Menang dan Kalah adalah Ujian

Kategori Berita

Azwar Halaman Atas 950x250

IMG-20190815-WA0003

Menang dan Kalah adalah Ujian

Subliyanto
Senin, 20 Mei 2019
Oleh : Subliyanto*

Dalam hitungan hari, tepatnya tanggal 22 Mei 2019 mendatang kita akan menyaksikan pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentang hasil pilpres 2019. Momen resmi yang ditunggu-tunggu rakyat Indonesia untuk mengetahui siapa presidennya yang akan memegang kendali tampuk kepemimpinan Indonesia lima tahun kedepan. Tentu sebagai rakyat berharap, siapapun yang memimpinnya semoga Indonesia lebih baik dalam segala aspeknya.

Menang dan kalah adalah ujian. Bagi yang menang maka harus bersyukur, yaitu dengan memanfaatkan kemenangan yang telah Allah berikan dengan penuh amanah dan penuh tanggung jawab. Dan bagi yang kalah tentu juga harus bersyukur, yaitu dengan terus berkarya untuk bangsa dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang sama untuk kebaikan bangsa dan negara. Karena jalur politik hanyalah salah satu dari ribuan cara dalam berfastabiqul khairat.

Yang tak kalah pentingnya dalam sebuah perjuangan adalah mengembalikan orientasi dan visi perjuangan yang kita lakukan, karena menang dan kalah adalah ujian untuk mengukur kualitas seseorang. Dan sebagai penguat tidak ada salahnya kita kembali mengkaji fakta sejarah yang penuh dengan hikmah dan ibrah yang bisa kita ambil untuk terus melakukan kebaikan dan perbaikan dalam setiap lini kehidupan.

Fakta Sejarah Penuh Hikmah

Jika dunia politik dianggap dan diibaratkan sebagai "perang", maka dalam sejarah perangpun menang dan kalah Allah berikan untuk menguji kualitas keimanan. Karena Allah Maha tau pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam hatinya.

Dalam sejarah, pada perang Badar, kaum muslimin gagah berani bertempur, karena mereka sangat khawatir pada diri Nabi Muhammad SAW. dan Islam. Mereka berjuang dengan totalitas, tidak ada visi lain kecuali Allah SWT. Mereka satu kata di bawah komando Nabi, dan mereka taat dan tunduk kepada beliau. 

Mereka taat kepada Allah dengan dengan penuh sempurna. Karena hal itulah maka Allah menangkan mereka. Padahal jumlah mereka sedikit dan lemah di hadapan kafir Quraisy yang jumlah pasukannya lebih banyak. Pada waktu itu, kaum muslimin pun menyadari bahwa dalam hitungan matematika manusia akan kalah. Tapi merekapun yakin bahwa Allah akan membantu perjuangannya dalam membela agama-Nya.

Maka dengan jumlah pasukan yang sedikit mereka harus berperang habis-habisan dengan memaksimalkan segala kemampuan yang mereka miliki, diiringi niat ikhlas karena Allah di dalam hatinya. Maka Allah kirimkan malaikatnya sehingga standart kekuatan berbalik dan berada di pasukan kaum muslimin. Hal itu membuat orang-orang kafir merasa mustahil dan tidak dapat memahaminya dan menafsirkannya. Maka Allah menangkan perjuangan kaum muslimin pada peperangan itu.

Suasana berbeda terjadi pada perang Uhud. Dimana pada peperangan itu menjadi hari ujian dan musibah bagi kaum muslimin. Allah kembali melakuakan seleksi kualitas keimanan hamba-Nya, dan menganugrahkan gelar syuhada' bagi pasukan beriman yang wafat dalam pertempuran. Tidak hanya itu, Allah juga memperlihatkan orang-orang munafik yang menyembunyikan kekufuran di dalam hatinya.

Pada perang Uhud, pasukan muslimin menganggap remeh pada pertempuran yang akan dihadapinya. Mereka menyangka bahwa mereka sudah pasti menang, sehingga berpuas diri dengan kondisi mereka. Mereka terlalu percaya diri, seolah-olah kemenangan telah di tangan mereka.

Alhasil, kamum muslimin masuk pada pertempuran dengan hati bercerai-berai. Pasukanpun pecah, sepertiga dari pasukan memisahkan diri sebelum perang dimulai. Dua kelompok Bani Sulaiman dan Bani Haritsah juga mematahkan kesatuan jamaah. Kalau bukan karena pertolongan Allah mereka betul-betul mundur. Maka berarti sepertiga pasukan yang akhirnya bertempur di Uhud tidaklah sepenuhnya menyatu di bawah komando Rasulullah SAW.

Kondisi kaum muslimin pada perang Uhud tidak jauh beda dengan perselisihan pendapat yang melanda kaum kafir Quraisy waktu perang Badar, antara yang mau melanjutkan perang atau kembali ke Makkah. Sebagaimana dikatakan Abu Sufyan, "Jumlah kita lebih banyak dari jumlah mereka, senjata kita lebih banyak dari senjata mereka, dan kita memiliki kuda perang sedang mereka tidak. Kita memerangi mereka sebab punya semangat membalas dendam sedang mereka tidak."

Alhasil, kaum muslimin menyalahi perintah Rasulullah SAW. Pasukan pemanah meninggalkan bukit dan melanggar perintah Rasulullah SAW. Mereka menyaksikan rampasan perang sebagai sasaran yang harus dikumpulkan. Mereka berlari meninggalkan bukit bersaing mengumpulkan harta dengan kawan lainnya, padahal Rasulullah SAW. sudah mengingatkan agar tidak meninggalkan tempat mereka. Orientasi perang sudah berubah. Jiwa mereka telah dimasuki nafsu duniawi, yaitu mengejar harta rampasan perang. Dan faktor inilah yang membuat kekalahan pasukan kaum muslimin pada perang Uhud.

Fakta sejarah ini telah terjadi pada zaman Rasulullah SAW. dan menjadi catatan dokumentasi dinamika sebuah perjuangan. Sehingga patut menjadi renungan bagi kita. Menang dan kalah adalah ujian sebagai barometer sebuah keimanan, ketakwaan, dan ketaatan. 

Semoga ulasan ini menjadi pelajaran, dan bermanfaat buat kita. Dan sebagai penutup dari tulisan ini, penulis kutipkan pesan Umar Bin Khathab saat menjadi Amirul Mukminin, Umar berkata kepada pasukan kaum muslimin, "Sungguh kalian hanya ditolong Allah jika kalian taat. Jika kalian sama saja dalam kemaksiatan mereka, maka musuh akan mengalahkan kalian karena kekuatan mereka". Wallahu a'lam []