Wibisono kemudian menunjukkan bukti-bukti statistik perkawinan di berbagai negara Islam pada tahun-tahun itu. Di India, misalnya, 95 persen kaum Muslim tetap bermonogami. Di Iran, 98 persennya tetap memilih bermonogami. Di Aljazair tahun 1869, dari 18.282 perkawinan Islam, 17.319 adalah monogami, 888 bigami, dan hanya 75 orang Muslim yang mempunyai lebih dari dua orang istri. Di Indonesia -- menurut data statistik Indische Verlag tahun 1935 -- dalam tahun 1930 ada 11.418.297 orang bermonogami dan hanya 75 orang Muslim mempunyai lebih dari dua orang istri.

Buku Mr. Yusuf Wibisono ini menjadi lebih menarik karena pada tahun 1937 sudah diberi kata pengantar oleh H. Agus Salim, seorang cendekiawan dan diplomat genius yang sangat dikagumi di dunia internasional.

Kiranya ada baiknya kita mengutip agak panjang pengantar H. Agus Salim tersebut : "Tidak bisa disangkal, pokok karangan ini aktuil. Tidak saja karena tindakan-tindakan luas di lapangan ini, yang dipertimbangkan oleh Pemerintah dan sebagian bahkan sudah dilaksanakan, akan tetapi terutama sekali juga karena adanya propaganda - baik yang terpengaruh oleh sikap anti-Islam, maupun yang tidak - yang dilancarkan oleh beberapa fihak. Mereka ini menganjurkan agar kepada perundang-undangan perkawinan bagi bangsa Indonesia dan kepada anggapan-anggapan tentang perkawinan pada umumnya diberi corak Barat.

Namun, bukannya tak diperlukan keberanian untuk memasuki lapangan ini dalam suasana yang penuh dengan anggapan-anggapan tersebut. Anggapan-anggapan Barat ini terutama sekali merajalela di kalangan kaum intelektuil yang nasionalistis. Dan di lapangan ini tradisi dan sentimen Barat, yang "dus beradab" masih selalu berhasil mencekik kesaksian fakta-fakta serta suara hati nurani dan nalar yang wajar (logika).

Bahkan oleh karena inilah penulis patut mendapat penghargaan dan sokongan, sebab berdasarkan fakta-fakta yang telah ditetapkan oleh ilmu pengatahuan serta teori-teori yang kuat, ia berusaha menunjukkan kepalsuan moral seksuil dan etika perkawinan yang munafik, seperti yang dianut oleh masyarakat Barat, dan membela anggapan-anggapan tentang perkawinan maupun perundang-undangan perkawinan menurut agama Islam, tanpa memperindahkannya melebihi kenyataannya.

Terutama sekali yang tersebut terakhir inilah yang patut dihargai. Akhir-akhir ini terlalu banyak dilancarka propaganda agama Islam yang bersifat menonjolkan "persetujuan" pihak Islam terhadap moral dan etika Barat, malahan moral dan etika yang terang-terangan bernada "Kristen", seperti yang lazim dianut di kalangan masyarakat Barat. Terlalu sering pula orang berusaha menyembunyikan ajaran-ajaran Islam yang tak cocok dengan anggapan Barat dengan jalan "Umdeutung", dengan menggunakan tafsiran yang dicari-cari. Ya, bahkan menghukum ajaran-ajaran itu sebagai bid'ah dan kufur. Itulah caranya mereka mencoba supaya Islam bisa diterima kaum muda yang meskipun berasal dari keluarga Islam, tapi karena pendidikan Barat dan simpati-simpati serta kecenderungannya yang ke-Barat-baratan menjadi terasing dari agama Islam. Selain dari pada itu, propaganda itu ditujukan pula kepada orang-orang yang tidak beragama Islam.

Akan tetapi agama Islam sangat menyangsikan keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan cara-cara semacam itu. Sebab dengan jalan "menyesuaikan" agama Islam dengan anggapan-anggapan yang lazim dan berlaku dalam dunia Barat yang umumnya bersifat prinsipil anti Islam, yaitu dunia Barat yang mendasarkan "keunggulannya" kepada hal-hal yang berbeda dengan Islam - antara lain perundang-undangan perkawinan berdasarkan monogami - maka hilanglah pula tujuan tertinggi agama Islam. Padahal, untuk inilah Nabi terakhir diutus oleh TUHAN, untuk membimbing umat manusia dari kegelapan ke arah cahaya pengetahuan dan kebenaran. Dengan demikian, bukanlah anggapan-anggapan yang ada yang diuji dan disesuaikan dengan Islam, akan tetapi sebaliknya : Anggapan-anggapan itulah yang dipandangnya benar dan agama Islam diperiksa dari sudut anggapan-anggapan itu."

Kata-kata Haji Agus Salim tersebut sangat mendasar untuk direnungkan. Apalagi, saat ini, begitu banyak kalangan yang berani menentang dan melecehkan Islam, juga dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran. Padahal, yang terpenting dalam memahami Al-Quran adalah soal 'anggapan-anggapan' atau cara pandang serta metodologi penafsiran yang digunakan. Jika Al-Quran dipahami dari perspektif Marxisme dan gender equality yang bersemangat 'dendam' terhadap laki-laki, maka yang muncul adalah pemikiran-pemikiran yang bersemangat pemberontakan terhadap laki-laki, dalam segala hal. Orang-orang seperti ini akan mencari-cari ayat dan menafsirkannya sesuai dengan 'anggapan' nya sendiri.

Seorang sarjana satu perguruan tinggi Islam di Jakarta menceritakan pengalaman menariknya dimaki-maki wanita teman kuliahnya, hanya karena ia mempersilakan si wanita menempati tempat duduknya dalam bus kota. Si wanita mengaku terhina karena dianggap sebagai makhluk yang lemah. Bagi seorang wanita yang menolak hak kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga, maka dia bisa menganggap tindakan menyuguhkan minuman bagi suaminya adalah satu bentuk pelecehan dan penghinaan.

Amina Wadud misalnya menganggap penempatan shaf wanita di belakang laki-laki saat shalat adalah satu bentuk pelecehan terhadap wanita. Tentu cara pandang ini sangat berbeda dengan Muslimah yang mengakui konsep pengabdian dan ketaatan kepada suami.

Dalam soal poligami sama saja. Seorang wanita Muslimah yang memahami posisinya dalam konsep Islam, akan melihat poligami dengan pandangan yang sangat berbeda dengan kaum feminis sekular. Sebagai wanita mandiri, si Muslimah akan melihat suaminya sebagai partner dalam menggapai ridho Allah; bukan sebagai milik pribadinya.

Dia secara pribadi bisa keberatan dengan poligami terhadap dirinya, tanpa menolak hukum poligami. Dia bisa mengingatkan suaminya, bahwa poligami memerlukan kemampuan dan tanggung jawab yang tidak ringan, dunia akhirat.

Sebaliknya, bagi laki-laki, poligami bukanlah hanya semata-mata hak, tetapi juga melekat tanggung jawab dunia dan akhirat. Selain dituntut kemampuan berlaku adil secara materi, juga dituntut kemampuan menjaga seluruh keluarganya dari api neraka. Tentu saja menjaga 4 istri lebih berat daripada menjaga 1 istri; menjaga 20 anak tentu lebih berat ketimbang 2 anak.

Karena itu, bagi seorang yang memiliki pandangan berdimensi akhirat, poligami adalah sesuatu yang berat, yang perlu berpikir serius sebelum mempraktikkannya. Islam mengizinkan dan mengatur soal poligami. Islam membuka jalan, dan tidak menutup jalan itu. Islam adalah agama wasathiyah, yang tidak bersifat ekstrim. Tidak melarang poligami sama sekali, dan tidak membebaskannya sama sekali.

Jika pintu poligami ditutup sama sekali, maka tidak sedikit wanita yang menjadi korban. Sepanjang zaman, banyak wanita yang ikhlas dan siap menjadi istri ke-2, ke-3 atau ke-4. Tidak percaya? Andaikan suatu ketika, pihak istana negara BBM mengumumkan, Sang Presiden yang gagah perkasa membuka lowongan bagi istri ke-2, ke-3, dan ke-4, bisa diduga, dalam beberapa jam saja, ribuan wanita dengan ikhlas akan antri mendaftar.

Maka, bagi seorang wanita Muslimah sejati, yang menyadari kemampuan suaminya untuk berpoligami, tentu tidak sulit mengizinkan suaminya menikah lagi. Yang banyak terjadi saat ini, ternyata banyak suami yang tidak berpoligami, karena takut terhadap istri. Wallahu a'lam. (Depok, 15 Desember 2006).

Kalender 2019 : Naya Fatihurrahman Ramadhani

Sabtu, 01 Desember 2018 0 komentar



Naya Fatihurrahman Ramadhani, itulah nama yang ayah berikan padamu. Dan ayah memanggilmu dengan panggilan Fatih. Engkau dilahirkan di Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 23 Juli 2014. Di tempat itulah kita berjuang dan bermain bersama. 

Sejak kecil engkau ayah gendong kemanapun ayah pergi, termasuk ke tempat ayah bekerja dan tempat-tempat dimana ayah mendapatkan tugas. Semua itu ayah lakukan untuk visi pendidikan dalam segala hal padamu. Karena ayah sangat menyayangimu dan ingin engkau menjadi anak yang shaleh. 

Ayah kerab melibatkanmu dalam kegiatan ayah. Lagi-lagi untuk mendidikmu agar engkau menjadi orang yang lebih baik dari ayah dalam segala hal. 

Diantara tempat bersejarah yang bisa engkau kujungi kelak untuk mengingat ayah adalah tempat dimana ari-arimu ayah tanam dan tempat-tempat dimana ayah beraktivtas. 

Diantaranya adalah SDIT Hidayatullah yang berada di bawah naungan Yayasan As-Sakinah Sleman, disitulah ayah bekerja kurang lebih selama lima tahun, dan di lingkungan sanalah engkau juga ayah menyekolahkanmu di kelas belajar dan bermain.

Taman Pendidikan al-Qur'an (TPA) Al-Ikhlas Sawungan. Di tempat inilah ayah bersamamu serta kawan-kawan ayah berupaya untuk menghidupkan pendidikan al-Qur'an yang tetap eksis hingga tulisan ini ayah tulis.

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Disinilah ibumu belajar dan disinilah juga ayah mengajakmu mengikuti kegiatan yang ayah dan kawan-kawan ayah selenggarakan, yaitu Training Jurnalistik. Ya disinilah ayah mewariskan ilmu itu padamu sejak engkau masih unyuk-unyuk.

Tidak hanya itu, ayah juga mengajakmu terbang ke Kalimantan Selatan tepatnya di Kota Tabalong untuk menemani ayah yang sedang punya tugas untuk mendampingi manajemen lembaga pendidikan disana. 

Lagi-lagi semua itu demi mewariskan ilmu padamu sejak kamu masih unyuk-unyuk karena ayah yakin kamu akan merekamnya dengan kemampuan sensor tajammu waktu kamu masih berusia emas. 

Dan masih banyak tempat-tempat ayah beraktivitas dan berkarya yang tidak bisa ayah sebutkan satu persatu melalui tulisan ini. Biarlah engkau menggalinya sendiri dengan ilmu yang telah engkau pelajari.

Tak ada yang bisa ayah wariskan padamu kecuali ilmu. Teruslah belajar hingga engkau besar, hingga engkau hidup berdikari, hingga engkau menjadi anak yang shaleh, dan menjadi orang yang muslih. Karena itu adalah tugasmu yang diberikan oleh Tuhanmu bukan ayahmu.

Itulah harapan ayah padamu. Semoga engkau sehat selalu. I Love You Forever

Repost : Pemkab Pamekasan Akan Beri Beasiswa Santri Penghafal Al-Quran

Selasa, 20 November 2018 1 komentar


PAMEKASAN (Humas Pamekasan)  – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan, pemkab telah merancang kebijakan akan memberikan beasiswa kepada santri penghafal Al Quran, sebagai bentuk kepedulian dalam mewujudkan tatanan masyarakat Qur’ani di wilayah itu. Selain beasiswa bagi penghafal Al Quran, pemkab juga mulai merancang bantuan beasiswa bagi santri berprestasi.

“Tahun ini kita lounching beasiswa santri dan tahun berikutnya kita tambah lagi,” kata Baddrut Tamam saat menghadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di yang digelar masyarakat Desa Larangan Badung, Pamekasan, bersama bersama Majelis Pemuda Bershalawat At-Taufiq, Selasa (20/11/2018) malam.

Beasiswa bagi santri berprestasi ini, menurutnya merupakan satu dari 17 program aksi yang dijanjikan, saat mencalonkan diri sebagai Bupati Pamekasan pada pilkada 27 Juni 2018. Sedangkan, beasiswa untuk penghafal Al Quran, menurutnya akan dimulai pada tahun anggaran 2019.

Beasiswa bagi penghafal Al Quran ini sebagai upaya untuk mendorong penguatan pendidikan masyarakat Qurani di kabupaten yang memfokuskan pembangunan pada Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam).

Kebijakan lainnya yang sedang menjadi perhatian pemkab menurut bupati adalah mendorong terwujudnya tradisi bershalawat bagi masyarakat dan kalangan pemuda di Pamekasan, sehingga kegiatan seperti itu semakin sering digelar.

“Kami menginginkan Pamekasan bershalawat menjadi akhlaq aparatur sipil dan ahlak masyarakat Pamekasan,” ucap Baddrut.

Bupati berharap, rencana yang akan dikerjakan itu nantinya bisa mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat Pamekasan.

“Semoga di bulan-bulan yang akan datang Majelis Pemuda Bershalawat bisa hadir di Pendopo Pamekasan dan bershalawat bersama masyarakat Pamekasan,” katanya. (fal/hms)


Pena Ayah : Sambutan Umaya Khusniah

Kamis, 08 November 2018 0 komentar


Indonesia saat ini mengalami persoalan pelik, yang bisa saja menuju pada segregasi sosial . Canggihnya rekayasa sosial  dengan semua isu yang berkembang hari ini tidak lepas dari semua orang, mungkin termasuk kita, untuk melanggengkan persoalan di sekitar kita.

Ada pandangan umum yang mengibaratkan demokrasi sebagai alat untuk mencipta masyarakat yang paling tidak memiliki kesetaraan di dalamnya. Apapun caranya, dalam mewujudkan cita-cita kesetaraan dalam masyarakat dalam berdemokrasi patut diapresiasi.

Begitu pula dengan hadirnya buku PENA AYAH yang saat ini berada di genggaman pembaca yang budiman. Dalam kurun waktu beberapa tahun (2014-2017) Subliyanto mencoba mengambil potret persoalan kebangsaan sedekat mungkin dari sumbernya, dan ditegaskan kembali melalui runtunan al-Qur’an dan Hadits.

Cukup menarik bila dilihat dari perspektif kritisisme Islam yang berkembang di Indonesia pada awal era reformasi. Bila kita menyempatkan diri melihat beberapa karya penulisan pada era itu, tentu buku baru seperti Islam Kiri karya Eko Prasetyo pernah melintas di benak anda. Belum lagi dengan buku-buku karya Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi, Kazuo Shimogaki dan lain sebagainya yang marak pada itu.

Tidak untuk menyamakan dengan karya-karya di atas, tapi buku PENA AYAH ini merupakan cuplikan dari apa yang sebenarnya ingin diceritakan kritisisme Islam dalam memandang fenomina sosial. Meski tidak mencakup keseluruhan, namun buku ini pantas untuk dibaca secara serius. Paling tidak pembaca akan disuguhkan dengan pemahaman baru tentang fenomina sosial dalam perspektif Islam.

Jakarta, 8 Agustus 2018

Umaya Khusniah

Pena Ayah : “Menulislah karena tulisan adalah dokumentasi sejarah”

0 komentar


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah mengajarkan manusia dengan Qalam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Muhammad Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang telah menerangi dunia kegelapan dengan dinul islam.

Alhamdulillah, dengan izin Allah buku ini selesai disusun, Buku ini merupakan kumpulan dari karya-karya tulis yang sudah terpublish di website pribadi penulis, www.subliyanto.id, dan juga sudah terpublish di media lain baik online maupun cetak.

Mengingat pentingnya sebuah sejarah dan dakwah bil-Qalam, maka karya-karya ini penulis susun menjadi sebuah buku dengan judul buku PENA AYAH, yang dipersembahkan kepada nanda Naya Fatihurrahman Ramadhani sebagai kenangan dan motivasi tertulis agar menjadi generasi penerus perjuangan dakwah, salah satunya dengan dakwah bil-Qalam.

“Menulislah karena tulisan adalah dokumentasi sejarah”

Dan tentunya buku ini jauh dari kesempurnaan, sehingga sangat diharapkan nanda Naya Fatihurrahman Ramadhani dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Terimakasih penulis sampaikan kepada keluarga, sahabat, dan semua pihak yang telah terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku ini, dan terlebih kepada para guru jurnalistik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis.


Beliau-beliau adalah Bapak Anwar Djaelani (Penulis buku “50 Pendakwah Pengubah Sejarah”),  Bapak Cholis Akbar (Pimpinan redaksi www.hidayatullah.com), Bapak Imam Nawawi (Pimpinan redaksi majalah Mulia), Bapak Mahmud Thorif (Pimpinan redaksi majalah Fahma dan www.majalahfahma.com), Bapak Syaiful Anshor (Penulis Buku Sakinah Menuju Jannah), Ibu Umaya Khusniah (Jurnalis Majalah Gatra), Bapak Abdus Syakur (Jurnalis Majalah Suara Hidayatullah).

Semoga hadirnya buku kecil ini bermanfaat pada semua generasi muslim, penerus perjuangan Islam dan menjadi amal jariyah bagi penulis beserta para guru yang telah membimbing. Amin


Surabaya, 01 Januari 2018

Subliyanto

Peran Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Kamis, 02 Agustus 2018 0 komentar



Oleh : Subliyanto*

“Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kugoncangkan dunia” demikan ungkapan Bung Karno, sang orator yang sekaligus pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang membakar semangat juang para pemuda Indonesia saat itu hingga mencapai titik darah penghabisan yang pada akhirnya Indonesia merdeka, dan diproklamerkan pada 17 Agustus 1945. Tentu, kalimat tersebut tidak hanya ungkapan semata, akan tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Bahwa pemuda mempunyai peran penting untuk kemajuan suatu bangsa. Pemuda sebagai agent of change sebuah bangsa. Maka pada pemuda terdapat sebuah kekuatan yang dapat merubah suatu keadaan menjadi lebih baik, maju dan berkembang serta menjadi percontohan suatu peradaban.


Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumber daya alamnya. Maka tak heran jika Indonesia menjadi sasaran penjajah waktu itu, dan mungkin juga saat ini yang tentu dengan cover dan kostum serta cara yang berbeda. Senjata yang mereka gunakan saat ini tidak lagi hanya berupa senjata tajam, akan tetapi berupa ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka tidak lagi bergulat dengan menggunakan otot, akan tetapi dengan menggunakan otak.

Sehingga jika pemuda Indonesia lalai dan terus asyik dengan “kebodohannya” maka bukan hal yang mustahil keberadaan bangsa ini beserta isinya akan kembali berada di tangan para penjajah, dan harus berjuang lebih keras lagi untuk merebutnya kembali. Maka disitulah pentingnya peran pemuda Indonesia untuk terus belajar memperdalam ilmu pengetahuan dalam segala bidang sampai menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan professional serta siap bersaing guna menyelamatkan asset bangsa menuju Indonesia yang lebih baik bahkan yang  terbaik.

Pemuda merupakan sosok yang harus berada di barisan terdepan untuk membuat perubahan suatu bangsa menjadi lebih baik. Tidak hanya dengan kelantangan berorasi dan kekompakan berdemonstrasi, namun juga disertai dengan kerja nyata, kerja keras dan kerja cerdas sebagai wujud kontribusi nyata untuk kebaikan bangsa. Dan tentu dengan tidak melupakan sejarah para pejuang yang telah mengorbankan raga dan jiwa serta hartanya untuk bangsa. Karena pada sejarah terdapat sebuah hikmah yang bisa dijadikan pijakan dan evaluasi guna membuat sebuah reformasi dengan formulasi baru.

Oleh karena itu, sudah selayaknya dan sepantasnya para pemuda berperan aktif, menempati posisi strategis dan lini-lini solutif untuk melakukan analisa reformatif yang pada akhirnya melahirkan sebuah solusi riil untuk mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa. Tentu dengan aktif dan suportif dalam bekerja dan berkarya untuk bangsa agar tujuan menuju bangsa yang lebih baik tercapai. Visinya adalah untuk bangsa sehingga kepentingan-kepentingan pribadi tidak menjadi orientasi dalam mengabdikan dirinya untuk bangsa dan Negara. Dengan demikian hal-hal yang bersifat koruptif tidak menjadi list dalam buku harian pemuda. Akan tetapi yang menjadi cacatan hariannya adalah list-list strategi bagaimana agar bangsa lebih maju dan berkembang, baik berupa catatan konseptual maupun strategi aplikatif dan dokumentatif.

Menjelang pesta demokrasi 2019, semoga di Indonesia lahir sosok pemimpin yang arif, generasi yang handal dan professional serta siap membawa Indonesia menjadi Negara yang lebih baik, maju dan berkembang serta menjadi pilar percontohan dalam segala bidang. Wallahu A’lam[]

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. www.subliyanto.id
**Artikel ini juga dimuat di www.majalahfahma.com

Pesan Ayah : Anakku, Ingatlah Saat Usiamu Bertambah

Minggu, 22 Juli 2018 0 komentar


(Surat Cinta dari Ayahmu*)

Selamat ulang tahun anakku… “Barakallah Fi Ziyadti ‘Umurik. Semoga engkau menjadi anak yang shaleh, yang senantiasa taat terhadap Allah dan cinta terhadap sunnah Muhammad Rasulullah, berjuang untuk islam, berbakti kepada kedua orang tua, dan bermanfaat bagi bangsa dan Negara.”

Anakku… Ada kebiasaan sebagian manusia ketika umurnya bertambah merayakannya dengan perayaan ulang tahun. Perayaan yang dilakukan beraneka ragam caranya sesuai dengan pemahaman masing-masing. Namun terlepas dari hal yang kontroversial itu, yang perlu kita pahami adalah hakikat dari bertambahnya umur itu sendiri.

Anakku… Orang yang panjang umurnya adalah orang yang menghiasi hidupnya dengan amal shaleh. “Man kana ‘umuruhu ma’muratan bil a’malis shalihat”. Tentu sebagai orang beriman yang yakin akan kehidupan yang sesungguhnya tentunya kita tidak akan membiarkan sisa umur kita akan berlalu begitu saja. Maka dari itu jangan sia-siakan umur kita selama Allah masih memberi kesempatan pada kita untuk berbuat baik dan membuat karya nyata di dunia ini, guna meraih prestasi kelak pada kehidupan yang hakiki.

Anakku… Secara hitungan matematis semakin bertambah umur manusia pada hakikatnya semakin berkurang dan semakin dekat menghadapi kematian. Karenanya perlu kita mensyukurinya dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Umur sangat erat kaitannya dengan masalah kematian. Umur dan kematian bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maka sebaik-baiknya nasehat adalah nasehat kematian, karena kematian adalah rahasia Tuhan, Allah Rabbul ‘Alamain. Tidak satupun diantara kita yang mengetahuinya. Ia (kematian) bisa datang kapan saja dan dimanapun kita berada.

Anakku… Allah berfirman : “….Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya)”. (Q.S Yunus: 49).

Anakku… Berikut ini ada kisah menarik yang bisa kiranya menjadi renungan dan kita ambil pelajaran dalam pembahasan umur dan kematian :

************
Seorang laki-laki masuk ke ruangan "Almanshur" pada hari dia dibaiat menjadi Khalifah umat islam. Almanshur berkata : “Nasihatilah aku”. Laki-laki itu berkata : “Aku nasihati kamu dengan yang aku lihat atau dengan yang aku dengar ?” Berkata Almanshur : “Dengan yang kau lihat”. 

Dia berkata : “Wahai Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz punya 11 anak. Dan ketika matinya meninggalkan 18 dinar. Untuk kafan 5 dinar, untuk urusan kuburnya 4 dinar dan sisanya diberikan pada anak-anaknya.  Sedangkan Hisyam punya 11 anak juga. Setiap anak mendapat bagian sejuta dinar ketika matinya. Demi Allah wahai amirul mukminin, aku melihat pada suatu hari anak-anak Umar bin Abdul aziz bersedekah dengan 100 kuda untuk jihad fi sabilillah. Dan kulihat salah satu anak Hisyam meminta-minta di pasar”. 

Disebutkan anak perempuan Umar bin Abdul Aziz masuk ke kamarnya menangis. Maka dia bertanya : “Apa yang membuatmu menangis anakku ?” Dia berkata : “Setiap anak memakai pakaian baru, dan aku anak amirul mukminin memakai pakaian lama.”

Umar kasihan melihat tangis anaknya, maka dia pergi kepada bendahara negara. Dia berkata : “Apakah kau mengizinkanku mengambil gajiku bulan depan?” Bendahara berkata : “Tidak bisa wahai Amirul mukminin”. 

Maka Umar menceritakan apa yang terjadi dengan anaknya. Bendahara berkata : “Kalau begitu tidak apa-apa kau ambil gajimu bulan depan. Tetapi dengan satu syarat”. Umar berkata : “Syarat apakah itu ?” Bendahara : “Syaratnya engkau bisa menjamin padaku kau masih hidup bulan depan untuk bekerja dengan gaji yang telah kau ambil lebih dulu”. 

Umar meninggalkannya dan kembali ke rumahnya. Anak-anaknya bertanya : “Apa yang terjadi padamu wahai Bapak ?” Dia berkata : “Maukah kalian bersabar dan kita masuk surga bersama atau kalian tidak bersabar dan bapakmu ini masuk neraka ?” Mereka berkata : “Kami akan bersabar wahai Bapak”.

***********
Anakku… Kisah di atas merupakan salah satu contoh tentang nasehat kematian. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah di atas. Dan dapat memanfaatkan sisa umur kita untuk senantiasa beramal shaleh, kapanpun dan dimanapun kita berada.

Anakku… sebagai penutup ayah ingin berpesan padamu, sebagaimana pesan Lukman kepada anakknya yang termaktub dalam Firman Allah, alQur’an Surat Luqman berikut ini :

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, : Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Lukman : 13)

“Dan Kami (Allah) perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu”. (Q.S Lukman : 14)

“Dan jika keduanya memaksamu untuk  mempersekutukan Aku (Allah) dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S Lukman : 15)

“Wahai anakku, sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu, atau di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah maha halus, maha teliti”. (Q.S Lukma : 16)

“Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting”. (Q.S Lukman : 17)

“Dan jangnlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan jangnlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyuaki orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”. (Q.S Lukman : 18)

“Dan sederhanaknlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sungguh seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S Lukman : 19)

Anakku, itulah pesan ayah padamu. Barakallah… Semoga kamu sehat selalu…!!!


 
SUBLIYANTO.ID © 2019