Nanti, Jari Kitapun Akan Bicara

Kategori Berita

Azwar Halaman Atas 950x250

IMG-20190815-WA0003

Nanti, Jari Kitapun Akan Bicara

Subliyanto
Rabu, 09 Januari 2019
Foto : By. Google
Oleh : Subliyanto*
Bismillah walhamdulillah, was shalatu was salamu 'ala Rasulillah, la haula wa la quwwata illa billah.

Sebagai prolog, penulis mengajak kepada kita semuanya untuk menyadari bahwa setiap gerakan kita  dimonitor oleh Allah SWT. Dan ketika kelak dimintai pertanggung jawaban di sisi-Nya maka kita tidak bisa mengelaknya, karena pada hari itu bukan mulut kita lagi yang bicara, akan tetapi semua anggota tubuh kita akan menjadi saksi atas apa yang kita lakukan. Allah berfirman :

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan". (QS Yasin : 65)

Tentu telah kita ketahui bersama melalui siaran-siaran berita bahwa akhir-akhir ini icon jari semakin viral. Bahkan saking viralnya jari kita bisa menjadi celah terjeratnya kita pada pasal perundang-undangan yang berlaku di negeri kita ini.  Sebut saja contoh yang paling anyar adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Gubernur DKI Jakarta itu dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) oleh Presidium Garda Nasional untuk Rakyat (GNR) Agung Wibowo Hadi terkait kehadirannya di Konferensi Nasional Gerindra di Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12). Anies dianggap telah melanggar Pasal 281 Undang-undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum. (cnnindonesia.com)

Tentu bukan kapasitas penulis untuk ikut mengomentari hal itu. Bagi penulis kejadian tersebut hanyalah merupakan satu contoh akan makna dari sebuah peristiwa yang mengandung ibrah bahwa ternyata dengan sekecil jari saja kita bisa dihadapkan dengan persoalan yang harus dipertanggung jawabkan, apalagi lebih besar dari jari, sudah tentu pertanggung jawabannya juga lebih besar.

Allah anugrahkan kepada kita berupa tangan yang dilengkapi dengan jari-jarinya. Maka dalam konsep islam kita diajarkan yang namanya bersyukur, yaitu berterimakasih kepada Allah atas segala nikmat yang telah Allah berikan dan memanfaatkannya untuk kebaikan sesuai garis-garis yang sudah ditentukan.

Mengkaji firman Allah yang penulis jadikan prolog di atas, setidaknya membuat kita akan lebih berhati-hati atas apa yang kita sedang dan akan kita kerjakan dalam hidup dan kehidupan ini. Apalagi seiring berkembangnya informasi dan teknologi, nampaknya peran dan eksistensi jari-jari kita semakin membawa pengaruh yang besar sepadan dengan mulut kita. Nuansa suara pada zaman yang dikenal dengan "zaman now" berjalan berdampingan dengan nuansa potensi gerakan jari dalam menulis dan menterjemahkan rasa dalam bentuk kata-kata dan terpublish di media-media.

Maka sistem filterasi pada diri kita juga harus terus dibenahi agar semua yang kita kerjakan terus terkendali. Dan kualitas hati kitalah sesungguhnya yang menjadi sumber energi semua gerakan jasad kita.

Rasulullah SAW. bersabda : "Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila dia baik, maka menjadi baik pula semua anggota tubuhnya. Dan apabila rusak, maka menjadi rusak pula semua anggota tubuhnya. Ketahuilah dia itu adalah hati.'” (Muttafaq ‘alaihi)

Berikut penulis sajikan kisah hikmah yang menceritakan tentang pentingnya menjaga hati :

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba beliau berkata, ‘Akan lewat di hadapan kalian saat ini seorang calon penghuni surga.’ Lalu lewatlah seorang pemuda Anshar dalam keadaan dari jenggotnya menetes sisa-sisa air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Pada keesokan harinya, Rasulullah bersabda lagi persis sebagaimana sabdanya kemarin, lalu lewatlah pemuda tersebut dengan keadaan persis dengan keadaannya yang kemarin. Dan pada hari yang ketiga Rasulullah mengulang lagi sabdanya seperti sabdanya yang pertama dan pemuda itu pun muncul lagi dengan keadaan seperti keadaannya yang pertama. Maka, ketika Rasulullah beranjak pergi, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash segera mengikuti pemuda tersebut (ke rumahnya), lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya antara aku dan bapakku telah terjadi perselisihan, maka aku bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama 3 hari. Jika engkau tidak keberatan, aku ingin menumpang padamu selama 3 hari tersebut.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Ya, tidak apa-apa.'”

Selanjutnya Anas berkata, “Maka Abdullah menceritakan bahwa selama 3 hari bersama pemuda tersebut, dia tidak melihatnya melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikitpun. Yang dia lakukan hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh. Selain itu, Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah 3 hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak 3 kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?’ Orang tersebut berkata, ‘Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat.’ Maka ketika aku telah berpaling (pergi), dia memanggilku dan berkata, ‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.’ Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.'” (HR. Ahmad)

Semoga dengan kisah di atas dapat memperkokoh keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, dan senantiasa dapat mensucikan hati kita sehingga dengannya dapat melahirkan perkataan-perkataan yang kita terjemahkan dalam bentuk tulisan-tulisan, serta kita gerakkan melalui gestur raga kita, yang semuanya dalam nuansa dan bingkai kebaikan. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan asal Pamekasan. www.subliyanto.id