Kajian Sejarah : Al-Qur'an dan Pemimpin

Sabtu, 05 Januari 2019

Oleh : Subliyanto*
Masih santer di telinga kita tentang pro kontra tes alQur'an untuk calon pemimpin Indonesia 2019 mendatang. Wacana yang menarik itu nampaknya membuat situasi politik semakin hangat.

Namun demikian tentu wacana tersebut perlu diapresiasi sebagai bagian dari pola demokrasi mengingat mayoritas rakyat Indonesia adalah muslim. Sehingga masih dapat dikatagorikan sangat layak jika salah satu kriteria pemimpin Indonesia adalah yang ahli dalam bidang alQur'an, guna melahirkan pemimpin yang arif dan bijaksana.

Membaca korelasi antara sosok pemimpin dan alQur'an, terdapat kisah menarik yang kiranya patut menjadi renungan bagi kita. Yaitu dialog antara Nafi’ bin Abdul Harits dengan 'Umar di 'Usfan. Berikut kisahnya :

Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan. Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”(HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817])

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa alQur'an sangatlah erat kaitannya dengan pemimpin dan sistem kepemimpinan. Karena dengan paham dan memahami alQur'an maka semua permasalahan hidup dan kehidupan akan mudah terselesaikan, karena alQur'an merupakan petunjuk bagi manusia. Allah berfirman :

"Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat." (QS. alBaqarah : 1-7)

Rasulullah SAW. juga mewasiatkan, agar seorang pemimpin hafal alQur'an. Dalam salah satu hadist, beliau berkata, “Yang lebih layak menjadi imam suatu kaum, adalah yang paling banyak hafalannya,” pesan beliau dalam memilih imam shalat berjamaah (HR Muslim).

Abu Hurairah RA. menutur­kan, suatu ketika Rasulullah bermaksud mengutus satu delegasi dalam jumlah banyak. Untuk menentukan pemimpin rombongan, Nabi mengetes hafalan para kandidat. Satu per satu mereka diminta setor­an hafalan (muraja’ah). Salah satunya adalah seorang sa­habat termuda.

“Surat apa yang kau ha­fal?” tanya Rasul pada seorang pemuda. “Aku hafal surat ini, surat ini… dan surat Al Baqarah,” jawabnya dengan takzim. “Benar kamu hafal AlBaqarah?” Nabi menegaskan. “Benar,” jawab kandidat mantap sambil menyetor ha­falan. “Baik, kalau begitu kamu­lah pemimpin delegasi, be­rangkatlah” titah Rasulullah saw kemudian (HR At-Tir­midzi dan An-Nasa’i).

Memegang amanah sebagai pemimpin bukanlah hal yang mudah. Seorang pemimpin harus memiliki ilmu dan kemampuan yang mumpuni dalam memimpin. Selain itu, akan lebih baik lagi jika seorang pemimpin tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual saja tapi juga moral dan spiritual. Memiliki ketataan yang luar biasa kepada Tuhan-Nya dan bekerja keras lillahi ta'ala agar rakyatnya sejahtera, bukan hanya untuk meraih popularitas semata. Karena pertanggung jawaban terberat bagi seorang pemimpin adalah ketika kelak di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.

Dari Ibnu Umar RA berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).

Semoga dengan catatan kajian sejarah di atas dapat menjadi renungan dan motivasi bagi kita dalam memilah dan memilih serta menentukan sosok seorang pemimpin dalam kehidupan kita. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan. Website : www.subliyanto.id

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019