Pentingnya Perpustakaan dalam Rumah

Selasa, 18 Juni 2019 0 komentar


Oleh : Subliyanto*

Libur idul Fitri 1440 H sudah usai, saatnya generasi pelajar kembali belajar di sekolah masing-masing. Dalam piramida pendidikan, sekolah merupakan tempat kedua bagi para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Dan rumahlah tempat pendidikan pertama, serta ketiga adalah lingkungan di sekitarnya. Kualitas dari ketiganya tidak bisa dipisahkan guna melahirkan generasi yang berkualitas. Dari ketiganya, yang tak kalah pentingnya adalah rumah.

Rumah merupakan pusat pendidikan pertama dan utama dalam kehidupan manusia. Setiap rumah dan isinya akan menjadi layar utama kaitannya dengan pendidikan anak. Karenanya, nuansa isi rumah harus mendidik dan mencerminkan pendidikan khusunya kepada anak generasi bangsa.

Dan jika rumah merupakan pendidikan pertama dan utama, maka orang tua adalah guru besar di dalamnya. Sehingga gerak-geriknya menjadi potret dan cerminan bagi anak-anaknya, yang disadari atau tidak akan dicontoh oleh mereka. Tidak hanya terbatas pada sikap dan perilaku orang tua, namun nuansa ornamen rumah juga penting untuk mendukung pandangan masa depan anak menuju masa depannya. 

Apabila isi hiasan rumah hanyalah ornamen material semata, maka secara tidak langsung orang tua telah mengajarkan pandangan anak-anaknya pada pola hidonisme-materialisme semata. Dari itu, yang utama adalah menghiasi rumah dan isinya dengan ilmu dan nuansa keilmuan. Dan salah satunya adalah dengan menghiasinya dengan perpustakaan pribadi di rumah.

Dalam buku "Prophetic Parenting", peran perpustakaan pribadi diingatkan oleh ay-Syahid dalam risalahnya "Anja'ul Wasa'il fi Tarbiyati an-Nas'i Tarbiyatun Islamiyyatan Kha'ishah", beliau katakan :

"Juga saya sebutkan tentang pentingnya rumah memiliki perpustakaan walau kecil sekalipun. Buku-buku koleksinya harus dipilih berupa buku sejarah Islam, biografi ulama' salaf, kitab-kitab akhlak, hikmah, ekspedisi Islam, peperangan, dan lain sebagainya. Kalau kotak obat-obatan dan P3K di rumah penting untuk mengobati badan, maka perpustakaan Islam penting untuk memperbaiki pola pikir..."

Senada dengan hal itu, al-Jahizh juga berkata : "Ketika seseorang menjadi ilmuan, warisannya berupa buku-buku langka dan ilmu lengkap, maka anak akan memandang menuntut ilmu adalah bagian dari hidupnya, dan aktivitas belajar mengajar akan lebih cepat memainkan perannya. Dia akan memandang bahwa tidak belajar adalah suatu kesalahan...".

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki perpustakaan pribadi di rumah untuk membangun cakrawala ilmu pada anak agar anak senantiasa lebih cinta pada ilmu daripada sesuatu yang bersifat hidonisme-materialisme. Untuk itu, sangatlah penting keberadaan perpustakaan pribadi di rumah untuk menumbuhkan ghirah belajar pada penghuninya.

Mata adalah sensor untuk menumbuhkan rasa dan menggerakkan raga. Dan objek pandangan mata merupakan umpannya. Maka dalam mendidik anak, jika kita sebagai orang tua memberikan umpan kebaikan pada anak-anak kita Insya Allah kebaikan pula yang akan anak-anak kita lakukan. Demikian juga sebaliknya.

Maka memberi umpan dengan ilmu berupa perpustakaan di rumah adalah bagian dari tradisi membangun budaya literasi. Sehingga dengannya para penghuninya rumah termasuk anak akan penasaran dengan isi buku yang kita siapkan dan akan mempelajari dan mengkajinya. Tentu pendampingan dari orang tua juga sebagai pelengkap guna memberikan penjelasan pada anak jika ditemukan hal yang tidak dimengerti.

Semoga dengan catatan ini dapat menjadi renungan bagi kita para orang tua. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah penggiat literasi asal Kadur Pamekasan

https://limadetik.com/artikel-pentingnya-perpustakaan-dalam-rumah/

Ketupat adalah Simbol Ukhuwah

Rabu, 12 Juni 2019 0 komentar

Oleh : Subliyanto*

Hari ketujuh lebaran 'Idul Fitri merupakan sebuah momen lanjutan dari nuansa kegembiraan. Sebagai wujud syukur atas kemenangan di Hari Raya'Idul Fitri, pada hari ketujuh ini bagi sebagian kalangan dirayakan sebagai lebaran ketupat. Yaitu momen ukhuwah dalam menjalin solidaritas dan soliditas antar sesama, sesuai dengan simbolnya yaitu ketupat.

Secara nilai filosofis, ketupat merupakan simbol ukhuwah, dimana dua lembar janur atau lebih dianyam dengan rapi dan indah hingga akhirnya tampak indah dan penuh dengan makna dan kaya akan manfaat. Maka memaknai ketupat tentu tidak lepas dari simbol yang dimilikinya. Sehingga implentasi dari perayaan tersebut harus mencerminkan makna yang tersirat di dalamnya, yaitu ukhuwah atau persaudaraan.

Ukhuwah merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dan terus diamalkan dan dikampanyekan, sebagai wujud implementatif dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Karena dengan mempererat ukhuwah akan terwujud nuansa kehidupan yang indah. Hal ini sebagaimana telah Allah instrukasikan dalam firman-Nya :

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Al-Imrân :103)

Dari ayat di atas, dapat kita renungkan, betapa pentingnya jalinan ukhuwah antar sesama dalam kehidupan kita. Dan pada momen yang Fitri ini merupakan bagian dari peluang momental dalam mengamalkannya. Tentu tidak hanya terbatas pada momen ini, bisa dilanjutkan dan dirawat serta dijaga pada momen-momen selanjutnya.

Kekuatan ukhuwah diibaratkan oleh Rasulullah SAW. dengan sebuah bangunan, sebagaimana dalam sabdanya : "Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi).

Dan diantara sikap ukhuwah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. adalah sebagaimana pesan yang beliau sampaikan dalam haditsnya :

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini (Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Muslim).

Maka terus menjalin ukhuwah, menjaga solidaritas dan soliditas di dalamnya merupakan tugas setiap manusia dalam menjalani roda hidup dan kehidupannya.

Semoga pada momen yang Fitri ini kita dapat mempekokoh jalinan ukhuwah diantara kita. Dengan harapan semoga nuansa kedamaian dalam kehidupan kita tercipta.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal 'aidin wal fa izin. Kullu 'amin wa antum bikhair. Amin. Wallahu a'lam []

*Penulis adalah penggiat literasi asal Kadur Pamekasan.

Silsilah Keluarga Besar Bani Muksin

Sabtu, 08 Juni 2019 0 komentar

Silaturahim merupakan sarana untuk memperoleh ridho dan pahala dari sisi Allah, sakaligus sebagai media untuk mendapatkan kelapangan rizki di dunia. 

Dari Anas bin Malik ra berkata: bahwa Rasulullah Saw. bersabda: ”Bagi siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan silaturrahim.” (HR. Muttafaq Alaih)

Hadits Rasulullah SAW. di atas,menasehati kita, bahwa siapa yang ingin dilapangkan rizkinya oleh Allah dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia mempererat jalinan silaturahim dengan saudara-saudaranya dengan cara berbuat baik, menyayangi dan tidak memutuskan persaudaraan dengan mereka. 

lni semua adalah dinilai sebagai shadaqah oleh Allah swt.

 
SUBLIYANTO.ID © 2019