E-Book Exclusive : Asiyah Tegar di Sisi Fir'aun

Kamis, 14 Februari 2019


Allah memberikan perumpamaan bahwa orang yang beriman diteguhkan hatinya sebagaimana dialami Asiyah yang mendapat perlindungan meskipun ia berada di dalam rumah tangga penghulu orang kafir, yaitu rumah Fir'aun yang dikenal sebagai seorang tiran yang sewenang-wenang. Kekuasaan dan keangkuhan Fir'aun sama sekali tidak membahayakan aqidah istrinya sendiri, Asiyah, yang beriman kepada Allah Ta'ala dan risalah Musa.

Ini menunjukkan bahwa meski kita berada di rumah orang kafir sekelas Fir'aun sekalipun, jika ada iman yang menjadi benteng dalam diri kita, yakinlah bahwa Allah Ta'ala akan memberikan keselamatan. Di tengah-tengah kebencian Fir'aun terhadap risalah Nabi Musa dan di puncak keangkuhannya yang mengaku sebagai tuhan, Fir'aun ternyata tidak mampu menaklukkan hati istrinya sendiri. Bahkan dengan tegar dan kuat, Asiyah berdoa kepada Allah, "Ya Rabb-ku bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim." (QS. at-Tahrim [66])

Terkait doa Asiyah di atas, Abul Aliyah berkomenter dari sudut sebab turunnya ayat tersebut, bahwa Fir'aun mengetahui keimanan istrinya, lalu dia keluar di hadapan khalayak ramai seraya berkata, "Apakah yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahim?" Mereka memujinya. Maka Fir'aun berkata kepada mereka, "Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selain aku. Mereka bertanya kepadanya [jika demikian] bunuhlah dia. Kemudian dibuatkan untuknya tiang. Setelah itu tangan dan kakinya diikat.

Maka Asiyah pun berdoa dengan doa ini: Ya tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga. Hal itu bersamaan dengan kehadiran Fir'aun di tempat penyiksaan. Maka Asiyah tertawa ketika melihat rumahnya di surga. Fir'aun berkomentar, "Apakah kalian tidak( merasa heran dengan kegilaannya. Kita menyiksanya, namun dia tertawa. Setelah itu keluarlah ruhnya dari jasadnya."

Salman al-Farisi berkata sebagaimana diriwayatkan Usman al-Hindi, "Awalnya dia disiksa dengan panasnya terik matahari. Ketika sinar matahari menyengatnya, para malaikat melindungi defigan sayap-sayapnya. Dikatakan bahwasanya kedua tangan dan kakinya ditancapkan di bawah panas sinar matahari, sedangkan punggungnya dikenakan rantai yang melingkar. Lalu Allah Ta'ala memperlihatkan kepadanya tempatnya di surga. Dikatakan pula bahwa tempatnya terbuat dari mutiara. Tatkala ia berkata, "Selamatkanlah aku." Lalu Allah menyelamatkannya dengan sebaik-baik penyelamatan. Dia mengangkat ruhnya ke surga. Di sana dia makan, minum dan bersenang-senang."

Inilah sosok wanita beriman. Dia hidup di bawah kekuasan suaminya adalah manusia paling kafir kepada Allah, Tuhan sekalian alam. Ketika itu Fir'aun telah mengakui dirinya sebagai tuhan serta dzat yang patut disembah sebagai sekutu Allah. Namun Asiyah tidak tunduk pada keadaan yang demikian, bahkan dia menyerahkan segalanya kepada Allah, baik ketika susah maupun senang. Dia memohon kepada Allah dengan berdoa supaya dirinya diselamatkan dari Fir'aun dan perbuatannya, baik kekufuran, kezhaliman dan kecongkakannya. Sebagaimana dia memohon keselamatan dari kaum yang zhalim, yakni orang-orang Qibthi penduduk Mesir. Respon terhadap permohonannya tidaklah terlambat. Allah telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi. Baginya telah dibangun istana di surga.

*Disadur dari E-Book Exclusive “Aisyah Tegar di Sisi Firaun”

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019