Arif dalam Memandang dan Jadilah Pembelajar

Sabtu, 09 Maret 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Nahdhatul Ulama' (NU) belakangan ini seakan menjadi gorengan, baik dari internal maupun dari eksternal itu sendiri. Terlebih dinamika keorganisasian yang berkembang terjadi pada momen politik, yang sudah tentu akan menjadi penyempurna dalam situasi dan kondisi.

Beragam respon dari publik begitu mencuat meyoroti NU, baik di media maupun sosial media. Namun sepertinya ada yang terlupakan bahwa NU adalah sebuah organisasi.

Lantas bagi kalangan awam apa yang harus dilakukan ? 

Nahdhatul Ulama' (NU) adalah organisasi, bukan mazhab yang setara dg empat mazhab. Maka dinamika organisasi akan selalu ada dan selalu berkembang sesuai keadaan zaman dan praktisi sistem kepemimpinannya.

Maka untuk berpegang teguh pada konsep-konsep dan tata nilai Islam yg hakiki adalah dengan menjadi "pembelajar", dimana sikap pembelajar adalah berprinsip pada esensi "nilai-nilai kebaikan".

Jika itu sebuah kebaikan maka ambillah tanpa melihat siapa dan golongan apa. Jika itu sebuah keburukan maka juga buanglah tanpa melihat siapa dan golongan apa. Dan inilah yang disebut dengan hikmah.

Tentu namanya kebaikan yang menjadi barometer adalah yang sesuai dengan arahan agama. Karena manusia dan "bajunya" tidak benar selamanya, pun juga tidak salah seluruhnya. Maka ambillah yang baik, dan buanglah yang tidak baik. 

Jika ada ketidak baikan dalam sebuah organisasi, sudah pasti akan diselesaikan di internal meja para penggerak keorganisasian sesuai AD-ART yang ada di tubuh organisasi itu sendiri.

Maka merupakan sebuah ketidak arifan jika sebuah titik hitam yang menetes dari pena seseorang pada lembaran putih, kemudian manusia memandang dan menjustifikasi bahwa kertas itu adalah hitam seluruhnya. 

Dan disinilah diperlukan kearifan dalam memandang, dan sikap sebagai pembelajar. Sehingga rasa fanatisme golongan tidak menjadikan garis perpecahan dalam persaudaraan. Wallahu a'lam [] 

*Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

Hindari Narkoba, Selamatkan Generasi Bangsa

0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan publik figur berinisial AA yang terciduk dan dinyatakan positif mengkonsumsi narkoba. Narkoba, sebuah zat yang memabukkan, yang dengannya manusia akan kehilangan akal sehatnya, sehingga semuanya akan terabaikan. Tentu ini menjadi warning buat kita terlebih di lingkungan keluarga bahwa betapa bahayanya narkoba.

Jika narkoba sudah masuk dalam lingkungan rumah tangga, maka yang terjadi adalah malapetaka. Apabila kejahatan narkoba sudah menguasai diri manusia, maka ia akan buta atas segalanya, ia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, karena ia sudah kehilangan kesdarannya.

Pesan-pesan kepada para generasi untuk menjauhi narkoba sangatlah penting untuk terus kita sampaikan. Mulai dari lingkungan internal keluarga, pendidikan, dan masyarakat sekitar sebagai bentuk ikhtiyar penyelamatan aset bangsa berupa generasi.

Fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran bagi kita, sehingga kita bisa mengambil ibrah darinya, dan menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia adalah tempat salah, lupa, dan berbuat khilaf. Maka faktor kesadaran dan menyadari atas sifat manusiawinya itu menjadi kunci agar kita mampu membelokkannya pada nilai-nilai kebaikan.

Kebaikan yang kita raih hari ini adalah sebuah prestasi yang harus kita syukuri. Sementara keburukan yang kita kerjakan hari ini menjadi sebuah evaluasi yang harus kita istighfari. []

*Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

Simbiosis Mutualisme Media dan Pena

Senin, 04 Maret 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Peran dan pengaruh media sangat penting dan sangat besar kontribusinya dalam memberi perubahan suatu bangsa menuju arah yang lebih baik. Dengan media kita dapat menyampaikan informasi dan aspirasi tentang situasi dan kondisi yang kita temui. Sehingga mudah diketahui dan ditindak lanjuti.

Dalam dunia demokrasi, kebebasan menyuarakan aspirasi tidaklah mudah untuk di dengar, apalagi ditindaklanjuti. Dan kehadiran media merupakan bagian dari solusi untuk menfasilitasi temuan-temuan yang harus dipublikasi guna mendapatkan perhatian. 

Namun demikian, tidak semua media dapat menampung temuan-temuan itu. Dan tidak semua orang bisa menembus meja redaksi. Karena sudah mejadi pemahaman umum bahwa media itu tidak terbatas namun dapat bersuara melalui media sangatlah terbatas. Maka kehadiran media dalam skala kecil juga sangat dibutuhkan, sebagai wadah untuk menampung informasi dan aspirasi yang tidak terpotret dan tidak memiliki fasilitas publish.

Jika media bak sebuah rumah, maka membaca dan menulis atau literasi adalah isinya. Rumah tanpa penghuni bak sebuah kegelapan yang sunyi. Demikian juga halnya dengan media. Maka disinilah pentingnya tetesan tinta dari ujung pena. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara media dan pena.

Membaca dan menulis merupakan dua hal yang menjadi sumber ilmu pengetahuan manusia. Dengan membaca manusia akan mengetahui segala hal yang belum diketahui, dan dengan menulis manusia akan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki. Dua hal tersebut merupakan ajaran pertama dalam dunia pendidikan Islam sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an Surat al-'Alaq dan Surat al-Qalam. 

Mungkin semua manusia bisa membaca namun tidak semua manusia bisa menulis, karena menulis membutuhkan kecakapan literasi dalam mengolah dan menganalisis serta menuangkan gagasan kreatif, inovatif, dan solutif yang dituangkan dalam goresan pena sebagai bentuk kontribusi pemikiran dan konsep untuk masa depan yang lebih baik. Maka membudayakan dunia literasi merupakan hal yang sangat penting guna melahirkan generasi yang berbasis ilmu dan riset. 

*www.subliyanto.id

Aku Telah Memaafkanmu

Senin, 25 Februari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Akhir-akhir ini masih cukup santer perbincangan di media seputar persoalan meminta maaf. Entah karena memang sedang musim orang berbuat salah, atau dianggap bersalah, atau mungkin karena kesadaran diri atas kesalahan yang telah dilakukan, sehingga tuntutan untuk meminta maaf menjadi tontonan yang terus "tergoreng".

Tidak salah kiranya kalau kita buka-buka lagi koleksi buku kita untuk sekedar mengetahui seputar maaf dan memaafkan, guna mejadi renungan untuk diri kita, sehingga kita mempunyai akhlak yang baik nan mulia.

Islam selalu menganjurkan agar setiap muslim berusaha untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah. Maka sebagai landasan berpikir, penulis sajikan perintah tersebut yang tersurat dalam firman-Nya. Allah berfirman : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu.” (QS. al-Hujurat: 10). 

Kemudian Rasulullah SAW. juga bersabda  tentang pentingnya persaudaraan : “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim).

Dan termasuk bagian dari akhlak yang baik adalah meminta maaf dan saling memaafkan. Karena dengan hal tersebut nuansa persaudaraan akan kembali terkuatkan. Kita kaji misalnya pesan Allah yang termaktub dalam al-Qur'an surat al-Imran : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Imran :133)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia agar bersegera dalam memohon ampunan atau meminta maaf jika melakukan kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Baik yang bersifat "Rabbani" atau berhubungan langsung dengan Allah, maupun bersifat "Manusiawi" atau yang berhubungan dengan manusia. Karena yang demikian akan segera menghapus dosa kekhilafan yang telah ia lakukan. 

Demikian juga dengan memaafkan. Allah memerintahkan agar kita menjadi sosok pemaaf. Hal itu sebagaimana Allah firmankan : “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf :199)

Ada contoh menarik seputar kehebatan saling memaafkan yang tercatat dalam sejarah yang diabadikan dalam kitab "Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lith Thifl", yang dalam edisi bahasa Indonesia berjudul "Prophetic Parenting ; Cara Nabi Mendidik Anak". Dimana dalam kitab itu disajikan kisah yang dikutip dari kitab "Tarbiyatul Aulad Fil Islam" karya as-Syaikh Abdullah Nashih 'Ulwan. Dikisahkan bahwa seorang budak milik Zainal Abidin mengucurkan air dari sebuah kendi yang terbuat dari tembikar untuk berwudhu'. Kemudian kendi itu jatuh menimpa kaki Zainal Abidin sampai pecah, dan kaki Zainal Abidin berdarah. Maka terjadilah dialog antara budak dengan Zainal Abidin dengan dialog al-Qur'an Surat al-Imran ayat 134.

Sang budak berkata : "Ya tuanku, Allah SWT. berfirman : "Dan orang-orang yang menahan amarahnya".(QS. al-Imran : 134)"

Lalu Zainal Abidin menjawab : "Aku telah menahan amarahku". Kemudian budak itu berkata lagi : "Dan memaafkan (kesalahan) orang". (QS. al-Imran : 134)"

Zainal Abidin pun menjawab : "Aku telah memaafkanmu". Budak pun melanjutkan : "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (QS. al-Imran : 134)"

Maka Zainal Abidin menjawabnya : "Sekarang Aku merdekakan engkau karena Allah". 

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa betapa indahnya saling memaafkan. Karena dari saling memaafkan akan melahirkan kasih dan sayang. Semoga catatan singkat ini dapat menjadikan kita lebih memperkuat ukhuwah islamiyah. Sehingga nuansa keindahan dalam persaudaraan akan tampak dan menjadi cermin hakikat keindahan Islam. Wallahu a'lam []

Bisakah Manusia Menjamin ?

Selasa, 19 Februari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto* 

Setiap manusia akan dihadapkan dengan berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Mulai dari skala yang terkecil hingga skala yang besar. Mulai dari lingkup keluarga hingga lingkup berbangsa dan bernegara. Maka tugas manusia adalah bagaimana menyikapi setiap persoalan yang dihadapinya dengan baik. Karena sebagaimana yang telah penulis jelaskan pada artikel sebelumnya yang membahas tentang "kemiskinan", bahwa semua itu hanyalah bersifat ujian bagi manusia untuk mengukur kualitas iman. Dan tentu ini patut menjadi renungan.

Lantas apakah manusia bisa menjamin atau memberikan jaminan dalam upaya mengatasi persoalan-persoalan hidup yang dihadapi ?

Membahas tentang masalah jaminan, terdapat kisah hikmah yang sangat menarik, dan cukup menggugah, khususnya bagi masyarakat muslim, guna memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada dzat yang maha menjamin. Berikut kisahnya :

***
Seorang laki-laki masuk ke ruangan"Almanshur" pada hari dia dibaiat menjadi Khalifah umat islam. Almanshur berkata : “Nasihatilah aku”. Laki-laki itu berkata : “Aku nasihati kamu dengan yang aku lihat atau dengan yang aku dengar ?” Berkata Almanshur : “Dengan yang kau lihat”. 

Dia berkata : “Wahai Amirul mukminin, Umar bin Abdul Aziz punya 11 anak. Dan ketika matinya meninggalkan 18 dinar. Untuk kafan 5 dinar, untuk urusan kuburnya 4 dinar dan sisanya diberikan pada anak-anaknya.  Sedangkan Hisyam punya 11 anak juga. Setiap anak mendapat bagian sejuta dinar ketika matinya. Demi Allah wahai amirul mukminin, aku melihat pada suatu hari anak-anak Umar bin Abdul aziz bersedekah dengan 100 kuda untuk jihad fi sabilillah. Dan kulihat salah satu anak Hisyam meminta-minta di pasar”. 

Disebutkan anak perempuan Umar bin Abdul Aziz masuk ke kamarnya menangis. Maka dia bertanya : “Apa yang membuatmu menangis anakku ?” Dia berkata : “Setiap anak memakai pakaian baru, dan aku anak amirul mukminin memakai pakaian lama.”

Umar kasihan melihat tangis anaknya, maka dia pergi kepada bendahara negara. Dia berkata : “Apakah kau mengizinkanku mengambil gajiku bulan depan?” Bendahara berkata : “Tidak bisa wahai Amirul mukminin”. 

Maka Umar menceritakan apa yang terjadi dengan anaknya. Bendahara berkata : “Kalau begitu tidak apa-apa kau ambil gajimu bulan depan. Tetapi dengan satu syarat”. Umar berkata : “Syarat apakah itu ?” Bendahara : “Syaratnya engkau bisa menjamin padaku kau masih hidup bulan depan untuk bekerja dengan gaji yang telah kau ambil lebih dulu”. 

Umar meninggalkannya dan kembali ke rumahnya. Anak-anaknya bertanya : “Apa yang terjadi padamu wahai Bapak ?” Dia berkata : “Maukah kalian bersabar dan kita masuk surga bersama atau kalian tidak bersabar dan bapakmu ini masuk neraka ?” Mereka berkata : “Kami akan bersabar wahai Bapak".

***
Dari kisah di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, manusia hidup dan menjalankan roda kehidupannya hanyalah mengikuti alur skenaro yang telah diatur oleh Allah, Tuhan semesta alam. Landasan utamanya adalah konsep iman. Maka sejatinya manusia tidak bisa memberikan jaminan apapun dalam hidup dan  kehidupan dengan melupakan atau bahkan mungkin menafikan peran Tuhan. Maka dalam hal ini Allah berfirman :

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu : "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (QS. al-Kahfi : 23-24)

Dalam tasfir Jalalain, dua ayat ini dijelaskan bahwa (Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu) tentang sesuatu (Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi) lafal "Ghadan" artinya di masa mendatang. (Kecuali dengan menyebut "Insya Allah") artinya, mengecualikannya dengan menggantungkan hal tersebut kepada kehendak Allah, seumpamanya kamu mengatakan Insya Allah (Dan ingatlah kepada Rabbmu) yaitu kepada kehendak-Nya seraya menggantungkan diri kepada kehendak-Nya (jika kamu lupa) ini berarti jika ingat kepada kehendak-Nya sesudah lupa, sama dengan ingat kepada kehendak-Nya sewaktu mengatakan hal tersebut.

Manusia hanyalah mempunyai kewajiban berikhiyar dalam menjalani roda kehidupannya. Adapun hasil dari jerih payah yang dikeluarkan merupakan hak periogratif Allah segalanya. Maka bagi seorang muslim gerakan ikhtiyar dengan prinsip iman sangatlah penting. Sehingga tidak ada rasa keraguan pada dirinya dalam mengatasi setumpuk persoalan hidupnya. 

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa". (QS. Yunus : 62-63)
Semoga kita senantiasa menjadi orang yang mempunyai kekokohan iman dan mempunyai rasa senang dalam berikhiyar sebagai bentuk implementasi dari ketakwaan. Wallahu a'lam []

111 Tahun Hamka, Kisah Dakwah yang Lembut tapi Menggerakkan

Jumat, 15 Februari 2019 0 komentar

Oleh : M. Anwar Djaelani* 

Hamka (1908-1981), inspiratif. Bahwa, tokoh yang tak tamat SD itu memiliki banyak predikat seperti -antara lain- pendidik, pemikir, sastrawan, aktivis politik, dan ulama. Pendekatan dakwahnya yang lembut, memikat banyak kalangan.

Indah, Menggugah!

Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan Hamka merupakan singkatannya yang populer. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 17/02/1908. 

Jika menilik tanggal lahirnya, yaitu 17/02/1908, maka di hari-hari ini –di kesempatan “111 Tahun Hamka”- patut jika kita berkonsentrasi dalam menelaah perjalanan dakwahnya. Model dakwah Hamka termasuk lengkap, sebab lisan dan tulisan dia sama-sama kuat. 

Dakwah Hamka tak hanya diterima di Indonesia, tapi juga di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Terutama di Malaysia, buku-bukunya menghiasi sejumlah perpustakaan universitas terkemuka dan banyak menginspirasi para aktivis. 

Hampir semua karya tulisnya –seperti tentang kajian keislaman maupun novel Islami- diminati banyak fihak. Sementara, karyanya yang paling monumental adalah Tafsir Al-Azhar.

Kehidupan Hamka penuh warna. Tapi, dakwah adalah bagian terbesar aktivitasnya. Untuk itu, sekarang, kita konsentrasi di aspek ini saja: Pendekatan dakwah Hamka.

Terutama setelah menetap di bilangan Jakarta Selatan dan Masjid Al-Azhar ada di dekat rumahnya, banyak-lah tamu yang datang. Tamu-tamu yang silih-berganti itu berlatar-belakang sosial dan memiliki pemahaman keagamaan yang beragam. Mereka datang dengan keperluan yang beraneka macam.

Di sebuah hari, datang perempuan dengan busana kurang elok. Dia bertamu ke seorang Ulama Besar dengan kostum siap main tenis dan lengkap dengan raketnya.

“Pak Hamka, saya ingin belajar agama,” aku si perempuan.
“Tapi,” lanjut dia, “Saya ini selalu main tenis.”

Merujuk kepada pernyataannya, si tamu tampaknya merasa bahwa antara belajar agama dan main tenis adalah dua hal yang bukan saja berbeda tapi juga berseberangan. Mungkin, dia berfikir, main tenis yang nyaris identik dengan berpakaian sangat terbuka itu tak akan sejalan dengan spirit kegiatan belajar agama yang “suci”.

“Main tenis saja (dulu), Bu,” respon Hamka.
“(Nanti) kalau ngaji –belajar agama- silakan datang ke sini,” lanjut Hamka dengan lembut. 

Di fragmen di atas, tak ada ceramah Hamka tentang kewajiban “berbusana Muslimah” seperti yang telah diatur oleh Islam. Di pertemuan itu, tiada khutbah Hamka terkait larangan membuka aurat bagi laki-laki dan perempuan Muslim. Boleh jadi, dalam kalkulasi Hamka saat itu, si tamu belum tentu siap jika dikhutbahi secara lengkap perihal aturan dalam berbusana menurut Allah dan Rasul-Nya.

Lalu, bagaimana perkembangan performa “Tamu perempuan berbaju tenis” itu? Berubah-lah dia! Misal, dia lalu dekat dengan anak-anak Hamka dan mereka menyapanya dengan sebutan “Tante Rafi’ah”. Dia rajin mengikuti ceramah Hamka. Dia selalu berjilbab. Bahkan, sampai meninggal, dia istiqomah menegakkan tahajjud.
“Kalau kita datang ke Masjid Al-Azhar untuk shalat subuh berjamaah, kita akan mendapatinya tengah menyelesaikan tahajjud,” demikian Afif –putra Hamka- mengenang sosok perempuan “Berbusana tenis” yang telah hijrah itu. Masya-Allah!

Sekarang, fragmen lain dan di hari yang berbeda. Seorang perempuan datang bertamu dan mengajukan masalah yang mengganjalnya.

“Bapak, saya selalu pakai kutek, tapi saya mau shalat,” demikian pengaduan si perempuan yang tampaknya dari kalangan orang yang berada.

“Silakan pakai kutek. Tapi, kuku itu mesti dibasuh (saat) wudhu. (Sebenarnya) Ibu punya waktu buat pakai kutek (yaitu) di saat menstruasi,” jelas Hamka.                                                                                  Apa hasil dari dialog ringkas dan ringan itu? Ada catatan, bahwa untuk selanjutnya perempuan itu tak hanya rajin shalat, tapi juga tak pernah lepas dari kerudung setiap saat dia ada di luar rumah. Masya-Allah!  

Jika diperpanjang, banyak kisah yang serupa dengan dua fragmen di atas. Intinya, betapa banyak kalangan terpelajar datang menemui Hamka di Masjid Al-Azhar Jakarta. Mereka datang dengan busana dan dandanan yang kurang sesuai dengan syariat Islam. Tapi, atas kenyataan itu, Hamka tidak menunjukkan sikap berkeberatan untuk mengajar mereka di masjid. Di saat-saat awal, Hamka tidak langsung mengajarkan kepada mereka materi berupa larangan-larangan dalam agama. Beliau memulainya dengan memberikan pemahaman dasar.

Berikutnya, inilah bentuk dakwah Hamka yang adaptif-kreatif tetapi tetap dalam bingkai syariat yang ketat. Bahwa, berdasar masukan seorang sahabatnya, Hamka setuju jika dakwah kepada remaja bisa lewat jalur seni dan budaya. Masjid Al-Azhar Jakarta tak boleh abai kepada pendekatan dakwah lewat seni dan budaya. Misal, rebana dan musik, silakan.
Hamka sependapat dengan masukan si sahabat, sebab “Allahu jamilun, yuhibbul jamal – Allah itu indah, senang kepada keindahan”. Maka, menjadi semaraklah syiar melalui seni dan budaya di Masjid Al-Azhar Jakarta. Pementasan musik diselenggarakan di halaman masjid. Pernah pula, di sebuah Peringatan Maulid Nabi Saw, dihadirkan pasukan kavaleri berkuda. Tentu saja, acara yang disebut terakhir itu berkesan bagi anak-anak dan remaja. Kesan kuat ini diharapkan menjadi pemicu hebat agar hati mereka tertambat ke masjid (Yusuf Maulana, 2018: 196-199).     

Langkah dakwah Hamka, lembut tapi tetap bisa menggerakkan. Ini, sebuah pendekatan dakwah yang berbuah manis karena punya landasan kukuh. Perhatikanlah hadits ini: _"Permudahlah dan jangan persulit. Buatlah mereka gembira dan jangan buat mereka lari"_ (Muttafaq 'Alaih). Cermatilah pula ayat-ayat ini: _“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”_ (QS Al-Baqarah [2]: 185). _“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”_ (QS Al-Hajj [22]: 78).
Memikat dan Nyaman

Dakwah Hamka lembut dan mendatangkan rasa nyaman. Kisah dua perempuan di atas yang selamat dalam menjalani “hijrah”-nya hanyalah sekadar sedikit contoh. Sungguh, dalam hal performa dakwah Hamka, tak hanya umat Islam yang terpikat tapi yang berlainan iman juga banyak yang merasa nyaman. Maka, kepada Hamka yang meninggal pada 24/07/1981 itu, kita tak boleh jemu berguru. []

*Anwar Djaelani adalah penulis buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. www.anwardjaelani.com

Kasih Sayang dan Bunda Tersayang

Kamis, 14 Februari 2019 0 komentar

Foto : Google

Hari ini, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2019, sedang ramai diperbincangkan mengenai hari kasih sayang atau yang disebut dengan hari Valentine. Kalau kita membuka wikipedia, Hari Valentine atau disebut juga hari Kasih Sayang, adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat.
Sementara Dunia Barat itu sendiri atau sering disebut Barat saja merujuk kepada negara-negara yang berada di benua Eropa dan Amerika. Dunia Barat dibedakan dari Dunia Timur yang digunakan untuk merujuk kepada Asia. Meskipun begitu, pada umumnya kata ini lebih sering diasosiasikan terhadap negara-negara yang mempunyai mayoritas penduduk berkulit putih. Oleh karena itu, Australia dan Selandia Baru juga sering dianggap sebagai bagian dari dunia Barat.
Masih bersumber dari wikipedia, catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Prancis, dimana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan bernama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.
Dari referensi di atas, maka kita dapat mengetahui sejarahnya dan tentu sebagai seorang muslim kita juga bisa memposisikan sikap diri kita dalam hal tersebut. Karena dalam setiap sesuatu tidak bisa lepas dari nilai filosofisnya. Sehingga juga akan ketemu esensi makna dan tujuannya. Karenanya mengetahui dan memahami prinsip-prinsip dalam ajaran Islam sangatlah penting, sehingga dengan demikian kita bisa mengamalkan Islam dengan baik.
Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam dan kehadirannya membawa kedamaian. Sehingga jika dalam realitas kehidupan ditemukan hal-hal yang bersifat perbedaan, kita sebagai muslim tetap bisa berpegang teguh pada tata aturan yang telah diatur dengan sempurna oleh Islam, dan tidak mudah untuk terpengaruh hanya dengan landasan ikut-ikutan, tanpa mengetahui apa,siapa, bagaimana, dan seterusnya. Karena dengan mengetahui itulah kita dapat mengukur esensitas dan urgensitasnya dalam kehidupan kita.
Islam hadir dengan konsep-konsepnya yang sempurna. Sehingga tidak ada yang luput dari pembahasan. Termasuk tentang kasih sayang misalnya, islampun telah mengaturnya. Dan bahkan dalam Islam tidak dibatasi ruang dan waktu, akan tetapi bersifat kontinyuitas atau terus-menerus dalam menebar kasih dan sayang, karena hal tersebut termasuk bagian dari wujud keimanan. Maka Rasulullah SAW. menegaskan dalam sabdanya :
“Tidak beriman (tidak sempurna keimanannya) salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari-Muslim)
Salah satunya wujud dari cinta kasih dan sayang adalah nilai kebaktian terhadap orang yang kita cintai dan kita sayangi. Maka, sebagai closing dari tulisan ini ada pesan menarik yang penting untuk kita amalkan dalam mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang kita dalam kehidupan.
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi X : 239). Semoga catatan singkat ini bermanfaat untuk kita semua. Wallahu a’lam
*Artikel ini dimuat di laman www.limadetik.com 14/02/2019

E-Book Exclusive : Asiyah Tegar di Sisi Fir'aun

0 komentar


Allah memberikan perumpamaan bahwa orang yang beriman diteguhkan hatinya sebagaimana dialami Asiyah yang mendapat perlindungan meskipun ia berada di dalam rumah tangga penghulu orang kafir, yaitu rumah Fir'aun yang dikenal sebagai seorang tiran yang sewenang-wenang. Kekuasaan dan keangkuhan Fir'aun sama sekali tidak membahayakan aqidah istrinya sendiri, Asiyah, yang beriman kepada Allah Ta'ala dan risalah Musa.

Ini menunjukkan bahwa meski kita berada di rumah orang kafir sekelas Fir'aun sekalipun, jika ada iman yang menjadi benteng dalam diri kita, yakinlah bahwa Allah Ta'ala akan memberikan keselamatan. Di tengah-tengah kebencian Fir'aun terhadap risalah Nabi Musa dan di puncak keangkuhannya yang mengaku sebagai tuhan, Fir'aun ternyata tidak mampu menaklukkan hati istrinya sendiri. Bahkan dengan tegar dan kuat, Asiyah berdoa kepada Allah, "Ya Rabb-ku bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim." (QS. at-Tahrim [66])

Terkait doa Asiyah di atas, Abul Aliyah berkomenter dari sudut sebab turunnya ayat tersebut, bahwa Fir'aun mengetahui keimanan istrinya, lalu dia keluar di hadapan khalayak ramai seraya berkata, "Apakah yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahim?" Mereka memujinya. Maka Fir'aun berkata kepada mereka, "Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selain aku. Mereka bertanya kepadanya [jika demikian] bunuhlah dia. Kemudian dibuatkan untuknya tiang. Setelah itu tangan dan kakinya diikat.

Maka Asiyah pun berdoa dengan doa ini: Ya tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga. Hal itu bersamaan dengan kehadiran Fir'aun di tempat penyiksaan. Maka Asiyah tertawa ketika melihat rumahnya di surga. Fir'aun berkomentar, "Apakah kalian tidak( merasa heran dengan kegilaannya. Kita menyiksanya, namun dia tertawa. Setelah itu keluarlah ruhnya dari jasadnya."

Salman al-Farisi berkata sebagaimana diriwayatkan Usman al-Hindi, "Awalnya dia disiksa dengan panasnya terik matahari. Ketika sinar matahari menyengatnya, para malaikat melindungi defigan sayap-sayapnya. Dikatakan bahwasanya kedua tangan dan kakinya ditancapkan di bawah panas sinar matahari, sedangkan punggungnya dikenakan rantai yang melingkar. Lalu Allah Ta'ala memperlihatkan kepadanya tempatnya di surga. Dikatakan pula bahwa tempatnya terbuat dari mutiara. Tatkala ia berkata, "Selamatkanlah aku." Lalu Allah menyelamatkannya dengan sebaik-baik penyelamatan. Dia mengangkat ruhnya ke surga. Di sana dia makan, minum dan bersenang-senang."

Inilah sosok wanita beriman. Dia hidup di bawah kekuasan suaminya adalah manusia paling kafir kepada Allah, Tuhan sekalian alam. Ketika itu Fir'aun telah mengakui dirinya sebagai tuhan serta dzat yang patut disembah sebagai sekutu Allah. Namun Asiyah tidak tunduk pada keadaan yang demikian, bahkan dia menyerahkan segalanya kepada Allah, baik ketika susah maupun senang. Dia memohon kepada Allah dengan berdoa supaya dirinya diselamatkan dari Fir'aun dan perbuatannya, baik kekufuran, kezhaliman dan kecongkakannya. Sebagaimana dia memohon keselamatan dari kaum yang zhalim, yakni orang-orang Qibthi penduduk Mesir. Respon terhadap permohonannya tidaklah terlambat. Allah telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi. Baginya telah dibangun istana di surga.

*Disadur dari E-Book Exclusive “Aisyah Tegar di Sisi Firaun”

Kemiskinan dan Rumus Mengatasinya dalam Kehidupan

Rabu, 13 Februari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto* 

Bak sebuah makanan, istilah kemiskinan sudah menjadi konsumsi harian yang kerap kita dengar di telinga kita. Dari pelosok desa hingga istana negara, dari kepala dusun hingga kepala negara, bahkan calon kepala negara, hampir semuanya memperbincangkan bagaimana mengatasi kemiskinan dalam kehidupan sosial manusia. Hingga dari sekian perbincangan dituangkan dalam program dan kegiatan. Tentu hal ini perlu diapresiasi sekecil apapun konsep yang dituangkan. Karena diakui atau tidak, semuanya adalah bentuk wujud kepeduliaan sosial dalam kehidupan bersama berbangsa dan bernegara, yang di Indonesia terkemas dalam bingkai pancasila.

Membahas kemiskinan tentu rujukan pertama adalah definisi, karena dengan definisi dapat ditemukan teori yang kemudian akan dilahirkan berbagai macam solusi. Dan kemiskinan itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara bahasa adalah berasal dari kata miskin, yang artinya adalah tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Sementara menurut istilah adalah situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan untuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum. Sehingga dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa indikator kemiskinan adalah tidak berharta, dan serba kekurangan. 

Dalam konsep cara pandang,  segala sesuatu bergantung dari kacamata ilmu yang kita gunakan untuk menilainya, demikian juga kaitannya dengan kemiskinan. Dan tentu bagi pribadi muslim dan beriman, maka sudah seharusnya konsep yang digunakan adalah konsep-konsep dalam Islam, bukan konsep-konsep ataupun teori-teori barat yang notabeni menggerus konsep keimanan. Karena disinilah intisari dari sosok pribadi muslim.

Allah mempunyai sifat "Rahman" dan "Rahim", yang artinya adalah pengasih dan penyayang. Maka dalam hal ini, melalui "Rahman dan "Rahim-Nya, Allah juga sudah menjamin semua kebutuhan hidup hamba-Nya yang Ia ciptakan dan Ia kasihi serta Ia sayangi. Namun demikian tentu hal itu tidak akan manusia dapatkan begitu saja. Allah karuniakan pada manusia akal sehingga dengan akal tersebut manusia bisa berpikir untuk menjawab realitas kehidupan yang ia jalani. Dan tidak hanya akal saja, jauh sebelum manusia diciptakan dan dikarunia akal, Allah sudah memberikan wadah berupa bumi dan langit serta isinya, sehingga bagaimana agar akal tersebut dimanfaatkan berdasarkan ilmu yang telah Allah ajarkan, yang muara dari semuanya adalah keimanan dan ketaqwaan. 

Maka pada bab ini Allah berfirman : "Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui". (QS. al-Baqarah : 21-22)

Lantas bagaimana dengan kemiskinan ?

Kemiskinan merupakan hal bersifat pasti, yang artinya semua manusia akan melaluinya. Namun "pasti" yang setiap manusia akan melalui tersebut bukanlah lepas begitu saja, akan tetapi memiliki tujuan yang lebih esensi, yaitu untuk mengukur kadar keimanan dan ketaqwaan manusia. Hal ini sudah Allah tegaskan dalam firman-Nya :

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. al-Baqarah :155-157)

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan merupakan ujian semata yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia untuk mengukur sejauh mana manusia bertauhid kepada-Nya. 

Kemudian bagaimana dengan fakta kemiskinan yang ada dan terjadi ?

Disinilah Allah kembali menuntun manusia untuk menggunakan akalnya. Maka tak heran jika dalam Al-Qur'an banyak ditemukan ayat-ayat yang mengajak manusia untuk berpikir dan merenung serta bersyukur, hingga menemukan titik tauhid di dalamnya. 

Allah memberikan arahan atau dalam bahasa saat ini kisi-kisi kepada hamba-Nya bagaimana cara manusia bisa lulus dari ujian yang Allah berikan. Dan hal itu dicontohkan oleh Rasul-Nya Muhammad SAW. yang mana beliau mengajarkan kepada ummatnya untuk bekerja sebagai bekal ibadah kepada-Nya. Beliau mengajarkan kedisiplinan dan menjauhi kemalasan. Beliau mengajarkan kepada ummatnya untuk mejemput rezeki yang Allah taburkan di muka bumi. Beliau mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kedermawanan, serta budi pekerti yang mulia. Dan semua itu Muhammad ajarkan pada ummatnya sejak ia masih kecil, atau yang dalam sejarah dikenal dengan fase prakenabian. Mulai dari mengembala kambing hingga berniaga.

Tidak hanya itu, Allah pun memberikan rumus-rumus kongkrit pada manusia untuk menumbuhkan rasa peduli kepada sesama, termasuk di dalamnya adalah kepedulian kepada kemiskinan. Rumus-rumus itu berupa konsep zakat, infaq, dan shadaqah. Allah berfirman :

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”. (QS. At-Taubah: 71).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersedekah senilai dengan sebiji Kurma dari penghasilan yang baik (halal) dan Allah hanya menerima sedekah yang baik (halal), maka sesungguhnya Allah akan menerima sedekahnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Dia menumbuh-kembangkannya bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kamu menumbuh-kembangkan anak kudanya sehingga menjadi seperti (sepenuh) gunung.” (HR. Al-Bukhari II/511 no.1344, dan Muslim II/702 no.1014).

Maka, dalam hal mengatasi kemiskinan, sejatinya konsep-konsep inilah yang perlu disadarkan dan dikampanyekan kepada manusia agar kemiskinan tidak mengantarkan manusia pada lemahnya iman. Kepeduliaan sosial juga perlu digalakkan agar tercipta kehidupan yang sejahtera sebagaimana peradaban Madinah. Karena kemiskinan itu pasti akan manusia lalui sebagai ujian bagi manusia yang beriman, sebagaimana telah Allah firmankan di atas. Wallahu a'lam []

Usia Bukan Pembatas Untuk Belajar

Senin, 11 Februari 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Ketika kita berada di bangku Sekolah, mungkin kita sering mendengar motivasi dari guru kita bahwa “belajarlah sampai kita mati”. Motivasi tersebut merupakan penjelasan tentang urgensi belajar. Ilmu yang harus kita pelajari sangatlah banyak, bahkan saking banyaknya umur kitapun tidak cukup untuk mencarinya. Karenanya rugi kalau kita tidak memanfaatkan umur kita untuk senantiasa terus belajar. Tentu tidak semuanya harus melalui jalur formal, karena hal itu tidak semuanya bisa kita jangkau dengan kondisi kita yang beragam.

Tradisi cinta ilmu sejatinya sudah menjadi ciri khas seorang Muslim. Hal demikian sudah dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu yang tekun dalam mencari ilmu hingga melahirkan karya-karya yang menjadi pedoman hingga sekarang. Maka tidak heran jika suatu hari Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih, “Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?” Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal, “Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.

Mungkin kisah itu sudah menjadi catatan klasik, tapi makna yang tersirat sangatlah menarik dan mengandug makna yang sangat energik. Sehingga buah karyanya menjadi pedoman hidup para generasi setelahnya. Dan tentu yang demikian juga perlu ditiru jejaknya guna melahirkan generasi yang setara walaupun tidak sama dan tidak akan pernah sama.


Dalam konteks saat ini mungkin juga kita bisa petik ilmu “semangat” dari para pemburu ilmu. Yang teranyar misalnya potret kakek berusia 94 tahun bernama David Bottomley yang penulis temukan di Republika.co.id edisi 06 Februari 2019. David Bottomley menjalani  studi S-3 secara paruh waktu selama tujuh tahun dan kini tercatat sebagai wisudawan tertua di Australia yang berhasil menyandang gelar PhD. Dan Pada Rabu 06 Februari 2019, dia pun lulus dari Universitas Curtin di Perth dalam bidang metode mengajar di ruang kelas.

Maka kisah-kisah tersebut jangan hanya kita jadikan sebagai kisah populer semata, akan tetapi kita jadikan sebagai kisah fakta yang tersirat hikmah di dalamnya, terlebih oleh para generasi penerus bangsa calon pewaris perjuangan dalam menata dan mengelola bangsa dan negara dengan segudang problem yang ada di dalamnya.

Diam bukanlah sebuah solusi walaupun diam belum tentu sunyi. Bergerakpun juga bukanlah solusi jika gerakan kita tidak tentu arah dan tujuan yang berarti. Maka memadukan keduanya dengan ilmu adalah energi yang akan dapat merubah segalanya. Hal demikian sudah Rasulullah wasiatkan sebagaimana termaktub dalam haditsnya :

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).

Perkembangan informasi dan teknologi serta pesatnya media yang menghiasinya tentu menjadi wadah buat para generasi untuk berkreasi, mengekspresikan dan mengeksplorasikan gagasan-gagasan cemerlang menuju masa depan yang gemilang. Maka hal ini menjadi peluang besar khususnya anak muda untuk terus belajar mengais ilmu sebanyak-banyaknya sampai pada titik tiga, yang artinya dalam ilmu matematika adalah tidak terhingga, jangan hanya dijadikan sebagai alat untuk publikasi diri tanpa nilai yang berarti. Merasa sulit sudah pasti, tapi lebih sulit lagi jika kita tidak pernah memulai.

Semoga catatan singkat ini dapat menambah motivasi bagi para generasi, guna lahir para generasi yang hebat di masa yang akan datang.[]

*www.subliyanto.id

Kamus Saku Firdaus Buah Karya Putra Daerah Pamekasan

Minggu, 10 Februari 2019 0 komentar

Adalah Waris, putra daerah asal Kadur Pamekasan yang kini aktif di bidang pendidikan di Lamongan Jawa Timur kembali mewarnai dunia literasi. Kiprahnya menjadi catatan sejarah dalam dunia pendidikan. Ketekunannya dalam mengajar bidang bahasa inggris membuatnya terus berinovasi guna mengatasi temuan-temuan problematika dalam dunia pendidikan. Sekecil apapun permasalahan peserta didik yang ia temukan menjadi catatan kecil baginya, sehingga dari temuan itu diramu metode-metode mendidik yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Waris yang konsen di bidang bahasa inggris berkolaborasi dengan sahabatnya yang juga aktif di bidang pendidikan dengan fokus bidang bahasa arab, Ahmad Luthfi. Keduanya bergerak aktif melalui riset-riset di kelas yang mereka mengajar, hingga akhirnya ditemukanlah problem peserta didik dan diramu metode-metode yang dapat mempermudah peserta didik dalam belajar. Alhasil diterbitkanlah gagasannya dalam bentuk buku berupa kamus saku tiga bahasa bernama Firdaus.

Kamus yang diterbitkan penerbit Khattulistiwa tersebut dibuat sedemikian rupa, sehingga bisa memudahkan bagi pembaca mencari kosa kata dengan cepat. Sehingga pada gilirannya akan mendorong siswa punya kemampuan berbahasa Arab dan Inggris serta bahasa Indonesia secara otomatis. Bahkan, bila sudah jadi kebiasaan, maka akan sangat memungkinkan bagi siswa untuk berbicara atau conversation dengan cepat, baik bahasa Arab maupun Inggris.

Keunggulan kamus Firdaus yang disusunnya adalah kosa katanya mudah dicari  dan diingat. Selain disusun secara tematik dan diurutkan berdasarkan abjad, kamus ini juga dilengkapi kumpulan sinonim dan antonim. Jadi siapa pun yang membuka kamus tersebut akan bisa tahu perbendaharaan kata dan bahasa sekitar tema, sehingga bisa dipakai bahan percakapan atau conversation.
Tidak hanya itu, kamus tersebut juga dilengkapi dengan ungkapan-ungkapan pendek (sort expression) dan kumpulan peribahasa. Juga dilengkapi gambar agar tidak membosankan dan sangat cocok untuk anak-anak karena menarik.
Waris merupakan salah satu alumni Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Falah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Falah Sumber Gayam Kadur Pamekasan. Waris berharap dengan hadirnya kamus Firdaus tersebut dapat membantu dan memudahkan peserta didik pada semua jenjang dalam belajar, khususnya dalam menekuni tiga bahasa dengan rupiah yang sangat terjangkau oleh para orang tua.[]

Literasi dan Masa Depan Generasi

Sabtu, 09 Februari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto* 

Membaca dan menulis merupakan dua hal yang menjadi sumber ilmu pengetahuan manusia. Dengan membaca manusia akan mengetahui segala hal yang belum diketahui, dan dengan menulis manusia akan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki. Dan dua hal tersebut merupakan ajaran pertama dalam dunia pendidikan Islam sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an Surat al-'Alaq dan Surat al-Qalam.

Mungkin semua manusia bisa membaca namun tidak semua manusia bisa menulis, karena menulis membutuhkan kecakapan literasi dalam mengolah dan menganalisis serta menuangkan gagasan kreatif, inovatif, dan solutif yang dituangkan dalam goresan pena sebagai bentuk kontribusi pemikiran dan konsep untuk masa depan yang lebih baik. Maka membumikan dunia literasi merupakan hal yang sangat penting guna melahirkan generasi yang berbasis ilmu dan riset.

Pada 4 Februari 2019 Media Madura memberitakan : "Sebagai penghargaan terhadap pemuda atau mahasiswa yang gemar menulis dan tulisannya dimuat di media, Bupati Pamekasan Madura Jawa Timur Baddrut Tamam akan memberikan insentif terhadap pemuda dan mahasiswa yang gemar menulis". 

Berita ini tentu sangat mengembirakan dan perlu dijadikan amunisi motivasi oleh para generasi penerus bangsa khususnya yang berada di Pamekasan. Bukan hanya sebatas nilai insentifnya akan tetapi nilai-nilai visionernya yang harus ditanamkan oleh para generasi. 

Sebagai tambahan amunisi motivasi lietrasi, perlu kiranya kita juga mengikuti jejak warga Pamekasan yang aktif dalam dunia literasi. Salah satunya adalah M. Anwar Djaelani yang lahir pada 23 April 1962 di Pamekasan. Sejak 1980, dia hobi membaca dan menulis sampai sekarang. Dia cukup aktif menulis di media cetak sejak 1998 hingga kini, seperti antara lain di Jawa Pos. Khusus di tema-tema dakwah, mulai akhir Agustus 1996 sampai awal Juni 1997, tiap Jum’at menulis untuk buletin Yaumuna yang diterbitkan Komunitas Mantan Aktivis Masjid Universitas Airlangga. Lalu, 2002-2005, menjadi kontibutor tetap untuk Lembar Jum’at Al-Qalam yang diterbitkan Yayasan Penerbitan Pers Hidayatullah. Kemudian, dari 2004 sampai sekarang menjadi kontibutor tetap untuk Lembar Jum’at Hanif. 

Tidak hanya itu, buah dari keistiqamahannya dalam menulis juga ia bukukan. Diantara buku yang telah ia terbitkan adalah "Warnai Dunia dengan Menulis", "50 Pendakwah Pengubah Sejarah", dan "Jejak Kisah Pengukir Sejarah". Dan Anwar Djaelani hingga sekarang aktif sebagai pemateri dalam kepenulisan baik skala regional, nasional, hingga internasional.

Tentu tidak hanya Anwar Dajelani dari Pamekasan yang bisa kita jadikan rujukan ibrah, masih banyak putra daerah Pamekasan yang juga bisa diikuti jejaknya dalam dunia literasi. Hal itu menunjukkan dan semakin memperkuat bahwa Pamekasan itu hebat. Maka muatan kehebatan itulah yang harus menjadi panutan generasi Pamekasan pada khususnya, dan khalayak pada umumnya.

Semoga catatan singkat ini dapat memberikan tambahan motivasi untuk generasi Pamekasan.[]

*Penulis adalah pendidik asal Kadur Pamekasan. Aktivis sosial dan pendidikan di Kabupaten Gresik

Menguatkan Akal Sehat Seorang Muslim

Selasa, 05 Februari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Belum lama ini kita disuguhkan dengan sosok ahli filsafat bernama Rocky Gerung yang dalam sebuah diskusi menyatakan bahwa "kitab suci adalah fiksi". Sontak pernyataan tersebut menuai tanggapan yang beragam. Dan sudah bisa dipastikan yang merespon adalah manusia-manusia hebat yang masih punya akal sehat. Karena bagi manusia yang akalnya betul-betul sehat ia tidak akan serta-merta mengamini setiap paparan analogi yang seakan-akan sekilas tampak benar, karena kebenaran yang sesungguhnya bersumber dari konsep wahyu yang membutuhkan konsep iman dalam mencernanya. Dan dalam konsep iman terdapat hal yang tidak bisa dinalar oleh akal.

"Kitab Suci Fiksi", merupakan dua istilah kalimat yang bersifat umum dan bersifat khusus, dimana kalimat yang khusus menjadi penjelasan dari kalimat umum yang di depannya sehingga akan mempunyai makna sebagai sifat. Jika itu yang terjadi maka nilai-nilai esensial dari kitab suci akan lenyap. Dan hal ini akan berakibat fatal bagi aqidah seorang muslim.

Demikian juga istilah fiktif yang menurut Rocky beda maknanya dengan dengan fiksi. Namun perbedaan tersebut Rocky jelaskan dalam definisi secara terminologi saja, ia lupa bahwa setiap makna sebuah istilah erat kaitannya dengan makna akar katanya. Dan tentu hal ini kesalahan fatal dalam konsep berilmu. Karena dalam setiap definisi pertama kali yang harus diketahui adalah makna secara etimologi terlebih dahulu kemudian makna secara terminologinya, karena keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Lantas teori apa sebetulnya yang dipakai Rocky dengan konsep akal sehat yang diusungnya ?

Hamid Fahmi Zarkasyi dalam paparannya tentang sejarah peradaban barat menjelaskan bahwa : "Barat ketika masuk zaman modern orang berpikir bagaimana menemukan kebenaran. Tetapi ketika barat masuk pada zaman posmodern dia tidak lagi berpikir bagaimana mencari kebenaran, tetapi mempertanyakan kebenaran. Yang dicari oleh orang posmodern adalah makna, bukan lagi logika formal. Yang dipertanyakan oleh orang posmodern adalah makna-makna atau kebenaran dibalik makna. Sedangkan makna di dalam kebenaran ada di dalam bahasa".

Dari sini dapat disimpulkan bahwa teori akal sehat yang diusung oleh Rocky sangatlah tidak relevan dengan konsep-konsep dalam Islam. Karena secara tidak langsung kita digiring untuk masuk pada pola pikir yang tidak sehat.

Dalam kitab "Tijanud Darori dan kitab As-Sanusi" terdapat istilah "Ad-Daur wa At-Tasalsul", yaitu pola pikir yang bersifat perputaran logika yang tidak ketemu pangkal dan ujungnya, hingga lupa kebenaran yang sesungguhnya. Tentu ini harus menjadi warning bagi generasi muslim agar tetap pada garis-garis kebenaran yang telah dibakukan dan dibukukan. Sehingga tidak terjebak pada pola pikir yang berantakan.

Semoga catatan singkat ini dapat menjadi filter bagi kita dalam memainkan logika dan memposisikannya. Sehingga akal sehat yang sesungguhnya terpatri dalam pribadi-pribadi muslim generasi penerus bangsa.[]

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan Islam. 

Masyarakat Harus Cerdas Bermedia

Kamis, 24 Januari 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Kecerdasan dalam bermedia sudah menjadi kewajiban kita bersama, baik sebagai pelaku media maupun sebagai konsumen. Sehingga informasi dapat kita sampaikan dan diterima dengan baik oleh khalayak. Untuk itu sebelum lebih jauh pembahasan ini, penulis mengajak pada kita semua untuk mencerna sajian data berikut.

Sajian Data : Tempo 10 Februari 2018

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengklaim dengan memiliki sekitar 47.000 media massa terdiri dari media cetak, radio, televisi dan media online, Indonesia memiliki media masa paling banyak di dunia.

"Dari jumlah itu 2.000 adalah media cetak, 674 radio, 523 televisi termasuk lokal, dan lebihnya media daring," kata dia saat puncak HPN 2018 di Padang, Jumat 9 Februari 2018.

Namun, dari jumlah media itu masih banyak yang asal saja, tidak memenuhi syarat sebagai media tetapi tetap eksis karena dibantu APBD.

Selain itu, wartawannya juga tidak semua memiliki kompetensi karena tidak memiliki pengetahuan jurnalistik, tidak pula pernah mengikuti pelatihan jurnalistik. Ia merinci hingga saat ini baru terdaftar sekitar 14 ribu orang wartawan yang memiliki kompetensi.

Yosep lalu mengimbau kebebasan pers yang dinikmati saat ini tidak dijadikan kesempatan untuk membuat berita bohong atau hoaks, di antaranya dengan meningkatkan kemampuan wartawan dan verifikasi media massa.

Dewan pers berkomitmen untuk melaksanakan hal tersebut secara bertahap. Yosep juga mengingatkan dalam tahun politik, media massa di Indonesia tetap menjaga objektivitas dan netralitas, tidak terjebak kepentingan politik. Menurutnya, Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilu 2019 adalah batu ujian untuk netralitas media massa.

Hari puncak HPN 2018 digelar di Muaro Lasak, Pantai Padang, dihadiri sejumlah gubernur, menteri, duta besar dan ribuan wartawan.

***
Sajian data di atas merupakan bagian dari landasan pemikiran artikel ini tentang media dan kiprahnya. Setidaknya dengan data tersebut kita dapat membayangkan sendiri betapa kuatnya pengaruh media pada khalayak di negeri ini.

Apresiasi pada media tentu sangat penting karena keberadaannya merupakan mitra kita semua untuk ikut mengawal perjalanan satu bangsa menuju yang lebih baik. Namun demikian juga tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita bisa mengedukasi bangsa ini melalui media-media yang ada dengan sajian-sajian penanya.

Kehadiran media merupakan wadah edukasi publik untuk menyampaikan informasi aktual dan faktual serta kredible. Sehingga kiprahnya dapat membantu masyarakat kita dalam mengikuti perkembangan situasi dan kondisi yang ada, mulai dari pelosok Desa hingga lintas Negara. Untuk itu yang diperlukan adalah selain dari profesionalisme para jurnalis, juga kecakapan optional kita dalam mengkonsumsi sajian-sajian media-media yang ada.

Bagi para jurnalis sudah tentu syarat wajib untuk memegang teguh kode etik jurnalistik, sehingga sajian informasinya dapat mengedukasi publik. Dan bagi kita para konsumen media juga harus cerdas dalam memilih dan merepost sajian-sajian media agar tidak terjebak pada zona hoax yang hingga saat ini masih santer menjadi perbincangan.

Dalam mengkonsumsi sajian-sajian media ada satu hal yang harus menjadi pedoman utama agar informasi yang kita konsumsi dapat dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan, yaitu berupa legalitas formal media. Hal itu menjadi sangat penting karena legalitas media merupakan indikator utama bahwa media tersebut memiliki badan hukum yang tentu kontennya juga dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan mata hukum yang ada.

Maka dari itu, cerdas bermedia itu menjadi hal penting bagi kita guna memberikan edukasi kepada semua generasi bangsa, agar para generasi kita tidak terjebak pada sajian-sajian informatif yang bersifat hoax. []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan, serta penggemar media sosial. Website : www.subliyanto.id

 
SUBLIYANTO.ID © 2019