Afi Nihaya Faradisa dan Masa Depan Generasi Bangsa

Jumat, 11 Januari 2019


Oleh : Subliyanto*
Afi, bernama lengkap Afi Nihaya Faradisa, putri cantik asal Banyuwangi ini yang beberapa waktu lalu sempat membuat gempar dunia maya dan dunia nyata karena goresan penanya berjudul “Warisan” yang dianggap membawa pesan perdamaian hingga aromanya menembus meja istana, kini ia kembali beraksi dengan menanggapi kasus prostitusi.

Sudah manusiawi bahwa terkadang manusia untuk mendongkrak eksistensinya dengan membuat sesuatu yang unik, dan menarik serta bahkan bisa membuat sesuatu yang dapat menuai kontroversi. Sepertinya demikian juga dengan putri satu ini.

Afi melalui penanya menulis tanggapan tentang kasus prostitusi yang baru-baru ini sangat viral. Berikut tanggapan yang Afi tulis di facebooknya pada 6 Januari pukul 16.34, mari kita cermati :

====

Tanggapan saya mengenai kasus prostitusi artis VA yang viral:


1. Ada permintaan, ada penawaran. Hukum pasar dalam bidang ekonomi pasti seperti itu. Dan VA berhasil melampaui hukum pasar tersebut, dia menciptakan pasarnya sendiri. Dia yang memegang kontrol dan otoritas atas harga, bukan konsumennya. Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Seperti produk Apple Inc. atau tas Hermes-- kita bisa belajar dari sana. Padahal, seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dll. Lalu, yang sebenarnya murahan itu siapa? eh  (Makanya, kalau tidak mau dihakimi jangan menghakimi). 

2. Masyarakat kita mempunyai mentalitas "holier-than-thou" atau merasa diri lebih suci, lebih superior daripada manusia lain yang kebetulan terbuka aibnya. Karena itulah yang semacam ini bisa viral. Selanjutnya "flawed society" ini akan bergosip, menghujat di akun medsos artis yang bersangkutan, dan membully karena secara tidak sadar itu memberi kepuasan psikologis berupa perasaan "aku lebih baik, lebih bermartabat". Membuat orang lain menjadi bahan bercandaan itu enak. 

3. Media seperti Kumparan dan Jawa Pos memanfaatkan momen ini untuk berburu klik, view, dan pembaca dengan cara menyebutkan SECARA LENGKAP nama artis, tapi SAMA SEKALI TIDAK ADA nama laki-lakinya. Padahal, dalam transaksi ada penjual ada pembeli. Saya turut kecewa dengan kualitas jurnalistik yang sangat memihak dan mendiskreditkan perempuan (misoginis), hanya karena cara buruk seperti itu lebih efektif untuk menjaring minat pembaca. Shame on you! Please reveal both sides, it takes two to tango! 

4. Dalam masyarakat kita, memang apa-apa salah perempuan. Pemerkosaan salah perempuan. KDRT salah perempuan. Poligami salah perempuan. Suami selingkuh salah perempuan. Hamil di luar nikah salah perempuan. Prostitusi salah perempuan. Mengapa? Sederhana, karena masyarakat kita masih jahat terhadap perempuan. Tidak ada kesetaraan gender, literasi sangat rendah, kaum terdidik masih sedikit. Ya begitulah karakteristik negara berkembang yang sakit kronis, penuh pejabat korup, banyak masalah SARA/HAM, kesejahteraan kurang.
Halo, sobat missqueen 

- Afi Nihaya Faradisa
#AfiPsikologi

====


Kira-kira apa yang terbayang di kepala pembaca setelah membaca tanggapan Afi di atas? Tentu jawabannya beragam sesuai kapasitas keilmuan para pembaca masing-masing. Namun demikian, goresan Afi di atas perlu diseriusi untuk dikaji dan ditanggapi guna memberikan pemahaman yang benar kepada para generasi penerus bangsa. Karena tulisan Afi bukanlah amunisi akan tetapi merupakan racun bagi pembacanya khususnya generasi yang masih minim keilmuannya.

Bagi penulis, tanggapan Afi di atas tidak mencerminkan sebagai sosok yang lulus dalam pendidikan agama, terlebih agama yang melekat pada dirinya. Penganut agama yang radikal, dalam hal ini agama apapun yang diakui di Indonesia tidaklah ada yang membenarkan perilaku-perilaku yang tidak bermoral, apalagi sampai kelas prostitusi. Tidak tebang pilih siapapun pelakunya, karena perilaku tersebut memang penyakit sosial dan penyakit moral yang harus dibereskan.

Maka sangat wajar jika hal tersebut diekspos pemberantasannya agar dapat mengedukasi khlayak sehingga terus mewaspadai dan menjaga diri serta mencegah  jamur penyakit sosial tersebut. Disinilah peran kebersamaan semua pihak sesungguhnya termasuk media guna memberikan pendidikan yang benar kepada para generasi bangsa yang akan menjadi penerus perjuangan negeri ini.

Penulis menilai Afi menulis dengan rasa sehingga tak heran jika tanggapannya juga mewakili perasaan dirinya sebagai perempuan. Dan teori yang dipakai adalah teori ekonomi yang notabeni berbicara untung dan rugi. Namun Afi lupa bercermin sehingga ia tidak bisa melihat dan bertanya, bagaiamana seandainya pelakunya adalah dirinya ? Bagaimana rasa sakit kedua orang tuanya yang telah membesarkannya ? Bagaimana rasa sakit para gurunya yang telah mendidiknya ? Dan bagaimana rasa sakit orang-orang sekitarnya yang telah mengaguminya ?.

Maka karena Afi masih pelajar yang sedang mengenyam pendidikan, dan Afi anak psikologi, maka penulis yakin Afi akan menemukan jawabannya dengan teori psikologi yang ia pelajarinya. Pesan penulis kepada Afi khususnya hanyalah “pelajarilah agama secara radikal agar dengan agama kita bisa mencerna dengan lebih rasional”.

Semoga Afi bisa lebih serius lagi dalam belajar psikologi di kursi pendidikannya saat ini, sehingga goresan penanya lebih bisa memberi manfaat kepada para generasi negeri ini. Bukan hanya sebatas prinsip dan kepentingan ekonomi akan tetapi untuk prinsip dan kepentingan kehidupan yang hakiki. []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. Putra Daerah Pamekasan. Website www.subliyanto.id

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019