Arif dalam Memandang dan Jadilah Pembelajar

Sabtu, 09 Maret 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Nahdhatul Ulama' (NU) belakangan ini seakan menjadi gorengan, baik dari internal maupun dari eksternal itu sendiri. Terlebih dinamika keorganisasian yang berkembang terjadi pada momen politik, yang sudah tentu akan menjadi penyempurna dalam situasi dan kondisi.

Beragam respon dari publik begitu mencuat meyoroti NU, baik di media maupun sosial media. Namun sepertinya ada yang terlupakan bahwa NU adalah sebuah organisasi.

Lantas bagi kalangan awam apa yang harus dilakukan ? 

Nahdhatul Ulama' (NU) adalah organisasi, bukan mazhab yang setara dg empat mazhab. Maka dinamika organisasi akan selalu ada dan selalu berkembang sesuai keadaan zaman dan praktisi sistem kepemimpinannya.

Maka untuk berpegang teguh pada konsep-konsep dan tata nilai Islam yg hakiki adalah dengan menjadi "pembelajar", dimana sikap pembelajar adalah berprinsip pada esensi "nilai-nilai kebaikan".

Jika itu sebuah kebaikan maka ambillah tanpa melihat siapa dan golongan apa. Jika itu sebuah keburukan maka juga buanglah tanpa melihat siapa dan golongan apa. Dan inilah yang disebut dengan hikmah.

Tentu namanya kebaikan yang menjadi barometer adalah yang sesuai dengan arahan agama. Karena manusia dan "bajunya" tidak benar selamanya, pun juga tidak salah seluruhnya. Maka ambillah yang baik, dan buanglah yang tidak baik. 

Jika ada ketidak baikan dalam sebuah organisasi, sudah pasti akan diselesaikan di internal meja para penggerak keorganisasian sesuai AD-ART yang ada di tubuh organisasi itu sendiri.

Maka merupakan sebuah ketidak arifan jika sebuah titik hitam yang menetes dari pena seseorang pada lembaran putih, kemudian manusia memandang dan menjustifikasi bahwa kertas itu adalah hitam seluruhnya. 

Dan disinilah diperlukan kearifan dalam memandang, dan sikap sebagai pembelajar. Sehingga rasa fanatisme golongan tidak menjadikan garis perpecahan dalam persaudaraan. Wallahu a'lam [] 

*Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

Hindari Narkoba, Selamatkan Generasi Bangsa

0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Baru-baru ini publik dikejutkan dengan publik figur berinisial AA yang terciduk dan dinyatakan positif mengkonsumsi narkoba. Narkoba, sebuah zat yang memabukkan, yang dengannya manusia akan kehilangan akal sehatnya, sehingga semuanya akan terabaikan. Tentu ini menjadi warning buat kita terlebih di lingkungan keluarga bahwa betapa bahayanya narkoba.

Jika narkoba sudah masuk dalam lingkungan rumah tangga, maka yang terjadi adalah malapetaka. Apabila kejahatan narkoba sudah menguasai diri manusia, maka ia akan buta atas segalanya, ia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya, karena ia sudah kehilangan kesdarannya.

Pesan-pesan kepada para generasi untuk menjauhi narkoba sangatlah penting untuk terus kita sampaikan. Mulai dari lingkungan internal keluarga, pendidikan, dan masyarakat sekitar sebagai bentuk ikhtiyar penyelamatan aset bangsa berupa generasi.

Fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita dapat menjadi pelajaran bagi kita, sehingga kita bisa mengambil ibrah darinya, dan menjadi bekal bagi kita untuk senantiasa berusaha untuk menjadi lebih baik.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia adalah tempat salah, lupa, dan berbuat khilaf. Maka faktor kesadaran dan menyadari atas sifat manusiawinya itu menjadi kunci agar kita mampu membelokkannya pada nilai-nilai kebaikan.

Kebaikan yang kita raih hari ini adalah sebuah prestasi yang harus kita syukuri. Sementara keburukan yang kita kerjakan hari ini menjadi sebuah evaluasi yang harus kita istighfari. []

*Penulis adalah pendidik asal Pamekasan

Simbiosis Mutualisme Media dan Pena

Senin, 04 Maret 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Peran dan pengaruh media sangat penting dan sangat besar kontribusinya dalam memberi perubahan suatu bangsa menuju arah yang lebih baik. Dengan media kita dapat menyampaikan informasi dan aspirasi tentang situasi dan kondisi yang kita temui. Sehingga mudah diketahui dan ditindak lanjuti.

Dalam dunia demokrasi, kebebasan menyuarakan aspirasi tidaklah mudah untuk di dengar, apalagi ditindaklanjuti. Dan kehadiran media merupakan bagian dari solusi untuk menfasilitasi temuan-temuan yang harus dipublikasi guna mendapatkan perhatian. 

Namun demikian, tidak semua media dapat menampung temuan-temuan itu. Dan tidak semua orang bisa menembus meja redaksi. Karena sudah mejadi pemahaman umum bahwa media itu tidak terbatas namun dapat bersuara melalui media sangatlah terbatas. Maka kehadiran media dalam skala kecil juga sangat dibutuhkan, sebagai wadah untuk menampung informasi dan aspirasi yang tidak terpotret dan tidak memiliki fasilitas publish.

Jika media bak sebuah rumah, maka membaca dan menulis atau literasi adalah isinya. Rumah tanpa penghuni bak sebuah kegelapan yang sunyi. Demikian juga halnya dengan media. Maka disinilah pentingnya tetesan tinta dari ujung pena. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara media dan pena.

Membaca dan menulis merupakan dua hal yang menjadi sumber ilmu pengetahuan manusia. Dengan membaca manusia akan mengetahui segala hal yang belum diketahui, dan dengan menulis manusia akan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah dimiliki. Dua hal tersebut merupakan ajaran pertama dalam dunia pendidikan Islam sebagaimana termaktub dalam al-Qur'an Surat al-'Alaq dan Surat al-Qalam. 

Mungkin semua manusia bisa membaca namun tidak semua manusia bisa menulis, karena menulis membutuhkan kecakapan literasi dalam mengolah dan menganalisis serta menuangkan gagasan kreatif, inovatif, dan solutif yang dituangkan dalam goresan pena sebagai bentuk kontribusi pemikiran dan konsep untuk masa depan yang lebih baik. Maka membudayakan dunia literasi merupakan hal yang sangat penting guna melahirkan generasi yang berbasis ilmu dan riset. 

*www.subliyanto.id

 
SUBLIYANTO.ID © 2019