Ceria Bersama Mereka dengan BerQurban

Rabu, 17 Juli 2019 0 komentar

Keceriaan yang kita rasakan merupakan anugrah dari Allah, Tuhan yang maha Rahman dan Rahim. Tentu hal itu harus kita syukuri sebagai tanda terimakasih kepada-Nya.

Salah satu wujud syukur yang bisa kita lakukan adalah dengan berbagi keceriaan yang kita rasakan dengan saudara-saudara kita.

Maka pada momentum menjelang Hari Raya 'Idul Adha 1440 H mendatang, merupakan kesempatan bagi kita untuk berbagi keceriaan dengan saudara-saudara kita dengan berQurban.

Untuk itu subliyanto.id berinisiasi untuk memanggil para dermawan muslim dimanapun berada untuk berbagi keceriaan dengan masyarakat, khusunya mereka yang berada di pelosok Desa dengan menyalurkan Qurban kepada mereka.

Setetes senyum kebahagiaan yang kita berikan kepada mereka yang membutuhkan, merupakan tabungan amal kebaikan yang kita tanam yang kelak akan kita panen.

Membangun Integrasi Pemahaman antara Aparatur Desa dan Masyarakat Desa

Minggu, 14 Juli 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan pesta demokrasi tingkat Desa, berupa pemilihan Kepala Desa secara serentak yang akan diselenggarakan di beberapa Kabupaten. Tentu momen ini merupakan momen yang sangat berharga bagi masyarakat Desa untuk masa depan Desanya. Adalah sebuah rumus bahwa kemakmuran sebuah Desa juga ditentukan oleh pemimpinnya.

Maka dalam sistem demokrasi memilah dan memilih serta menentukan pimpinan sangatlah penting bagi masyarakat Desa. Juga adalah sebuah kewajaran dalam demokrasi tentang perbedaan pilihan. Hanyalah kesadaran dalam berdemokrasi yang dapat menerima arti sebuah perbedaan. Maka menyatukan pemahaman konseptual merupakan solusi untuk tercapainya sebuah visi bersama dalam hidup berbangsa dan bernegara, kendatipun dalam lingkup kecil bernama Desa.

Membahas hal tersebut, dalam sebuah kepemimpinan, kemampuan manajerial serta pola pikir yang visioner juga sangat dibutuhkan oleh para calon kepala Desa yang maju dalam kontestasi pemilu kades yang sudah berada didepan mata. Ketajaman analisis SWOT dibutuhkan untuk memajukan sebuah tata kelola kehidupan di Desa. Sehingga dengan analisa tersebut dapat dilakukan pembenahan pada sektor-sektor yang yang perlu dibenahi. Dengan hal itu pula dapat dikembangkan sektor-sektor yang menjadi nilai unggulan dari sebuah Desa.

Adanya Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Desa dan yang terkait di dalamnya merupakan sebuah upaya agar Desa-desa di Indonesia maju dalam segala aspek kehidupannya. Maka tentu hal itu merupakan tanggung jawab besar agar dapat dikelola dengan baik oleh aparatur Desa sesuai dengan tupoksi dan juklak serta juknis yang telah ditentukan. Sehingga dengan demikian diharapkan kemakmuran sebuah Desa dapat dirasakan oleh masyarakat sesuai dengan yang diharapkan.  

Namun demikian, percaturan politik tingkat Daerah dan Desa yang terjadi di lapangan kadang dapat merubah suasana. Sehingga tidak jarang ditemukan nilai-nilai yang bersifat ketidak adilan dalam implementasinya. Memang konsep adil tidak harus sama, akan tetapi mendudukkan sesuatu sesuai kursinya. Terkait fenomena itu, rakyat Desa hanya bisa mengeluh begitu saja, karena kelantangan suaranya tidak terjangkau oleh frekuensi pendengaran Pemerintah, atau suara mereka didengar namun di skip sampai waktu yang tidak ditentukan. Efeknya adalah suara-suara liar yang tidak pada jalur frekuensinya.

Sejatinya, pengamalan dari Peraturan Pemerintah pusat menjelaskan bahwa Pemerintah Desa merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah pusat, yang berada di bawah monitoring dan kontrol Pemerintah Daerah setempat. Artinya bahwa Pemerintah Desa adalah pelaksana teknis kebijakan-kebijakan Pemerintah pusat yang di layangkan secara instruktif melalui Pemerintah Wilayah dan Pemerintah Daerah sehingga pedoman pelaksanaannya adalah peraturan perundang-undangan. Jika demikian yang menjadi kesadaran pemahaman konseptualnya, maka rumusan program Pemerintah pusat yang bersifat universal itu akan menjadikan Desa-desa yang ada sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Kendatipun tetap harus dan terus dilakukan perbaikan guna mencapai kesempurnaan.

Tentu hal ini menjadi harapan semua masyarakat Desa. Maka ketajaman konseptual manajerial para Kepala Desa, dan calon Kepala Desa di kontestasi politik yang akan datang dalam menterjemahkan kebijakan-kebijakan Pemerintah pusat sangatlah penting. Demikian juga pemahaman masyarakat Desa yang berada di era transparansi yang didukung dengan canggihnya informasi dan teknologi juga penting guna membuka wawasan keilmuan, sehingga dapat membuka pola pikir masyarakat yang lebih luas dan cerdas.

Jika integrasi pemahaman antara aparatur Desa dan masyarakat Desa tentang hakikat Pemerintahan Desa sudah terbangun maka sistem check and balance dalam sistem Pemerintahanpun akan terbangun dengan sehat. Dan dalam mewujudkan kemajuan Desa dapat dilakukan secara bersama-sama tanpa adanya dominasi kepentingan-kepentingan tertentu, baik secara pribadi maupun secara kelompok. Sulit adalah hal yang pasti, lebih sulit lagi jika kita tidak memulai mengatasi kesulitan-kesulitan yang kita temui. []

*Penulis adalah warga Desa Kadur Pamekasan

Membangun Sinergi antara Lembaga Pendidikan dengan Media Massa

Rabu, 10 Juli 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto

Lembaga pendidikan dan amal usaha di bawahnya berupa sekolah beserta jenjang di dalamnya merupakan tempat diselenggarakannya proses pendidikan. Dimana pendidikan itu sendiri menurut Dr. Zamroni dalam bukunya "Paradigma Pendidikan Masa Depan", adalah pengembangan seluruh aspek dalam kehidupan manusia, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Dalam perannya, lembaga pendidikan mempunyai peran penting untuk meningkatkan kualitas prosesornya, baik prosesor bergerak dalam hal ini sumber daya manusia (SDM), maupun prosesor tidak bergerak berupa sarana dan prasarananya guna tercapainya tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, yaitu :

"Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Seiring dengan terus berkembang dan majunya peran Media Informasi dan Teknologi (IT) saat ini, sudah menjadi kewajiban bagi lembaga pendidikan untuk terus melakukan upgrading manajemen pelayanan pendidikan secara berimbang guna meningkatkan kualitas pendidikan, baik di internal maupun eksternal.

Secara internal, lembaga pendidikan perlu kiranya untuk terus melakukan update sistem proses dan pelayanan pendidikan. Hal itu salah satunya dapat dilakukan dengan studi banding pada lembaga-lembaga pendidikan yang sudah dinilai maju, khusunya lembaga pendidikan yang sudah ditunjuk untuk dijadikan kiblat pendidikan (pilot project) oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia. Sehingga dengan demikian ketertinggalan dalam berbagai aspek di lembaga pendidikan dapat dibenahi.

Kemudian secara eksternal, lembaga pendidikan juga perlu membangun sinergi dengan media massa sebagai corong informasi dan aspirasi, untuk melakukan publikasi pendidikan, baik berupa informasi kegiatan, prestasi, maupun publikasi karya ilmiyah guru dan murid di lembaga pendidikan. Hal itu dapat dilakukan dengan upaya membangun budaya literasi di lembaga pendidikan di kalangan pendidik dan tenaga kependidikan serta para muridnya. Karena budaya literasi, baik berupa jurnalisme maupun opini publik perlu dilatih dan dimulai sejak dini.

Karena media massa merupakan salah satu wadah tersampaikannya informasi yang keberadaannya berjalan di atas koredor undang-undang di bawah kontrol Kementerian Komunikasi dan Informasi, yang salah satu tujuannya adalah juga untuk mencerdaskan anak bangsa. Maka menjadikannya sebagai mitra merupakan hal yang strategis untuk mendukung perkembangan dan kemajuan semua segmen kehidupan, termasuk segmen dalam bidang pendidikan. Sehingga dengan adanya sinergitas antara lembaga pendidikan dan media massa akan terjadi hubungan simbiosis mutualisme antara keduanya. Dengan demikian visi menuju pendidikan yang unggul  dan berkualitas dapat teratasi secara bersama-sama dan berkesinambungan.

Peran dan pengaruh media sangat penting dan sangat besar kontribusinya dalam memberi perubahan suatu bangsa menuju arah yang lebih baik. Dengan media massa kita dapat menyampaikan informasi dan aspirasi tentang perkembangan dan kemajuan pendidikan. Apalagi di era demokrasi dan transparansi saat ini, kebebasan menyuarakan aspirasi tidaklah mudah untuk di dengar, dan ditindaklanjuti. Maka dengan adanya sinergitas antara lembaga pendidikan dengan media massa merupakan bagian dari solusi untuk menfasilitasi informasi pendidikan. 

Namun demikian, memang tidak semua media massa dapat menampung harapan itu. Media akan bergerak sesuai tartib baku yang telah dimilikinya. Karena hal itu juga merupakan bagian dari pola edukasi. Sehingga untuk solusi hal tersebut, sekolah perlu mengaktifkan media resmi internal lembaga pendidikan dan mencetak jurnalis pendidikan sebagai wadah skala kecil dalam mempublikasikan informasi pendidikan dan yang terkait didalamnya.

Maka dengan konsep edukasi itu yang dilakukan secara konsisten dapat menunjang dan mempermudah terjalinnya komunikasi dan kerja sama dengan media massa yang skalanya lebih besar dan jangkauannya lebih luas. Semoga uraian konsep ini dapat menjadi tambahan amunisi untuk kemajuan pendidikan. []

Mengenal Kandungan Gizi dan Manfaat Umbi Garut

Senin, 08 Juli 2019 0 komentar


Kandungan Gizi Umbi Garut
Memiliki energi sebesar 65 kcal per 100 gramnya (rendah kalori) dengan porsi karbohidrat 13.399. protein berkisar 4.249, lemak tak jenuh ganda 0,20 gr, kolesterol 0, serat kasar 1,3 gram, bebas gluten (boleh dikonsumsi oleh penderita gejala diabetes dan celiac), folat didalam 100 gramnya terdapat 398 gr, vitamin C 1.9 mg, vitamin A 19IU, vitamin B kompleknya lengkap misalnya riboflavin, piridokson, niacin, asam pantotenat, thiamin, mineral lengkap yang terdiri dari fosfor, magnesium , kalium, kalsium, tembaga, seng, besi. 
Pesan Sagu Garut : 085225264224
Manfaat Umbi Garut
1. Sebagai sumber tenaga
Mengandung karbohidrat yang dapat menghindari tubuh terserang kelelahan akibat rutinitas pekerjaan. energi dalam tubuh akan tercukupi dalam satu hari karena umbi garut didukung dengan adanya kndungan mineraal yang lengkap.
2. Menyembuhkan pembengkakan
Sari patinya Mengandung zat mineral lengkap dan bebas gluten yang dapat menyembuhkan pembengkakan akibat sengatan lebah, kalajengking dan gigitan ular. 
3. Meningkatkan kualitas ASI
Sari patinya memiliki nutrisi lengkap yang dibutuhkan tubuh ibu sehingga produksi ASInya semakin banyak dan melimpah .kyalitas ASInyapun semakin meningkat jika ibu mengkonsumsi umbi garuyt secar teratur setiap hari.
4. Mencegah dan mengobati penyakit wasir
Nutrisi yang ada padaa umbi garut dapat melancarkan peredaran darah seputar panggul , usus dan menyehatkan dinding anus, sehingga penyakit wasir dapat disembuhkan dengan berkala tetapi secara sistematik dengan mengkonsumsi umbi garut secar teratur.

Pesan Sagu Garut : 085225264224
5. Mengobati diare dan memadatkan feses
Zat mineral dan vitaminnya mampu memadatkan feses secara sistematik dan menyehatkan anus serta menormalkan proses cerna makanan selam berada didalam usus sehingga dapat menyembuhkan gejala diare.
6. Mencegah sembelit (susah buang air besar)
Kandungan vitamin B kompleknya dan sert yang tinggi dapat mencegah sembelit dan rasa tidak nyaman bagi perut. 
7. Meningkatkan kesehatan pencernaan dan meningkatkan kualitas enzim
Serat yang tinggi mampu menjaga kesehatn pencernaan agar tertap bekerja dengan baik daan melindungi semua enzim pencernaan dari serangan bakteri atau racun yang dihasilkan dari makanan.
8. Memperbaiki sel sel otak dan meningkatkan kecerdasan anak anak
Nutrisi lengkapnya dapaat memperbaiki sel sel otaj agar semakin tajam dan baik dan mempunyai kemampuan dalam menganalisa pesan yang disampaikaan tubuh lewat visual. 
9. Melancarkan peredaran darah seluruh tubuh
Nutrisi yang ada padaa umbi garut dapat melancarkan peredaran darah diseluruh tubuh sehingga kesehataan organ tubh dapat tetap terjaga. 
10. Meningkatkan imunitas tubuh (kekebalan tubuh)
Vitamin Cnya dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan anti inflamasinya mampu mernghalau radikal bebas yang daapat merusak jaringan kulit.

Pesan Sagu Garut : 085225264224
11. Menyembuhkan luka terbuka dan jahitan akibat operasi dengan cepat
Nutrisi lengkapnya yang didukung dengan zat mineral yang kompilt lebih dari cukup untuk menolong sebuah luka atau peradangan untuk cepat mengering dan mempercepat penyembuhan.
12. Menghilangkan mual, mulas dan sakit perut
Ras tidak nyaman padaa perut dapat mempengaruhi aktifiatas sehari hari, untuk menghilangkan ras mual atau sakit perut dapat mengkonsumsi umbi garut pengganti nasi putih jika mermang ketersediaan nasi tidak ada. karbohidratnya mampu menyembuhkan rasa mual yang mengganggu. 
13. Sebagai pemadat dan pengental menu makanan
Sari pati umbi garut yang telah menjadi tepung jelarut dapat digunakan untuk pengentalan makana sehingga dapat dibuat menjadi berbagai macam kue dengan bentuk yang bervariasi.
14. Sebagai pakan ternak (kerbau, sapi dan domba/kambing)
Sari pati umbi garut atau yang telah melewati proses perubahan menjadi tepung jelarut mengandung nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan kesehatn  hewan ternak.. umbi garut dapat dijadika pakan  ternak yang bermanfaat meningkatkan produksi susu pada sapi perah dan meningkatkan kyalitas daging untuk kernbau dan kambing atau domba. 
15. Sebagai bahan campuran pembuatan kertas
Dapat sebagai bahan baku pembuatan kertas yang sebelumnya dicampur dengan bahn lain yaang kemudian dapt menghasilkan produksi kertas yang berkualitas yang kini sering digunakan untuk kebutuhan masyarakat luas.

Pesan Sagu Garut : 085225264224
16. Sebagai bahan baku pembuatan kosmetik terutama bedak
Sari patinya yang mengaandung nutrisi dapat dijaadukan bahan baaku pembuatan bedak yang bermanfaat untuk mengahaluskan dan menjaga kelembaban kulit. 
17. Dapat sebagai penghias taman kota dan pekarangan rumah
Tumbuhan umbi garut adalah tumbuhan yang memiliki tampilan fisik yang indah dan cantik sehingga lebih cocok disebut sebagai tanaaman hias . sosoknya dapat menyegarkan pandangan dan meningkatkan keindaahan teras rumah atau taman kota. 
18. Sebagai cadangan makanan saat tubuh tidak fit atau terserang kelelahan
Sari patinya mengandung vitamin B komplek dan mineral lengkap yaang sangat baik untuk orang orang yang sedang sakit dan tidak nafsu makan atau tubuh dalam keadaan kurang fit. nutrisi lengkapnya mampu mermenuhi kebutuhan gizi harian agar tubuh dapat kembali bugar dan berstamina.
Yang perlu anda ketahui tentang umbi garut
  • Umbi garut yang telah dibuat menjadi tepung jelarut dapat ditambahkan pada makanan bayi dan susu fomulanya karena zat karbohidratnya bersifat lunak dan mudah dicerna.
  • Umbi garut cenderung dipakai untuyk pengentakan dan pemadatan dalam proses pembuatan makanan dan berbagai jenis kue kering misalnya sagu garut atau keripik garut.
  • Umbi garut dapat dijadikan bahan baku yang ramah lingkungan yaitu untuyk kebutuhan produksi pembuatan kosmetik, pembuatan lem dan sebagai extender pada perekat sintesis
  • Umbi garut dapat menjadi makanan untuk penderita diabetes karena memiliki kandungan indeks glisemik yang sangat rendah jadi tidak mempengaruhi gula darah sama sekali bahkan dapat menetralkan gula darah dan memberi rasa kenyang dengan durasi waktu yang cukup lama pada lambung tanpa mengusik maag.
  • Umbi garut sangat unik karena memiliki zat yang dapat bertindak sebagai anti racun, anti inflamasi , antgiseptik alami yang ampuh dan bersifat menyembuhkan bagi luka dab peradangana atau pembengkakan yang disebabkan oleh sengatan lebah, gigitan kalajengking dan gigitan ular berbisa.
  • Umbi garut sangat cocok dikonsumsi oleh anak anak, lansia dan orang orang yang sedang menjalani masa penyembuhan akibatbedah operasi dan orang orang mengalami kelelahan luar biasa. Umbi garut aman daan bernutrisi serta mempunyai sifat mendindinkan sehingga cocok bagi ulu hati anak anak agar terhindar dari rasa mual .
*Sumber : halosehat.com

Pesan Sagu Garut : 085225264224

Wacana Penghapusan Pelajaran Agama Mencederai Nilai-nilai Perjuangan Kemerdekaan

Minggu, 07 Juli 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Pendidikan merupakan pintu utama kemajuan sebuah bangsa. Dengan pendidikan, aspek kehidupan manusia akan tumbuh dan berkembang, baik secara aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Maka tujuan utama dari pendidikan adalah menjadikan manusia yang baik (Shaleh) dalam lingkup tiga hal, yaitu baik karakternya (aspek afektif), baik dan luas wawasannya (aspek kognitif), dan baik dalam kehidupan sosialnya (aspek psikomotorik).

Tugas utama mendidik adalah orang tua, namun demikian tidak semua orang tua mempunyai kecakapan yang komplit dalam bidang yang dapat memenuhi tiga unsur kehidupan manusia. Maka membutuhkan pihak ketiga dalam membantu mendidik anak-anaknya. Sehingga lahirlah lembaga pendidikan bernama sekolah yang di dalamnya terdapat sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai kompetensi pada bidang masing-masing. Kemudian dalam penerapannya dicover dengan konsep bermama kurikulum.

Dalam definisinya kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa, serta rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru dan sejumlah pembelajaran belajar yang harus dilakukan oleh siswa. Kurikulum merupakan unsur penting dalam setiap bentuk dan model pendidikan. Sejalan dengan perkembangan pendidikan yang terus meningkat 
pada semua jenis dan jenjang pendidikan di Indonesia, maka secara formal, kurikulum sejak zaman Belanda sudah diterapkan di sekolah, artinya kurikulum juga sudah ada.

Membahas tentang pendidikan, pada 04 Juli 2019 terdapat informasi yang cukup menjadi sorotan publik. Dikutip dari laman berita www.jpnn.com (04/07/2019), Praktisi Pendidikan Setyono Djuandi Darmono mengatakan, pendidikan agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru agama di luar sekolah. Hal itu disampaikan Darmono usai bedah bukunya yang ke-6 berjudul Bringing Civilizations Together di Jakarta, Kamis (4/7). MenurutnyaTanpa disadari, sekolah sudah menciptakan perpecahan di kalangan siswa. Mestinya, siswa-siswa itu tidak perlu dipisah dan itu bisa dilakukan kalau mapel agama ditiadakan. Dan sebagai gantinya, mapel budi pekerti yang diperkuat. Dengan demikian sikap toleransi siswa lebih menonjol dan rasa kebinekaan makin kuat.

Tentu wacana hal tersebut membuat para pelaku pendidikan resah, termasuk kita sebagai orang tua, bahkan para politisipun angkat bicara menanggapi hal tersebut dan cukup menghiasi pemberitaan media beberapa hari ini. Terlepas dari prokontra hal itu, lantas kapan sebetulnya pelajaran agama masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia ?

Fitri Wahyuni dalam jurnalnya yang berjudul "Kurikulum dari Masa ke Masa" menjelaskan bahwa dalam kajian sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia disebutkan bahwa perkembangan kurikulum di klasifikasikan pada dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan, dan periode sesudah kemerdekaan. 

Sejarah perkembangan kurikulum pada masa periode sebelum kemerdekaan atau masa penjajahan, yaitu sejak datangnya orang-orang Eropa yaitu pada masa kompeni Belanda dan masa pemerintahan Jepang sampai periode kemerdekaan. Kurikulum pada masa kompeni mempunyai misi penyebaran agama dan untuk mempermudah pelaksanaan perdagangan di Indonesia. Pada abad 16 dan 17 berdirilah lembaga-lembaga pendidikan dalam upaya penyebaran agama Kristen di Indonesia, pendidikan tersebut untuk bangsa Belanda dan pribumi. Dengan adanya lembaga pendidikan tersebut pihak kompeni merasakan perlunya pegawai rendahan yang dapat membaca dan menulis. Sementara pada masa Jepang, perkembangan pendidikan mempunyai arti tersendiri bagi bangsa Indonesia yaitu terjadinya keruntuhan sistem pemerintahan kolonial Belanda. Tujuan utamanya pendidikan pada masa pendudukan Jepang adalah untuk memenangkan perang. Pada masa ini munculah sekolah rakyat yang disebut Kokumin Gako selama 6 tahun lamanya, selanjutnya pelajaran berbau Belanda dihilangkan dan Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar.

Kemudian pada periode sesudah kemerdekaan, kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Asas pendidikan yang ditetapkan adalah Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya 
memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya.

Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. 

Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas 1.

Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakap-cakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari, bagaimana 
mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa, timbangan, manfaat besi berani), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik. 

Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal 
dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran”. 

Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.

Dari kajian sejarah di atas dapat disimpulkan bahwa pelajaran agama dalam konsep pendidikan di Indonesia sudah ada sejak bangsa ini merdeka yang dirancang dan ditetapkan dengan asas Pancasila. Sehingga sangat disayangkan jika muncul wacana pelajaran agama dihilangkan sebagaimana disampaikan oleh Praktisi Pendidikan Setyono Djuandi Darmono. Dengan kata lain, jika hal itu dilakukan dapat mencederai nilai-nilai perjuangan kemerdekaan Indonesia. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah pendidik non formal asal Kadur Pamekasan, praktisi pendidikan di Sleman Yogyakarta 2011-2015, praktisi pendidikan di Gresik 2016-2018
https://limadetik.com/opini-wacana-penghapusan-pendidikan-agama-mencederai-nilai-nilai-perjuangan-kemerdekaan/

Ketika Lansia Jauh di Mata

Sabtu, 06 Juli 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Diantara tugas pokok manusia adalah tugas sosial. Dimana tugas tersebut merupakan bagian dari bentuk aplikatif hakikat manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Sehingga harus dan terus diupayakan dan dilakukan. Dan salah satu dari tugas sosial adalah peduli pada penduduk lanjut usia (lansia) dengan memberinya bantuan.

Dikutip dari laman kabarmadura.id(Selasa, 02/07/2019), bahwa Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan sudah tidak mampu lagi memprogramkan bantuan penduduk lanjut usia (lansia), dengan alasan yang tidak disebutkan secara lebih rinci. 

Terlepas dari apapun faktornya, tentu kabar ini menjadi informasi yang miris bagi semuanya, terlebih bagi para dermawan yang punya hati lapang dan suka berinvestasi kebaikan dalam bentuk kepedulian sosial, karena tugas sosial keummatan adalah tugas kita semuanya, baik secara personal maupun secara kelompok, terlebih instansi pemerintah. Sehingga program tersebut harus menjadi program yang terus ada.

Bagi personal mungkin tidak ada batasan ruang dan waktu, namun bagi lembaga-lembaga sosial dan instansi-instansi pemerintah tentu adanya batasan baik berupa jumlah penduduk maupun jumlah anggaran adalah sebuah kewajaran, karena sudah tentu semua pihak akan bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing.

Yang memiliki peluang tidak terbatas dalam hal tersebut adalah secara personal. Dan akan lebih kelihatan indah jika person-person yang dermawan dan memiliki jiwa empati tinggi apabila terorganisir dengan baik, sehingga program peduli sosial, termasuk di dalamnya peduli pada penduduk lansia akan menjadi program yang berkesinambungan, dan menjadi kampanye ladang kebaikan bagi yang lainnya.

Peran pemerintah, tentu juga menjadi penting dan bahkan utama, sebagai wujud adanya pemerintahan di suatu bangsa, dari pusat hingga derah, karena pemerintah merupakan ayah dari sebuah bangsa, maka peduli pada keadaan rakyatnya merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan sebagaimana peran Umar ketika menjadi khalifah.

Sebagi pelengkap tulisan ini berikut penulis sematkan kisah peran Khalifah Umar, sebagai kisah hikmah yang penuh dengan ibrah. Semoga dengan kisah ini dapat menumbuhkan jiwa kepedulian sosial bagi kita semua.

Dikisahkan suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah. Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan. Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang wanita dewasa tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Kemudian setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh wanita itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi.

"Siapa yang menangis di dalam itu?" tanya Khalifah Umar.

"Anakku," jawab wanita itu dengan agak ketus.

"Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?" tanya Khalifah selanjutnya.

"Tidak, mereka lapar," balas wanita itu.

Jawaban itu membuat Khalifah Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih terduduk di tempat semula cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan ibunya terus saja mengaduk bejana.

Perbuatan wanita itu membuat Khalifah Umar penasaran. "Apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?" tanya Khalifah.

"Kau lihatlah sendiri!" jawab wanita itu.

Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka kaget melihat isi bejana itu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata wanita itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap wanita itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut wanita itu.

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Tanpa mempedulikan rasa lelah, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah.

"Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam.

"Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal wanita itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.[]

*Penulis adalah pendidik non formal asal Kadur Pamekasan

Kemuliaan Seorang Hakim dan Sikap Seorang Negarawan

Rabu, 03 Juli 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*  

Indonesia baru saja menyelesaikan proses puncak pesta demokrasi dengan mengadili sengketa pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). Dari proses persidangan yang cukup panjang alhasil ditetapkan putusan dengan menolak semua gugatan pemohon. Dengan kata lain Indonesia pada periode 2019-2024 akan dipimpin oleh Bapak Joko Widodo, dan didampingi oleh KH. Makruf Amin sebagi wakilnya.

Mengingat Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan pintu terakhir dalam proses pemilu, maka berdasarkan kesadaran semua pihak menerima hasil putusannya dengan legowo, karena putusan tersebut bersifat final dan mengikat. Namun demikian, berbagai komentar tetap bermunculan dari masing-masing pendukung paslon di berbagai sosial media. Dan hal tersebut adalah sebuah kewajaran terjadi dalam setiap persoalan kehidupan.

Hakim mempunyai kedudukan yang mulia dalam perannya mengadili dan memutuskan sebuah perkara. Karena mendudukkan sebuah perkara yang bersifat sengketa harus mengkajinya dengan penuh seksama dari berbagai macam sudut pandang yang hingga akhirnya melahirkan dan ditetapkan sebuah putusan. Maka tidak heran jika dalam konsep Islam ikhtiyar hakim mendapatkan apresiasi yang tinggi, bahkan ketika salah sekalipun dalam memberi keputusan. 

“Apabila seorang hakim berijtihad, lalu dia benar, dia memperoleh dua pahala. Dan jika seorang hakim berijtihad, dan ternyata keliru, dia mendapat satu pahala.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sudah menjadi mafhum bahwa hakim menilai yang tampak dari setiap persoalan yang diadukan, dengan pengertian dominasi akurasi nilai bukti-bukti yang menjadi kajian dan pertimbangan dengan berdasar pada undang-undang. Sehingga akhirnya dapat diambil sebuah kesimpulan dan ditetapkan sebuah keputusan. 

Maka adalah tugas yang berat dan mulia yang berada di pundak hakim. Berat, karena bisa jadi putusannya tidak memuaskan salah satu pihak. Mulia, karena putusannya dengan merujuk pada pedoman-pedoman baku yang dilaksanakan secara prosedural adalah bagian dari upaya menegakkan keadilan dan kebijaksanaan.

Sebagai manusia biasa, tentu tidak ada yang sempurna. Namun bagi manusia beriman juga akan sadar bahwa hakim yang hakiki adalah Allah subhanahu wa ta'ala, yang akan mengadili setiap hamba-Nya kelak. Hal itu perlu terbangun pada pola pikir seorang muslim. Dan jika demikian yang sudah terbangun dalam pola pikir seorang muslim, maka akan selalu siap dalam menerima setiap keputusan sekalipun pahit dirasakan.

Semua produk manusia tidak akan pernah sempurna walaupun sudah diupayakan secara maksimal prosesnya. Dan itulah bagian dari keterbatasan manusia dalam segala aspek hidup dan kehidupannya yang sudah menjadi kodrat yang melekat pada pribadinya. Sehingga dengan adanya kesadaran prinsip ini dapat memperkuat jalinan persaudaraan, persatuan dan kesatuan, yang mungkin selama ini sempat dibatasi oleh garis dalam kancah perpolitikan.

"Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada adalah 03, persatuan Indonesia"

Demikian kata Jokowi dalam pidatonya pasca putusan hasil sengketa pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). Begitu juga dengan Sandiaga Uno dalam cuitan di akun twitternya, Sandi berpesan :

"Kepada seluruh pendukung, mari kita tidak berkecil hati. Kita tetap tegar, tetap penuh dengan cita-cita mulia, tapi selalu dalam kerangka damai, anti kekerasan, dan setia pada konstitusi. Kita harus memikirkan kepentingan yang lebih besar, yakni keutuhan bangsa dan negara".

Setidaknya, pesan dua tokoh di atas dapat mendinginkan suasana, dan mengajak membangun Indonesia bersama-sama. Semoga dengan ulasan pena singkat ini dapat memperkuat persatuan, sebagaimana menyatunya air, pasir, krikil, dan semen yang akhirnya menjadi bangunan yang kokoh sebagai pilar bangsa dan negara tercinta, Indonesia. [] 

Pendidikan : Sistem Zonasi Jawaban dari Ketimpangan Pendidikan

Rabu, 26 Juni 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*
Dalam dunia pendidikan, beberapa hari ini ramai diperbincangkan seputar pro-kontra sistem zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB). Dikutip dari tribunnews.com, bahwa sistem zonasi pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 dianggap merugikan dan tidak adil oleh para orang tua. Tak hanya itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bahkan dinilai melanggar Undang-undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (tribunnews.com, 19/06/2019).

Berbincang hal itu, kita coba kembali buka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik 
Baru pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Kejuruan, atau Bentuk Lain yang Sederajat. Dimana, peraturan tersebut pada bagian keempat "Sistem Zonasi" Pasal 16 berbunyi :

(1) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah 
wajib menerima calon peserta didik yang berdomisili pada 
radius zona terdekat dari Sekolah paling sedikit sebesar 
90% (sembilan puluh persen) dari total jumlah 
keseluruhan peserta didik yang diterima.
(2) Domisili calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada 
ayat (1) berdasarkan alamat pada kartu keluarga yang 
diterbitkan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum 
pelaksanaan PPDB.
(3) Radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat 
(1) ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan 
kondisi di daerah tersebut berdasarkan:
a. ketersediaan anak usia Sekolah di daerah tersebut; 
dan
b. jumlah ketersediaan daya tampung dalam rombongan 
belajar pada masing-masing Sekolah.
(4) Dalam menetapkan radius zona sebagaimana dimaksud 
pada ayat (3), pemerintah daerah melibatkan
musyawarah/kelompok kerja kepala Sekolah.
(5) Bagi Sekolah yang berada di daerah perbatasan 
provinsi/kabupaten/kota, ketentuan persentase dan 
radius zona terdekat sebagaimana dimaksud pada ayat 
(1) dapat diterapkan melalui kesepakatan secara tertulis 
antarpemerintah daerah yang saling berbatasan.
(6) Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah 
dapat menerima calon peserta didik melalui:
a. jalur prestasi yang berdomisili diluar radius zona 
terdekat dari Sekolah paling banyak 5% (lima 
persen) dari total jumlah keseluruhan peserta didik 
yang diterima; dan
b. jalur bagi calon peserta didik yang berdomisili diluar 
zona terdekat dari Sekolah dengan alasan khusus 
meliputi perpindahan domisili orangtua/wali peserta didik atau terjadi bencana alam/sosial, paling 
banyak 5% (lima persen) dari total jumlah 
keseluruhan peserta didik yang diterima.

Dari perturan tersebut dapat kita lihat bahwa basic kebijakan tersebut berpijak pada "Zona" calon peserta didik berdasarkan pada alamat calon peserta didik. Yang artinya menurut hemat penulis merupakan bagian dari upaya pemerataan pendidikan bagi masyarakat, sekaligus menjadi jawaban pada klasterisasi pendidikan yang jamak terjadi pada saat ini, yang dalam istilah dalam buku "Paradigma Pendidikan  Masa Depan" yang ditulis oleh Dr. Zamroni disebut dengan istilah "Ketimpangan Pendidikan".

Dalam mengatasi ketimpangan pendidikan ini, menurut Mark Griffin dan Margaret Matten, peneliti pendidikan berkebangsaan Australia, dalam bukunya "Equity in School : An Independent Perspective" terdapat dua aspek penting dalam mengkaji ketimpangan di dunia pendidikan. Pertama, wujud ketimpangan, yang dalam hal ini dapat terjadi ketimpangan dalam wujud input, yakni kesempatan untuk memperoleh kualitas, atau ketimpangan dalam wujud output atau hasil pendidikan, yakni berdasarkan pada kualitas lulusan peserta didik yang hal ini berupa nilai akhir ujian. Kedua, ketimpangan pada level kelompok, yang pada poin ini berdasarkan basic peserta didik. Seperti letak geografis asal peserta didik, latar belakang ekonomi, dan jenis kelamin.

Dalam wajah pendidikan di Indonesia, dalam mengatasi ketimpangan pendidikan, kedua aspek yang dikemukaan Mark Griffin dan Margaret Matten di atas, sejauh pengamatan penulis, sudah dan sedang diterapkan, termasuk poin yang menjadi tranding topic beberapa hari ini, yaitu "Sistem Zonasi PPDB". Tentu semua itu sebagai upaya yang berkesinambungan dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Walaupun juga tidak dinafikan bahwa capaiannya belum maksimal. Maka disinilah perlunya pemahaman bagi para praktisi pendidikan, termasuk bagi para orang tua murid.

Bagi para orang tua murid dalam hal "Sistem Zonasi PPDB" saat ini, kalau ditinjau dari sisi parenting, hemat penulis sangat baik, karena dapat membantu pola asuh orang tua dalam memonitor kegiatan putra-putrinya. Sehingga nilai efisiensi dan efektifitasnya sangat relevan dalam perannya sebagai orang tua. Adapun aspek prestasi tentu menjadi harapan semua pihak. Maka hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama, termasuk para pengelola pendidikan, baik pemerintah maupun para guru untuk terus melakukan manajemen dan yang terkait di dalamnya, baik terkait SDM, dalam hal ini tenaga pendidik dan kependidikan, maupun sarana dan prasarana yang dapat menunjang prestasi murid. 

Pada poin ini (prestasi), seorang sosiolog bernama James Coleman dalam risetnya "Equality of Educational Opportunity" sebagaimana dikutip oleh Dr. Zamroni, menjelaskan bahwa memang menemukan adanya realitas ketimpangan output pendidikan dalam kaitannya dengan ketimpangan input pada level klompok di Amerika Serikat. Namun, hanya sekitar 10% varian ketimpangan output yang dapat dijelaskan oleh ketimpangan input. Artinya, ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio guru-siswa, dan kualitas guru, hanya memberikan kontribusi kecil dalam menimbulkan ketimpangan output. Dengan kata lain, penyumbang terbesar pada prestasi anak adalah keluarga dalam hal ini orang tua.

Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang tua mempunyai peran penting dalam mendidik putra-putrinya, guna tercapainya tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, yaitu, "Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."

Semoga catatan ini menjadi sumbangsih pemikiran bagi para orang tua dan semua praktisi pendidikan. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah pendidik non formal dan penggiat literasi asal Kadur Pamekasan
https://limadetik.com/pendidikan-sistem-zonasi-jawaban-dari-ketimpangan-pendidikan/

Pentingnya Perpustakaan dalam Rumah

Selasa, 18 Juni 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Libur idul Fitri 1440 H sudah usai, saatnya generasi pelajar kembali belajar di sekolah masing-masing. Dalam piramida pendidikan, sekolah merupakan tempat kedua bagi para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dan rumahlah tempat pendidikan pertama, serta ketiga adalah lingkungan di sekitarnya. Kualitas dari ketiganya tidak bisa dipisahkan guna melahirkan generasi yang berkualitas. Dari ketiganya, yang tak kalah pentingnya adalah rumah.

Rumah merupakan pusat pendidikan pertama dan utama dalam kehidupan manusia. Setiap rumah dan isinya akan menjadi layar utama kaitannya dengan pendidikan anak. Karenanya, nuansa isi rumah harus mendidik dan mencerminkan pendidikan khusunya kepada anak generasi bangsa.

Dan jika rumah merupakan pendidikan pertama dan utama, maka orang tua adalah guru besar di dalamnya. Sehingga gerak-geriknya menjadi potret dan cerminan bagi anak-anaknya, yang disadari atau tidak akan dicontoh oleh mereka. Tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku orang tua, namun nuansa ornamen rumah juga penting untuk mendukung pandangan masa depan anak menuju masa depannya. 

Apabila isi hiasan rumah hanyalah ornamen material semata, maka secara tidak langsung orang tua telah mengajarkan pandangan anak-anaknya pada pola hidonisme-materialisme semata. Dari itu, yang utama adalah menghiasi rumah dan isinya dengan ilmu dan nuansa keilmuan. Dan salah satunya adalah dengan menghiasinya dengan perpustakaan pribadi di rumah.

Dalam buku "Prophetic Parenting", peran perpustakaan pribadi diingatkan oleh ay-Syahid dalam risalahnya "Anja'ul Wasa'il fi Tarbiyati an-Nas'i Tarbiyatun Islamiyyatan Kha'ishah", beliau katakan :

"Juga saya sebutkan tentang pentingnya rumah memiliki perpustakaan walau kecil sekalipun. Buku-buku koleksinya harus dipilih berupa buku sejarah Islam, biografi ulama' salaf, kitab-kitab akhlak, hikmah, ekspedisi Islam, peperangan, dan lain sebagainya. Kalau kotak obat-obatan dan P3K di rumah penting untuk mengobati badan, maka perpustakaan Islam penting untuk memperbaiki pola pikir..."

Senada dengan hal itu, al-Jahizh juga berkata : "Ketika seseorang menjadi ilmuan, warisannya berupa buku-buku langka dan ilmu lengkap, maka anak akan memandang menuntut ilmu adalah bagian dari hidupnya, dan aktivitas belajar mengajar akan lebih cepat memainkan perannya. Dia akan memandang bahwa tidak belajar adalah suatu kesalahan...".

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki perpustakaan pribadi di rumah untuk membangun cakrawala ilmu pada anak agar anak senantiasa lebih cinta pada ilmu daripada sesuatu yang bersifat hidonisme-materialisme. Untuk itu, sangatlah penting keberadaan perpustakaan pribadi di rumah untuk menumbuhkan ghirah belajar pada penghuninya.

Mata adalah sensor untuk menumbuhkan rasa dan menggerakkan raga. Dan objek pandangan mata merupakan umpannya. Maka dalam mendidik anak, jika kita sebagai orang tua memberikan umpan kebaikan pada anak-anak kita Insya Allah kebaikan pula yang akan anak-anak kita lakukan. Demikian juga sebaliknya.

Maka memberi umpan dengan ilmu berupa perpustakaan di rumah adalah bagian dari tradisi membangun budaya literasi. Sehingga dengannya para penghuninya rumah termasuk anak akan penasaran dengan isi buku yang kita siapkan dan akan mempelajari dan mengkajinya. Tentu pendampingan dari orang tua juga sebagai pelengkap guna memberikan penjelasan pada anak jika ditemukan hal yang tidak dimengerti.

Semoga dengan catatan ini dapat menjadi renungan bagi kita para orang tua. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah penggiat literasi asal Kadur Pamekasan

https://limadetik.com/artikel-pentingnya-perpustakaan-dalam-rumah/

Ketupat adalah Simbol Ukhuwah

Rabu, 12 Juni 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Hari ketujuh lebaran 'Idul Fitri merupakan sebuah momen lanjutan dari nuansa kegembiraan. Sebagai wujud syukur atas kemenangan di Hari Raya'Idul Fitri, pada hari ketujuh ini bagi sebagian kalangan dirayakan sebagai lebaran ketupat. Yaitu momen ukhuwah dalam menjalin solidaritas dan soliditas antar sesama, sesuai dengan simbolnya yaitu ketupat.

Secara nilai filosofis, ketupat merupakan simbol ukhuwah, dimana dua lembar janur atau lebih dianyam dengan rapi dan indah hingga akhirnya tampak indah dan penuh dengan makna dan kaya akan manfaat. Maka memaknai ketupat tentu tidak lepas dari simbol yang dimilikinya. Sehingga implentasi dari perayaan tersebut harus mencerminkan makna yang tersirat di dalamnya, yaitu ukhuwah atau persaudaraan.

Ukhuwah merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dan terus diamalkan dan dikampanyekan, sebagai wujud implementatif dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Karena dengan mempererat ukhuwah akan terwujud nuansa kehidupan yang indah. Hal ini sebagaimana telah Allah instrukasikan dalam firman-Nya :

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-Imrân :103)

Dari ayat di atas, dapat kita renungkan, betapa pentingnya jalinan ukhuwah antar sesama dalam kehidupan kita. Dan pada momen yang Fitri ini merupakan bagian dari peluang momental dalam mengamalkannya. Tentu tidak hanya terbatas pada momen ini, bisa dilanjutkan dan dirawat serta dijaga pada momen-momen selanjutnya.

Kekuatan ukhuwah diibaratkan oleh Rasulullah SAW. dengan sebuah bangunan, sebagaimana dalam sabdanya : "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi).

Dan diantara sikap ukhuwah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. adalah sebagaimana pesan yang beliau sampaikan dalam haditsnya :

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini (Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Muslim).

Maka terus menjalin ukhuwah, menjaga solidaritas dan soliditas di dalamnya merupakan tugas setiap manusia dalam menjalani roda hidup dan kehidupannya.

Semoga pada momen yang Fitri ini kita dapat mempekokoh jalinan ukhuwah diantara kita. Dengan harapan semoga nuansa kedamaian dalam kehidupan kita tercipta.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal 'aidin wal fa izin. Kullu 'amin wa antum bikhair. Amin. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah penggiat literasi asal Kadur Pamekasan.

Silsilah Keluarga Besar Bani Muksin

Sabtu, 08 Juni 2019 0 komentar

Silaturahim merupakan sarana untuk memperoleh ridho dan pahala dari sisi Allah, sakaligus sebagai media untuk mendapatkan kelapangan rizki di dunia. 

Dari Anas bin Malik ra berkata: bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Bagi siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturrahim.” (HR. Muttafaq Alaih)

Hadits Rasulullah SAW. di atas,menasehati kita, bahwa siapa yang ingin dilapangkan rizkinya oleh Allah dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia mempererat jalinan silaturahim dengan saudara-saudaranya dengan cara berbuat baik, menyayangi dan tidak memutuskan persaudaraan dengan mereka. 

lni semua adalah dinilai sebagai shadaqah oleh Allah swt.

Optimalisasi Menjelang Kepergian Ramadhan

Rabu, 29 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto

Tanpa terasa, sebentar lagi Ramadhan kali ini akan pergi. Tentu kepergian bulan yang penuh dengan rahmat dan maghfirah ini, yang hadirnya hanya sekali dalam setahun membuat kita akan merindukannya kembali di tahun berikutnya. Berharap semoga Allah senantiasa memberkahi umur kita sehingga dapat berjumpa di Ramadhan berikutnya.

Sebelum terlambat, patut kiranya kita optimalkan detik-detik kepergian Ramadhan kali ini dengan hiasan amal shaleh sebagaimana telah banyak disampaikan dan dicontohkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW. Terlebih pada sepuluh terakhir Ramadhan.

Salah satu dari sekian keistimewaan bulan Ramadhan adalah malam "Lailatur Qadar". Yaitu suatu malam dimana keutamaannya lebih baik dari seribu bulan. Hal itu sebagaimana telah Allah firmankan :

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Qadar). Dan taukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhanya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar". (QS. al-Qadar : 1-5)

Dari ayat ini kita dapat melihat betapa mulianya malam satu ini. Dan tentu semua manusia beriman mendambakan untuk mendapatkannya. Tentu hal itu dengan upaya optimalisasi amalan 'ubudiyah pada bulan Ramadahan, seperti tilawah al-Qur'an, berdzikir, berdo'a, bershadaqah, serta beri'tikaf di malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Kendatipun waktu malam "Lailatur Qadar" berbeda pendapat di kalangan para ulama'. Namun perbedaan tersebut mayoritas bersandar pada sabda Nabiyullah Muhammad SAW. Beliau bersabda :

"Aku melihat "Lailatur Qadar", lalu aku dibuat lupa kapan waktunya, maka barangsiapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada sepuluh hari terakhir". (HR. Bukhari).

Untuk itu kisi-kisi peluang yang telah Rasulullah SAW. sampaikan ini hendaknya kita optimalkan dengan memperbanyak amal shaleh, dengan harapan semoga kita mendapatkannya. Sehingga gelar muttaqin kita dapatkan, dan tropi sebagi pemenang layak disematkan pada diri kita pada hari yang fitri.

Semoga catatan singkat ini dapat memotivasi kita dalam mengoptimalkan detik-detik kepergian bulan Ramadahan kali ini. Amin. Wallahu a'lam []


Pakaian Batik dan Kebijakan Publik

Minggu, 26 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Bupati Pamekasan, Badrut Tamam, mengeluarkan surat edaran berisi himbauan kepada seluruh warga Pamekasan agar pada Hari Raya menggunakan busana batik. Surat edaran tertanggal 22 Mei 2019 itu cukup menjadi topik diskusi di sosial media WhatsApp. Dan berbagai komentar pro dan kontrapun bermunculan.

Antisipasi informasi hoaks, maka penulis mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut kepada salah satu sahabat yang merupakan ASN di lingkungan Pamekasan, dan ternyata informasi tersebut benar.

Surat edaran tentang busana batik di Hari Raya 'Idul Fitri itu perlu diapresiasi sebagai wujud terimakasih atas inisiasi Pamekasan Hebat demi terdorongnya perekonomian batik yang menjadi ciri khas Pamekasan. Namun demikian hal itu juga perlu kiranya memperhatikan siklus pergerakan ekonomi lainnya.

Dari kacamata agama, himbauan tersebut tidaklah salah, karena diantara sunnah pada Hari Raya 'Idul Fitri adalah menggunakan pakaian terbaik. Dalam keseharian Rasulullah SAW, pakaian yang paling sering beliau pakai adalah warna putih. Namun warna ini hanya merupakan klasifikasi berdasarkan mahabbah, atau kesukaan beliau, bukan berarti melarang dengan corak dan warna selain putih. Karenanya, redaksi dari anjuran sunnah pada Hari Raya 'Idul Fitri secara garis besar adalah "yang terbaik".

Al-Haifz Ibnu Jarir rahimahullah berkata, "Diriwayatkan dari Ibnu Abu Dunya dan Baihaqi dengan sanad shahih sampai ke Umar, bahwa beliau memakai baju yang terbaik pada dua hari raya (idul fitri dan idul adha)." (Fatawa Syekh Ibnu Jibrin, 59/44)

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Disunnahkan bagi laki-laki pada hari raya untuk berhias dan memakai pakaian yang terbaik." (Majmu Fatawa Wa Rosail Ibnu Utsaimin, 13/2461)

Lalu, bagaimana dengan Rasulullah sendiri ? 

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata : "Rasulullah SAW. menggunakan kain ganggang Yaman (Burdatan Hamra') pada Hari Raya" (Sanadnya Jayyid as-Shahihah No. 1279 dan al-Haitsamu dalam Majma'uz Zawa 'id II:201 berkata, "diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Ausath dengan perawi-perawi yang tsiqah".)

Sehingga soal pakaian di Hari Raya'Idul Fitri bukan menjadi hal yang bersifat kursial, sebagaimana dikuatkan dengan deretan dalil akan hal tersebut di atas.

Dari sisi ekonomi, himbauan ini juga tidak terlalu membuahkan dampak negatif yang signifikan, pasalnya himbauan tersebut hanya bersifat ajakan guna mendongkrak perekonomian batik yang menjadi ciri khas Pamekasan. Terkecuali mungkin bagi ASN di lingkungan Pamekasan hal itu bersifat wajib namun itupun sebatas wajib dalam tatanan teknis sistem birokrasi dan manajerial. Dan hal itu sah-sah saja.

Namun yang menjadi kekhawatiran dalam hal ini adalah munculnya kecemburuan sosial diantara para pelaku ekonomi yang juga sama-sama ingin mendapatkan porsi  perhatian yang sama dari mata pemerintah. Karena ekonomi Pamekasan tidak hanya batik.

Apalagi pada momen menjelang Hari Raya 'idul Fitri, yang notabeni menjadi arus meningkatnya grafik perekonomian masyarakat, khusunya di pasar-pasar tradisional. Maka diperlukan juga porsi perhatian pada pelaku ekonomi selain batik. Sehingga dengan demikian tidak ada kesan dianaktirikan ataupun kesan ketidak adilan dari pemerintah di masyarakat.

Maka catatan penulis, setiap kebijakan memang alangkah baiknya tidak hanya memperhatikan satu sisi aspek dalam kehidupan, karena setiap segmen kehidupan, sekecil apapun hal itu, saling terkait dengan sisi yang lainnya.

Maka sebagai penutup, penulis kutipkan perkataan khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, akan tetapi hari raya bagi mereka yang takut terhadap hari pembalasan”. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah warga Desa Kadur Pamekasan, aktif di dunia sosial dan pendidikan serta literasi

https://limadetik.com/artikel-pakaian-batik-dan-kebijakan-publik/

Pesan Aagym Untuk Rakyat Indonesia

Kamis, 23 Mei 2019 0 komentar

Berikut pesan Aagym untuk Rakyat Indonesia. Pesan ini beliau sampaikan melalui postingan twitternya. Semoga bermanfaat...

Takziyah : Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un, Ust. Arifin Ilham Wafat

Rabu, 22 Mei 2019 0 komentar

Kabar duka tersiar dari republika.co.id, (22/05/2019). Adalah Ust. Arifin Ilham, pendiri Majelis Adz Zikra dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit di Penang, Malaysia. 
Beliau meninggal pada pukul 23:20 waktu Penang. 

Atas nama media subliyanto.id kami turut berduka. Semoga segala amal baiknya diterima oleh Allah, dan segala dosa dan khilafnya diampuni oleh Allah, sehingga beliau mendapatkan hadiah surga dari-Nya. Amin

Meluruskan Niat dalam Belajar

0 komentar

Oleh : Subliyanto

Artikel menarik berjudul "Pelajar Indonesia", dipublish mediamadura.com edisi 19 Mei 2019. Artikel yang ditulis oleh adik mahasiswa bernama Mamluatur Rohmah tersebut perlu diapresiasi. Apresiasi tersebut berpoin pada makna tersirat dari artikel yang ditulisnya, yaitu mempunyai nilai edukatif, motivatif, dan kreatif khusunya bagi para adik-adik pelajar. Namun demikian, secara konsep pemikiran islam, ada hal yang perlu diluruskan dari paparannya, yaitu tentang orientasi dalam belajar dan menuntaskan pendidikan, agar pola pikir generasi pelajar Indonesia tetap on the right track.

Pertama, belajar merupakan sebuah kewajiban setiap manusia, sehingga pondasi dari belajar adalah semata-mata melaksakan sebuah kewajiban fardu 'ain dari setiap kita agar menjadi insan yang shalih dan mushlih dalam memainkan perannya sebagai 'abdullah dan khalifatullah di muka bumi. Maka belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Bahkan pesan Rasulullah SAW, sampai ke liang lahat (mati).

Kedua, orientasi belajar berada pada dua sisi kehidupan manusia, yaitu dunia dan akhirat. Dari keduanya yang menjadi nominasi instruksi adalah akhirat, sebagai basic penguatan keimanan manusia. Maka yang harus dipelajari adalah tentang konsep-konsep dan teori-teori suksesi final kehidupan manusia "ba'dal maut". Namun demikian tanpa melupakan konsep-konsep yang bersifat duniawi, karena keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, hanya saja dari keduanya ada skala yang harus diprioritaskan.

Ketiga, nilai sukses dari seseorang tidaklah sepenuhnya terukur dari strata pendidikan yang ditempuhnya dan profesi kesehariannya. Namun barometer kesuksesan seseorang adalah bagaimana ia bisa mengantarkan dirinya dengan mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk menjadi insan yang shalih dan mushlih. Karena segala sesuatu yang bersifat duniawi hanyalah bagian dari hadiah yang Allah tampakkan kepada hamba-Nya yang shalih. Maka jangan sampai hal itu menjadi orientasi primer.

Dari tiga konsep dasar dalam belajar di atas, setidaknya pola pikir manusia, khusunya generasi muslim akan menjadi semakin kuat dan terarah. Terasa berat mungkin iya, apalagi kita saat ini hidup di situasi yang penuh dengan arus hidonisme-materialisme, yang semua itu dalam kacamata manusia sangat menjadi sorotan sebagai indikator kesuksesan, padahal dalam kacamata agama tidak demikian. Maka terus belajar dan menambah wawasan merupakan solusi bagi para generasi pelajar Indonesia saat ini, dengan catatan tanpa melupakan visi yang hakiki.

Semoga dengan catatan singkat ini dapat memperkuat catatan karya "Pelajar Indonesia", Mamluatur Rohmah. Apresiasi literasi penulis sampaikan, tetap semangat, dan teruslah belajar dan berkarya. (*)

Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

 
SUBLIYANTO.ID © 2019