Ketika Lansia Jauh di Mata

Sabtu, 06 Juli 2019

Oleh : Subliyanto*

Diantara tugas pokok manusia adalah tugas sosial. Dimana tugas tersebut merupakan bagian dari bentuk aplikatif hakikat manusia sebagai khalifatullah di muka bumi. Sehingga harus dan terus diupayakan dan dilakukan. Dan salah satu dari tugas sosial adalah peduli pada penduduk lanjut usia (lansia) dengan memberinya bantuan.

Dikutip dari laman kabarmadura.id(Selasa, 02/07/2019), bahwa Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan sudah tidak mampu lagi memprogramkan bantuan penduduk lanjut usia (lansia), dengan alasan yang tidak disebutkan secara lebih rinci. 

Terlepas dari apapun faktornya, tentu kabar ini menjadi informasi yang miris bagi semuanya, terlebih bagi para dermawan yang punya hati lapang dan suka berinvestasi kebaikan dalam bentuk kepedulian sosial, karena tugas sosial keummatan adalah tugas kita semuanya, baik secara personal maupun secara kelompok, terlebih instansi pemerintah. Sehingga program tersebut harus menjadi program yang terus ada.

Bagi personal mungkin tidak ada batasan ruang dan waktu, namun bagi lembaga-lembaga sosial dan instansi-instansi pemerintah tentu adanya batasan baik berupa jumlah penduduk maupun jumlah anggaran adalah sebuah kewajaran, karena sudah tentu semua pihak akan bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing.

Yang memiliki peluang tidak terbatas dalam hal tersebut adalah secara personal. Dan akan lebih kelihatan indah jika person-person yang dermawan dan memiliki jiwa empati tinggi apabila terorganisir dengan baik, sehingga program peduli sosial, termasuk di dalamnya peduli pada penduduk lansia akan menjadi program yang berkesinambungan, dan menjadi kampanye ladang kebaikan bagi yang lainnya.

Peran pemerintah, tentu juga menjadi penting dan bahkan utama, sebagai wujud adanya pemerintahan di suatu bangsa, dari pusat hingga derah, karena pemerintah merupakan ayah dari sebuah bangsa, maka peduli pada keadaan rakyatnya merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan sebagaimana peran Umar ketika menjadi khalifah.

Sebagi pelengkap tulisan ini berikut penulis sematkan kisah peran Khalifah Umar, sebagai kisah hikmah yang penuh dengan ibrah. Semoga dengan kisah ini dapat menumbuhkan jiwa kepedulian sosial bagi kita semua.

Dikisahkan suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah. Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan. Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang wanita dewasa tengah duduk di depan perapian. Wanita itu terlihat mengaduk-aduk bejana.

Kemudian setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh wanita itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi.

"Siapa yang menangis di dalam itu?" tanya Khalifah Umar.

"Anakku," jawab wanita itu dengan agak ketus.

"Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?" tanya Khalifah selanjutnya.

"Tidak, mereka lapar," balas wanita itu.

Jawaban itu membuat Khalifah Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih terduduk di tempat semula cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan ibunya terus saja mengaduk bejana.

Perbuatan wanita itu membuat Khalifah Umar penasaran. "Apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?" tanya Khalifah.

"Kau lihatlah sendiri!" jawab wanita itu.

Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka kaget melihat isi bejana itu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata wanita itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap wanita itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut wanita itu.

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Tanpa mempedulikan rasa lelah, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya. Aslam segera mencegah.

"Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam.

"Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal wanita itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.[]

*Penulis adalah pendidik non formal asal Kadur Pamekasan

0 komentar:

 
SUBLIYANTO.ID © 2019