111 Tahun Hamka, Kisah Dakwah yang Lembut tapi Menggerakkan

Jumat, 15 Februari 2019

Oleh : M. Anwar Djaelani* 

Hamka (1908-1981), inspiratif. Bahwa, tokoh yang tak tamat SD itu memiliki banyak predikat seperti -antara lain- pendidik, pemikir, sastrawan, aktivis politik, dan ulama. Pendekatan dakwahnya yang lembut, memikat banyak kalangan.

Indah, Menggugah!

Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan Hamka merupakan singkatannya yang populer. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 17/02/1908. 

Jika menilik tanggal lahirnya, yaitu 17/02/1908, maka di hari-hari ini –di kesempatan “111 Tahun Hamka”- patut jika kita berkonsentrasi dalam menelaah perjalanan dakwahnya. Model dakwah Hamka termasuk lengkap, sebab lisan dan tulisan dia sama-sama kuat. 

Dakwah Hamka tak hanya diterima di Indonesia, tapi juga di Malaysia, Singapura, dan Thailand. Terutama di Malaysia, buku-bukunya menghiasi sejumlah perpustakaan universitas terkemuka dan banyak menginspirasi para aktivis. 

Hampir semua karya tulisnya –seperti tentang kajian keislaman maupun novel Islami- diminati banyak fihak. Sementara, karyanya yang paling monumental adalah Tafsir Al-Azhar.

Kehidupan Hamka penuh warna. Tapi, dakwah adalah bagian terbesar aktivitasnya. Untuk itu, sekarang, kita konsentrasi di aspek ini saja: Pendekatan dakwah Hamka.

Terutama setelah menetap di bilangan Jakarta Selatan dan Masjid Al-Azhar ada di dekat rumahnya, banyak-lah tamu yang datang. Tamu-tamu yang silih-berganti itu berlatar-belakang sosial dan memiliki pemahaman keagamaan yang beragam. Mereka datang dengan keperluan yang beraneka macam.

Di sebuah hari, datang perempuan dengan busana kurang elok. Dia bertamu ke seorang Ulama Besar dengan kostum siap main tenis dan lengkap dengan raketnya.

“Pak Hamka, saya ingin belajar agama,” aku si perempuan.
“Tapi,” lanjut dia, “Saya ini selalu main tenis.”

Merujuk kepada pernyataannya, si tamu tampaknya merasa bahwa antara belajar agama dan main tenis adalah dua hal yang bukan saja berbeda tapi juga berseberangan. Mungkin, dia berfikir, main tenis yang nyaris identik dengan berpakaian sangat terbuka itu tak akan sejalan dengan spirit kegiatan belajar agama yang “suci”.

“Main tenis saja (dulu), Bu,” respon Hamka.
“(Nanti) kalau ngaji –belajar agama- silakan datang ke sini,” lanjut Hamka dengan lembut. 

Di fragmen di atas, tak ada ceramah Hamka tentang kewajiban “berbusana Muslimah” seperti yang telah diatur oleh Islam. Di pertemuan itu, tiada khutbah Hamka terkait larangan membuka aurat bagi laki-laki dan perempuan Muslim. Boleh jadi, dalam kalkulasi Hamka saat itu, si tamu belum tentu siap jika dikhutbahi secara lengkap perihal aturan dalam berbusana menurut Allah dan Rasul-Nya.

Lalu, bagaimana perkembangan performa “Tamu perempuan berbaju tenis” itu? Berubah-lah dia! Misal, dia lalu dekat dengan anak-anak Hamka dan mereka menyapanya dengan sebutan “Tante Rafi’ah”. Dia rajin mengikuti ceramah Hamka. Dia selalu berjilbab. Bahkan, sampai meninggal, dia istiqomah menegakkan tahajjud.
“Kalau kita datang ke Masjid Al-Azhar untuk shalat subuh berjamaah, kita akan mendapatinya tengah menyelesaikan tahajjud,” demikian Afif –putra Hamka- mengenang sosok perempuan “Berbusana tenis” yang telah hijrah itu. Masya-Allah!

Sekarang, fragmen lain dan di hari yang berbeda. Seorang perempuan datang bertamu dan mengajukan masalah yang mengganjalnya.

“Bapak, saya selalu pakai kutek, tapi saya mau shalat,” demikian pengaduan si perempuan yang tampaknya dari kalangan orang yang berada.

“Silakan pakai kutek. Tapi, kuku itu mesti dibasuh (saat) wudhu. (Sebenarnya) Ibu punya waktu buat pakai kutek (yaitu) di saat menstruasi,” jelas Hamka.                                                                                  Apa hasil dari dialog ringkas dan ringan itu? Ada catatan, bahwa untuk selanjutnya perempuan itu tak hanya rajin shalat, tapi juga tak pernah lepas dari kerudung setiap saat dia ada di luar rumah. Masya-Allah!  

Jika diperpanjang, banyak kisah yang serupa dengan dua fragmen di atas. Intinya, betapa banyak kalangan terpelajar datang menemui Hamka di Masjid Al-Azhar Jakarta. Mereka datang dengan busana dan dandanan yang kurang sesuai dengan syariat Islam. Tapi, atas kenyataan itu, Hamka tidak menunjukkan sikap berkeberatan untuk mengajar mereka di masjid. Di saat-saat awal, Hamka tidak langsung mengajarkan kepada mereka materi berupa larangan-larangan dalam agama. Beliau memulainya dengan memberikan pemahaman dasar.

Berikutnya, inilah bentuk dakwah Hamka yang adaptif-kreatif tetapi tetap dalam bingkai syariat yang ketat. Bahwa, berdasar masukan seorang sahabatnya, Hamka setuju jika dakwah kepada remaja bisa lewat jalur seni dan budaya. Masjid Al-Azhar Jakarta tak boleh abai kepada pendekatan dakwah lewat seni dan budaya. Misal, rebana dan musik, silakan.
Hamka sependapat dengan masukan si sahabat, sebab “Allahu jamilun, yuhibbul jamal – Allah itu indah, senang kepada keindahan”. Maka, menjadi semaraklah syiar melalui seni dan budaya di Masjid Al-Azhar Jakarta. Pementasan musik diselenggarakan di halaman masjid. Pernah pula, di sebuah Peringatan Maulid Nabi Saw, dihadirkan pasukan kavaleri berkuda. Tentu saja, acara yang disebut terakhir itu berkesan bagi anak-anak dan remaja. Kesan kuat ini diharapkan menjadi pemicu hebat agar hati mereka tertambat ke masjid (Yusuf Maulana, 2018: 196-199).     

Langkah dakwah Hamka, lembut tapi tetap bisa menggerakkan. Ini, sebuah pendekatan dakwah yang berbuah manis karena punya landasan kukuh. Perhatikanlah hadits ini: _"Permudahlah dan jangan persulit. Buatlah mereka gembira dan jangan buat mereka lari"_ (Muttafaq 'Alaih). Cermatilah pula ayat-ayat ini: _“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”_ (QS Al-Baqarah [2]: 185). _“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”_ (QS Al-Hajj [22]: 78).
Memikat dan Nyaman

Dakwah Hamka lembut dan mendatangkan rasa nyaman. Kisah dua perempuan di atas yang selamat dalam menjalani “hijrah”-nya hanyalah sekadar sedikit contoh. Sungguh, dalam hal performa dakwah Hamka, tak hanya umat Islam yang terpikat tapi yang berlainan iman juga banyak yang merasa nyaman. Maka, kepada Hamka yang meninggal pada 24/07/1981 itu, kita tak boleh jemu berguru. []

*Anwar Djaelani adalah penulis buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. www.anwardjaelani.com

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019