Catatan Media Harus Lebih Tajam

Jumat, 16 Februari 2018 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Ada tulisan menarik dari Bapak Yudis Wahyudi, Pemerhati Media, ASN di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan Dinas Komunikasi dan Informatika, Staf Bidang Pengelolaan Media Komunikasi Publik.

Tulisan yang berjudul "Pentingnya Membangun Informasi dan Komunikasi yang Baik dan Benar" memaparkan bahwa penting dan sangat terasa bagaimana kehadiran komunikasi antar personal, inter personal bahkan bagaimana keberadaan hubungan antar negara tercipta dan terselenggara karena adanya#Komunikasi dan #Informasi yang terjalin sesuai yang diharapkan kedua belah pihak dan berlandaskan pada berita atau informasi yang benar dan sesuai dengan Regulation and Rule Of Law. Dan yang pasti membangun Relationship apapun stereotype dan durasinya tidak dibangun pada hubungan yang menyesatkan dan#BOHONG

Tentu masyarakat mengamini hal tersebut karena memang sudah menjadi harapan masyarakat umum agar kehadiran media menjadi mitra masyarakat dalam menggali informasi dan menyampaikan aspirasi serta menjadi corong solusi dari berbagai problema kehidupan masyarakat.

Namun demikian terasa ada yang kurang ketika media hanya menyampaikan informasi sebuah peristiwa dan hanya berhenti sampai disitu saja, tanpa berupaya menggali lebih dalam lagi hingga menemukan sebuah simpulan yang menjadi informasi publik berbasis riset sebagai jawaban kepada masyarakat umum. Sehingga seakan tidak ada kepuasan konsumen terhadap media, walaupun publik sendiri tidak bisa apa-apa karena keterbatasan dalam segala hal.

Maka catatan media harus lebih tajam khususnya yang berkaitan dengan peristiwa kursial yang terjadi di masyarakat, sehingga kehadiran media betul-betul menjadi corong informasi yang solutif terhadap masyarakat.

Peran media tidak hanya cukup sebatas mengabarkan kebenaran, tapi yang terpenting adalah bagaimana mengungkap kebenaran, karena disitulah hakikat dari hadirnya media sebagai mitra masyarakat.

Kita ambil contoh misalkan yang teranyar adalah tentang peristiwa yang bersifat kasuistik yang masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa sakit massal pasca imunisasi vaksin Difteri di Desa Kadur Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan yang terjadi tidak lama ini.

Tentu masyarakat sangat berterimakasih kepada media atas partisipasinya dalam menginformasikan hal tersebut, sehingga dengan informasi yang cepat dapat menggerakkan para penanggung jawab khususnya di kalangan teras birokrasi, yang hingga simpulan terakhir berdasarkan keterangan kepala dinkes baik kota maupun provinsi bahwa peristiwa tersebut murni faktor psikologis saja dari para korban.

Namun demikian masyarakat masih menaruh harapan besar kepada media agar peristiwa kasuistik tersebut bisa didalami lagi lebih mendalam berbasis data dan riset, tentu dengan metode analisis jurnalistik, karena simpulan terakhir yang disampaikan Dinkes masih menimbulkan banyak pertanyaan yang seakan masyarakat belum percaya berdasarkan banyaknya jumlah korban. Bahkan informasi yang teranyar media juga mengabarkan bahwa hal serupa juga terjadi di Sampang. Artinya populasinya semakin banyak.

Sekedar catatan saja bahwa tidak semua masyarakat khususnya yang berada di pelosok desa bisa menjangkau meja birokrasi. Maka sangat dibutuhkan peran semua pihak termasuk peran media dalam upaya membantu memberikan pencerahan kepada masyarakat agar tidak muncul praduga-praduga liar yang pada akhirnya akan menimbulkan kerisauan. Tentu hal itu tidak kita inginkan.

Harapannya hanya satu agar tatanan kehidupan sosial kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini tidak semakin kacau. Oleh karena itu mari kita kawal bersama rotasi NKRI ini sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing. Dan yang paling penting adalah kita cerahkan masyarakat dengan informasi yang baik dan benar, sebagaimana telah disampaikan Bapak Yudis Wahyudi di atas. Wallahu A'lam [] 

*Penulis adalah aktvis sosial dan pendidikan asal Pamekasan Jawa Timur.

TGB, Al-Amien, dan Pemimpin Berakhlaq

0 komentar

Oleh : M. Anwar Djaelani*

TGB pemimpin berkualitas dan amanah. Sementara, Al-Amien adalan pesantren di Prenduan Sumenep – Madura dan bereputasi meyakinkan. Maka, ketika pada 12/02/2018 TGB bersilaturrahim dan memberi kuliah umum di Al-Amien, apa yang bisa kita hikmahi?

Ilmu, Akhlaq, dan Pemimpin
TGB, singkatan dari Tuan Guru Bajang. TGB, panggilan popular dari Dr. TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA. Belakangan ini, dia kerap disebut sebagai (calon) pemimpin nasional yang ideal. 

Mari kita kenal TGB. Dia lahir di Pancor, Selong, 31/05/1972. Saat tulisan ini dibuat, TGB masih menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode kedua 2013-2018. 

Riwayat pendidikannya mengesankan. S1 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar – Kairo, 1992. S2 jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an Al-Azhar dengan predikat Jayyid Jiddan, 1996. S3 di jurusan yang sama dengan predikat Martabah El-Ula Ma’a Haqqutba atau Summa Cumlaude, 2011. 

Pemimpin yang hafal Al-Qur’an ini memunyai jejak prestasi yang membanggakan. TGB pernah menjadi anggota DPR-RI, periode 2004-2009. Dia di Komisi X yang membidangi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian dan Kebudayaan. 

Di keorganisasian, TGB adalah Ketua Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdaltul Wathan (2016-2021). Juga, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia (2017-2021).

Penghargaan yang diperoleh TGB sangat banyak. Berikut ini sekadar menyebut sebagian di antaranya: Tokoh Perubahan Republika, 2010 dan 2016. Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI atas prestasi menonjol dalam pembangunan yang patut ditiru daerah lain di Indonesia, 2012. World’s Best Halal Honeymoon Destination dan World’s Best Halal Tourism Destination Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 2015. Gubernur Paling Visioner dalam bidang tenaga kerja, versi Majalah Profesional, 2009. (http://tgb.id, akses 15/02/2018).

Lalu, apa yang disampaikan TGB selama bersilaturrahim dan memberi kuliah umum bertema “Pemimpin Umat Masa Depan” di Pesantren Al-Amien Sumenep? Setidaknya, dapat dicatat beberapa hal penting. 

Pertama, TGB menyampaikan bahwa pemimpin umat masa depan yang ideal berasal dari kaum santri. ”Pintar memang perlu. Tapi tanpa akhlaq yang baik, orang pintar akan jadi penjahat licik,” kata TGB.

Kedua, TGB menyampaikan bahwa generasi muda sekarang ini harus difikirkan. Sebagaimana dulu Nabi Ibrahim As selalu memikirkan keturunannya agar menjadi Muqimasshalah (Orang-orang yang selalu menegakkan shalat). Bahkan, Nabi Ibrahim As selalu berdoa agar keberkahan yang diberikan Allah kepadanya juga diberikan kepada seluruh sanak keluarga dan keturunannya.

Ketiga, kata TGB, seorang penuntut ilmu harus pintar memilih dalam mengomsumsi ilmu dan pengetahuan. Persis seperti lebah, ia mengambil dari yang terbaik hingga tidak ada yang keluar darinya kecuali yang baik-baik.

Alhasil, bagi TGB, pemimpin itu harus berilmu dan berakhlaq. Di titik ini, tak seorangpun bisa menolaknya. Sebab, jangankan berposisi sebagai pemimpin, sebagai “Orang biasa” saja kita harus berilmu dan berakhlaq. 

Selalu Belajar
Hal lain yang tak kalah menarik, yaitu ketika TGB menyatakan rasa takjub dan tertarik ingin belajar dari Pesantren Al-Amien. “Banyak hal yang harus dipelajari dari Al-Amien,” kata TGB. 

Tak pelak lagi ungkapan itu adalah, pertama, cerminan dari sikap rendah hati TGB. Kedua, menunjukkan TGB seorang pembelajar sejati. Dari sumber manapun yang sekiranya baik, dia ingin belajar.

Pesantren Al-Amien dan riwayat pemimpinnya, tentu bukan “sumber” yang salah untuk kita belajar. Untuk itu, antara lain, mari sekilas kita kenal (Almarhum) KH Mohammad Tidjani Djauhari. 

Tidjani lahir pada 23/10/1945 di Prenduan Sumenep - Madura. Dia putera KH Djauhari Chotib, ulama besar dan tokoh Masyumi serta pendiri Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep. 

Pada 1958 Tidjani nyantri di KMI (Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah) - Gontor. Pada 1964, ke Perguruan Tinggi Darussalam (kini bernama UNIDA Gontor). 

Pada 1965 Tidjani ke Universitas Islam Madinah, di S1 Fakultas Syariah dan lulus dengan predikat mumtaz pada 1969. Pada 1970 ke S2 di Jamiah Malik Abdul Aziz –Mekkah- dan lulus 1973. Tesisnya -“Keistimewaan Al-Qur’an: Etika dan Rambu-rambunya dalam Perspektif Abu Ubaid Al-Qosim”-, dinilai mumtaz (cum laude).

Atas prestasinya, pada 1974 M. Natsir merokemendasi Tidjani bekerja di Rabithah Alam Islami. Karirnya di “Rabithah” melesat. Beberapa jabatan penting dipegangnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988). Keaktifannya di “Rabithah” mengantarkan Tidjani menjelajahi berbagai negara di Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia.

Ketika karirnya di “Rabithah” di puncak, Tidjani pulang kampung pada 1989. Inilah babak baru perjalanan dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan. Misinya, menyempurnakan Pesantren Al-Amien yang telah berdiri sejak 1971.

Dalam waktu 18 tahun (1989-2007), Al-Amien menjelma menjadi pesantren yang berwibawa. Ketokohan Tidjani mengantarkannya untuk menjabat berbagai posisi penting seperti Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jatim (1995-2000), salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren – BSPP (1998), dan Ketua II Majelis Ma’had Aly Indonesia (2002). 

Tidjani ulama besar, berkiprah dari Sumenep hingga ke mancanegara. Dia pejuang Islam yang punya ghirah besar untuk menegakkan Islam melalui pendidikan. Dia wafat pada 27/09/2007. 

Dari KH Mohammad Tidjani Djauhari kita banyak mendapat pelajaran. Sementara, dari TGB yang masih muda, kita juga sudah menerima banyak pelajaran. 

Depan, ke Depan!
Mari kita dorong Dr. TGKH Muhammad Zainul Majdi, MA atau TGB untuk terus berkiprah ke arah yang lebih bermanfaat dalam hal kualitas karya dan lebih luas cakupan skala kepemimpinannya. Untuk itu, semoga ilmu dan akhlaq selalu menjadi pijakan kukuh TGB. 

Harapan senada, semoga Pesantren Al-Amien yang sekarang berada di bawah kepemimpinan Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani, MA -sahabat TGB saat kuliah di Al-Azhar- terus berkembang dengan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berilmu tinggi dan berakhlaq mulia. [] 

PENTINGNYA MEMBANGUN INFORMASI DAN KOMUNIKASI YANG BAIK DAN BENAR

Kamis, 15 Februari 2018 0 komentar


Penting dan sangat terasa bagaimana kehadiran komunikasi antar personal, inter personal bahkan bagaimana keberadaan hubungan antar negara tercipta dan terselenggara karena adanya #Komunikasi dan #Informasi yang terjalin sesuai yang diharapkan kedua belah pihak dan berlandaskan pada berita atau informasi yang benar dan sesuai dengan Regulation and Rule Of Law. Dan yang pasti membangun Relationship apapun stereotype dan durasinya tidak dibangun pada hubungan yang menyesatkan dan #BOHONG.

Keterlibatan media Mainstream juga jangan dimunafikkan, bahwa eksistensinya suka atau tidak suka media sangat menentukan bagaimana publikasi dan promosi terakselerasi ke berbagai kantong2 yang tidak terjamah oleh media media yang sulit menembus kerasnya biduk atau budaya masyarakat termarginalkan oleh perubahan perubahan.

Kehadiran media siber dalam 2 Dekade terakhir adalah jawaban dari Need for the people akan informasi yang cepat, mudah di akses dan kaya akan berbagai bentuk Media.

Media Siber yang mengusung Konsep #Konvergensimedia kemudian menjadi media yang bisa menjawab kebutuhan masy, maka tidak heran jika kemudian media siber menjadi primadona bagi masy indonesia yang tingkat pertumbuhan akses internetnya terus meningkat dari tahun ke tahun, ditambah lagi populasi generasi #MILENIAL yang melek internet terus tumbuh dan akan menjadi mayoritas dalam beberapa tahun mendatang.

Masyarakat informatif akan menjadikan informasi sebagai kebutuhan #Basic. Media yang baik apalagi media siber yang memiliki #Coverage #Area yang luas harus dapat memenuhi kebutuhan masyarkat informatif ini dengan menyuplai informasi baik yang mencerahkan dan mencerdaskan bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang Majemuk.

Catatan kecil ini semoga tidak jadi harapan penulis saja, bagaimana seandainya diri pribadi ini (Mudah-mudahan diamini oleh Warganet/Netizen) untuk bersama sama bangun komunikasi informasi itu dengan baik dengan benar tidak menyesatkan dan TIDAK BOHONG, Dengan MENGGENGGAM INFORMASI KITA BISA BANGUN DUNIA.".

*Penulis adalah Pemerhati Media, ASN di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan Dinas Komunikasi dan Informatika, Staf Bidang Pengelolaan Media Komunikasi Publik.

Ketika Imunisasi Vaksin Difteri Berdampak Negatif, Siapa Yang Bertanggung Jawab ?

Senin, 12 Februari 2018 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Ahad 11 Februari 2018, Desa Kadur, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan dihebohkan dengan kejadian sakit massal yang dialami oleh sejumlah santri di Pondok Pesantren Al Falah Sumber Gayam dan Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kadur Pamekasan.

Kejadian tersebut diduga efek dari imunisasi difteri yang dilakukan di sekolah pondok pesantren tersebut oleh tim medis puskesmas Kadur pada hari Sabtu 10 Februari 2018.

Dikutip dari laman antaranews.com  (11/02/2018) hingga Minggu sore, Sekretaris Dinkes Pamekasan Ali Maksum menyatakan, jumlah santri yang mengalami sakit massal sebanyak 46 orang, namun hingga malam, meningkat menjadi 80 orang, termasuk lima santri dari Pesantren Hidayatul Mubtadiin.

Beritajatim.com mengabarkan (11/02/2018), Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Ali Maksum menyatakan puluhan siswa yang lemas dan pingsan pasca mendapatkan suntik vaksin difteri dinilai sebagai kejadian luar biasa alias KLB.

Lantas siapa yang bertanggung atas kejadian tersebut ? 

Program imunisasi vaksin difteri merupakan program pemerintah dalam hal ini kementerian kesehatan untuk mengatasi wabah bakteri difteri yang meresahkan masyarakat. Pelaksanaan perdananya dilaksanakan pada bulan Desember 2017 yang lalu. Dan gelombang kedua dilaksanakan pada Januari 2018 (tempo.co, 06/01/2018).

Sebagai rakyat biasa tentu berbaik sangka kepada pemerintah dan mendukungnya demi kesejahteraan rakyat indonesia dalam hal kesehatan. Namun dengan adanya kejadian di Desa Kadur Kabupaten Pamekasan, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan setempat mempunyai tanggung jawab sepenuhnya atas kejadian tersebut. 

Pemerintah berkewajiban untuk memberikan penjelasan secara detail kepada masyarakat penyebab hal tersebut. Tentu penjelasan medis yang berdasarkan hasil lab dari sekian banyak korban di Desa Kadur Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan, agar baik sangka masyarakat indonesia tidak berubah menjadi buruk sangka.

Maka sangat disayangkan ketika Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Ismail Bey menyatakan bahwa kejadian tersebut murni faktor psikologis. Sebagaimana dijelaskan dalam laman antaranews.com (11/02/2018) Ismail menyampaikan bahwa kejadian tersebut murni faktor psikologis saja.


"Jadi, ini murni faktor psikologis saja. Ada satu santri yang pingsan, kemudian santri lainnya juga ikutan pingsan,".

Hemat penulis alasan tersebut belum bisa diterima oleh akal sehat masyarakat, karena tidak seimbang dengan jumlah korban yang sakit pasca imunisasi vaksin difteri di Desa Kadur.

Dan justru sangat rasional jika sebagian orang tua santri resah dan meminta agar pemerintah provinsi dan pusat hendaknya turun tangan, menyelidiki vaksin difteri yang disuntikkan kepada santri di Pesantren Al-Falah, karena jumlah korban tidak sedikit.

Maka menjadi PR semua pihak untuk mendalami akar permasalahan tersebut sampai betul-betul ditemukan faktornya berdasarkan data rekam medis dan uji laboratorium kesehatan agar kejadian serupa tidak terjadi di daerah lain.

*Penulis adalah warga Desa Kadur Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan

Berterimakasihlah Pada Guru

Minggu, 04 Februari 2018 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Ikut prihatin dan merasa miris dengan adanya kejadian tindak kekerasan oleh siswa SMAN 1 Torjun, Dusun Jrengik, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang bernama Holili, kepada gurunya Ahmad Budi Cahyono (27).

Sebagaimana dilangsir laman republika.co.id ( Jumat, 02 Februari 2018 ) Kekerasan tersebut mengakibatkan meninggalnya sang guru, disebabkan karena pendarahan otak.

Lagi-lagi merupakan cambuk buat pendidikan agar kiranya tujuan pendidikan yang kita impikan bisa tercapai dengan sempurna. Baik aspek afektif, kognitif, maupun psikomotorik.

Sebagai murid sejatinya harus banyak berterimakasih kepada gurunya. Karena dengan bimbingannya kita dapat mengetahui, mengenal, dan memahami sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Bentuk terimakasih yang nyata adalah dengan hormat dan ta'dhim kepada gurunya dan mengamalkan ilmu yang diperolehnya dengan baik dan untuk kebaikan.

Bukan dengan membangkangnya, apalagi sampai melawannya ketika diingatkan, karena hakikatnya guru sangatlah sayang kepada muridnya.

Guru merupakan orang tua bagi muridnya selama berada di lingkungan sekolah. Maka adalah wajar jika ia mengingatkan muridnya agar tidak nakal. 

Dan itu semata-mata menjalankan tugasnya sebagai guru untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada para muridnya, agar menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.

Muhasabah

Dengan adanya kejadian di atas patut kiranya kita sebagai orang tua, guru, dan semua pihak untuk bermuhasabah guna mengembalikan citra pendidikan yang kian merisaukan.

Sebagai orang tua, sadarilah bahwa tugas utama mendidik putra-putrinya ada di pundak orang tua dalam segala aspek kehidupannya.

Sekolah dan civitas akademik yang ada di dalamnya merupakan tangan kedua dari keluarga dalam menjalankan tugas pendidikan. Sehingga harus berperan aktif agar tujuan pendidikan tercapai.

Demikian juga dengan masyarakat umum. Juga punya tanggung jawab dalam membina generasi bangsa ini agar menjadi pribadi-pribadi yang bermoral dan berilmu sehingga dapat memberikan perubahan untuk masa depan yang lebih baik.

Tentu ketiganya (keluarga,sekolah,dan lingkungan masyarakat) tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Maka harus ada sinergi yang mencerminkan satu tujuan untuk pendidikan yang lebih baik. Wallahu A'lam []

Gresik, 03 Februari 2018. Ditulis dalam kondisi terbaring sakit

 
SUBLIYANTO.ID © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum