Pesan Aagym Untuk Rakyat Indonesia

Kamis, 23 Mei 2019 0 komentar

Berikut pesan Aagym untuk Rakyat Indonesia. Pesan ini beliau sampaikan melalui postingan twitternya. Semoga bermanfaat...

Takziyah : Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un, Ust. Arifin Ilham Wafat

Rabu, 22 Mei 2019 0 komentar

Kabar duka tersiar dari republika.co.id, (22/05/2019). Adalah Ust. Arifin Ilham, pendiri Majelis Adz Zikra dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit di Penang, Malaysia. 
Beliau meninggal pada pukul 23:20 waktu Penang. 

Atas nama media subliyanto.id kami turut berduka. Semoga segala amal baiknya diterima oleh Allah, dan segala dosa dan khilafnya diampuni oleh Allah, sehingga beliau mendapatkan hadiah surga dari-Nya. Amin

Meluruskan Niat dalam Belajar

0 komentar

Oleh : Subliyanto

Artikel menarik berjudul "Pelajar Indonesia", dipublish mediamadura.com edisi 19 Mei 2019. Artikel yang ditulis oleh adik mahasiswa bernama Mamluatur Rohmah tersebut perlu diapresiasi. Apresiasi tersebut berpoin pada makna tersirat dari artikel yang ditulisnya, yaitu mempunyai nilai edukatif, motivatif, dan kreatif khusunya bagi para adik-adik pelajar. Namun demikian, secara konsep pemikiran islam, ada hal yang perlu diluruskan dari paparannya, yaitu tentang orientasi dalam belajar dan menuntaskan pendidikan, agar pola pikir generasi pelajar Indonesia tetap on the right track.

Pertama, belajar merupakan sebuah kewajiban setiap manusia, sehingga pondasi dari belajar adalah semata-mata melaksakan sebuah kewajiban fardu 'ain dari setiap kita agar menjadi insan yang shalih dan mushlih dalam memainkan perannya sebagai 'abdullah dan khalifatullah di muka bumi. Maka belajar tidak dibatasi ruang dan waktu. Bahkan pesan Rasulullah SAW, sampai ke liang lahat (mati).

Kedua, orientasi belajar berada pada dua sisi kehidupan manusia, yaitu dunia dan akhirat. Dari keduanya yang menjadi nominasi instruksi adalah akhirat, sebagai basic penguatan keimanan manusia. Maka yang harus dipelajari adalah tentang konsep-konsep dan teori-teori suksesi final kehidupan manusia "ba'dal maut". Namun demikian tanpa melupakan konsep-konsep yang bersifat duniawi, karena keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, hanya saja dari keduanya ada skala yang harus diprioritaskan.

Ketiga, nilai sukses dari seseorang tidaklah sepenuhnya terukur dari strata pendidikan yang ditempuhnya dan profesi kesehariannya. Namun barometer kesuksesan seseorang adalah bagaimana ia bisa mengantarkan dirinya dengan mengamalkan ilmu yang dimilikinya untuk menjadi insan yang shalih dan mushlih. Karena segala sesuatu yang bersifat duniawi hanyalah bagian dari hadiah yang Allah tampakkan kepada hamba-Nya yang shalih. Maka jangan sampai hal itu menjadi orientasi primer.

Dari tiga konsep dasar dalam belajar di atas, setidaknya pola pikir manusia, khusunya generasi muslim akan menjadi semakin kuat dan terarah. Terasa berat mungkin iya, apalagi kita saat ini hidup di situasi yang penuh dengan arus hidonisme-materialisme, yang semua itu dalam kacamata manusia sangat menjadi sorotan sebagai indikator kesuksesan, padahal dalam kacamata agama tidak demikian. Maka terus belajar dan menambah wawasan merupakan solusi bagi para generasi pelajar Indonesia saat ini, dengan catatan tanpa melupakan visi yang hakiki.

Semoga dengan catatan singkat ini dapat memperkuat catatan karya "Pelajar Indonesia", Mamluatur Rohmah. Apresiasi literasi penulis sampaikan, tetap semangat, dan teruslah belajar dan berkarya. (*)

Penulis adalah aktivis sosial dan pendidikan asal Kadur Pamekasan

Menang dan Kalah adalah Ujian

Minggu, 19 Mei 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Dalam hitungan hari, tepatnya tanggal 22 Mei 2019 mendatang kita akan menyaksikan pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang hasil pilpres 2019. Momen resmi yang ditunggu-tunggu rakyat Indonesia untuk mengetahui siapa presidennya yang akan memegang kendali tampuk kepemimpinan Indonesia lima tahun kedepan. Tentu sebagai rakyat berharap, siapapun yang memimpinnya semoga Indonesia lebih baik dalam segala aspeknya.

Menang dan kalah adalah ujian. Bagi yang menang maka harus bersyukur, yaitu dengan memanfaatkan kemenangan yang telah Allah berikan dengan penuh amanah dan penuh tanggung jawab. Dan bagi yang kalah tentu juga harus bersyukur, yaitu dengan terus berkarya untuk bangsa dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang sama untuk kebaikan bangsa dan negara. Karena jalur politik hanyalah salah satu dari ribuan cara dalam berfastabiqul khairat.

Yang tak kalah pentingnya dalam sebuah perjuangan adalah mengembalikan orientasi dan visi perjuangan yang kita lakukan, karena menang dan kalah adalah ujian untuk mengukur kualitas seseorang. Dan sebagai penguat tidak ada salahnya kita kembali mengkaji fakta sejarah yang penuh dengan hikmah dan ibrah yang bisa kita ambil untuk terus melakukan kebaikan dan perbaikan dalam setiap lini kehidupan.

Fakta Sejarah Penuh Hikmah

Jika dunia politik dianggap dan diibaratkan sebagai "perang", maka dalam sejarah perangpun menang dan kalah Allah berikan untuk menguji kualitas keimanan. Karena Allah Maha tau pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

Dalam sejarah, pada perang Badar, kaum muslimin gagah berani bertempur, karena mereka sangat khawatir pada diri Nabi Muhammad SAW. dan Islam. Mereka berjuang dengan totalitas, tidak ada visi lain kecuali Allah SWT. Mereka satu kata di bawah komando Nabi, dan mereka taat dan tunduk kepada beliau. 

Mereka taat kepada Allah dengan dengan penuh sempurna. Karena hal itulah maka Allah menangkan mereka. Padahal jumlah mereka sedikit dan lemah di hadapan kafir Quraisy yang jumlah pasukannya lebih banyak. Pada waktu itu, kaum muslimin pun menyadari bahwa dalam hitungan matematika manusia akan kalah. Tapi merekapun yakin bahwa Allah akan membantu perjuangannya dalam membela agama-Nya.

Maka dengan jumlah pasukan yang sedikit mereka harus berperang habis-habisan dengan memaksimalkan segala kemampuan yang mereka miliki, diiringi niat ikhlas karena Allah di dalam hatinya. Maka Allah kirimkan malaikatnya sehingga standart kekuatan berbalik dan berada di pasukan kaum muslimin. Hal itu membuat orang-orang kafir merasa mustahil dan tidak dapat memahaminya dan menafsirkannya. Maka Allah menangkan perjuangan kaum muslimin pada peperangan itu.

Suasana berbeda terjadi pada perang Uhud. Dimana pada peperangan itu menjadi hari ujian dan musibah bagi kaum muslimin. Allah kembali melakuakan seleksi kualitas keimanan hamba-Nya, dan menganugrahkan gelar syuhada' bagi pasukan beriman yang wafat dalam pertempuran. Tidak hanya itu, Allah juga memperlihatkan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya.

Pada perang Uhud, pasukan muslimin menganggap remeh pada pertempuran yang akan dihadapinya. Mereka menyangka bahwa mereka sudah pasti menang, sehingga berpuas diri dengan kondisi mereka. Mereka terlalu percaya diri, seolah-olah kemenangan telah di tangan mereka.

Alhasil, kamum muslimin masuk pada pertempuran dengan hati bercerai-berai. Pasukanpun pecah, sepertiga dari pasukan memisahkan diri sebelum perang dimulai. Dua kelompok Bani Sulaiman dan Bani Haritsah juga mematahkan kesatuan jamaah. Kalau bukan karena pertolongan Allah mereka betul-betul mundur. Maka berarti sepertiga pasukan yang akhirnya bertempur di Uhud tidaklah sepenuhnya menyatu di bawah komando Rasulullah SAW.

Kondisi kaum muslimin pada perang Uhud tidak jauh beda dengan perselisihan pendapat yang melanda kaum kafir Quraisy waktu perang Badar, antara yang mau melanjutkan perang atau kembali ke Makkah. Sebagaimana dikatakan Abu Sufyan, "Jumlah kita lebih banyak dari jumlah mereka, senjata kita lebih banyak dari senjata mereka, dan kita memiliki kuda perang sedang mereka tidak. Kita memerangi mereka sebab punya semangat membalas dendam sedang mereka tidak."

Alhasil, kaum muslimin menyalahi perintah Rasulullah SAW. Pasukan pemanah meninggalkan bukit dan melanggar perintah Rasulullah SAW. Mereka menyaksikan rampasan perang sebagai sasaran yang harus dikumpulkan. Mereka berlari meninggalkan bukit bersaing mengumpulkan harta dengan kawan lainnya, padahal Rasulullah SAW. sudah mengingatkan agar tidak meninggalkan tempat mereka. Orientasi perang sudah berubah. Jiwa mereka telah dimasuki nafsu duniawi, yaitu mengejar harta rampasan perang. Dan faktor inilah yang membuat kekalahan pasukan kaum muslimin pada perang Uhud.

Fakta sejarah ini telah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. dan menjadi catatan dokumentasi dinamika sebuah perjuangan. Sehingga patut menjadi renungan bagi kita. Menang dan kalah adalah ujian sebagai barometer sebuah keimanan, ketakwaan, dan ketaatan. 

Semoga ulasan ini menjadi pelajaran, dan bermanfaat buat kita. Dan sebagai penutup dari tulisan ini, penulis kutipkan pesan Umar Bin Khathab saat menjadi Amirul Mukminin, Umar berkata kepada pasukan kaum muslimin, "Sungguh kalian hanya ditolong Allah jika kalian taat. Jika kalian sama saja dalam kemaksiatan mereka, maka musuh akan mengalahkan kalian karena kekuatan mereka". Wallahu a'lam []

Mati adalah Misteri Ilahi, Membaca Pesan Yoyoh Yusroh

0 komentar

Oleh : Subliyanto* 

Setiap manusia akan menghadapi mati, hanya saja menunggu giliran jadwal yang sudah ditentukan sejak zaman azali. Namun pada tahun 2019 ini, pasca pesta demokrasi, kematian seakan menjadi momok yang sangat menakutkan dan mengerikan. 

Betapa tidak, nominasi kematian yang dialami oleh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sangat mendominasi. Dikutip dari detik.com edisi 10 Mei 2019, jumlah kematian petugas KPPS pasca pesta demokrasi mencapai 469 orang.

Berlepas dari penyebab kematian yang hingga kini masih menjadi pembahasan kontroversi, disini penulis hanya ingin mengulas bahwa kematian adalah misteri bagi semua manusia. Sehingga harus bersiap diri menyambutnya.

Berbincang hal ini, tak ada salahnya kalau kita membaca pesan-pesan Yoyoh Yusroh, seorang mujahidah, penghafal alQur'an yang siap menghadapi kematian. Ia wafat pada 21 Mei 2011 di usia 49 tahun pasca kecelakaan lalu-lintas saat bersama keluarganya pulang usai menghadiri wisuda salah seorang putranya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogayakarta. 

Dan menariknya, sebulan sebelum ia meninggal, tepatnya pada 23 April 2011 ia menulis sebuah artikel yang seakan tersirat makna salam perpisahan. Artikel itu dimuat di situs dakwatuna.com 24 April 2011.

Buku 50 Pendakwah Pengubah Sejarah, karya putra Pamekasan, M. Anwar Djaelani mengutip artikel yang berjudul "Kematian adalah Sebuah Misteri" tersebut dalam bab ke-38 tentang tokoh yang bernama Yoyoh Yusroh. Ia berpesan melalui penanya sebagai berikut :

"Manusia siapapun, apapun statusnya, tidak akan tahu kapan kematiannya. Karena kematian merupakan hak periogratif Allah. Untuk hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain.

Kematian adalah misteri. Ia akan merengut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Kematian tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat.

Sebagai seorang Muslim, kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela Allah, mempertahankan hak seperti yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina. Namun, karena kematian sebuah misteri, tidak semua mereka yang berjuang mendapatkan karunia syahadah seperti yang diharapkan. Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah, yang tidak bisa diduga oleh siapapun."

Dari pesan pena Yoyoh Yusoh di atas dapat disimpulkan bahwa kematian itu pasti, dan mempersiapkan diri dengan nilai-nilai kebaikan menyambutnya adalah sebuah solusi, karena kematian akan datang kapan saja, dimana saja, dan sedang apa saja, serta dengan cara apa saja, yang semua itu tidak kita ketahui, karena kematian adalah misteri Ilahi. Wallahu a'lam []

QS. An-Nazi'at : Naya Fatihurrahman Ramadahani

Jumat, 10 Mei 2019 0 komentar



 
SUBLIYANTO.ID © 2019