Repost : Pemkab Pamekasan Akan Beri Beasiswa Santri Penghafal Al-Quran

Selasa, 20 November 2018 1 komentar


PAMEKASAN (Humas Pamekasan)  – Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan, pemkab telah merancang kebijakan akan memberikan beasiswa kepada santri penghafal Al Quran, sebagai bentuk kepedulian dalam mewujudkan tatanan masyarakat Qur’ani di wilayah itu. Selain beasiswa bagi penghafal Al Quran, pemkab juga mulai merancang bantuan beasiswa bagi santri berprestasi.

“Tahun ini kita lounching beasiswa santri dan tahun berikutnya kita tambah lagi,” kata Baddrut Tamam saat menghadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW di yang digelar masyarakat Desa Larangan Badung, Pamekasan, bersama bersama Majelis Pemuda Bershalawat At-Taufiq, Selasa (20/11/2018) malam.

Beasiswa bagi santri berprestasi ini, menurutnya merupakan satu dari 17 program aksi yang dijanjikan, saat mencalonkan diri sebagai Bupati Pamekasan pada pilkada 27 Juni 2018. Sedangkan, beasiswa untuk penghafal Al Quran, menurutnya akan dimulai pada tahun anggaran 2019.

Beasiswa bagi penghafal Al Quran ini sebagai upaya untuk mendorong penguatan pendidikan masyarakat Qurani di kabupaten yang memfokuskan pembangunan pada Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam).

Kebijakan lainnya yang sedang menjadi perhatian pemkab menurut bupati adalah mendorong terwujudnya tradisi bershalawat bagi masyarakat dan kalangan pemuda di Pamekasan, sehingga kegiatan seperti itu semakin sering digelar.

“Kami menginginkan Pamekasan bershalawat menjadi akhlaq aparatur sipil dan ahlak masyarakat Pamekasan,” ucap Baddrut.

Bupati berharap, rencana yang akan dikerjakan itu nantinya bisa mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan mendapatkan dukungan dari semua elemen masyarakat Pamekasan.

“Semoga di bulan-bulan yang akan datang Majelis Pemuda Bershalawat bisa hadir di Pendopo Pamekasan dan bershalawat bersama masyarakat Pamekasan,” katanya. (fal/hms)


Pena Ayah : Sambutan Umaya Khusniah

Kamis, 08 November 2018 0 komentar


Indonesia saat ini mengalami persoalan pelik, yang bisa saja menuju pada segregasi sosial . Canggihnya rekayasa sosial  dengan semua isu yang berkembang hari ini tidak lepas dari semua orang, mungkin termasuk kita, untuk melanggengkan persoalan di sekitar kita.

Ada pandangan umum yang mengibaratkan demokrasi sebagai alat untuk mencipta masyarakat yang paling tidak memiliki kesetaraan di dalamnya. Apapun caranya, dalam mewujudkan cita-cita kesetaraan dalam masyarakat dalam berdemokrasi patut diapresiasi.

Begitu pula dengan hadirnya buku PENA AYAH yang saat ini berada di genggaman pembaca yang budiman. Dalam kurun waktu beberapa tahun (2014-2017) Subliyanto mencoba mengambil potret persoalan kebangsaan sedekat mungkin dari sumbernya, dan ditegaskan kembali melalui runtunan al-Qur’an dan Hadits.

Cukup menarik bila dilihat dari perspektif kritisisme Islam yang berkembang di Indonesia pada awal era reformasi. Bila kita menyempatkan diri melihat beberapa karya penulisan pada era itu, tentu buku baru seperti Islam Kiri karya Eko Prasetyo pernah melintas di benak anda. Belum lagi dengan buku-buku karya Asghar Ali Engineer, Hassan Hanafi, Kazuo Shimogaki dan lain sebagainya yang marak pada itu.

Tidak untuk menyamakan dengan karya-karya di atas, tapi buku PENA AYAH ini merupakan cuplikan dari apa yang sebenarnya ingin diceritakan kritisisme Islam dalam memandang fenomina sosial. Meski tidak mencakup keseluruhan, namun buku ini pantas untuk dibaca secara serius. Paling tidak pembaca akan disuguhkan dengan pemahaman baru tentang fenomina sosial dalam perspektif Islam.

Jakarta, 8 Agustus 2018

Umaya Khusniah

Pena Ayah : “Menulislah karena tulisan adalah dokumentasi sejarah”

0 komentar


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah mengajarkan manusia dengan Qalam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Muhammad Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam yang telah menerangi dunia kegelapan dengan dinul islam.

Alhamdulillah, dengan izin Allah buku ini selesai disusun, Buku ini merupakan kumpulan dari karya-karya tulis yang sudah terpublish di website pribadi penulis, www.subliyanto.id, dan juga sudah terpublish di media lain baik online maupun cetak.

Mengingat pentingnya sebuah sejarah dan dakwah bil-Qalam, maka karya-karya ini penulis susun menjadi sebuah buku dengan judul buku PENA AYAH, yang dipersembahkan kepada nanda Naya Fatihurrahman Ramadhani sebagai kenangan dan motivasi tertulis agar menjadi generasi penerus perjuangan dakwah, salah satunya dengan dakwah bil-Qalam.

“Menulislah karena tulisan adalah dokumentasi sejarah”

Dan tentunya buku ini jauh dari kesempurnaan, sehingga sangat diharapkan nanda Naya Fatihurrahman Ramadhani dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

Terimakasih penulis sampaikan kepada keluarga, sahabat, dan semua pihak yang telah terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan buku ini, dan terlebih kepada para guru jurnalistik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis.


Beliau-beliau adalah Bapak Anwar Djaelani (Penulis buku “50 Pendakwah Pengubah Sejarah”),  Bapak Cholis Akbar (Pimpinan redaksi www.hidayatullah.com), Bapak Imam Nawawi (Pimpinan redaksi majalah Mulia), Bapak Mahmud Thorif (Pimpinan redaksi majalah Fahma dan www.majalahfahma.com), Bapak Syaiful Anshor (Penulis Buku Sakinah Menuju Jannah), Ibu Umaya Khusniah (Jurnalis Majalah Gatra), Bapak Abdus Syakur (Jurnalis Majalah Suara Hidayatullah).

Semoga hadirnya buku kecil ini bermanfaat pada semua generasi muslim, penerus perjuangan Islam dan menjadi amal jariyah bagi penulis beserta para guru yang telah membimbing. Amin


Surabaya, 01 Januari 2018

Subliyanto

 
SUBLIYANTO.ID © 2018 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum