Usia Bukan Pembatas Untuk Belajar

Senin, 11 Februari 2019


Oleh : Subliyanto*

Ketika kita berada di bangku Sekolah, mungkin kita sering mendengar motivasi dari guru kita bahwa “belajarlah sampai kita mati”. Motivasi tersebut merupakan penjelasan tentang urgensi belajar. Ilmu yang harus kita pelajari sangatlah banyak, bahkan saking banyaknya umur kitapun tidak cukup untuk mencarinya. Karenanya rugi kalau kita tidak memanfaatkan umur kita untuk senantiasa terus belajar. Tentu tidak semuanya harus melalui jalur formal, karena hal itu tidak semuanya bisa kita jangkau dengan kondisi kita yang beragam.

Tradisi cinta ilmu sejatinya sudah menjadi ciri khas seorang Muslim. Hal demikian sudah dicontohkan oleh para ulama’ terdahulu yang tekun dalam mencari ilmu hingga melahirkan karya-karya yang menjadi pedoman hingga sekarang. Maka tidak heran jika suatu hari Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya ketika rambut beliau sudah tampak memutih, “Sampai kapan Engkau masih bersama dengan wadah tinta?” Maksudnya, orang tersebut heran ketika Imam Ahmad rahimahullah tetap bersama dengan alat-alat untuk mencari ilmu seperti kertas dan wadah tinta, padahal usia beliau tidak lagi muda. Sehingga dikatakan dalam sebuah kalimat yang terkenal, “Bersama wadah tinta sampai ke liang kubur”.

Mungkin kisah itu sudah menjadi catatan klasik, tapi makna yang tersirat sangatlah menarik dan mengandug makna yang sangat energik. Sehingga buah karyanya menjadi pedoman hidup para generasi setelahnya. Dan tentu yang demikian juga perlu ditiru jejaknya guna melahirkan generasi yang setara walaupun tidak sama dan tidak akan pernah sama.


Dalam konteks saat ini mungkin juga kita bisa petik ilmu “semangat” dari para pemburu ilmu. Yang teranyar misalnya potret kakek berusia 94 tahun bernama David Bottomley yang penulis temukan di Republika.co.id edisi 06 Februari 2019. David Bottomley menjalani  studi S-3 secara paruh waktu selama tujuh tahun dan kini tercatat sebagai wisudawan tertua di Australia yang berhasil menyandang gelar PhD. Dan Pada Rabu 06 Februari 2019, dia pun lulus dari Universitas Curtin di Perth dalam bidang metode mengajar di ruang kelas.

Maka kisah-kisah tersebut jangan hanya kita jadikan sebagai kisah populer semata, akan tetapi kita jadikan sebagai kisah fakta yang tersirat hikmah di dalamnya, terlebih oleh para generasi penerus bangsa calon pewaris perjuangan dalam menata dan mengelola bangsa dan negara dengan segudang problem yang ada di dalamnya.

Diam bukanlah sebuah solusi walaupun diam belum tentu sunyi. Bergerakpun juga bukanlah solusi jika gerakan kita tidak tentu arah dan tujuan yang berarti. Maka memadukan keduanya dengan ilmu adalah energi yang akan dapat merubah segalanya. Hal demikian sudah Rasulullah wasiatkan sebagaimana termaktub dalam haditsnya :

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).

Perkembangan informasi dan teknologi serta pesatnya media yang menghiasinya tentu menjadi wadah buat para generasi untuk berkreasi, mengekspresikan dan mengeksplorasikan gagasan-gagasan cemerlang menuju masa depan yang gemilang. Maka hal ini menjadi peluang besar khususnya anak muda untuk terus belajar mengais ilmu sebanyak-banyaknya sampai pada titik tiga, yang artinya dalam ilmu matematika adalah tidak terhingga, jangan hanya dijadikan sebagai alat untuk publikasi diri tanpa nilai yang berarti. Merasa sulit sudah pasti, tapi lebih sulit lagi jika kita tidak pernah memulai.

Semoga catatan singkat ini dapat menambah motivasi bagi para generasi, guna lahir para generasi yang hebat di masa yang akan datang.[]

*www.subliyanto.id

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019