Gaji Dokter Versus Gaji Tukang Parkir

Selasa, 15 Januari 2019

Oleh : Subliyanto*
Terasa geli di telinga membaca kutipan pidato kebangsaan calon presiden 02 Bapak Prabowo Subianto yang dikutip oleh kumparan.com pada 14/1/2019. Dan rasanya juga tidak salah kalau penulis sebagai warga negara Indonesia bertanya sebagai bentuk konfirmasi melalui tulisan ini "Apakah Benar Gaji Dokter Lebih Kecil dari Tukang Parkir Mobil ?". Tidak lain dan tidak bukan semata-mata hanya untuk mengedukasi publik dengan tujuan agar publik ini tidak dicekoki dengan pernyataan yang tidak berdasar.

Prabowo dalam pidato kebangsaannya di JCC Senayan, Jakarta, Senin (14/1)sebagaimana dikutip laman kumparan.com menyatakan bahwa "Dokter-dokter kita harus dapat penghasilan yang layak. Sekarang banyak dokter kita gajinya lebih kecil dari tukang jaga parkir mobil". Dan setelah penulis konfirmasi dengan mendengarkan ulang pidato tersebut ternyata Prabowo memang menyatakan demikian kira-kira pada titik 25% menjelang pidato berakhir.

Penulis sendiri sangat memaklumi dan menyadari serta bersifat wajar menjelang pesta politik 2019 mendatang jika para paslon harus meyakinkan pada rakyat dengan janji-janji politiknya. Namun demikian karena yang dihadapi adalah jutaan rakyat Indonesia yang notabeni kondisinya dalam berbagai aspek tidak sama, maka sudah seharusnya kita berpijak pada data dan fakta.

Membaca Fakta Teranyar

Hanya dalam hitungan hari sebelum Bapak Prabowo berpidato tepatnya pada tanggal 12 Januari 2019 media-media di madura khususnya mengabarkan bahwa sejumlah Tenaga Harian Lepas (THL) di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Pamekasan, Madura, Jawa Timur dikumpulkan oleh Dishub setempat dan disampaikan bahwa mereka akan dikontrak dengan honor Rp 75.000 perbulan. Berikut penulis sajikan kutipan portalmadura.com :

"Tenaga Harian Lepas (THL) di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Pamekasan, Madura, Jawa Timur harus gigit jari. Pasalnya, mereka yang rata-rata sudah bekerja 9 tahun tidak pernah mendapat gaji sepeserpun dari instansinya. Ironisnya, pada tanggal 10 Januari 2019 para THL dikumpulkan di aula Dishub yang berlokasi di Jalan Bonorogo tersebut, dalam pertemuan itu disampaikan bahwa mereka akan dikontrak dengan honor Rp 75.000 perbulan. Praktis dengan adanya kebijakan baru itu, para THL berkeluh kesah lantaran honornya sangat tidak layak, tetapi mereka enggan menyampaikan keberatan tersebut".(portalmadura.com 12/1/2019)

Ulasan-ulasan di atas merupakan data update tentang sebagian nasib juru parkir di daerah yang menghiasi media pemberitaan pada 12 januari 2019 kemarin.

Membandingkan Secara Proporsional

Tidak adil kiranya kalau penulis hanya menyajikan data dan fakta tentang Tenaga Harian Lepas (THL) yaitu juru parkir saja. Maka disini penulis mencoba menelusuri data dan fakta gaji dokter melalui media informasi yang setidaknya berdasarkan rangking google berada di tiga besar.

www.aturduit.com dengan judul artikelnya "Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia ( Update September 2018)" menjelaskan bahwa "sebagai seorang dokter spesialis di Indonesia memang tidak memiliki standar yang sama apalagi jika membandingkan dokter spesialis yang praktek di rumah sakit pemerintah dengan rumah sakit swasta. Seorang dokter spesialis di Rumah Sakit pemerintah rata-rata hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 10 juta per bulan dan ini sudah termasuk gaji pokok, insentif, dan jasa kunjungan pasien. Sedangkan, gaji dokter umum per bulan hanya Rp 4,8 juta. Berbeda dengan dokter spesialis di Rumah Sakit swasta yang gajinya bisa mencapai minimal Rp 50 juta per bulannya".

Nah dengan demikian setidaknya dari dua data di atas kita dapat menemukan jawaban yang rasional. Sehingga kita juga bisa meposisikannya secara proporsional. Dan adalah sangat tidak wajar dan tidak rasional jika memang gaji dokter lebih kecil dari gaji ataupun honor tukang parkir. Lantas dimana apresiasi negara ini pada nilai keilmuannya yang ia miliki ? Bukankah semua itu sudah menjadi SOP dalam tiap-tiap instansi pemerintah ?

Lagi-lagi demi mengedukasi penduduk negeri agar masyarakat kita di indonesia ini terbiasa dengan sesuatu yang berbasis data dan fakta. Sehingga apa yang kita sampaikan ke masyarakat bisa dipertanggung jawabkan. Maka dalam hal ini, penulis tidak memandang siapa sosok yang menyatakan. Akan tetapi lebih pada nilai-nilai edukasi dari konten-konten yang disampaikan. Semoga dengan tulisan ini dapat mengantarkan kita pada kebaikan-kebaikan sebagai upaya bentuk kepedulian pada Indonesia. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan, putra Daerah Pamekasan Madura. Twitter @Subliyanto

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019